• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

3. Faktor pendukung dan penghambat penerapan e-prescribing

Hasil analisis tematik dari wawancara terhadap 20 responden memunculkan lima tema yang menggambarkan faktor pendukung dan faktor penghambat penerapan peresepan elektronik di RS Harapan Kota Magelang.

a. Self Reflection

Self reflection merupakan suatu tindakan untuk mengulas kembali mengenai sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya. Self reflection akan membentuk pola pikir seseorang untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan diri untuk mencapai tujuan sehingga ketika di masa depan menjumpai situasi yang serupa dapat bertindak lebih baik (21). Self reflection pada penelitian ini menggambarkan keinginan kuat tenaga kesehatan terkait untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan dirinya dalam mewujudkan tujuan penerapan resep elektronik. Hal ini terungkap dari petikan hasil wawancara dengan responden sebagai berikut :

“...Kalo di sisi supporting, kita lebih ke monitoring jadi awalnya kita tetep akan support dalam bentuk pelatihan kemudian kita lihat seberapa besar progress dari tiap tiap pengguna mungkin dokter, mungkin apoteker yang lain nah itu dari progress itu nanti apa yang bisa kita simpulkan gitu, kalo dari IT maksudnya kita bisa analisis dari situ nah kita karena itu system juga dari vendor, jadi sistem kita bukan bikin sendiri, kita dari Rumah Sakit pesan di salah satu vendor misalkan dari kesulitan kesulitan tadi, dari progress-progress yang sudah dilaksanakan ada kendala-kendala dan di tim kita, tim supporting IT itu sendiri belum bisa provide solusi, kita akan kontak ke vendor...” (Responden 2)

b. Policy

Policy atau kebijakan merupakan suatu arah tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu atau merealisasikan suatu sasaran atau maksud tertentu (22). Prinsip tindakan

26 tersebut berupa regulasi dari rumah sakit yang berupa kebijakan, panduan penggunaan, dan Standar Prosedur Operasional (SPO) peresepan elektronik. Policy atau kebijakan tersebut akan menuntun pada tujuan penerapan peresepan elektronik. Dalam implementasi kebijakan dipengaruhi oleh variabel yang saling berhubungan yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui SPO yang dicantumkan dalam kebijakan(22). Penerapan kebijakan dan implementasi program tidak terlepas dari peran aktif top manajemen dalam mempromosikan dan melakukan tindakan yang mendukung berjalannya suatu program. Sehingga dengan adanya suatu dukungan dari manajemen yang berupa kebijakan maka pada level pelaksana dalam menjalankan program tersebut akan merasa terlindungi. Hal ini terungkap dari petikan hasil wawancara dengan responden sebagai berikut :

“... perlu adanya kebijakan resmi dari atasan, yang istilahnya memberlakukan bahwa e-resep itu maksudnya bisa dilaksanakan di Rumah Sakit gitu lho. Jadi ada kebijakan resminya, lalu sarana dan prasarana juga harus didukung....”

(Responden 10) c. Perceived advantages

Perceived advantages atau persepsi tentang manfaat merupakan manfaat yang dirasakan dari keyakinan tentang hasil positif yang terkait dengan perilaku dalam menanggapi ancaman nyata atau apa yang dirasakan. Indikator dari perceived benefit adalah nilai emosional dan nilai fungsional. Nilai emosional adalah hal perasaan dan afektif yang diterima terkait suatu produk sehingga pengguna merasa nyaman dan baik.

Nilai fungsional adalah manfaat yang diharapkan diterima dari kualitas suatu produk(23). Dari tema tersebut dengan diterapkannya peresepan elektronik responden merasa termotivasi untuk melakukannya karena adanya manfaat yang baik dari resep elektronik.

Berikut pernyataan yang mewakili hal tersebut:

“...Sebenarnya kami semua termotivasi dengan penerapan resep ini, karena kalau e-resep ini berjalan salah satunya itu kan bisa mengurangi waktu tunggu pasien ya, selain itu meminimalkan kesalahan pemberian obat...” (Responden 10)

“... kalau saya pribadi harapannya dengan e-resep ini malah justru mempermudah peresepan sehingga, dan terutama untuk pasiennya sendiri tidak wira-wiri kesana

27 kesini … jadi tidak one stop service ya …seperti itu [dan] biar resepnya itu tidak hilang...” (Responden 5)

d. Capacity Building

Capacity building (pengembangan kapasitas) merupakan suatu proses yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang, suatu organisasi atau suatu sistem untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Milen, pengembangan kapasitas merupakan proses berkesinambungan dari individu, organisasi atau institusi yang tidak hanya terjadi satu kali(24). Pengembangan kapasitas merupakan proses internal yang bisa dilakukan dengan adanya bantuan dari luar individu yang melakukannya.

