• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akta PPAT

STATUS HUKUM ATAS TANAH BILA TIDAK DIDAFTARKAN PADA KANTOR PERTANAHAN

Sesuai wawancara langsung yang dilakukan oleh penulis kepada Bapak Syafruddin Chandra, Koordinator Kantor Pertanahan Kota Medan menyebutkan, bahwa segala peristiwa Peristiwa-peristiwa hukum apa yang menyebabkan perubahan data yuridis sesuai yang disebut dalam pasal 94 ayat (2) Peraturan Menteri Nomor 3 tahun 1997 dan mengenai perubahan data fisik dalam ayat (3) yang Semuanya diatur dalam Bab V Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 (Pasal 36 sampai dengan pasal 56) serta mendapat pengaturan lebih lanjut dan rinci dalam Bab IV Permenag Nomor 3 Tahun 1997 jika tidak didaftarkan pada Kantor Pertanahan Kota Medan,

maka Kantor Pertanahan dalam konteks ini memandang tidak ada data yuridis dan data fisik tanah yang berubah.

Jika pemilik bidang tanah yang secara materil dilapangan menguasai secara fisik atas bidang tanah hak milik berdasarkan peralihan hak yang aktanya dibuat secara notariel sekalipun namun tidak didaftarkan untuk kemudian dibalik namakan, maka pemilik bidang tanah yang bersangkutan tidak mendapat perlindungan hukum yakni berupa kepastian hukum atas haknya, artinya BPN menganggap data yuridis tanahnya juga tidak mengalami perubahaan .

Beliau juga menambahkan, bahwa mengenai besarnya biaya pendaftaran tanah yang mengalami perubahan data fisik dan yuridis tanah diiatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2002 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional.66

Dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2002 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Badan Pertanahan Nasional, menyebutkan bahwa Dalam rangka mengoptimalkan Penerimaan Negara Bukan Pajak guna menunjang pembangunan nasional, Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Badan Pertanahan Nasional sebagai salah satu sumber Penerimaan Negara perlu dikelola dan dimanfaatkan untuk peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut dan untuk memenuhi ketentuan Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak, perlu ditetapkan

66

Wawancara yang dilaksanakan pada tangggal 10 (sepuluh) April 2008 kepada Syafruddin Chandra, SH, SPn, MKn, jabatan Koordinator Kantor Pertanahan Kota Medan dengan NIP 01010776 terkait biaya pendaftaran tanah yang mengalami perubahan data fisik dan data yuridis tanah.

tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Badan Pertanahan Nasional dengan Peraturan Pemerintah.

Berdasarkan Kepres Nomor 23 Tahun 2003 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, pelaksanaan pelayanan di bidang Pertanahan pada prinsipnya merupakan kewenangan Daerah.

Namun untuk menjaga kelangsungan pelayanan di bidang Pertanahan dan sebelum adanya peraturan yang baru mengenai kewenangan di bidang Pertanahan, sebagian tugas pemerintahan yang dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional di Daerah tetap dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat sampai dengan ditetapkannya peraturan perundang-undangan di bidang Pertanahan. Apabila di kemudian hari ditetapkan ketentuan yang baru mengenai kewenangan di bidang Pertanahan, maka Peraturan Pemerintah ini akan disesuaikan dengan ketentuan yang baru tersebut.

Oleh karena itu Bapak Syafruddin Chandra, menyarankan agar tanah yang mengalami perubahan data fisik dan data yuridis supaya didaftarkan pada Kantor pertanahan, manfaatkan, gunakan dan kuasaialah tanah tersebut sesuai peruntukannya.

Selain itu Bapak Syafruddin Chandra, juga mengharapkan kiranya dalam masalah pelunasan Pajak (BPHTB) seyogiyanya masyarakat jangan membebankannya kepada Kantor Pertanahan, sehingga masyarakat dapat memahami kalau biaya pengurusan sertifikat itu tidak mahal. Kemungkinan yang membuat masyarakat menilai biaya pengurusan pendaftaran tanah itu mahal atau agak besar

adalah disebabkan oleh setoran wajib ke negara yaitu Penerimaan Negara Bukan Pajak, maka opini masyarakat itu tidaklah beralasan.

Dalam kaitan pengambilan tanah hak milik demi kepentingan umum semisal pelebaran jalan, maka dibentuk suatu panitia yang disebut dengan Panitia IX yang tugasnya mengumpulkan sertifikat tanah untuk kemudian dirubah luas tanah yang terpakai dalam pelebaran jalan, hal ini erat kaitannya dengan dengan telah terjadinya perubahan data fisik tanah yakni dalam hal luas tanahnya.

