• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Proses Reduksi Data

2. Faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar subjek

Setelah peneliti melakukan wawancara, mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa terhadap beberapa informan dan observasi peneliti, diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Faktor Lingkungan.

Faktor lingkungan menurut Djamarah (2011) sebagai pedoman dalam melakukan penelitian terdiri atas dua faktor yaitu:

1) Lingkungan Alami

Lingkungan alami meliputi lingkungan rumah dan lingkungan Adi bersekolah. Lingkungan rumah, Adi tinggal bersama kakek, nenek dan pamannya. Rumah Adi berukuran kurang lebih 9x4,5 m2. Terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu, ruang televisi, dapur dan kamar mandi. Paman dan kakek Adi jarang pulang ke rumah karena bekerja diluar kota. Adi

tidur di kamar dengan beralaskan spoon berukuran 2x1,5 m2 yang sudah tipis dan usang. Jarak ruang televisi dengan kamar Adi hanya dipisahkan oleh lemari besar, sehingga ketika Adi belajar menjadi tidak fokus. Terbukti ketika peneliti beberapa kali mengamati kegiatan belajar Adi, dia sering bolak-balik tempat tidur (ketika belajar di kamar) ke ruang televisi untuk menyaksikan acara di televisi. Di ruang televisi juga ada lemari es yang suara dengungannya terdengar sampai kamar Adi.

Menurut peneliti, dengan ruang tamu hanya berukuran sekitar 2,5x2,5 m2 persegi yang pengap sungguh tidak layak untuk belajar. Ada lemari kotor, gantungan untuk baju yang masih basah, kasur yang sudah tidak dipakai, makanan, baju-baju yang berserakan. Selama tiga bulan peneliti melakukan penelitian ke rumah Adi, kondisi rumah Adi tetap saja sama dengan pertama peneliti ke rumah Adi. Menurut nenek, Adi juga termasuk anak yang malas untuk membersihkan rumah terutama ruang tamu. Hal tersebut nampak dari keseharian Adi yang bermain di luar rumah hingga sore hari, ditambah lagi setiap pulang kerja neneknya masih harus menyapu ruang tamu, melipat baju dan Adi hanya bermain komputer hingga larut malam. Keseharian Adi hanya digunakan untuk bermain.

Denah Rumah Adi S 10 U 5 7777777 6 7 Ket:

No 1: Mesin cuci No 6 : Gantungan baju 9

No 2: Computer No 7 : Meja belajar No 3: Kulkas No 8 : Spoon tempat tidur No 4: Televisi No 9: Pintu keluar rumah No 5: Lemari No10: Rak Piring

Kompor gas Kamar Mandi 2 Tempat tidur 3 4 Lemari 1

Tempat sepeda dan pakaian

Tembok kompor

Salah satu ciri dari gangguan kepribadian antisosial muncul ketika Adi ada pekerjaan rumah (PR) dari guru sering tidak dikerjakan. Hal tersebut menurut Durand & Barlow, 2013 dalam Intisari Psikologi Abnormal adalah salah satu bentuk perilaku yang tidak memiliki penyesalan karena PR tersebut terus menerus tidak dikerjakan dan ketika dihukum oleh guru tetap tidak ada perubahan. Setiap ditanya oleh neneknya Adi berbohong dengan mengatakan tidak ada PR. Perilaku tersebut terjadi berulang-ulang sehingga neneknya curiga dan mencoba mencari informasi mengenai PR kepada teman satu kelas Adi. Berikut petikan wawancara peneliti dengan nenek dan wali kelas mengenai Adi yang berbohong tentang PR:

1. Nenek

“Adi iki yo cok ngapusi mas, nek ditakoni rak ono PR, terus aku karang ra percoyo aku langsung nang umahe kancane daerah kidul kono kae. Tak catet PR e, halamane, nek ra dingunoke ra ngaku mas”.

