Akta PPAT
HASIL PENELTIAN DAN PEMBAHASAN
B. FAKTOR PENYEBAB MASYARAKAT DI KECAMATAN MEDAN TIMUR TIDAK MENDAFTARKAN PERUBAHAN DATA FISIK DAN TIMUR TIDAK MENDAFTARKAN PERUBAHAN DATA FISIK DAN
DATA YURIDIS TANAH
Permasalahan pertama dalam penulisan tesis ini yakni Mengapa masyarakat pemilik bidang tanah di Kecamatan Medan Timur tidak mendaftarkan perubahan data fisik dan yuridis tanah pada kantor pertanahan Kota Medan sepintas lalu mungkin kita klaim disebabkan beberapa faktor yang antara lain adalah disebabkan ketidaktahuan atau juga walaupun mengetahui namun tidak mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Pendaftaran Tanah yakni Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997.
Namun setelah penulis melakukan wawancara langsung dari beberapa responden yang dijadikan sample dan populasi dalam penulisan tesis ini menyebutkan, bahwa dalam melaksanakan pendaftaran tanah yang sudah terdaftar pada Kantor Pertanahan Kota Medan sering sekali terdapat kutipan liar diluar dari biaya yang seharusnya, ditambah lagi waktu yang cukup panjang serta birokrasi yang kompleks dan pelayanan yang kurang serta masih membeda-bedakan tingkat perekonomian masyarakat dalam memberikan pelayanan.52
Selain itu juga sebagian masyarakat juga menyebutkan, bahwa bila kita hendak mendaftarkan tanah terdaftar yang mengalami perubahan Data Fisik dan Data Yuridis Tanah diwajibkan membayar biaya pendaftaran tanah lagi di samping PPh
52
Wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 10 April 2008 dengan salah seorang warga Di kecamatan Medan Timur
dan BPHTB bila hendak membaliknamakan tanah terdaftar yang dibeli. Hal ini dirasakan masyarakat cukup menambah beban bagi mereka53.
Sejarah tanah di jalan Krakatau tepatnya dari Jalan Mustafa yang terletak di kelurahan Glugur Darat II sampai Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru dahulunya adalah merupakan tanah milik PTPN IX, namun karena para peternak sering menggembalakan kerbau dan melintasi kebun tembakau tersebut, pihak PTPN memberikan sebagian tanah Hak Guna Usahanya untuk diberikan kepada masyarakat, lalu oleh Gubernur diperkuat dengan Surat Keputusan Gubernur.54
Khusus untuk Complek DPRD SU TK I, pemerintah mengeluarkan suatu Surat Keputusan Gubernur untuk memberikan atau melakukan pengadaan tanah untuk perumahan bagi anggota DPRD SU TK I Medan, namun oleh karena pada waktu itu tanah yang dialokasikan untuk anggota DPRD SU TK I Medan kondisinya berupa rawa-rawa atau tanah yang mirip persawahan, akhirnya Anggota DPRD SU TK I Medan enggan untuk membangun rumah diatas tanah yang dibagikan tersebut dan lalu mereka menjualnya kepada masyarakat.55
Selain dijual, ada juga yang meninggalkan atau dengan kata lain menelantarkan tanahnya begitu saja, dan diperkirakan sudah hampir 10 (sepuluh) tahun lamanya, dan akhirnya menjadi tidak terawat kesuburannya dan menjadi semak belukar.
