IV. HASIL DAN PEMBASAHAN
4.4. Faktor Penyebab Stres (stressor) dan Gejala Stres Kerja Karyawan
Stres kerja yang dialami seseorang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab stres (stressor) baik yang berasal dari dalam pekerjaan maupun dari luar pekerjaan seseorang. Robbins (2002) mengkategorikan faktor penyebab stres ke dalam tiga kelompok, yaitu faktor lingkungan, faktor organisasional dan faktor individual.
Faktor penyebab stres kerja yang dibahas dalam penelitian ini hanya faktor organisasional, yakni faktor yang berasal dari dalam pekerjaan. Faktor lingkungan dan faktor individual tidak dibahas mengingat kedua faktor tersebut berasal dari luar pekerjaan sehingga berada di luar kendali pihak manajemen perusahaan. Faktor-faktor organisasional yang menjadi stressor kerja karyawan BRI mencakup tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan hubungan antarpribadi, struktur organisasi, kepemimpinan organisasi dan tahap hidup organisasi.
Penilaian responden terhadap stressor kerja dilihat dari skor rataan indikator stressor kerja (Lampiran 5). Adapun penilaian responden terhadap indikator/pernyataan tentang stressor kerja dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.
Tabel 5. Faktor-faktor Penyebab Stres Kerja (stressor) Karyawan
Bobot Nilai Indikator Stressor Kerja
1 2 3 4 5
Skor
Rataan Keterangan
Tugas yang diberikan perusahaan
berlebihan 5 13 10 10 14 3,29 Sedang
Tanggung jawab yang diberikan
perusahaan sangat memberatkan 10 9 19 6 8 2,87 Sedang Dikejar waktu dalam menyelesaikan
pekerjaan 0 10 2 16 24 4,04 Tinggi
Tugas yang dilakukan tidak terjadwal
dengan baik 19 15 0 18 0 2,33 Rendah
Mengalami kesulitan memenuhi target
perusahaan 10 21 12 9 0 2,38 Rendah
Mendapat waktu istirahat yang kurang
untuk menjalankan pekerjaan 10 14 5 8 15 3,08 Sedang Tidak mampu menyelesaikan pekerjaan
tepat waktu 9 25 3 15 0 2,46 Rendah
Bekerja dengan peralatan yang tidak
memadai 10 28 0 14 0 2,35 Rendah
Lingkungan kerja yang banyak
gangguan 10 28 6 8 0 2,23 Rendah
Rata-rata Tuntutan Tugas 2,78 Sedang
Mengerjakan tugas yang berbeda-beda 0 0 5 42 5 4,00 Tinggi Melakukan pekerjaan yang dirasakan
tidak dimengerti/tidak cocok 10 21 0 21 0 2,62 Rendah Menerima tugas yang bertentangan satu
sama lain 10 33 9 0 0 1,98 Rendah
Tujuan yang ditetapkan perusahaan
tidak sesuai dengan harapan 10 28 6 8 0 2,23 Rendah Ditekan dengan banyak peraturan
dalam menjalankan tugas 10 34 0 8 0 2,12 Rendah Mengalami konflik dari tugas yang
dibebankan atasan yang berlainan 10 34 0 8 0 2,12 Rendah Merasakan konflik dari tugas yang
dibebankan atasan langsung saya 19 25 0 8 0 1,94 Rendah Menerima penugasan yang berbeda-
beda dari dua atasan/lebih 5 9 30 8 0 2,79 Sedang
Rata-rata Tuntutan Peran 2,47 Rendah
Hubungan yang tidak harmonis dengan
rekan kerja 35 9 0 8 0 1,63 Sangat Rendah
Mengalami konflik dengan rekan kerja 26 18 0 8 0 1,81 Sangat Rendah Mengalami kesulitan berkomunikasi
dengan atasan 10 13 29 0 0 2,37 Rendah
Kurangnya dukungan dari atasan 10 15 19 8 0 2,48 Rendah Ada hubungan yang tidak baik antara
atasan dan karyawan 10 28 6 8 0 2,23 Rendah
Rata-rata Tuntutan Hubungan Antarpribadi 2,10 Rendah
Merasa kurang jelas dengan informasi
dari perusahaan mengenai pekerjaan 10 33 9 0 0 1,98 Rendah Tidak tahu apa yang menjadi tanggung
jawab pekerjaan yang saya jalankan 30 22 0 0 0 1,42 Sangat Rendah Merasa tidak jelas dalam hal ruang
Lanjutan Tabel 5.
