BAB II PENGATURAN TENTANG PENARIKAN ATAU
B. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Tindakan Kekerasan yang
1. Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan yang Dilakukan Debt
a. Karakteristik Debt Collector
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Karakter merupakan watak, sifat, peran, akhlak. Watak ataupun karakter merupakan sifat batin manusia yang mempengaruhi pikiran, budi pekerti dan tingkah laku/ tabiat manusia tersebut.
Karakter dapat mempengaruhi tingkah laku, dan tingkah laku terwujud dalam perilaku. Walaupun demikian, perilaku seseorang dapat diatur dan dibentuk, tergantung oleh lingkungan dimana manusia tersebut tinggal dan berinteraksi. 144
Karakter yang dimiliki oleh seseorang pada dasarnya terbentuk melalui proses pembelajaran yang cukup panjang. Karakter bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Lebih dari itu, karakter merupakan bentukan ataupun tempaan lingkungan dan juga orang-orang yang ada disekitar lingkungan tersebut.
Sejalan dengan itu, menurut Bapak Sugeng, seorang debt collector yang bekerja disebagian besar perusahaan pembiayaan konsumen adalah seseorang dipekerjakan dengan modal fisik dan keberanian dan biasanya para debt collector ini terbiasa dengan perkumpulan atau pergaulan lingkungan-lingkungan pasar, jadi karakter yang terbentuk berasal dari tempaan lingkungan ataupun pergaulan mereka sehari-hari.145
144 Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakary, 2007), hlm.78.
145 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
Begitu pula dalam menjalankan pekerjaannya karakter itu akan melekat pada diri debt collector yakni saat melakukan penarikan kendaraan terhadap debitur kredit macet maka saat itu dengan karakter pembawaan debt collector tidak akan sungkan untuk melakukan tindakan kasar memberhentikan di tengah jalan dan memaksa membawa kendaraan dengan kekerasan. Perilaku seperti demikian tentu tidak disenangi oleh debitur tersebut sehingga tidak jarang masyarakat menyebut debt collector sebagai “preman”.146
Penagihan belum dilakukan dengan secara tepat hal ini disebabkan perekrutan jasa debt collector masih melalui perusahaan-perusahaan outsourching atau pihak ketiga, sehingga tenaga penagih yang dipilih terkadang tidak memadai oleh sebab itu menurut beliau cara perekrutan debt collector pada sebuah perusahaan pembiayaan ataupun perbankan perlu diperbaiki tidak hanya cukup dengan modal keberanian, modal fisik, tetapi juga dibarengi dengan sopan santun, kemampuan diplomasi, negoisasi dengan debitur.147
Berdasarkan penjelasan dari hasil penelitian di Polresta Medan dan dengan hasil penelitian di PT. Internusa Tribuana Citra Multi Finance maka dapat diketahui faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh debt collector adalah lebih besar dipengaruhi oleh faktor ekonomi.148 hal ini telah dijelaskan dalam pembahasan yaitu dalam hal lembaga
146 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
147 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
148 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
yang terlalu mengejar target karakter debt collector yang ingin mencapai keuntungan yang lebih besar. Sehingga teori yang digunakan dalam penelitian ini sudah tepat yaitu dengan menggunakan teori anomi. Teori anomi menggambarkan keadaan yang kacau yang mana masyarakat mengalami suatu perubahan yang besar dalam situasi ekonomi sehingga mencari suatu kesempatan untuk mencapai suatu tujuan yang menguntungkan dirinya yang mana dalam mencapai tujuan tersebut masyarakat cenderung menimbulkan konflik yang tidak didasarkan pada norma yang berlaku.
b. Lembaga Memiliki Tujuan Untuk Mencapai Target
Lembaga Pembiayaan sebagai perusahaan yang bergerak dibidang keuangan, antara lain mempunyai prinsip profitability. Makin besar keuntungan yang diperoleh, tentu saja makin baik bagi perusahaan tersebut dimata pemilik saham dan para karyawannya. Perusahaan terlalu mengejar target keuntungan dengan cara menyalurkan sebanyak mungkin dana kepada debitur antara lain dalam bentuk kredit kendaraan bermotor.
Adanya ketentuan atau target yang harus dipenuhi credit marketing officer atau bagian pemasaran serta adanya iming-iming (pemikat) berupa bonus apabila credit marketing officer dapat melebihi target yang telah ditentukan oleh perusahaan pembiayaan konsumen, dalam menjalankan pekerjaan membuat seoarang marketing terkadang melakukan tindakan yang kurang baik. Terkadang didalam melaksanakan tugasnya, marketing tidak terlalu melihat
persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemohon kredit. Credit marketing officer terlalu cepat atau dengan mudahnya menyetujui permohonan kredit debitur guna memenuhi target lembaga pembiayaan konsumen. Hal ini dilakukan selain untuk memenuhi target yang dibebankan perusahaan terhadap marketing, juga untuk mendapatkan bonus yang akan diberikan lembaga pembiayaan konsumen apabila melebihi dari jumlah target yaitu berupa gaji insentif yang lebih besar.
