• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

4. Instrumen Penelitian

Instrumen pada penelitian ini berupa panduan wawancara yang disusun berdasarkan kerangka teori COM-B (Capability, Opportunity, Motivation, Behavior). Panduan wawancara diuji validitasnya secara profesional judgement.

Validasi dengan pendekatan profesional judgement dalam penelitian ini adalah sebuah proses dalam menguji kelayakan konten dan kelayakan bahasa panduan wawancara melalui penilaian dari seseorang yang profesional di bidangnya, dalam hal ini adalah apoteker yang memahami tentang perubahan perilaku tenaga kesehatan (19).

18 5. Pengolahan dan analisis data

Data dari wawancara di transkrip secara kata demi kata (verbatim).

Transkripsi wawancara diperiksa ulang oleh personil yang berbeda untuk memastikan akurasinya. Transkrip verbatim dianalisis secara konten dan tematik dengan mengacu pada rumusan masalah dan tujuan penelitian. Analisis konten ini digunakan untuk memahami pesan simbolik dalam bentuk dokumen, lukisan, karya sastra, artikel dan sebagainya yang berupa data tak berstruktur. Kegiatan analisis ini meliputi membaca, mencatat data, membaca ulang, mengidentifikasi data, mengklasifikasi data, membahas data dan penyajian data. Analisis tematik adalah jenis analisa kualitatif yang digunakan untuk menganalisis klasifikasi dan menyajikan tema (pola) yang berhubungan dengan data, serta menggambarkan secara detail dan berhubungan dengan beragam subyek melalui interpretasi.

Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis tematik adalah sebagai berikut:

1. Membaca ulang hasil transkripsi verbatim yang akurat agar dapat lebih mengenali data, serta membuat catatan atau menandai ide untuk menemukan kode awal yang kemudian siap untuk proses pengkodean yang lebih formal.

2. Menentukan kode awal yaitu berupa topik atau makna tertentu yang muncul secara berulang dari transkripsi, makna yang muncul diambil variasi sebanyak mungkin, dikelompokkan untuk kemudian ditandai dengan kode berbeda.

3. Menetukan tema dengan cara menginterpretasikan dan menganalisa kode-kode yang sudah dibuat lalu disusun menjadi beberapa tema. Kode-kode yang berisi berbagai tema kemudian digabung untuk membentuk tema yang lebih luas dan menyeluruh mencakup tema utama dari penelitian.

4. Mengkaji tema, yaitu sebuah proses analisa tema dengan mengulas berbagai tema yang sudah ditemukan secara mendalam. Fase pertama dari proses ini adalah dengan cara menggabungkan maupun memisahkan berbagai temuan tema secara berulang hingga terbentuk pola tema yang berhubungan. Fase kedua adalah validasi peta tematik yang terbentuk dengan cara mengkaji apakah tema tersebut sudah merepresentasikan makna yang akurat sesuai tujuan penelitian.

Fase terakhir adalah mengkodekan kembali peta tematik yang sudah ditetapkan sebagai tema akhir yang akan menjadi pembahasan.

19 5. Mendefinisikan dan memberi nama tema, yaitu proses pemberian nama pada ekstrak tema akhir yang dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah nama tematik yang berhubungan. Proses berikutnya adalah memberikan narasi dengan cara mendefinisikan dan membahas tema tersebut secara mendalam.

6. Melaporkan tema, yaitu dengan melaporkan hasil pembahasan analisis tema pada penelitian secara tertulis terkait deskripsi data, dan argumen yang menjawab pada penelitian ini (20).

6. Ijin dan Ethical clearence

Ijin dari penelitian ini diajukan kepada Direktur Rumah Sakit Harapan Kota Magelang. Ethical clearence diajukan kepada Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta dan telah mendapatkan Surat Kelaikan Penelitian dengan nomor: 199.3/FIKES/PL/IX/2020 yang ditetapkan pada tanggal 16 September 2020.

20 7. Langkah-langkah tahap penelitian

Gambar 2. Bagan alir tahap-tahap penelitian.

