• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYELESAIAN TINDAKAN KEKERASAN YANG

A. Penyelesaian Kasus Tindak Pidana Kekerasan Oleh Debt collector

1. Putusan Mahkamah Agung Nomor. 242/Pid.b/2013/PN.JMB

a. Posisi Kasus:

Berdasarkan pengaduan dari Muntoifah kepada Kepolisian Resort Jombang untuk memproses perkara atas kerugian yang dialaminya karena perbuatan tersangka Pardamean Sinaga, dimana Proses Perkara tersebut sudah sampai ke Pengadilan Negeri Jombang yang berwenang memeriksa dan mengadili perkara.

Pada hari Rabu 25 Juli 2012 Terdakwa Pardamean Sinaga seorang debt collector eksternal dari PT. Mandiri Tunas Finance Kediri diberikan kuasa oleh Emmanuel untuk melakukan penarikan unit kendaraan No. Pol. S 8026 UX milik Muntoifah.

Surat kuasa penarikan tersebut hanya diberikan oleh Emmanuel selaku divisi remedial yang menangani keterlambatan debitur kepada terdakwa namun dalam proses pelaksanaannya terdakwa mengajak sesama rekannya yaitu Sasraben Siahaan dan Baden Sudrajat.

181 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 49.

Proses penarikan unit kendaraan tersebut dilakukan dengan cara memberhentikan dengan paksa kendaraan milik Muntoifah yang dikendarai oleh supirnya Sukiman dan Muhammad Kamim. Terdakwa menjelaskan kepada Sukiman bahwa kendaraan tersebut bermasalah diikutsertakan dengan pemberian surat kuasa dari PT. Mandiri Tunas Finance. Sukiman selaku sopir tidak mengetahui permasalahan yang terjadi kemudian menghubungi Muntoifah pemilik kendaraan, Muntoifah sempat memberikan informasi bahwa “mobil sudah dibayar seharusnya tidak perlu ditarik” namun pembicaraan terhenti karena terdakwa mengambil hand phone Sukiman dengan cara merampasnya.

Kemudian Sukiman bersama dengan Muhammad Kamim yang mengikuti perintah dari terdakwa menuju ke PT. Mandiri Tunas Finance karena dipaksa dan didorong sehingga merasa ketakutan. Sesampai ditempat, terdakwa membuat berita acara penyerahan dan meminta Sukiman untuk menandatanganinya, kemudian keesokan harinya terdakwa membuat pelaporan yang ditujukan kepada Emmanuel dimana pelaporan tersebut nantinya terdakwa akan mendapatkan upah atau gaji atas penarikan yang dilakukannya. Setelah penarikan kendaran tersebut Muntoifah selaku pemilik kendaraan mendatangi Perusahaan pembiayaan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Adapun teori yang tepat digunakan berkaitan dengan posisi kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 242/Pid B/2013/PNJMB yaitu teori tegang atau anomi (strain theory). Anomi mengambarkan kekacauan, terjadinya konflik, tindakan yang tidak didasarkan pada norma yang berlaku disebabkan perubahan masyarakat yang begitu cepat, meningkatnya pembagian kerja yang sejalan

dengan meningkatnya kebutuhan ekonomi untuk mencapai keuntungan menghasilkan suatu kebingungan tentang norma yang pada akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku yang tercermin dalam tindakan masyarakat yang menyimpang dari norma.182

b. Dakwaan Pasal yang Dikenakan

Dakwaan diperlukan sebagai dasar pemeriksaan suatu perkara dipersidangan, dan hakim sebagai aparatur penegak hukum hanya akan mempertimbangkan dan menilai apa yang tertera dalam surat dakwaan mengenai benar atau tidaknya terdakwa melakukan suatu tindak pidana yang didakwakan kepadanya, didalam menjatuhkan keputusannya. Perumusan dakwaan didasarkan pada hasil pemeriksaan pendahuluan dimana diketemukan baik berupa keterangan terdakwa maupun keterangan saksi sebagai dan alat bukti yang lain termasuk keterangan ahli, disitulah dapat diketemukan perbuatan sungguh-sungguh dilakukan (perbuatan materil) dan bagaimana dilakukannya.183

