• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor penyebab kecanduan menonton youtube pada anak

Analisis Faktor Penyebab kecanduan Menonton Youtube pada Anak

4.2 Hasil Peneltian dan Pembahasan

4.2.1 Faktor penyebab kecanduan menonton youtube pada anak

Gambar 4.2 Observasi anak ketika menonton youtube Dokumentasi diambil tanggal 4 September 2020

Kemajuan teknologi yang pesat saat ini ternyata sudah merambah ke Desa Buaran. Salah satu teknologi yang digunakan yaitu alat komunikasi seperti Smartphone. Smartphone merupakan perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap, namun dapat dibawa ke mana-mana dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (Syarif ,2015:41). Saat ini, smartphone semakin berkembang tidak hanya untuk alat komunikasi, namun sekarang sudah dilengkapi dengan fitur-fitur canggih lain seperti Youtube, Instagram, Tiktok,

Game, dan lain-lain. Penambahan fitur-fitur tadi juga sebagai kebutuhan hiburan.

Tujuannya untuk menghilangkan rasa penat dari kesibukan diluar.

Youtube di kalangan anak-anak, tidak hanya digunakan sebagai media permainan atau hiburan saja, melainkan alat yang multi fungsi. Salah satu nya digunakan sebagai media belajar anak. Media belajar untuk menambah wawasan serta melatih ada dalam mengasah otak. Karena didalam aplikasi youtube banyak sekali pilihan video-video yang bagus.

Menurut para pengguna youtube terutama anak-anak. Ketika mereka sedang menonton youtube mereka seperti sedang menonton televisi. Karena selain mendengerkan suara anak-anak diperjelas dengan adanya gambar yang dapat mereka lihat. Sehingga anak-anak merasa senang dan nyaman menonton youtube.

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian di Desa Buaran terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kecanduan menonton youtube antara lain : 1. Kurang diberi perhatian oleh orang-orang terdekat.

Anak merasa kurang diberi perhatian, selain itu anak juga jarang sekali diajak untuk berkomunikasi. Sehingga anak merasa nyaman waktu menonton youtube. Orang tua wajib menerapkan peraturan yang ketat tetapi anak jangan sampai merasa tertekan. Jika anak telah merasa tertekan maka anak akan memberontak. Selain itu apabila orang tua sudah menerapkan peraturan sebaiknya orang tua harus mengusahakan untuk selalu mengawasi anak nya supaya anaknya tidak merasa sendiri dan ingin mencari suasana yang lebih menyenangkan.

2. Fasilitas yang diberikan orang tua

Faktor selanjutnya yaitu fasilitas youtube yang diberikan orang tua sejak kecil.

Orang tua memberikan tontonan video-video yang berasal dari youtube sebagai hiburan, pembelajaran, dan menambah wawasan bagi anak. Karena menurut orang tua youtube banyak memberikan tontonan yang positif, sehingga orang tua tidak memikirkan dampak yang akan terjadi jika orang tua kurang mengawasi anak dalam menonton youtube.

3. Keinginan yang belum terpenuhi

Faktor selanjutnya merupakan keinginan yang belum terpenuhi. Dari faktor ini anak menuturkan bahwa keinginan yang diinginkan anak lumyan banyak. Baik dalam bentuk materi maupun non materi yang di minta kepada orang tua.

Dikarenakan sampai saat ini keinginannya sedikit yang sudah terpenuhi untuk itu anak melampiaskannya dengan cara menghabiskan waktu untuk menonton youtube sesuai kesukaan mereka.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Desa Buaran dalam pelaksanaan penelitian mengenai faktor kecanduan menonton youtube di lingkungan keluarga pada anak. Beberapa informan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1

Tabel 4.1 Daftar Informan Anak

No Nama

Kelima informan tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dalam mengemukakan pendapatnya. Persamaan dan perbedaan pendapat informasi dari informan dapat dilihat penjelasan anak ketika diwawancara. Peneliti menemukan bahwa dari lima anak sebagai informan tiga diantarnya F.M.R, H.A.F dan M.H memiliki tanggapan yang sama mengenai faktor menonton youtube.

Tanggapan dari F.M.R :

“Sering, youtube lebih seru”

Tanggapan dari H.A.F :

“Tiap hari, karena ada video yang menarik”

Tanggapan dari M.H :

“Sering banget, menurutku belajar membosankan lebih seneng nonton youtube”

Dari hasil wawancara yang didapatkan peneliti mereka lebih menyukai youtube dibandingkan belajar. Mereka berpendapat bahwa menonton youtube lebih seru dan menarik sehingga menyebabkan ketika belajar mereka menjadi bosan. mereka mengaku bahwa mereka menonton lebih dari 1 jam karena durasi setiap video yang mereka tonton rata-rata sekitar 25 menit. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Saputri, dkk (2018) apabila anak sudah kecanduan maka sangat sulit untuk dikontrol. Tingginya intensitas dan durasi penggunaan sebaiknya dibatasi karena tidak sesuai atau tidak layak pada usianya jika terlalu banyak menonton youtube tanpa berinteraksi dengan orang lain.