(Adi ini ya sering berbohong kak, kalau ditanya tidak ada PR, terus karena aku tidak percaya aku langsung ke rumah temannya daerah selatan sana. Tak catat Prnya, halamanya, kalau tidak dibegitukan tidak mengaku mas). N2M-1

2. Wali kelas

Iya kemarin mbahnya sampai tanya ke Rio dan Anto(bukan nama sebenarnya) teman satu kelas Adi. Mbahnya kerumah mereka cuma tanya PR, la terus mereka berdua diajak kerumah Adi untuk belajar kelompok”. WL15M-2

Selain itu ketika belajar tanpa ditemani neneknya Adi pasti langsung pergi ke kamar untuk bermain komputer atau tidur. Menurut peneliti perilaku Adi diatas merupakan ciri khas dari anak yang mengalami gangguan

kepribadian antisosial menurut DSM 5 yaitu berbohong, tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap kewajibannya sebagai pelajar.

Jarak rumah Adi dengan sekolah kurang lebih 2 km. Sekolah Adi terletak tepat disebelah jalan raya yang ramai kendaraan. Suara kendaraan seperti truk dan sepeda motor sedikit mengganggu konsentrasi siswa dan guru. Seperti yang diungkapkan oleh wali kelas Adi berikut:

“Ya terganggu. bisa iya bisa tidak mas, biasanya kalo memang ujian bisa dibuat kelas satu- tiga disebelah barat dan kelas 6 di utara”

Dari petikan wawancara peneliti dengan wali kelas Adi dapat katakan suara kendaraan akan terasa sangat menggangu ketika ada ujian sekolah/ ujian nasional untuk kelas 6. Untuk mengatasi agar siswa kelas 6 fokus dengan ujian maka ketika ujian kelas 6 diposisikan disebelah utara yang jauh dari jalan raya.

Kamar mandi yang kotor membuat Adi tidak pernah cuci tangan setiap selesai olahraga atau pun jajan. Di sekolah Adi menunjukan perilaku antisosialnya yang menurut peneliti mempengaruhi hasil belajarnya ,seperti di sekolah Adi terkenal sebagai anak yang nakal, karena suka berkelahi, marah tanpa sebab dan tidak pernah mengerjakan PR. Guru kelas terpaksa membuat aturan jika Adi berkelahi atau marah di kelas maka dia akan mendapat denda sebesar Rp 5000-,. Namun seperti yang dijelaskan dalam DSM 5, anak antisosial memiliki ciri yaitu secara

konsisten tidak tanggung jawab dalam pekerjaan dan mudah marah serta agresif. Maka dari itu sudah pasti aturan denda bagi Adi sama sekali tidak mempengaruhi perilakunya. Berikut pernyataan langsung wali kelas pada tanggal 15 Mei 2014, mengenai aturan jika Adi marah di kelas:

Wali : “itu kemarin Adi ngepel WC” Peneliti : “ La kenapa bu?”

Wali : “Tidak piket dan mengerjakan PR. La sudah disepakati jika tidak mengerjakan PR atau Adi berbuat onar akan didenda lima ribu tapi ya seperti itu mas, sama saja, heheh”WL15M-3

Walaupun wali kelas sudah membuat aturan tersebut Adi tetap sering berkelahi dan marah di kelas. Di kelas Adi duduk sendirian, hal tersebut dilakukan wali kelas karena pengalaman wali kelas waktu Adi memiliki teman satu bangku pasti akan berkelahi. Selain itu menurut Yudi (teman satu kelas) tidak mau duduk satu bangku karena Adi anak nakal dan pernah memukulnya. Peneliti pun mewawancarai Yudi secara tidak terstruktur dan bentuk wawancaranya sebagai berikut:

Peneliti: “Kalo dikelas Adi diduduk dengan siapa?” Yudi :”Sendiri,”

Peneliti :”Kamu nggak mau nemenin?” Yudi :”Tidak soalnya nakal.”

2) Lingkungan Sosial Budaya

Lingkungan sosial budaya di tempat tinggal Adi walaupun daerah perumahan namun tetap menjunjung tinggi kebersamaan. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar warga perumahan masih warga asli daearah

tersebut. Selain itu, kebersamaan nampak ketika warga mengadakan hajatan atau pun sholat berjamaah yang diikuti banyak warga. Namun keluarga Adi sejauh diamati, sangat kurang dalam hal berkomunikasi dengan warga sekitar. Nenek Adi yang berangkat pukul 07.00 dan pulang pukul 17.00, kakek yang tidak pasti pulang membuat komunikasi dengan warga sekitar kurang.

