• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN

B. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Membina Kecerdasan

Pada bagian ini penulis akan memberikan analisis tentang data hasil lapangan yang sudah di sampaikan pada bab sebelumnya kemudian mensingkronkan dengan teori-teori yang ada. Untuk memudahkan analisis, maka akan disusun sesuai dengan pokok masalah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di SMA N 1 Bringin, sebagai berikut:

Kecerdasan spiritual seharusnya dimiliki oleh setiap manusia, karena ini merupakan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Hubungan yang membutuhkan kesadaran dan keyakinan dari dalam hati,

Dalam proses pembinaan kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin pastinya tidak selalu berjalan mulus. Guru PAI sering menemui hambatan dalam membina kecerdasan spiritual siswa. Biasanya hambatan itu muncul dari lingkungan sekolah di SMA N 1 Bringin. Meskipun demikian, tetap ada faktor pendukung dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin ini. Adapun faktor penghambat dan pendukung dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS sebagai berikut:

Menurut (JH), (AN), dan (IMR), faktor pendukung dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin yaitu semua guru dan lingkungan sekolah. Guru-guru di SMA N 1 Bringin ini sangat mendukung kegiatan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepas Allah. Meskipun tidak semua guru dan siswa di SMA N 1 Bringin ini beragama Islam, tetapi rasa toleransi mereka sangatlah tinggi. Dukungan lain yang diberikan oleh guru di SMA N 1 Bringin yaitu dengan bekerja sama menyediakan fasilitas atau sarana prasarana untuk mendukung proses pembinaan kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS, meskipun belum semua sarana prasarananya terpenuhi. Lingkungan sekitar SMA N 1 Bringin juga sangat mendukung dalam proses pembinaan kecerdasan spiritual ini. Karena lingkungan sekitarnya banyak pondok pesantren dan tidak sedikit siswa yang mondok, maka dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS juga lebih mudah, serta adanya mushola sekolah yang dapat mendukung kegiatan pembinaan kecerdasan

spiritual siswa kelas XI IPS. (JH), (AN), dan (IMR) juga memberikan ekstra kulikuler rebana, BTQ dan Qiro’, dengan melibatkan siswa- siswinya yang berada di pondok pesantren untuk lebih mendalami ilmu keagamaannya. Akan tetapi ekstra kulikuler ini juga diperuntukkan bagi siswa-siswi yang berada di rumah. Dengan diadakannya ekstra kulikuler ini maka kecerdasan spiritual siswa juga akan bertambah. Untuk ekstra rebana ini sudah berjalan selama 3 (tiga) tahun dan setiap tahunnya siswa yang ikut serta dalam ekstra rebana juga bertambah.

Adapun faktor penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin ini bermacam-macam. Menurut (JH), selama beliau mengajar di SMA N 1 Bringin kurang lebih 12 tahun masih banyak hambatan yang ditemui dalam membina kecerdasan spiritual siswa. Hambatan tersebut antara lain:

1. Kurangnya sarana prasarana di sekolah. Misalnya di SMA N 1 Bringin sebelum memulai pelajaran PAI, siswa kelas XI IPS diajak untuk membaca 1 juz Al Qur’an dengan menyiapkan potongan juz dalam Al Qur’an. Akan tetapi, potongan juz yang disediakan oleh sekolah jumlahnya terbatas sehingga tidak semua siswa mendapatkan bagiannya dan siswa harus berkelompok agar bisa membaca bersama-sama.

2. Kurangnya motivasi dari orang tua. Misalnya, tidak semua orang tua siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin ini

anaknya. Ada orang tua yang bersikap cuek dengan sekolah dan kondisi anak. Sikap cuek orang tua inilah yang akhirnya mempersulit guru dalam memberikan pembinaan kecerdasan spiritual kepada siswa. Meskipun guru berusaha untuk mengarahkan siswa melaksanakan sholat tepat waktu dan membaca Al Qur’an, tetapi ketika sampai rumah orang tua tidak memberikan dukungan/motivasi tentang keagamaan maka semua itu tidak akan berhasil.

3. Kurang mampu mengatur waktu. Banyak siswa yang masih asyik dengan dunianya sendiri. Mereka masih senang menghabiskan waktunya untuk bermain daripada mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga waktu mereka terbuang dengan percuma.

Menurut (AN), faktor penghambat dalam meningkatkan kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS adalah kurangnya kesadaran siswa untuk berubah. Meskipun (AN) dan guru PAI lainnya sudah memberikan dorongan/motivasi tapi kenyataannya siswa masih sulit untuk berubah. Di SMA N 1 Bringin setiap shalat dhuhur siswa wajib untuk berjamaah dimushola, akan tetapi masih sedikit siswa yang mau melaksanakan sholat dhuhur berjamaah tanpa paksaan. Kurangnya kesadaran siswa inilah yang akhirnya membuat guru PAI harus memaksa siswa agar melaksanakan sholat dhuhur berjamaah, dengan cara guru memaksa ini diharapkan siswa menjadi sadar dengan kewajibannya.

