• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Penyebab dan Dampak Serta Arah Kebijakan Pemerintah Dalam Upaya Antisipasi Tindak Pidana Korupsi

PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI

A. Faktor Penyebab dan Dampak Serta Arah Kebijakan Pemerintah Dalam Upaya Antisipasi Tindak Pidana Korupsi

Perilaku korupsi dewasa ini mengalami pergeseran yang cukup signifikan dari masa ke masa.Modus operandi, tujuan serta pelaku korupsi semakin hari kian berkembang mengikuti perkembangan teknologi dan zaman.Secara garis besarnya tindak korupsi pada dasarnya bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri.Perilaku korupsi menyangkut beberapa hal yang bersifat kompleks.Faktor-faktor penyebabnya bisa dari internal pelaku-pelaku korupsi, tapi bisa juga berasal dari situasi liungkungan yang kondusif bagi seorang untuk melakukan korupsi.Pada buku Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional (SPKN) yang diterbitkan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada tahun 1999, telah diidentifikasikan bahwa faktor-faktor penyebab korupsi di Indonesia terdiri atas 4 (empat) aspek, Yaitu :67 1. Aspek perilaku individu, yaitu faktor-faktor internal yang mendorong seseorang

melakukan korupsi seperti adanya sifat tamak, moral yang kurang kuat menghadapi godaan, penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan hidup yang

67 Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Tim Pengkajian SPKN, Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Korupsi pada Pengelolaan Kepegawaian,(Jakarta: BPKP) hal.1.

wajar, kebutuhan hidup yang mendesak, gaya hidup konsumtif, malas atau tidak mau bekerja keras, serta tidak diamalkannya ajaran-ajaran agama secara benar.

2. Aspek organisasi, yaitu kurang adanya keteladanan dari pimpinan, kultur organisasi yang tidak benar, sistim akuntabilitas yang tidak memadai, kelemahan penggendalian sistim manajemen, manajemen cenderung menutupi perbuatan korupsi yang terjadi dalam organisasi.

3. Aspek masyarakat, yaitu berkaitan dengan lingkungan masyarakat dimana individu dan organisasi itu berada, seperti nilai-nilai yang berlaku yang kondusif untuk terjadinya korupsi, kurangnya kesadaran bahwa yang paling dirugikan dari terjadinya praktik korupsi adalah masyarakat yang mereka sendiri terlibat praktik korupsi, serta pencegahan dan pemberantasan korupsi hanya akan berhasil bila masyarakat ikut berperan aktif. Selain itu adanya penyalah artian pengertian-pengertian dalam budaya bangsa Indonesia.

4. Aspek peraturan undangan, yaitu terbitnya peraturan perundang-undangan yang bersifat monopolistic yang hanya menguntungkan kerabat dan atau krooni penguasa Negara, kualitas peraturan perundang-undangan yang kurang memadai, judicial reviewyang kurang efektif, penjatuhan sanksi yang terlalu ringan, penerapan sanksi tidak konsisten dan pandang bulu, serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan perundang-undangan.

Disamping hal tersebut terdapat pula beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya korupsi yang secara universal berkembang ditengah masyarakat dan penyelenggara Negara. Hal mana banyak terjadi belakangan ini dalam upaya pemberantasan korupsi yang gencar dilakukan pemerintah, beberapa faktor yang sering dijadikan alasan dan berkembang sebagai faktor penyebab korupsi yaitu :68

a. Penegakan Hukum yang tidak konsisten, penegakan hukum hanya sebagai make up politik, sifatnya sementara, selalu berubah setiap berganti pemerintahan.

b. Penyalahgunaan kekuasaan/wewenang, takut dianggab bodoh kalau tidak menggunakan kesempatan.

c. Langkanya lingkungan yang anti korup, sistim dan pedoman anti korupsi hanya dilakukan sebatas formalitas.

d. Rendahnya pendapatan penyelenggara Negara. Pendapatan yang diperoleh harus mampu memenuhi kebutuhan penyelenggara Negara, mampu mendorong penyelenggara Negara untuk berprestasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

e. Kemiskinan keserakahan, masyarakat kurang mampu melakukan korupsi karena kesulitan ekonomi. Sedangkan mereka yang berkecukupan melakukan korupsi karena serakah, tidak puas dan menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan.

