• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

5.2 Pembahasan

5.2.3. Faktor stres

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.7 didapatkan bahwa sebagian besar dari responden mengalami stres sedang 73 responden (71.6%).

Menurut peneliti stres yang dialami responden disebabkan stres meliputi jengkel pada hal kecil, reaksi berlebihan, sulit santai, energi terbuang percuma, sikap tidak sabar, mudah marah, sulit mentolerir gangguan, tegang dan gelisah. Dilihat hasil akumulasi penjumlahan beberapa parameter stres yang paling rendah yaitu pada item pernyataan no. 2 cenderung bereaksi berlebihan terhadap situasi

rata-rata responden menjawab ”jarang”, item pernyataan no. 11 merasa sulit untuk

memaklumi gangguan ketika saya melakukan kegiatan rata-rata responden menjawab ”jarang” dan item pernyataan no. 13 tidak bisa sabar terhadap apapun

84

Stres adalah reaksi dari tubuh (respons) terhadap lingkungan yang dapat memproteksi diri kita yang juga merupakan bagian dari sistem pertahanan yang membuat kita tetap hidup (Nasir & Muhith, 2010). Menurut WHO (2015) stres adalah suatu reaksi atau respon tubuh terhadap stresor psikososial tekanan mental atau beban kehidupan (Priyoto, 2014).

Stres adalah kondisi yang tidak menyenangkan dimana manusia melihat adanya tuntutan dalam situasi sebagai beban atau diluar batasan kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan tersebut (Nazir, 2011). Stres adalah stimulus atau situasi yang dapat menyebabkan distres, dan menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang (Ramadhani, 2014). Stres adalah suatu reaksi fisik dan psikis terhadap setiap tuntutan yang menyebabkan ketegangan dan mengganggu stabilitas kehidupan sehari-hari (Priyoto, 2014)

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa sebagian besar jenis kelamin responden adalah perempuan sebanyak 60 responden (58,8%). Menurut peneliti stres lebih banyak dialami perempuan. Perempuan cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Jenis kelamin berperan terhadap terjadinya stres. Ada perbedaan respon antara laki-laki dan perempuan saat menghadapi konflik. Otak perempuan memiliki kewaspadaan yang negatif terhadap adanya konflik dan stres, pada perempuan konflik memicu hormon negatif sehingga memunculkan stres, gelisah, dan rasa takut. Sedangkan laki-laki umumnya menikmati adanya konflik dan persaingan, bahkan menganggap bahwa konflik dapat memberikan dorongan yang positif. Dengan kata lain, ketika perempuan mendapat tekanan, maka umumnya akan lebih mudah mengalami stres

85

Penelitian dari McDonough dan Walter (2001) dengan menggunakan

Wheaton’s chronic stres inventory, menemukan bahwa skor distres pada

perempuan lebih tinggi 23% daripada laki-laki. depresiasi secara signifikan yang lebih besar pada wanita dibandingkan dengan pria, dan juga wanita dinyatakan

lebih cepat menderita kelelahan, kecemasan,somatic symptomatic dan mild

physiological disorder dibandingkan laki-laki. Meskipun demikian laki-laki umumnya tidak menampakkan gejala-gejala tersebut dalam waktu dekat, sehingga mereka mungkin akan menderita penyakit yang lebih serius dalam jangka waktu yang lebih panjang (Sirait, 2010).

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa sebagian

besar dari responden berusia 60 – 65 tahun sejumlah 73 responden (71.5%).

Menurut peneliti stres lebih banyak dialami pada usia 60 – 65 tahun, usia

berkaitan dengan toleransi seseorang terhadap stres. Pada usia dewasa biasanya seseorang lebih mampu mengontrol stres yang terjadi dibandingkan usia kanak- kanak maupun usia lanjut. Semakin dewasa usia biasanya akan semakin menunjukkan kematangan jiwa, dalam arti semakin bijaksana, semakin mampu berpikir rasional, semakin mampu mengendalikan emosi, semakin dapat menunjukkan intelektual dan psikologisnya.

Usia berhubungan dengan toleransi seseorang terhadap stres dan jenis stressor yang paling menganggu. Pada usia dewasa biasanya lebih mampu mengontrol stres dibanding dengan usia kanak-kanak dan usia lanjut. Dengan kata lain orang dewasa biasanya mempunyai toleransi terhdap stres yang lebih baik (Siswanto, 2007).

86

Berdasarkan Tabel 5.3 menunjukkan bahwa sebagian besar dari responden sejumlah 72 responden (70.6%) tidak tamat SD

Menurut peneliti stres yang dialami responden dengan tingkat pendidikan tidak tamat sekolah dasar. Salah satu faktor lain yang mempengaruhi stres adalah kurangnya pengetahuan lansia. Pendidikan lansia tidak tamat sekolah dasar memicu ketidaktahuan responden penyakit asma sehingga kurang bisa meminimalkan stres yang dialami.

Tingkat pendidikan secara tidak langsung juga mempengaruhi tekanan darah. Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap gaya hidup. Tingginya kekambuhan

asma dialami pada lansia dengan pendidikan yang rendah, disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada seseorang yang berpendidikan rendah terhadap

kesehatan dan sulit atau lambat menerima informasi (penyuluhan). Tingkat pendidikan yang tinggi cenderung menyebabkan perubahan pada pola berpikir dan pandangan hidup. (Vierdelina, 2008). Seseorang dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mengalami perubahan pola berpikir dari tradisional ke arah yang lebih maju sehingga tidak hanya memandang persoalan dari satu sisi saja melainkan dapat dari berbagai sudut pandang (Vierdelina, 2008) Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.4 menunjukkan bahwa sebagian besar dari responden sejumlah 60 responden (58.8%) tidak bekerja.

Menurut peneliti stres lebih banyak dialami responden yang tidak bekerja maka besar kemungkinan lansia mengalami stres. Salah satu faktor lain yang mempengaruhi stres adalah bagaimana lansia itu senidri dalam memasuki masa tuanya. Bagi lansia yang telah mempersiapkan dirinya sedini mungkin untuk memasuki masa tua, membuat ia lebih mengerti dan memeahami serta dapat

87

menerima segala perubahan dan keterbatasan yang mendadak muncul pada masa lanjut usia.

Batasan mengenai masa usia lanjut belum mendapatkan kesepakatan yang pasti (Hurlock, 1980) menyatakan bahwa masa lanjut usia terdiri dari masa usia lanjut awal yang berkisar antara 60 tahun sampai 70 tahun dan masa usia lanjut ditandai dengan dari usia 70 tahun sampai akhir kehidupan seseorang. (Rogers, 1979) menjabarkan bahwa masa usia lanjut ditujukan sebagai orang yang sudah mulai meninggalkan pekerjaan untuk istirahat. (Haditono, 1989) menyatakan bahwa rentang usia 65 tahun keatas adalah termasuk dalam masa usia lanjut. Lebih lanjut (Monks dkk, 1998) menunjukkan bahwa masa usia lanjut (Old Age)

mulai usia 65 hingga meninggal dunia. (Depsos. RI, 2003).

Dokumen terkait