Apabila ada penggabungan sebagaimana yang diimaksud dalam Pasal 50 Angka (1) yang menyebutkan, bahwa Atas permintaan pemegang hak yang bersangkutan, dua bidang tanah atau lebih yang sudah didaftar dan letaknya berbatasan yang kesemuanya atas nama pemilik yang sama dapat digabung menjadi satu satuan bidang baru, jika semuanya dipunyai dengan hak yang sama dan bersisa jangka waktu yang sama, dan dalam Angka (2) dikatakan Dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk satuan bidang yang baru tersebut dibuatkan surat ukur, buku tanah dan sertipikat dengan menghapus surat ukur, buku tanah dan sertipikat masing-masing, maka data fisik dan yuridiis tanah wajib terkumpul untuk selanjutnya diterbitkan sertifikat baru, jika tidak maka Kantor Pertanahan Kota Medan memandang kasus ini tidak ada penggabungan tanah.67

Selain itu mengenai tanah-tanah yang terkena rencana pelebaran jalan atau lazim dikenal dengan terkena Rolien memang BPN tidak memberikan serifikat atas

67

Wawancara yang dilaksanakan pada tangggal 2 (dua) Mei 2008 kepada Bapak Emry, SH, MKn, jabatan Kasubag Kantor Pertanahan Kota Medan, NIP 010146145.

tanah yang terkena Rolien Jalan tersebut, beliau juga menambahkan, bahwa bagi tanah yang sudah melakukan pendaftaran tanah dan memperoleh Sertifikat Hak Milik yang dilaksanakan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 sebelum keluarnya Peratuaran Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 masih diakui.68

Beliau juga menambahkan apabila ada suatu perbuatan hukum dimana seseorang ada melakukan pengajuan pinjaman kredit kepada lembaga keuangan bukan perbangkan semisal leasing (lembaga pembiayaan) dengan mengagunkan tanah hak miliknya kepada lembaga pembiayaan terkait dengan hanya membuat membuat perjanjian kredit saja yang dibuat secara notariel sekalipun namun tidak didaftarkan pada Kantor Pertanahan Kota Medan, maka BPN berpegang teguh kepada Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 dan Undang-Undang nomor 4 Tahun 1996 Pasal 13 ayat (1) yang menyebutkan, bahwa Pemberian Hak Tanggungan wajib didaftarkan pada Kantor Pertanahan, angka (2) disebutkan, bahwa Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah penandatanganan Akta Pemberian Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), PPAT wajib mengirimkan Akta Pemberian Hak Tanggungan yang bersangkutan dan warkah lain yang diperlukan kepada Kantor Pertanahan, angka (3) yang menyebutkan, bahwa Pendaftaran Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Kantor Pertanahan dengan membuatkan buku tanah Hak Tanggungan dan mencatatnya dalam buku tanah hak atas tanah yang menjadi obyek Hak Tanggungan

68

Wawancara yang dilaksanakan pada tangggal 5 (lima) Mei 2008 kepada Bapak Sugeng Staff KasubagTata Usaha Pada Kantor Pertanahan Kota Medan.

serta menyalin catatan tersebut pada sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan, ayat (4) yang menyebutkan, bahwa Tanggal buku tanah Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tanggal hari ketujuh setelah penerimaan secara lengkap surat-surat yang diperlukan bagi pendaftarannya dan jika hari ketujuh itu jatuh pada hari libur, buku tanah yang bersangkutan diberi bertanggal hari kerja berikutnya, dan terakhir (5) yang menyebutkan, bahwa Hak Tanggungan lahir pada hari tanggal buku tanah Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

Selain itu dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang nomor 4 Tahun 1996 yang menyebutkan, bahwa Sebagai tanda bukti adanya Hak Tanggungan, Kantor Pertanahan menerbitkan sertipikat Hak Tanggungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan ayat (2) Sertipikat Hak Tanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat irah-irah dengan kata-kata “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”, serta dalam (3) disebutkan, bahwa Sertipikat Hak Tanggunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mempunyai kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekeuatan hukum tetap dan berlaku sebagai pengganti grosse acte

Hypotheek sepanjang mengenai hak atas tanah.69

Jika lembaga pembiayaan yang bersangkutan yang pengaturannya diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 1988 Tentang Lembaga Pembiayaan tidak mendaftarkan pada kantor Pertanahan maka Kantor

69

Wawancara yang dilaksanakan pada tangggal 2 (dua) Mei 2008 kepada Bapak Emry, SH, MKn, jabatan Kasubag Kantor Pertanahan Kota Medan.

