BAB II PENGATURAN TENTANG PENARIKAN ATAU
A. Debt collector Dalam Penarikan Unit Kendaraan
3. Tindakan Kekerasan Yang Dilakukan Debt collector
Seorang debitur yang belum mampu membayar lunas hutangnya kredit kendaraan bermotor yang sudah jatuh tempo adalah suatu pelanggaran hukum, yaitu melanggar perjanjian. Dalam hal demikian perusahaan pembiayaan berdasarkan perjanjian pembiayaan dengan jaminan fidusia berupa kendaraan bermotor mempunyai hak untuk menyita barang yang telah diserahkan kepada debitur dengan alasan wanprestasi.121
Atas alasan tersebut biasanya perusahaan pembiayaan memberikan kuasa kepada debt collector-nya untuk menarik/eksekusi barang jaminan fidusia.
Namun, dalam proses penarikan/ eksekusi tersebut debt collector kerap mengabaikan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan pembiayaan dalam penarikan unit kendaraan dan tidak jarang melakukan perbuatan kekerasan terhadap debitur yang tetap mempertahankan kendaraannya, disamping itu rasa tanggung jawab debt collector hanya sebatas pekerjaan yang diberikan dengan harapan tercapainya target dan cara kerja yang terlepas dari prosedur yang ditetapkan lembaga pembiayaan membuat debt collector terkadang kehilangan kontrol dan mengabaikan asas kesopanan serta mengabaikan hak-hak debitur,
120 Ibid, hal. 168-169
121 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
sehingga tindakan debt collector rentan untuk melakukan tindakan kekerasan premanisme.122
Tindakan ini dapat meresahkan masyarakat sehingga tak jarang perbuatan tersebut berakhir atau diproses secara pidana apabila dalam hal ini debt collector dalam menjalankan tugasnya telah melanggar hak-hak orang lain dan melanggar ketentuan hukum.123
Perbuatan pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum yang berisi larangan disertai dengan ancaman sanksi berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana, asalkan larangan ditunjukkan kepada perbuatan yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang sedangkan ancaman pidanya ditunjukkan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu.124
Antara larangan dan ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara kejadian dan orang menimbulkan kejadian itu ada hubungan yang erat, oleh karena hubungan yang erat itu maka dipakai perkataan perbuatan yaitu suatu pengertian abstrak yang menunjukkan kepada dua keadaan kongkrit yaitu adanya
122 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
123 Berdasarkan hasil wawancara pada hari Rabu 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng, selaku pihak kepolisian Satreskrim Unit Ranmor di Polresta Medan
124 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Rieneka Cipta, 2008), hlm. 54.
kejadian tertentu dan kemudian adanya orang yang berbuat yang menimbulkan kejadian tersebut.125
Adapun kekerasan yang kerap dijumpai atau dilakukan oleh debt collector terhadap debitur dikelompokkan menjadi:126
a. Kekerasan Ringan.
Debt collector didalam melakukan proses penarikan, melakukan pembicaraan dengan debitur penunggak, apabila cara tersebut dirasa tidak berhasil atau debitur melakukan perlawanan atau tidak mau menyerahkan kendaraan kepada debt collector maka debt collector melakukan tekanan-tekanan kepada debitur tersebut. Tekanan- tekanan yang dilakukan debt collector bertujuan untuk membuat ketakutan dan memberi rasa tertekan pada debitur agar menyerahkan kendaraan tersebut.127
Dalam kategori ini debt collector yang melakukan tindakan kekerasan berupa ancaman, pemaksaan intimidasi dan teror terhadap debitur. Ancaman tidak dilalui dengan kekerasan yang melukai tubuh, melainkan dengan akan menista.
Perbedaan inilah kiranya menjadi alasan bahwa tindak pidana pengancaman hanya diancam dengan hukuman sangat lebih ringan dari tindakan kekerasan lainnya.
125 Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, Edisi Revisi ( Jakarta, Rineka Cipta, 1989), hlm. 73.
