BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kelelahan Kerja
2.2.3 Faktor Penyebab Terjadinya Kelelahan Akibat Kerja
Menurut Grandjean (1991) menjelaskan bahwa factor penyebab terjadinya kelelahan di industry sangat bervariasi, dan untuk memelihara/ mempertahankan
kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan diluar tekanan (cancel out the stress). Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu-waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran.
Faktor-faktor penyebab terjadinya kelelahan antara lain : intensitas dan lamanya kerja fisik dan mental, lingkungan (iklim, penerangan, kebisingan, getaran dll), circadian rhytm, problem fisik (tanggung jawab, kekhawatiran konflik), kenyerian dan kondisi kesehatan, dan nutrisi (Tarwaka, 2004).
Teori tentang kelelahan menjelaskan bahwa kelelahan terjadi disebabkan oleh faktor internal dan eksternal :
A. Faktor Internal : 1. Umur
Semakin tua umur seseorang maka akan semakin besar tingkat kelelahan yang dirasakan (Ihsan dan Salami, 2010). Pekerja yang berumur diatas 35 tahun memiliki kelemahan pada saat melakukan pekerjaan dengan temperatur panas dibandingkan dengan pekerja yang lebih muda (Davis 2001). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Cut (2004) bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur dengan kelelahan tenaga kerja. Menurut Oentoro(2004) bahwa tenaga kerja yang berumur 40-50 tahun akan lebih cepat menderita kelelahan dibandingkan dengan tenaga kerja yang berumur relatif lebih muda.
2. Riwayat Penyakit
Beberapa penyakit dapat mempengaruhi kelelahan, antara lain :
a. Penyakit Jantung
Ketika bekerja, jantung dirangsang sehingga kecepatan denyut jantung dan kekuatan pemompaannya menjadi meningkat. Jika ada beban ekstra yang dialami jantung misalnya membawa beban berat, dapat mengakibatkan meningkatnya keperluan oksigen ke otot jantung. Kekurangan suplai oksigen ke otot jantung menyebabkan dada sakit. Kekurangan oksigen jika terus menerus , maka terjadi akumulasi yang selanjutnya terjadi metabolisme anaerobik diaman akan menghasilkan asam laktat yang mempercepat kelelahan (Santoso, 2004)
b. Tekanan Darah Rendah
Penurunan kapasitas karena serangan jantung mungkin menyebabkan tekanan darah menjadi amat rendah sedemikian rupa, sehingga menyebabkan darh tidak cukup mengalir ke arteri koroner maupun kebagian tubuh yang lain. Dengan berkurangnya jumlah suplai darh yang dipompa dari jantung, berakibat berkurang pula jumlah oksigen sehingga terbentuklah asam laktat. Asam laktat merupakan indikasi adanya kelelahan (Nurmianto, 2008).
3. Keadaan Psikologis
Faktor psikologi memainkan peran besar, karena penyakit dan kelelahan itu dapat timbul dari konflik mental yang terjadi di lingkungan pekerjaan, akhirnya dapat mempengaruhi kondisi fisik pekerja. Masalah psikologis dan kesakitan-kesakitan lainnya amatlah mudah untuk mengidap suatu bentuk kelelahan kronis dan sangatlah sulit melepaskan keterkaitannya dengan masalah kejiwaan.
4. Jenis Kelamin
Penggolongan jenis kelamin terbagi menjadi pria dan wanita. Secara umum wanita hanya mempunyai kekuatan fisik 2/3 dari kemampuan fisik atau kekuatan otot laki-laki. Tenaga kerja wanita mengalami siklus biologis (menstruasi) setiap bulan sehingga mempengaruhi kondisi fisik maupun psikisnya dan hal ini menyebabkan tingkat kelelahan wanita akan lebih besar daripada tingkat kelelahan pria (Suma’mur, 2009).
5. Masa Kerja
Menurut Ranupandojo yang dikutip oleh Ambar (2006) masa kerja adalah lama waktu yang telah ditempuh seseorang untuk dapat memahami tugas tugas suatu pekerjaan dan telah melaksanakan dengan baik. Masa kerja memberikan dampak positif seperti menurunkan ketegangan, peningkatan efektivitas dan perfomance kerja, namun semakin lama masa kerja seseorang dapat juga membawa efek negatif berupa adanya batas ketahanan tubuh terhadap proses kerja yang berakibat terhadap timbulnya kelelahan. Menurut Occupational Safety and Health (2003) dampak dari masa kerja lainnya adalah timbulnya keadaan melemahnya kinerja otot yang ditunjukkan dengan semakin rendahnya / menurunnya gerakan.