53
Wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 15 April 2008 dengan warga Di kecamatan Medan Timur
54
Wawancara yang dilaksanakan pada tanggal 18 april 2008 dengan salah seorang bekas Kepling di kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru
55
Namun yang mengherankan entah mengapa tanpa diketahui tiba-tiba ada yang menguasai lahan milik anggota dewan yang terlantar tersebut dan saat ini sudah terbit Sertifikat Hak Miliknya.56
Dari penelitian penulis di khususnya di Kelurahan Pulo Brayan Bengkel, ada tanah stanvas (tidak bisa disertifikatkan) dikarenakan tanahnya adalah milik PJKA sebab PJKA memiliki Hak Pakai atas tanah yang dimaksud, namun masyarakat mengokupasi dan mengusasai tanah tersebut, dan yang mengherankannya lagi terjadi berulangkali jual beli atas tanah stanvas tersebut bahkan ada yang sudah bersertifikat Hak Milik.57
Ironisnya lagi ada dijumpai satu objek tanah yang memiliki serifikat double, selain itu warga yang menggabungkan tanah itu menyebutkan bahwa dirinya membeli dua buah ruko (rumah toko) dan dibeli secara kredit dan setelah lunas sudah atas nama dirinya, lalu karena demi kelancaran usaha maka dirinya menggabungkan dua tanah dan bangunan itu menjadi satu bangunan, yang mana dipergunakan sebagai rumah tempat tinggal sekaligus gudang atau tempat usaha.58
Agar lebih jelasnya sehingga dapat diketahui faktor apa sebenarnya yang menyebabkan penduduk enggan mendaftarkan tanah yang mengalami perubahan Data Fisik dan Data Yuridis dapat dilihat pada table-tabel dibawah ini :
56
Ibid
57
Wawancara dilakukan pada tanggal 18 April 2008 kepada salah seorang pegawai di Kantor Kelurahan Pulo Brayan Bengkel.
58
Wawancara yang dilakukan 20 april 2008 dengan salah seorang warga di Kecamatan Medan Timur.
A. Tabel Pengetahuan Masyarakat Di Kecamatan Medan Timur Terhadap Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
n= 25
No Jawaban Frekwensi Persentase
(1) Tahu 25 100 % (2) Tidak Tahu 0 0%
Total
25 100 % Sumber : Data primer yang telah diolah tahun 2008
Dari 25 (dua puluh lima) responden masyarakat di Kecamatan Medan Timur yang menyebar dibeberapa kelurahan yang dijadikan dijadikan sample dalam penulisan ini pengetahuan mereka atas Pendaftaran Perubahan Data Fisik dan Data yuridis Tanah yang diatur sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 untuk lebih rincinya pengetahuan tersebut dilihat pada table di bawah ini :
1. Tabel Pengetahuan Masyarakat Di Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru Terhadap Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah Terdaftar Hak Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
n = 7
NO JAWABAN FREKWENSI PRESENTASE
1 Tahu 9 100 %
2 Tidak Tahu 0 0 %
Total 100 % Sumber : Data primer yang telah diolah tahun 2008
Dari tabel 1 (satu) dapat diketahui bahwa pengetahuan masyarakat Di Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru yang sebanyak 7 orang Terhadap Pendaftaran
Peralihan Hak Atas Tanah Terdaftar Hak Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat diketahui, bahwa mereka mengetahui Pendaftaran Peralihan Hak Atas Tanah Terdaftar Hak sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
2. Tabel Pengetahuan Pewakif Di Keluarahan Pulo Brayan Bengkel Baru dan Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Timur yang berada di Kecamatan Medan Timur Terhadap Pendaftaran Tanah Wakaf Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
n = 4
NO JAWABAN FREKWENSI PRESENTASE
1 Tahu 4 100 %
2 Tidak Tahu 0 0 %
Total 100 % Sumber : Data primer yang telah diolah tahun 2008
Dari tabel 2 (dua) dapat diketahui bahwa Pengetahuan Pewakif yang sebanyak 4 orang yang menyebar Di Keluarahan Pulo Brayan Bengkel Baru dan Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Terhadap Pendaftaran Tanah Wakaf Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat diketahui, bahwa mereka mengetahui Pendaftaran Tanah Wakaf Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
