PERKARA TINDAK PIDANA KORUPSI
B. Kendala Yang Dihadapi Dalam Proses Penyidikan Dan Penuntutan dalam Tindak Pidana Korupsi
1. Kendala-kendala Yuridis
Problematika secara yuridis yang dihadapi dalam percepatan penyelesaian perkara tindak pidana korupsi dalam praktek pelaksanaannya yang sering dihadapi oleh penyidik khususnya di Kejaksaan dapat diuraikan antara lain :
A. Perkara tindak pidana korupsi yang nilai kerugian keuangan negaranya kecil.
Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengatur sedikitnya tiga puluh pasal perbuatan korupsi, dari tiga puluh pasal tersebut kemudian di kelompokkan menjadi tujuh kelompok besar, berdasarkan jenis atau bentuk perbuatannya.76 Dari ketujuh kelompok tersebut yang menyangkut perbuatan korupsi berkaitan dengan kerugian keuangan Negara hanya diatur oleh 2 pasal saja yakni diatur dalam:77
a. Pasal 2 ayat (1) “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
76Kejaksaan Agung RI,Tindak pidana korupsi dalam pengadaan barang/jasa pemerintah, Jakarta: Kejagung RI,2007.hlm. 26.
77Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, Kumpulan Peraturan Perundangan tentang Tindak Pidana Korupsi dan Penjelasannya, Pustaka Jaya Abadi,2006. Hlm 70.
dapat merugikan keuangan negara atau perekonornian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”
b. Pasal 3 “Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh jutarupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”
Undang-undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara pada pasal 1 menjelaskan pengertian Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. 78 Selanjutnya dalam pasal Pasal 2 menyebutkan lebih jauh Keuangan Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1, meliputi : 79
a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman;
b. Kewajiban negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
c. Penerimaan Negara;
78Pasal 1 Undang-undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
79Pasal 2Undang-undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
d. Pengeluaran Negara;
e. Penerimaan Daerah;
f. Pengeluaran Daerah;
g. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan negara/ perusahaan daerah;
h. Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan dan/atau kepentingan umum;
i. kekayaan pihak lain yang diperoleh dengan menggunakan fasilitas yang diberikan pemerintah.
Berkaitan dari semua penjelasan dari pengertian keuangan negara dimaksud sangat jelas melekat suatu kewajiban terutama bagi penyelenggara Negara dan pihak-pihak lain yang mengelola dan menggunakan keuangan Negara untuk mempertanggungjawabkannya secara hukum. Pasal 3 ayat (1) menjelaskan Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Nilai pertanggungjawaban keuangan Negara dimulai dari Rp.1.- (satu rupiah), hal ini memberikan pengertian jelas bahwa setiap penyelenggara Negara yang
melaksanakan tugas pengelolaan keuangan Negara harus mempertanggungjawabkan penggunaan keuangan Negara dari nilai tersebut, penyimpangan yang terjadi baik itu disengaja atau kelalaian sudah pasti berakibat adanya kerugian keuangan Negara.
Berkaitan dengan kerugian Negara, Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan (UU BPK) “Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai.selanjutnya dalam Pasal 1 Angka 22 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (UU Perbendaharaan Negara) Kerugian Negara/Daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai dan dalam Penjelasan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi menyebutkan yang dimaksud dengan
“secara nyata telah ada kerugian keuangan negara” adalah kerugian yang sudah dapat dihitung jumlahnya berdasarkan hasil temuan instansi yang berwenang atau akuntan publik yang ditunjuk.80
Melihat dari aspek pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Negara sebagaimana telah diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara atau dalam Undang dan Undang-Undang Nomor 1
80Undang-undang Tindak Pidana Korupsi, Kumpulan Peraturan Perundangan tentang Tindak Pidana Korupsi dan Penjelasannya, (Pustaka Jaya Abadi,2006), hlm 109.
Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara serta peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya, mewajibkan penyelenggara Negara untuk melaksanakan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Setiap bentuk perbuatan, baik disengaja atau lalai dalam mengelola keuangan Negara akan berdampak hukum bagi penyelenggara Negara apakah itu secara perdata atau pidana. Manakala terjadi suatu perbuatan melawan hukum yang berakibat adanya kerugian keuangan Negara akan menjadi tugas dan tanggung jawab aparat penegak hukum untuk mengambil sikap tegas untuk melakukan penyelidikan/penyidikan serta proses hukum selanjutnya untuk menyelamatkan keuangan Negara.
Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang terdiri atas beberapa unsur diantaranya terdapat unsur “ yang dapat merugikan keuangan Negara”, dan mencermati unsur pasal dimaksud dalam undang-undang tidak dijelaskan secara rinci tentang batasan klasifikasi besar kecilnya nilai kerugian keuangan Negara dimaksud.
Berbeda halnya dengan klasifikasi ancaman pidana yang dijatur dalam pasal tersebut dimana pasal 2 ayat (1) memberikan batasan ancaman pidana minimal 4 (empat) tahun dan palang lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu
miliar rupiah) dan pada ayat (2) menyebutkan dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan sedangkan pasal 3 memberikan batasan ancaman pidana minimal 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh tahun) dan dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Melihat ketentuan pasal dimaksud akan terdapat suatu pertanyaan, bagaimana melakukan penyidikan terhadap suatu perkara tindak pidana korupsi yang nilai kerugian keuangan negaranya sedikit/kecil ?, banyak hasil temuan baik itu dilakukan oleh pejabat dilingkungan pemeriksa seperti penegak hukum, Inspektorat, BPKP dan BPK yang melakukan pemeriksaan keuangan suatu institusi menemukan adanya perbuatan korupsi yang dilakukan penyelengara Negara yang nilai kerugiannya terbilang cukup kecil/sedikit, disatu sisi undang undang tindak pidana korupsi tidak memandang batasan dari sisi besar kecilnya kerugian yang ditimbulkan. Hal ini akan menjadi suatu pertanyaan besar dalam pemikiran banyak kalangan, terutama aparat penegak hukum dalam mengambil suatu sikap untuk melakukan tindakan hukum kepada pelaku tindak pidana korupsi terutama terhadap adanya laporan atau temuan tindak pidana korupsi yang nilai kerugian keuangan negaranya kecil.
Membandingkan dengan ketentaun pasal 364 KUHP tentang pencurian ringan disebutkan “ perbuatan yang diterangkan dalam pasal 362 dan pasal 363 no. 4 begitu
juga perbuatan yang diterangkan dalam pasal 363 no.5 asal saja tidak dilakukan dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya , dan jika barang yang dicuri itu tidak lebih dari duaratus lima puluh rupiah, dipidana karena pencurian ringan, dengan pidana penjara selama-lamanya 3 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Sembilan ratus rupiah”. Bahkan olehMahkamah Agung melalui Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 2 tahun 2012 tanggal 27 Februari 2012 menaikan lebih nilai kerugian minimum nilai benda yang dicuri dan diklasifikasikan sebagai tindak pidana pencurian ringan adalah sebesar Rp.2.500.000.- (dua juta limaratus ribu rupiah).81Terdapat perbedan yang sangat signifikan, terutama dalam penentuan batas jumlah kerugian yang ditimbulkan serta ancaman pidana yang dijatuhkan antara pelaku tindak pidana korupsi dengan pelaku tindak pidana pencurian diatas, hal ini jelas menimbulkan adanya disparitas dalam menilai rasa keadilan masyarakat.