Adanya pemikat berupa bonus tersebut membuat credit marketing officer menyetujui permohonan kredit tanpa melakukan survey (peninjauan) layak kredit terhadap calon debitur. Menurut hasil wawancara Bapak Sabaruddin Damanik selaku Koordinator kolektor, 149 seorang credit marketing officer sebelum menjadikan calon debitur layak kredit terlebih dahulu harus melakukan peninjauan dengan mengunjungi kediaman/ tempat tinggal, meninjau pekerjaan atau usaha calon debitur yang dibuktikan dengan data yang akurat, karena bagaimanapun informasi-informasi berkaitan dengan debitur merupakan hal yang paling penting sebagai pertimbangan bahwa nantinya calon debitur tersebut sanggup untuk melunasi angsuran yang akan dibebankan kepadanya.150
Tindakan credit marketing officer yang mengabaikan prosedur persyaratan pengajuan kredit akan mengakibatkan banyaknya debitur-debitur yang gagal bayar (kredit macet) sehingga nantinya dalam menghadapi permasalahan kredit macet sepeda motor membuat kolektor kewalahan. Hal ini diperparah lagi dengan
149 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 29 April 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik selaku koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance.
150 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 29 April 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik selaku koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance.
semakin banyaknya dan bertambahnya debitur yang menunggak cicilan kendaraan bermotor di setiap bulannya. Disebabkan dari awalnya sudah banyak kecacatan debitur yang sebetulnya tidak layak untuk mendapatkan kredit kendaraan bermotor.
Dalam pembiayaan konsumen debitur yang gagal bayar atau yang belum berhasil ditangani dengan waktu keterlambatan 30 (tiga puluh) hari sampai dengan 60 (enam puluh) hari maka akan diberikan surat peringatan pertama dan kedua, selanjutnya apabila dalam jangka waktu lebih dari 60 (enam puluh) hari debitur belum juga melakukan pembayaran maka penanganannya akan dilakukan lebih insentif. Penanganan yang insentif dilakukan untuk menindaklanjuti penanganan yang telah dilakukan sebelumnya yaitu dengan memberi surat peringatan ketiga serta melakukan negoisasi terhadap debitur untuk memberikan angsuran. Selanjutnya apabila debitur gagal bayar yang telah diberikan surat peringatan ketiga belum juga dapat ditangani maka akan dilimpahkan kepada kolektor tarik dalam hal ini adalah debt collector.151
Pada tahap ini perusahaan atau lembaga pembiayaan menerapkan pemberian bonus atau pemikat yang sama dengan credit marketing officer bagi debt collector apabila berhasil melakukan penarikan unit kendaraan. Bonus yang diberikan oleh lembaga pembiayaan konsumen kepada debt collector cukup besar dibanding dengan bonus yang diberikan kepada credit marketing officer karena tanggung jawab pekerjaannya debt collector yang cukup berisiko. Bonus inilah
151 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 29 April 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik selaku koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance.