3. Tabel Pengetahuan Lembaga Non Perbankan (Leasing) Di Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru dan Kelurahan Durian yang berada di Kecamatan Medan Timur Terhadap Pendaftaran Hak Tanggungan Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
NO JAWABAN FREKWENSI PRESENTASE
1 Tahu 6 100 %
2 Tidak Tahu 0 0 %
Total 100 % Sumber : Data primer yang telah diolah tahun 2008
Dari tabel 3 ( tiga ) dapat diketahui bahwa Pengetahuan Lembaga Non Perbankan (Leasing) yang menyebar Di Kelurahan Pulo Brayan Bengkel Baru dan Kelurahan Durian Terhadap Pendaftaran Hak Tanggungan Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat diketahui, bahwa mereka mengetahui Pendaftaran Hak Tanggungan Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
4. Tabel Pengetahuan Masyarakat Di Kelurahan Glugur Darat I yang berada di Kecamatan Medan Timur Terhadap Pendaftaran Tanah Yang Diperoleh Karena Pewarisan Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
n = 5
NO JAWABAN FREKWENSI PRESENTASE
1 Tahu 5 100 %
2 Tidak Tahu 0 0 %
Total 100 % Sumber : Data primer yang telah diolah tahun 2008
Dari tabel 4 ( empat ) dapat diketahui bahwa Pengetahuan Masyarakat yang menyebar Di Kelurahan Glugur Darat I Terhadap Pendaftaran Tanah Yang Diperoleh Karena Pewarisan Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat diketahui, bahwa mereka mengetahui Pendaftaran Tanah Karena Pewarisan Atas Tanah Terdaftar Sesuai Peratuaran
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
5. Tabel Pengetahuan Masyarakat Di Kelurahan Glugur Darat I Kecamatan Medan Timur Terhadap Pendaftaran Tanah Yang Digabungkan ( Dilebur ) Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
n = 3
NO JAWABAN FREKWENSI PRESENTASE
1 Tahu 3 100 %
2 Tidak Tahu 0 0 %
Total 100 % Sumber : Data primer yang telah diolah tahun 2008
Dari tabel 5 ( lima ) dapat diketahui bahwa Pengetahuan Masyarakat Pengetahuan Masyarakat Di Kelurahan Glugur Darat I Terhadap Pendaftaran Tanah Yang Digabungkan ( Dilebur ) Sesuai Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah dapat diketahui, bahwa mereka mengetahui Pendaftaran Tanah Yang Digabungkan ( Dilebur ) Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah.
B. Tabel Faktor/ Alasan Yang Menjadi Penyebab Masyarakat Di Kecamatan Medan Timur Tidak Mendaftarkan Perubahan Data Fisik Dan Dan Data Yuridis Tanah Sesuai PP No 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah
n = 25
NO ALASAN FREKWENSI PRESENTASE
1. Masyarakat enggan mendaftarkan karena biayanya mahal, yaitu diwajibkan membayar PPh dan BPHTB dan menganggap akta peralihan hak yang dibuat oleh Notaris sudah memiliki pembuktian yang kuat di kemudian hari. Disamping itu prosedur-prosedur lain yang harus dipenuhi.
2. 3. 4. 5. 6. 7.
Masyarakat enggan mendaftarkan tanah dikarenakan walaupun didaftarkan ada sebagian tanahnya tidak bisa disertifikatkan karena terkena Rolien jalan atau masuk dalam jalur hijau.
Masyarakat enggan mendaftarkan tanah dikarenakan mereka mengangap pemerintah dalam menerapkan biaya pendaftaran tidak mengglobalkan biaya pendaftaran, dengan kata lain mereka mengatakan pemerintah seharusnya jangan mentang-mentang tanahnya dipinggir jalan biaya pengurusan dibuat mahal sedangkan yang tidak dipinggir jalan lebih murah.
Penerima wakaf merasa tidak perlu mendaftarkan tanah wakaf pada kantor Pertanahan Kota Medan, sebab jika memang ada pihak lain mencoba-coba menguasai tanah wakaf tersebut maka warga akan memepertahankan dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Penerima wakaf atau nadzir enggan berurusan dengan BPN karena berdasarkan pengalaman masa-masa yang lalu bahwa BPN pilih kasih dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Penerima wakaf mengharapkan pemerintahlah yang menyertifikatkan tanah wakaf secara jemput bola.
Perjanjian Kredit antara kreditur dengan debitur dibuat secara notariel, sehingga mereka menganggap akta yang dibuat secara notariel itu sudah bisa menjadi alat bukti yang kuat jika debitur macet membayar pinjaman, sebab dalam perjanjian kredit mereka ada membuat surat perjanjian jual
3 2 2 1 1 3 12% 8% 8% 4% 4% 12%
8. 9. 10. 11. 12. 13. gantung.
