PIUTANG BLBI SEBAGAI EXTRAORDINARY DEFAULT
C. Faktor Penyebab Extraordinary Default
Menurut pendapat Krisna Wijaya,
menyatakan bahwa berdasarkan pengalaman praktik perbankan apabila terjadi gagal bayar pada kredit macet pada sebuah bank, penyebabnya hanya ada dua yaitu karena Error Omission dan Error
Commision.
a. Error Ommission (EO) adalah timbulnya kredit macet karena memanfaatkan lemahnya
peraturan atau ketentuan yang memang belum ada atau sudah ada namun tidak jelas. Error Ommission jelas motifnya sejak awal tidak baik, dengan kata lain sejak awal niatnya melanggar. Model ini lebih mudah dideteksi karena alat pembuktiannya mudah.
b. Error Commission (EC) yang memang tidak
ada aturan dan ketentuannya yang dilanggar, tetapi ada motif untuk memanfaatkan belum adanya ketentuan atau aturan. Maka dapat dengan mudah para pejabat bank mengeluarkan kebijakan yang didasari oleh unsur-unsur
tertentu. Modus EO sering terjadi pada saat mengambil keuntungan dari penerimaan kredit. Permainan ini sebenarnya sebagai modus klasik, misalnya dalam pemberian liquidity support dalam kasus BLBI telah dengan sengaja diselewengkan oleh begitu banyak bank, sehingga bukannya kebutuhan dari nasabah yang mendapatkan prioritas. Akan tetapi, justru kebutuhan dari bank itu sendiri beserta
kebutuhan dari pihak yang terafiliasi dengan bank. Modus EC ini digunakan sangat rapih dan melibatkan pejabat bank. Berdasarkan
pengalaman kasus-kasus perbankan nasional yang berkaitan dengan kredit macet
persoalannya tidak akan lepas dari EO dan EC. Dalam temuan penyimpangan penyaluran maupun penggunaan BLBI, baik di Bank Indonesia, bank pemerintah dan bank swasta ataupun pihak ketiga yang terkait, baik yang ditemukan oleh BPK maupun BPKP tidak tertutup kemungkinan bahwa kasus-kasus yang terjadi disebabkan adanya faktor EO dan EC. Adapun factor terjadinya factor-faktor
tersebut adalah sebgai berikut: 1) Faktor Error omission
Dari sisi penggunaan dana BLBI, sebagian besar para penerima BLBI memanfaatkan faktor Error omission dengan adanya unsur kelemahan
persyaratan Surat Direksi BI No. 30/50/DIR/UK tanggal 30 Desember 1997. Bahkan sampai saat ini belum sepenuhnya mengembalikan pinjaman yang berupa BLBI tersebut. Dalam hubungan ini sebagian besar bank penerima BLBI yang tidak memenuhi
persyaratan Surat Direksi BI No. 30/50/DIR/UK tersebut telah melakukan wanprestasi.
2) Faktor Error Comission
Berdasarkan temuan BPK dan BPKP, penyaluran BLBI berpotensi menimbulkan kerugian negara karena dana yang disalurkan berasal dari keuangan Negara. Kemudian oleh bank-bank penerima telah digunakan tidak sesuai
peruntukkannya, seperti antara lain untuk membayar kewajiban pihak terkait, membayar dana pihak ketiga, membiayai kontrak derivatif, membiayai penempatan baru di PUAB, ekspansi kredit dan lain-lain. Mengingat bahwa penyimpangan penggunaan BLBI oleh bank- bank penerima adalah suatu perbuatan extraordinary default yang penyelesaiannya digunakan dengan penekanan pengembalian bukan tindakan perbuatan melawan hukum.
Pada hasil audit BPK 31 Juli 2000 disebutkan, dari Rp. 144,5 triliun BLBI yang dikucurkan ke 48 bank umum nasional itu, sebesar Rp. 138,4 triliun atau 96 persen dinyatakan berpotensi merugikan negara karena kurang jelas penggunaannya. Dari jumlah itu, auditor resmi pemerintah itu menemukan
penyimpangan Rp. 84,8 triliun. Yang mencengangkan, sebesar Rp. 22,5 triliun di antara BLBI yang
menyimpang itu digunakan untuk membiayai kontrak derivatif alias spekulasi valas. Pembelian dolar AS besar-besaran tahun 1998 yang mcnghancurkan nilai rupiah hingga level Rp. 16.000 per dolar AS, antara lain dipicu oleh tindak spekulasi ini. Bank manakah
yang melakukan spekulasi valas dengan rupiah sebesar itu? Meski belum ada informasi yang jelas, yang pasti langkah itu efektif diambil oleh pihak yang memiliki akses tinggi ke pusat kekuasaan atau
pengambil keputusan penting di bidang politik dan ekonomi.
