2. Alih kode
2.2 Faktor penyebab alih kode
Terdapat tujuh faktor penyebab penggunaan alih kode yang ditemukan dalam penelitian ini. Tujuh faktor penyebab penggunaan alih kode tersebut, meliputi: (a) faktor pengkhususan mitra tutur, (b) pergantian topik, (c) faktor perasaan marah, (d) pengaruh bahasa mitra tutur, (e) situasi kelas, (f) faktor agama, dan (g) faktor penguasaan bahasa. Penjelasan faktor-faktor penyebab alih kode beserta data nampak pada penjelasan berikut.
a. Faktor pengkhususan mitra tutur
Faktor pengkhususan mitra tutur merupakan salah salah satu alasan yang menyebabkan seseorang melakukan alih kode. Dalam data ini dijelaskan alih kode yang dilakukan oleh guru karena faktor pengkhususan mitra tutur.
Data [D98/SOK3]
Guru : Jal sing urung diteliti bu guru mau, salah pira? Sapa sing ora
bener kabeh? Sapa sing bener kabeh? Mbak Rani salah berapa?
‘Yang belum diteliti bu guru, salah berapa? Siapa yang tidak benar semua? Siapa yang benar semua? Mbak Rani salah berapa?’ Penggunaan alih kode pada kutipan data di atas merupakan alih kode yang berwujud alih bahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Awalnya guru memberikan beberapa kali pertanyaan menggunakan bahasa Jawa untuk menanyakan kepada seluruh siswa didalam kelas mengenai hasil pekerjaan mereka. Pertanyaan pertama menanyakan kepada siswa yang pekerjaannya belum diteliti oleh guru mendapatkan salah berapa. Kemudian guru berlanjut menanyakan siapa yang tidak benar semua dan siapa yang benar semua. Namun kemudian guru beralih menggunakan bahasa Indonesia saat bertanya kepada satu siswa, yang ditunjukkan dalam tuturan ‘Mbak Rani salah berapa?’. Faktor penyebab penggunaan alih kode, adanya pengkhususan mitra tutur nampak saat awalnya guru menggunakan bahasa Jawa untuk bertanya kepada seluruh siswa, kemudian beralih menggunakan bahasa Indonesia untuk bertanya kepada satu siswa.
Data [D129/SEM6]
Guru : Sing wis rampung sapa? ‘Siapa yang sudah selesai?’ Siswa : Belum pak.
Guru : Lita sudah? Siswa : Belum pak.
Penggunaan alih kode pada kutipan data di atas merupakan alih kode yang berwujud alih bahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Awalnya guru menggunakan bahasa Jawa untuk bertanya kepada para siswa, hal ini ditandai dengan tuturan ‘Sing wis rampung sapa?’. Kemudian guru beralih menggunakan bahasa Indonesia saat bertanya kepada satu siswa, yaitu Lita, yang ditandai dalam tuturan ‘Lita sudah?’.Alih kode dalam kutipan data ini terjadi karena adanya faktor pengkhususan mitra tutur.
b. Pergantian topik
Pergantian topik dapat menjadi faktor penyebab seseorang melakukakn alih kode. Salah satu data menyebutkan adanya penggunaan alih kode yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Jawa di kelas dipengaruhi oleh faktor perubahan topik.
Data [D57/SOK6]
Guru : Sinten ingkang badhe bayar? Sekarang tanggal berapa? Data pada kutipan di atas merupakan alih kode yang berwujud bahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. penggunaan alih kode dilakukan oleh guru saat akan memulai pembelajaran bahasa Jawa di dalam kelas. Awalnya guru menanyakan kepada siswa menggunakan bahasa Jawa yang nampak dalam tuturan ‘Sinten ingkang badhe bayar?’, ternyata pertanyaan tersebut bukanlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Siswa yang akan membayar langsung maju kedepan tanpa menjawab pertanyaan guru. Karena tidak adanya jawaban, kemudian guru bertanya menggunakan bahasa Indonesia mengenai topik yang lain, terlihat dalam
tuturan ‘Sekarang tanggal berapa?’. Penggunaan alih kode tersebut terjadi karena adanya perubahan topik yang dilakukan oleh penutur sendiri, tanpa adanya pengaruh tuturan dari mitra tutur.
Data [D54/SOK6]
Guru : Selamat pagi. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakattuh. Siswa : Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakattuh.
Guru : Sing ra masuk sapa? ‘Siapa yang tidak masuk?’
