BAB II KAJIAN PUSTAKA
4. Faktor Pendorong Perubahan Penggunaan Lahan
McNeill mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah politik, ekonomi, demografi dan budaya. Empat faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Dibawah ini adalah uraiannya,
1. Aspek Politik
Aspek politik adalah adanya kebijakan yang dilakukan oleh pengambil keputusan yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Ada sarana penunjang yang sangat penting dalam aspek politik yaitu peraturan perundangan yang meliputi tersedianya undang-undang mengenai lingkungan, peraturan pemerintah, pedoman-pedoman baku mutu dan tidak kalah pentingnya adalah tepatnya pelaksanaan perundangan tersebut atau yang sering disebut enforcement.16
Dalam bukunya An Environmental History of the Twentieth-Century World: Something New Under the Sun. McNeill menuliskan
14 A. Tresna Sastrawijaya, Pencemaran Lingkungan, (Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2000), cet.2, h: 5.
15 Juhadi, “Pola-pola Pemanfaatan Lahan dan Degradasi Lingkungan Pada Kawasan Perbukitan”, Jurnal Geografi, Vol. 4 No. 1, 2007, h. 21.
16 Gunarwan Suratmo, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Gadjah Mada University, 2004), cet.10, h: 5.
“The politics and policies in which environmental considerations formed a conscious element had modest effects.”17
. Politik dan kebijakan untuk pertimbangan lingkungan merupakan elemen yang disadari memiliki efek yang paling besar.
Kutipan di atas menjelaskan bahwa politik memang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam setiap tindakan yang akan dilakukan pada setiap hal termasuk untuk lingkungan. Dalam penggunaan lahan, politik juga mengambil posisi yang cukup berpengaruh. Pengambilan keputusan untuk melakukan suatu pembangunan atau alih fungsi lahan ditentukan oleh para pemerintah daerah setempat.
2. Aspek Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi, perubahan pendapatan dan konsumsi juga merupakan faktor penyebab penggunaan lahan. Sebagai contoh, meningkatnya kebutuhan akan ruang tempat hidup, transportasi dan tempat rekreasi akan mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan.
Sebenarnya, pandangan yang menyatakan bahwa pembangunan ekonomi hanya dapat dilaksanakan apabila kegiatan industri juga dikembangkan merupakan pandangan yang tepat. Tetapi untuk melaksanakan dan mencapai tujuan tersebut harus dipertimbangkan juga faktor-faktor lainnya. Diantaranya adalah tersedianya tenaga ahli dan para pengusaha untuk melaksanakan proyek-proyek industri, keadaan prasarana yang ada dan dapat dikembangkan dengan baik, tersedianya pasar, dan sebagainya. Program pembangunan industri secara besar-besaran tetapi mengabaikan banyak faktor yang menjamin kesuksesan usaha seperti itu pada akhirnya akan menghasilkan perkembangan sektor industri yang
17 J.R McNeill, An Environmental History of the Twentieth-Century World: Something New Under the Sun, (New York: W.W. Norton & Company, Inc., 2000), p: 349.
tidak efisien serta menghamburkan sumber daya yang jumlahnya sangat terbatas.18
3. Aspek Demografi
Donald J. Bogue di dalam bukunya yang berjudul Principles of Demography memberikan definisi demografi sebagai ilmu yang mempelajari secara statistika dan matematika tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya lima komponen demografi yaitu kelahiran, kematian, perkawainan, migrasi, dan mobilitas sosial.19
Pola perubahan penggunaan lahan juga disebabkan karena pertumbuhan penduduk. Banyaknya penduduk tentu saja akan mengakibatkan semakin meningkatnya kebutuhan akan tempat tinggal, dengan alasan itulah dibangun banyak perumahan.
Karena di suatu daerah luas lahan tidak bertambah, maka dengan meningkatnya jumlah penduduk, rasio manusia dan lahan menjadi semakin besar. Meskipun pemanfaatan setiap jengkal lahan sangat dipengaruhi oleh taraf perkembangan kebudayaan suatu masyarakat. Rasio manusia dan lahan adalah perbandingan antara jumlah orang dan luas lahan di suatu daerah. Dalam hubungan ini konsep kuantitatif yang mendapat penggunaannya secara meluas adalah kepadatan penduduk. Konsep kepadatan penduduk secara umum hanya diperlukan data luas wilayah dan jumlah penduduk yang bertempat tinggal di suatu wilayah.20
Rasio manusia dan lahan juga berpengaruh terhadap pembangunan perumahan. Perubahan lahan yang terjadi di suatu tempat adalah peralihan fungsi utama ke fungsi pendukung yang
18 Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan. (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), h. 21.
