• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Lingkungan (X3)

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 72-78)

B. Kerangka Berfikir

3. Faktor Lingkungan (X3)

3. Faktor Lingkungan (X3)

Lingkungan usahatani meliputi faktor-faktor disekitar petani yang dapat maupun yang tidak dapat dikendalikan petani yang mendukung kelancaran usahatani (Harijati, 2007).

Menurut (Muatip, 2008) mengemukakan bahwa lingkungan usaha berpengaruh positif terhadap kompetensi peternak sehingga peternak mampu memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki atau yang ada disekitar tempat tinggal peternak. Syaifuddin (2008), mengatakan bahwa lingkungan pertanian seperti lahan, modal dan modal sosial berpengaruh nyata terhadap kompetensi petani dan pendapatan keluarga. Pada penelitian ini faktor lingkungan menggunakan indikator antara lain : irigasi, teknologi dan dukungan modal (modal usaha).

a. Irigasi (X3.1)

Istilah irigasi brasal dari Bahasa Belanda yaitu irrigate atau dalam Bahasa Inggris irrigation yang memiliki arti pengairan atau penggenangan. Menurut UU No. 7 Tahun 2004 pasal 41 ayat 1 tentang sumber daya air, irigasi merupakan usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air untuk menunjang pertanian. Menurut (Wirosoedarmo, 1986), irigasi merupakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan usaha untuk mendapatkan air untuk sawah, ladang, perkebunan, perikanan, tambak dan lain sebagainya. Irigasi

86

adalah sistem pengairan untuk membantu keperluan usaha pertanian.

Irigasi merupakan penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan pengaliran air yang menggunakan sistem berupa saluran dan bangunan tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang produksi pertanian, persawahan, dan perikanan. Disamping itu, setiap irigasi membutuhkan cara dan strategi pengelolaan yang spesifik. Pasalnya, masing-masing irigasi memiliki jenis yang berbeda-beda. Hal ini disesuaikan dengan tempat atau lokasi. Selain itu jenis tanaman yang dibudidayakan juga menentukan teknik irigasi yang digunakan. Para petani menggunakan irigasi untuk membantu meningkatkan produksi hasil pertanian.

Dengan adanya irigasi lahan tidak lagi mengandalkan hujan yang datangnya sering tidak menentu. Beberapa fungsi dan manfaat adanya irigasi ; (1) Irigasi berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air di daerah pertanian yang memiliki curah hujan rendah tidak ada, (2) Pembuatan irigasi sangat diperlukan agar dapat membersihkan tanah dan hama yang seringkali membahayakan bagi tanaman, (3) Melalui irigasi juga dapat dapat memberikan zat-zat yang berguna bagi tumbuhan, (4) Irigasi bertujuan untuk menjaga keseimbangan suhu agar tanaman tumbuh dengan baik, (5) Menambah persediaan air tanah untuk keperluan sehari-hari.

Berdasarkan tingkat teknis terdapat 4 macam irigasi yaitu ; irigasi teknis, irigasi setengah teknis, irigasi sederhana dan irigasi tadah hujan ( Modul Pengetahuan Umum Irigasi ; Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumberdaya Air dan Konstruksi. Kementrian Pekerjaan Umum dan Perusahaan Rakyat Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia) ;

Irigasi teknis adalah jaringan irigasi dimana airnya diatur dan dapat diukur. Untuk dapat mengatur air yang masuk atau keluar, jaringan irigasi ini dilengkapi dengan pintu. Untuk mengukur

87

besarnya aliran air, jaringan irigasi ini dilengkapi dengan bangunan ukur yang bisa berupa papan berskala, bangunan ukur khusus..