Bobot Nilai Indikator Stressor Kerja
1 2 3 4 5
Skor
Rataan Keterangan
Merasa sulit memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan
15 37 0 0 0 1,71 Sangat Rendah Merasa tidak tahu harus bertanggung
jawab kepada siapa dalam bekerja 21 21 10 0 0 1,79 Sangat Rendah Prosedur/Instruksi kerja kurang jelas 15 31 6 0 0 1,83 Sangat Rendah Alur komunikasi tidak jelas 15 31 6 0 0 1,83 Sangat Rendah
Rata-rata Struktur Organisasi 1,79 Sangat
Rendah Atasan terlalu banyak mengatur 15 9 6 22 0 2,67 Rendah Atasan bertindak kurang adil dalam
pembagian pekerjaan kepada bawahan 10 9 25 8 0 2,60 Rendah Merasa tidak mengetahui bagaimana
penilaian atasan terhadap hasil kerja saya
10 5 13 24 0 2,98 Sedang Merasa tidak mempunyai peranan
dalam pengambilan keputusan 10 13 29 0 0 2,37 Rendah Merasa tidak ada kesempatan untuk
berpartisipasi dalam mencapai tujuan perusahaan
10 13 29 0 0 2,37 Rendah Atasan tidak memberitahu dengan jelas
perubahan-perubahan kebijaksanaan di perusahaan
10 5 29 8 0 2,67 Rendah Atasan tidak memberitahu tugas yang
harus saya lakukan 10 33 9 0 0 1,98 Rendah
Rata-rata Kepemimpinan Organisasi 2,52 Rendah
Peluang yang kecil untuk mendapat
promosi 5 20 19 3 5 2,67 Rendah
Mendapat pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan berbeda dari sebelumnya
0 4 9 23 16 3,98 Tinggi Merasa tidak mempunyai kesempatan
untuk lebih maju dalam bekerja 15 13 9 15 0 2,46 Rendah Mengalami promosi kerja ke jabatan
yang lebih rendah dari kemampuan yang dimiliki
15 15 7 15 0 2,42 Rendah Mengalami promosi kerja ke jabatan
yang lebih tinggi dari kemampuan yang dimiliki
10 8 23 11 0 2,67 Rendah Umpan balik terhadap hasil kerja tidak
sesuai dengan harapan 18 7 9 12 6 2,63 Rendah Pemberhentian karyawan menjadi
pemicu kecemasan saya untuk bekerja dengan baik
15 8 15 10 4 2,62 Rendah
Rata-rata Tahap Hidup Organisasi 2,78 Sedang
Berdasarkan penilaian responden tersebut, diperoleh kesimpulan mengenai persepsi karyawan terhadap stressor kerja, yaitu:
1. Tuntutan tugas
Tuntutan tugas ialah berbagai faktor yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang biasanya menyangkut jenis rancang bangun pekerjaan orang tersebut, seperti sifat tugas, waktu, kondisi kerja dan tata ruang di mana seseorang bekerja. Kesemuanya itu harus diperhitungkan agar tidak menyebabkan timbulnya stres.