yang membuat debt collector selalu berupaya agar mendapatkan hasil penarikan yang maksimal setiap bulannya.152
Berdasarkan hasil wawancara dari pihak lembaga pembiayaan tersebut dan dikuatkan dengan pendapat yang diberikan oleh pihak Kepolisian Resort Kota Medan yang mengatakan bahwa pemenuhan target untuk mendapatkan profit (keuntungan) yang besar bagi lembaga pembiayaan konsumen dan juga imbalan jasa berupa uang kepada debt collector menjadi pemicu utama debt collector melakukan tindakan kekerasan. Debt collector melakukan segala macam upaya, baik itu melawan hukum untuk memastikan debitur memberikan kendaraan pada saat penarikan.153
Imbas dari tingginya target yang yang ditentukan lembaga pembiayaan konsumen dan menomor duakan analisis kredit yang tajam atas permohonan kredit debitur, menimbul masalah akibat tindakan tersebut. Disebabkan dari awalnya sudah banyak kecacatan debitur yang sebetulnya tidak layak untuk mendapatkan kredit kendaraan bermotor. Akibat hal tersebut masalah yang timbul adalah banyaknya debitur yang dikemudian hari menunggak angsuran kredit atau tidak membayar kewajiban untuk melunasi kredit kendaraan bermotor sampai kepada penerapan eksekusi/penarikan atas barang jaminan fidusia yang sarat dengan tindakan kekerasan.154
152 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Kamis 28 April 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik selaku Koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
153 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 29 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
154 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 29 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
c. Kurangnya Kesadaran Debitur Untuk Membayar Utang
Debitur yang buruk tentu menimbulkan kesulitan bagi kreditur. Seperti yang diketahui, banyak masyarakat di Indonesia hingga saat ini masih belum memiliki kesadaran untuk membayar hutang yang dimilikinya. Terkadang manusia memiliki sifat mempertahankan barang yang sebenarnya bukan miliknya, seringkali seseorang terlena karena ia merasa sayang untuk mengeluarkan uang yang dimilikinya untuk membayar hutang meskipun debitur mampu membayar hutang tersebut, banyak hal yang timbul dalam membayar hutang piutang, perjanjian yang tidak tepat waktu dan kurangnya kejujuran sehingga pembayaran pun tidak sesuai dengan yang telah dijanjikan. Maka pada saat tersebutlah memunculkan keraguan diantara pihak pemberi hutang dalam hal ini perusahaan pembiayaan konsumen yang pada akhirnya kurang adanya kepercayaan terhadap debitur tersebut. Hal ini berkaitan dengan kepribadian atau karakter dari debitur tersebut.155
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah seorang debitur di PT.
Internusa Tribuana Citra Multi Finance sebenarnya yang menjadi faktor kendala pembayaran tagihan kredit lebih besar dipengaruhi oleh tidak adanya kecukupan dana untuk membayar tagihan hutang atau kredit dikarenakan usaha debitur yang
155 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Selasa 3 Mei 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik selaku koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
mengalami kemunduran atau tidak berkembang sehingga tidak memiliki kesanggupan untuk membayar cicilan kredit kendaraan.156
Menurut penuturan Bapak Sugeng, bahwa terkait dengan karakter debitur, menunjukkan belum dimilikinya kesadaran masyarakat untuk membayar hutang sehingga perusahaan pembiayaan terpaksa menggunakan jasa debt collector atau pihak ketiga terhadap debitur yang tidak memiliki itikad baik ketika terkendala dalam pelunasan hutangnya.
Ada suatu asumsi yang menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat kesadaran hukum seseorang, maka akan semakin tinggi ketaatan dan kepatuhannya terhadap hukum dan sebaliknya, semakin rendah tingkat kesadaran hukum seseorang, maka akan semakin kurang pula ketaatan dan kepatuhannya terhadap hukum.157
Lebih lanjut berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sabaruddin Damanik selaku Koordinator kolektor di Perusahaan Internusa Tribuana Citra Multi Finance, beliau mengemukakan bahwa dalam suatu perusahaan baik bank ataupun perusahaan pembiayaan adanya penunggakan hutang yang dilakukan oleh para nasabah atau debitur sebenarnya memperlihatkan bahwa tidak adanya ketaatan hukum. Dalam perjanjian antara perusahaan pemberi pinjaman dengan nasabah atau debitur tentu terdapat pengaturan mengenai batas waktu pembayaran pinjaman. Debitur yang menunggak tentu telah melewati batas waktu yang
156 Berdasarkan hasil wawancara dengan Chairil Rizal selaku debitur di PT. Internusa Tribuana Citra Multi Finance Pada Hari Sabtu 6 Agustus 2016.
157 Ali Zainuddin, Sosiologi Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009), hlm. 140.
diperjanjikan sebagaimana yang terdapat dalam perjanjian yang berlaku bagaikan hukum diantara kedua belah pihak.158 Oleh karena itu, pihak perusahaan pembiayaan akhirnya membutuhkan jasa debt collector untuk melakukan penarikan unit kendaraan tersebut. Tentu saja proses penarikan unit kendaraan tersebut baru dapat dilakukan setelah melalui tahap atau mekanisme perusahaan pembiayaan dalam penagihan hutang yaitu melalui:159
1) Admin kolektor
Admin kolektor mempunyai tugas mengingatkan konsumen atas kewajiban angsuran. Biasanya kegiatan ini mulai dilakukan 3 hari sebelum jatuh tempo dan 3 hari setelah jatuh tempo angsuran konsumen. Jika upaya yang dilakukan tidak berhasil, maka selanjutnya penanganan dilimpahkan ke kolektor lancar.
2) Kolektor lancar.