19 Prayoga (ed.), Dasar-dasar Demografi, (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, 2007), h. 1.
dinilai memiliki manfaat yang lebih besar. Misalnya lahan kosong yang diubah jadi perumahan sebagai tempat tinggal.
Pembangunan perumahan merupakan solusi untuk menyediakan tempat tinggal yang layak bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu mulai dari perumahan yang sangat sederhana, sampai rumah mewah dibangun secara besar-besaran di seluruh Indonesia. Pemerintah sudah lama melaksanakan pembangunan rumah melalui perumnas, dari rumah sederhana sampai rumah permanen. Di samping itu swasta juga sangat berperan dalam penyediaan rumah bagi masyarakat baik yang berpenghasilan menengah maupun masyarakat berpenghasilan besar.21
4. Aspek Budaya
Menurut Odum manusia sebagai pengelola ekosistem sumberdaya alam akan selalu berusaha untuk meningkatkan daya dukung lingkungan agar bisa secara maksimal memenuhi kebutuhan hidupnya. Tindakan manusia yang dilakukan terhadap ekosistem akan mempengaruhi keseimbangan dan mengurangi kualitas ekosistem tersebut.22
Aspek budaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Seiring perubahan zaman, maka pola pikir manusia pun semakin berkembang pesat. Aspek budaya tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial sehingga sering disebut sebagai aspek sosial-budaya. Perubahan penggunaan lahan dapat berdampak pada perubahan sosial-budaya yang terjadi dalam masyarakat. Analisis dampak lingkungan (Amdal) juga mengkaji mengenai aspek sosial-budaya berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan.23
21 Masriah dan Mujahid, Pembangunan Ekonomi Berwawasan Lingkungan, (Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang, 2013), cet. 1, h. 72.
22 Moh. Soerjani, dkk. (eds.), Lingkungan: Sumber Daya Alam dan Kependudukan dalam Pembangunan. (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2008). Cet.1, h. 49.
23 Gunarwan Suratmo, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, (Yogyakarta: Universitas
Canadian Environmental Assessment Research Council tahun 1985 dalam prospektif penelitiannya menyebutkan bahwa dampak sosial-budaya yang perlu diteliti dalam Amdal ialah:
1. Perubahan kelembagaan masyarakat 2. Tradisi masyarakat
3. Nilai masyarakat 4. Kualitas hidup24
5. Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Klasifikasi lahan sebagai pembagian satuan-satuan lahan ke dalam berbagai kategori berdasarkan sifat-sifat lahan atau kesesuaiannya untuk penggunaan tertentu. Klasifikasi lahan dilakukan untuk keperluan pengambilan keputusan. Dikelompokkan menjadi dua yaitu:
a. Kultural, meliputi aspek sosial, ekonomi, politik dan administratif. b. Alami, meliputi sumberdaya dasar yang menentukan kemampuan
lahan itu sendiri untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.25 Ada beberapa cara dalam penentuan kesuaian lahan, yaitu dengan cara perkalian parameter, penjumlahan parameter, atau membandingkan kualitas dan karakteristik lahan sebagai parameter dengan kriteria atau persyaratan tertentu. Menurut tingkatannya, kesesuaian lahan dapat dibedakan menjadi:
a. Ordo. Lahan digolongkan menjadi sesuai (S) atau tidak sesuai (N) b. Kelas. Lahan yang digolongkan sesuai (S) dibedakan menjadi sangat
sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan marginal sesuai (S3)
c. Kelas sangat sesuai (S1). Tidak ada faktor pembatas yang berarti terhadap penggunaan berkelanjutan. Atau hanya ada faktor pembatas yang bersifat ringan dan tidak berpengaruh.
d. Kelas cukup sesuai (S2). Ada faktor pembatas yang mempengaruhi dan memerlukan tambahan atau perbaikan.
24Ibid.
e. Kelas sesuai marginal (S3). Ada faktor pembatas yang berat dan berpengaruh terhadap produktivitasnya sehingga memerlukan tambahan atau perbaikan yang lebih banyak daripada kelas S2.26 Dibawah ini adalah tabel untuk mengklasifikasikan kesesuaian lahan berdasarkan penggunaannya.