Pertanahan Kota Medan Menganggap tidak ada perubahan data yuridis tanah, ooleh karena itu, Beliau menyarankan agar Notaris dan PPAT berperan aktif agar memberikan penyuluhan hukum dan menyarankan kepada para lembaga pembiayaan agar mematuhi ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, sebab pada dasarnya masyarakat kita ini secara umum miskin ilmu, miskin mata pencaharian dan terakhir miskin kesadaran hukum.

Kantor Pertanahan Menolak Pendaftaran Tanah yang mengalami perubahan data fisik dan yuridis tanah apabila persyaratan tidak sesuai dengan Undang-undang yang berlaku dan jika ada pihak-pihak ataupun ahli waris yang menuntut.

Sehingga dalam hal mengapa masyarakat enggan melakukan Pendaftaran Tanah baik itu untuk pertama kali dan ataupun pendaftaran tanah yang mengalami perubahan data fisik dan data yuridis tanah adalah kembali kepada kemauan masyarakat itu sendiri, sebab mana mungkin BPN dapat mendata setiap peristiwa hukum ataupun perbuatan hukum yang berkaitan dengan adanya perubahan data fisik dan yuridis tanah secara langsung dilapangan.70

Bapak Emry juga menyebutkan, bahwa jika ada oknum-oknum pegawai BPN yang mempersulit atau melakukan pungutan liar kepada masyarakat diluar ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam hal pengurusan sertifikat tanah, baik itu untuk pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pendaftaran tanah yang

70

Wawancara yang dilaksanakan pada tangggal 2 (dua) Mei 2008 kepada Bapak Emry, SH, MKn, jabatan Kasubag Kantor Pertanahan Kota Medan.

mengalami perubahan data fisik dan data yuridis tanah, silahkan laporkan kepada saya untuk selanjutnya diproses secara hukum.

Risdawati, Kasubagum KBPP Medan II mengatakan, bahwa bagi peralihan hak tanah atas hibah, pewarisan, dan bagi pensiunan bisa mendapat pengurangan pajak dalam hal ini BPHTB sebesar 50 % dan hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 1997 dan telah direvisi dengan UU No.20 Tahun 2000 Tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta untuk tanah wakaf tidak dipungut BPHTB nya.

Namun bagi pemecahan, penggabungan dan Hak tanggungan serta jual beli tanah tidak bisa mendapat pengurangan pajak, pajak yang dimaksud disini adalah BPHTB.71

Dalam pasal 94 ayat (1) Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 tahun 1997 disebutkan, bahwa “Pemeliharaan data pendaftaran tanah dilaksanakan dengan pendafatran perubahan data fisik dan atau data yuridis obyek pendaftaran tanah yang telah terdaftar dengan mencatatnya di dalam daftar umum sesuai dengan mencatatnya didalam daftar umum sesuai dengan ketentuan di dalam peraturan ini”.

Dalam Pasal 36 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 disebutkan, bahwa “Pemeliharaan data pendaftaran tanah dilakukan apabila terjadi perubahan pada data fisik atau data yuridis obyek pendaftaran tanah yang telah terdaftar”.

71

Wawancara yang dilaksanakan pada tangggal 3 (tiga) April 2008 kepada Risdawati, SE,MSi , Kasubagum KBPP Medan II .

Dalam pasal 36 ayat (2) Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 disebutkan, bahwa “Pemegang hak yang bersangkutan wajib mendaftarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kantor Pertanahan”.

Dalam penjelasan Pasal 36 Ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 menyebutkan, bahwa “ Perubahan data fisik terjadi kalau diadakan pemisahan, pemecahan, atau penggabungan bidang-bidang tanah yang sudah didaftar. Perubahan data yuridis terjadi misalnya kalau diadakan pembebanan atau pemindahan hak atas bidang tanah yang sudah didaftar “.

1. Pembuktian Hak Lama

Mengenai Pembuktian Hak Lama atas tanah diatur dalam Pasal 24 Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 yang antara lain adalah :

a. Untuk keperluan pendaftaran hak, hak atas tanah yang berasal dari konversi hak-hak lama dibuktikan dengan alat-alat bukti mengenai adanya hak tersebut berupa bukti-bukti tertulis, keterangan saksi dan atau pernyataan yang

bersangkutan yang kadar kebenarannya oleh Panitia Ajudikasi dalam

pendaftaran tanah secara sistematik atau oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik, dianggap cukup untuk mendaftar hak, pemegang hak dan hak-hak pihak lain yang membebaninya.

b. Dalam hal tidak atau tidak lagi tersedia secara lengkap alat-alat pembuktian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pembukuan hak dapat dilakukan berdasarkan kenyataan penguasaan fisik bidang tanah yang bersangkutan

selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut oleh pemohon pendaftaran dan pendahuluan-pendahulunya, dengan syarat:

1. Penguasaan tersebut dilakukan dengan itikad baik dan secara terbuka oleh yang bersangkutan sebagai yang berhak atas tanah, serta diperkuat oleh kesaksian orang yang dapat dipercaya;

2. Penguasaan tersebut baik sebelum maupun selama pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan ataupun pihak lainnya.