Dalam KUHAP tidak pernah diatur berkenaan dengan bentuk dan susunan dari Surat Dakwaan. Sehingga dalam praktek hukum masing-masing penuntut umum dalam menyusun surat dakwaan pada umumnya dipengaruhi oleh strategi dan rasa seni sesuai dengan pengalaman prakteknya masing-masing namun demikian tetap berdasarkan pada persyaratan yang diatur dalalm pasal 143 ayat 2

182 Romli Atmasasmita, Op. cit, hlm. 47.

183 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Kedua, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 170.

KUHAP. Dalam praktek hukum dikenal beberapa bentuk surat dakwaan antara lain :184

1) Surat Dakwaan Tunggal

Dalam Surat Dakwaan tunggal terhadap terdakwa hanya didakwakan

melakukan satu tindak pidana saja yang mana penuntut umum merasa yakin bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana yang didakwakan tersebut, misalnya penuntut umum merasa yakin apabila terdakwa telah melakukan perbuatan “pencurian” sebagaimana diatur dalam pasal 362 KUHP maka terdakwa hanya didakwa dengan pasal 362 KUHP.

2) Surat Dakwaan Subsider/ Berlapis

Dalam Surat Dakwaan yang berbentuk subsider di dalamnya dirumuskan beberapa tindak pidana secara berlapis dimulai dari delik yang paling berat ancaman pidannya sampai dengan yang paling ringan. Akan tetapi yang sesungguhnya didakwakan terhadap terdakwa terdakwa dan yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan hanya “satu” dakwaan.

3) Surat Dakwaan Alternatif

Dalam Surat Dakwaan yang berbentuk alternatif, rumusannya mirip dengan bentuk Surat Dakwaan Subsidair, yaitu yang didakwakan adalah beberapa delik, tetapi sesungguhnya dakwaan yang dituju dan yang harus dibuktikan hanya satu tindak pidana. Jadi terserah kepada penuntut umum tindakan mana yang dinilai telah berhasil dibuktikan di depan pengadilan tanpa terkait pada urutan dari tindak pidana yang didakwakan. Sering terjadi penuntut umum

184 H.M.A. Kuffal, Penerapan KUHAP dalam Praktik Hukum. Malang: UMM Press, 2003), hlm. 43.

mendapatkan suatu kasus pidana yang sulit menentukan salah satu pasal diantara 2-3 pasal yang saling berkaitan unsurnya, karena tidak pidana itu unsure yang menimbulkan keraguan bagi penuntut umum untuk menentukan diantara 2 pasal atau lebih atas satu tindak pidana.

4) Surat Dakwaan Kumulatif

Dalam Surat Dakwaan Kumulatif didakwakan serempak, delik/dakwaan masing-masing berdiri sendiri (Samenloop/Concursus/Perbarengan).

5) Surat Dakwaan Kombinasi

Dalam Surat Dakwaan Kombinasi didakwakan beberapa delik secara kumulatif yang terdiri dari dakwaan subsider dan dakwaan alternatif secara serempak/ sekaligus.

Dalam dakwaan pasal yang dikenakan pada posisi kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 242/Pid B/2013/PNJMB menggunakan dakwaan subsidair karena akibat yang ditimbulkan oleh suatu tindak pidana menyentuh atau menyinggung beberapa ketentuan pidana. Keadaan demikian dapat menimbulkan keraguan pada penuntut umum, baik mengenai kualifikasi tindak pidananya maupun mengenai pasal yang dilanggarnya. Dalam dakwaan ini, terdakwa didakwakan satu tindak pidana saja. Oleh karena itu, penuntut umum memilih untuk menyusun dakwaan yang berbentuk subsider, dimana tindak pidana yang diancam dengan pidana pokok terberat ditempatkan pada lapisan atas dan tindak pidana yang diancam dengan pidana yang lebih ringan ditempatkan di bawahnya. Konsekuensi pembuktiannya, jika satu dakwaan telah terbukti, maka dakwaan selebihnya tidak perlu dibuktikan lagi. Biasanya menggunakan istilah

