• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK KORBAN TINDAK PIDANA KEKERASAN DALAM HUKUM PIDANA INDONESIA

B. Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan terhadap Anak

Sebelum melihat faktor terjadinya tindak kekerasan terhadap anak, baiklah terlebih dahulu memahami profil atau latar belakang dari korban dan pelaku tindak kekerasan ini. Karena tidak dapat dipungkiri, latar belakang dari korban dan pelaku ini sedikit banyak mempengaruhi terjadinya tindak kekerasan ini.

Secara umum, anak yang menjadi korban dari tindak kekerasan sebenarnya tidak dibatasi oleh perbedaan jenis kelamin, dalam arti, baik anak laki-laki maupun perempuan keduanya potensial dan merupakan sasaran empuk dari perlakuan semena-mena yang berkembang di masyarakat. Namun demikian, bila dibandingkan secara kuantitatif jumlah anak yang menjadi korban tindak kekerasan biasanya lebih dominan menimpa anak perempuan. Menurut Harkristuti Harkrisnowo, dibandingkan anak laku-laki secara struktural anak perempuan memang lebih vulnerable, lebih lemah, tergantung, dan mudah dikuasai, dan diancam oleh pelaku.62

Umur anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan relatif bervariasi: bisa menimpa anak-anak remaja berusia sekitar 17 -18 Tahun, tetapi sering kali pula dialami anak-anak balita yang berusia di bawah 5 Tahun atau bahkan para jabang bayi yang masih merah: baru lahir, tetapi karena orang tuanya malu dan untuk menyembunyikan aib, maka bayi yang seharusnya diberi limpahan

61

Ibid.

62

Bagong Suyanto, op.cit, hal 49, mengutip Harkristuti Harkriswono, “Anak & Kekerasan: Kasus di Indonesia”, Dibacakan pada acara Lokakarya Hak Asaso dan Perlindungan Anak. Diselenggaraan oleh Lembaga pers Dr. Soetomo dan UNICEF 6-7 Oktober 1998).

sayang dan disambut gembira para orang tuanya itu kemudian dibunuh. Menurut data yang dimuat media massa selama 1994-1996, Irwanto menyimpulkan bahwa anak yang menjadi korban tindak kekerasan separuhnya berusia di bawah 13 Tahun, dan sekitar 20% berusia di bawah 10 Tahun.63

Latar belakang ekonomi korban menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan kekerasan terhadap anak. Dari berbagai berita yang diidentifikasi LPA Jatim, memang sebagian besar tidak diketahui dengan pasti bagaimana latar belakang ekonomi korban. Namun di sebagian berita dengan jelas disebutkan bahwa korban umumnya adalah berasal dari golongan masyarakat miskin. Di harian pagi Jawa Pos, diketahui 15% korban adalah berasal dari kelas miskin. Sementara itu, untuk korban yang berasal dari kelas menengah ke atas hanya 8,7%. Di harian pagi, Memorandum polanya hampir sama: 18,7% korban adalah berasal dari golongan masyarakat miskin dan 12,2% berasal dari kelas menengah ke atas. Untuk kasus child abuse, seperti anak diperkosa, diperlakukan kasar, dan sebagainya pada dasarnya memang potensial terjadi di lingkungan komunitas yang sederhana, termarginalisasi dan miskin, karena gaya hidup, kondisi lingkungan dan “ruang” untuk terjadinya peristiwa itu memang lebih terbuka. 64

Kekerasan anak kini merupakan problema sosial. Dalam waktu singkat apat didaftarkan beberapa faktor sosial yang menjadi penyebab kekerasan pada anak yaitu:65

1. Emosional orang dewasa. Konsekwuensi logisnya, kekerasan pada anak yang seyogianya dikurangi dan akhirnya diberantas habis, malah bertambah banyak dengan berbagai modusnya.

2. Nilai-nilai sosial. Struktur ekonomi dan politik selama ini melahirkan gap yang sangat dalam antara individu lainnya dan kelompok satu dengan lainnya. Kelompok yang tertekan secara ekonomis lebih berpotensi melakukan kekerasan terhadap anak. Himpitan ekonomis memaksa orang tua menyuruh anak mencari nafkah dan apabila si anak gagal maka orang tua akan marah dan melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan terhadap anak demikian kompleks. Menurut Suharto, kekerasan terhadap anak umumnya

63

Ibid. hal. 50, mengutip Muhammad Farid Irwanto & Jeffry Anwar, Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus di Indonesia: Analisis Situasi, (Jakarta: Kerjasama PKPM Unika Atmajaya Jakarta, Departemen Sosial dan UNICEF, 1999).

64

Suyanto, op.cit., hal.53

65

disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat, seperti:66

1. Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, auitsme, anak terlalu lugu, memiliki tempramen lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, anak terlalu bergantung pada orang dewasa.

2. Kemiskinan keluarga, orang tua menganggur, penghasilan tidak cukup, banyak anak.

3. Keluarga tunggal atau keluarga pecah (broken home), misalnya perceraian, keatiadaan ibu untuk jangka panjan atau keluarga tanpa ayah dan ibutidak mampu memenuhi kebutuhan anak secara ekonomi.

4. Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidaktahuan mendidik anak, harapan orang tua yang terlalu realistis, anak yang tidak diinginkan

(unwanted child), anak yang lahir di luar nikah.

5. Penyakit parah atau gangguan mental pada salah satu atau kedua orang tua, misalnya tidak mampu merawat dan mengasuh anak karena gangguan emosional dan depresi.

6. Sejarah penelantaran anak. Orang tua yang semasa kecilnyaa mengalami perlakuan salah cenderung memperlakukan salah anak-anaknya.

