PAPARAN DATA PENELITIAN
B. Paparan Data Penelitian
2) Faktor Penghambat:
a) Kurangnya pengalaman dan pemahaman keagamaan dari individu.
Siswa-siswa SMAN 1 Pekalongan mempunyai latar belakang dari keluarga yang bermacam-macam. Mulai dari yang religius sampai dapat dikatakan latar belakang keluarga biasa saja terhadap kehidupan religius. Nampaknya ini akan berdampak bagaimana siswa-siswi berpeilaku keagamaan dan sosial disekolah. Seseorang anak akan melakukan sikap keagamaan yang tinggi jika memang secara pengalaman sudah mendapatkan materi ilmu tentang agama yang sudah memumpuni. Sebagai contoh untuk siswa SMAN 1 yang tinggal dipesantren dalam kegiatan ibadah agama yang lebih diperhatikan mengingat mengerti dasar dari apa yang akan dilakukan. Begitu pula perilaku sosialnya siswa yang sosialnya baik dikeluarga dan lingkungan rumah maka sosial di sekolah juga akan baik.
b) Kesadarannya dan semangat untuk belajar serta mengikuti Organisasi Keagamaan di Sekolah yang Kecil.
Secara pertumbuhan umur bagi pelajar sekolah Menengah Atas adalah umur yang memang mempunyai kecenderungan untuk melakukan hal yang menyenangkan tanpa memperhitungkan akibatnya. Sikap ingin hidupnya senang-senang dialami pada saat umur SMA ini.
Biasanya dasar seorang siswa untuk melakukan suatu hal karena adanya pengalaman dan lingkungan setempat. Melihat siswa-siswi SMAN 1 yang berbasis sekolah umum membuat aktivitas keagamaan akan menjadi pendorong dalam perperilaku. Sosial yang yang sesuai norma akan dapat dihasilkan dari adanya pengalaman dan kedalaman keagamaan. Tetapi cukup memperhatikan jika kesadaran dan semangat belajar siswa sedikit dan melemah. Maka yang terjadi adalah kurangnya kontrol hidup dan bisa jadi jauh dari agama.
Organisasi atau kegiatan yang ada di sekolah tidak menjamin secara menyeluruh memberikan perubahan bagi siswa dalam hal berperialku agama dan sosial, tetapi setidaknya ada kontribusi yang diberikan bagi para siswa yang mengikuti kegiatan terssebut. Karena bagaimanpun juga saat berkecimbung dengan dunia organisasi maka aka nada interaksi dengan teman-temannya.
c) Jumlah pertemuan belajar agama di kelas yang relatif sedikit. Pendidikan agama Islam memberikan materi ajar tentang bagaimana dapat berperilaku sesuai ajaran sehingga menjadi manusia yang berpengetahuan dan beriman serta bertaqwa. Pendidikan Islam mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan dengan baik tidak terlepas dari hubungan bagaimana hubungan kepada Tuhannya maupun hubungan dengan sesama makhluk yaitu manusia. Tujuannya hubungan ini diatur dalam kehidupan sehari-hari adalah agar adanya keseimbangan hidup didunia dan akhirat.
Ketentuan dalam kurikulum 2013 dengan waktu 3 x 45 menit dalam sepekan membuat sekolah khususnya guru agama ektra dalam memberikan pembelajaran dikelas. Materi agama yang menekankan tidak hanya normatif dan pengetahuan saja, tetapi harus dapat memberikan hal yang dapat mengubah perilaku keagamaan dan sosial siswa dilingungan sekolah. Tugas guru akan lebih sulit karena setidaknya agama bisa menjadi patokan untuk seorang siswa siswi dalam berperilaku.
d) Kurangnya motivasi dari individu, teman dan keluarga.
Motivasi merupakan dorongan dan kemauan yang ada pada diri seseorang. Dorongan ini muncul karena adanya dari dirinya sendiri maupun dari luar. Terkdang semangat seseorang bisa menjadi lemah karena berkurangnya doronga itu sendiri.
Akibatnya untuk mersepon dan bergerak melakukan kegiatan pun menjadi kecil dan tidak semangat.
