• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan extraordinary default dan extraordinary crime

Dalam dokumen KEWENANGAN DPR DALAM SELEKSI (Halaman 191-200)

PENYELESAIAN UTANG BLBI DENGAN POLA HUKUM REPRESIF

B. Hubungan extraordinary default dan extraordinary crime

Tinjauan tentang kejahatan adalah berkaitan dengan suatu perbuatan yang berlawanan dengan hukum (onrecthmatige). Dalam lapangan hukum pidana, pengertian melawan hukum ada tiga pendapat sebagai berikut:

1. Bertentangan dengan hukum.

2. Bertentangan dengan subjectif recht.

3. Tanpa kewenangan atau tanpa hak, hal ini tidak perlu bertentangan dengan hukum.

Dalam praktek terhadap perkara pidana ,dikenal pula adanya faktor-faktor yang dapat

menghapuskan unsur melawan hukum dari perbuatan. Arrest Hoge raad tanggal 28 Juni 1911, bahwa arti melawan hukum adalah tidak mempunyai hak sendiri untuk menikmati keuntugan atau betentangan

dengan hukum, bertentangan dengan hak orang lain. Mengacu pada Arrest ini, maka kebijakan yang diambil oleh bank, yaitu melakukan suatu perbuatan yang ditimbulkan oleh hak melakukan suatu perbuatan yang ditimbulkan oleh hak melakukan pekerjaaan atau beroepsrecht dan dapat dijadikan alasan yang dapat melenyapkan sifat melawan hukum tindak pidana.

Lebih jauh lagi Putusan Mahkamah Agung dalam putusan perkara Korupsi Nomor 42 K/Kr/1965 tanggal 8 januari 1966 menyatakan :

“suatu tindakan pada umumnya dapat hilang sifatnya sebagai melawan hukum bukan hanya berdasarkan suatu ketentuan dalam perundang- undangan melainkan juga berdasarkan asas-asas keadlian atau asas-asas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum,dalam perkara ini, misalnya negara tidak dirugikan dan terdakwa sendiri tidak mendapat untung”.

Makna perbuatan melawan hukum dalam praktek pemidanaan di bidang perbankan expressis verbis telah terjadi perluasan terhadap asas legalitas dalam buku I KUHP, Mahkamah Agung masih

mencantumkan penggunaan unsur melawan hukum materil. Yang dimaksudkan dengan sifat melawan hukum materil yaitu segala perbuatan yang bertentangan dengan perasaan keadilan di dalam masyarakat yang secara khusus di dalam tindak pidana korupsi termasuk termasuk didalam pengertian

sifat melawan hukum dalam arti materil itu segala perbuatan yang bersifat koruptif ,baik yang dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan maupun yang dilakukan dengan tindakan-tindakan yang cukup bersifat suatu perbuatan yang cukup tercela,atau tidak sesuai dengan rasa keadilan yang terdapat didalam kehidupan masyarakat.

Misalnya putusan dalam kasus

penyalahgunaan dana BLBI, yaitu Putusan Mahkamah Agung No. 1696 K/Pid/2002 tanggal 28 Mei 2003 dalam pertimbangan hukumnya mengacu pada jurisprudensi Mahkamah Agung No. 241 K/pid/1967 tanggal 21 Januari 1989. Karena terdakwa sebagai Presiden komisaris tidak mencegah terjadinya penyimpangan penggunaan “dana BLBI” oleh

direksinya yang berakibat timbulnya kerugian negara. Pemahaman “kredit” didasarkan pada pemahaman kredit pada umumnya. Penyimpangan penggunaan kredit yang digunakan dan disalahkan perolehanya adalah dianggap kredit yang menyimpang. Walaupun tidak semua kredit macet bernuansa melanggar instrumen pidana dan dapat dijerat dengan pasal tindak pidana korupsi karena melalui proses yang benar, di samping telah mengacu kepada prudential banking, dan juga jaminan aset yang diberikan nasabah melebihi plafond kreditnya, dan apabila terjadi suatu keadaan di luar kemampuan nasabah untuk memenuhi kewajibanya (force majeur).