Data dalam kutipan di atas merupakan alih kode yang berwujud bahasa, dari bahasa Arab ke bahasa Jawa. Awalnya guru mengucapkan salam menggunakan bahasa Arab yang ditandai dalam kutipan ‘Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakattuhu’ kemudian setelah mendapat jawaban dari siswa,
guru beralih menggunakan bahasa Jawa untuk menanyakan siapa yang tidak masuk pada hari itu. Dalam hal ini alih kode terjadi karena adanya perubahan topik, dari guru yang awalnya mengucapkan salam kemudian beralih melakukan presensi siswa. Selain itu, alih kode terjadi juga karena adanya pengaruh guru yang memiliki latar belakang sebagai seorang muslim.
c. Faktor perasaan marah
Faktor perasaan marah menjadi salah satu faktor penyebab seseorang melakukakn alih kode. Data dalam penelitian ini menjelaskan adanya penggunaan alih kode yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Jawa di kelas.
Data [D115/SOK6]
Guru : Apa to manfaate dolan? Tidak ada. ‘Apa to manfaatnya bermain? Tidak ada.
Penggunaan alih kode pada kutipan data di atas merupakan alih kode yang berwujud alih bahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. awalnya guru bertanya menggunakan bahasa Jawa kepada para siswa mengenai manfaat bermain. Kemudian secara tegas guru menjawab pertanyaannya sendiri menggunakan bahasa Indonesia, bahwa bermain itu tidak memiliki manfaat, yang ditandai dalam tuturan ‘Tidak ada’. Faktor penggunaan alih kode dalam data ini adalah faktor perasaan marah guru yang mendapati para siswanya tidak selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Fungsi alih kode dalam data ini untuk memberikan nasihat kepada para siswa bahwa tidak ada manfaat dari bermain, sehingga siswa tidak lagi melalaikan pekerjaan rumah hanya karena bermain.
d. Pengaruh bahasa mitra tutur
Faktor penyebab seseorang melakukakn alih kode dapat berupa adanya pengaruh bahasa dari mitra tutur. Data dalam penelitian ini menjelaskan adanya penggunaan alih kode yang dilakukan dalam pembelajaran bahasa Jawa di kelas karena adanya pengaruh bahasa dari mitra tutur.
Data [D20/KEM6]
Guru : Dina iki bu guru ngisi pelajaran basa Jawa. Sinten ingkang boten mlebet?
‘Hari ini bu guru mengisi pelajaran bahasa Jawa. Siapa yang tidak masuk?’
Siswa : Nihil, bu.
Guru : Masuk semua ya.
Kutipan data di atas merupakan wujud penggunaan alih kode yang berupa alih bahasa, yaitu dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Awalnya guru menggunakan bahasa Jawa untuk bertanya kepada para siswa, menanyakan siswa yang tidak masuk. Guru mendapatkan jawaban dari siswa bahwa ‘Nihil’ yang
artinya masuk semua. Guru menggunakan bahasa Indonesia saat memberikan respon atas jawaban siswa tersebut yang ditandai dalam tuturan ‘Masuk semua ya‘.
Data [D45/SOK3]
Guru : Tanda wacan iku apa? ‘ Tanda baca itu apa?’ Siswa : Tanda baca, bu. Guru : Apa saja?
Pada data [D45/SOK3] awalnya guru menggunakan bahasa Jawa untuk memulai bertanya, namun ketika jawaban yang diterima dari siswa menggunakan bahasa Indonesia, guru beralih menggunakan bahasa Indonesia untuk menjelaskan lebih mendalam mengenai pertanyaan yang disampaikan tersebut. Penggunaan bahasa Jawa ditandai dalam kutipan ‘Tanda wacan iku apa?’ yang kemudian dilanjutkan dengan beralih ke bahasa Indonesia yang ditandai dalam kutipan ’ Apa saja?’. Penggunaan bahasa Jawa ke bahasa Indonesia tersebut dipengaruhi oleh jawaban siswa yang ditandai dalam tuturan ‘Tanda baca, bu ‘. Kutipan data tersebut menjelaskan bahwa faktor pengaruh bahasa mitra tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode.
e. Situasi kelas
Situasi kelas menjadi salah satu alasan seorang penutur melakukan alih kode. Dalam penelitian ini ditemukan adanya penggunaaan alih kode yang disebabkan oleh situasi kelas.
Data [D72/SEM3]
Guru : Gembira Loka nandi ya? Dimana? ‘Gembira Loka dimana ya? Dimana? Siswa : Jogja.
Guru : Iya bener. ‘ Iya benar.’