Hal yang lebih prinsip diatur dalam pasal 4 undang-undang TindakPidana Korupsi menyebutkan bahwa pengembalian kerugian keuangan Negara tidak menghapuskan tindak pidana itu sendiri.Hal ini diartikan bahwa meskipun kerugian keuangan Negara itu telah tertutupi dengan adanya pengembalian kerugian keuangan Negara baik dari tingkat penyelidikan, penyidikan ataupun penuntutan oleh pelaku tindak pidana korupsi, perkaranya tetap dilanjutkan, pengembalian kerugian
81Pasal 2 Perma Nomor 2 tahun 2012 tentang penyesuaian batasan tindak pidana ringan dan jumlah denda dalam KUHP.
keuangan Negara hanya dijadikan pertimbangan hukum dalam menentukan berat ringannya tuntutan jaksa atau putusan hakim.
Hal ini menjadi suatu kendala yang dihadapi oleh penegak hukum terutama jaksa dalam melakukan penyelidikan, penyidikan atau penuntutan perkara Tindak Pidana Korupsi, adanya persoalan dalam menemukan kepastian hukum dan keadilan hukum dalam penegakan hukum itu sendiri, terutama terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang berlatar belakang dari unsur penyelenggara Negara dalam hal ini pegawas negeri sipil yang mempunyai tugas langsung mengelola dan mempertanggungjawabkan keuangan Negara.
Banyak perkara tindak pidana korupsi yang rata-rata terjadi dimana kerugian negaranya terbilang sangat kecil dan tidak ditindaklanjuti oleh penegak hukum.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yang melatarbelakanaginya seperti biaya operasional yang tinggi sehingga tidak sebanding dengan nilai uang yang dikorupsikan, demikian juga dengan pihak-pihak yang ikut mempertanggungjawabkan perbuatannya karena akan berdampak terganggunya proses birokrasi atau pelayanan kepada masyarakat termasuk dampak hukumannya bagi pejabat yang terlibat.
Dengan dikeluarkannya Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor : 182/6597/SJ, Nomor : 15 Tahun 2018 dan Nomor
153/KEP/2018 tanggal 13 September 2018 tentang Penegakan Hukum Terhadap Pegawai Negeri Sipil Yang Telah Dijatuhi Hukuman Berdasarkan Putusan Pengadilan yang Berkekuatan Hukum Tetap Karena Melakukan Tindak Pidana Kejahatan Jabatan Atau Tindak Pidana Kejahatan yang Ada Hubungannya dengan Jabatan, menyebutkan secara tegas dimana tujuan keputusan bersama ini dalam rangka sinergitas dan koordinasi Kementrian/Lembaga dalam rangka penegakan hukum khususnya terkait penjatuhan sanksi berupa pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PNS oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan Pejabat Yang Berwenang kepada PNS yang telah dijatuhkan hukuman berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana kejahatan jabatan atau tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan.82
Hal ini jelas akan berdampak besar bila penerapan hukuman dilakukan secara tegas berakibat banyaknya para pegawai negeri sipil akan dipecat dari statusnya selaku PNS karena melihat korupsi terbanyak itu terjadi pada tingkat bawah yang nilai kerugian negaranya kecil, modus operandinya sangat sederhana dan pelakunya juga melibatkan aparat pemerintahan level menengah kebawah. Disatu sisi undang-undang menghendaki lain dan hal ini merupakan salah satu faktor penghalang bagi
82 Diktum pertama Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor : 182/6597/SJ, Nomor : 15 Tahun 2018 dan Nomor 153/KEP/2018 tanggal 13 September 2018.
penegak hukum khususnya jaksa dalam mempercepat penyelesaian perkara tindak pidana korupsi.
B. Perubahan Norma Hukum Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 21/PUU-XIII/2014 tanggal 28 April 2015 dan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 102/PUU-XIII/2015 tanggal 9 November 2016.