Berdasarkan hasil kartu data yang didapatkan peneliti M.H merupakan anak yang lebih Sering karena dia merasa menonton youtube lebih seru daripada belajar. Karena orang tuanya sibuk bekerja menjadikan youtube sebuah tontonan untuk menghilangkan rasa bosan. Dengan minimnya pengawasan dari orang tua menjadikan M.H mengalami kecanduan dan tidak bisa jauh dari youtube. Hal ini juga selaras dengan Choliz (dalam Fajri 2017) mengemukakan bahwa satu faktor yang mempengaruhi nomophobia adalah penggunaan tanpa konrol yang akan mendatangkan permasalahan sosial dilingkunga sekitar. Anak kurang bisa bersosialisasi dengan orang lain dan lebih senang menyendiri menonton youtube.

Gambar 4.3 M.H sedang menonton youtube Dokumentasi diambil tanggal 14 April 2021

Berbeda dengan tiga informan tersebut, M.N.A dan M.K.A.W mengaku bahwa mereka tidak sering menonton youtube, karena orang tuanya membatasi.

Mereka menonton youtube hanya sesekali dan sesuai kebutuhan.

Tanggapan dari M.N.A :

“Lebih sering belajar karena kalo menonton youtube dimarahin ibu”

Tanggapan dari M.K.A.W :

“Jarang karena HPnya dibawa bapak”

Berdasarkan hasil wawancara kartu data mereka lebih senang belajar dan melakukan hal-hal lainnya dari pada menonton youtube. Peneliti menemukan hasil dari anak yang menjadi informan yaitu penggunaan yang secara berlebihan akan berdampak buruk terhadap mereka sehingga menimbulkan ketergantuangan dan mereka menjadi malas untuk belajar. Hal ini juga berdampak bagi prestasi dan kesehatannya.

Berdasarkan hasil kartu data dan wawancara kurangnya pengawasan orang tua saat anak menonton youtube. Berikut merupakan penjelasan dari orang tua mengenai pengawasan orang tua saat anak menonton youtube :

Orang tua F.M.R :

“Tidak pernah mbak karena sibuk jualan paling sesekali melihat video yang ditonton”

Orang tua M.N.A :

“Kadang-kadang nemani sambil nonton tv mbak kalau dirumah”

Orang tua H.A.F

“Gak selalu mbak karena H.A.F sering menonton youtube bersama teman-temannya”

Orang tua M.H

“Tidak mbak karena sering pulang kerja petang kalo hari minggu juga sibuk bersih-bersih rumah”

Orang tua M.K.A.W

“Selalu mbak jika tidak sibuk dan nonton youtubenya dirumah”

Memang setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mendidik anaknya. Kebiasaan-kebiasaan yang mungkin bisa dilakukan seperti mendampingi anak saat sedang belajar jika ketika anak belajar tumbuh rasa malas orang tua bisa memberikan motivasi kepada anak. Semua itu dilakukan agar anak lebih tanggung jawab terhadap kewajibannya. Jika anak dibiarkan menonton youtube dalam jangka waktu yang lama bukan hanya dapat merugikan diri sendiri melainkan akan merugikan orang lain. Hal ini akan terlihat jika anak sudah benar-benar mengalami kecanduan ia tidak akan betah ketika tidak menonton youtube. Dia

akan merasa cemas dan mulailah terjadi gangguan-gangguan perilaku itu muncul akibat keseringna menonton youtube.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dapat diketahui bahwa keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk pribadi anak. Menurut Yusuf (2017:38) menyatakan bahwa keluarga berfungsi sebagai pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya, sumber pemenuhan kebutuhan baik fisik maupun psikis, sumber kasih sayang dan penerimaan, model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang baik, pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat dan lain-lain anak yang kurang mendapatkan perhatian dan ketegasan orang tua akan membuat perilakunya beruubah. Selain itu Kurniati dkk.

(2020:2411) berpendapat bahwa secara umum peran orang tua yang muncul adalah sebagai pembimbing, pendidik, penjaga, pengembang dan pengawas.

Secara khusus peran orang tua yang muncul yaitu: menjaga dan memastikan anak untuk menerapkan hidup bersih dan sehat, mendampingi anak dalam mengerjakan tugas sekolah melakukan kegiatan bersama selama dirumah, menciptakan lingkungna yang nyaman untuk anak menjadlin komunikasi yang intens dengan anak.

Dokumen terkait