Pinjaman debitur kepada kreditur kecil. Debitur inginnya dana keluar cepat sehingga jika waktunya lama calon debitur memilih lembaga pembiayaan lain.
Ahli waris tidak memiliki dana untuk mendaftarkan tanah yang diperoleh dari pewaris.
Ahli waris tidak mendaftarkan tanah yang diperoleh karena pewarisan tersebut di sebabkan mereka berencana akan menjual tanah yang diperoleh dari pewarisan tersebut. Tanah yang dilebur atau digabung menjadi satu bangunan tidak mereka daftarkan karena sertifikat tanahnya sudah mereka balik namakan atas nama mereka.
Tanah yang dilebur atau digabung menjadi satu bangunan tidak mereka daftarkan karena sertifikat tanahnya sudah mereka balik namakan atas nama mereka, sehingga mereka berpendapat tidak mungkin ada masalah dikemudian hari terkait kepemilikan atas tanah yang sudah dibeli dan dibaliknamakan tersebut serta Masyarakat mengatakan buat apa repot-repot lagi mendaftarkan pada kantor Pertanahan Kota Medan karena mereka diwajiban lagi membayar biaya pendaftaran tanah yang digabungkan tersebut.
2 1 2 3 1 2 8% 4% 8% 12% 4% 8% Total : 25 100%
Tanah mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan dan penghidupan manusia, sehingga didalam melaksanakan aktivitas dan kegiatannya selalu berhubungan dan menggunakan tanah. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar hidup di perdesaan, menganggap tanah sebagai bagian dari hidupnya, sebagai penopang akan usahanya untuk meningkatkan taraf kehidupannya, tanah adalah segala-galanya karena dengan mengolah tanahlah mereka dapat melangsungkan hidupnya.59
Penggunaan tanah tidak dapat dilepaskan dari penguasaannya, dimana untuk menggunakan tanah tersebut seseorang harus menguasai atau memilikinya dalam berbagai bentuk hak atas tanah. Dengan demikian setiap pemanfaatan tanah memerlukan kepastian hukum di dalam penguasaannya. Oleh karena itu adanya perangkat hukum pertanahan yang berlaku bagi semua masyarakat mutlak diperlukan untuk memberikan kepastian dan perlindungan hukum, yakni hubungan hukum antara orang dengan tanah, orang dengan orang, dan hubungan hukum antara orang dan perbuatan hukum mengenai tanah.60
Perkembangan pembangunan di segala bidang diikuti oleh kebutuhan akan tanah yang semakin meningkat, apalagi setelah kebijakan (termasuk bidang
59
Pandangan hidup rakyat kita di desa-desa, bahwa tanah adalah segala-galanya, sumber segala penghidupan dan kehidupan masih sangat berakar. Jika tenaga dan modal telah dikeluarkan selama bertahun-tahun dalam penggarapan sebidang tanah, lahirlah anggapan bahwa tanah itu miliknya, sebagaimana anggapan orang-orang tua terdahulu. Erman Rajagukguk, Hukum Dan Masyarakat, Bina Aksara, Jakarta, 1983.Hlm 28 dalam makalah berjudul ASPEK KEADILAN DALAM
PENYELESAIAN MASALAH PENGUASAAN TANAH oleh Sapardiyono, A.Ptnh, Kepala Sub Bagian
Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, sekarang tengah menempuh pendidikan tingkat magister pada Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, hal 1
60
pertanahan) yang diakibatkan oleh berubahnya kepemimpinan nasional dari Orde Lama ke Orde Baru61yang menitikberatkan pembangunan pada sektor ekonomi62 yang orientasinya pada pemodal yang kuat, maka, bagi masyarakat yang tidak mempunyai akses ke tanah, walaupun hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai sarana tempat tinggal, bahkan sejak Tahun 1970 kencederungan masyarakat sudah mulai memanfaatkan tanah-tanah kosong yang dibiarkan oleh yang (secara hukum) mempunyai.