Alih kode dalam data di atas merupakan alih kode yang berwujud alih bahasa, dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Guru memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai letak Gembira Loka, Hal tersebut nampak pada kutipan ‘Gembira Loka nandi ya? Dimana?’. Awalnya guru menggunakan bahasa Jawa saat bertanya. Sebelum ada jawaban dari siswa tiba-tiba guru beralih menggunakan bahasa Indonesia untuk menanyakan hal yang sama. Guru mengulang pertanyaan dengan makna yang sama menggunakan bahasa Indonesia untuk lebih menegaskan pertanyaannya mengenai letak Gembira Loka. Faktor penyebab penggunaan alih kode dalam kutipan tersebut adalah situasi kelas yang kurang kondusif sehingga guru perlu mempertegas pertanyaan agar siswa dapat fokus dan menjawab pertanyaan yang disampaikan.
Data [D76/SEM3]
Guru : Garapen nang buku! Bukunya dikeluarkan! ‘Kerjakan di buku. Bukunya dikeluarkan!’
Data dalam kutipan di atas merupakan alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia. Kedua kalimat tersebut menunjukkan adanya perintah yang disampaikan oleh guru. Walaupun sama-sama perintah, namun memiliki makna yang berbeda. Kalimat pertama meminta siswa untuk mengerjakan tugas pada buku, sedangkan kalimat kedua menyuruh siswa untuk mengeluarkan buku. Hal ini disebabkan oleh situasi kelas yang terjadi, para siswa belum mengeluarkan buku pelajaran saat guru meminta mengerjakan, kemudian guru beralih bahasa untuk menyuruh mereka mengeluarkan buku pelajaran.
f. Faktor agama
Dalam penelitian ini ditemukan adanya penggunaaan alih kode yang disebabkan oleh faktor agama.
Data [D54/SOK6]
Guru : Selamat pagi. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakattuh. Siswa : Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakattuh.
Guru : Sing ra masuk sapa? ‘Siapa yang tidak masuk?’
Data dalam kutipan di atas merupakan alih kode yang berwujud bahasa, dari bahasa Arab ke bahasa Jawa. Awalnya guru mengucapkan salam menggunakan bahasa Arab yang ditandai dalam kutipan ‘Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakattuhu’ kemudian setelah mendapat jawaban dari siswa,
guru beralih menggunakan bahasa Jawa untuk menanyakan siapa yang tidak masuk pada hari itu. Dalam hal ini alih kode terjadi karena adanya perubahan topik, dari guru yang awalnya mengucapkan salam kemudian beralih melakukan presensi siswa. Selain itu, alih kode terjadi juga karena adanya pengaruh guru yang memiliki latar belakang sebagai seorang muslim. Sebagian besar siswa juga memiliki latar belakang agama yang sama, sehingga alih kode dalam data tersebut tidak menunjukkan adanya kecanggungan antara siswa dan guru. Alih kode dari bahasa Arab ke bahasa Jawa dalam hal pengucapan salam sudah menjadi hal yang biasa dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas.
g. Faktor penguasaan bahasa
Faktor penguasaan bahasa merupakan salah salah satu alasan yang menyebabkan seseorang melakukan alih kode. Dalam penelitian ini ditemukan
alih kode yang dilakukan oleh guru karena faktor penguasaan bahasa Jawa siswa kurang baik, yang dapat dicermati pada data dengan kode: [D17/KEM3]
Data [D17/KEM3]
Guru : Sampun jelas dereng? Sampun cetha dereng? Dirungakake
sepisan malih nggih. Menawi sampun, dongeng niku wau dicritake malih ngagem ukarane dhewe. Dadi nganggo basane dhewe.
Diringkes, yen diringkes saya sithik apa saya akeh?
‘Sudah jelas belum? Didengarkan sekali lagi. Kalau sudah, dongengnya diceritakan kembali menggunakan kalimatnya sendiri. Jadi menggunakan bahasanya sendiri. Diringkas, kalau diringkas semakin sedikit atau banyak?’
Alih kode dalam data ini dilakukan oleh guru dalam pembelajaran bahasa Jawa di kelas. Awalnya guru menjelaskan materi menggunakan bahasa Jawa ragam krama, kemudian untuk memperjelas penjelasan sebelumnya, guru beralih menggunakan ragam ngoko. Faktor penyebab penggunaan ragam krama ke ngoko adalah faktor penguasaan bahasa mitra tutur yang tidak semuanya paham dengan ragam krama, sehingga guru melakukan alih kode ke ragam ngoko supaya siswa dapat memahami dengan jelas perintah yang disampaikan.
Berdasarkan analisis hasil penelitian, faktor penyebab penggunaan alih kode meliputi: (a) faktor pengkhususan mitra tutur, (b) pergantian topik, (c) faktor perasaan marah, (d) pengaruh bahasa mitra tutur, (e) situasi kelas, (f) faktor agama, dan (g) faktor penguasaan bahasa. Hasil analisis dalam penelitian menunjukkan bahwa penyebab tertinggi penggunaan alih kode adalah faktor pengaruh bahasa mitra tutur.