Terlepas dari pemahaman perbuatan melawan hukum di atas, yang lebih penting adalah pemahaman bagaimana kondisi dimana perbuatan itu dapat dikatakan “kejahatan“ sehubungan istilah extraordinary crime, dalam ilmu kriminologi makna kejahatan memunculkan banyak aliran dan teori yang mempelajari kejahatan dalam arti yuridis dan perilaku lain yang bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Menurut Vauin – Leute,

perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan dirumuskan sebagai kejahatan dalam undang-undang tidak lepas dari prinsip-prinsip “de minimis non curat praetor” harus diterima sebagai kejahatan. Pendapat dalam jalur yang sama adalah pandangan dari Sutherland dan Cessey mengemukakan tujuh syarat sebagai suatu perbuatan yang dapat dirumuskan sebagai kejahatan, adalah sebagai berikut:

1. Sebelum suatu perbuatan disebut sebagai kejahatan harus terdapat akibat-akibat tertentu yang nyata yang berupa kerugian.

2. Kerugian yan ditimbulkan harus merupakan kerugian yang dilarang oleh undang-undang dan secara jelas tercantum dalam hukum pidana. 3. Harus ada perbuatan yang membiarkan terjadinya

perbuatan yang menimbulkan kerugian tersebut. 4. Dalam melakukan perbuatan tersebut harus

terdapat maksud jahat atau “means rea”

5. Harus ada hubungan antara perilaku dan “means rea”

6. Harus ada hubungan kausal anatara kerugian yang dilarang undang-undang dengan perbuatan yang dilakukan atas kehendak sendiri (tanpa adanya unsur paksaan);

7. Harus ada pidana terhadap perbuatan tersebut yang ditetapkan oleh undang-undang.

Definisi yang lebih tegas tentang “kejahatan” adalah pendapat dari Rafael Garofalo seorang guru besar dalam hukum pidana pada Universitas Napels, dalam bukunya “Criminologi” dikatakan bahwa

kejahatan dapat dimengerti dengan jalan mempelajari dengan metode-metode ilmiah. Oleh karena ilmu pengetahuan berhubungan dengan hal-hal yang bersifat universal, maka ia mencoba merumuskan definisi kejahatan yang bersifat sosiologi dan universal. Dikatakan bahwa kejahatan adalah

mau tidak mau harus diakui sebagai jahat dan oleh karena itu, harus ditumpas oleh hukum. Perbuatan- perbuatan tersebut secara natural crime karena melanggar dua sifat dasar yang altruitis yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu rasa kejujuran dan belas kasihan. Pemaparan “kejahatan” menjadi berbeda oleh karena adanya perbedaan perspektif, terlebih lagi terhadap makna kejahatan luar biasa yang berdampak luas dan sistemik dikenal dengan istilah “Extraordinary Crime”.

Istilah kejahatan yang berdampak luas dan sistematik (Extraordinary Crime), dapat diketemukan dalam buku yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia tentang Pedoman Unsur-unsur Tindak Pidana Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat dan Pertanggungjawaban Komando dijelaskan bahwa syarat “meluas atau sistematis” ini adalah syarat yang fundamental untuk membedakan kejahatan ini dengan kejahatan umum lain yang bukan merupakan kejahatan internasional. Kata “meluas” tertuju pada “jumlah korban”, istilah ini mencakup “massive, sering atau berulang-ulang, tindakannya dalam skala yang besar, dilaksanakan secara kolektif dan berakibat serius”. Sedangkan istilah “sistematis” merupakan suatu pola atau

metode tertentu yang diorganisasi secara menyeluruh dan menggunakan pola yang tetap.

Berdasarkan yurisprudensi internasional, sebagaimana dalam putusan ICTR (International Criminal Tribunal for Rwanda), dalam kasus Akayesu, dinyatakan bahwa kata “meluas” sebagai “tindakan massive, berulang, dan berskala besar, yang

dilakukan secara kolektif dengan dampak serius dan diarahkan terhadap sejumlah besar korban

(multiplicity of victim)”. Sedangkan “sistematis” diartikan sebagai: “diorganisasikan secara rapi dan mengikuti pola tertentu yang terus menerus

publik atau privat yang substansial.” Meskipun kebijakan tersebut bukan merupakan kebijakan negara secara formal.