Pengembangan kapasitas responden untuk menggunakan e-prescribing dapat dilakukan dengan pelatihan-pelatihan baik internal maupun eksternal. Hal ini terungkap dalam petikan hasil wawancara sebagai berikut:

“... program kerja di IT yaitu ada edukasi-edukasi atau diklat yang ingin kami lakukan yaitu istilahnya kita mau mengupgrade skill-skill kita yang sudah ada ya, misalnya ada dari pihak rumah sakit diklat itu untuk membuat pelatihan atau istilahnya mengikutkan IT unutk ikut pelatihan-pelatihan yang bisa mendukung kerja di rumah sakit...”

(Responden 2)

“...mengajukan ke Rumah sakit unutk dilakukan pelatihan ulang yang kesemuanya itu ikut baik perawat maupun dokter yang ada di IGD tapi itu secara terstruktur jadi menjelaskan e-resep itu seperti apa cara pengoperasiannya bagaimana cara mengatasinya bagaimana gitu tidak cuma mendampingi saat pengisian e-resep itu...”

(Responden 1) e. Quality Assurance

Quality assurance atau pengendalian mutu merupakan suatu mekanisme kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap pelayanan untuk memastikan suatu aktivitas dijalankan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (25).

Penjaminan mutu pada pelayanan resep menggunakan e-prescribing diharapkan dapat terbentuk proses peningkatan pelayanan resep yang berkesinambungan melalui penggunaan e-prescribing.

Berikut pernyataan yang mewakili dari tema tersebut:

“...sejauh pemikiran saya kalo di peresepan elektronik ini berjalan, seharusnya kepuasan pasiennya meningkat, karena kan jalan yang diambil pasien untuk obat,

28 untuk memasukkan resep gitu kan jadi lebih singkat jadi pasiennya mudah ga bolak-balik...” (Responden 14)

“…kalau dukungan mungkin perlu adanya kebijakan resmi dari atasan, yang istilahnya memberlakukan bahwa e-resep itu maksudnya bisa dilaksanakan di Rumah Sakit gitu lho. Jadi ada kebijakan resminya, lalu tentu dari sarana dan prasarana juga harus didukung seperti tadi yang udah disampaikan ada komputer, jaringan internet juga harus bagus, ada sistemnya juga yang memadai, lalu mungkin juga ada pelatihan-pelatihan juga...” (Responden 10)

Gambar 4. Diagram tema faktor pendukung dan penghambat penerapan e-prescribing di RS Harapan Kota Magelang.

Dari Gambar 4 di atas dapat dijelaskan bahwa policy dan self reflection akan mempengaruhi perceived advantages, sedangkan masing-masing dari self reflection, policy maupun perceived avdantages akan mempengaruhi capacity building yang nantinya akan mempengaruhi dalam impelementasi peresepan elektronik. Dari kesemuanya itu akan dipengaruhi oleh quality assurance. Pemahaman dan refleksi diri dari masing-masing kan mempengaruhi mengenai persepsi manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan resep elektronik. Policy atau kebijakan dari pimpinan akan mempengaruhi SELF REFLECTION POLICY

PERCEIVED ADVANTAGES

CAPACITY BUILDING

E PRESCRIBING IMPLEMENTATION

QUALITY ASSURANCE

29 persepsi manfaat dari pelaksanaan resep elektronik yang nantinya dapat mempengaruhi pengembangan kapasitas sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi pada pelaksanaan peresepan elektronik. Dari ketiga komponen di atas yaitu self reflection, policy dan perceived advantages akan mempengaruhi perubahan perilaku dalam penerapan peresepan elektronik.