68 Arya Maheka, Mengenali dan Memahami Korupsi,(Jakarta: KPK RI) hal.23.

f. Budaya memberi upeti, imbalan jasa dan hadiah.

g. Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah dari pada keuntungan korupsi, dimana saat ditangkap bisa menyuap penegak hukum sehingga dibebaskan atau setidaknya diringankan hukumannya.

h. Budaya permisif/serba membolehkan, tidak mau tahu, mengganggab biasa bila ada korupsi, karena sering terjadi, tidak peduli orang lain, asal kepentingan sendiri terlindungi.

i. Gagalnya pendidikan agama dan etika, ada benarnya pendapat Franz Magnis Suseno bahwa agama telah gagal menjadi pembendung moral bangsa dalam mencegah korupsi karena perilaku masyarakat yang memeluk agama itu sendiri.

Pemeluk agama menganggap agama hanya berkutat pada masalah bagaimana cara beribadah saja. Sehingga agama nyaris tidak berfungsi dalam memainkan peran sosial. Menurut Franz, sebenarnya agama bisa memainkan peran yang lebih besar dalam konteks kehidupan sosial dibandingkan institusi lainnya.

Sebab, agama memiliki relasi atau hubungan emosional dengan para pemeluknya. Jika diterapkan dengan benar kekuatan relasi emosional yang dimiliki agama bisa menyadarkan umat bahwa korupsi bisa membawa dampak yang sangat buruk.

Melihat beberapa faktor penyebab terjadinya perilaku korupsi, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa korupsi banyak terjadi dimulai dari lingkup

pemerintahan yang berkaitan dengan pembangunan dalam kegiatan pengadaan barang dan jasa. Arah kebijakan pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam konstitusi yang bertujuan untuk kemakmuran atau kesejahteraan masyarakat yang diwujudkan oleh pemerintah sering tidak mencapai sasaran karena pembangunan yang dilaksanakan disegala bidang dengan menggunakan sumber dana dari pemerintah baik APBN ataupun APBD diselewengkan dari berbagai sektor baik oleh penyelenggaran, pengusaha, broker (perantara). Berangkat dari kegiatan pembangunan dalam bentuk pengadaan barang dan jasa tersebutlah, akhirnya perilaku korupsi tersebut berkembang kebentuk lainnya seperti suap, pemerasan, penggelapan dalam jabatan, gratifikasi dan lain sebagainya.

Berdasarkan pendapat beberapa pakar hukum yang menyatakan bahwa semakin gencarnya dilakukan penegakan hukum terhadap pelakau tindak pidana, maka kejahatan tersebut akan semakin meningkat. Hal ini dapat dibuktikan bahwa meskipun aparat penegak hukum telah berupaya semaksimal mungkin menangkap dan menghukum pelaku, namun kejahatan tersebut semakin meningkat. Demikian juga halnya terhadap penegakan hukum perkara tindak pidana korupsi.Alhasil yang terjadi dengan gencarnya penindakan hukum terhadap pelaku korupsi berdampak pada terhambatnya laju pertumbuhan ekonomi dan rendahnya penyerapan anggaran baik APBN maupun APBD.

Selain berakibat terhalangnya pertumbuhan ekonomi, sektor pembangunan juga mengalami keterlambatan.Pembangunan infrastruktur disegala bidang akhirnya menimbulkan kesenjangan di masyarakat sehingga terjadi krisis kepercayaan oleh masyarakat terhadap pemerintahan.Dampak lainnya yang lebih berbahaya adalah terjadinya krisis moral dilapisan masyarakat mulai dari masyarakat awam, kaum terpelajar, pejabat pemerintahan/publik hingga politisi.Kepercayaan masyarakat yang berkembang saat ini semakin merosot terhadap kebijakan pemerintah sehingga banyak terjadi protes dalam bentuk demontrasi dan cacian yang disampaikan melalui media informasi publik.Hal ini memerlukan langkah antisipasi pemerintah untuk dapat mengembalikan “Public Trust” untuk menyelamatkan Negara dan aset-aset pembangunan.

