• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7. P ENELITIAN T ERDAHULU

Peran pemuda dalam pertanian berkelanjutan sangat penting dan harus lebih diperhatikan. Peningkatan penduduk usia muda tidak diikuti dengan peningkatan lapangan kerja, sehingga angka pengangguran semakin meningkat. White dalam Ningsih dan Syaf (2017) menyebutkan 70% pemuda secara global hidup dalam kemiskinan ekstrim, tinggal di daerah pedesaan. Keadaan ini semakin buruk karena ketertarikan pemuda terhadap pertanian semakin berkurang.

Tulisan Mukti (2018: 509) menjelaskan bahwa banyak mahasiswa lulusan Pertanian tidak tertarik menjadi petani. Mereka tidak tertarik menjadi petani karena mereka mengetahui seluk beluk pertanian dan memahami usaha yang harus dilakukan untuk menjadi petani. Hal ini, tentu saja menjadi hal yang membuat pertanian semakin tertinggal karena sumberdaya manusia yang terpelajar dan trampil dalam pertanian justru memilih untuk bekerja di luar sektor pertanian.

Lebih jauh disampaikan oleh Yodfiatfinda (2018: 30) bahwa petani dalam kisaran usia 15 – 35 tahun semakin berkurang tidak hanya karena persepsi pertanian itu yang identifik dengan kotor, kuno dan tidak berpendidikan. Hal lain yang membuat petani muda tidak tertarik untuk terus bertani adalah karena nilai tukar petani yang sangat rendah. Untuk mendorong petani muda tetap bertahan dalam

pertanian, pemerintah perlu untuk terus memberikan dukungan dan menciptakan iklim usaha yang kondusif.

White (2012) memberikan beberapa contoh tentang indikasi lost generation pada pertanian di perdesaan. Di Ethiopia, pemuda tidak ingin bertani karena memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari orangtuanya, sehingga tidak mengangap pertanian layak untuknya. Pemuda lebih memilih duduk dan berbicara dengan teman-temannya atau menonton televisi daripada bertani. Di India juga terjadi hal yang hampir sama, kebanyakan dari generasi mudanya tidak mau bertani dan lebih memilih bekerja di sektor industri dengan harapan jaminan ekonomi karena pendapatannya rutin tiap bulan. Di Indonesia, pemuda yang bertani merasa tidak pantas untuk meningkatkan pertanian ke arah wirausaha pertanian karena kemampuan teknis dalam pertanian masih rendah, sehingga mereka lebih tergiur dengan gaji bulanan pada pekerjaan formal (White dalam Ningsih dan Syaf, 2017).

Wirausaha pertanian kopi dapat memberikan nilai tambah untuk petani.

Menurut Mordor Inteligence (2019: 16), sangat sedikit kesempatan petani untuk mendapatkan nilai tambah dari mata rantai kopi bila tidak memasukkan unsur wirausaha pertanian di dalamnya. Tanpa wirausaha pertanian, petani sangat tergantung pada produksi pertanian dan harga. Nilai tambah kopi paling tinggi diterima oleh usaha sangrai kopi yang dapat mencapai 60-90% dari nilai kopi.

Gambar di bawah menjelaskan lebih detil tentang peningkatan harga dari masing- masing pelaku mata rantai nilai kopi.

Gambar 2.2. Peningkatan harga pelaku mata rantai nilai Kopi (Mordor Inteligence, 2019)

Harahap dan Humaizi (2018: 2725) menjelaskan meskipun petani kopi di Karo memiliki lahan yang luas, tetapi tidak semuanya ditanami kopi. Tanaman kopi adalah tanaman yang bersifat komplementer atas tanaman lain. Budidaya multicropping di Karo menjadikan kopi sebagai tanaman sampingan atau tanaman

pagar. Kebiasaan petani di Karo menjual kopi dalam bentuk cherry dan gabah basah (Harahap dan Humaizi, 2018: 2727)

Berikut ini adalah beberapa penelitian yang sudah dilakukan berkaitan dengan partisipasi pemuda dalam pertanian, wirausaha pertanian dan pertanian kopi.