Adi yang juga jarang di rumah membuat hubungan Adi dengan teman satu kompleksnya kurang dekat, hal tersebut wajar karena memang Adi anak antisosial yang cenderung menyendiri dan menjauh dari masyarakat. Nenek Adi mengatakan bahwa dulu waktu Adi kelas 1, 2 dan 3 (ketika masih di SD Depok) sering mendapatkan teguran dari warga sekitar karena perilaku Adi yang melukai, berkelahi dengan anak mereka. Oleh sebab itu karena malu dengan perilaku cucunya tersebut nenek Adi menjadi jarang keluar rumah untuk bersosialisasi dengan warga sekitar. Pernyataan nenek Adi mengenai perilaku Adi di rumah peneliti tuangkan lewat verbatim sebagai berikut:

“Ndisik wes tau mas, jamane sekolah nang Depok(samaran) tonggone podo moro rene. Wadul nek anake dinakali Adi. Aku yo isin to mas”

(Dulu sudah pernah kak, jaman sekolah di Depok, tetangga pada datang kesini. Mengadu kalau anaknya dinakali Adi, Aku ya malu to mas). N2M-1

Aturan sekolah yang wajib dipatuhi oleh semua warga sekolah justru tidak dipatuhi oleh Adi. Contoh perilaku Adi yang tidak mematuhi

peraturan sekolah adalah tidak pernah mengerjakan PR, datang terlambat padahal diantar oleh neneknya, dan berkelahi dengan temannya. Petikan wawancara peneliti dengan ibu Ani (bukan nama sebenarnya) guru mata pelajaran agama dan wali kelas mengenai PR adalah sebagai berikut:

Peneliti : Apakah Adi selalu mengerjakan PR?

Ibu Ani : Tidak, ya tak suruh mengerjakan diluar kelas.GA29F Wali :Tidak, sama sekali.WL29F

Sesuai dengan pendapat Djamarah (2011) yang mengatakan bahwa peraturan sekolah bertujuan untuk mengatur dan membentuk perilaku anak didik yang menunjang keberhasilan belajar di sekolah. Berarti jelas bahwa salah satu penyebab rendahnya hasil belajar Adi karena dia tidak mematuhi peraturan sekolah.

b. Faktor Instrumental

Menurut Djamarah terdiri atas kurikulum, program, sarana prasarana dan guru yang hasilnya akan dibahas dibawah ini.

1) Kurikulum

Sekolah masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan belum menerapkan kurikulum 2013. Kurikulum yang digunakan sekolah pada kenyataan di lapangan bisa diikuti oleh semua siswa. Hal tersebut bisa dilihat dari tingkat kenaikan kelas siswa yang hampir 100% tiap kelasnya. Menurut wali kelas III, sebelum ada Adi tingkat kenaikan kelas III selalu 100%. Hal ini membuktikan bahwa Adi belum bisa mengikuti kurikulum yang digunakan oleh sekolah.

2) Program

Menurut guru mata pelajaran dan wali kelas, setiap guru memilliki program mengajar yang jelas baik Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ataupun nilai program pengembangan diri.

3) Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana yang sekolah miliki menurut peneliti sudah lengkap. Lapangan yang cukup luas, perpustakaan yang lengkap, mushola, dan ruang kelas yang sejuk membuat siswa betah berada di sekolah. Hanya saja kamar mandi sekolah terlihat kotor. Guru mata pelajaran juga sudah memiliki buku pengangan sesuai dengan mata pelajaran yang mereka emban. Dokumentasi mengenai sarana dan prasarana sekolah terlampir dalam bentuk foto.