Dengan adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 21/PUU-XIII/2014 tanggal 28 April 2015 yang pada pokoknya memaknai tentang Frasa “bukti permulaan”, “bukti permulaan yang cukup” dan “bukti yang cukup”, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17 dan Pasal 21 ayat (1) KUHAP sebagaimana termuat dalam pasal 184 KUHAP serta memperluas objek pra-peradilan menjadi penetapan tersangka, penggeledahan dan penyitaan telah membuka peluang bagi seseorang yang ditetapkan sebagai tersangka pada tingkat penyidikan. 83 Perubahan norma hukum tersebut menjadi salah satu kendala yang saat ini menghambat proses penyelesaian perkara korupsi sejak tingkat penyidikan.84
Demikian juga halnya dengan beberapa yurisprudensi yang telah ada, dalam praktek peradilan hakim telah beberapa kali menemukan penemuan hukum terkait dengan tindakan-tindakan lain dari penyidik/penuntut umum yang dapat menjadi objek praperadilan seperti penyitaan dan penetapan tersangka telah dapat diterima
83 Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 21/PUU-XIII/2014 tanggal 28 April 2015, hlm.109-110
84Wawancara dengan Bpk. AGUS SALIM, SH.MH.Aspidsus Kejati Sumut, tgl.10 Agustus 2018.
untuk menjadi objek dalam pemeriksaan praperadilan. Seperti putusan praperadilan Pengadilan Negeri Bengkayang Nomor 01/Pid.Pra/PN.Bky tanggal 18 Mei 2011 jo.
Putusan Mahkamah Agung No. 88 PK/Pid/2011 tanggal 17 Januari 2012 yang intinya menyatakan tidak sahnya penyitaan yang telah dilakukan. Demikian juga halnya dengan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan pemohon Komjen Pol.
Drs. Budi Gunawan Nomor : 04/Pid-Prap/2015/PN.Jkt.Sel yang telah menjatuhkan putusan menerima permohonan pemohon atas penetapan tersangka Komjen Pol Drs.
Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK serta Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor : 36/Pid-Prap/2015/PN.Jkt.Sel atas permohonan Hadi Purnomo, telah menerima dan mengabulkan permohonan praperadilan yang menyatakan antara lain
“Tidak sah menurut hukum tindakan termohon menetapkan pemohon sebagai tersangka”. Sedangkan melihat ketentuan pasal 77 KUHAP menyebutkan
“Pengadilan Negeri berwenang untuk memeriksa dan memutus, sesuai dengan yang diatur dalam undang-undang ini tentang :
a. Sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan.
b. Ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.85
Hal tersebut merupakan salah satu kewenangan pengadilan untuk mengadili perkara praperadilan. Putusan tersebut jelas telah memberikan terobosan baru bagi
85Pasal 77 Undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP.
tersangka untuk dapat celah melepaskan diri dari jeratan hukum sejak dilakukan proses penyidikan, penuntutan ataupun persidangan, terdapat kelemahan hukum juga disana dimana tidak terdapat batasan waktu pengajuan serta tersangka atau terdakwa dapat berkali-kali mengajukan praperadilan yang pada akhirnya menjadi faktor penghambat proses penegakan hukum. Bahkan bukan tidak mungkin pada akhirnya seluruh tindakan hukum dalam rangka penyidikan, penuntutan ataupun pemeriksaan persidangan perkara tindak pidana baik Tindak Pidana Umum ataupun Tindak Pidana Khusus akan menjadi ranah praperadilan kedepannya dan hal itu menjadi celah bagi tersangka atau terdakwa untuk dapat lepas dari kasus hukum atau sekedar menghalangi proses hukum.
Dengan dikeluarkannya Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 102/PUU-XIII/2015 tanggal 9 November 2016 menyatakan pasal 82 ayat 1 huruf (d) Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 nomor 76, tambahan lembaran Negara Republik Indonesia nomor 3258, bertentangan dengan Undang-undang dasar 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang frasa, “suatu perkara sudah mulai diperiksa “ tidak dimaknai “permintaan pra-peradilan gugur ketika pokok perkara telah dilimpahkan dan telah dimulai sidang pertama terhadap pokok perkara atas nama terdakwa/pemohon praperadilan.86
86Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor : 102/PUU-XIII/2015 tanggal 9 November 2016,hlm.56.