primer, subsidiair dan seterusnya. Meskipun dalam dakwaan tersebut terdapat beberapa tindak pidana, tetapi yang dibuktikan hanya salah satu saja dari tindak pidana yang didakwakan itu. Adapun dakwaan Primair dan Subsidair dari Putusan Mahkamah Agung Nomor 242/Pid B/2013/PNJMB adalah:

Primair : Pasal 368 ayat (1) Jo. Pasal 365 ayat (2) ke – 2e KUHP.

Subsidair : Pasal 335 ayat (1) ke – 1 e KUHP.

c. Fakta-Fakta di Persidangan

Keterangan saksi, Keterangan terdakwa, Keterangan ahli selaku Kepala Sub Bidang Pelayanan Hukum di Kanwil Depkumham Surabaya yang membidangi dan menangani permohonan pendaftaran, perubahan, penggantian dan penghapusan fidusia. Adapun barang bukti berupa:

1) 1 ( Satu) Unit kendaraan truck merk Mitsubisi warna kuning tahun 2010, No.Pol.: S-8026-UX No.Ka. MHEFE74P4AK044949, No.Sin.:

4D34TFX9348, 2) 1 lembar blangko tilang, 3) 1 buah buku kir kendaraan 4) 1 buah Scrop,

5) 1 sertifikat jaminan fidusi W10-25870.AH05.01.TH.2012/ STD yang dikeluarkan oleh An. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Wilayah Jawa Timur Ub. Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia tertanggal 08 Agustus 2012,

6) 1 lembar Surat Kuasa No : 904 RAL201207001913 yang dikeluarkan PT. Mandiri Tunas Finance tertanggal 25 Juli 2012 yang ditanda tangani oleh Emanuel Suryawan Irawanto,

7) 1 lemar berita acara penyerahan kendaraan No : 904RAL201207001913 tanggal 20 Juli 2012

8) 1 Handphone merk cross warna casing merah tanpa baterai ;

9) 1 bendel surat perjanjian pembayaran konsumen dengan penyerahan hak milik secara fidusia.

d. Amar Putusan

1) Menyatakan terdakwa Pardamean Sinaga yang identitasnya sebagaimana tersebut diatas telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “ancaman pemerasan dengan kekerasan”

2) Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Pardamean Sinaga dengan pidana penjara selama 6 (enam) bulan.

3) Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.

4) Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan.

5) Menetapkan terhadap barang bukti untuk dikembalikan kepada Muntoifah berupa:

a) 1 ( Satu) Unit kendaraan truck merk Mitsubisi warna kuning tahun 2010, No.Pol.: S-8026-UX No.Ka. MHEFE74P4AK044949, No.Sin.:

4D34TFX9348, b) 1 lembar blangko tilang, c) 1 buah buku kir kendaraan d) 1 buah Scrop,

e) 1sertifikat jaminan fidusi W10-25870.AH05.01.TH.2012/ STD yang dikeluarkan oleh An. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Wilayah Jawa Timur Ub. Kepala Divisi Pelayanan Hukum dan Hak Asasi Manusia tertanggal 08 Agustus 2012,

f) 1 lembar Surat Kuasa No : 904 RAL201207001913 yang dikeluarkan PT.

Mandiri Tunas Finance tertanggal 25 Juli 2012 yang ditanda tangani oleh Emanuel Suryawan Irawanto,

g) 1 lemar berita acara penyerahan kendaraan No : 904RAL201207001913 tanggal 20 Juli 2012

h) 1 Handphone merk cross warna casing merah tanpa baterai ;

i) 1 bendel surat perjanjian pembayaran konsumen dengan penyerahan hak milik secara fidusia.

6) Membebani terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.2.000,- (dua ribu rupiah).