Refleksi diri, kebijakan, dan persepsi manfaat dari masing-masing individu ini akan mempengaruhi dalam pengembangan kapasitas dalam penerapan peresepan elektronik. Pengembangan kapasitas merupakan proses yang dilakukan secara berkesinambungan tidak hanya satu kali (24). Dalam penerapan peresepan elektronik, pengembangan kapasitas ini dapat dilakukan dengan adanya pelatihan oleh IT terhadap semua pengguna program resep elektronik. Pelatihan yang diberikan terhadap pengguna sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali ada baiknya dilakukan secara berulang sehingga pengguna merasa nyaman dan mahir dalam melakukannya. Setelah dilakukan pelatihan dan dilakukan evaluasi secara berkesinambungan maka resep elektronik dapat diimplementasikan. Dari keseluruhan proses penerapan peresepan elektronik perlu adanya penjaminan mutu dalam pelaksanaannya. Penjaminan mutu ini merupakan suatu mekanisme untuk memantau dan memberikan penilaian terhadap penerapan peresepan elektronik. Indikator dari penjaminan mutu dapat berupa aspek klinis, efektivitas, keselamatan pasien dan kepuasan pasien(25).

Berdasarkan poin-poin respon responden dalam penerapan peresepan elektronik di RS Harapan, peneliti dapat mengidentifikasi faktor pendukung sekaligus faktor penghambat dalam penerapan peresepan elektronik. Faktor pendukung sekaligus faktor penghambat dalam penerapan peresepan elektronik adalah :

1. Self Reflection

Self reflection merupakan keterampilan dan pengetahuan yang dapat dilatih untuk mendapatkan pengetahuan dan cara pandang baru. Self reflection ini dapat digunakan unutk menilai kinerja profesionalitas dan kebutuhan bagi pengembangan diri sehingga dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan yang digunakan untuk menyusun rencana tindak lanjut untuk dapat memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan dirinya. Apabila faktor ini dapat dijalankan maka dapat menjadi faktor pendukung karena dari masing-masing individu dapat memahami dan

30 meningkatkan kemampuan dirinya sehingga dapat menjalankan apa saja yang sudah direncanakan.

2. Policy

Policy atau kebijakan merupakan suatu arah tindakan yang diusulkan untuk merealisasikan suatu sasaran atau maksud tertentu. Prinsip tindakan tersebut berupa regulasi dari rumah sakit yang berupa kebijakan, panduan penggunaan, dan Standar Prosedur Operasional (SPO). Kebijakan ini merupakan salah satu bentuk dari komitmen pimpinan untuk memberikan dukungan penuh pada pelaksanaan peresepan elektronik. Faktor komitmen ini ketika tidak dijalankan dengan baik, akan menjadi penghambat dalam penerepan peresepan elektronik. Namun sebaliknya akan menjadi faktor pendukung apabila faktor dijalankan dengan baik.

3. Perceived advantages

Perceived advantages atau persepsi manfaat merupakan keyakinan tentang hasil positif yang terkait dengan perilaku dalam menanggapi apa yang dirasakan. Hal ini dapat diindikasikan oleh poin pernyataan responden 1-20 merasa termotivasi untuk melakukannya karena adanya manfaat yang baik dari resep elektronik. Faktor ini merupakan faktor pendukung yang dapat mempengaruhi dalam penerapan peresepan elektronik. Dengan manfaat yang ditawarkan dari penerapan peresepan elektronik dapat mempengaruhi positif dari sikap pengguna aplikasi resep elektronik.

4. Capacity building

Capacity building (pengembangan kapasitas) merupakan suatu proses yang dapat meningkatkan kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemampuan tersebut meliputi pengembangan sumber daya fisik, pengembangan proses operasional, dan pengembangan sumber daya manusia. Faktor ini merupakan faktor pendukung yang dapat mempengaruhi penerapan resep elektronik jika dilaksanakan dengan baik. Namun dapat menjadi faktor penghambat jika tidak dilaksanakan.

Dengan adanya pelatihan baik kepada bagian IT maupun pengguna serta adanya kualitas yang baik dari aplikasi baik software, hardware dan jaringan yang disediakan akan dapat mendukung proses peresepan elektronik dapat berjalan dengan baik.

5. Quality assurance

31 Quality assurance atau pengendalian mutu merupakan kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan. Faktor ini merupakan faktor pendukung karena dengan adanya pengendalian mutu maka pelaksanaan resep elektronik itu akan selalu dipantau dan dievaluasi mengenai sehingga dapat diharapkan pelaksanaan peresepan elektronik dapat berjalan dengan baik.

32

Dokumen terkait