126 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
127 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
Ada tiga unsur tindak pidana, yaitu perbuatan yang dilarang. akibat dari perbuatan itu yang menjadi dasar alasan perbuatan itu dilarang dan yang terakhir sifat melanggar hukum dalam rangkaian sebab musabab itu. Dalam setiap tindak pidana terdapat unsur kesengajaan, begitu juga dengan ancaman. Ancaman masuk unsur kesengajaan yang bersifat tujuan. cara memaksa menggunakan ancaman tertulis dan lisan. Sehingga perbuatan ancaman tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan yang tidak menyenangkan dapat dijerat dengan pasal seperti yang tertuang dalam KUHP Pasal 335 Pasal 1 ayat (1) yang berbunyi:
“ Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lainmaupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.”
Tentunya perbuatan tindakan kekerasan dengan pengancaman ini tidak dituntut kecuali atas pengaduan orang yang terkena perbuatan dan memenuhi setiap unsur-unsur pasal yang sesuai dengan perbuatan tersebut.
Tekanan-tekanan yang dilakukan oleh debt collector tersebut dapat disebut dikategorikan kekerasan yang ringan. Karena kekerasan yang dilakukan oleh debt collector tersebut bersifat kekerasan psikis. Kekerasan psikis ialah yaitu kekerasan yang dilakukan dengan memberi tekanan kepada rohani sasaran (obyek) sehingga mengakibatkan mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis seseorang atau tekanan psikis kepada debitur yang dimaksud
mereduksi kemampuan mental otak.128 Kekerasan psikis yang dilakukan oleh debt collector terhadap debitur selain pengancaman, intimidasi atau meneror adalah berkata kasar dan membentak-bentak,.129 Tekanan-tekanan psikis inilah yang banyak digunakan oleh debt collector untuk membuat debitur merasa ketakutan dan akhirnya mau menyerahkan kendaraan.
b. Kekerasan Sedang.
Apabila proses penyelesaian permasalahan penarikan kendaraan bermotor antara debt collector dan debitur tidak menemui kesepakatan. Serta debitur tidak mau menyerahkan kendaraan atau tidak mau menyelesaikan permasalahan kredit dengan pihak lembaga pembiayaan maka biasanya Debt collector mencari jalan termudah agar dapat dengan cepat menyelesaikan permasalahan kredit kendaraan dengan debitur, yaitu dengan cara melakukan penarikan atau perampasan kendaraan tersebut. Dalam hal ini debt collector melakukan penarikan tanpa persetujuan dari debitur, kendaraan bermotor debitur langsung diambil.130
Perampasan yang dilakukan oleh debt collector dapat dikatakan melanggar hukum karena mengambil kendaraan tanpa persetujuan pemilik kendaraan.
Tindakan debt collector tersebut dapat disebut pemerasan dengan pengancaman.
Perbuatan ini tertuang dalam Pasal 368 ayat (1) yaitu:
128 Marsana Windhu, Op.cit, hlm. 157.
129 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
130 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
“ Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau membuat utang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.”
Dari rumusan pasal 368 ayat (1) sebagai rumusan dari pengertian
f) Tujuan, sekaligus merupakan akibat dari perbuatan memaksa dengan menggunakan upaya kekerasan atau ancaman kekerasan, yaitu:
(a) orang menyerahkan benda;
(b) orang memberi hutang;
(c) orang menghapus piutang.
2) unsur-unsur subjektif:
a) Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain b) Dengan melawan hukum.
Undang-undang tidak menerangkan tentang apa yang dimaksud dengan memaksa. Perbuatan memaksa adalah berupa perbuatan (aktif dan dalam hal ini menggunakan cara kekerasan atau ancaman kekerasan) yang sifatnya menekan (kehendak atau kemauan) pada orang, agar orang itu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak orang itu sendiri.131
Dari pengertian memaksa yang demikian itu dalam kaitannya dengan pemerasan dapat diterangkan seseorang (petindak) dalam hal ini debt collector mempunyai suatu keinginan, agar orang menyerahkan benda, atau orang lain