Peningkatan Harga dalam Mata Rantai Nilai Kopi

Level pelaku mata rantai nilai

kopi Peningkatan harga (%)

Tabel 2.1. Ringkasan Penelitian Terdahulu

Pemuda menganggap pertanian pekerjaan yang tidak menjanjikan secara ekonomi. Kebanyakan pemuda yang bermatapencaharian sebagai petani memiliki penghasilan yang rendah sedangkan pekerjaannya menyita banyak waktu dan tenaga. Sebelum bertani, mereka masih sering berkumpul sekedar untuk berbincang di warung kopi. Tetapi setelah bertani, mereka sudah mulai jarang berkumpul karena kelelahan setelah bertani, dan hasil yang diperoleh tidak seberapa. Teman-temannya yang bertani tetap kesulitan dalam masalah keuangan, sehingga tidak mengherankan jika pemuda meninggalkan pertanian. Tidak ada yang mau mengalami kesulitan keuangan seperti halnya yang dialami oleh teman-temannya yang bertani.

Tenaga kerja muda pedesaan cenderung tidak memilih pertanian sebagai pekerjaan mereka. Mereka cenderung pergi ke kota untuk mencari pekerjaan di sektor lain.

Keputusan tenaga kerja muda tersebut terutama karena adanya faktor pendorong, di antaranya lahan pertanian yang semakin sempit dan tidak ekonomis untuk diusahakan. Dari sisi pandang ekonomi, keputusan tenaga kerja muda perdesaan untuk mencari pekerjaan di luar sektor pertanian adalah rasional, mengingat sektor pertanian dipandang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup

Ada dua faktor penyebab beralihnya tenaga kerja anak petani ke sektor non pertanian, yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor pendorong adalah alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian,

Universitas Sumatera Utara

No Nama Judul Hasil

misalnya untuk pembangunan infrastruktur dan kurangnya pemahaman dan kemauan untuk bekerja di sektor pertanian.

Sedangkan faktor penarik adalah upah atau gaji sektor pertanian lebih rendah daripada upah di sektor non pertanian dan yang kedua pandangan anak petani terhadap pekerjaan pertanian yang tidak terlalu menjanjikan.

Warung kopi bukanlah tempat untuk orang tua atau orang desa lagi.

Kebiasaan menghabiskan waktu diskusi atau luang di warung kopi sudah menjadi kebiasaan di kota- kota besar. Mahasiswa Yogyakarta memilih untuk menghabiskan waktu mereka di warung kopi dalam waktu 4-10 jam dengan melakukan banyak hal, mulai dari berdiskusi, mengerjakan tugas, bermain kartu bersama, rapat, membaca buku yang kesemuanya sudah menjadi melekat dalam gaya hidup. Mereka menemukan arti kebersamaan ketika mereka nongkrong di warung kopi.

Petani muda dan menemukan bahwa salah satu alasan tidak terlibat dalam pertanian adalah orangtua yang tidak menyerahkan lahan untuk dikelola sampai mereka menikah, atau sampai orangtua lelah atau wafat. Biasanya orang muda yang membantu orang tuanya dalam pertanian hanya mendapatkan upah seadanya, bahkan setelah mereka menikah. Tidak jarang orang muda tersebut meminta uang tambahan bila dirasakan kurang. Petani muda juga tidak terlalu dilibatkan dalam proses produksi dan pasca panen.

Meningkatkan keterlibatan pemuda dalam pertanian dianggap sangat perlu dalam keberlanjutan pertanian.

Namun penanganan pemuda masih

No Nama Judul Hasil sudah dilakukan tetapi penelitian untuk Afrika dan Asia sangat terbatas. Dalam tulisannya disebutkan, secara khusus di Indonesia, bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa wirausaha dan pertanian yang innovative menjadi minat petani muda. Dalam beberapa penelitian yang dilakukan tentang wirausaha pertanian sangat kontekstual dan perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam.