Skor rataan faktor tuntutan tugas sebesar 2,78 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap stressor kerja yang disebabkan karena tugas yang diberikan perusahaan berlebihan, tanggung jawab yang diberikan perusahaan sangat memberatkan, dikejar waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, tugas yang dilakukan tidak terjadwal dengan baik, mengalami kesulitan memenuhi target perusahaan, mendapat waktu istirahat yang kurang, tidak mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, bekerja dengan peralatan yang tidak memadai dan lingkungan kerja yang banyak gangguan, dialami karyawan dengan tingkat yang sedang.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pada umumnya karyawan berpendapat pekerjaan yang dilakukan melebihi kapasitas waktu yang dimiliki sehingga karyawan merasa dikejar waktu dalam menyelesaikan pekerjaan dan waktu istirahat menjadi berkurang, namun karyawan tetap mampu menyelesaikan pekerjaan tepat waktu karena menganggap tugas yang dibebankan sebagai suatu tantangan yang harus diselesaikan dengan baik. Hal ini juga didukung dengan tersedianya peralatan kerja yang cukup memadai dan lingkungan kerja yang kondusif.
2. Tuntutan Peran
Tuntutan peran berkaitan dengan berbagai tekanan yang dibebankan kepada seseorang sebagai akibat peranannya dalam organisasi. Setiap tenaga kerja bekerja sesuai dengan perannya dalam organisasi, artinya setiap tenaga kerja mempunyai kelompok tugasnya yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang ada dan sesuai dengan yang diharapkan oleh atasannya. Konflik
dalam peranan menyebabkan timbulnya harapan yang sulit atau tidak mungkin terpenuhi. Ketidakjelasan peran tercipta apabila harapan terhadap seseorang tidak jelas dan karyawan tidak memahami betul apa yang sesungguhnya diharapkan daripadanya. Peran yang diharapkan dimainkan seseorang harus sesuai dengan pengetahuan, keterampilan, pengalaman, bakat, minat dan penugasan yang dipercayakan kepadanya agar tidak menghadapi stres yang berat.
Skor rataan faktor tuntutan peran sebesar 2,47 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap stressor kerja yang disebabkan karena mengerjakan tugas yang berbeda-beda, melakukan pekerjaan yang dirasakan tidak dimengerti/tidak cocok, menerima tugas yang bertentangan satu sama lain, tujuan yang ditetapkan perusahaan tidak sesuai dengan harapan, ditekan dengan banyak peraturan dalam menjalankan tugas, mengalami konflik dari tugas yang dibebankan atasan yang berlainan, mengalami konflik dari tugas yang dibebankan atasan langsung dan menerima penugasan yang berbeda-beda dari dua atasan/lebih, dialami karyawan dengan tingkat yang rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pada umumnya karyawan berpendapat tugas yang dikerjakan berbeda-beda, namun tugas tersebut dirasa tidak bertentangan satu sama lain, sehingga masih dapat dimengerti oleh karyawan. Peraturan yang cukup fleksibel juga turut mendukung karyawan selama bekerja. Selain itu, yang terpenting adalah adanya kesesuaian antara tujuan yang ditetapkan perusahaan dengan harapan karyawan, sehingga konflik peran yang dirasakan dari tugas baik yang dibebankan oleh atasan langsung maupun atasan yang berlainan masih dapat diatasi.
3. Tuntutan Hubungan Antarpribadi
Tuntutan hubungan antarpribadi adalah tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain. Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat
menimbulkan stres yang cukup besar. Seseorang akan semakin bergairah untuk menampilkan kinerja yang memuaskan apabila terdapat rekan kerja yang mendukung. Artinya, diperlukan hubungan interpersonal yang serasi. Tanpa hubungan yang demikian, seseorang sangat mungkin akan menghadapi stres.