7. Kondisi lingkunan sosial buruk, pemukian kumuh, tergusurnya tempat bermain anak, sikap acuhtak acuh terhadap tindakan eksploitasi, pandangan terhadap nilai anak yang terlalu rendah, meningkatnya faham ekonomi upah, lemahnya perangkat hukum, tidak adanya mekanisme kontrol sosial yang stabil.

Sementara itu, Rusmil menjelaskan bahwa penyebab atau risiko terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor, yaitu: faktor orang tua/keluarga, faktor lingkungan sosial/komunitas, dan faktor anak sendiri.67

1. Faktor orang tua/keluarga

Faktor orang tua memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaran terhadap anak.faktor-faktor yang menyebabkan orang tua melakukan kekerasan pada anak diantaranya:

a. Praktik-praktik budaya yang merugikan anak: - Kepatuhan anak kepada orang tua

66

Abu Huraerah, op.cit, hal. 50, mengutip Edi Suharto, Pembangunan, Kebijakan Sosial, dan Pekerjaan Sosial, (Bandung: Lembaga Studi Pembangunan-Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, 1997), hal. 336-337.

67

Abu Huraerah, op.cit, hal. 51, mengutip Kusnadi Rusmil, “Penganiayaan dan Kekerasan terhadap Anak” Makalah disampaikan pada Seminar Sehari “Penanganan Korban Kekerasan pada Wanita dan Anak”, tanggal 19 Juni di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

- Hubungan asimetris b. Dibesarkan dengan penganiayaan c. Gangguan mental

d. Belum mencapai kematangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum berusia 20 Tahun.

e. Pecandu minuman keras dan obat.

2. Faktor lingkungan sosial/komunitas

Kondisi lingkungan sosial juga dapat menjadi pencetus terjadinya kekerasan pada anak. Faktor lingkungan sosial yang dapat menyebabkan kekerasan dan penelantaran pada anak diantaranya:

a. Kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan nilai materialistis b. Kondisi sosial-ekonomi yang rendah

c. Adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak adalah milik orang tua sendiri.

d. Status wanita yang dipandang rendah e. Sistem keluarga patriarkal

f. Nilai masyarakat yang terlalu individualistis

3. Faktor anak itu sendiri

a. Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis disebabkan ketergantungan anak kepada lingkungannya

b. Perilaku menyimpang pada anak.

Ada lima faktor secara internal dan eksternal, yaitu: kurang harmonisnya hubungan kekeluargaan dalam rumah tangga, masyarakat/lingkungan tempat bergaul dan mengabaikan segi keimanan, kesulitan ekonomi akibat krisis ekonomi, sanksi/hukuman yang masih dianggap ringan, serta sarana dan prasarana hiburan yang sangat menonjolkan unsur kekerasan atau topik negatif lainnya.68

Masih ringannya hukuman uang dikenakan kepada si pelaku kekerasan, adalah suatu yang sering terjadi. Kelihatannya sanksi yang dijatuhkan hakim belum membuat insaf para pelakunya. ‘masih ringan’, mungkin inilah anggapannya, sehingga pelaku kekerasan terhadap anak melakukan kekerasan berulang-ulang dan yang lain begitu mudah melakukannya. Lebih ironis kekerasan terhadap anak, apakah di sektor publik atau domestik tidak diproses secara hukum, Polisi, misalnya, bahkan bukan jarang menganjurkan korban dan pelaku berdamai, ataupun pengaduan uang ada tidak ditindaklanjuti, apakah lagi yang tidak diadukan.

69

68

Manik, op.cit, hal. 35

69

Nurul Huda, SH, M.Hum, menyebutkan ada beberapa faktor sosial yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak, yaitu:70

1. Tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan terhadap anak-anak. 2. Hubungan anak dengan orang dewasa berlaku seperti hirarkhi sosial di

masyarakat. 3. Kemiskinan.

Sedangkan Richard J. Gelles mengemukakan bawa kekerasan terhadap anak terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor: personal, sosial,d an kultural. Faktor-faktor tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, yaitu: (1) pewarisan kekerasan antar generasi (integenerational transmission of

violence), (2) stres sosial (social stress), (3) isolasi sosial dan keterlibatan

masyrakat bawah (social isolation and low communitu involvement) dan (4) struktur keluarga (family structure).71

Selanjutnya dari sisi pola pengasuhan anak. Pola pengasuhan anak yang keras yang dianggap sebagai adat-budaya yang dianggap merupakan pola pengasuhan turun temurun dimana sang anak harus patuh terhadap semua perintah orang Dengan kondisi demikian, wajar kiranya kalau kasus-kasus kekerasan terhadap anak terus terjadi. Pelaku menganggap bukan sesuatu yang melanggar hukum. Di jalanan misalnya, sering menyaksikan anak-anak bekerja sebagai penjual koran, penjual rokok, penyemir sepatu dan berbagai aktifitas anak jalanan lainnya, diperlakukan seenaknya oleh orang-orang di sekitarnya. Demikian pula di rumah kasus-kasus kekerasan bukan tidak banyak. Orangtua kandung, orangtua tiri, abang kakak dan angota keluarga lainnya merupakan pelaku kekerasan yang berulang-ulang, baik yang dilakukan secara sadar atau tidak.

70

Huda, op.cit, hal. 3-5.

71

Manik, op.cit., hal 53, mengutip Richard J. Gelles., “Child Abuse,” Encyclopedia

tuanya juga terkadang malah mengakibatkan timbul tindakan kekerasan terhadap anak, dan malah dianggap wajar dan diacuhkan oleh masyarakat.

C. Perlindungan terhadap Anak Korban Tindak Kekerasan di Indonesia