6. Status Gizi/IMT
Menurut Suma’mur (2009) kesehatan dan daya kerja sangat erat kaitannya dengan tingkat gizi seseorang. tubuh memerlukan zat-zat dari makanan untuk pemeliharaan tubuh, perbaikan kerusakan sel dan jaringan. Zat makanan tersebut
diperlukan juga untuk bekerja dan meningkat sepadan dengan lebih beratnya pekerjaan.
B. Faktor Eksternal 1. Kebisingan
Kebisingan merupakan suara yang tidak diinginkan. Penelitian yang dilakukan didalam dan diluar negeri menunjukkan bahwa pada frekuensi 300- 6000 Hz, pengurangan pendengaran tersebut disebabkan oleh kebisingan.
2. Getaran
Getaran-getaran yang ditimbulkan oleh alat-alat mekanis yang sebagian dari getaran ini sampai ketubuh dan dapat menimbulkan akibat-akibat yang tidak diinginkan pada tubuh kita. Menambahnya tonus otot-otot oleh karena getaran dibawah frekuensi 20 Hz menjadi sebab kelelahan, sebaliknya frekuensi diatas 20 Hz menyebabkan pengenduran otot. Getaran mekanis terdiri dari campuran aneka frekuensi bersifat menegangkan dan melemaskan tonus otot secara serta merta berefek melelahkan (Suma’mur, 2009).
3. Iklim kerja
Efesiansi kerja sangat dipengaruhi oleh cuaca kerja dalam daerah nikmat kerja, jadi tidak dingin dan kepanasan. Untuk ukuran suhu nikmat bagi orang Indonesia adalah 24-26 oC. Suhu panas mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, menggangu kecermatan kerja otak, menggangu koordinasi syaraf perasa dan motoris, serta memudahkan untuk dirangsang (Suma’mur, 2009).
4. Beban Kerja Fisik
Menurut Astrand dan roodahl dalam Tarwaka (2010) bahwa penilaian beban kerja fisik dapat dilakukan dengan dua metode secara objektif, yaitu metode penilaian langsung dan metode tidak langsung. Metode pengukuran langsung yaitu mengukur energi yang dikeluarkan melalui asupan oksigen lebih akurat, namun hanya dapat mengukur untuk waktu kerja yang singkat dan diperlukan peralatan yang cukup mahal. Sedangkan metode pengukuran tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi selama beekrja. Sedangkan menurut Christensen dalam Tarwaka (2010) bahwa kategori berat ringannya beban kerja didasarkan pada metabolisme, respirasi, suhu tubuh dan denyut jantung.
Kelelahan yang disebakan oleh karena kerja statis berbeda dengan kerja dinamis. Pada kerja otot statis, dengan pengerahan tenaga 50% dari kekuatan maksimum otot hanya dapat bekerja selama 1 menit, sedangkan pada pengerahan tenaga < 20% kerja fisik dapat berlangsung cukup lama. Tetapi pengarahan tenaga otot statis sebesar 15-20% akan menyebabkan kelelahan dan nyeri jika pembebanan berlangsung sepanjang hari. Lebih lanjut Suma’mur (2009) juga mengatakan bahwa kerja otot statis merupakan kerja berat, kemudian mereka membandingkan antara kerja otot statis dan kerja otot dinamis. Pada kondisi yang hampir sama, kerja otot statis mempunyai konsumsi energi yang lebih tinggi, denyut nadi meningkat dan diperlukan waktu istirahat yang lebih lama.
Untuk mengurangi tingkat kelelahan maka harus dihindarkan sikap kerja yang bersifat statis dan diupayakan sikap kerja yang lebih dinamis. Hal ini dapat
dilakukan dengan merubah sikap kerja yang statis menjadi sikap kerja yang lebih bervariasi atau dinamis, sehingga sirkulasi darah dan oksigen dapat berjalan normal ke seluruh anggota tubuh. Sedangkan untuk menilai tingkat kelelahan seseorang dapat dilakukan pengukuran kelelahan secara tidak langsung baik secara objektif maupun subjektif (Tarwaka, 2004).