Perijinan dan Ethical clearence

Validasi instrumen penelitian

Rekrutmen sampel penelitian

Pengambilan data

Pengolahan data

Analisis data

Penyusunan naskah publikasi dan tesis

Submite naskah publikasi

Accepted

Ujian Tesis

21 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sejumlah 20 responden diwawancarai. Dari analisis data diperoleh hasil berupa lima tema yang menggambarkan faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan e-prescribing. Kelima tema tersebut yaitu self reflection, policy, perceived advantages, capacity building dan quality assurance. Kelima tema tersebut merepresentasi faktor pendukung dan penghambat penerapan e-prescribing di RS Harapan Kota Magelang Jawa Tengah. Berikut pemaparan hasil penelitian dan pembahasannya, dengan urutan sebagai berikut: 1) Karakteristik responden; 2) Alur pengoperasian e-prescribing; 3) Faktor pendukung dan penghambat penerapan e-prescribing di RS Harapan Kota Magelang.

1. Karakteristik responden

Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan lama bekerja. Berdasarkan hasil penelitian dapat dideskripsikan karakteristik responden dalam Tabel 1.

Tabel 1. Karakteristik responden penelitian

No Karakteristik F %

c. Tenaga teknis kefarmasian d. Perawat

22 Berdasarkan karakteristik demografi responden, mayoritas responden merupakan perempuan dengan jumlah 13 orang (65%). Berdasarkan usia responden, yang paling tua berada pada usia 50 tahun sebanyak 1 orang sedangkan usia termuda ada 1 orang dengan usia 22 tahun. Rentang usia terbanyak adalah 30-40 tahun (60%). Berdasarkan profesi dari responden yang paling banyak adalah tenaga kefarmasian (40%) yang terdiri dari Apoteker (15%) dan Tenaga Teknis Kefarmasian (25%). Berdasarkan lama bekerja ada 1 responden yang mempunya masa kerja paling lama yaitu 23 tahun, sedangkan yang terbanyak berada di rentang 1 – 5 tahun (45%).

2. Alur pengoperasian peresepan elektronik

Gambar 3. Alur pengoperasian resep elektronik di IGD Rumah Sakit Harapan Kota Magelang Jawa Tengah.

Sistem resep elektronik di Rumah Sakit Harapan Magelang dijalankan melalui 5 tahap user, yaitu petugas admisi, dokter IGD, perawat IGD, petugas farmasi rawat jalan, dan petugas billing. Petugas admisi bertugas untuk memasukkan data pasien ke dalam sistem, output yang diperoleh berupa informasi data diri pasien. Data pasien tersebut terintegrasi langsung ke unit terkait lainnya. Setelah pemeriksaan oleh dokter IGD, maka perawat melakukan input tindakan ke billing system dan

23 dokter dapat meng-input obat yang diresepkan dan aturan pakainya ke dalam sistem.

Data tersebut akan terintegrasi ke bagian farmasi dan billing, sehingga pasien tidak perlu lagi membawa resep ke bagian farmasi. Selanjutnya petugas farmasi rawat jalan melihat antrian e-resep dalam sistem, kemudian petugas melakukan pengkajian terhadap resep. Apabila resep ada yang tidak jelas atau tidak lengkap maka petugas farmasi akan melakukan konfirmasi ke dokter penulis resep. Setelah dilakukan pengkajian resep dan resep tersebut telah sesuai maka petugas farmasi akan merubah e-resep tersebut ke dalam nomor DU bill obat yang terhubung langsung ke bagian billing dan mencetak etiket obat. Bagian billing akan melihat tagihan baik dari tindakan, penunjang, maupun obat untuk dikonfirmasikan pada pasien.

Tabel 2. Pengalaman responden dalam mengoperasikan peresepan elektronik untuk pelayanan kepada pasien yang digali berdasarkan konstruk teori COM-B (Capability, Opportunity, Motivation, and Projected Behavior)

Domain Pengalaman responden yang terungkap melalui wawancara Persentase (n=20) Capability 1. Pemahaman responden mengenai resep elektronik 100

2. Pemahaman responden terhadap tujuan diterapkannya peresepan elektronik

75

3. Pemahaman responden terhadap sarana dan prasana yang dibutuhkan dalam penerapan peresepan elektronik

100

4. Pemahaman responden terhadap alur kerja dari peresepan elektronik

85

5. Pemahaman responden terhadap ketrampilan yang dibutuhkan dalam penerapan resep elektronik

90

6. Pemahaman responden mengenai hal-hal yang mendukung untuk meningkatkan kemampuan responden dalam melaksanakan resep elektronik

90

Opportunity 1. Pemahaman responden terhadap dukungan yang diberikan pimpinan rumah sakit dalam penerapan e-resep