Meskipun dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelaas XI IPS para guru PAI sering menemukan hambatan, akan tetapi mereka memiliki solusi untuk mengatasinya. Menurut (JH), solusi untuk mengatasi hambatan tersebut yaitu dengan melakukan pertemuan dengan sesama guru PAI. Dalam pertemuan tersebut akan membahas solusi yang tepat untuk membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Setelah menemukan solusi, maka proses pembinaan kecerdasan spiritual akan dilanjutkan.

Sedangkan menurut (AN), solusi untuk menghadapi hambatan tersebut dengan ikhlas, sabar, ntrimo, dan evaluasi terhadap diri sendiri. Evaluasi ini dimaksudkan untuk menemukan kesalahan guru dalam memberikan pembelajaran PAI terhadap siswa kelas XI IPS. Setelah melakukan evaluasi diri dan menemukan kesalahan, maka guru harus mengganti cara dalam menyampaikan materi PAI supaya siswa dapat menerima pembelajaran dengan baik.

Berbeda dengan (JH) dan (AN), (IMR) berpendapat untuk menghadapi hambatan dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS adalah dengan saling mendoakan. Meskipun (IMR) juga melakukan evaluasi diri sendiri, tapi menurutnya dengan cara mendoakan maka hambatan tersebut dapat teratasi. Beliau merasa dengan cara mendoakan hubungannya dengan siswa menjadi lebih baik, dan hubungannya dengan sesama guru juga menjadi lebih baik.

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian pada bab sebelumnya, serta dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Peran guru PAI sangat berpengaruh dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Di SMA N 1 Bringin ini berperan sebagai motivator dan fasilitator. Bentuk dari peran guru PAI ini yaitu dengan memberikan motivasi atau dukungan kepada siswa. Selain itu guru PAI juga mengajak siswa kelas XI IPS untuk bersama-sama membaca Al Qur’an dan mengkaji kitab. Dengan peran guru PAI inilah anak-anak secara bertahap berubah menjadi lebih baik dan memiliki kesadaran diri untuk melaksanakan kewajibannya.

2. Ada faktor pendukung dan faktor penghambat dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Faktor pendukung berasal dari sesama guru dan lingkungan sekolah. Dukungan dari sesama guru yaitu dengan mendukung kegiatan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah meskipun tidak semua guru di SMA N 1 Bringin ini beragama Islam, dan dengan menyediakan sarana prasarana yang mendukung proses pembinaan kecerdasan spiritual. Selain itu, dukungan dari lingkungan sekolah yaitu adanya pondok pesantren, dan adanya mushola sekolah yang dapat mendukung kegiatan pembinaan kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu kurangnya sarana prasarana yang mendukung, kurangnya dorongan/motivasi dari orang tua tentang keagamaan, kurangnya kesadaran diri, dan kurangnya kemampuan siswa dalam membagi waktu.

Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa guru PAI sangat berperan dalam membina kecerdasan spiritual siswa kelas XI IPS di SMA N 1 Bringin. Meskipun ada faktor penghambatnya akan tetapi guru PAI dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi siswa yang masih kesulitan dalam meningkatkan kecerdasan spiritualnya.

B. Saran-Saran

Dengan beberapa kesimpulan yang diperoleh dari analisis data, maka dapat diajukan beberapa harapan dan saran-saran sebagai berikut: 1. Kepada Guru PAI

Sebagai guru PAI harus lebih sabar dalam menghadapi siswa- siswinya yang masih sangat membutuhkan bimbingan dalam meningkatkan kecerdasan spiritualnya. Dan lebih memperhatikan siswa yang memiliki sifat tertutup agar siswa tersebut mau membuka diri dan mau menerima motivasi/dorongan yang disampaikan oleh

Sebagai siswa harus selalu patuh dan taat, baik kepada orang tua maupun kepada gurunya serta selalu menghormati dan berbuat baik antar sesama siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Agustian, Ary Ginanjar, 2001, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), Bandung: Arga.

Akhyak, M., 2007, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda Karya. Arifin, M., 2009, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press.

Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek,

Jakarta: Rineka Cipta.

Ati, Ayuning Mustika, 2008, Manajemen Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia. Azzet, Ahmad Muhaimin, 2010, Ilmu Akhlak, Bandung: Pustaka Setia.

Darajat, Zakiyah, 2006, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Jakarta: Balai Pustaka.

Jamhari, Ahmad, 2011, Peran Guru Dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Dan Spiritual (ESQ) Siswa Di MA Al Hidayah Candi

Kecamatan Bandungan, Skripsi tidak diterbitkan, Salatiga: Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga.

Moleong, 2008, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

_______, 2011, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Mualifah, 2008, Peran dan Fungsi Orangtua dalam Mengembangkan Kecerdasan, Bandung: UPI Press.