Perkembangan saat ini, sebagai upaya antisipasi penanganan perkara tindak pidana korupsi telah terjadi pergeseran paradigma penegakan hukum. Hal ini melatarbelakangi pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo melakukan pertemuan dengan seluruh Gubernur, Kepala Kejaksaan Tinggi, Kepala Kepolisian Daerah dalam rapat koordinasi di Istana Bogor pada tanggal 24 Agustus 2015. Dalam kesempatan itu, Presiden mengingatkan semua jajaran pemerintah untuk melakukan langkah antisipasi akan terjadinya perlambatan ekonomi, termasuk permasalahan

pada serapan dan belanja anggran, baik APBN, APBD Provinsi, Kota/Kabupaten, maupun BUMN.69

Langkah antisipasi pencegahan terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh pemerintah melalui aparat penegak hukumnya baik oleh Kejaksaan, Kepolisian maupun KPK, telah di intruksikan oleh Presiden. Sesuai dengan arah kebijakan dan strategi nasional sebagaimana diatur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2005-2019 tentunya mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2025 sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 disebutkan bahwa visi Pembangunan Nasional tahun 2005-2025 adalah: “INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR “.70

Sejalan dengan itu, pemerintah juga telah merumuskan 9 (Sembilan) agenda prioritas dalam pembangunan nasional kedepan yang dikenal dengan “NAWA CITA” dimana sesuai dengan nawa cita ke empat yakni memperkuat kehadiran Negara dalam melakukan reformasi system dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.71

69https://kejaksaan.go.id “Jaksa Agung dan para Kajati Hadiri Pertemuan Dengan Presiden Di Istana Bogor (27-08-2015) ,diakses tanggal 26 Desember 2017.

70Bidang Pembinaan Kejari Medan, Rencana strategis (Renstra) Kejari Medan tahun 2015-2019, (Kejari Medan.2015), hlm. 17.

71Ibid, hal 19.

Sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi oleh Kejaksaan sesuai dengan rencana strategis tahun 2015 – 2019 dijelaskan bahwa sasaran pencegahan dan pemberantasan korupsi serta peningkatan efektifitas pencegahan dan pemberantasan korupsi. Arah kebijakan dan strategi nasional yang ditetapkan pemerintah adalah :72

1. Sasaran pencegahan dan pemberantasan korupsi adalah menurunnya tingkat korupsi serta meningkatnya efektifitas pencegahan dan pemberantasan korupsi.

2. Penguatan kelembagaan dalam rangka pemberantasan korupsi, keberhasilan pemberantasan korupsi akan tergantung kepada kinerja dari Instansi yang mempunyai kewenangan dalam pemberantasan korupsi. Adanya peraturan perundang-undangan yang dapat memberikan jaminan kualitas penanganan kasus korupsi oleh KPK merupakan salah satu komponen penting. Namun demikian Kepolisian dan Kejaksaan sebagai bagian dari Instansi Penegak Hukum yang juga berwenang menangani tindak pidana korupsi juga perlu mendapatkan perhatian baik dalam hal penguatan sumber daya manusianya maupun dukungan operasional dalam melaksanakan tugas fungsi tersebut.Optimalisasi perak KPK dalam rangka melakukan fungsi koordinasi dan supervise terhadap instansi penegak hukum lain akan mendorong peningkatan kualitas maupun kuantitas penegak hukum tindak pidana korupsi di Indonesia.

72Ibid, hal 31.

3. Meningkatkan efektivitas implementasi kebijakan anti korupsi, pada tataran implementasi kebijakan, diperlukan upaya peningkatan efektivitas implementasi kebijakan anti korupsi melalui optimalisasi penanganan kasus tindak pidana korupsi, pelaksanaan kerjasama luar negeri (mutual legal assistance) dalam pengembalian asset hasil tindak pidana korupsi, serta penguatan mekanisme koordinasi dan monitoring evaluasi strategi nasional pencegahan dan pemberantasan korupsi.

4. Meningkatkan pencegahan korupsi, pada aspek preventif, diperlukan peningkatan upaya pencegahan korupsi dengan meningkatkan kesadaran dan pemahaman anti korupsi masyarakat dan penyelenggara Negara melaalui strategi pendidikan anti korupsi mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi maupun pendidikan bagi aparat penegak hukum dan penyelenggara Negara.

B. Kendala Yang Dihadapi Dalam Proses Penyidikan Dan Penuntutan dalam