20

24 2. Pemahaman responden terhadap ketersediaan buku

panduan praktis e-resep di unit

10

3. Pemahaman responden terhadap SPO resep elektronik 10 4. Pemahaman responden mengenai bentuk dukungan

unit untuk melaksanakan peresepan elektronik

100

5. Pemahaman responden mengenai bantuan yang diberikan kolega dalam unit untuk menerapkan resep elektronik

100

6. Pemahaman responden terhadap alur koordinasi antar unit dalam penerapan resep elektronik

90

7. Pemahaman responden dalam pengatasan permasalahan jika terjadi permasalahan teknis dalam penerapan resep elektronik

100

Motivation 1. Pemahaman responden mengenai penilaian dari konsumen setelah dilakukan penerapan resep elektronik

0

2. Pemahaman responden mengenai motivasi dari diri pribadi untuk melaksanakan resep elektronik

100

Projected Behavior

1. Pemahaman responden terhadap rencana yang akan dilakukan untuk penerapan resep elektronik

100

2. Pemahaman responden terhadap harapan dari responden dalam penerapan resep elektronik

100

Hasil analisis konten dari wawancara terhadap 20 responden dapat menunjukkan gambaran penerapan peresepan elektronik di RS Harapan. Uji coba penerapan e-resep semula berjalan dengan baik, namun pada saat pengambilan data oleh peneliti ditemukan bahwa penerapan e-resep tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Dari hasil wawancara diperoleh gambaran bahwa dari pengguna mendukung adanya resep elektronik karena dari pengguna merasakan manfaat yang diperoleh dalam penerapannya.

Selain itu, pengguna juga mempunyai motivasi dan harapan yang baik supaya peresepan elektronik tersebut dapat berjalan dengan lancar. Dari hasil wawancara juga tersirat bahwa pengguna membutuhkan dukungan dari pimpinan untuk dapat melaksanakan

25 peresepan elektronik. Bentuk dukungan yang diharapkan dari pengguna tidak hanya berupa sarana dan prasarana yang disediakan tetapi juga berupa regulasi untuk menjalankan resep elektronik tersebut. Regulasi yang diharapkan oleh pengguna dalam bentuk kebijakan, panduan dan Standar Prosedur Operasional (SPO) untuk dapat melaksanakan resep elektronik. Sehingga dengan adanya regulasi tersebut pengguna merasa dapat menjalankan e-resep dengan baik.

3. Faktor pendukung dan penghambat penerapan e-prescribing

Hasil analisis tematik dari wawancara terhadap 20 responden memunculkan lima tema yang menggambarkan faktor pendukung dan faktor penghambat penerapan peresepan elektronik di RS Harapan Kota Magelang.

a. Self Reflection

Self reflection merupakan suatu tindakan untuk mengulas kembali mengenai sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya. Self reflection akan membentuk pola pikir seseorang untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan diri untuk mencapai tujuan sehingga ketika di masa depan menjumpai situasi yang serupa dapat bertindak lebih baik (21). Self reflection pada penelitian ini menggambarkan keinginan kuat tenaga kesehatan terkait untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan dirinya dalam mewujudkan tujuan penerapan resep elektronik. Hal ini terungkap dari petikan hasil wawancara dengan responden sebagai berikut :

“...Kalo di sisi supporting, kita lebih ke monitoring jadi awalnya kita tetep akan support dalam bentuk pelatihan kemudian kita lihat seberapa besar progress dari tiap tiap pengguna mungkin dokter, mungkin apoteker yang lain nah itu dari progress itu nanti apa yang bisa kita simpulkan gitu, kalo dari IT maksudnya kita bisa analisis dari situ nah kita karena itu system juga dari vendor, jadi sistem kita bukan bikin sendiri, kita dari Rumah Sakit pesan di salah satu vendor misalkan dari kesulitan kesulitan tadi, dari progress-progress yang sudah dilaksanakan ada kendala-kendala dan di tim kita, tim supporting IT itu sendiri belum bisa provide solusi, kita akan kontak ke vendor...” (Responden 2)

b. Policy

Policy atau kebijakan merupakan suatu arah tindakan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu atau merealisasikan suatu sasaran atau maksud tertentu (22). Prinsip tindakan