Irigasi setengah teknis adalah pengairan yang dikelola oleh pihak pemerintah yang hanya menguasai bangunan penyadap untuk dapat mengatur dan mengukur pemasukan air, sedangkan pada jaringan saluran selanjutnya seperti jaringan saluran tersier tidak diatur dan tidak dikuasai oleh dinas pengairan tetapi langsung melibatkan masyarakat melalui kelompok tani. Perbedaan irigasi teknis dan irigasi setenagh teknis. Irigasi teknis; (1) Dibangun dan dipelihara oleh Pemerintah seluruhnya ( Bendungan, Saluran Primer, Sekunder dan Tersier); (2) Pemeliharaan saluran lebih mudah; (3) Jaringan saluran tersier langsung ke petak-petak sawah sudah dibangun; (4) Pembagian air lebih merata; (5) Tidak terjadi kebocoran saat penyaluran air.

Sedangkan irigasi setengah teknis ; (1) Dibangun dan dipelihara hanya bendungan, saluran primer ,saluran sekunder dan tersier dikelola secara swadaya; (2) Pemeliharaan saluran melibatkan masyarakat; (3) Pembagiaan air cenderung ada kebocoran di tengah jalan; (4) Pembagian kurang merata; (5) Jaringan saluran tersier langsung ke petak-petak sawah belum dibangun.

Irigasi sederhana adalah irigasi yang tidak dilengkapi bangunan ukur maupun pintu,kalaupun ada pintu, bangunan pintu itu tidak permanen dan sangat sederhana sehingga mudah rusak.

Pertanian tadah hujan merupakan suatu system pertanian yang memanfaatkan air hujan sebagai penyuplai utama pasokan air untuk lahan pertanian. Metode pertanian tadah hujan merupakan suatu metode pertanian dimana tekniknya adalah sawah yang menampung atau hanya memiliki sumber pengairan yan berasal dari air hujan saja.

Oleh karena itu system pengairannya tergantung pada turunnya hujan.

Sawah tadah hujan biasanya mulai digarap oleh para pemiliknya ketika mulai musim hujan dan akan berakhir ketika musim hujan juga berakhir, hal ini dikarenakan system pengairan pada jenis ini

88

mengandalkan air hujan yang turun sebagai sumber mata air untuk mengairi lahan pertanian mereka.

b. Teknologi (X3.2)

Teknologi merupakan perubahan fungsi produksi yang ada dalam teknis produksi. Selain itu tehnologi adalah faktor pendorong dari fungsi produksi, karena semakin modern tehnologi yang digunakan maka hasil yang dicapai akan semakin banyak dengan waktu yang efektif dan efisien ( Irawan, Suparmoko 1983). Menurut (Berihun et al, 2014) menyatakan bahwa tehnologi agrikultur memiliki efek positip dan signifikan terhadap pendapatan petani maka hubungan antara tehnologi dengan pendapatan adalah semakin besarnya produksi yang dilakukan maka akan meningkatkan output. Menurut (Mahmudul, 2013) menyatakan bahwa tehnologi memiliki hubungan yang signifikan terhadap produksi ubi jalar dan produktivitas petani.

Menurut Suganda (1981), mengemukakan bahwa petani dengan luas lahan usahatani yang sempit banyak menghaapi hambatan dalam peningkatan usahataninya, terutam jika dihadapkan dengan penggunaan inovasi atau teknologi baru. Menurut (Tjitropranoto, 1977), bahwa masalah utama penyampaian teknologi baru kepada petani adalah: (1) meyakinkan petani yang belum mempergunakan teknologi baru, (2) memenuhi permintaa petani akan teknologi baru yang lebih baik. Karena rendahnya tingkat adopsi teknologi menyebabkan rendahnya produktiviras masyarakat dalam berusahatani, maka pendapatan petani juga rendah.

Menurut (Kasryno, 1984), masyarakat yang mempunyai lahan luas, cenderung untuk mengadakan perubahan teknologi, dengan maksud peningkatan produktivitas usahataninya. Sementara masyarakat dengan lahan sempit tidak bisa melakukan perbaikan usaha karena apapun perubahan yang dilakukan tetap tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sehari- hari.

89

c. Modal (X3.3)

Modal diartikan dengan uang yang dipakai sebagai pokok untuk berdagang, melepas uang, harta benda (uang, barang) yang dapat dipergunakan untuk menghasilkan sesuatu yang menambah kekayaan.

Di dalam bukunya Mistery of the Capital, Hernando de Soto (Pambudy, 2003) mengatakan bahwa modal adalah komponen yang sangat esensial bagi negara-negara barat, tetapi mendapat perhatian yang sangat sedikit dari negara-negara berkembang. Penduduk miskin dari negara-negara dunia ketiga dan bekas komunis sebenarnya memiliki harta benda tetapi mereka kesulitan dalam proses untuk mempresentasikan kepemilikannya agar dapat menjadi modal.

Manusia bagaimanapun miskinnya, sebenarnya memiliki kemauan, pikiran, tenaga yang semuanya dapat dikonversikan dalam bentuk modal bagi pembangunan. Semangat dan tenaga kerja produktif sebenarnya juga merupakan modal dasar bagi kegiatan pembangunan yang pada akhirnya bisa menghasilkan barang dan jasa bila pandai mengelolanya. Pembentukan modal manusia merupakan cara yang efektif dan efisien dalam pembentukan kerangka pembangunan nasional. Sejalan dengan (Pambudy, 2003), mengatakan bahwa pemahaman ekonomi konvensional modal adalah uang, kalaupun bukan dalam bentuk uang tunai, modal juga berarti asset yang bernilai ekonomi (mulai yang bentuk fisik seperti lahan, rumah, bangunan, harta benda lainnya seperti emas, intan berlian hingga modal yang berbentuk surat-surat berharga seperti sertifikat, obligasi, saham dan surat piutang.

Modal merupakan unsur pokok usahatani yang penting. Dalam pengertian ekonomi modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi lain dan tenaga kerja serta pengelolaan menghasilkan barang-barang baru, yaitu produksi pertanian. Pada usahatani yang dimaksud modal adalah (1) tanah, (2) bangunan-bangunan ( Gudang, kandang,lantai jemur, pabrik dan lain-lain , (3)

90

alat-alat pertanian (traktor, luku, guru, sprayer cangkul, parang), (4) bahan-bhan pertanian ( pupuk, bibit, obat-obatan), (5) tanaman, ternak dan ikan ,(6) piutang di bank, (7) uang tunai ( Hernanto,1996).

Sedangkan menurut (Mubyarto, 1989), modal adalah barang atau uang yang bersama-sama faktor produksi tanah dan tenaga kerja menghasilkan barang-barang baru yaitu hasil pertanian.

Soekartawi (1986), menyebutkan bahwa modal usahatani terdiri dari berbagai macam masukan. Berbagai penggolongan modal pada prinsipnya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu (1) barang-barang yang tidak habis dalam sekali proses produksi, misalnya peralatan pertanian dan bangunan, (2) barang-barang yang langsung habis dalam sekali proses produksi, misalnya pupuk dan insektisida.

Modal merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan produktivitas usahatani. Secara umum telah diketahui bahwa modal petani untuk menjalankan usahataninya terbatas (lemah), sehingga mereka perlu akes terhadap permodalan lainnya (kredit). Pemeratan akses terhadap modal bagi petani diyakini sebagai salah satu alternative untuk meningkatkan pendapatannya. Dengan modal (kredit) yang cukup petani dapat mengoptimalkan sumberdaya usahataninya guna meningkatkan keuntungan usahanya yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani (Sudaryanto dan Agustian, 2003).

Soekartawi (2003), menyatakan kegiatan proses produksi pertanian, maka modal dibedakan menjadi dua macam, yakni modal tetap dan modal tidak tetap. Modal tetap didefinisikan sebagi biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak habis dalam sekali proses produksi contohnya faktor produksi berupa tanah, bangunan dan mesin-mesin. Sedangkan modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dan habis dalam satu kali proses produksi, contohnya adalah biaya produksi yang

91

dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan atau yang dibayarkan untuk pembayaran tenaga kerja.

Modal usaha dalam penelitian ini dibatasi pada uang yang dipakai dalam proses produksi dan sumber modal yang digunakan oleh petani dalam mengusahakan usahatani ubi jalar.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 72-78)

Dokumen terkait