Audit yang dilakukan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhadap 42 bank penerima BLBI pada 17 Juli 2000, menemukan
penyimpangan sebesar Rp. 54,5 triliun. Penyimpangan tersebut terdiri atas Rp. 53,4 triliun penyimpangan yang berindikasi tindak pidana korupsi (TPK) dan tindak pidana perbankan (TPP) dan Rp. 1,159 triliun penyimpangan non-TPK atau non-TPP. Penyimpangan non-TPK atau non-TPP adalah perbuatan yang
melanggar ketentuan berlaku, tapi tak masuk kategori TPK/TPP.
Faktor-faktor Itikad tidak baik pada kasus BLBI berdasarkan hasil audit BPKP itu seperti Spekulasi valas dsn membiayai ekspansi kredit. Membayar kewajiban kepada pihak terkait dan sangat patut diduga, sebagian besar BLBI itu justru masuk ke kantung pribadi. Berdasarkan penelitian Humanika yang dilakukan oleh lembaga perusahaan terancam bangkrut, tapi pengusaha justru kaya raya.
Pertanggung-jawaban perbuatan
Extraordinary Default seharusnya diselesaikan melalui PUPN pengelola dan pemilik bank serta debitur. Kewajiban untuk mengembalikan BLBI adalah para pemegang saham mayoritas di masing-masing bank. Untuk BLBI yang diterima BCA, misalnya, tanggung jawabnya ada di tangan pemegang saham mayoritas, yakni Soedono Salim, Anthony Salim, dan Andre Halim. Temuan penyimpangan penyaluran maupun penggunaan BLBI, baik di Bank Indonesia, bank pemerintah dan bank swasta ataupun pihak ketiga yang terkait, baik yang ditemukan oleh BPK maupun BPKP dikategorikan sebagai kasus Extraordinary
Default ini terjadi disebabkan adanya Error Omisssion dan Error Comission;
a. Mismanajemen pengelolaan dana pinjaman. b. Dari sisi penggunaan dana BLBI, sebagian besar
para penerima BLBI tidak memenuhi persyaratan Surat Direksi BI No. 30/50/DIR/UK tanggal 30 Desember 1997
c. Belum sepenuhnya mengembalikan pinjaman yang berupa BLBI tersebut. Sebagian besar bank penerima BLBI yang tidak memenuhi persyaratan Surat Direksi BI No. 30/50/DIR/UK tersebut dapat dikatagorikan wanprestasi skala besar atau telah terjadi perbuatan extraordinary default.
d. Berpotensi menimbulkan kerugian negara karena dana yang disalurkan berasal dari keuangan negara dan oleh bank-bank penerima telah digunakan tidak sesuai peruntukannya, seperti antara lain untuk: membayar kewajiban pihak terkait, membayar dana pihak ketiga, membiayai kontrak derivatif, membiayai penempatan baru di PUAB, ekspansi kredit dan lain-lain.
Mengingat bahwa penyimpangan
penggunaan BLBI oleh bank-bank penerima adalah bukan suatu perbuatan melawan hukum, tetapi perbuatan wanprestasi karena telah didahulu dengan MSAA, maka sudah tidak sepantasnya perbuatan ini dapat diproses dengan menerapkan UU No. 3 Tahun 1971 Tentang Tindak Pidana Korupsi, dan atau UU No. 7 Tahun 1992 jo UU No. 10 Tahun 1998 Tentang Tindak Pidana Perbankan. Apabila terjadi penyimpangan dalam penyaluran dan/atau penggunaannya, kemudian pemerintah melakukan tindakan bernegosiasi dengan pola MSAA, maka jumlah
kerugian negara tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara pidana.
