14
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian tentang analisis kelayakan usahatani ubi jalar dan aaalisis faktor-faktor produksi yang mempengaruhi produksi ubi jalar, berdasarkan penelusuran dapat dijelaskan sebagai berikut: (1). Hasil penelitian (H. Khotimah, et al, 2010), nilai R/C atas biaya usahatani ubi jalar di Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Jawa Barat adalah 1,67, dan nilai R/C atas biaya total adalah 1,23, ini berarti setiap Rp 1000,- biaya total yang dikeluarkan petani dalam kegiatan produksi ubi jalar akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 1.230,- maka usahatani ubi jalar menguntungkan dan layak diusahakan karena nilai R/C atas biaya tunai dan nilai R/C atas biaya total usahatani lebih dari satu, (2). Hasil penelitian (Defri, 2011), bahwa analisis R/C ratio terhadap biaya tunai maupun biaya total adalah lebih besar dari satu, artinya usahatani ubi jalar masih menguntungkan untuk diusahakan, (3). Hasil penelitian (F. Ratih, et al, 2012), bahwa nilai R/C ratio usahatani ubi jalar di Desa Cikarawang Kabupaten Bogor
< 1, maka usahatani ubi jalar menguntungkan dan layak diusahakan, (4).
Hasil penelitian (Santoso, 2012), nilai R/C ratio usahatani ubi jalar di lahan pasir di Kecamatan Mirit Kabupaten Kebumen sebesar 2,94 artinya setiap penggunaan biaya Rp 1 akan mendapatkan penerimaan sebesar Rp 2,94,-. Dan nilai B/C ratio lebih besar dari suku bunga bank BRI sebesar 1,015%, (5). Hasil penelitian (M .Amandasari, et al, 2014), pendapatan usahatani ubi jalar di Desa Gunung Malang Kabupaten Bogor, berdasarkan nilai R/C atas biaya tunai sebesar 2,24 dan R/C atas biaya total sebesar 1,48, maka usahatani ubi jalar secara tumpangsari dengan jagung manis menguntungkan dan layak diusahakan, (6). Hasil penelitian. (S. Masyitoh et al, 2017), dengan nilai R/C atas biaya total
15
sebesar 2,1 sehingga usahatani ubi jalar menguntungkan dan layak untuk diusahakan. (7). Hasil penelitian (Olagunju., 2007), menyatakan bahwa petani yang memproduksi ubi jalar dengan menggunakan kredit lebih efisien daripada petani yang tidak menggunakan kredit. (8). Hasil penelitian (Sasongko, et al, 2009), menyatakan bahwa untuk meningkatkan produksi ubi jalar melalui intensifikasi dengan penggunaan bibit unggul, perbaikan pengelolaan usahatani ubi jalar dengan penggunaan pupuk berimbang, waktu dan cara yang tepat sesuai dengan sifat kimia tanah, (9). Hasil penelitian (H. Khotimah, et al, 2010), menyatakan bahwa pengalaman, pekerjaan di luar pertanian, status tanah memiliki hubungan yang positip berdampak signifikan terhadap inefisiensi teknis, sedangkan umur, pendidikan, pendapatan luar pertanian, dan penyuluhan memiliki korelasi negative dan tidak signifikan, dengan model MLE, (10). Hasil penelitian (D. P. Siburian et al, 2010), ditemukan bahwa faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi ubi jalar adalah penggunaan bibit dan herbisida.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi pendapatan ubi jalar adalah harga input, produksi dan harga jual, dengan model OLS, (11). Hasil penelitian (Defri., 2011), menyatakan bahwa lahan, bibit, tenaga kerja dan unsur N, K secara bersama – sama berpengaruh nyata terhadap produksi ubi jalar, dengan model OLS, (12). Hasil penelitian (S. Widowati., 2011), menyatakan bahwa produktivitas ubi jalar yang tinggi (20 - 40 ton/ha) dan umur panen yang pendek (4 -5 bulan), serta perawatan tanaman yang tidak rumit menjadi satu pertimbangan dalam pengembangan tanaman sumber karbohidrat. Warna umbi daging yang beragam berpotensi untuk penganekaragaman produk pangan, dengan memanfaatkan warna tersebut sebagai pewarna pangan alami. (13). Hasil penelitian (M.O.ijoyah at al., 2012), menyatakan bahwa produktivitas terbesar per unit area didapat dengan menumbuhkan dua tanaman bersama antara ubi kayu dan ubi jalar daripada dengan menumbuhkan secara terpisah, (14).
Hasil penelitian (J Jphnson et al., 2012), menyatakan bahwa
16
produktivitas ubi jalar rendah hasil dari praktek budidaya yang buruk dan penerapan tehnologi yang rendah dan ada tiga saluran pemasaran yang utama di di wilayah itu, (15) Hasil penelitian (Jepkemboi et al, 2012), menyatakan bahwa faktor-faktor yang termasuk zona agro-ekologi, akses informasi pertanian, varietas ubi jalar dan penggunaan pupuk menjelaskan 31 persen varietas dalam tingkat produktivitas per hektar, (16) Hasil penelitian (F. Ratih.,2012), faktor – faktor yang mempengaruhi produksi ubi jalar luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk N, pupuk P, peptisida,dengan model MLE, (17) Hasil penelitian (Santoso, 2013), menyatakan bahwa faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi ubi jalar adalah luas lahan, tenaga keja pria, tenaga kerja wanita, pupuk SP36, pupuk kotoran sapi. Faktor produksi yang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi ubi jalar adalah pupuk urea, bibit, pestisida Decis, pestisida Matador, bahan bakar minyak dan pengalaman bertani sebagai dummy variabel, dengan model OLS, (18).
Hasil penelitian (I.M Ahmad et al, 2014), menyatakan bahwa produksi ubi jalar lebih tinggi dapat dicapai melalui peningkatan variasi ragam jenis ubi jalar, penerapan pupuk dengan dosis kecil seperti yang diproduksi secara luas dikalangan masyarakat miskin pedesaan (MLE).
(19) Hasil penelitian (Ohajianya et al, 2014), menyatakan bahwa luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk, bibit dan modal merupakan faktor utama yang signifikan terhadap produksi ubi jalar. Nilai teknis ubi jalar berkisar 0,13 hingga 0,96 dengan rata- rata efisiensi teknis sebesar 0,47 artinya petani ubi jalar di daerah penelitian tidak efisien secara teknis dalam penggunaan sumberdaya sehingga efisiensi teknis perlu ditingkatkan sebesar 53 % dengan alokasi sumberdaya secara optimal.
Tingkat pendidikan petani, pengalaman dalam berusahatani, jumlah anggota keluarga dan akses kredit adalah faktor penting yang berkontribusi terhadap efisiensi teknis, dengan model MLE, (20). Hasil penelitian (A. Yusuf et al., 2015), menyatakan bahwa untuk produksi ubi jalar, biaya produksi dan tenaga kerja memerlukan biaya tertinggi,
17
dengan model MLE, (21). Hasil penelitian menyatakan bahwa faktor produksi lahan, tenaga kerja, bibit dan herbisida berpengaruh terhadap produksi ubijalar sebesar 71,5%, dengan metode OLS.
2. Aspek Ekonomi usahatani Ubi Jalar
Menurut (Hendroatmojo,1999), menyatakan tanaman kacang- kacangan dan umbi-umbian merupakan penghasil protein nabati dan karbohidrat dan dapat dipergunakan sebagai suplemen bahan pangan pokok beras dan terigu. Kacang-kacangan pada umumnya mempunyai kandungan protein yang tinggi. Sedangkan umbi-umbian kandungan karbohidrat yang cukup tinggi, meskipun masih lebih rendah dibanding beras. Bahan pangan dari umbi-umbian (ubi kayu, ubi jalar, talas, gadung, ganyong, gembili, dan suweg) dalam bentuk segar memiliki kandungan kalori dan protein yang rendah. Untuk memperoleh kalori yang sama dengan beras, harus dikonsumsi ubi sebanyak 2-3 kali beras. Sedangkan untuk memperoleh protein setara beras perlu dikonsumsi ubi segar tujuh kali konsumsi beras. Implikasinya adalah orang makan ubi sdh merasa kenyang tetapi kebutuhan kalori dan proteinnya belum terpenuhi.
Potensi ekonomi sosial ubi jalar sangat tinggi antara lain sebagai bahan pangan, bahan pakan ternak dan bahan baku aneka industri.
Sebagai pangan, ubi jalar amat penting dalam tatanan penganekaragaman makanan penduduk. Jika diasumsikan luas panen ubi jalar di Indonesia sekitar 225.000ha/th dan setiap petani mengusahakan 0,25 ha, berarti usahatani ubi jalar dapat memberikan pendapatan pada sekitar 0,9 juta keluarga petani (B. Sarwono, 2008).