26 tersebut berupa regulasi dari rumah sakit yang berupa kebijakan, panduan penggunaan, dan Standar Prosedur Operasional (SPO) peresepan elektronik. Policy atau kebijakan tersebut akan menuntun pada tujuan penerapan peresepan elektronik. Dalam implementasi kebijakan dipengaruhi oleh variabel yang saling berhubungan yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Mekanisme implementasi program biasanya sudah ditetapkan melalui SPO yang dicantumkan dalam kebijakan(22). Penerapan kebijakan dan implementasi program tidak terlepas dari peran aktif top manajemen dalam mempromosikan dan melakukan tindakan yang mendukung berjalannya suatu program. Sehingga dengan adanya suatu dukungan dari manajemen yang berupa kebijakan maka pada level pelaksana dalam menjalankan program tersebut akan merasa terlindungi. Hal ini terungkap dari petikan hasil wawancara dengan responden sebagai berikut :

“... perlu adanya kebijakan resmi dari atasan, yang istilahnya memberlakukan bahwa e-resep itu maksudnya bisa dilaksanakan di Rumah Sakit gitu lho. Jadi ada kebijakan resminya, lalu sarana dan prasarana juga harus didukung....”

(Responden 10) c. Perceived advantages

Perceived advantages atau persepsi tentang manfaat merupakan manfaat yang dirasakan dari keyakinan tentang hasil positif yang terkait dengan perilaku dalam menanggapi ancaman nyata atau apa yang dirasakan. Indikator dari perceived benefit adalah nilai emosional dan nilai fungsional. Nilai emosional adalah hal perasaan dan afektif yang diterima terkait suatu produk sehingga pengguna merasa nyaman dan baik.

Nilai fungsional adalah manfaat yang diharapkan diterima dari kualitas suatu produk(23). Dari tema tersebut dengan diterapkannya peresepan elektronik responden merasa termotivasi untuk melakukannya karena adanya manfaat yang baik dari resep elektronik.

Berikut pernyataan yang mewakili hal tersebut:

“...Sebenarnya kami semua termotivasi dengan penerapan resep ini, karena kalau e-resep ini berjalan salah satunya itu kan bisa mengurangi waktu tunggu pasien ya, selain itu meminimalkan kesalahan pemberian obat...” (Responden 10)

“... kalau saya pribadi harapannya dengan e-resep ini malah justru mempermudah peresepan sehingga, dan terutama untuk pasiennya sendiri tidak wira-wiri kesana

27 kesini … jadi tidak one stop service ya …seperti itu [dan] biar resepnya itu tidak hilang...” (Responden 5)

d. Capacity Building

Capacity building (pengembangan kapasitas) merupakan suatu proses yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang, suatu organisasi atau suatu sistem untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Milen, pengembangan kapasitas merupakan proses berkesinambungan dari individu, organisasi atau institusi yang tidak hanya terjadi satu kali(24). Pengembangan kapasitas merupakan proses internal yang bisa dilakukan dengan adanya bantuan dari luar individu yang melakukannya.

Pengembangan kapasitas responden untuk menggunakan e-prescribing dapat dilakukan dengan pelatihan-pelatihan baik internal maupun eksternal. Hal ini terungkap dalam petikan hasil wawancara sebagai berikut:

“... program kerja di IT yaitu ada edukasi-edukasi atau diklat yang ingin kami lakukan yaitu istilahnya kita mau mengupgrade skill-skill kita yang sudah ada ya, misalnya ada dari pihak rumah sakit diklat itu untuk membuat pelatihan atau istilahnya mengikutkan IT unutk ikut pelatihan-pelatihan yang bisa mendukung kerja di rumah sakit...”

(Responden 2)

“...mengajukan ke Rumah sakit unutk dilakukan pelatihan ulang yang kesemuanya itu ikut baik perawat maupun dokter yang ada di IGD tapi itu secara terstruktur jadi menjelaskan e-resep itu seperti apa cara pengoperasiannya bagaimana cara mengatasinya bagaimana gitu tidak cuma mendampingi saat pengisian e-resep itu...”

(Responden 1) e. Quality Assurance

Quality assurance atau pengendalian mutu merupakan suatu mekanisme kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap pelayanan untuk memastikan suatu aktivitas dijalankan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan (25).

Penjaminan mutu pada pelayanan resep menggunakan e-prescribing diharapkan dapat terbentuk proses peningkatan pelayanan resep yang berkesinambungan melalui penggunaan e-prescribing.

