• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.5. P EMBAHASAN DAN H ASIL P ENELITIAN

4.5.2. Faktor-faktor yang menarik minat petani muda dalam wirausaha

4.5.2.2. Faktor pendorong dari dalam diri petani muda

Informan kunci utama menyampaikan bahwa dengan melakukan pengolahan kopi, mereka mendapatkan nilai tambah dibandingkan menjual langsung dalam bentuk cherry. Margin keuntungan yang diperoleh tergantung dari metode apa yang digunakan. Para informan kunci utama secara jelas menyampaikan mengapa mereka tertarik menggeluti wirausaha pertanian kopi ini.

“Di tahun 2016, saya diajak oleh Andreas Meliala ke Biji Hitam dengan membawa kopi saya sendiri. Kopi hasil tani saya lalu saya minum di sana.

Dan saya terkejut ada banyak rasa yang dapat saya temukan di kopi saya.

Padahal setahu saya, kopi itu pahit, udah sampai di situ saja. Lalu Biji Hitam menjelaskan kepada saya bahwa proses dan ketinggian mempengaruhi rasa

Di meja kopi itu ada banyak jenis kopi yang disediakan. Menurut saya, harganya sangat mahal untuk saya sebagai petani. Secangkir kopi dihargai Rp 18.000,00 sampai Rp 20.000,00. Padahal sebagai petani, pendapatan saya tidak tetap, sehingga saya putuskan untuk membuat sendiri.” (Wawancara tanggal 30 Agustus 2020)

Informan kunci menyebutkan dia terus mencoba dan berusaha untuk melakukan pengolahan kopi seperti yang pernah dia rasakan di café. Setelah mencoba beberapa kali di tahun 2016, dia kemudian membuat dan menjual dalam bentuk green bean di tahun 2017. Proses pengolahan paska panen dilakukan berulang-ulang sambil terus berdiskusi dengan teman sehingga dia menghasilkan standard kopinya sendiri.

Informan kunci tidak dapat menjelaskan peningkatan pendapatan yang diperoleh dari hasil pengolahan kopi yang dibuat. Hal ini disebabkan karena mereka tidak melakukan pencatatan dari biaya produksi dan penerimaan dari penjualan dari semua kegiatan wirausaha yang dilakukan. Kadang-kadang mereka melakukan pencatatan, tetapi tidak semua dicatat, sehingga mereka tidak dapat menjelaskan berapa tepatnya peningkatan pendapatan yang dihasilkan dari proses pengolahan kopi yang dihasilkan. Yanuar Barus, salah satu informan kunci menjelaskan gambaran peningkatan pendapatan yang dapat diperoleh dengan melakukan pengolahan paska panen.

“Misalnya harga gabah Rp 20.000,00 sampai Rp 25.000,00. Seandainya petani mau membuat proses yang lebih baik seperti yang kita lakukan sekarang, kita bisa menjual Rp 40.000,00 sampai Rp 50.000,00. Kalau bisa dilakukan maka pendapatan akan meningkat.” (Wawancara tanggal 6 September 2020)

Informan kunci utama tidak dapat menjelaskan peningkatan pendapatan yang mereka peroleh sewaktu menjadi petani dibandingkan menjadi pengolah paska panen kopi. Agultaripa menjelaskan bahwa usahanya dalam pengolahan

paska panen kopi lebih baik dibandingkan hanya menjual cherry atau gabah saja.

Bila proses paska panen dilakukan dengan baik, harganya pasti lebih tinggi, tanpa harus melakukan pengolahan yang rumit seperti natural, honey dan wine.

4.5.2.2.2. Kebanggaan sebagai pengolah kopi lebih tinggi dibandingkan menjadi petani

Rasa bangga adalah salah satu faktor yang meningkatkan minat pemuda dalam wirausaha pertanian kopi. Petani muda merasa bangga dan bahagia sudah berhasil mengolah kopinya berdasarkan permintaan pasar dan bahkan melakukan lebih banyak uji coba untuk menciptakan cita rasa yang menjadi ciri khas pengolah kopi tertentu. Menurut Agultaripa, dia tidak dapat melupakan pengalaman pertama dia mencicipi kopi di Biji Hitam, seperti yang dikatakannya:

“Begini ya, sewaktu pertama kali saya mencoba meminum kopi hasil olahan saya sendiri, saya merasa bangga, ternyata kopi yang saya panen dapat menghasilkan rasa yang seperti ini. Yang kedua, saya juga semakin penasaran atas rasa apa lagi yang dapat dihasilkan. Dan efek kopi itu memberikan rasa ceria. Jadi, waktu aku mengajak petani lain untuk mengolah kopinya pun, aku memulai dengan mengajak dia mencicipi olahan kopi yang dia panen.”

(Wawancara tanggal 2 September 2020)

Menurut Yanuar Barus bahwa menjadi petani saja tidak cukup membanggakan, karena penghasilannya yang kecil dan tidak menentu. Seorang petani harus memiliki tambahan usaha yang mendukung pertanian. Menjadi wirausaha pertanian akan memberikan rasa percaya diri yang lebih baik merasa lebih eksis, yang dapat dilakukan dengan sosial media. Selain menjadi pengolah kopi, beberapa petani muda memikirkan untuk menambahkan ekowisata di dalamnya.

Menurutnya, wirausaha pertanian akan memberikan keleluasaan dalam

ketat, sehingga dia memilih menekuni pertanian, meskipun beberapa temannya menertawakan pilihannya. Menurut teman-temannya yang seusia dengannya, menjadi petani bukanlah sesuatu yang membanggakan. Meskipun menggabungkan pertanian dengan wirausaha terdengar menarik, tetapi menurut para petani muda, keberhasilan yang akan diperoleh membutuhkan usaha dan modal yang tidak sedikit, sehingga mereka tidak tertarik untuk menekuninya.