Tabel 2.1 Klasifikasi kesesuaian lahan untuk permukiman
KELAS PARAMETER Potensi Air Tanah (liter/detik) Drainase Lereng (%) Bahaya Lingkungan Banjir Potensi Erosi/Longsor S1 (Sesuai) >20 Baik 0 – 8 Tidak ada Rendah S2
(Kesesuaian sedang)
20 – 40 Sedang 8 – 15 Tergenang
setelah hujan Sedang S3 (Kesesuaian kecil) 10 – 20 Kurang Baik 15 – 25 Banjir musiman Tinggi S4 (Sesuai dengan bersyarat) 2,5 – 10 Jelek 25 – 35 Sering
hampir Sangat tinggi T (Tidak
sesuai) <2,5
Sangat
Jelek >35 Selalu banjir
Kelewat tinggi
Sumber: adipandang.wordpress.com
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa lahan yang paling sesuai untuk pemukiman adalah lahan dengan potensi air tanah lebih dari 20 liter/detik, drainase yang baik, kemiringan lereng 0-8 %, tidak terjadi banjir, dan rendah potensi erosi atau longsornya. Sementara keadaan lahan yang tidak sesuai untuk pemukiman adalah lahan dengan potensi air tanah kurang dari 2,5 liter/detik, drainase yang sangat jelek, kemiringan lereng lebih dari 35 %, selalu terjadi banjir, dan terlalu tinggi potensi erosi atau longsornya.
Menentukan daerah untuk dijadikan pemukiman memerlukan banyak pertimbangan dan seharusnya dilakukan penelitian terlebih dahulu. Air menjadi salah satu yang terpenting dalam kehidupan, oleh karena itu daerah yang akan dijadikan pemukiman sebagai tempat hidup
26
seharusnya memiliki keadaan air tanah yang baik dan drainase yang baik. Kemiringan lereng juga harus diperhatikan karena bisa memicu bencana banjir, longsor, dan erosi.
Tabel 2.2 Klasifikasi kesesuaian lahan untuk gedung tanpa ruang bawah tanah maksimal 3 lantai (USDA 1983)
Sifat Tanah Kesesuaian Lahan
Baik Sedang Buruk
Banjir Tanpa Tanpa Jarang-sering
Air Tanah (cm) >75 45 – 75 <45 COLE Rendah (<0,03) Sedang (0,03-0,09) Tinggi (>0,09)
Kelas Butir (Unfied) - - OL,OH,PT
Lereng (%) <8 8 – 15 >15 Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak >100/>50 50 – 100/<50 <50/- Kedalaman Padas (cm) Tebal/Tipis >100/>50 50 – 100/<50 <50/- Batuan/Kerikil (7,5 cm) <25 25 – 50 >50 Longsor - - Ada Sumber: Siswanto, 2006
Lahan yang baik untuk gedung tanpa ruang bawah tanah dengan maksimal 3 lantai adalah lahan yang tanpa banjir, kedalaman air tanah diatas 75 cm, besarnya pengembangan dan pengerutan pori-pori tanah yang disebabkan oleh keadaan basah atau keadaan kering atau coefficient of linierextensibility (COLE) yang rendah dibawah 0,03, tidak ada kelas butir atau struktur butiran tanah, kemiringan lereng dibawah 8 %, kedalaman batuan keras/lunak >100/>50 cm, kedalaman padas tebal/tipis >100/>50 cm, batuan/kerikil (7,5 cm) diatas 25, dan potensi longsor yang tidak ada sama sekali.
Tabel 2.3 Klasifikasi kesesuaian lahan untuk jalan (USDA 1983)
Sifat Tanah Kesesuaian Lahan
Baik Sedang Buruk
Banjir Tanpa Tanpa Jarang-sering
Air Tanah (cm) >75 45 – 75 <45 COLE Rendah (<0,03) Sedang (0,03-0,09) Tinggi (>0,09) Kelas Butir (Unfied) GW, GP, SW,
SP, GM, GC, SM, SC CL dengan Pl<15 CL dengan Pl>15, CH, MH, OH, OL, PT Lereng (%) <8 8 – 15 >15
Kedalaman Batuan (cm) Keras/Lunak >100/>50 50 – 100/<50 <50/- Kedalaman Padas (cm) Tebal/Tipis >100/>50 50 – 100/<50 <50/- Batuan/Kerikil (7,5 cm) <25 25 – 50 >50 Longsor - - Ada Sumber: Siswanto, 2006
Kesesuaian lahan untuk jalan raya memiliki klasifikasi lahan yang tanpa banjir, kedalaman air tanah diatas 75 cm, COLE yang rendah dibawah 0,03, dengan kelas butir berkerikil (gravel) atau yang disingkat GW, GP, GM, dan GC. Dan kelas butir berpasir (sand) yang disingkat SW, SP, SM, dan SC, kemiringan lereng dibawah 8 %, kedalaman batuan keras/lunak >100/>50 cm, kedalaman padas tebal/tipis >100/>50 cm, batuan/kerikil (7,5 cm) diatas 25, dan tidak ada potensi longsor.