Menurut ( Santoso, 2013), bahwa ubi jalar layak diusahakan dengan nilai B/C ratio lebih besar dari suku bunga bank BRI sebesar 1,015%.
Sejalan dengan Ratih, 2012 bahwa hasil analisis R/C ratio menunjukkan nilai lebih besar dari satu yang artinya usahatani komoditi ubi jalar tersebut menguntungkan. Sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi
18
produksi ubi jalar luas lahan, tenaga kerja, penggunaan pupuk N, pupuk P, peptisida.
Sedangkan komoditi ubi jalar kaitannya dengan ketahanan pangan yaitu komoditi ubi jalar adalah salah satu tanaman pangan yang mengandung karbohidrat digunakan untuk pengganti beras. Menurut (Broto, 2008) pengertian ketahanan pangan, yaitu kondisi terpenuhinya pangan bagi setiap rumah tangga yang tercermin dari terpenuhinya pangan baik secara jumlah maupun mutu, aman, merata dan terjangkau oleh seluruh rakyat Indonesia. Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia yang harus dipenuhi agar kelangsungan hidupnya dapat terjamin.
Pembangunan pertanian untuk ketahanan pangan yang bertumpu pada beras telah menyebabkan ketergantungna terhadap beras semakin tinggi. Pesatnya laju pertumbuhan penduduk Indonesia, kebutuhan beras juga semakin meningkat. Tingginya konsumsi beras dapat berakibat pada rentannya ketahanan pangan masyarakat bila kemampuan penyediaan beras terganggu. Fakta Ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan nasional sangat riskan jika hanya mengandalkan satu macam komoditas yaitu beras. Ketergantungan penduduk Indonesia terhadap bahan pangan pokok beras sangat tinggi, tidak heran konsumsi beras masyarakat Indonesia tertinggi di dunia. Pada tahun 2011 orang Indonesia mengkonsumsi beras hingga 130-140 kilogram/th/org. Jumlah ini sangat jauh bila dibandingkan dengan orang Asia yang hanya konsumsi beras sebanyak 65-70 kg/th/org. Berdasarkan data tersebut artinya negara Indonesia memerlukan stok beras yang sangat besar. Jagung menempati urutan ke dua setelah beras dalam menghasilkan kalori dan protein yang dikonsumsi rakyat banyak. Berbagai zat gizi jagung mempunyai nilai gizi yang berarti khususnya kandungan protein dan lemaknya. Indonesia sangat kaya akan sumber daya pangan lokal selain beras, dari golongan umbi-umbian misalnya dari sebagian masyarakat Indonesia secara turun
19
temurun telah mengenal beberapa jenis umbi-umbian sebagai sumber pangan pokok yang dapat dijadikan pengganti beras.
Dengan mempertimbangkan nilai strategis umbi-umbian dalam mendukung ketahanan pangan nasional dengan kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis lokal. Konsumsi umbi- umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, buah dan sayur. Ditimjau dari potensi sumberdaya wilayah, sumberdaya alam Indonesia memiliki potensi ketersediaan pangan yang beragam dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik sebagai sumber karbohidrat maupun protein, vitamin dan mineral yang berasal dari kelompok padi-padian, umbi-umbian, pangan hewani, kacang-kacangan.
Umbi-umbian merupakan tanaman tradisional yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan masyarakat sebagai sumber karbohidrat yang dapat diandalkan sebagai komplemen dan suplemen beras, namun bahan pangan tersebut dalam bentuk segar memiliki kandungan kalori dan protein yang rendah. Karakteristik kalori ubi jalar dapat dihilangkan dengan memprosesnya menjadi bahan kering berupa irisan tepung dengan kadar air setara beras dan aman untuk disimpan. Penganekaragaman pangan berbasis umbi-umbian dan kacang-kacangan merupakan alternatif yang paling rasional untuk memecahkan permasalahan pangan dan memantapkan ketahanan pangan.
Ubi jalar merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang memiliki kandungan zat gizi yang tinggi dan baik untuk tubuh. Tanaman ubi jalar termasuk tanaman semusim (berumur pendek) serta tumbuh menjalar pada permukaan tanah dengan panjang tanaman dapat mencapai 3 meter, tergantung varietasnya. Ubi jalar memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi serta warna kulit dan dagingnya yang bervariasi (putih, kuning, coklat, merah/jingga dan ungu) (Rukmana,1997).
Secara sistematis (taksonomi) tumbuhan ubi jalar diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
20
Divisi : Spermatopnyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledoneae Ordo : Convolvulales Family : Convolvulaceae Genus : Ipomoea
Spesies : Ipomoea batatas
Sistem tanam ubi jalar dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan tumpang sari dengan kacang tanah. Tata cara penanaman ubi jalar sebagai berikut (Rukmana,1997).
a. Sistem Monokultur
1) Membuat larikan-larikan dangkal arah memanjang di sepanjang puncak guludan dengan cangkul sedalam 10 cm atau membuat lubang dengan tugal, jarak antar lubang 25-30cm.
2) Membuat larikan atau lubang tugal sejauh 7-10 cm di kiri dan kananlubang tanam untuk tempat pupuk.
3) Menambahkan bibit ubi jalar ke dalam lubang atau larikan hingga pangkal batang (setek) terbenam tanah 1/2 - 2/3 bagian, kemudian dipadatkan dengan tanah dekat pangkal setek (bibit).
4) Memasukkan pupuk dasar berupa urea 1/3 bagian ditambah TSP seluruh bagian ditambah Phonska 1/3 bagian dari dosis anjuran ke dalam lubang atau larikan, kemudian ditutup dengan tanah tipis- tipis. Dosis pupuk yang dianjurkan adalah 45-90 kg N/Ha (100- 200 kg urea/Ha) ditambah 25 kg P2O5 /Ha (50 kg TSP/Ha) ditambah 50 kg K2O/Ha (100 kg Phonska/Ha). Pada saat tanam diberikan pupuk urea 34-67 kg ditambah TSP 50 kg ditambah Phonska 34 kg per Ha. Tanaman ubi jalar sangat tergantung terhadap pemberian pupuk N (urea) dan K (Phonska).
b. Sistem Tumpangsari
21
Tujuan sistem tumpangsari untuk meningkatkan produksi dan pendapatan per satuan luas lahan. Jenis tanaman yang serasi ditumpangsarikan dengan ubi jalar adalah kacang tanah. Tata cara penanaman sistem tumpang sari prinsipnya sama dengan monokultur, hanya diantara barisan tanaman ubi jalar atau disisi guludan ditanami kaang tanah. Jarak tanam ubi jalar 100 cm x 25-30 cm, dan jarak tanam ubi jalar 30 cmx 10 cm.
Ubi jalar termasuk tanaman tropis dan dapat tumbuh di daerah subtropis. Ubi jalar dapat tumbuh baik serta dapat menghasilkan hasil tinggi dengan persyaratan iklim yang sesuai selama pertumbuhannya.
Di Indonesia ubi jalar umumnya ditanam didataran rendah (kurang dari 500 m dari permukaan laut). Ubi jalar menghendaki tempat tumbuh yang terbuka dengan suhu yang tidak banyak berbeda antara siang dan malam. Panjang hari yang relative sama, penyinaran 11-12 jam/hari. Ubi jalar termasuk tanaman pangan yang tahan kering, sehingga penanamannya sebagian besar dilakukan pada musim kemarau. Penanaman ubi jalar pada musim kemarau saat tanah pecah- pecah, akan mempermudah terjadinya serangan hama boleng.
Sebaliknya, sistem perakaran ubi jalar tidak tahan terhadap genangan air, sehingga penanaman ubi jalar yang dilakukan pada musim hujan memerlukan drainase yang baik. Disamping iklim, faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil ubi jalar ialah tipe/ kondisi tanah, hama/penyakit, dan daya adaptasi varietas. Ubi jalar dapat ditanam di tegalan maupun tanah sawah yang kering, pada berbagai jenis tanah. Akan tetapi kondisi yang optimum adalah penanaman di tanah pasir berlempung yang kaya bahan organik dan drainasenya baik. Pada tanah tersebut hasil ubinya banyak, bentuk sempurna, dan kulit rata. Penanaman di tanah lempung berat, perkembangan ubi terhalang oleh struktur tanah, sehingga hasilnya ubi sering benjol- benjol dan kadar seratnya tinggi. Derajat keasaman tanah yang baik adalah pada pH 5,5-7,5 (N. Richana, 2013).
22
Produksi umbi-umbian melimpah pada saat panen raya di daerah Sentara produksi. Mengingat umbi segar kadar airnya tinggi (sekitar 65%), maka akan mudah rusak bila tidak segera di proses, maka akan terjadi perubahan visual yang ditandai dengan timbulnya bercak bewarna biru kehitaman kecoklatan (browning), lunak (kepoyohan), umbi berjamur dan akhirnya menjadi busuk. Hal ini akan menyebarkan kehilangan hasil dan kemrosotan harga yang tajam pada saat panen raya di daerah sentra produksi (Suismono, 2001).
