• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA 2.1 Teori yang Relevan

2.1.4 Faktor penyebab terjadinya kesalahan berbahasa

Kita telah mengetahui bahwa identifikasi dan analisis interferensi anatara bahasa-bahasa yang saling kontak, secara tradisional merupakan aspek pokok dalam menelaah kedwibahasaan. Dalam kontak antarbahasa itu sering terjadi

saling mempengaruhi, yang mengakibatkan terjadinya kesalahan berbahasa. Secara garis besarnya, Richards (1974) mengatakan bahwa faktor penyebab kesalahan berbahasa yang terjadi oleh pembelajar bahasa itu dibedakan atas: kesalahan ‘antarbahasa’ (nterlanguage errors, dan kesalahan ‘intrabahasa’ intralingual errors.

1. Kesalahan ‘antarbahasa’ interlanguage errors, yaitu kesalahan yang disebabkan oleh interferensi (B1) terhadap (B2) yang dipelajari.

Richards (1985:37) mengelompokkan faktor kesalahan antar bahasa Interlingual error di dalam proses antar bahasa terdapat 5 proses antar bahasa yaitu: transfer bahasa language transfer transfer latihan transfer of training ,siasat pembelajaran bahasa kedua strategies of second language learnig,, siasat komunikasi bahasa kedua strategies of second language communication, penyamarataan yang berlebihan mengenai bahan linguistik bahasa sasaran over-generalization of target language linguistic material. Namun selain 5 proses antarbahasa tersebut ada sejumlah proses lainnya yang dalam beberapa hal berkaitan dengan bentuk-bentuk permukaan ucapan-ucapan antarbahasa. Di antaranya sebagai berikut:

a. Transfer bahasa adalah interferensi dari bahasa ibu atau B1 kepada bahasa sasaran atau B2;

b. Transfer latihan adalah kesalahan yang berkaitan dengan hakikat bahan-bahan pembelajaran bahasa dan pendekatan-pendekatannya sendiri;

c. Siasat pembelajaran bahasa kedua adalah kesalahan yang berkaitan dengan pendekatan sang pembelajar sendiri pada bahan yang dipelajari;

d. Siasat komunikasi bahasa kedua adalah kesalahan yang berkaitan dengan cara sang pembelajar berupaya berkomunikasi dengan para penutur asli di dalam situasi pemakaian bahasa secara alamiah;

e. Overgeneralisasi kaidah-kaidah bahasa sasaran adalah kesalahan yang berkaitan dengan cara sang pembelajar menstruktur kembali (mereorganisasikan) bahan linguistik atau materi kebahasaan

2. Kesalahan ‘intrabahasa’ intralingual errors, yaitu kesalahan yang merefleksikan ciri-ciri umum kaidah yang dipelajari seperti kesalahan generalisasi, aplikasi yang tidak sempurna terhadap kaidah-kaidah, dan kegagalan mempelajari kondisi-kondisi penerapan kaidah.

Dengan singkat, penyebab kesalahan” intrabahasa” ini adalah: a. Over-generalization ‘penyemarataan berlebihan’

Penyemarataan berlebihan atau over-generalisasi mencakup contoh-contoh dimana seorang pelajar menciptakan struktur yang menyimpan berdsarakan pengalamannya mengenai struktur-struktur lain dalam bahasa sasaran atau bahasa target.

Contoh: he can sings yang seharusnya he can sing

Pada umumnya, penyamarataan berlebihan (over generalization) melibatkan penciptaan suatu struktur yang menyimpang pada tempat dua srtuktur

yang regular. Hal ini mungkin saja sebagai akibat upaya seorang pelajar mengurangi beban linguistiknya. (Richards:1985:174)

b. Ketidaktahuan akan pembatasan kaidah

Berkaitan erat dengan penyamarataan atau generalisasi struktur-struktur yang menyimpang yang telah dijelaskan sebelumnya adalah kegagalan mengamati pembatasan-pembatasan atau restriksi-restriksi struktur-struktur yang ada, yaitu penerapan kaidah-kaidah terhadap konteks-konteks yang tidak menerima penerapan tersebut.

Contoh: The man who I saw him

We saw him play football and we admired c. Penerapan kaidah yang tidak sempurna

Dalam kategori ini terjadinya struktur-struktur yang penyimpangannya menggambarkan taraf perkembangan kaidah-kaidah yang diperlukan untuk menghasilkan ucapan-ucapan yang berterima atau dapat diterima. Sebagai contoh: kesulitan-kesulitan sistematis dalam penggunaan pertanyaan-pertanyaan yang dapat diamati dengan jelas pada siswa yang mempelajari bahasa kedua (B2). Pelajar B2 yang mungkin hanya tertarik pada komunikasi, dapat mencapai komunikasi yang cukup efisien tanpa memerlukan pengawasan yang lebih banyak daripada kaidah-kaidah sederhana pemakai pertanyaan.