Pasal 82 ayat 1 huruf (d) Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyebutkan “dalam hal suatu perkara sudah mulai diperiksa oleh Pengadilan Negeri, sedangkan pemeriksaan mengenai permintaan kepada praperadilan belum selesai, maka permintaan tersebut gugur “. Terdapat perbedaan pandangan atau tidak ada keseragaman penafsiran di kalangan para hakim parperadilan mengenai hal tersebut.Ada hakim praperadilan yang berpendapat bahwa perkara permohonan praperadilan gugur setelah berkas pokok perkara dilimpahkan oleh Jaksa Penuntut Umum dan dilakukan registrasi di Pengadilan Negeri dengan alasan tanggung jawab yuridis telah beralih dari Jaksa Penuntut Umum ke Pengadilan Negeri.Sebaliknya, ada pula hakim praperadilan yang berpendapat bahwa batas waktu perkara permohonan praperadilan gugur adalah ketika pemeriksaan pokok perkara sudah mulai disidangkan.87
Dalam praktek penegakan hukum sering terjadi adanya upaya praperadilan diajukan oleh tersangka/terdakwa pada saat pemberkasan perkaranya telah selesai oleh penyidik ataupun pada saat setelah dilakukannya serah terima tersangka dan barang bukti dari penyidik kepada penuntut umum (tahap Pra-penuntutan). Hal yang menjadi sangat penting diketahui dalam tahap pra penuntutan oleh Penuntut Umum di Kejaksaan, sebelum dilakukan pelimpahan perkara ke Pengadilan akan dipersiapkan terlebih dahulu surat dakwaan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum yang ditunjuk sebagai
87Wawancara dengan Bpk. SOLEH, SH. Kasi Intel Kejaksaan Negeri Sidimpuan, tanggal 11 Agustus 2019.
dasar hukum melakukan penuntutan. Surat Dakwaan harus dibuat secara cermat, jelas dan lengkap sebagaimana disebutkan dalam pasal 143 ayat (1), (2) KUHAP dan konsekwensi hukum dari kelalaian Jaksa dalam membuat dakwaan tidak memenuhi apa yang disebutkan diatas mengakibatkan surat dakwaan batal demi hukum.Dalam pelaksanaannya, surat dakwaan adalah “mahkota” bagi jaksa untuk menentukan berhasil atau tidaknya proses penuntutan, sehingga sebelum perkara dilimpahkan surat dakwaan harus disusun sedemikian rupa dan melalui proses yang cukup panjang sebelum mendapat persetujuan dari pimpinan untuk dilimpahkan ke Pengadilan.88
Untuk melimpahkan perkara ke pengadilan, khususnya terhadap perkara tindak pidana korupsi, tidaklah sesederhana seperti perkara tindak pidana umum biasa, surat dakwaan setelah dibuat oleh Tim Jaksa akan dilaksanakan ekspose surat dakwaan dihadapan para jaksa-jaksa serta pimpinan unit untuk memperoleh masukan guna melengkapi sempurnanya surat dakwaan, setelah memperoleh persetujuan melalui wadah ekspose surat dakwaan, barulah dapat dilimpahkan ke Pengadilan bersama berkas perkara dan barang bukti untuk disidangkan, ini jelas membutuhkan waktu yang cukup lama.89
Pada tahap ini terdapat hal yang sering tidak terduga dimana terdakwa sebelum proses pelimpahan perkaranya ke Pengadilan Negeri mengajukan upaya pra
88Ibid.
