PENYELESAIAN UTANG BLB
B. Piutang Negara dan Prinsip-Prinsip Penyelesaian Piutang Negara
1) Faktor Kelemahan MSAA Dan MRNIA
a. Kelemahan MSAA
Mengapa dengan pola MSAA? MSAA itu timbul sebagai upaya pemerintah untuk membantu mempercepat proses pemulihan krisis ekonomi yang sedang dihadapi melalui pengembalian utang negara berupa BLBI dan atau kredit yang melanggar BMPK dari pihak terkait bank melalui langkah hukum di luar pengadilan (out of court settlement) berupa perjanjian pembayaran secara tunai dan dengan penyerahan aset yang disebut Master Settlement and Acquisition Agreement. Negosiasi antara Pemerintah RI yang diwakili oleh BPPN, dibantu oleh konsultan dan tim profesional lebih cenderung menerapkan hukum responsif yang banyak melakukan tindakan pada proses negoisasi dengan membuat komitmen
perjanjian dengan PPS bank. Kemudian menghasilkan 2 (dua) perjanjian Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham (PKPS).
MSAA ini diberlakukan terhadap PPS bank yang masih memiliki aset yang cukup untuk menyelesaikan kewajibannya kepada pemerintah.
Penyelesaian kewajiban PPS bank ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu sebagai berikut:
1) PPS bank yang berstatus BBO/BBKU (seperti BDNI), melakukan penyelesaian BLBI dan kredit yang melanggar BMPK
2) PPS bank yang berstatus BTO (seperti BCA) menyelesaikan kredit yang melanggar BMPK saja karena penyelesaian BLBI pada bank BTO dilakukan melalui proses rekapitalisasi yaitu dengan cara konversi tagihan BLBI menjadi penyertaan Pemerintah pada bank.
3) Penjualan piutang (cessie) melanggar ketentuan pasal 613 KUH Perdata “penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya ,dilakukan dengan jalan membuat sebuah akta otentik atau dibawah tangan ,dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain. Penyerahan yang demikian bagi siberutang tiada
akibatnya ,melainkan setelah penyerahan itu diberitahukan kepadannya, atau secara tertulis disetujui dan diakuinya“. Transaksi jual beli cessie yang dilakukan oleh BPPN tidak sesuai dengan ketentuan pasal tersebut diatas apalagi jual beli seccie selanjutnya yang dilakukan oleh pembeli cessie pertama , kedua dan ketiga . dan ketika sampai dengan jual beli cessie yang terakhir ternyata dokumen-dokumen yang berkaitan dengan hak tanggungan seperti sertifikat hak atas tanah dan sertifikat hak tanggungan hilang . eksistensi kehilangan dibuat statement dari pihak pembeli pertama.
4) Jual beli cessie berakibat seluruh tagihan
dikonversi menjadi jual beli biasa dan berakibat pada posisi jual beli barang jaminan yang masih terpasang pembebanan Hak Tanggungan, sangat menyulitkan proses balik nama, karena
barang Jaminan yang Terikat Hak Tanggungan tidak bisa di jual dibawah tangan kecuali melalui lelang.
5) Pembubaran BPPN juga menyulitkan bagi para pembeli cessie terakhir , terutama dokumen surat roya pelunasan utang tidak pernah ada, sedangkan lembaganya sudah dibubarkan. b. Kelemahan MRNIA.