Istilah-istilah di atas mengenai kejahatan yang berdamapak luas dan sistematik diambil dari sudut pandang terhadap pelanggaran HAM Berat, karena istilah kejahatan yang berdampak luas dan sistematik (extraordinary crime) awalnya muncul dari kejahatan Hak Asasi Manusia (HAM) berat, dan sesuai berkembangnya kondisi hukum istilah ini pun

mengalami perluasan. Istilah ini tidak hanya sebatas dipakai dalam kejahatan terhadap kejahatan HAM berat saja.

Salah satu istilah mengenai sistematis dapat kita lihat juga dari pengertian sistemik dalam

kejahatan ekonomi yang saat ini sering dibahas dan menjadi buah pembicaraan karena adanya masalah kasus bank Century. Bank Indonesia menggunakan aspek untuk menilai apakah suatu bank akan menjadi bank gagal berdampak sistemik harus menyangkut lima aspek, yaitu :

1. Institusi keuangan; 2. Pasar keuangan; 3. Sistem pembayaran; 4. Sektor riil dan; 5. Psikologi pasar.

Dari kelima aspek tersebut, tiga memiliki dampak menengah dan tinggi (medium to haigh impact) dan psikologi pasar. Dua aspek lainya (institusi pasar dan sektor riil) memiliki dampak rendah sampai menengah (low to medium impact). Kemudian dari ketiga aspek yang memiliki dampak sedang sampai tinggi semuanya mengarah pada berpotensinya berita dan sentimen negatif menyebar dan akan mengakibatkan krisis keuangan melalui bank runs (bank di-rush masyarakat). Dari aspek masyarakat misalnya penutupan bank akan

terutama dalam kondisi pasar yang sangat rentan terhadap berita-berita yang dapat merusak

kepercayaan terhadap pasar keuangan. Kemudian dari aspek sistem pembayaran disimpulkan apabila bank ini ditutup dikhawatirkan akan terjadinya rush pada per bank dan bank-bank yang lebih kecil. Terakhir dari aspek psikologi pasar disimpulkan, penutupan bank ini akan menimbulkan sentimen negatif di pasar

keuangan, terutama dalam kondisi pasar saat rentan terhadap berita-berita yang dapat merusak pasar keuangan29.

Kata sistemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia keluaran Depdiknas, tidak menemukan definisi dari kata sistemik. Namun demikian, bahwa kata dasar dari kata sistemik adalah “sistem”, suatu perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk suatu totalitas. Turunan berikut dari kata sistem adalah “sistematis”, “sistematika”, dan seterusnya hingga muncul istilah baru “sistemik” yang diserap dari kata systemic. Sistemik itu sendiri berarti “berpotensi mempengaruhi sistem”, atau “berpotensi mengubah jalannya sistem untuk (cenderung) melenceng dari kondisi normal”.

Dalam ilmu keuangan (finance), sistemik selalu dikaitkan dengan upaya mengantisipasi risiko yang mungkin timbul. Ukuran dan parameternya selalu jelas, teknis, dan sangat akademik. Oleh

karenanya, dalam ilmu finance sangat popular dengan teori yang disebut dengan systemic risk. Jadi, jelaslah bahwa istilah “sistemik” sangat berhubungan dengan upaya manusia dalam mengantisipasi risiko yang timbul. Jika salah satu variabel mengalami anomali dalam intensitas yang tidak biasa, maka dipastikan kondisi ini akan berpengaruh terhadap sistem secara keseluruhan.

29Sawidji Widoatmodjo, Mencari Kebenaran Objektif dampak Sistemik Bank Century –Kajian teoritis dan Empiris, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2010), hlm 23.

Sedangkan kata “meluas” lebih mengacu pada jumlah korban fisik yang luar biasa secara kuantitatif, baik yang terkena secara langsung maupun secara tidak langsung. Kemudian Sukardi dalam bukunya illegal logging dalam perspektif politik hukum pidana (kasus papua), mengartikan

extraordinary crime sebagai suatu kejahatan yang berdampak besar dan multi dimensional terhadap sosial, budaya, ekologi, ekonomi dan politik yang dapat dilihat dari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan atau perbuatan yang ditemukan dan dikaji oleh berbagai lembaga pemerintahan maupun lembaga non pemerintahan, nasional maupun internasional.