89Wawancara dengan Bpk. SYOFYAN HADI, SH.MH. Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Medan, tanggal 15 Agustus 2019.
peradilan, hal ini merupakan kendala dalam kegiatan penuntutan yang harus diwaspadai oleh Jaksa selaku Penuntut Umum. Dalam hal ini salah satu cara yang sering dilakukan oleh penuntut umum yakni dengan mengacu pada ketentuan Pasal 82 ayat 1 huruf (d) KUHAP untuk segera melimpahkan perkara ke Pengadilan meskipun surat dakwaan belum selesai disusun secara sempurna supaya permintaan pra peradilan gugur. Selama ini mungkin ini cara yang cukup efektif untuk dapat menyelamatkan proses penuntutan perkara dari celah pra peradilan yang diajukan oleh terdakwa atau penasehat hukumnya, namun akan menjadi suatu kelemahan lagi dalam menghadapi eksepsi terdakwa di persidangan terhadap surat dakwaan.
Banyak celah hukum yang bisa dilakukan oleh tersangka/terdakwa dalam menghadapi proses perkaranya dan hakimpun dalam hal ini tidak terlepas juga dengan pendapat atau persepsinya masing-masing dalam menilai suatu aturan.
Tersangka/terdakwa telah diberi keistimewaan oleh negara berupa praperadilan yang oleh undang-undang diberikan jangka waktu selama 7 (tujuh) hari oleh hakim untuk menetapkan putusan, bukan terhadap substansi materi pokok perkara (materil) yang diuji pada sidang pra peradilan, namun hal yang bersifat formil yakni proses penanganan perkara, maka menjadi pertanyaan utama bagi kita bersama, mengapa baru diajukan saat Jaksa mengajukan penuntutan? Diamnya pihak tersangka ataupun terdakwa selama ini, dapat diartikan sebagai pembenaran terhadap segala prosedur hukum pihak penyidik. Bila berbicara mengenai praktik, waktu yang dihabiskan
penyidik untuk menyidik maupun penyusunan surat dakwaan, hingga pelimpahan berkas perkara dakwaan ke pengadilan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan, adalah sangat tidak kentara bila dibandingkan dengan praperadilan yang dapat diputus cukup hanya dalam 7 hari, sehingga timbul kesan seolah-olah pra peradilan menjadi celah oleh terdakwa untuk mencari kelemahan aparatur penegak hukum dalam proses penegakan hukum.
C. Permintaan Pemeriksaan Ahli untuk Audit Fisik dan Perhitungan Kerugian Keuangan Negara.
Salah satu alat bukti terpenting yang harus dapat dipenuhi dalam pembuktian atau membuktikan adanya suatu tindak pidana dan diatur juga dalam pasal 184 ayat (1) huruf b KUHAP adalah keterangan ahli. Keterangan ahli sangat diperlukan terutama untuk membuktikan salah satu unsur pasal Kerugian Keuangan Negara.
Berbeda penanganan perkara tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam beberapa pasal dalam undang-undang pemberantasan tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan kerugian keuangan Negara seperti pasal 2 ayat (1) dan pasal 3Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo UU No.20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Seperti beberapa perkara yang ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terkait operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan terhadap para pejabat publik atau pengusaha dalam praktek kejahatan korupsi di Indonesia, KPK dengan
kewenangan yang dimilikinya dapat melakukan penyadapan sarana komunikasi yang dimiliki seseorang dan melakukan penangkapan apabila ditemukan adanya perbuatan korupsi dalam bentuk suap. Berbeda halnya dengan penanganan perkara korupsi dalam bentuk suap, tidak diperlukan dalam hal ini pemeriksaan ahli untuk pembuktiannya, terhadap beberapa kasus tindak pidana korupsi yang berhubungan
kewenangan yang dimilikinya dapat melakukan penyadapan sarana komunikasi yang dimiliki seseorang dan melakukan penangkapan apabila ditemukan adanya perbuatan korupsi dalam bentuk suap. Berbeda halnya dengan penanganan perkara korupsi dalam bentuk suap, tidak diperlukan dalam hal ini pemeriksaan ahli untuk pembuktiannya, terhadap beberapa kasus tindak pidana korupsi yang berhubungan