Kebanggaan ini yang menjadi pemicu minat Agulataripa memulai usaha pengolahan kopinya. Menurutnya, rasa bangga merasakan hasil kopi olahannya dinikmati orang lain setelah dijual di café, membuatnya menjadi bersemangat.

Menurutnya, dibandingkan dengan potensi peningkatan pendapatan, kebanggan dan prestise menjadi yang utama dalam menarik minatnya dalam melakukan wirausaha pertanian. Hal ini dapat dilihat dari lini waktu Agulatripa dalam memulai wirausaha pertaniannya. Setelah tiga tahun, Agulataripa masih kesulitan untuk dapat secara jelas menyebutkan peningkatan pendapatan dalam mengolah hasil pertanian menjadi green bean.

Meski tidak dapat secara jelas menunjukkan peningkatan pendapatan, informan kunci utama masih terus berupaya dalam melanjutkan usahanya. Dia juga dengan semangat terus bereksperimen dalam menghasilkan citarasa kopi yang menurutnya disukai para pembeli. Hal ini juga terlihat saat informan kunci menceritakan bagaimana orangtua dan orang-orang di sekitarnya mulai menaruh minat atas usahanya karena melihatnya mulai mengikuti pelatihan ataupun pertemuan-pertemuan skala kabupaten atau provinsi.

“Sejak saya kenal kopi di Biji Hitam tahun 2016, tahun 2017 saya sudah bisa mengolah kopi saya sendiri dan menjualnya ke Biji Hitam. Saya juga sudah mengikuti pelatihan yang dilakukan pemerintah waktu itu sampai ke Dolok Sanggul. Sejak saya mengikuti banyak pelatihan, orangtua saya jadi lebih

respek pada saya. Orangtua tidak lagi menolak kalau saya mengolah kopinya dengan cara yang berbeda.” (Wawancara tanggal 30 Agustus 2020).

Menurut informan kunci kedua, Andreas Meliala, kebanggaan dan motivasi dari para petani muda tidak dapat berdiri sendiri tanpa melihat prospek keuntungan dan peningkatan pendapatan. Andreas Meliala sudah mulai mendampingi 10 orang yang melakukan wirausaha pertanian kopi sejak 2017 yang terdiri dari petani muda di Kecamatan Tiga Panah, Barusjahe dan Simpang Empat. Banyak petani muda yang tidak berfikir dari perspektif bisnis dan keberlanjutan bisnisnya. Beliau menunjukkan ada beberapa petani muda di Karo, termasuk di Tanjung Barus yang usahanya masih jalan di tempat karena lebih mengutamakan prestise/kebanggan dibandingkan keuntungan.

“Saya beberapa kali membawa kopi dari Tanjung Barus untuk kompetisi.

Kalau saya disuruh memilih kopi-kopi dari tempat lain dibandingkan Tanjung Barus, maka saya akan memilih kopi Tanjung Barus karena citarasanya unik.

Tetapi saat petani muda hanya memikirkan keren dibandingkan uang, akhirnya mereka jalan di tempat. Padahal petani-petani lain baru akan berubah saat melihat petani yang sudah mengolah kopinya memiliki penghasilan yang lebih baik dari petani yang hanya menjual kopi dalam bentuk gelondong.” (Andreas Meliala, Wawancara tanggal 4 September).

Baik potensi peningkatan pendapatan dan prestise/kebanggaan dalam mengolah kopi menjadi faktor penarik minat petani muda dalam melakukan wirausaha pertanian kopi. Dari wawancara dengan para informan kunci, sebagian besar mementingkan potensi pendapatan dalam mengolah kopi dari produksi kopi mereka saat ini, bukan dari potensi produksi kopi bila mereka melakukan pertanian dengan baik. Para petani muda hanya melihat potensi peningkatan pendapatan, tetapi melupakan proses panjang usaha yang harus dilakukan. Itulah sebabnya sebagian besar dari mereka tidak menekuni wirausaha pertanian kopi lebih jauh dibandingkan Agultaripa. Hal ini disampaikan oleh Agulataripa:

“Kita pernah membentuk komunitas Deleng Barus Sekitar dengan memasukkan materi kopi. Memang banyak yang tertarik, tetapi terbentur dalam pelaksanaan. Karena proses pengolahan ini membutuhkan kesabaran dan waktu yang lama. Sehingga banyak yang tidak sabar. Yang berikutnya, mereka melihat peluang yang lain, misalnya harga jeruk atau tomat naik, maka mereka akan fokus ke sana. Tidak ada konsistensi. Sehingga tidak berhasil.” (Wawancara tanggal 4 September 2020)

Para informan kunci utama secara bersama mengatakan bahwa yang membuat mereka tertarik dalam wirausaha pertanian kopi adalah potensi pendapatan yang tinggi. Sayangnya pendapatan yang tinggi tidak dapat diterima dalam waktu singkat, karena untuk melakukan pengolahan kopi membutuhkan waktu yang tidak singkat. Berbeda dengan menjual langsung gelondong kopi.

Mereka mengatakan, petani muda seperti Agultaripa dapat terus melakukan pengolahan kopi bahkan sampai berbulan-bulan karena dia juga memiliki sumber pendapatan pertanian lainnya, seperti dari jeruk. Sedangkan petani muda yang lain hanya mengandalkan kopi sebagai sumber pendapatan mereka.

4.5.3. Kendala yang dihadapi petani muda untuk menjadi wirausaha