Berikut pernyataan yang mewakili dari tema tersebut:

“...sejauh pemikiran saya kalo di peresepan elektronik ini berjalan, seharusnya kepuasan pasiennya meningkat, karena kan jalan yang diambil pasien untuk obat,

28 untuk memasukkan resep gitu kan jadi lebih singkat jadi pasiennya mudah ga bolak-balik...” (Responden 14)

“…kalau dukungan mungkin perlu adanya kebijakan resmi dari atasan, yang istilahnya memberlakukan bahwa e-resep itu maksudnya bisa dilaksanakan di Rumah Sakit gitu lho. Jadi ada kebijakan resminya, lalu tentu dari sarana dan prasarana juga harus didukung seperti tadi yang udah disampaikan ada komputer, jaringan internet juga harus bagus, ada sistemnya juga yang memadai, lalu mungkin juga ada pelatihan-pelatihan juga...” (Responden 10)

Gambar 4. Diagram tema faktor pendukung dan penghambat penerapan e-prescribing di RS Harapan Kota Magelang.

Dari Gambar 4 di atas dapat dijelaskan bahwa policy dan self reflection akan mempengaruhi perceived advantages, sedangkan masing-masing dari self reflection, policy maupun perceived avdantages akan mempengaruhi capacity building yang nantinya akan mempengaruhi dalam impelementasi peresepan elektronik. Dari kesemuanya itu akan dipengaruhi oleh quality assurance. Pemahaman dan refleksi diri dari masing-masing kan mempengaruhi mengenai persepsi manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan resep elektronik. Policy atau kebijakan dari pimpinan akan mempengaruhi SELF REFLECTION POLICY

PERCEIVED ADVANTAGES

CAPACITY BUILDING

E PRESCRIBING IMPLEMENTATION

QUALITY ASSURANCE

29 persepsi manfaat dari pelaksanaan resep elektronik yang nantinya dapat mempengaruhi pengembangan kapasitas sehingga pada akhirnya dapat mempengaruhi pada pelaksanaan peresepan elektronik. Dari ketiga komponen di atas yaitu self reflection, policy dan perceived advantages akan mempengaruhi perubahan perilaku dalam penerapan peresepan elektronik.

Refleksi diri, kebijakan, dan persepsi manfaat dari masing-masing individu ini akan mempengaruhi dalam pengembangan kapasitas dalam penerapan peresepan elektronik. Pengembangan kapasitas merupakan proses yang dilakukan secara berkesinambungan tidak hanya satu kali (24). Dalam penerapan peresepan elektronik, pengembangan kapasitas ini dapat dilakukan dengan adanya pelatihan oleh IT terhadap semua pengguna program resep elektronik. Pelatihan yang diberikan terhadap pengguna sebaiknya tidak hanya dilakukan satu kali ada baiknya dilakukan secara berulang sehingga pengguna merasa nyaman dan mahir dalam melakukannya. Setelah dilakukan pelatihan dan dilakukan evaluasi secara berkesinambungan maka resep elektronik dapat diimplementasikan. Dari keseluruhan proses penerapan peresepan elektronik perlu adanya penjaminan mutu dalam pelaksanaannya. Penjaminan mutu ini merupakan suatu mekanisme untuk memantau dan memberikan penilaian terhadap penerapan peresepan elektronik. Indikator dari penjaminan mutu dapat berupa aspek klinis, efektivitas, keselamatan pasien dan kepuasan pasien(25).

Berdasarkan poin-poin respon responden dalam penerapan peresepan elektronik di RS Harapan, peneliti dapat mengidentifikasi faktor pendukung sekaligus faktor penghambat dalam penerapan peresepan elektronik. Faktor pendukung sekaligus faktor penghambat dalam penerapan peresepan elektronik adalah :

1. Self Reflection

Self reflection merupakan keterampilan dan pengetahuan yang dapat dilatih untuk mendapatkan pengetahuan dan cara pandang baru. Self reflection ini dapat digunakan unutk menilai kinerja profesionalitas dan kebutuhan bagi pengembangan diri sehingga dapat mengetahui kelemahan dan kekuatan yang digunakan untuk menyusun rencana tindak lanjut untuk dapat memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan dirinya. Apabila faktor ini dapat dijalankan maka dapat menjadi faktor pendukung karena dari masing-masing individu dapat memahami dan

30 meningkatkan kemampuan dirinya sehingga dapat menjalankan apa saja yang sudah direncanakan.

2. Policy

Policy atau kebijakan merupakan suatu arah tindakan yang diusulkan untuk merealisasikan suatu sasaran atau maksud tertentu. Prinsip tindakan tersebut berupa regulasi dari rumah sakit yang berupa kebijakan, panduan penggunaan, dan Standar Prosedur Operasional (SPO). Kebijakan ini merupakan salah satu bentuk dari komitmen pimpinan untuk memberikan dukungan penuh pada pelaksanaan peresepan elektronik. Faktor komitmen ini ketika tidak dijalankan dengan baik, akan menjadi penghambat dalam penerepan peresepan elektronik. Namun sebaliknya akan menjadi faktor pendukung apabila faktor dijalankan dengan baik.