Tugas dari kolektor lancar yaitu menindaklanjuti upaya yang telah dilakukan oleh admin kolektor sampai waktu keterlambatan konsumen mencapai 30 hari. Kolektor lancar melakukan kunjungan ke debitur untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya keterlambatan angsuran debitur, kemudian menyerahkan surat peringatan ke 1 yang dilanjutkan dengan surat peringatan ke 2 sampai dengan 60 (enam puluh) hari apabila surat peringatan 1 tidak ditanggapi oleh
158 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 4 Mei 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
159 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 4 Mei 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
debitur. Selanjutnya apabila dalam jangka waktu lebih dari 60 (enam puluh) hari debitur belum juga melakukan pembayaran maka penanganannya akan dilakukan lebih insentif. Penanganan yang insentif dilakukan untuk menindaklanjuti penanganan yang telah dilakukan sebelumnya yaitu dengan memberi surat peringatan ketiga serta melakukan negoisasi terhadap debitur untuk memberikan angsuran. Selanjutnya apabila debitur gagal bayar yang telah diberikan surat peringatan ketiga belum juga dapat ditangani maka akan dilimpahkan kepada kolektor tarik dalam hal ini adalah debt collector.160
3) Kolektor tarik/remedial.
Adapun yang menjadi tugas dari kolektor tarik atau remedial adalah menindaklanjuti penanganan yang dilakukan oleh kolektor lancar. penanganan ini lebih menekankan pada penarikan unit tapi tidak menutup kemungkinan menerima angsuran jika debitur ternyata dapat melakukan pembayaran angsuran.
Untuk debitur-debitur gagal bayar yang tidak dapat diselesaikan oleh kolektor internal, selanjutnya kebijakan yang diambil oleh pihak lembaga pembiayaan adalah menyerahkan penangannya ke pihak ke tiga yaitu Debt collector atau pihak external. Debt Collector adalah pihak luar yang dimintai bantuan oleh pihak lembaga pembiayaan yang diberi kuasa bekerja atas nama lembaga pembiayaan dengan didahului oleh kesepakatan yang dibuat antar mereka, kemudian diberi surat tugas untuk melakukan penanganan debitur-debitur bermasalah.161
160 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 4 Mei 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
161 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 4 Mei 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
Lebih lanjut beliau mengatakan kurangnya kesadaran debitur dalam membayar hutang sering sekali membuat debt collector ataupun penagih hutang kewalahan dalam menghadapi karakter debitur yang demikian kemudian dipengaruhi juga tuntutan dari perusahaan untuk mendapat hasil dari penagihan hutang tesebut, sehingga penagih hutang merasa tidak ada jalan keluar jika tidak melakukan pemaksaan, pengancaman atau melakukan tindakan kekerasan.162
d. Adanya Debt collector Nakal Sewaktu Melakukan Penarikan Kendaraan
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak Kepolisian Resort Kota Medan dengan Bapak Sugeng, beliau mengemukakan bahwa, gesekan-gesekan yang kerap kali terjadi antara debt collector dan debitur juga diakibatkan tidak adanya debt collector nakal sewaktu melakukan penarikan atau ketidakjelasan debt collector.163
Ketidakjelasan debt collector maksudnya adalah debt collector bukan merupakan karyawan sebuah perusahaan pembiayaan, namun debt collector dapat menarik kendaraan bermotor debitur berdasarkan surat kuasa penarikan yang diberikan oleh perusahaan pembiayaan sehingga dalam pelaksanaan prosedurnya dilapangan terjadi adanya “debt collector nakal” yang mengajak sesama rekannya yang bukan dari karyawan perusahaan penyedia layanan debt collector untuk membantu dalam proses penarikan unit kendaraan. Debt collector mengajak sesama rekannya yang bukan dipekerjakan untuk menarik kendaraan oleh
162 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 4 Mei 2016 dengan Bapak Sabaruddin Damanik koordinator kolektor di PT. Internusa Tribuana Multi Finance
163 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
perusahaan pembiayaan adalah untuk mempermudah pekerjaan penarikan unit kendaraan tersebut dengam beramai-ramai sehingga debitur merasa ketakutan dan mengintimidasi debitur sehingga debitur merasa ketakutan dan memberikan kendaraannta tersebut. “Debt colector nakal” tersebut tak jarang melakukan upaya penarikan unit kendaraan bermotor tanpa disertai dengan surat kuasa penarikan dalam hal ini debitur belum pada tahap konsumen-konsumen gagal bayar yang mana kreditnya masih dapat diselamatkan yang mengakibatkan adanya perlawanan dari debitur yang merasa belum pada tahap gagal, dan berujung pada perkelahian antara debt collector dan debitur.164
Hal demikian dapat terjadi karena kurangnya mekanisme pengawasan dari perusahaan pembiayaan konsumen mengingat bahwa debt collector adalah jasa pihak ketiga yang ditugasi melakukan penarikan unit kendaraan dan debt collector hanyalah berasal dari luar perusahaan maka tidak serta merta mengetahui tindakan yang dilakukan oleh debt collector di lapangan saat penarikan kendaraan layaknya karyawan intern atau dalam perusahaan itu tersebut meskipun didalam surat kuasa penarikan telah disebutkan sebelumnya prosedur tata cara penarikan sehingga lembaga pembiayaan konsumen berpegang pada ketentuan surat kuasa.