Menurut (Huaman,1990), berdasarkan bentuk umbi, ubi jalar mempunyai 9 tipe umbi yaitu bulat (round), bulat elips (round eliptic), elip (eliptic), oval di bawah (ovalia), oval diatas (obote), bulat panjang ukuran kecil (oblong), bulat panjang ukuran besar (long oblong), elip ukuran panjang (long elip) dan panjang tak beraturan (long irregular).
Berdasarkan warna kulit terdiri dari 9 tipe, yaitu putih (white), krem (cream), kuning (yellow). Jingga (orange), jingga kecoklatan (brown orange), merah muda (pink), merah tua (red), merah ungu (purple red) dan biru tua (dark purple).Tanaman ubi jalar tumbuh dimana saja dan tidak memerlukan perawatan khusus. Dalam satu tahun ubi jalar dapat dipanen lebih dari dua kali dengan hasil per hektar dapat mencapai 23 per ton, oleh karena itu ubi jalar mempunyai potensi yang besar sebagai sumber pangan di masa mendatang (H. Sukesi, 2009).
Ubi jalar mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi yang sangat bermanfaat kesehatan tubuh manusia. Kandungan gizi ubi jalar putih, ungu, kuning dan daun ubi jalar dapat dilihat pada (Tabel 1).
Tabel 1. Kandungan Gizi Pada Ubi Jalar Putih, Ubi Ungu, Ubi Kuning, Per 100 Gram ( 2008).
No. Kandungan Gizi
Banyaknya Dalam
Ubi Putih Ubi Ungu Ubi Kuning 1
2 3 4 5
Kalori (kal) Protein (gr) Lemak (gr) Karbohidrat (gr) Air (gr)
123.00 1.80 0.70 27.90 68.50
123.00 1.80 0.70 27.90 68.50
136.00 1.10 0.40 32.30 -
23
6 7 8
Serat Kasar Kadar Gula Beta Karoten
0.90 0.40 31.20
1.20 0.40 174.20
1.40 0.30 - Sumber: Suismono, 2008
Ubi jalar merupakan komoditi penting yang dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif karbohidrat dan dapat diolah menjadi berbagai macam makanan olahan (Suismono, 2008). Ubi jalar merupkan salah satu alternatif sumber padatan bukan lemak yang biasa digunakan. Ubi jalar mengandung akan senyawa gizi seperti vitamin (B1, B2, C dan E), mineral (kalsium, magnesium, kalium dan seng), karbohidrat dan serat (Suyanti, 2010).
Ubi jalar memiliki prospek dan peluang yang cukup besar sebagai bahan baku industri pangan. Karena mengandung zat gizi yang berpengaruh positip terhadap kesehatan seperti prebiotic, serat pangan juga antioksidan (antosianin, karetonoid). Ubi jalar yang daging umbinya berwarna orange disebabkan oleh adanyan zat warna alami yang disebut karotenoid. Kandungan B- karoten ubi jalar jingga atau oranye (Hasyim et al ,2007).
Ubi jalar menduduki peringkat ke sembilan diantara tanaman pangan.
Pemanfaatan ubi jalar sebagai bahan pangan karbohidrat sumber kalori.
Ada beberapa kelebihan ubi jalar berdaging jingga dalam kandungan zat gizi dibandingkan ubi jalar lainnya. Ubi jalar berdaging jingga merupakan sumber vitamin C dan B- karoten (provitamin A) yang sangat baik.
Kandungan B- karotennya lebih tinggi dibandingkan ubi jalar berdaging kuning. Ubi jalar berdaging putih tidak mengandung atau sangat sedikit mengandung vitamin. Ubi jalar berdaging jingga mengandung vitamin B sedang (B. Sarwono,2008).
3. Teori Usahatani
Menurut (Hernanto,1996), usahatani adalah sebagai organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan untuk produksi di lapangan
24
pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat genologis, politis maupun territorial sebagai pengelolaannya.
Sedangkan menurut (Vink, 1984), mendefinisikan ilmu usahatani sebagai ilmu yang memelajari norma-norma yang digunakan untuk mengatur usuhataninya agar memeroleh pendapatan yang tinggi- tingginya. Menurut (Soekartawi, et al 1986), menyebutkan ilmu usahatani pada dasarnya menaruh perhatian pada cara-cara petani memeroleh dan memadukan sumber daya (lahan, kerja, modal, waktu pengelolaan) yang terbatas untuk mencapai tujuannya, maka disiplin induknya ialah ilmu ekonomi. Ilmu usahatani biasanya diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memeroleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu (Soekartawi, 1995). Dikatakan efektif bila petani atau produsen dapat mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki (yang dikuasai) sebaik baiknya dan dapat dikatakan efisien bila pemanfaatan sumber daya tersebut menghasilkan output yang melebihi input.
Pendapat lain dikemukakan (Tohir, 1991), yang mengartikan ilmu pengelolaan usahatani sebagai:
a. Ilmu pengelolaan usahatani memelajari aspek-aspek sosial ekonomi yang merupakan landasan kuat bagi penyusunan ilmu ekonomi pertanian yang umum sifatnya. Tanpa memperhatikan dalil-dalil yang berlaku bagi usahatani, ilmu ekonomi pertanian sedikit banyak kurang mantap sifatnya.
b. Ilmu pengelolaan usahatani merupakan salah satu landasan yang kuat dan nyata bagi penentu kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian, di antaranya menentukan harga hasil bumi (padi), sewa tanah, perpajakan, perencanaan pengairan, transmigrasi, pengerahan tenaga kerja untuk kepentingan umum dan sebagainya.
25
c. Pegangan atau petunjuk bagi mereka yang merasa terpanggil atau berkewajiban membimbing perkembangan usahatani. Sebabnya tidak lain, karena perbaikan teknis saja tidak akan mendatangkan kemajuan usahatani secara tepat dan cepat.
d. Pegangan bagi petani sendiri, yang lazimnya kurang paham tentang pengelolaan usahatara secara tepat.
Menurut (Tohir, 1991), menyatakan unsur-unsur dari input (masukan) dan output (hasil) itu harus jelas dan cara menghitung atau menilainya harus dipahami sungguh. Input atau masukan bagi usahatani itu dalam garis besarnya terdiri atas unsur alam, unsur tenaga, unsur modal, manajemen dan unsur sosial budaya. Unsur input itu jika diperinci lebih lanjut akan mencakup biaya eksploitasi. Tergolong dalam biaya eksploitasi adalah upah tenaga kerja yang berupa uang, barang atau benda, premi asuransi, pemondokan, makan dan lain-lain, gaji atau balas jasa terhadap anggota keluarga petani, pengeluaran uang atau barang untuk pembayaran utang, pengeluaran barang untuk keperluan perusahaan atau usahatani, penurunan dari investaris dari persediaan karena dipergunakan oleh perusahaan, penurunan dari modal yang berupa tanaman atau ternak dan penyusutan.
Menurut (Widodo, 2008), menguraikan usahatani sebagai suatu usaha yang hasilnya ditentukan oleh beberapa faktor produksi alam, tenaga kerja, dan modal. Beberapa ahli memasukkan juga manajemen sebagai faktor produksi. Alam mencakup iklim, udara dan tanah. Kedudukan faktor alam dalam usahatani sangat besar peranannya, jauh lebih besar daripada usaha di sektor lain. Unsur yang paling penting dari iklim pada faktor produksi pertanian adalah sinar matahari, suhu, kelembaban, hujan dan angin.
Usahatani adalah sebuah unit ekonomi bisnis yang diorganisasikan untuk memproduksi tanaman dan hewan. Kegiatan ini memerlukan sumberdaya berupa tanah dan modal disamping manajemen dan tenaga kerja. Usahatani sebagai bagian kegiatan industri yang besar secara terus-
26
menerus mengalami peningkatan modal, teknologi yang canggih dan manajemen yang lebih baik. Usahatani yang modern harus bersifat dinamik terus tumbuh, dituntut adanya tenaga terlatih yang menguasai ilmu manajemen yang mampu bekerja dengan semangat tinggi dan terlatih (Halcrow,1991).
Menurut (Suratiyah, 2015), menjelaskan ilmu usahatani adalah ilmu yang memelajari bagaimana seseorang mengusahakan dan mengoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal, sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Dengan kata lain, ilmu usahatani merupakan ilmu yang memelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan, mengoordinasikan penggunaan faktor faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin, sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan yang maksimal.