MRNIA ini diberlakukan terhadap PPS bank yang asetnya tidak mencukupi (setelah dinilai) untuk memenuhi kewajibannya kepada pemerintah. PPS bank ini mengakui bahwa penyelesaian kewajiban PPS bank belum selesai tuntas karena walaupun telah melakukan pembayaran sebagian kewajibannya secara tunai, sisanya belum bisa dibayar penuh dengan cara penyerahan aset. Aset ini kemudian dimasukkan dalam daftar Personal Guarantee (PG) dari PPS bank untuk menjamin pelunasan
kewajibannya dengan batas waktu yang ditetapkan. Pada dasarnya dalam MRNIA (misalnya untuk Bank Danamon) belum terdapat suatu penyelesaian kewajiban PPS bank secara tuntas. PPS bank telah melakukan pembayaran kewajibannya sebagian secara tunai. Namun, sisanya yang akan dibayar dengan cara penyerahan aset belum dilakukan. Karena pada waktu dilakukan penilaian oleh konsultan independen, ternyata aset yang akan diserahkan tersebut nilainya tidak mencukupi, sehingga tidak diserahkan sebagai pembayaran. Aset ini kemudian dimasukkan dalam daftar Personal Guarantee (PG) dari PPS bank untuk menjamin pelunasan
kewajibannya dengan batas waktu yang ditetapkan. Jadi, perbedaan antara MSAA dan MRNIA/MRA antara lain dalam MSAA terjadi pembayaran kewajiban menggunakan aset. Aset tersebut dapat atas perintah BPPN melalui Holding Company/AV tanpa memerlukan persetujuan dari PPS bank yang menyerahkan aset tersebut. Sebaliknya dalam MRNIA/MRA, penjualan
aset yang termasuk dalam daftar PG oleh BPPN harus terlebih dahulu mendapat persetujuan dari PPS bank atau dilakukan sendiri oleh PPS bank. Permasalahan yang ditimbulkan dengan pola ini adalah sebagai berikut:
1) Setelah penutupan BPPN, sebagian aset tersisa berupa aset kredit, baik yang diserahkan berkaitan dengan PKPS maupun AYDA (Aset Yang Diambil Alih) yang tidak terjual dalam program penjualan aset BPPN. Seperti pada tabel estimasi sisa aset BPPN sampai dengan Desember 2003 yang terbesar adalah sisa aset AMC, baik berupa aset kredit (aset inti - core asset) maupun aset non kredit atau non inti (non core asset). Sisa aset tersebut diperkirakan sekitar Rp. 43 triliun, tentunya dengan tidak mengabaikan usaha BPPN untuk melaksanakan program-programnya dalam waktu dua bulan menjelang penutupan karena diperkirakan masih ada aset yang belum terjual dalam waktu sesingkat itu. Belakangan diketahui aset yang ditransfer BPPN ke PPA mencapai Rp. 108,49 triliun.
2) Dalam program penjualan aset kredit sampai dengan Oktober 2003 saja, dari portofolio senilai Rp. 310,41 triliun (belum termasuk litigasi &potensial out) dengan jumlah 296.198 debitur, BPPN telah berhasil menjual aset kredit senilai Rp. 208,05 triliun dengan jumlah debitur
sebanyak 152.004. Sedangkan jumlah portofolio yang belum terjual adalah sebesar Rp. 73,29 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 97.154 dan jumlah portofolio yang telah dilunasi adalah sebesar Rp. 29,06 triliun dengan jumlah debitur sebanyak 47.760. Komposisi total portofolio aset kredit sebesar Rp. 310,41 triliun, sebanyak 90,6% diantaranya berasal dan kredit korporasi dan komersial senilai Rp. 281,22 triliun dengan
jumlah debitur sebesar 3.478. Sedangkan sisanya 9,4% senilai Rp. 29,16 triliun berasal dari kredit UKM dan ritel dengan jumlah debitur
sebanyak 293.44022.
3) Namun dari penjualan total aset kredit senilai Rp. 208,051 triliun di atas sekitar 56% atau Rp. 116,492 triliun dan jumlah debitur 1.876 yang berasal dari aset kredit yang tidak
direstrukturisasi (unrestructured) dan
seluruhnya berasal dari sektor korporasi dan komersial. Begitupula sisa aset BPPN yang belum terjual (unsold) sebesar Rp. 73,29 triliun dimana sekitar 41% atau Rp. 29,85 triliun termasuk aset kredit yang tidak direstrukturisasi (unrestructured).
4) Besarnya aset kredit unrestructured yang telah dijual ke perbankan maupun di lingkungan pasar modal cukup signifikan, yakni sekitar 56%. Oleh karena itu, otoritas perbankan perlu mencermati secara mendalam dampak atas penjualan portofolio aset kredit tersebut terhadap sektor perbankan maupun institusi keuangan
mengingat masih rentannya sektor perbankan nasional dan belum pulihnya sektor riil.