Penyaluran BLBI sebagai suatu perbuatan extraordinary default yang berpotensi menimbulkan kerugian keuangan negara dapat dilakukan dengan
tindakan hukum represif , karena penyaluran BLBI dilakukan dengan alasan, yaitu karena sebab-sebab yang dilakukan dalam keadaan krisis dan darurat dan/atau karena melakukan ketentuan Undang- Undang dan atau karena perintah jabatan, beroeprecht dan atau demi kepentingan umum. Tindakan yang dilakukan dengan pertimbangan tersebut mempunyai alasan pembenar dan pemaaf dalam tindakan represif pemerintah bukan dengan kategori-kategori sifat perbuatan melawan hukum materil karena landasan hukumnya adalah hukum administrasi negara, maka penyelesaianya juga harus melalui badan khusus dimana undang-undangnya mengandung unsur-unsur hukum materil dan hukum formil.
Dengan demikian apabila terjadi krisis serupa di masa yang akan datang, Pejabat BI dapat bertindak tegas tanpa ragu-ragu untuk melaksanakan tugasnya tanpa dibayang-bayangi kehawatiran akan adanya ancaman pidana. Penyaluran maupun penggunaan BLBI apabila dilaksanakan sesuai dengan peraturan yang berlaku bukanlah suatu tindak pidana. Akan tetapi, penyimpangan penyaluran dan penggunaan dengan itikad baik tentunya harus mendapatkan penilaian yang rasional, obyektif, proporsional dan professional, sedangkan yang dilakukan dengan itikad tidak baik kepada pelakunya dapat diminta
pertanggung-jawaban secara pidana.
Tabel 3.1. Proses Peradilan Kasus BLBI
N
o Nama Perkara Kerugian Negara Tingkat Pemeriksaan
1 Hendraw an Haryono
Bank
Aspac 583.478.957.594 Pengadilan NegeriVonis 1 tahun kasasi
Vonis 4 tahun 2 Setiawan
Haryono Bank Aspac 583.478.957.594 Pengadilan NegeriVonis 5 tahun Pengadilan Tinggi Vonis 6 tahun
3 David Nusa Widjaja Bank Serviti a 1.306.430.307.
777 Pengadilan NegeriVonis 1 tahun Banding Vonis 4 tahun Mahkamah Agung Vonis 8 tahun Pengadilan Negeri Vonis bebas Mahkamah Agung Vonis 4 tahun penjara 4 Samadik un Hartono Bank
Modern 80.742.270.581 Pengadilan NegeriVonis Seumur Hidup
5 Hendra
Raharja Bank Harapa n Santos a 305.345.074.0 00 dan USD 2.304.809,36 Pengadilan Negeri Vonis Seumur Hidup 6 Eko Adi
Putranto Bank Harapa na Santos a 305.345.074.0 00 dan USD 2.304.809,36 Pengadilan Negeri Vonis 20 tahun penjara 7 Sherny Konjongi an Bank Harapa n Santos a 305.345.074.0 00 dan USD 2.304.809,36 Pengadilan Negeri Vonis 20 tahun penjara 8 Bamban g Sutrisno Bank
Surya 1,5 triliun Pengadilan NegeriVonis Seumur Hidup 9 Andrian Kiki Ariawan Bank Umum Nasion al
1,5 triliun Pengadilan Negeri Vonis Seumur Hidup 10 Leonard Tanubrat a Bank Umum Nasion al 6.738.632.426.
680 Pengadilan NegeriVonis 10 tahun Pengadilan Tinggi Vonis Bebas 11 Kaharudi
Nasion al 12 Hendri
Sunardyo South Eas Asia bank
280 milyar Pengadilan Negeri Vonis 10 bulan 13 Jemy
Sutjiwan South Eas Asia Bank
280 milyar Pengadilan Negeri Vonis 8 bulan 14 Leo
Ardyanto South Eas Asia Bank
280 milyar Pengadilan Negeri Vonis bebas 15 Supari Dhirjo Prawiro Bank Ficorin vest
305 milyar Pengadilan Negeri Vonis 1 tahun 6 bulan
16 Soemeri Bank Ficorin vest
305 milyar Pengadilan Negeri Vonis 1 tahun 6 bulan
17 Sjamsul
Nursalim BDNI 6.926.369.324.999,80 dan USD
96.700.000
SP3