131 R. Soesilo, KUHP dengan Penjelasan, ( Bogor: Politeia, 1973) , hlm. 221.
memberi hutang, ataupun menghapuskan piutang. Keinginan itu tidak akan terwujud apabila ia memintanya begitu saja, karena keinginan itu bertentangan antara kehendak debt collector selanjutnya disebut (petindak) dengan kehendak debitur selanjutnya disebut (korban). Keinginan korban untuk tidak menyerahkan benda, tidak memberi hutang maupun tidak untuk menghapuskan piutang harus dikalahkan/ ditundukkan, agar kehendak petindak yang dipenuhi. Untuk itu haruslah dilakukan perbuatan memaksa dengan cara dernikian ini membawa akibat bagi korban seperti rasa takut, cemas dan hal ini menjadikan korban tidak berdaya. Keadaan ketidakberdayaan inilah yang menyebabkan korban menyerahkan benda dan lain sebagainya tadi, sesuatu yang dikehendaki petindak.
Dapat disimpulkan bahwa perbuatan memaksa yang dilakukan debt collector dalam pemerasan itu adalah suatu perbuatan berupa kekerasan atau ancaman kekerasan yang bersifat menekan yang ditujukan pada seseorang, yang dapat menimbulkan rasa takut atau rasa cemas, menyebabkan ketidakberdayaan, sehingga orang itu dengan terpaksa memberikan benda, memberikan hutang dan menghapuskan piutang, suatu yang dikehendaki petindak dan bertentangan dengan kemauan orang itu sendiri.
Dalam pasal ini juga menjelaskan bahwa perbuatan memaksa ditujukan kepada orang, Orang di sini, baik pemilik benda maupun bukan, juga tidak harus orang yang menyerahkan benda, yang memberi hutang maupun yang menghapuskan hutang. Orang yang menerima paksaan, tidak harus sama dengan orang yang menyerahkan benda, yang memberi hutang maupun yang menghapuskan piutang.
Perbuatan memaksa ditujukan pada orang, orang di sini, baik pemilik benda maupun bukan, juga tidak harus orang yang menyerahkan benda, yang memberi hutang maupun yang menghapuskan hutang. Orang yang menerima paksaan, tidak harus sama dengan orang yang menyerahkan benda, yang memberi hutang maupun yang menghapuskan piutang. Perbuatan memaksa adalah berupa perbuatan materiil (perbuatan jasmani), karenanya harus aktif melakukan tindakan, dan juga berupa perbuatan yang bersifat abstrak. Perbuatan yang bersifat abstrak ini akan menjadi lebih kongkret sifatnya dan lebih terbatas wujudnya, setelah dihubungkan dengan upaya atau cara melakukannya yakni dengan kekerasan dan ancaman kekerasan.132
Tujuan yang sekaligus merupakan akibat dari perbuatan memaksa, yaitu orang menyerahkan benda, orang memberikan hutang dan atau orang menghapuskan piutang disebut sebagai tujuan, oleh karena perbuatan memaksa ditujukan pada tiga akibat yang sebelum perbuatan itu dilakukan, dalam diri petindak terdapat suatu pikiran/kesadaran bahwa untuk mencapai maksud menguntungkan diri sendiri maupun diri orang lain itu (unsur subjektif pemerasan), harus terjadinya orang menyerahkan barang, orang mernberi hutang, atau orang menghapuskan piutang. Apabila perbuatan memaksa sudah terjadi, tetapi akibat tidak ada atau belum tirnbul, maka terjadi percobaan pemerasan, dan apabila akibatnya sudah tirnbul maka selesailah pemerasan.
132 S.R. Sianturi, Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya, (Bogor: Politea, 1996) , hlm. 617.
Tentang benda, adalah benda yang sarna pengertiannya dengan benda dalam pencurian, yaitu benda bergerak dan benda berwujud. Benda ini harus rnilik orang lain seluruhnya atau sebagian. Tidak disyaratkan harus rnilik korban (orang yang dipaksa), dapat juga rnilik orang lain selain orang yang dipaksa.133
Untuk selesai atau tirnbulnya pemerasan, tidak bergantung pada perbuatan petindak, tapi justru pada perbuatan orang lain (korban), apakah korban melakukan perbuatan menyerahkan ataukah tidak, walaupun petindak telah melakukan perbuatan memaksa. Perbuatan menyerahkan benda adalah unsur akibat.