5) Restrukturisasi oleh BPPN juga berjalan lamban dimana nilai buku aset yang masuk ke dalam tahap implementasi restrukturisasi per 13 September 2002 hanya mencapai 13% (berdasarkan nilainya) dari total aset kredit yang harusnya direstrukturisasi oleh BPPN, sedangkan jumlah debitur yang masuk dalam tahap implementasi restrukturisasi baru 22persoalan yang timbul dalam penyelesaian asset ini adalah tidak lengkapnya dokumen- dokumen yang berkaitan dengan tanah dan peroyaan hak tanggungan, kontruksi hukum yang tepat adalah dengan subrograsi tapi hal ini juga tidak dapat dilakukan karena dokumen yang hilang harus dibuat duplikasinya terlebih dahulu. Setelah BPPN dibubarkan seluruh dokumen diserahkan pada Arsip Negara akan tetapi untuk menemukan dokumen perbankan memakan waktu, sehingga jalan pintas dilakukan dengan laporan kehilangan dari Polisi sebagai salah satu syarat untu membuat sertifikat pengganti (duplikatnya).
mencapai 0,06%. Sejak BPPN didirikan tahun 1998 hingga 27 Februari 2002 bukanlah waktu yang sebentar untuk menapaki prestasi
restrukturisasi.
6) Kredit macet yang gagal direstrukturisasi dapat mengancam perbankan. Penjualan aset kredit BPPN yang belum rampung direstrukturisasi tak terhindarkan bagi perekonomian nasional. Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 4/2000 yang melarang bank untuk membeli aset kredit BPPN lebih dari separuh modal inti bank tak akan mampu menghalangi masuknya aset kredit tak berkualitas di bawah kendali BPPN ke dalam necara bank.
7) Dalam jangka pendek aset-aset BPPN yang berkualitas rendah itu akan dibeli oleh agen- agen perantara dan dalam jangka menengah akan kembali dibeli oleh bank melalui agen- agen tersebut.
8) Yang menjadi permasalahan adalah besarnya aset kredit berkualitas rendah yang dijual oleh BPPN yang nilainya diperkirakan antara Rp. 94 triliun hingga Rp. 250 triliun (aset yang belum direstrukturisasi), sedangkan modal perbankan per Desember 2002 hanya sebesar Rp. 93 triliun. Artinya aset berkualitas rendah BPPN ini akan menuntut provisi yang sangat tinggi yang membebani modal perbankan nasional di kemudian hari. Seandainya diasumsikan secara konservatif aset-aset senilai Rp. 250 triliun ini telah dibeli oleh pihak ketiga dengan discount sebesar 80%, dan diasumsikan pula bahwa perbankan membelinya kembali dengan nilai yang sama yang berani perbankan harus menyediakan provisi sebesar Rp. 50 triliun. Karena rendahnya kualitas aset kredit BPPN ini, bukan tidak mungkin kredit ini akan kembali macet total di masa depan, sehingga
mengakibatkan modal perbankan berpotensi untuk terpangkas sebesar Rp. 50 triliun dan itu lebih dari separuh nilai modal keseluruhan perbankan tahun 2002. Jadi, risiko yang ditanggung pembeli aset tak direstrukturisasi berbanding terbalik dengan besarnya discount dari harga aset. Semakin besar discount semakin rendah risiko bagi sektor perbankan, demikian sebaliknya.
9) Persoalannya akan menjadi bertambah parah jika ternyata pembelian aset BPPN ini
menggunakan kredit dari sektor perbankan sendiri. Perbankan terancam kerugian yang sangat besar akibat macetnya aset-aset BPPN yang mereka beli dan macetnya kredit yang telah mereka kucurkan untnk pembelian aset tersebut.
10) Data konfidensial internal BPPN sendiri mengatakan bahwa jumlah aset yang belum direstrukturisasi yang dijual BPPN adalah Rp. l16.50 triliun. Aset yang belum direstrukturisasi yang belum dijual sebesar Rp. 29,8 triliun. 11) Dialihkan atau tidaknya sisa aset kredit BPPN
dalam suatu entitas baru atau yang sering disebut holding company, perlu dicermati bahwa apakah aset tersebut nantinya akan dikelola, direstrukturisasi, atau dijual lagi seperti program-program yang selama ini dilakukan BPPN atau alternatif lain seperti disekuritisasi yang lebih dikenal sebagai Efek Beragun Aset (EBA).
BAB III
PIUTANG BLBI SEBAGAI EXTRAORDINARY