Mulyasa, Enco, 2012, Manajemen Pendidikan Berbasis Masyarakat, Jakarta: Rajawali Press.

Nasution, 2003, Metodologi Research Penelitian Ilmia (Online), (https://pengertianpengertian.blogspot.co.id/2011/10/pengertian- dokumentasi.html, diakses tanggal 22 April 2017)

Nazarudin, 2009, Manajemen Pembelajaran, Yogyakarta: Teras.

Otapiyani, Dita Indi Nur, 2012, Nilai-Nilai Spiritual Dalam Novel Syahadat Cinta Karya Taufiqurrahman Al-Azizy, Skripsi tidak diterbitkan, Salatiga: Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga.

Prawira, Purwa Atmaja, 2003, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta: Airlangga. Raco, J.R., 2010, Metode Penelitian Kualitatif, Jakarta: Grasindo.

Sanjaya, Wina, 2010, Peran Guru dalam Proses Pembelajaran, Jakarta: Sinar Baru Algesindo.

Sugiyono, 2006, Metode Peneliian Kuantitatif Kualitatif, Bandung: Alfabeta. _______, 2011, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Bandung:

Alfabeta.

Suharsono, 2003, Pendidikan Karakter, Bandung: Rosda Karya.

Sukmadinata, Nana Syaodih, 2013, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Surayin, 2011, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Bandung: Yrama Widya.. Syaebani, Beni Ahmad, 2010, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia. Zohar dan Marshall, 2001, SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual, Jakarta:

PEDOMAN WAWANCARA

A. Untuk guru PAI

1. Sejak kapan Bapak/Ibu mulai mengajar di SMA Negeri 1 Bringin?

2. Bagaimana kesan pertama Bapak/Ibu terhadap SMA Negeri 1 Bringin ini, khususnya terhadap siswa-siswinya? Bagaimana tentang tingkah lakunya, minat belajar Agama Islamnya, Aplikasi/praktek ibadahnya?

3. Terkait dengan profesi Bapak/Ibu sebagai guru Pendidikan Agama Islam yang dituntut tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga memberikan dorongan/motivasi di dalam maupun di luar pembelajaran, bagaimana cara Bapak/Ibu untuk memotivasi siswa agar peserta didik mampu meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan juga dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?

4. Bagaimana dengan kecerdasan spiritual siswa di SMA Negeri 1 Bringin? 5. Seperti apa bentuk-bentuk pemberian motivasi kepada siswa?

6. Dalam kegiatan pembelajaran, apa saja yang Bapak/Ibu persiapkan sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

7. Media dan metode apa yang Bapak/Ibu gunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam?

8. Apakah Bapak/Ibu pernah melaksanakan pembelajaran di luar kelas atau di luar lingkungan sekolah? Jika pernah dimana? Mengapa?

10.Bagaimana hasil atau peningkatan dari pemberian motivasi kepada siswa? 11.Bagaimana tanggapan atau respon pada siswa setelah mendapatkan pembinaan

spiritual dari Bapak/Ibu?

12.Dalam proses tersebut pasti terdapat hambatan dan hal-hal yang mendukung. Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat Bapak/Ibu sebagai guru PAI dan atau motivator untuk meningkatkan kecerdasan spiritual siswa?

B. Untuk siswa

1. Apakah anda semangat mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam? 2. Apakah guru Pendidikan Agama Islam sering memberi motivasi ketika pelajaran

berlangsung dan di luar jam pelajaran? 3. Bagaimana guru menyampaikan motivasinya?

4. Media apa saja yang sering dipakai guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dikelas?

5. Metode apa saja yang sering dipakai guru Pendidikan Agama Islam dalam mengajar dikelas?

6. Apakah proses pembelajaran pernah dilakukan di luar kelas atau di luar lingkungan sekolah?

7. Bagaimana sikap anda terhadap guru?

8. Apakah anda mampu menerima perubahan menjadi lebih baik?

9. Apakah anda mampu beradaptasi di setiap lingkungan yang baru?

DOKUMENTASI KEGIATAN

2. Wawancara dengan Guru PAI

a. Bapak Jumhadi (JH)

c. Ibu Indana Mashlahatur Rifqoh

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Pribadi

Nama Lengkap : Inggi Putri Pradana NIM : 111-13-028

Tempat, Tanggal Lahir : Kabupaten Semarang, 22 Januari 1996 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat sekarang : Dusun Ngasinan, Rt: 05/Rw: 05, Desa Sendang Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang B. Orang Tua

Ayah : Sutikno Ibu : Siti Rohmah Pekerjaan : Pegawai Swasta

C. Riwayat Pendidikan No Instansi Pendidikan Masu k Lulu s 1. SD N Sendang 01 2001 2007 2. SMP N 1 Bringin 2007 2010 3. SMA N 1 Bringin 2010 2013 4. SI IAIN Salatiga 2013 2017

Dokumen terkait