Usahatani hakekatnya merupakan bidang usaha yang dilakukan melalui: (1) pengelolaan sumberdaya alam (yang terdiri atas tanaman atau hewan berikut faktor lingkungan disekitarnya); (2) sumberdaya manusia (tenaga, sikap, pengetahuan, ketrampilan/skill); (3) modal (uang, mesin/peralatan, dan lain-lain) yang diperlukan untuk membiayai dan mengoperasikan keseluruhan kegiatannya; (4) budaya (perilaku, kebiasaan, etos kerja, dan lain-lain) yang berpengaruh terhadap produktivitas dan efisiensi usaha; serta (5) manajemen yang didukung oleh kelembagaan dan seperangkat aturan/hokum (yang berlaku umum atau yang diciptakan sendiri). Sebagai sistem manajemen, maka usahatani yang dibangun selalu mengupayakan efisiensi guna memperoleh pendapatan/keuntungan yang sebesar-besarnya dan keunggulan bersaing agar produk yang dihasilkan selalu laku dijual pada tingkat harga yang cukup memberikan keuntungan bagi kelangsungan dan pengembangan usahanya (Mardikanto,2007).
Tanah sebagai bentangan lahan ataupun sebagai bahan (soil) merupakan faktor alam yang terpenting dalam usahatani, bukan hanya karena fungsinya sebagai tempat tumbuh, bidang penangkap sinar
27
matahari dan sumber hara, melainkan juga karena kelangkaannya menjadikan tanah sebagai barang ekonomi yang diatur hubungannya dengan berbagai kelembagaan tanah (hak milik, gadai, sewa, sakap (bagi hasil), kolektif, milik masyarakat atau negara). Tanah dalam perhitungan biaya produksi biasanya termasuk pada biaya tetap (fixed cost), akan tetapi bedanya dengan modal tetap, untuk tanah tidak diperhitungkan biaya penyusutannya. Faktor produksi tenaga kerja manusia adalah merupakan faktor produksi yang terpenting, bahkan mungkin paling dominan pada usahatani tradisional yang masih sederhana.
Menurut (Suratiyah, 2015), tenaga kerja dalam usahatani memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan tenaga kerja dalam usaha bidang lain yang bukan pertanian. Menurut (Tohir, 1991), menyebutkan karakteristik tenaga kerja bidang usahatani adalah sebagai berikut:
1. Keperluan akan tenaga kerja dalam usahatani tidak kontinyu dan tidak merata.
2. Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani sangat terbatas.
3. Tidak mudah distandarkan, dirasionalkan dan dispesialisasikan
4. Beraneka ragam coraknya dan kadang kala tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Hampir semua usahatani di Indonesia adalah usahatani keluarga.
Tenaga kerja merupakan unsur penentu, terutama bagi usahatani yang sangat tergantung pada musim (Suratiyah, 2015). Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam usahatani keluarga (family farms).
khususnya tenaga kerja petani beserta anggota keluarganya. Biasanya dibedakan antara tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja dari luar keluarga. Tenaga kerja dari luar keluarga dapat bekerja dengan sistem upah waktu atau dengan berbagai sistem kelembagaan seperti sistem sakap (bagi hasil) atau hak untuk memeroleh tenaga kerja (gotong royong). Tenaga kerja dalam keluarga tidak diupah, akan tetapi penggunaan tenaga kerja tidak dapat lepas dari proses pengambilan keputusan dalam berbagai alternatif penggunaannya.
28
Selain tenaga kerja, hal lain yang perlu diperhatikan adalah tentang modal. Menurut (Adiwilaga, 1985), menjelaskan faktor produksi modal adalah bahan atau barang yang dipergunakan dalam proses produksi.
Modal merupakan sebagian/produksi yang disisihkan untuk digunakan dalam proses produksi berikutnya. Menerut (Suratiyah, 2015), menyatakan bahwa modal adalah syarat mutlak bagi berlangsungnya suatu usaha, dalam hal ini adalah usahatani. Tanah dan alam sekitar serta tenaga kerja adalah faktor produksi asli, sedangkan modal dan peralatan merupakan substitusi faktor produksi tanah dan tenaga kerja. Dalam usahatani, modal tidak hanya dibedakan antara modal tetap dan modal lancar, tetapi juga dibedakan antara modal mati dan modal hidup (tanaman dan ternak). Pada umumnya semakin maju usahaani, maka peran modal akan semakin besar.
Tingkat keberhasilan suatu usahatani merupakan harapan bagi setiap petani. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan usahatani adalah faktor usahataninya itu sendiri (intern) dan faktor di luar usahatani (ekstern) Faktor intern usahatani adalah kemampuan petani sebagai pengelola tanah, tenaga kerja, modal, tingkat adopsi teknologi, kemampuan mengalokasikan penerimaan keluarga dan jumlah tenaga kerja. Sedangkan faktor ekstern adalah tersedianya sarana transportasi dan komunikasi, aspek-aspek pemasaran hasil, fasilitas kredit serta sarana penyuluhan pertanian. Dengan adanya faktor-faktor tersebut tujuannya adalah untuk menentukan tingkat keberhasilan usahatani, sehingga menentukan keuntungan dari usahatani tersebut (Hernanto,1998).
Usahatani ubi jalar merupakan suatu kegiatan mengelola sumberdaya-sumberdaya pertanian (alam, manusia, modal dan manajemen) secara efisien untuk menghasilkan produksi ubi jalar yang maksimal dan memberikan pendapatan yang tinggi (BPP, 2010). Dalam berusahatani ubi jalar terdapat beberapa kegiatan dari pembibitan hingga pasca panen. Menurut (Firman, et al, 2010), kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam berusahatani meliputi pembibitan, pengolahan media
29
tanam, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyakit, panen dan kegiatan pasca panen.
Menurut (Suratiyah, 2006), bahwa untuk menghitung biaya dan pendapatan dalam usahatani dapat digunakan tiga macam pendekatan yaitu pendekatan nominal (nominal approach), pendekatan nilai yang akan datang (future value approach) dan pendekatan nilai sekarang (present value approach).
Pendapatan dalam usahatani diistilahkan dengan gross oupu, hasil penjualan, pendapatan keluarga, keuntungan dan sebagainya. Untuk mengukur pendapatan usahatani ada dua cara yaitu residual method dan proportional sharing method (Widodo, 2008). Dengan residual method biaya sewa lahan, bunga modal investasi modal petani, upah tenaga kerja luar dan tenaga kerja dalam keluarga, kecuali tenaga petani dihitung, sehingga sisa terakhir disebut sebagai pendapatan tenaga petani dan manajemen. Satu masalah yang dihadapi dari cara perhitungan yang demikian sering berupa angka negative.
Pendapatan dari lahan dan investasi modal yang dihitung dengan cara demikian yaitu dengan mengurangkan biaya tenaga kerja (luar dan dalam keluarga) juga sering negatif. Kenyataannya petani masih tetap hidup bertahun-tahun. Pendapatan bersih (net farm income) lebih banyak digunakan dalam analisis pendapatan usahatani. Maksud dari net farm income adalah pendapatan keluarga petani yang diperoleh dari usahatani meliputi pendapatan tenaga keluarga, modal (termasuk lahan dan manajemen).
Istilah net form (family) income mencakup keuntungan atau manajemen, kalau pendapatan tenaga keluarga, sewa lahan dan bunga modal (jika lahan dan modalnya milik sendiri). Untuk petani penyewa dan penyakap (pembagi hasil), net farm income tidak termasuk sewa lahan, Gross jurm (family) income adalah penerimaan kotor (gross output), atau dikurangi biaya yang dikeluarkan (paid-out cost) net farm income. Biaya
30
yang dikeluarkan terdiri dari upah tenaga luar (dalam bentuk uang dan barang) dan biaya sarana produksi (dalam bentuk uang dan barang).
Biaya dapat dibedakan menjadi biaya tetap (FC = fixed coast), dan biaya tidak tetap atau biaya varibel (VC = variabel cost). Biaya tetap adalah biaya yang tetap harus dikeluarkan pada berbagai tingkat output yang dihasilkan. Pada penelitian ini yang termasuk biaya tetap dalam usahatani ubi jalar adalah biaya pajak, peralatan dan biaya penyusutan.
Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah menurut tinggi rendahnya tingkat output yang termasuk dalam penelitian ini adalah:
biaya bibit, biaya tenaga kerja, pembelian pupuk ponska, pupuk SP36, pupuk ZA dan biaya pestisida.
Penerimaan petani pada dasarnya dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:
a. Penerimaan kotor yaitu penerimaan yang berasal dari penjualan hasil produksi usahatani komoditi ubi jalar. Penghitungan penerimaan kotor ini diperoleh dariperkalian hasil produksi dengan harga jualnya.
Dalam notasi dapat ditulis sebagai berikut:TR = P.Q dimana:TR = Penerimaan kotor, P = Harga produksi, Q = Jumlah produksi.
b. Penerimaan bersih yaitu penerimaan yang berasal dari penjualan hasil produksi usahatani komoditi ubi jalar setelah dikurangi biaya total yang dikeluarkan dalam bentuk notasi dapat dituliskan sebagai berikut :π = TR-TC dimana: π = Besarnya penerimaan, TR = Penerimaan kotor, TC = Biaya total yang dikeluarkan.
c. Benefit Cost Ratio ( B/C Ratio ) adalah jumlah penerimaan bersih dibagi total pengeluaran dan apabila hasilnya > 1 maka usahatani ubi jalar dinyatakan layak dan menurut (Harmono et al, 2005), bahwa B/Cratio merupakan singkatan darn benefiet cost ratio, yaitu ukuran perbandingan antara hasil penjualan dan biaya operasional untuk melihat ukuran kelayakan usaha, jika nilainya lebih dari 1, berarti usaha dikatakan layak. Menurut (Soekartawi, 2003), menyatakan bahwa total pendapatn diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan total biaya dalam suatu proses produksi.
31
d. Revenue Cost Ratio ( R/C Ratio ) amerupakan perbandingan antara penerimaan dan biaya, yang secara matematik dapat dinyatakan sebagai berikut : R /C = PQ.Q/ (TFC + TVC), Dimana : R = penerimaan, C = biaya, PQ = harga output. Q = output, TFC=
biaya tetap (fixed cost), TVC = biaya variabel, Kriteria R/C ratio, yaitu: R/C rasio > 1, maka usaha tersebut sfesien dan mengutungkan, R/C rasio = 1, maka usahatani tersebut BEP, R/C rasio < 1, maka tidak efisien atau merugikan. (Soekartawi, 1990).
e. Analisis kelayakan finaasial adalah suatu analisis yang membandingkan antara biaya dengan manfaat untuk menentukan apakah suatu kegiatan akan menguntungkan selama umur kegiatan atau tidak ditinjau dari sudut pandang pelaku kegiatan. Analisis finansial pada studi kelayakan ekonomi usahatani ubi jalar lebih bersifat analisis tentang arus dana. Menurut (Kadariyah, 1999) bahwa proyek adalah keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber- sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit) di waktu akan dating, dapat direncanakan, dibiayai, dan dilaksanakan suatu unit.
Evaluasi proyek biasanya dilakukan dua macam analisis yaitu analisis finasial dan analisis ekonomi. Analisis finansial proyek dilihat dari dari suatu badan atau orang yang menanamkan modalnya dalam proyek atau yang berkepentingan langsung dalam proyek, sedangkan dalam analisis ekonomi proyek dilihat dari sudut perekonomian secara menyeluruh. Usahatani ubi jalar karena merupakan usahatani yang bersifat musiman maka untuk menentukan kelayakannya digunakan analisis Net Benefit Cost Ratio yaitu menghitung perbandingan antara nilai sekarang investasi. Jikan Net B/C Ratio lebih besar dari satu maka usaha tersebut dikatakan menguntungkan dan layak untuk diusahakan, tetapi jika Ner B/C Ratio kurang dari satu usaha tersebut dikatakan merugikan (Kadariyah, 1999).
32
4. Teori Produksi
Produksi secara umum diartikan sebagai penggunaan atau pemanfaatan sumber daya yang mengubah suatu komiditi menjadi komoditi lainnya yang sama sekali berbeda, baik dalam pengertian apa, dan dimana atau kapan komoditi-komoditi itu dialokasikan, maupun dalam pengertian apa yang dapat dikerjakan oleh konsumen terhadap komoditi itu. Istilah produksi berlaku untuk barang maupun jasa, karena istilah “komoditi” memang mengacu pada barang dan jasa. Keduanya sama-sama dihasilkan dengan mengerahkan modal dan tenaga kerja.
Produksi merupakan konsep arus (flow concept), maksudnya adalah produksi merupakan kegiatan yang diukur sebagai tingkat-tingkat output per unit periode/waktu. Sedangkan outputnya sendiri senantiasa diasumsikan konstan kualitasnya (Miller et al, 2000). Menurut (Warsana, 2007), mendefinisikan fungsi produksi untuk setiap komoditi adalah suatu persamaan, table atau grafik yang menunjukkan jumlah (maksimum) komoditi yang dapat diproduksi per unit waktu setiap kombinasi input alternatif bila menggunakan teknik produksi terbaik yang tersedia.
a. Fungsi Produksi
Menurut (Soekartawi, 1990), menyatakan bahwa fungsi produksi adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang menjelaskan (X). Varibel yang dijelaskna biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan berupa input. Dalam pembahasan teori ekonomi produksi telaahan yang banyak diminati dan yang dianggap penting adalah telaahan fungsi produksi karena disebabkan oleh beberapa hal yaitu: (a) dengan fungsi produksi, maka peneliti dapat mengetahui hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output) secara langsung dan hubungan tersebut dapat lebih mudah dimengerti, (b) dengan fungsi produksi, maka peneliti dapat mengetahui hubungan antara variabel yang dijelaskan (dependent variabel), Y, dan variabel yang menjelaskan (independent variabel)
33
X, serta sekaligus mengetahui hubungan antara variabel penjelas.
Secara matematis hubungan ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Y = f (Xi, X2 ……., Xi……… Xn).
Selanjutnya menurut (Dernberg et al, 1997); bahwa perkembangan atau pertambahan produksi dalam kegiatan ekonomi tidak lepas dari peranan faktor-faktor produksi atau input. Untuk menaikkan jumlah output yang diproduksi dalam perekonomian dengan faktor-faktor produksi, para ahli teori pertumbuhan neoklasik menggunakan konsep produksi. Menurut (Soedarsono,1998), fungsi produksi adalah hubungan teknis yang menghubungkan antara faktor produksi (input) dan hasil produksi (output). Disebut faktor produksi karena bersifat mutlak, supaya produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan produk. Suatu fungsi produksi yang efisien secara teknis dalam arti menggunakan kuantitas bahan mentah yang minimal, tenaga kerja minimal, dan barang-barang modal lain yang minimal.
Secara matematika, bentuk persamaan fungsi produksi adalah sebagai berikut: Y = Af (K.L) (2.1).
Dimana A adalah teknologi atau indeks perubahan teknik, K adalah input kapasitas atau modal, dan L adalah input tenaga kerja (Deenbusch et al, 1997). Karakteristik dari fungsi produksi tersebut menurut adalah sebagai berikut:
1. Produksi mengikuti pendapatan pada skala yang konstan (Constant Return to Scale). Artinya apabila input digandakan maka output akan berlipat dua kali.
2. Produksi marjinal, dari masing-masing input atau factor produksi bersifat positif tetapi menurun dengan ditambahkannya satu faktor produksi pada faktor lainnya yang tetap atau dengan kata lain tunduk pada hasil yang menurun (The Low of Deninishing Return). Hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang dapat ditunjukkan melalui hubungan antar kurva TPP (Total Physical Product) atau kurva TP (Total Produk), kurva MPP (Marginal
34
Physical Product) atau Marjinal Produk (MP), dan kurva APP (Avarege Physical Product) atau produk rata-rata dalam grafik fungsi produksi (Miller et al, 2000).
Menurut ( Suratiyah, 2006), menyatakan bahwa factor-Product Relationship menerangkan hubungan antara produksi dan satu faktor produksi variable yang disebut sebagai fungsi produksi. Gambar 1, menggambarkan fungsi produksi hubungan antara satu output dan satu input. Dari fungsi ini dapat digambarkan pula Marginal Product (MP) dan Avarege Product (AP). Yang disebut MP adalah tambahan produksi per kesatuan tambahan input, sedangkan AP adalah produksi per kesatuan input.Selanjutnya Suratiyah mengatakan fungsi produksi biasanya dibagi dalam tiga tahap atau tiga daerah yaitu daerah I (Stage I) disebelah kiri titik AP maximum daerah II (Stage II) antara AP maximum dan MP = 0, dan III (Stage III) disebelah MP = 0 (MP>0) Daerah I dan III disebut daerah tidak rasional, karena hanya manajer (petani) yang tidak rasional akan beroperasi pada tingkat ini.
Hubungan antara suatu faktor produksi (variabel) dengan produk yang dihasilkan dapat berbentuk:
1. Kenaikan produksi (output) tetap (constant return), jika penambahan satu satuan faktor produksi (input) menyebabkan kenaikan hasil yang tetap.
2. Kenaikan output bertambah (increasing return), jika penambahan satu-satuan input menyebabkan kenaikan hasil yang senantiasa bertambah.
3. Kenaikan output berkurang (decreasing returns), jika penambahan satu satuan input menyebabkan kenaikan hasil yang senantiasa berkurang.
4. Kombinasi dari kenaikan output bertambah dan kenaikan input berkurang.
35
Pada umumnya dalam proses produksi pertanian, hubungan antara faktor produksi (input) dengan produksi (output) mempunyai bentuk kombinasi antara kenaikan hasil bertambah dan kenaikan hasil berkurang. Mula-mula mengikuti bentuk kenaikan hasil bertambah kemudian mengikuti bentuk kenaikan hasil berkurang atau mengikuti
“the law of diminishing return”. Oleh karena itu, pada umumnya kalau kita menambah satu macam faktor produksi terus menerus hasilnya akan naik, tetapi makin lama makin kecil.
Gambar 1. Hubungan antara faktor produksi X(input) dengan Y (output).
y = f(x) Stage
III Stage
Stage II I
Total
x (input variabel)
AP
MP
x (input variabel) Output per unit input
TP = y = f (x) MP = dy/dx = f (x) AP = TP/x = y/x
36
Produksi merupakan konsep absolut yang diukur dari rasio output dengan input. Produksi mengukur produk dalam jumlah fisik dan merupakan kemampuan faktor produksi dalam menghasilkan sebuah output (Nahraeni, 2012). Jika hanya satu input yang digunakan disebut dengan produksi parsial, dan jika seluruh input yang digunakan disebut produksi total. Produksi sama dengan jumlah output total dibagi dengan jumlah input yang digunakan.
Menurut ( Sorkartawil, 1990), menyebutkan bahwa hubungan antara input dan output ini disebut sebagai “Factor Relationship”
(FR). Dalam rumus matematis, FR ini dapat dituliskan sebagai berikut:
Y = f (X1, X2, X3, Xi, … Xn)
Y = produk atau variabel yang dipengaruhi oleh faktor produksi X X = faktor produksi atau variabel yang memengaruhi
Dalam praktek faktor-faktor yang memengaruhi produksi (Sorkartawi,1990), ini dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1. Faktor biologi seperti lahan pertanian dengan macam dan tingkat kesuburannya, bibit, varietas, pupuk, pestisida, gulma dan sebagainya.
2. Faktor sosial ekonomi seperti biaya produksi, harga, tenaga kerja, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, risiko, dan ketidakpastian, kelembagaan, tersedianya kredit dan sebagainya
Menurut ( Boediono, 1990), menjelaskan dalam teori ekonomi seorang produsen atau pengusaha harus memutuskan dua macam keputusan, yaitu: berapa output yang harus diproduksi, berapa dan dalam kombinasi bagaiman faktor-faktor produksi (input) dipergunakan. Setiap proses produksi mempunyai landasan teknis, yang dalam teori ekonomi disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan antara tingkat output dan tingkat (kombinasi) penggunaan input-input.
37
Setiap produsen dalam teori dianggap mempunyai suatu fungsi produksi untuk pabriknya.
Q = f (X1, X2, X3, … Xn) dimana:
Q = tingkat produksi (output) (X1, X2, X3 ) = berbagai input yang digunakan
Dalam teori ekonomi diambil satu asumsi dasar mengenai sifat dari fungsi produksi yaitu fungsi produksi dari semua produksi dimana semua produsen dianggap tunduk pada suatu hukum yang disebut The Law of Deminishing Return. Hukum ini menyatakan bahwa bila satu macam input ditambah penggunaannya dan input- input lain tetap, maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, kemudian seterusnya turun bila input tersebut terus ditambah.
Tambahan output yang dihasilkan dari penambahan satu unit input variabel disebut Marginal Physical Product (MPP) dari input tersebut.
Karenanya, The Law of Deminishing Return sering pula disebut The Law of Diminishing Marginal Physical Product (Boediono, 1990).
MPP = Q/X1. Kurva Total Physical Product (TPP) adalah kurva yang menunjukkan tingkat produksi total (Q) pada berbagai tingkat penggunaan input variabel (input-input lain dianggap tetap). TPP = f(X) atau Q = f(X)
Kurva Marginal Physical Product (MPP) adalah kurva yang menunjukkan tambahan (atau kenaikan) dari TPP yaitu AQ yang disebabkan oleh penggunaan tambahan satu unit input variabel.
MPPx = Δ TPP / ΔX = ΔQ / ΔX = df(X) / dX
Kurva Average Physical Product (APP) adalah kurva yang menunjukkan hasil rata-rata per unit variabel pada berbagai tingkat penggunaan input tersebut.
APP = TPP / X = Q / X = f(X) / X
38
b. Biaya Produksi
1. Macam-macam Biaya Produksi:
Menurut ( Boediono, 1990), menyatakan berdasarkan dari sifat biaya dalam hubungannya dengan tingkat output, biaya produksi dapat dibagi:
a) Fixed Cost (TFC) atau Biaya Tetap Total adalah jumlah biaya- biaya yang tetap dibayarkan produsen berapapun tingkat outputnya. Jumlah TFC adalah tetap untuk setiap tingkat output.
b) Total Variable Cost (TVC) atau Biaya Variabel Total adalah jumlah biaya-biaya yang berubah menurut tinggi rendahnya output yang diproduksikan.
c) Total Cost (TC) atau Biaya Total adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel. TC = TFC + TVC.
d) Average Fixed Cost (AFC) atau Biaya Tetap Rata-Rata adalah biaya tetap yang dibebankan pada setiap unit output. AFC = TFC/Q
e) Average Variable Cost (AVC) atau Biaya Variabel Rata-rata adalah semua biaya lain selain AFC yang dibebankan pada setiap unit output.
AVC = TVC/Q
f) Average Total Cost (ATC) atau Biaya Total Rata-rata adalah biaya produksi dari setiap unit output yang dihasilkan.
ATC = TC/Q
g) Marginal Cost (MC) atau Biaya Marjinal adalah kenaikan dari Total Cost yang diakibatkan oleh diproduksinya tambahan satu unit output. Tambahan satu unit output tidak menambah atau mengurangi TFC, sedangkan TC = TFC + TVC, maka kenaikan TC ini sama dengan kenaikan TVC yang diakibatkan oleh produksi satu unit output tambahan.
39
MC = ΔTC/ΔQ = ΔTVC/ΔQ
2. Ada beberapa hubungan yang perlu diperhatikan pada biaya:
a) AVC adalah minimum apabila garis singgung kurva TVC melalui titik origin.
b) ATC adalah minimum bila garis singgung TC melalui titik origin.
c) AVC dan ATC adalah minimum bila keduanya memotong MC.
Gambar 2. Macam-Macam Kurva Biaya
c. Penerimaan (Revenue)
Penerimaan atau revenue adalah penerimaan produsen dari hasil penjualan outputnya ( Boediono, 1990). Ada beberapa konsep revenue yang penting untuk menganalisis perilaku produsen, yakni:
1. Total Revenue (TR) yaitu penerimaan total produsen dari hasil penjualan outputaya. Total Revenue adalah output kali harga jual output.
TR = Q. PQ
40
2. Average Revenue (AR) yaitu penerimaan produsen per unit output yang dijual.
AR = TR/Q = Q. PQ / Q = PQ
Jadi AR tidak lain adalah harga (jual) output per unit (PQ).
3. Marginal Revenue (MR) yaitu kenaikan dari TR yang disebabkan oleh tambahan penjualan satu unit output.
AR = ΔTR / ΔQ
Gambar 3. Keuntungan Maksimal
d. Fungsi Produksi Frontir
Fungsi produksi frontir memiliki definisi yang hampir sama dengan fungsi prodruksi klasik dalam menjelaskan konsep efisiensi.
Pendekatan fungsi produksi frontir dilakukan untuk mengestimasi frontir dan bukan fungsi produksi rata-rata. Fungsi produksi frontir digunakan untuk mengukur bagaimana fungsi yang sebenarnya terhadap posisi frontirnya. Konsep fungsi produksi frontir telah banyak digunakan dalam studi empiris bidang pertanian. Salah satu keunggulannya adalah memiliki kemampuan untuk menganalisis keefisienan dan ketidak efisienan teknik suatu proses produksi. Hal ini
41
terjadi karena ke dalam model tersebut dimasukkan suatu kesalahan baku yang menampilkan efisiensi teknik ke dalam suatu model yang telah ada kesalahan bakunya ( Nahraeni, 2012).
Dalam fungsi tersebut ingin menjelaskan output maksimal yang dapat dicapai (Coelli et al, 1998). Menurut (Doll et al, 1984), menjelaskan fungsi produksi frontir merupakan fungsi produksi maksimal yang dapat diperoleh dari sejumlah kombinasi faktor produksi pada tingkat teknologi tertentu. Dengan demikian, fungsi produksi frontir menggambarkan hubungan fisik antara faktor produksi dengan output yang posisinya terletak pada isoquant.
Menurut (Farrell, 1957), butkan produksi frontir sebagai best practice frontier.