Dalam penjelasan Pasal 24 Peraturan Pemerintah nomor 24 Tahun 1997 dalam Ayat (1) dikatakan, bahwa Bukti kepemilikan itu pada dasarnya terdiri dari bukti kepemilikan atas nama pemegang hak pada waktu berlakunya UUPA dan apabila hak tersebut kemudian beralih, bukti peralihan hak berturut-turut sampai ke tangan pemegang hak pada waktu dilakukan pembukuan hak.

2. Alat-alat bukti tertulis yang dimaksudkan dapat berupa:

a. Grosse akta hak eigendom yang diterbitkan berdasarkan Overschrijvings

Ordonnantie (Staatsblad. 1834-27), yang telah dibubuhi catatan, bahwa hak

eigendom yang bersangkutan dikonversi menjadi hak milik; atau

b. Grosse akta hak eigendom yang diterbitkan berdasarkan Overschrijvings

Ordonnantie (Staatsblad. 1834-27) sejak berlakunya UUPA sampai tanggal

pendaftaran tanah dilaksanakan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 di daerah yang bersangkutan; atau

c. Surat tanda bukti hak milik yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Swapraja yang bersangkutan; atau

d. Sertipikat hak milik yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Menteri Agraria Nomor 9 Tahun 1959; atau

e. Surat keputusan pemberian hak milik dari Pejabat yang berwenang, baik sebelum ataupun sejak berlakunya UUPA, yang tidak disertai kewajiban untuk mendaftarkan hak yang diberikan, tetapi telah dipenuhi semua kewajiban yang disebut di dalamnya; atau

f. Akta pemindahan hak yang dibuat di bawah tangan yang dibubuhi tanda kesaksian oleh Kepala Adat/Kepala Desa/Kelurahan yang dibuat sebelum berlakunya Peraturan Pemerintah ini; atau

g. Akta pemindahan hak atas tanah yang dibuat oleh PPAT, yang tanahnya belum dibukukan; atau

h. Akta ikrar wakaf/surat ikrar wakaf yang dibuat sebelum atau sejak mulai dilaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1977; atau

i. Risalah lelang yang dibuat oleh Pejabat Lelang yang berwenang, yang tanahnya belum dibukukan; atau

j. Surat penunjukan atau pembelian kaveling tanah pengganti tanah yang diambil oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah; atau

k. Petuk Pajak Bumi/Landrente, girik, pipil, kerikil dan Verponding Indonesia sebelum berlaku Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961; atau

l. Surat keterangan riwayat tanah yang pernah dibuat oleh Kantor Pelayanan Pajak Bumi dan Bangunan; atau

m. Lain-lain bentuk alat pembuktian tertulis dengan nama apapun juga sebagaimana dimaksud dalam Pasal II, Pasal VI dan Pasal VII Ketentuan-ketentuan Konversi UUPA.

Sedangkan yang dimaksud dalam hal bukti tertulis tersebut tidak lengkap atau tidak ada lagi, pembuktian pemilikan itu dapat dilakukan dengan keterangan saksi atau pernyataan yang bersangkutan yang dapat dipercaya kebenarannya menurut pendapat Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik atau Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik.

Selanjutnya Yang dimaksud dengan saksi adalah orang yang cakap memberi kesaksian dan mengetahui kepemilikan tersebut.

Dalam penjelasan Pasal 24 Ayat (2) disebutkan, bahwa “Ketentuan ini memberi jalan keluar apabila pemegang hak tidak dapat menyediakan bukti kepemilikan sebagaimana dimaksud ayat (1), baik yang berupa bukti tertulis maupun bentuk lain yang dapat dipercaya. Dalam hal demikian pembukuan hak dapat dilakukan tidak berdasarkan bukti kepemilikan akan tetapi berdasarkan bukti penguasaan fisik yang telah dilakukan oleh pemohon dan pendahulunya.