Menyerahkan barang adalah berupa perbuatan yang dilakukan korban karena terpaksa, berupa perbuatan membawa suatu benda dengan mengalihkan kekuasaan atasnya, yang pada umumnya ke dalam kekuasaan petindak. Dikatakan pada umumnya, oleh karena bisa juga kekuasaan atas benda tersebut beralih ke tangan orang suruhan petindak.
Perbuatan menyerahkan benda dikatakan selesai apabila menurut kenyataannya kekuasaan atas benda tersebut telah lepas dari kekuasaan korban dan secara mutlak beralih kedalam kekuasaan petindak. Dapat disebut benda tersebut telah nyata-nyata beralih kekuasaannya ketangan petindak, apabila petindak sudah dapat melakukan segala sesuatu perbuatan terhadap benda itu tanpa melalui perbuatan lain terlebih dulu. Menghapuskan piutang, tidak semata-mata berarti meniadakan pembayaran dari yang berhutang sejumlah uang dari
133 Ibid, hlm. 618.
pinjam-meminjam uang kepada orang berpiutang, melainkan mempunyai arti yang lebih luas, yakni menghapuskan perikatan hukum yang sudah ada yang berakibat (dianggap) hapusnya kewajiban hukum untuk menyerahkan sejumlah uang kepada pihak korban.
Menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum.
Dimaksud dengan menguntungkan diri, ialah menambah sejumlah kekayaan seseorang dari kekayaan yang sudah ada.134 Penambahan kekayaan ini baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang lain, yang dalam pemerasan tidak harus telah terwujud yang menjadi syarat bagi telah terjadinya atau selesainya pemerasan bukan pada terwujudnya penambahan kekayaan itu, melainkan pada apakah dari perbuatan memaksa itu telah terjadi penyerahan barang oleh seseorang ataukah belum. Menguntungkan diri adalah maksud dari petindak saja, dan tidak harus telah terwujud, dimana sudah ada maksud dalam dirinya sebelum melakukan perbuatan memaksa. Ini merupakan unsur kesalahan dalam pemerasan. Frasa
“dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum”, ialah si petindak sebelum melakukan perbuatan memaksa dalam dirinya telah ada suatu kesadaran bahwa maksud menguntungkan (menambah kekayaan) bagi diri sendiri atau orang lain dengan memaksa seseorang itu adalah bertentangan dengan hukum.135
Berbicara tentang pengancaman yang dilakukan debt collector sama halnya seperti yang sudah dijelaskan tersebut diatas pada tindak kekerasan ringan.
134 Ibid
135 R. Soenarto Soerodibroto, KUHP dan KUHAP Edisi Kelima, (Jakarta: Raja Grafindo, 2009), hlm. 229.
Pengancaman pada Pasal 368 ayat 1 KUH Pidana itu dirinci unsur-unsurnya terdiri atas:
Unsur-unsur objektif:
1) Perbuatan: memaksa;
2) Yang dipaksa: orang;
3) Cara-cara memaksa dengan memakai:
a) Ancaman pencemaran nama baik, baik tertulis maupun lisan;
b) Ancaman akan membuka rahasia.
4) Unsur tujuan yang sekaligus merupakan akibat yaitu orang menyerahkan suatu benda yang sebagian atau seluruhnya rnilik orang lain; orang memberi hutang, atau orang meniadakan piutang.
Unsur-unsur subjektif, yaitu:
1) Maksud yang ditujukan pada:
a) Menguntungkan dirinya sendiri, atau b) Menguntungkan orang lain.
2) Dengan melawan hukum.
Setelah dirinci sedernikian rupa, maka tampaklah persamaan dan perbedaan antara pemerasan dan pengancaman. Adapun persamaannya ialah terletak pada:
1) Perbuatan materilnya masing-masing berupa: memaksa.
2) Perbuatan memaksa ditujukan pada: orang tertentu;
3) Tujuan yang sekaligus merupakan akibat dari perbuatan memaksa:
agar orang menyerahkan benda, memberi hutang dan atau menghapuskan piutang;
4) Unsur kesalahan masing-masing berupa maksud yang ditujukan pada menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum.