Dengan kata lain, fungsi produksi menggambarkan tingkat produksi terluar yang dapat dihasilkan oleh penggunaan input tertentu, yang disebut dengan frontir. Menurut (Coelli et al, 1998), menegaskan bahwa fungsi produksi frontir adalah fungsi produksi yang menggambarkan output maksimum yang dapat dicapai dari setiap tingkat penggunaan input. Apabila suatu usaha tani berada pada titik di fungsi produksi frontir artinya usahatani tersebut secara teknis efisien. Untuk mengungkap faktor-faktor yang mempengaruh produksi usahatani ubi jalar digunakan pendekatan produksi frontir stokastik.
Menurut (Aigner et al, 1977), mengemukakan bahwa fungsi frontir stokastik merupakan perluasan dari model asli deterministrik untuk mengukur efek-efek yang tidak terduga (frontir stokastik) di dalam batas produksi. Dalam fungsi produksi ini ditambahkan random error (vi) ke dalam variabel acak non-nagatif/ non-negative random variable (ui), seperti dinyatakan dalam persamaan berikut:
Y = α0 + αiXi + … + αkXk+ (vi - ui)
42
Dimana:
Y = Produksi usahatani dalam logaritma natural
Xi-k = Jumlah input yang digunakan oleh usahatani dalam logaritma natural
α0 = Konstanta
αi-k = Parameter yang diestimasi
vi = Error yang disebebakan oleh faktor yang tidak dapat dikuasai petani
ui = Error yang disebabkan oleh faktor yang dapat dikuasai petani
Random error (vi), berguna untuk menghitung ukuran kesalahan dan faktor acak lainnya seperti cuaca, dan lain-lain bersama-sama dengan efek kombinasi dari variabel input yang tidak terdefinisi di fungsi produksi. Variabel vi merupakan variabel acak yang bebas dan secara identik terdistribusi normal (independent-indentically distributed) dengan rataan bernilai nol dan ragamanya konstan.
Variabel ui diasumsikan i eksponensial atau variabel acak setengah normal (half-normal variables). Variabel ui berfungsi untuk menangkap efek inesifisiensi teknis.
e. Fungsi Biaya Frontir
Model biaya frontir stokastik (stochastic frontier cost) pada mulanya diperkenalkan oleh (Aigner et al, 1977). Model ini merupakan pengembangan dari model Stochastic Production Frontier (SPF). Pengukuran produksi dan efisiensi biaya dapat dilakukan dengan fungsi stekastik frontir produksi dan biaya produksi. Menurut (Kumbhakar et al, 1991), (Battese et al, 1977), (Coelli et al, 1998), (Coelli et al, 1999), (Kumbhakar et al, 2000) dan (Ghosh et al, 2010), mengembangkan fungsi biaya frontir.
43
Menurut (Aigner et al, 1977), (Meeusen et al, 1977), (Jondrow et al, 1982) dan (Coelli et al, 1996) mengemukakan model pendekatan frontir stokastik merupakan perluasan dari model deterministik asli untuk mengukur efek-efek yang tidak terduga (frontir stokastik) di dalam batas-batas produksi. Dalam fungsi produksi ini ditambahkan random error (vi) ke dalam variabel acak non-negatif atau non- negative random variable (ui). Random error (vi), berguna untuk menghitung ukuran kesalahan dan faktor acak lainnya, seperti cuaca, dan lain-lain bersama-sama dengan efek kombinasi dari variabel input yang tidak terdefinisi dalam fungsi produksi.
Variabel vi merupakan variabel acak yang bebas dan secara identik terdistribusi normal (independent-identically distributed) dengan rataan bernilai nol dan ragamnya konstan. Variabel ui
diasumsikan sebagai i eksponensial atau variabel acak setengah normal (half-normal variables). Untuk menentukan fungsi biaya frontir stokastik, perlu mengubah spesifikasi kesalahan dari (vi – ui) ke (vi + ui), sehingga substitusi ini akan mengubah fungsi produksi ke fungsi biaya frontir stokastik.
Ci = Xi + (vi + ui) i = 1, …, N Dimana:
Ci = Biaya produksi usahatani ubi jalar dalam logaritma natural Xi = Harga input yang dinormalkan dengan harga output dalam
logaritma natural
= Parameter
vi = Error yang disebabkan oleh faktor yang tidak dapat dikuasai petani
ui = Error yang disebabkan oleh faktor yang dapat dikuasai petani Dalam fungsi biaya, ui sebagai faktor acak non-negatif dapat menentukan seberapa jauh petani beroperasi diatas biaya perbatasan.
Jika efisiensi alokatif diasumsikan ui berkaitan erat dengan biaya
44
inefisiensi teknis. Jika asumsi ini tidak dibuat, penafsiran ui dalam fungsi biaya kurang jelas dengan kedua inefisiensi teknis dan alokatif yang digunakan.
Untuk melihat pengaruh faktor-faktor yang berpengaruh terhadap produksi usahatani ubi jalar digunakan fungsi biaya frontir stokastik dan hasilnya diestimasi dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE). Fungsi biaya frontir stokastik diasumsikan memiliki bentuk fungsi Cobb-Douglas yang ditransformasikan ke dalam bentuk logaritma natural (Aigner et al, 1977), (Meeusen et al, 1977), (Jondrow et al, 1982) dan (Coelli et al, 1998). Fungsi biaya frontir stokastik dapat dirumuskan sebagai berikut:
C = 0 + iPi +, …, + kPk + (vi + ui)
Dimana:
C = Biaya produksi usahatani ubi jalar dalam logaritma natural Pi = Harga input yang dinormalkan dengan harga output dalam
logaritma natural
0 = Konstanta
i-k = Parameter yang diestimasi
Vi = Error yang disebabkan oleh faktor yang tidak dapat dikuasai petani
ui = Error yang disebabkan oleh faktor yang dapat dikuasai petani
5. Teori Efisiensi
Efisiensi dalam produksi merupakan ukuran perbandingan antara output dan input. Konsep efisiensi diperkenalkan oleh Michel Farrell dengan mendifinisikan sebagai kemampuan organisasi produksi untuk menghasilkan produksi tertentu pada tingkat biaya minimum (Kusumawardani, 2002).
Menurut (I. Susantun, 2000), membedakan efisiensi menjadi tiga yaitu efisiensi teknik, efisiensi alokatif (harga) dan efisiensi ekonomis. Efisiensi
45
teknik mengenai hubungan antra input dan output. Efisiensi alokatif tercapai jika penambahan tersebut mampu memaksimumkan keuntungan yaitu menyamakan marjinal setiap faktor produksi dengan harganya.
Sedangkan efisiensi ekonomis dapat dicapai jika kedua efisiensi yaitu efisiensi tehnik dan efisiensi harga dapat tercapai. Efisiensi ekonomi akan tercapai jika terpenuhi dua kondisi berikut: (1) Proses produksi harus berada pada tahap kedua yaitu pada waktu 0 ≤ Ep ≤ 1 (2) Kondisi keuntungan maksimum tercapai, dimana value marginal product sama dengan marginal cost resource. Jadi efisiensi ekonomi tercapai jika tercapai keuntungan maksimum. Asumsi perusahaan memaksimumkan keuntungan, maka kondisi nailai marjinal produk sama dengan harga input variable yang bersangkutan.
Menurut (Nicholson, 1995), efisiensi ekonomi digunakan untuk menjelaskan situasi sumber-sumber dialokasikan secara optimal. Efisiensi ekonomi terdiri atas dua komponen yaitu efisiensi teknis (technical efficiency) dan efisiensi harga atau efisiensi alokatif (price efficiency or allocative efficiency). Efisiensi teknis mengukur berapa produksi yang dapat dicapai suatu set input tertentu. Besarnya produksi tersebut menjelaskan keadaan pengetahuan teknis dan modal tetap yang dikuasai oleh petani atau produsen. Suatu usaha dikatakan lebih efisien secara teknis jika dengan menggunakan set input yang sama produk yang dihasilkan lebih tinggi Efisiensi teknik juga sering disebut efisiensi jangka panjang. Sedangkan efisiensi harga (alokatif) berhubungan dengan keberhasilan petani dalam mencapai keuntungan maksimum. Efisiensi ini disebut juga efisiensi jangka pendek.
Efisiensi pada dasarnya merupakan alat: pengukur untuk menilai pemilihan kombinasi input-output. Menurut (Soekartawi, 1993), ada tiga kegunaan mengukur efisiensi: (1) sebagai tolok ukur untuk memperoleh efisiensi relative, mempermudah perbandingan antara unit ekonomi satu dengan lainnya. (2) apabila terdapat variasi tingkat efisiensi dari beberapa unit ekonomi yang ada maka dapat dilakukan penelitian untuk menjawab
46
faktor-faktor apa yang menentukan perbedaan tingkat efisiensi. (3) informasi mengenai efisiensi memiliki implikasi kebijakan karena dapat menentukan kebijakan perusahaan secara tepat.