Para siswa-siswi SMAN 1 Pekalongan tentu sebagai manusia umumnya tentunya sangat membutuhkan dengan motivasi baik motivasi dari diri sendiri maupun motivasi dari luar. Kedua motivasi ini berguna untuk bisa meningkatkan kesemangatan dalam perilaku keagamaan dan sosial. Diakui atau tidak Terkadang siswa ada yang merasa masih gengsi bila menampilkan perilaku keagamaan. Dari itulah perlunya motivasi dari beberapa orang yang ada disekitarnya. Siapa lagi kalau bukan orang tua dari keluarga, guru dari sekolah, serta teman-teman yang selalu bersamanya. Jika dari orang tua, guru dan teman sudah sangat berperan dan memperhatikan motivasi kepada siswa ini akan berdampak sekali kaitannya dengan nantinya siswa akan berperilaku sesuai agama dan sosialnya.
e) Faktor Psikologi Siswa.
Faktor psikis atau jiwa seorang siswa juga berdampak pada pola pikir dan bertindaknya dalam kesehariannya. Dalam psikologi pendidikan seorang siswa juga akan dipengaruhi oleh lingkungan yang ada. Jika dikaitkan dengan psikologi agama maka fungsi psikologi agama menyadarkan dan mengembangkan serta menumbuhkan seseorang dalam berperilaku keagamaan. Begitu juga dengan sosialnya karakteristik siswa, termasuk proses
kognitif, lingkungan, serta adat dan kebudayaan akan menjadi bagiann dari yang akan mempengaruhi dalam berpeilku sosial.
b.
Faktor Pendukung dan Penghambat pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Perilaku Keagamaan dan Sosial di SMAN 3 Pekalongan.1. Faktor Pendukung
a) SMAN 3 Pekalongan termasuk sekolah unggulan di kota Pekalongan
Bagi warga Kota pekalongan khsususnya dan sekitar Pekalongan tentunya kebanggan sendiri bagi orang tua untuk bisa mnyekolah anaknya di SMAN 3 Pekalongan. Karena memang sekolah ini termasuk sekolah unggulan, dari itu siswa yang masuk dan lolos otomatis dari karakter intelektual kemampuan yang cukup. Sehingga apabila bibitnya sudah baik akan menghasilakn buah yang baik pula hanya butuh pengolalan yang seuai dan baik b) Kesemangatan guru dalam mendidik anak
Salah satu tokoh yang sangat berperan peserta didik untuk bisa memaksimalkan potensinya adalah peran guru karena sebagai mediator utama dalam memperoleh ilmu, pengetahuan dan ketrampilan. Untuk dapat membentuk perilaku keagamaan dan sosial yang baik disini para guru SMAN 3 Pekalongan mau dan siap dengan semaksimal mungkin untuk berihtiar secara sungguh-sungguh, ulet, konsisten dan semangat dalam membina dan
membimbing para siswa. Misalkan disini dari gurunya sendiri sudah memberikan teladan kepada muridnya otomatis ini langkah dalam strategi guru bisa memberikan kontribuasi untuk siswanya agar berperilaku agama dan sosial dengan baik
c) Adanya perlengkapan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan. Perlengkapan dan sarana prasarana yang lengkap paling tidak tersedianya kebutuhan untuk waktu yang sedang diperlukan ini akan berdampak pada kemudahan dan kelancaran dalam membimbing siswa. Adanya masjid, alat speaker, al-Quran yang menjadi inti alat peraga seudah terpenhu di SMAN 3 Peklaonagan. d) Evaluasi dan pengawasan yang selalu dilakukan oleh pihak
sekolah.
Keberhasilan lembaga dalam mencapai tujuannya adalah berjalannya fungsi dari komponen lembaga itu. Secara menajement SMAN 3 Pekalongan dari segala komponen telah memaksimlakan dalam kinerja kerjanya sehingga hasilnyapun dapat dirasakan oleh bersama. Evaluasi dan pengawasan kepada peserta didik khususnya oleh guru dan khususnya guru PAI dalam membimbing dan menumbuhkan Perilaku Keagamaan dan Sosial sudah dilaksanakan Dalam implementasinya selanjutnya para guru khusunya guru PAI kapanpun selama siswa masih dilingkungan sekolah akan selalu menjadi tanggung jawab guru.