Sedangkan Perbedaannya, adalah:
1) Cara-cara yang digunakan dalam melaksanakan perbuatan materiilnya, yakni:
a) Pada pemerasan, dengan menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan;
b) Pada pengancaman, dengan menggunakan ancaman pencemaran dan akan membuka rahasia.
2) Pemerasan merupakan tindak pidana biasa. Pengancaman merupakan tindak pidana aduan.
3) Mengenai ancaman pidananya pada pemerasan diancam pidana penjara maksimum 9 tahun, Pada pengancaman diancam dengan pidana penjara maksimum 4 tahun, dan tidak memungkinkan untuk diperberat.
Ada unsur/hal dalam pengancaman yaitu tentang upaya memaksa yang berupa:
1) Ancaman pencemaran nama baik 2) Ancaman membuka rahasia.
Pada pemerasan, perbuatan memaksa dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan akibat orang yang dipaksa atau debitur menjadi takut, merasa terancam (badannya, nyawanya, dan sebagainya), membawa ia ke dalam keadaan tidak berdaya, oleh karena itu terpaksalah korban atau debitur menyerahkan bendanya dan seterusnya itu sebagaimana yang diinginkan debt collector kedalam keadaan tidak berdaya, oleh karena itu terpaksalah debitur menyerahkan bendanya dan seterusnya itu sebagaimana yang diinginkan debt collector.
Lain halnya pada pengancaman, perbuatan memaksa yang menggunakan cara ancaman pencemaran atau akan membuka rahasia, dapat menimbulkan akibat perasaan malu, jatuhnya harga diri, perasaan takut akan sesuatu hal misalnya akan
dihukum atau dipecat dari jabatan, dan akibat-akibat lainnya yang berupa sesuatu yang menyakitkan, yang tidak menyenangkan korban tersebut, yang semua hal itulah yang menjadi penyebab korban lalu menuruti keinginan petindak, yaitu menyerahkan benda dan sebagainya. Oleh karena itu, dapat diartikan pula bahwa ancaman pencemaran atau ancaman akan membuka rahasia adalah berupa alat atau sarana yang digunakan petindak untuk mencapai apa yang diinginkannya
Pengancaman sebagai alat, maka untuk benar-benar terjadinya pengancaman disyaratkan agar penyerahan benda, diberinya hutang atau dihapuskannya piutang sebagai yang dituju dari perbuatan memaksa, adalah hasil dari upaya ancaman pencemaran atau ancaman akan membuka rahasia. Dengan kata lain adalah berupa akibat langsung dari digunakannya ancaman pencemaran dan ancaman membuka rahasia.136
c. Kekerasan Berat
Apabila dari semua tindakan-tindakan yang diupayakan debt collector tidak menemui jalan keluar untuk penyelesaian permasalahan kredit kendaraan debt collector, maka debt collector melakukan upaya terakhir mereka yaitu dengan melakukan kekerasan yang terbilang berat. Kekerasan berat disini biasanya berhubungan dengan kontak fisik atau adu fisik antara debt collector dan pemilik kendaraan bermotor dapat dikatakan sebagai kekerasan fisik.
136 Ibid, hlm. 231.
Kekerasan fisik dapat diartikan sebagai kekerasan yang dilakukan pada tubuh atau jasmani manusia sehingga sasaran (objek) tersakiti.137 Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat.
Kekerasan fisik yang sering dilakukan oleh debt collector adalah pemukulan, adu fisik (berkelahi), Kontak fisik disini dapat diartikan seperti pemukulan atau bahkan perkelahian antara debt collector dengan debitur. Dalam melakukan kontak fisik dengan debitur, debt collector juga melihat situasi dan kondisi sekitar serta debt collector juga melihat seberapa besar serangan balik yang akan dilakukan oleh debitur. Biasanya dalam melakukan pemukulan atau bahkan perkelahian debt collector melakukan secara bersama-sama dengan anggota kelompok.138
Kekerasan dengan adu fisik dengan pemukulan, dengan mengakibatkan luka dan sampai mengakibatkan kematian maka dikategorikan sebagai kekerasan berat dan dapat dijerat pasal seperti yang tertuang dalam Pasal 354 KUHP ayat (1) dan (2) yaitu:
“(1) Barangsiapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.”