3. Tabel Syarat Pembukuan Hak Sesuai Penjelasan Pasal 24 ayat (2) PP/24/1997 Syarat-syarat Pembukuan hak

1. bahwa penguasaan dan penggunaan tanah yang bersangkutan dilakukan secara nyata dan dengan itikat baik selama 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara berturut-turut;

2. bahwa kenyataan penguasaan dan penggunaan tanah tersebut selama itu tidak diganggu gugat dan karena itu dianggap diakui dan dibenarkan oleh masyarakat hukum adat atau desa/kelurahan yang bersangkutan;

3. bahwa hal-hal tersebut diperkuat oleh kesaksian orang-orang yang dapat dipercaya;

4. bahwa telah diberikan kesempatan kepada pihak lain untuk mengajukan keberatan melalui pengumuman sebagaimana dimaksud Pasal 26;

5. bahwa telah diadakan penelitian juga mengenai kebenaran hal-hal yang disebutkan di atas;

6. bahwa akhirnya kesimpulan mengenai status tanah dan pemegang haknya dituangkan dalam keputusan berupa pengakuan hak yang bersangkutan oleh Panitia Ajudikasi dalam pendaftaran tanah secara sistematik dan oleh Kepala Kantor Pertanahan dalam pendaftaran tanah secara sporadik.

4. Kewenangan Notaris

“Definisi Notaris menurut pasal 1 angka (1) UU RI Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini”.

Dalam Penjelasan Umum UU RI Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris menyebutkan, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan secara tegas bahwa negara Republik Indonesia adalah negara hukum. Prinsip negara hukum menjamin kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum yang berintikan kebenaran dan keadilan. Kepastian, ketertiban,-dan perlindungan hukum menuntut, antara lain, bahwa lalu lintas hukum dalam kehidupan masyarakat memerlukan adanya alat bukti yang menentukan dengan jelas hak dan kewajiban seseorang sebagai subjek hukum dalam masyarakat. Akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan terpenuh mempunyai peranan penting dalam setiap hubungan

hukum dalam kehidupan masyarakat. Dalam berbagai hubungan bisnis, kegiatan di bidang perbankan, pertanahan, kegiatan sosial, dan lain-lain, kebutuhan akan pembuktian tertulis berupa akta otentik makin meningkat sejalan dengan berkembangnya tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi dan sosial, baik pada tingkat nasional, regional, maupun global. Melalui akta otentik yang menentukan secara jelas hak dan kewajiban, menjamin kepastian hukum, dan sekaligus diharapkan pula dapat dihindari terjadinya sengketa. Walaupun sengketa tersebut tidak dapat dihindari, dalam proses penyelesaian sengketa tersebut, akta otentik yang merupakan alat bukti tertulis terkuat dan terpenuh memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian perkara secara murah dan cepat. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang antuk membuat akta otentik sejauh pembuatan akta otentik tertentu tidak dikhususkan bagi pejabat umum lainnya. Pembuatan akta otentik ada yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dalam rangka menciptakan kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum. Selain akta otentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris, bukan saja karena diharuskan oleh peraturan perundangundangan, tetapi juga karena dikehendaki oleh pihak yang berkepentingan untuk memastikan hak dan kewajiban para pihak demi kepastian, ketertiban, dan perlindungan hukum bagi pihak yang berkepentingan sekaligus, bagi masyarakat secara keseluruhan. Akta otentik pada hakikatnya memuat kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada Notaris. Namun, Notaris mempunyai kewajiban untuk memasukkan bahwa apa yang termuat dalam Akta Notaris sungguh-sungguh telah dimengerti dan sesuai dengan kehendak para pihak,

yaitu dengan cara membacakannya sehingga menjadi jelas isi Akta Notaris, serta memberikan akses terhadap informasi, termasuk akses terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait bagi para pihak penanda tangan akta. Dengan demikian, para pihak dapat menentukan dengan bebas untuk menyetujui atau tidak menyetujui isi Akta Notaris yang akan ditandatanganinya. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang Jabatan Notaris yang kini berlaku sebagian besar masih didasarkan pada peraturan perundang-undangan peninggalan zaman kolonial Hindia Belanda dan sebagian lagi merupakan peraturan perundang-undangan nasional, yaitu:

1. Reglement Op Het Notaris Ambt in Indonesie (Stb.1860:3) sebagaimana telah

diubah terakhir dalam Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 101;

2. Ordonantie 16 September 1931 tentang Honorarium Notaris;

3. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1954. tentang Wakil Notaris dan Wakil Notaris Sementara (Lembaran Negara Tahun 1954 Nomor 101, Tambahan Lembaran Negara Nomor 700);

4. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 34, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4379); dan

5. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1949 tentang Sumpah/Janji Jabatan Notaris.