B. Penelitian Yang Relevan
Penelitian sebelumnya mengenai penggunaan lahan telah banyak dilakukan di berbagai daerah. Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini diantaranya adalah:
1. Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Karakteristik Hidrologi Daerah Tangkapan Air Waduk Darma Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa barat. Tesis yang ditulis oleh Arif Ismail. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Program Magister Ilmu Geografi, Universitas Indonesia, tahun 2009. Dengan hasil penelitiannya yaitu, Perubahan penggunaan lahan terjadi didaerah tangkapan air (DTA) Waduk Darma selama kurun waktu tahun 1991 sampai tahun 2008. Jenis penggunaan lahan yang dominan berubah adalah hutan, tegalan, dan pemukiman. Jenis penggunaan lahan yang bertambah luas antara lain tegalan (242 Ha), pemukiman (68 Ha), dan kebun campur (3 Ha). Sedangkan jenis penggunaan lahan yang luasnya berkurang adalah hutan (255 Ha), semak belukar (27 Ha), sawah tadah hujan (26 Ha), dan sawah irigasi (4 Ha). 2. Analisis Time Series Faktor Sosial Ekonomi dan Kebijakan terhadap
Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan (PUSPIJAK) dan Forest Carbon Partnership Facility. Bogor, Desember 2012. Dengan hasil penelitiannya yaitu, Faktor yang mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan sangat beragam antar lokasi. Hal ini tergantung pada dinamika faktor sosial, ekonomi dan budaya serta kebijakan yang berlaku.
3. Perubahan Lahan Pertanian di Kabupaten Talakar tahun 1996 dan 2013 Menggunakan Citra Satelit Landsat 5 TM (Studi asus Kecamatan Polombangkeng Utara dan Kecamatan Pattalassang). Tugas akhir yang ditulis oleh Syamsyahrir Arsyad. Program Studi Keteknikan Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar, tahun 2013. Dengan hasil penelitian yaitu, lahan pertanian pada periode tahun 1996 hingga 2010 mengalami penyusutan lahan pertanian dari 24.219,09 ha atau 95% dari total luas area pada tahun 1996 menjadi 20.758,41 ha atau 82% dari total luas area pada tahun 2010. 4. Perubahan Penggunaan Lahan dan Pengaruhnya terhadap Keberadaan
Situ (Studi Kasus Kota Depok). Tesis yang ditulis oleh Rosnila. Pascasarana Institut Pertanian Bogor, tahun 2004. Dengan hasil penelitiannya yaitu luas di tujuh situ selama kurun waktu 1991-2001 memiliki kecenderungan menurun. Kondisi umum ketujuh situ telah mengalami sedimentasi, banyaknya gulma yang tumbuh, pengurugan dan alih fungsi lahan di areal situ.
C. Kerangka Berpikir
Perubahan penggunaan lahan yang dihitung adalah pada tahun 1993 dan tahun 2013 dengan mencari selisih luas lahan dalam kurun waktu 20 tahun. Penggunaan lahan di Desa Pagedangan disebabkan oleh beberapa faktor. Sesuai dengan teori faktor-faktor pendorong perubahan penggunaan lahan menurut McNeill, ada empat faktor yaitu ekonomi, politik, demografi, dan budaya.
Kerangka berpikir untuk penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Penggunaan Lahan tahun 1993
Analisis
Faktor Pendorong: Aspek Politik Aspek Ekonomi Aspek Demografi Aspek Budaya Tabel perubahan penggunaan lahan 1993-2013
Hasil analisis faktor penyebab perubahan penggunaan lahan
Hasil Penelitian
Peta RBI tahun1993
Monografi Desa tahun 2013
Gambar 2.1 Alur Penelitian
Observasi
Wawancara
Dokumentasi
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian