• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Kekuatan terhadap Proses Pencalonan

BAB IV: PENCALONAN K.H. MA’RUF AMIN SEBAGAI WAKIL

A. Pencalonan K.H. Ma‟ruf Amin dalam Pilpres 2019

1. Faktor Kekuatan terhadap Proses Pencalonan

Terpilihnya Ma‟ruf Amin sebagai pendamping Jokowi dalam Pilpres 2019, pasti memiliki faktor-faktor pendorong atau keunggulan yang dimiliki oleh Ma‟ruf Amin. Di mana Ma‟ruf Amin seorang tokoh ulama yang sangat disegani serta berpengalaman, memiliki power dan pengaruh yang baik untuk bangsa Indonesia. Untuk itu, pengalaman serta basis massa yang tinggi juga diperlukan dalam pencalonan presiden dan wakil presiden 2019.

a. Rekam Jejak Ma’ruf Amin

Ma‟ruf Amin sudah sangat dikenal sebagai tokoh ulama yang sangat mumpuni dan memiliki banyak pengalaman dalam jabatan-jabatan pemerintah terutama legislatif. Selain pengalaman yang cukup, di umur yang sudah tidak muda lagi Ma‟ruf Amin juga menjabat di beberapa lembaga atau organisasi dalam struktur yang cukup penting. Sebelum mencalonkan sebagai wakil presiden, dirinya menjabat sebagai Rais Aam PBNU periode 2015-2020 dan Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Selain itu, Ma‟ruf Amin juga merupakan ulama yang sangat disegani serta menjadi tokoh yang dipercaya dan menjadi rujukan oleh kebanyakan umat Muslim di Indonesia.

Jokowi memberikan alasan memilih Ma‟ruf Amin sebagai pendampingnya dikarenakan seorang ulama yang bijaksana serta memiliki pengalaman yang cukup banyak seperti pernah menjabat sebagai anggota DPRD, DPR, MPR, Dewan Pertimbangan Presiden, serta Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Menurut Jokowi, Ma‟ruf Amin merupakan sosok yang tepat sebagai pasangan nasionalis-religius. Selain itu, Jokowi menganggap Ma‟ruf Amin merupakan seorang ulama besar dan berintelektual. Ma‟ruf Amin juga dianggap mengetahui persoalan ekonomi syariah dan start up.27

27 Fathiyah wardah, “Jokowi Tunjuk Ma‟ruf Amin sebagai Cawapres”, diakses pada tanggal 09 Desember 2019, pukul 20.37.

Alasan Jokowi memilih Ma‟ruf Amin juga dijelaskan oleh Idy Muzayyad bahwa ”KH. Ma‟ruf selama ini konsen pada urusan ekonomi syariah (Islam). Untuk menyelesaikan persoalan ekonomi rakyat Indonesia, bisa diawali dengan menyelesaikan persoalan ekonomi umat Islam sebagai warga mayoritas bangsa Indonesia. Pembumian ekonomi Islam akan mengangkat kesejahteraan masyarakat Islam pada khususnya dan umumnya bangsa Indonesia.”28 Salah satu kemampuan Ma‟ruf Amin yang juga pernah menjabat sebagai Dewan Pengawas Syariah dalam beberapa bank yang berada di bawah BUMN serta mengerti persoalan mengenai aturan ekonomi syariah, menjadi salah satu keunggulan. Di mana akan membawa dampak untuk kesejahteraan rakyat dan membuat perekonomian Indonesia lebih baik.

Dalam legitimasi kekuasaan bahwa hanya masyarakat yang dapat memberikan legitimasi kepada seorang pemimpin. Legitimasi berkaitan dengan sikap keyakinan moral terhadap kewenangan penguasa, maksudnya legitimasi menentukan masyarakat menerima atau mengakui pemimpin untuk membuat kebijakan-kebijakan atau keputusan politik yang akan berkaitan dengan masyarakat. Jika masyarakat menerima berarti pemimpin tersebut memiliki legitimasi, sedangkan jika masyarakat tidak menerima pemimpin tersebut untuk dapat melakukan kewenangannya, otomatis pemimpin tersebut tidak

28 Wawancara dengan Idy Muzzayyad, M.S.i, Wakil Bendahara Umum DPP PPP, Pada tanggal 25 Oktober 2019.

berlegitimasi.29 Sehingga Jokowi memilih Ma‟ruf Amin yang memiliki pengalaman serta ulama yang sangat dihormati untuk mendapatkan legitimasi dari masyarakat Indonesia, terutama kalangan Muslim agar dalam proses pencalonan hingga ke tahap pembuatan kebijakan jika terpilih menjadi Presiden, dapat berjalan dengan mudah.

b. Ulama sebagai Kekuatan Politik

Pencalonan Ma‟ruf Amin sebagai wakil presiden mendampingi Joko Widodo dalam Pilpres 2019 cukup mengejutkan. Di mana Ma‟ruf Amin dalam penunjukkannya cenderung mendadak dan menimbulkan banyak pertanyaan baik dari para elite politik serta kalangan masyarakat. Di mana banyak anggapan dengan naiknya Ma‟ruf Amin hanya dijadikan sebagai alat untuk mencapai kemenangan yang dilakukan oleh kubu Jokowi. Menurut Romahurmuziy sebagai Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menjelaskan alasan Jokowi memilih Ma‟ruf Amin dikarenakan faktor elektabilitas. Menurutnya pula, untuk menjaga ketenangan dalam proses Pilpres agar tidak menimbulkan ujaran kebencian yang mengandung SARA.30

Tidak jauh berbeda dengan pendapat yang diutarakan oleh Ketua PPP. Menurut peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Moch. Nurhasim bahwa pada saat setelah terjadinya gerakan 212 atau aksi bela Islam yang merupakan gerakan umat

29 Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik, hal. 84.

30 Yantina Debora, “Alasan Jokowi Memilih Ma‟ruf Amin sebagai Cawapres”, dari https://tirto.id/alasan-jokowi-memilih-maruf-amin-sebagai-cawapresnya, diakses pada tanggal 09 Desember 2019, pukul 22.03.

Muslim yang sangat besar untuk menuntut Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta dinonaktifkan karena kasus penistaan agama. Hal ini membuat kelompok Islam konservatif yang kebanyakan hadir dalam gerakan 212, berubah menjadi sebuah gerakan politik yang dengan mudahnya menggiring partisipasi pemilih dalam Pilpres 2019. Tentunya kejadian ini tidak bisa dianggap remeh oleh kubu Jokowi yang akan maju dalam Pilpres 2019.31

Bergabungnya Ma‟ruf Amin dengan kubu Jokowi selain alasan untuk mendapatkan suara pemilih, juga untuk strategi dalam melindungi Jokowi dari isu SARA agar mempersulit kubu lawan untuk menghembuskan isu-isu yang mungkin nantinya akan terulang kembali menyerang Jokowi dengan sebutan anti Islam dan sebagainya.32 Idy Muzayyad juga mengatakan bahwa Jokowi membutuhkan sosok Ma‟ruf Amin untuk dapat mengimbangi kekuatan kelompok Islam yang berada pada kubu lawan.33 Isu-isu agama sangat sulit untuk dipisahkan dengan politik, bahkan pada saat menjelang proses pemilihan kepala pemerintahan. Hal ini sangat berlawanan dengan keinginan Jokowi

31 Moch Nurhasim, “Alasan Dibalik Pencalonan Ma‟ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi” dari https://www.matamatapolitik.com/alasan-di-balik-pencalonan-maruf-amin-sebagai-cawapres-jokowi, diakses pada tanggal 10 Desember 2019, pukul 17.53.

32 Moch Nurhasim, “Alasan Dibalik Pencalonan Ma‟ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi”, diakses pada tanggal 10 Desember 2019, pukul 22.05.

33 Wawancara dengan Idy Muzzayyad, M.S.i, Wakil Bendahara Umum DPP PPP, Pada tanggal 25 Oktober 2019.

yang sering mengingatkan diberbagai kesempatan bahwa agama harus dipisahkan dari politik.34

Senada juga dengan apa yang dikatakan oleh Eman Suryaman yang mengatakan bahwa “Ya, hal itu benar, karena beliau juga pimpinan NU sehingga sangat mudah untuk meraup suara Nahdliyin. Kalau Nahdliyin tidak ikut ya tidak menang itu garis besarnya.”35

Eman Suryaman membenarkan apa yang dilakukan Jokowi dalam mengajak Ma‟ruf Amin sebagai Cawapres untuk dijadikan alat dalam meredam isu agama serta menarik pemilih Muslim.

Selain itu, Idy Muzayyad juga menambahkan bahwa “Tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar. KH. Ma‟ruf memang memiliki kompetensi dan pengalaman memadai untuk menjadi wapres serta KH. Maruf berhasil melawan stigma bahwa Jokowi anti Islam. Bagaimana mungkin Jokowi anti Islam karena dia menggandeng Ketua Umum MUI yang merupakan wadah perkumpulan kalangan Islam (ormas keagamaan Islam)”.36

Anggapan tentang Jokowi anti Islam dibantah dengan Idy Muzayyad bahwa sebaliknya dengan mengajak Ma‟ruf Amin, membuktikan bahwa Jokowi itu tidak anti Islam. Kemudian, Ma‟ruf Amin yang diperalat oleh Jokowi belum tentu kebenarannya

34 Moch Nurhasim, “Alasan Dibalik Pencalonan Ma‟ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi”, diakses pada tanggal 10 Desember 2019, pukul 21.38.

35

Wawancara dengan KH. Eman Suryaman, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Ekonomi, pada tanggal 29 Oktober 2019.

36 Wawancara dengan Idy Muzzayyad, M.S.i, Wakil Bendahara Umum DPP PPP, Pada tanggal 25 Oktober 2019.

karena menurutnya Ma‟ruf Amin memang pantas menjadi wakil presiden dengan pengalaman yang banyak.

Jika dalam konteks agama sebagai kekuatan politik, sebagaimana yang peneliti jelaskan pada pembahasan sebelumnya di BAB II, agama seringkali dijadikan alat untuk memperoleh legitimasi, agama juga dijadikan untuk memperluas dan mempertahankan kekuasaan. Agama juga seringkali dapat meredam atau mengendalikan situasi politik yang tengah memanas. Jika dikaitkan dengan sejarah, memang terdapat latar belakang bahwa agama selalu berbarengan dengan penyebarluasan kekuasaan politik sehingga memang wajar jika sekarang agama selalu berdampingan dengan kekuasaan dan menjadi alat untuk mendapatkan kekuatan politik.37 Apa yang dilakukan Jokowi dengan menjadikan Ma‟ruf Amin yang seorang ulama untuk memperoleh suara pemilih Muslim serta untuk meredam isu SARA dianggap wajar, dikarenakan agama memang selalu dikaitkan dengan politik bahkan menjadi sebuah senjata untuk mendapatkan kekuatan politik.

37