Skor rataan faktor tuntutan hubungan antarpribadi sebesar 2,10 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap stressor
kerja yang disebabkan karena hubungan yang tidak harmonis dengan rekan kerja, mengalami konflik dengan rekan kerja, mengalami kesulitan berkomunikasi dengan atasan, kurangnya dukungan dari atasan dan adanya hubungan yang tidak baik antara atasan dengan karyawan, dialami karyawan dengan tingkat yang rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa pada umumnya karyawan berpendapat hubungan mereka dengan rekan kerja cukup harmonis. Adapun konflik yang terjadi hanya sebatas pada permasalahan yang berkaitan dengan pekerjaan, bukan karena permasalahan pribadi, sehingga hubungan yang baik antar karyawan tetap terjaga. Begitu juga hubungan dengan atasan karena karyawan cukup mudah berkomunikasi dengan atasan dan adanya dukungan dari atasan itu sendiri.
4. Struktur Organisasi
Struktur organisasi menentukan tingkat diferensiasi dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan dimana keputusan diambil. Ketidakjelasan struktur dalam menjelaskan jabatan, peran, wewenang dan tanggung jawab dapat menjadi sumber potensial dari stres.
Skor rataan faktor struktur organisasi sebesar 1,79 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap stressor kerja yang disebabkan karena merasa kurang jelas dengan informasi dari perusahaan mengenai pekerjaan, tidak tahu apa yang menjadi tanggung jawab pekerjaan yang dijalankan, merasa tidak jelas
dalam hal ruang lingkup pekerjaan, merasa sulit memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam menjalankan pekerjaan, merasa tidak tahu harus bertanggung jawab kepada siapa dalam bekerja, prosedur/instruksi kerja kurang jelas dan alur komunikasi yang kurang jelas, dialami karyawan dengan tingkat yang sangat rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa pada umumnya karyawan berpendapat stuktur organisasi yang ada di perusahaan sudah jelas dalam mendeskripsikan jabatan, peran, wewenang dan tanggung jawab masing-masing karyawan sesuai dengan jabatannya. Selain itu, struktur organisasi yang jelas menggambarkan alur komunikasi yang jelas pula, sehingga karyawan mengetahui dari mana informasi diperoleh dan kepada siapa harus bertanggung jawab. Struktur organisasi BRI dapat dilihat pada Lampiran 6.
5. Kepemimpinan Organisasi
Kepemimpinan organisasi menggambarkan gaya manajerial dari eksekutif senior dari organisasi. Tidak sedikit atasan yang senang menciptakan suasana ketegangan, keresahan dan bahkan ketakutan dikalangan para bawahannya, melakukan tekanan dalam bentuk tuntutan penyelesaian tugas dengan standar mutu dan kuantitas yang sulit atau sukar terpenuhi atau melakukan pengawasan yang sangat ketat. Situasi yang demikian dapat menimbulkan stres para bawahannya.
Skor rataan faktor kepemimpinan organisasi sebesar 2,52 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap stressor kerja yang disebabkan karena atasan terlalu banyak mengatur, atasan bertindak kurang adil dalam pembagian pekerjaan kepada bawahan, merasa tidak mengetahui bagaimana penilaian atasan terhadap hasil kerja bawahan, merasa tidak mempunyai peranan dalam pengambilan keputusan, merasa tidak ada kesempatan untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan perusahaan, atasan tidak memberitahu dengan jelas perubahan-perubahan kebijaksanaan di
perusahaan dan atasan tidak memberitahu tugas yang harus dilakukan, dialami karyawan dengan tingkat yang rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa pada umumnya karyawan berpendapat atasan sudah cukup baik dalam menjalankan tugas dan wewenang yang dimilikinya. Atasan memberikan pekerjaan berdasarkan deskripsi pekerjaan yang sudah ditetapkan sesuai jabatannya masing-masing dan memberikan kesempatan dalam pengambilan keputusan sesuai kewenangan yang dimiliki karyawan serta memberikan keleluasaan kepada karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan. Karyawan juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan perusahaan dengan memberikan pendapat atau saran agar keputusan yang diambil merupakan keputusan yang terbaik bagi semua pihak. Namun demikian, karyawan masih merasa kurang mengetahui bagaimana penilaian atasan terhadap hasil kerja mereka. Hal ini terkait dengan teknis penilaian kinerja yang dilakukan, dimana penilaian kinerja dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu atasan dan karyawan itu sendiri, sehingga dapat menimbulkan subjektivitas.