3. Perceived advantages

Perceived advantages atau persepsi manfaat merupakan keyakinan tentang hasil positif yang terkait dengan perilaku dalam menanggapi apa yang dirasakan. Hal ini dapat diindikasikan oleh poin pernyataan responden 1-20 merasa termotivasi untuk melakukannya karena adanya manfaat yang baik dari resep elektronik. Faktor ini merupakan faktor pendukung yang dapat mempengaruhi dalam penerapan peresepan elektronik. Dengan manfaat yang ditawarkan dari penerapan peresepan elektronik dapat mempengaruhi positif dari sikap pengguna aplikasi resep elektronik.

4. Capacity building

Capacity building (pengembangan kapasitas) merupakan suatu proses yang dapat meningkatkan kemampuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kemampuan tersebut meliputi pengembangan sumber daya fisik, pengembangan proses operasional, dan pengembangan sumber daya manusia. Faktor ini merupakan faktor pendukung yang dapat mempengaruhi penerapan resep elektronik jika dilaksanakan dengan baik. Namun dapat menjadi faktor penghambat jika tidak dilaksanakan.

Dengan adanya pelatihan baik kepada bagian IT maupun pengguna serta adanya kualitas yang baik dari aplikasi baik software, hardware dan jaringan yang disediakan akan dapat mendukung proses peresepan elektronik dapat berjalan dengan baik.

5. Quality assurance

31 Quality assurance atau pengendalian mutu merupakan kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap kegiatan yang dilakukan. Faktor ini merupakan faktor pendukung karena dengan adanya pengendalian mutu maka pelaksanaan resep elektronik itu akan selalu dipantau dan dievaluasi mengenai sehingga dapat diharapkan pelaksanaan peresepan elektronik dapat berjalan dengan baik.

32 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

1. Sistem resep elektronik di Rumah Sakit Harapan dijalankan melalui 5 tahap user yaitu petugas admisi, dokter IGD, perawat IGD, petugas farmasi, dan petugas billing. Penerapan resep elektronik belum dapat berjalan dengan optimal karena dari pengguna merasa belum ada dukungan dari pimpinan yang berupa regulasi dalam penerapan peresepan elektronik.

2. Faktor pendukung penerapan peresepan elektronik di RS Harapan adalah self reflection, policy, perceived advantages, capacity building dan quality assurance, sedangkan faktor penghambatnya adalah policy dan capacity building. Faktor penghambat ini jika dilaksanakan maka dapat berperan sebagai faktor pendukung dari penerapan peresepan elektronik di RS Harapan.

2. Saran

1. Perlu adanya komitmen dari pimpinan yang berupa regulasi supaya peresepan elektronik dapat berjalan di Rumah Sakit Harapan.

2. Perlu dilakukan pelatihan secara menyeluruh terhadap seluruh petugas yang berkaitan dengan penerapan peresepan elektronik.

33 DAFTAR PUSTAKA

1. Andhini RS. Rancang Bangun Perangkat Lunak E-Health. 2007.

2. Alfah R, Nova Megariani T, Rusdina. Sistem E – Prescribing Dan Barcode System Untuk Resep. Jtiulm. 2018;3(2):59–70.

3. Margareta WS, Iwan D. Peran Resep Elektronik dalam meningkatkan Medication Safety pada proses peresepan. J Manaj Pelayanan Kesehat. 2014;17(1):30–6.

4. Sabila FC, Oktarlina RZ, Utami N. Peresepan Elektronik (E-Prescribing) Dalam Menurunkan Kesalahan Penulisan Resep. J Major. 2018;7(3):271–5.

5. Pratiwi PS dan L. E-Prescribing : Studi Kasus Perancangan dan Implementasi Sistem Resep Obat Apotik Klinik. Indones J Comput Sci. 2013;10(4):9–14.

6. Putu Kusumarini , Iwan Dwiprahasto PW. Penerimaan Dokter dan waktu tunggu pada Peresepan elektronik dibandingkan peresepan manual. J Manaj Pelayanan Kesehat. 2011;14(03):133–8.

7. Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

7. Menteri Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

Dokumen terkait