Pertanian menjadi sektor kunci di India, di mana 13,2 persen Pendapatan Nasional Bruto berasal dari pertanian dan 13% dari total tersebut berasal dari pendapatan eksport. Wirausaha pertanian terbukti memainkan peran dalam meningkatkan pendapatan dan lapangan kerja di perdesaan dan perkotaan. Wirausaha pertanian membantu petani untuk terintegrasi di tingkat daerah, nasional bahkan pasar dunia. Wirausaha pertanian juga membantu petani untuk memiliki sumber pendapatan yang beragam dan dalam waktu bersamaan juga mengurangi biaya produksi.

Penelitian yang dilakukan di beberapa negara termasuk Indonesia, khususnya di Flores menunjukkan memberikan kesempatan kepada pemuda dalam setiap aspek mata rantai nilai kopi dianggap sangat sukes menarik minat pemuda. Pemuda tertarik tidak hanya dalam pelatihan pengelolaan kopi, tetapi juga pemahaman dalam pasar global dan konsumerisasi kopi.

No Nama Judul Hasil pertanian mulai mengembangan pola wirausaha pertanian. Penelitian ini melihat karakater dasar yang dimiliki oleh petani muda yang dianggap sebagai modal dasar untuk kesuksesan usaha. Meskipun peneliti melihat bahwa usaha petani muda informanya secara cash flow belum menguntungkan tetapi potensi pengembangan usaha sangat besar karena karakter dasar yang dimiliki.

Kegiatan pertanian tidak menarik di kalangan pemuda karena mereka tidak memiliki otoritas dalam menentukan apa yang harus mereka tanam atau bagaimana proses pengolahan kopi dilakukan karena keputusan masih dipegang oleh orangtua. Proses pengadaan kegiatan wirausaha pertanian yang disiapkan lembaga tidak menarik minat pemuda karena proses keuntungan yang dianggap lambat, sedangkan pemuda mengharapkan dana segar yang bisa cepat, seperti saat mereka bekerja sebagai tukang ojek atau pekerjaan buruh lainnya.

Meskipun petani muda pada akhirnya mengakui bahwa pendapatan mereka secara signifikan meningkat karena proses pengolahan kopi yang dikelola secara berbeda sesuai permintaan pasar, pemuda merasa pekerjaan tersebut memakan lebih banyak waktu dibandingkan saat mereka bekerja sebagai buruh.

Penulis membandingkan dua kelompok petani muda di wilayah Jawa Barat untuk melihat perbedaan persepsi, motivasi dan peran petani muda dalam pertanian. Hasil penelitian menyimpulkan perbedaan persepsi dan motivasi tentang

No Nama Judul Hasil

praktek pertanian yang dilakukan.

Petani muda yang memiliki persepsi dan pemahaman bahwa pertanian

dapat menguntungkan,

mengupayakan lahan pertaniannya dengan berbagai macam komoditas dan memperhitungkan minat dan permintaan pasar. Hal ini kemudian mempengaruhi pendapatan dari dua

kelompok tani yang ada.

Dari tampilan hasil-hasil penelitian sebelumnya tentang petani dalam tabel di atas, Peneliti menyoroti beberapa hal yang kerap dihasilkan dari tulisan-tulisan di atas. Petani muda yang melihat bahwa pertanian dapat menguntungkan akan mempengaruhi cara pertanian mereka (Sukayat, 2017), meskipun beberapa petani muda belum menghasilkan keuntungan, namun potensi keuntungan tetap akan memacu kinerja mereka dalam usaha pertanian mereka (Mukti, 2017). Penelitian ini juga akan menyoroti sejauh mana keuntungan atau potensi keuntungan dalam wirausaha pertanian kopi memicu pola pertanian kopi pemuda menjadi lebih baik dari sebelumnya.