Dari pengertian tersebut dapat dikategorikan beberapa kejahatan yang berdampak luas dan

sistematik (extraordinary crime) seperti kejahatan illegal logging, tindak pidana korupsi, pencucian uang (money laundring), kejahatan lingkungan, terorisme, serta kejahatan transnasional. Hal ini disebabkan karena kejahatan-kejahatan tersebut berdampak luas dan memberikan dampak, baik terhadap kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik dan mungkin ekologi serta melibatkan korban yang besar, baik secara langsung dirasakan maupun tidak secara langsung dirasa dirasakan serta korban fisik dan immateril yang luar biasa secara kuantitatif.

Berkaitan dengan definisi “kejahatan” adalah suatu perbuatan dalam pengertian hubungan hukum dalam kategori perikatan yang bersumber dari undang-undang karena melawan hukum

(onrechtmatige) dan karena perbuatan yang menurut hukum (rechtmatige). Keadaan kedua perbuatan tersebut adalah karena kelalaian dan menimbulkan kerugian. Kebijakan pimpinan Bank Indonesia dalam memberikan persetujuan BLBI pada akhirnya menjadi piutang tak tertagih yang menimbulkan kasus gagal

bayar yang berdampak sitemik (extraordinary default) dan berpotensi merugikan negara.

Dari beragam pengertian kejahatan di atas, jika ditarik lebih jauh dan dihubungkan dengan

perbankan, berarti kejahatan perbankan adalah suatu perbuatan atau pelanggaran yang memenuhi

rumusan delik dari suatu produk legislasi yang mengatur tentang tindak pidana perbankan.

Menurut Marwan Efendi berpijak dari

pengertian kejahatan di atas, maka deskripsi tentang tipologi kejahatan perbankan dari perspektif hukum pidana diperlukan karena akan diketahui tipologi masing-masing tindak pidana, sehingga dapat ditemukan rumusan delik yang tepat dalam penerpanya. Oleh karena itu, untuk memudahkan penyebutan istilah tindak pidana sebagaimana yang dirumuskan di dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 23 tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Bank Indonesia disebut tindak pidana

perbankan, sedangkan tindak pidana yang bersangkut paut dengan tindak pidana lain yang terkait dengan perbankan seperti KUHP, Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, Undang-Undang tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar, serta lain

sebagainya disebut dengan tindak pidana di bidang perbankan.

Selanjutnya sesuai dengan ruang lingkup pengaturanya berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku tipologi tindak kejahatan perbankan dikelompokkan sebagai berikut:

1. Tipologi tindak pidana kejahatan perbankan

yang dirumuskan di dalam Undang-Undang tentang Perbankan, meliputi perizinan usaha bank, masalah pekreditan, masalah rahasia

bank dan sebagainya, serta yang dirumuskan dalam Undang-Undang tentang Bank Indonesia.

2. Tipologi tindak kejahatan perbankan yang

dirumuskan didalam KUHP, Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering) dan Undang-Undang lalulintas Devisa dan istem Nilai Tukar.

Oleh karena itu, kejahatan perbankan ini menurut pendapat Marwan Efendy dapat

dikelompokkan dalam White-Collar Crime karena berbagai kasus mengindikasikanya sebagai kejahatan transnasional, tidak terbatas pada suatu tempat tertentu, tapi dapat melewati batas-batas teritorial suatu negara dan subjek hukum biasanya adalah orang-orang yang ahli di bidang perbankan.

Istilah White-Collar Crime pertama kali dipopulerkan oleh Edwin H. Sutherland pada tahun 1940 yang mempublikasikan tulisannya berjudul White –Collar Criminality yang isinya mengupas pengembangan konsep dan pengaruh White-Collar Crime terhadap kriminologi, istilah White-Collar Crime menjadi begitu popular dan baku. Sutherland

menggunakan istilah White-Collar Crime untuk menyatakan bahwa orang-orang yang melakukanya umumnya memiliki status social yang tinggi (white collar crime commited by respectable persons in conection with their occupations). Dalam hal ini yang perlu diklarifikasi sebagai bentuk white collar crime adalah sebagai berikut:

1. Independent Businessmen, yaitu mereka yang

secara melawan hukum mengkonversi uang pemilik modal untuk keperluan lain dari tujuan semula.

2. Long term violators: mereka yang secara

melawan hukum mengkonversi sebagian kecil modal untuk waktu yang lama.

Dalam dokumen KEWENANGAN DPR DALAM SELEKSI (Halaman 191-200)