Contoh:

Pertanyaan guru jawaban siswa Do you read much? Yes, I read much

What was she saying? She saying she would ask him (Richards: 1985:178)

d. Salah menghipotesiskan konsep

Sebagai tambahan terhadap jajaran-kesalahan intralingual yang telah dibahas di atas, masih terdapat sejenis kesalahan perkembangan yang diturunkan dari pemahaman yang salah terhadap pembedaan-pembedaan di dalam bahasa target. Hal ini kadang-kadang berkaitan dengan gradisi hal-hal pengajaran yang tidak selaras. Sebagai contoh, bentuk was dalam bahasa Inggris dapat diinterpretasikan sebagai penanda atau ciri pada masa lalu sehingga menghasilkan one day it was happened dan bentuk is mungkin dipahami sebagai yang berhubungan dengan penanda pada masa kini (sekarang) sehingga menghasilkan he is speaks dutch. Seharusnya he speaks dutch

Contoh: farmers are went to their houses Seharusnya Farmers went to their houses

2.2 Morfologi

Secara etimologi morfologi berasal dari kata morf yang berarti ‘bentuk’ dan kata logi yang berarti ‘ilmu’. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti ‘ilmu mengenai bentuk’. Di dalam kajian linguistik, morfologi berarti ‘ilmu mengenai bentuk-bentuk dan pembentukan kata’ (Chaer: 2008:3). Ramlan (1983: 16) mengatakan bahwa Morfologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata atau morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk

kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi garamatik maupun fungsi semantik. Secara struktural objek kajian morfologi adalah morfem pada tingkat rendah dan pada tingkat tertinggi. Itulah sebabnya, morfolgi sebagai seluk beluk kata (struktur kata) serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap makna (arti) dan kelas kata.

Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa Morfologi merupakan salah satu cabang linguistik yang membahas mengenai perubahan kata. Dalam bahasa Arab, morfologi merupakan sharf, dimana di dalamnya banyak membahas tentang perubahan-perubahan kata dari satu kata menjadi sejumlah kata yang mempunyai arti tersendiri. Dalam kajian morfologi, terdapat poin-poin yang menjelaskan lebih rinci tentang morfologi itu sendiri, seperti objek kajian morfologi, proses morfologi, hubungan morfologi dengan ilmu-ilmu tata bahasa lainnya, serta morfologi dalam bahasa Arab itu sendiri dimana salah diantaranya yaitu morfem.

Morfem adalah satuan morfologi yang tidak dapat dibagi lagi menjadi satuan – satuan yang lebih kecil, dalam arti kata yang ada dalam rangkaian kata – kata mempunyai fungsi formal yang sama dan tidak dapat dibagi lagi. Bentuk linguistik di atas diartikan sebagai setiap kombinasi fonem yang mengandung makna. Jadi morfem merupakan suatu gramatikal terkecil yang mempunyai arti.

Verhaar (1988:97) menjelaskan bahwa morfem bebas adalah bentuk yang dapat berdiri sendiri secara morfemis dan tidak membutuhkan bentuk lain yang digabung. Morfem terikat Bound morpheme adalah morfem yang tanpa digabung dulu dengan morfem lain tidak muncul dalam pertuturan (Chaer, 1994:152).

Sedangkan menurut Yule (1985:76), terdapat dua kategori morfem terikat, yaitu derivational morphemes dan inflectional morphemes.

a. Derivational Morpheme

Derivational Morpheme adalah morfem yang membentuk kata – kata baru dan sering digunakan untuk membentuk kata-kata dengan kategori gramatikal yang berbeda dari stem-nya, misalnya penambahan morfem –ly pada kata sifat careful akan mengubahnya menjadi kata keterangan carefully. Dalam bahasa arab misalnya kata /kataba/ ﺐﺘﻛ ‘menulis’ (verba) /kitabun/ ﺏﺎﺘﻛ ‘buku’ (nomina)

b. Inflectional Morpheme

Inflectional morpheme ini digunakan untuk menunjukkan kata yang bersifat jamak atau tunggal dan tidak mengubah kelas kata. Contohnya, morfem infleksi –s pada kata books menunjukkan kata benda jamak. Dalam bahasa arab contohnya:

/muslimun/ ﻢﻠﺴﻣ ‘satu orang muslim’ /muslimāni/ ﻥﺎﻤﻠﺴﻣ ‘dua orang muslim’ /muslimūna/ ﻥﻮﻤﻠﺴﻣ ‘beberapa orang muslim’

Dokumen terkait