Terjadinya kekerasan fisik berupa pemukulan atau penganiayaan yang dilakukan debt collector pada saat melakukan penarikan, maka pelaku dapat
137 Marsana Windhu, Op.cit, hlm. 170.
138 Berdasarkan hasil wawancara Pada hari Jumat 27 April 2016 dengan Bapak Sugeng selaku pihak Kepolisian Polresta Medan di bagian Satreskrim ranmor atau kendaraan bermotor
dipidana sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan apakah menyebabkan luka-luka, cacat permanen, atau sampai menyebabkan meninggal dunia dengan ketentuan sebagaimana dalam KUH Pidana tentang penganiayaan.
Pada Pasal 354 KUH Pidana ayat (1) dan (2), tindak pidana penganiayaan harus ditujukan kepada orang lain, tidak terhadap hewan atau binatang dan harus ditujukan dengan sengaja sehingga mengakibatkan rasa sakit, luka atau menyebakan kesehatan seseorang rusak, dalam pengertian bahwa itu harus ditujukan pada badaniah (jasmaniah). Jadi rasa sakit yang sifatnya rohaniah, misalnya rasa sakit karena putus cinta dan lain sebagainya tidak dapat dikategorikan sebagai penganiayaan. Selanjutnya bahwa perbuatan dimaksud di atas, harus merupakan suatu maksud dan tujuan dari pelaku terhadap diri korban.139
Dalam hukum pidana mempunyai unsur kesengajaan dan perbuatan.
Dalam tindak pidana penganiayaan, unsur kesengajaan harus diartikan secara luas yaitu meliputi kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan sebagai kepastian, dan kesengajaan sebagai kemungkinan. Dengan penafsiran bahwa unsur kesengajaan dalam tindak pidana penganiayaan ditafsir sebagai kesengajaan sebagai maksud (opzet alsa olmergk), maka seseorang baru dikatakan melakukan tindak pidana penganiayaan, apabila orang itu mempunyai maksud menimbulkan akibat berupa rasa sakit atau luka pada tubuh. Jadi, dalam hal ini maksud orang itu haruslah ditujukan pada perbuatan dan rasa sakit atau luka pada tubuh. Walaupun
139 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2008), hlm. 58.
secara prinsip kesengajaan dalam tindak pidana penganiayaan harus ditafsirkan sebagai kesengajaan sebagai maksud, namun dalam hal-hal tertentu kesengajaan dalam penganiayaan juga dapat ditafsirkan sebagai kesengajaan sebagai kemungkinan.
Namun demikian, penganiayaan itu bisa ditafsirkan sebagai kesengajaan dalam sadar akan kemungkinan, tetapi penafsiran tersebut juga terbatas pada adanya kesengajaan sebagai kemungkinan terhadap akibat. Artinya dimungkinkan penafsiran secara luas unsur kesengajaan itu yaitu kesengajaan sebagai maksud, kesengajaan sebagai kemungkinan, bahkan kesengajaan sebagai kepastian, hanya dimungkinkan terhadap akibatnya. Sementara terhadap perbuatan itu haruslah pada tujuan pelaku. Sedangkan unsur perbuatan dalam penganiayaan adalah perbuatan dalam arti positif.140
Artinya perbuatan tersebut haruslah merupakan aktivitas atau kegiatan dari manusia dengan menggunakan (sebagian) anggota tubuhnya sekalipun sekecil apapun perbuatan itu. Selain bersifat positif, unsur perbuatan dalam tindak pidana penganiayaan juga bersifat abstrak. Artinya penganiayaan itu bisa dalam berbagai bentuk perbuatan seperti memukul, mencubit, mengiris, membacok, dan
Artinya perbuatan tersebut haruslah merupakan aktivitas atau kegiatan dari manusia dengan menggunakan (sebagian) anggota tubuhnya sekalipun sekecil apapun perbuatan itu. Selain bersifat positif, unsur perbuatan dalam tindak pidana penganiayaan juga bersifat abstrak. Artinya penganiayaan itu bisa dalam berbagai bentuk perbuatan seperti memukul, mencubit, mengiris, membacok, dan