Ketidakjelasan debt collector ini menjadi ruang yang membuat debt collector melakukan tugas sesuai prosedur yang mereka kehendaki dan mengabaikan prosedur yang ditetapkan perusahaan pembiayaan konsumen.165
164 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
165 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
Beliau juga menuturkan bahwa, debitur biasanya melakukan perlawanan dengan mempertahankan kendaraan bermotor karena adanya unsur perampasan dan kekerasan dari debt collector dalam menjalankan tugasnya. Selain itu diakibatkan oleh tingkat pendidikan mayoritas debt collector yang tergolong masih rendah. Pendidikan yang rendah membuat debt collector cenderung untuk berfikir pendek dalam mengambil tindakan dalam menangani nasabah.
Rendahnya tingkat intelegensia debt collector dan korelasi lemahnya moralitas dari debt collector membuat debt collector berpikir pendek dan tidak memikirkan dampak dari tindakan yang mereka lakukan yang nantinya dapat menimbulkan gesekan antara debitur dan debt collector yang berujung kepada kekerasan debt collector terhadap nasabah.166
Adanya tekanan-tekanan yang diterima baik secara terlihat maupun tersembunyi oleh debt collector dari perusahaan pembiayaan konsumen membuat debt collector sadar atau tidak sadar melakukan tindak kekerasan kepada debitur yang menunggak angsuran bulanan mereka. Karena secara ekonomi, debt collector sangat bergantung terhadap perusahaan pembiayaan konsumen tersebut.167
e. Kurangnya Pengetahuan Hukum Debt Collector dan Debitur
Jenis tindak pidana yang tergolong berat atau sering dilakukan oleh umum seperti mengancam,kekerasan, dan penganiayaan cenderung diketahui oleh para
166 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
167 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
debt collector, akan tetapi untuk tindakan-tindakan lain seperti menggertak, menelpon berulang-ulang sehingga sehingga membuat aktifitas dari debitur terganggu,merampas/menyita barang secara paksa, mengintimidasi anak/keluarga, mempermalukan atau menggunakan kata-kata kasar kepada seseorang dimuka umum hanya diketahuinya sebatas perbuatan yang kurang baik tetapi bukan merupakan tindak pidana.
Selain itu menurut penuturan Bapak Sugeng, hal tersebut diakibatkan oleh tingkat pendidikan mayoritas debt collector yang dapat dikatakan rendah.
Pendidikan yang rendah membuat debt collector cenderung untuk berfikir pendek dalam mengambil tindakan dalam menangani nasabah. Rendahnya tingkat intelegensia debt collector dan korelasi lemahnya moralitas dari debt collector membuat debt collector berpikir pendek dan tidak memikirkan dampak dari tindakan yang mereka lakukan seringkali menimbulkan gesekan antara debitur dan debt collector yang berujung kepada kekerasan debt collector terhadap debitur.168
Ketidaktahuan debitur akan apa yang menjadi hak-haknya juga menjadi faktor yang cukup kuat dalam timbulnya tindak pidana ini. Sebagian debitur terima-terima saja ketika debt collector memberikan cacian, meneror lewat telepon atau datang langsung, menggertak, bahkan sampai menakut-nakuti debitur, karena merasa kalau dia memang punya hutang dan belum sanggup melunasinya. Akan tetapi sebenarnya debitur berhak untuk mendapatkan upaya
168 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Rabu 6 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim Ranmor atau kendaraan bermotor.
penyelesaian sengketa secara patut,169 hal ini dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, khususnya Pasal 4e, yang menyebutkan bahwa:"konsumen berhak mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut".
Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.170 Badan yang bertugas untuk memberikan perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa adalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yang pada Pasal 34 UUPK No. 8 Tahun 1999 salah satu tugas BPSK adalah melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen, menerima
Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.170 Badan yang bertugas untuk memberikan perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa adalah Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), yang pada Pasal 34 UUPK No. 8 Tahun 1999 salah satu tugas BPSK adalah melakukan penelitian terhadap barang dan jasa yang menyangkut keselamatan konsumen, menerima