Dalam ekonomi produksi, efisiensi ekonomi dapat dicapai jika dipenuhi dua kriteria (Kusumawardani, 2002), yaitu:
a. Syarat keharusan (necessary condition), yaitu suatu kondisi dengan produksi dalam jumlah yang sama tidak mungkin dihasilkan dengan menggunakan sejumlah input yang lebih sedikit dan produksi dalam jumlah yang lebih besar tidak mungkin dihasilkan dengan menggunakan jumlah input yang sama.
b. Syarat kecukupan (sufficiency condition), yaitu syarat yang diperlukan untuk menentukan letak efisiensi ekonomi yang terdapat pada daerah rasional, karena dengan hanya mengetahui fungsi produksi saja maka letak efisiensi ekonomi yang terdapat pada daerah rasional tidak bias ditentukan. Untuk menentukan letak efisiensi ekonomi diperlukan suatu alat yang merupakan indicator pilihan yaitu berupa input dan harganya. (Soekartawi, 1993), dalam terminology ilmu ekonomi, mengemukakan bahwa efisiensi dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu: efisiensi teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga) dan efisiensi ekonomi:
1) Efisiensi Teknis
Menurut (Widodo, 1986), salah satu cara mengukur tingkat efisiensi teknis atau variabel manajemen dengan pendekatan fungsi produksi frontler, yaitu dengan indeks Technical Effciency Rating (TER) yang dikembangkan oleh Farrel Besarnya produktivitas potensial yang dicapai oleh suatu usaha tani diestimasi dengan fungsi produksi frontier Fungsi produksi frontier: merupakan suatu fungsi yang menyatakan kemungkinan produksi maksimum yang dicapai pada kondisi usahatani atau produktivitas kelayakan maksimum pada kondisi usahatani Fungsi ini digunakan untuk mengukur bagaimana fungsi produksi sebenarnya terhadap posisi
47
frontiernya. Selanjutnya (Soekartawi, 1990), untuk mengetahui tingkat efisiensi teknis (Technical Effciency Rate) dapat diukur dengan menggunakan rumus:
ET = Y;1 Y;
Keterangan:
ET = Tingkat efisiensi teknis
Yi = Besarnya produksi (output) ke-i
Yi = Besarnya produksiyang diduga pada pengamatan ke-I yang diperoleh melalui fungsi produksi frontier Cobb- Douglas
2) Efisiensi yang dicapai dengan mengkondisionalkan nilai produk marjinal sama dengan harga input (NPMx = Px atau indeks efisiensi harga = ki = 1).
Formulasi secara matematika adalah:
π = TR – TVC
= PqQ-∑ Pxi.Xi
= P q. A f (X I, Z I) ∑ Pxi.Xi π maksimum jika δπ/δxi = 0, sehingga:
δAf (XiZi) Pq δxi = Pxi Pq. Mpxi = Pxi
VMP = Pxi = MFC atu VMPxi/Pxi = 1 = ki Dimana:
π = Keuntungan = gross margin Pq = Harga output
Px = Harga factor produksi (input)
48
Xi = Faktor produksi (input) variable ke i Zi = Faktor produksi (input) tetap
VMP = Marginal vlue product MFC = Marginal faktor cost Q = Jumlah produksi
Apabila ki > 1 berarti usahatani belum mencapai efisiensi alokasi sehingga pengawasan faktor produksi perlu ditambah agar mencapai optimal sedangkan jika ki < 1 maka penggunaan factor produksi terlalu berlebihan dan perlu dikurangi agar mencapai kondisi optimal. Prinsip ini merupakan konsep yang konvensional dengan mendasarkan pada asumsi bahwa petani menggunakan teknologi yang sama dan petani menghadapi harga yang sama.
Menurut (Nicholson, 1995), mengatakan bahwa efisiensi harga tercapai apabila perbandingan antara nilai produktivitas marginal masing-masing input (NPMxi) dengan harga inputnya (vi) atau ki=1. Kondisi ini menghendaki NPMx sama dengan faktor produksi X atau dapat ditulis sebagai berikut:
bypy X =Px Dimana:
Px = Harga faktor produksi X
Dalam banyak kenyataan NPMx tidak selalu sama dengan Px.
Yang sering terjadi adalah sebagai berikut (Soekartawi, 1990):
a. (NPMx/Px) > 1; artinya menggunakan input Xi belum efisien, untuk mencapai efisiensi Xi perlu ditambah,
b. (NPMx/PX) < 1; artinya penggunaan input Xi tidak efisien, untuk menjadi efisien maka penggunaan input Xi perlu dikurangi.
49
3) Efisiensi Ekonomi
Efisiensi ekonomi tercapai apabila efisiensi teknis dan efisiensi alkatif tercapai (Soekartawi, 1990). Besarnya efisensi ekonomi menunjukkan rasio antara keuntungan aktual dengan keuntungan maksimum. Menurut (Kusumawardani, 2002), untuk mengkaji efisiensi ekonomi suatu usahatani dapat dilakukan melalui pendekatan fungsi keuntungan. Hal ini senada seperti yang dikemukakan oleh (Soekartawi, 2002), bahwa fungsi keuntungan Cobb-Douglas dipakai untuk mengukur tingkatan efisiensi yang akhir –akhir ini banyak peminatnya karena beberapa alas an, antara lain karena : (1) anggapan bahwa petani adalah mempunyai sifat memaksimumkan keuntungan baik jangka pendek maupun jangka panjang, (2) cara pendugaannya relative mudah, (3) manipulasi terhadap cara analisis mudah dilakukan, misalnya membuat besaran elastisitas menjadi konstan atau tidak, dan (4) dapat mengukur tingkatan efisiensi sesuai dengan tingkatannya. Fungsi keuntungan dapat diturunkan dengan teknik Unit Output Price Cobb-Douglas Profit Function (UOP-CDPF), dengan asumsi bahwa produsen lebih memaksimumkan keuntungan dari pada kepuasan. UOP-CDPF merupakan fungsi yang melibatkan harga faktor produksi dan produksi yang dinominalkan dengan harga tertentu, misalnya dengan harga produksi. Penggunaan fungsi keuntungan Cobb Douglas (C-D) untuk menduga efisiensi ekonomi relatif telah populer di kalangan para peneliti. Fungsi ini dikembangkan oleh (Yotopoulos, et al 1976). Beberapa penelitian di Indonesia yang menggunakan metode ini antara lain terhadap perkebunan kelapa sawit (Saragih, 1980) dan pada usahatani padi (Sugianto, 1985). Kelebihan model ini dibandingkan dengan fungsi lain yaitu pertama perubah-perubah yang diamati adalah perubah harga output dan input, sehingga lebih sesuai dengan kerangka pengambilan keputusan produsen yang memperhitungkan harga
50
sebagai faktor penentu, kedua dapat digunakan untuk menganalisis efisiensi. Selanjutnya oleh (Soekartawi, 1993) dan (S. Wardani et al, 1997), efisiensi ekonomi merupakan hasil kali antara efisiensi teknis dengan efisiensi harga / alokatif dan seluruh faktor input, sehingga efisiensi ekonomi dapat dinyatakan sebagai berikut: EE = TER.AER
Dimana:
EE = Efisiensi Ekonomi TER = Tehnical Efisiensi Rate AER = Allocative Efisiensi Rate
Input dan output dalam usahatani merupakan landasan utama dari rencana pengelolaan usahatani. Menurut (Tohir, 1991), menyatakan bahwa faktor-faktor input atau masukan bagi usahatani itu dalam garis besarnya terdiri atas; (1) unsur alam, (2) unsur tenaga, (3) unsur modal, (4) manajemen, dan (5) unsur sosial budaya. Output atau hasil usahatani biasanya terdiri dari unsur: (1) sewa tanah, (2) bahan-bahan, (3) bunga modal, (4) modal, (5) penyusutan, (6) upah, (7) pembayaran, (8) pajak, beban sosial dan (9) keuntungan. Menurut (Suratiyah, 2015), pada umumnya dalam proses produksi pertanian, hubungan antara input dan output memiliki bentuk kombinasi antara kenaikan hasil bertambah dan kenaikan hasil berkurang, artinya awalnya mengikuti bentuk kenaikan hasil bertambah, kemudian mengikuti bentuk kenaikan hasil berkurang atau mengikuti the law of deminishing return.
Dalam penelitian ini dikaji faktor-faktor input produksi usahatani ubi jalar. Faktor input produksi yang digunakan adalah:
luas lahan, jumlah bibit, tenaga kerja, pupuk urea, pupuk ponska, pupuk SP-36, pupuk ZA dan varietas ubi jalar putih (Varietas Sukuh) sebagai variabel dummy yang berpengaruh terhadap pengembangan usahatani ubi jalar (Ipomoea batata L.,)