Dalam makalah berjudul ASPEK KEADILAN DALAM PENYELESAIAN MASALAH PENGUASAAN TANAH oleh Sapardiyono, Kepala Sub Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, sekarang tengah menempuh pendidikan tingkat magister pada Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta menyebutkan, bahwa Pada umumnya bagi mereka yang menilai tanah sebagai investasi, maka apabila telah menguasai tanah ada kecenderungan tanahnya ditinggalkan tanpa diusahakan sebagaimana mestinya sesuai dengan sifat dan kewajiban yang dilekatkan pada saat pemberian hak, sehingga terkesan bahwa tanah-tanah yang demikian seperti tanpa pemilik, yang pada akhirnya ada masyarakat (oknum) yang memanfaatkan tanpa kewenangan atas bidang tanah
61
Moh. Mahfud MD, Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia, Gama Media, Yogyakarta 1999, hlm 229-3232.
62
Nurhasan Ismail menjelaskan, bahwa Pada Periode 1967-sekarang, hukum pertanahan cenderung menguntungkan kelompok masyarakat yang mampu menguasai dan memanfaatkan tanah bagi pengembangan usaha dan peningkatan produksi, sehingga dapat dinyatakan bahwa hukum pertanahan periode ini lebih mendorong terciptanya keadilan distributif. Ringkasan Disertasi, Perkembangan Hukum Pertanahan Indonesia, Suatu Pendekatan Ekonomi-Politik, Tanpa Penerbit, Universitas Gadjam Mada, Yogyakarta, 2006, hlm.26.
tersebut. Bahwa rakyat sudah mulai memanfaatkan tanah yang atau tadinya merupakan tanah kosong, atau tanah , Pangonan, atau tanah hutan.63
Penguasaan tanah dapat diartikan sebagai memiliki tanah, tetapi dapat juga diartikan sebagai orang yang mengusahakan atau memanfaatkan tanah secara fisik, baik dilengkapi dengan tanda bukti maupun tidak mempunyai ikatan yang kuat atau hubungan hukum dengan tanah tersebut sebagaimana Pasal 16 UUPA. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa, setiap orang yang memanfaatkan atau menggunakan tanah secara fisik belum tentu secara yuridis formal sebagai pemilik tanah yang dimanfaatkan dan digunakan tersebut.
Cara penguasaan tanah oleh masyarakat di berbagai daerah menunjukkan adanya kesamaan bagaimana masyarakat menguasai dan memiliki tanah64, karena pada mulanya proses yang terdapat pada masyarakat (baca: adat) dalam memperoleh tanah mempunyai kemiripan antar daerah satu dengan daerah yang lain.
Peraturan Pemerintah Nomor 24/1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada Pasal 24 menetapkan, bahwa penguasaan tanah secara fisik dengan jangka waktu lebih 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut dengan itikad baik dengan disertai syarat tertentu dapat dijadikan sebagai bukti atas penguasaan/pemilikan tanah oleh seseorang, dan dapat didaftarkan haknya.65
63
MAJALAH ILMIAH PERTANAHAN SEKOLAH TINGGI PERTANAHAN NASIONAL Nomor 21 Tahun 8 Maret 2007
64
B. Ter Haar Bzn, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta 1976, hal 71- 77.
65
Makalah Sapardiyono, A.Ptnh, Kepala Sub Bagian Akademik dan Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, hal 7.
Arti dan makna dari itikad baik dalam PP 24/1997 tersebut tidak dijelaskan secara rinci, sehingga akan menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda, hal inilah yang tentunya akan memberikan peluang kepada para pihak untuk menafsirkannya sesuai dengan kepentingan masing masing. Sementara bagi masyarakat yang betul-betul membutuhkan tanah, menguasai tanah ditujukan agar dapat memenuhi hajatnya, tetapi tidak jarang mereka justru dinomorduakan apabila terjadi masalah di kemudian hari yang berkaitan dengan penguasaannya tersebut, dan cenderung untuk dikalahkan.
BAB III
STATUS HUKUM ATAS TANAH BILA TIDAK DIDAFTARKAN