6. Tahap Hidup Organisasi
Organisasi berjalan melalui suatu siklus. Tahap hidup organisasi dimulai dengan lahirnya organisasi tersebut, kemudian dalam perjalanannya bertumbuh, berkembang, mapan atau dewasa untuk kemudian mengalami kemunduran dan pada akhirnya hilang. Suatu tahap hidup organisasi menciptakan masalah dan tekanan yang berbeda untuk para karyawan.
Skor rataan faktor tahap hidup organisasi sebesar 2,78 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap stressor kerja yang disebabkan karena peluang yang kecil untuk mendapat promosi, mendapat pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan yang berbeda dari sebelumnya, merasa tidak mempunyai kesempatan untuk lebih maju dalam bekerja, mengalami promosi kerja ke jabatan yang lebih rendah dari kemampuan yang dimiliki,
mengalami promosi kerja ke jabatan yang lebih tinggi dari kemampuan yang dimiliki, umpan balik terhadap hasil kerja tidak sesuai dengan harapan dan pemberhentian karyawan menjadi pemicu kecemasan untuk bekerja dengan baik, dialami karyawan dengan tingkat yang sedang.
Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan sudah berada pada tahap mapan/dewasa dan sedang melakukan pengembangan- pengembangan dan inovasi karena pada umumnya karyawan berpendapat adanya tuntutan pengetahuan dan ketrampilan yang baru yang harus mereka miliki. Pengetahuan dan keterampilan baru tersebut berkaitan dengan tuntutan tugas dan tuntutan peran yang meningkat dan harus terpenuhi, terutama jika karyawan menduduki jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Dampak lain dari proses pengembangan ialah peluang dan kecepatan promosi menjadi tidak sama setiap saat, sehingga karyawan merasakan adanya kesenjangan antara kedudukannya sekarang dalam perusahaan dengan kedudukan yang diharapkan. Meskipun demikian, para karyawan tetap berusaha untuk bekerja keras menghadapi tuntutan tersebut sebab mereka melihat prospek karier yang meningkat, kemungkinan menduduki jabatan yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar di masa yang akan datang.
Berdasarkan uraian diatas, diketahui bahwa stressor kerja yang berada pada kategori sedang yaitu faktor tuntutan tugas dan tahap hidup organisasi. Faktor tuntutan peran, tuntutan hubungan antarpribadi dan kepemimpinan organisasi berada pada kategori rendah. Sedangkan faktor yang berada pada kategori sangat rendah adalah faktor struktur organisasi. Kecenderungan stressor kerja tertinggi yang dialami karyawan adalah dikejar waktu dalam menyelesaikan pekerjaan, mengerjakan tugas yang berbeda-beda dan mendapat pekerjaan baru yang memerlukan keterampilan berbeda dari sebelumnya.
4.4.2. Gejala Stres Kerja Karyawan
Gejala stres merupakan hasil/keluaran dari stres yang dialami seseorang. Gejala stres kerja karyawan BRI mencakup gejala fisiologis, psikologis dan perilaku.
Penilaian responden terhadap gejala stres dilihat dari skor rataan indikator gejala stres (Lampiran 7). Adapun penilaian responden terhadap indikator/pernyataan tentang gejala stres dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.
Tabel 6. Gejala Stres Kerja Karyawan
Bobot Nilai Indikator Gajala Stres Kerja
1 2 3 4 5
Skor
Rataan Keterangan
Mengalami gangguan pencernaan
akibat bekerja 15 9 10 15 3 2,65 Rendah
Sakit kepala karena beban
pekerjaan 17 6 8 19 2 2,67 Rendah
Rata-rata Gejala Fisiologis 2,66 Rendah
Merasa putus asa dalam bekerja 14 17 8 13 0 2,38 Rendah Mudah tersinggung 12 15 5 20 0 2,63 Rendah Sulit untuk berkonsentrasi 14 0 11 27 0 2,98 Sedang Menunda-nunda mengerjakan
pekerjaan 15 20 0 17 0 2,37 Rendah
Merasa bosan dengan pekerjaan 10 4 22 16 0 2,85 Sedang Merasa gelisah dalam bekerja 14 4 34 0 0 2,38 Rendah Kurang puas dengan hasil kerja 10 15 27 0 0 2,33 Rendah Tidak bersemangat dalam bekerja 10 13 29 0 0 2,37 Rendah Tidak senang mengikuti kegiatan
di kantor 10 18 10 14 0 2,54 Rendah
Rata-rata Gejala Psikologis 2,54 Rendah
Tidak masuk kerja
26 15 11 0 0 1,71 Sangat Rendah Sukar tidur akibat pekerjaan 10 12 14 16 0 2,69 Rendah Nafsu makan berkurang karena
beban kerja 8 22 10 12 0 2,50 Rendah
Ada Keinginan berhenti bekerja
26 12 14 0 0 1,77 Sangat Rendah
Rata-rata Gejala Perilaku 2,17 Rendah
Berdasarkan penilaian responden tersebut, diperoleh beberapa kesimpulan mengenai persepsi karyawan terhadap gejala stres kerja, yaitu:
1. Gejala Fisiologis
Gejala fisiologis merupakan gejala yang timbul akibat stres kerja yang dialami seseorang berkaitan dengan kondisi fisik orang tersebut.
Skor rataan gejala fisiologis sebesar 2,66 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap gejala stres berupa mengalami gangguan pencernaan dan sakit kepala karena beban pekerjaan, dialami karyawan dengan tingkat rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa pada umumnya karyawan jarang mengalami gejala fisiologis berupa gangguan pencernaan dan sakit kepala.
2. Gejala Psikologis
Gejala psikologis merupakan gejala yang timbul akibat stres kerja yang dialami seseorang berkaitan dengan kondisi kejiwaan/mental orang tersebut.
Skor rataan gejala psikologis sebesar 2,54 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap gejala stres berupa merasa putus asa dalam bekerja, mudah tersinggung, sulit untuk berkonsentrasi, menunda-nunda mengerjakan pekerjaan, merasa bosan dengan pekerjaan, merasa gelisah dalam bekerja, kurang puas dengan hasil kerja, tidak bersemangat dalam bekerja dan tidak senang mengikuti kegiatan di kantor, dialami karyawan dengan tingkat rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pada umumnya karyawan sulit berkonsentrasi, merasa bosan dengan pekerjaan rutin yang dilakukan dan terkadang mudah tersinggung, namun karyawan tidak merasa putus asa dan gelisah dalam bekerja. Karyawan tetap bersemangat dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, sehingga jarang menunda-nunda pekerjaan dan mereka cukup puas dengan hasil kerja yang dicapai.
3. Gejala Perilaku
Gejala perilaku merupakan gejala yang timbul akibat stres kerja yang dialami seseorang berkaitan dengan tingkah laku orang tersebut.
Skor rataan gejala perilaku sebesar 2,17 mengandung arti bahwa persepsi karyawan terhadap gejala stres berupa tidak masuk kerja, sukar tidur akibat pekerjaan, nafsu makan berkurang karena beban kerja dan ada keinginan berhenti bekerja, dialami karyawan dengan tingkat rendah.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pada umumnya karyawan mengalami sukar tidur dan nafsu makan berkurang akibat pekerjaan, karyawan tetap menunjukkan komitmennya terhadap persahaan dengan rajin masuk kerja dan tetap menjadi bagian dari perusahaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa gejala stres yang dialami karyawan baik gejala fisiologis, psikologis maupun perilaku berada pada tingkat rendah. Kecenderungan gejala stres yang sering dialami oleh karyawan adalah sulit untuk berkonsentrasi dan merasa bosan dengan pekerjaan.