4) Guru

Secara keseluruhan guru di SD Maju (bukan nama sebenarnya) sudah mencerminkan guru yang profesional. Profesionalitas guru nampak dari setiap guru yang mengampu mata pelajaran sesuai keahliannya. Ada juga guru yang mengampu pramuka dan juga mata pelajaran matematika, namun hal tersebut tidak mengurangi profesionalitasnya. Terbukti guru tersebut membawa sekolah menjuarai kejuaraan pramuka baik tingkat kecamatan atau pun kabupaten.

c. Kondisi Fisiologis

1) Anak didik yang kekurangan gizi

Menurut Nasution dalam Djamarah (2011) mengatakan bahwa anak yang kekurangan gizi ternyata kemampuan belajarnya dibawah anak-anak yang tidak kekurangan gizi. Menurut peneliti, Adi secara kebutuhan gizi sudah tercukupi karena Adi tipe anak yang pilih-pilih soal makanan. Ketika peneliti ke rumah Adi, nenek Adi sedang menggorengkan ikan bandeng sesuai dengan keinginan Adi. Makanan yang dihidangkan oleh nenek Adi selalu apa yang diinginkan Adi, dan makanan itu pasti bergizi seperti telur goreng, ikan, dan ayam.

2) Kondisi panca indra

Kondisi panca indra yang normal membantu anak didik dalam menerima informasi dari guru (Djamarah, 2011). Menurut peneliti pernyataan Djamarah tersebut tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti kepada Adi. Walaupun secara umum Adi memiliki kondisi panca indra yang sempurna, tidak ada permasalahan pada panca indranya. Namun pada kenyataannya Adi tidak mampu menerima informasi dari guru dengan baik, salah satunya ketika guru memberikan informasi mengenai PR tidak pernah dikerjakan oleh Adi.

d. Kondisi Psikologis 1) Minat

Nasution berpendapat (dalam Djamarah, 2011) bahwa minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi dan sebaliknya. Nampaknya pendapat Nasution tersebut sesuai dengan keadaan Adi. Hasil wawancara dengan wali kelas, guru mata pelajaran , nenek dan observasi diperoleh kesimpulan bahwa minat Adi dalam mengikuti pelajaran sangat rendah. Rendahnya minat Adi dikarenakan perilaku antisosialnya seperti tidak pernah mengerjakan PR, tugas sekolah tidak pernah diselesaikan, tidak mematuhi peraturan sekolah masih dominan. Adi selalu mengatakan tidak ada PR kepada neneknya padahal ada PR dari guru bidang studi . Minat Adi rendah juga nampak pada perilaku Adi di kelas yang selalu melamun ketika guru mengajar. Seperti pernyataan wali kelas mengenai minat Adi yang kurang:

“Tidak, kurang, ya itu tadi. . . asal berangkat, tugas tidak pernah selesai, pokoknya santai. . .”

2) Kecerdasan

Menurut Djamarah (2011) Mengatakan bahwa seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Peryataan Djamarah tersebut sesuai dengan apa yang dialami Adi yang IQ-nya rendah sehingga berpengaruh pada rendahnya hasil belajar Adi. Adi memiliki IQ hanya 78 yang menurut

skala Wechsler tergolong kategori borderline. Borderline menurut Weschler (Depdikbud) yang tertulis di Balipost (2004) tergolong anak lambat belajar. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa rendahnya hasil belajar Adi dipengaruhi oleh nilai IQ yang rendah.

3) Bakat

Sejauh pengamatan peneliti Adi tidak memiliki bakat atau potensi yang memungkinkan Adi memperoleh prestasi dibidang tertentu. Misalnya ketika mata pelajaran menari, Adi tidak membawa peralatan menari. Pramuka sendiri Adi sering melakukan kesalahan, seperti ketika peneliti mengamati Adi waktu mengikuti kegiatan pramuka. Adi dihukum karena tidak mendengarkan perintah kakak pembina namun seperti yang dijelaskan dalam DSM 5 bahwa anak antisosial tidak memiliki penyesalan atas kesalahan yang dia buat maka Adi hanya tersenyum tanpa ada rasa menyesal atau pun malu ketika mendapat hukuman. Peneliti juga pernah ngobrol dengan Adi dan ditanya mengenai kemampuan yang dimiliki Adi menjawab bahwa dia merasa bisa mengoperasikan komputer. Namun ketika menulis materi mata pelajaran dia tidak mau menulis, dia lebih berminat praktek daripada menulis.

4) Motivasi

Menurut Djamarah (2011), motivasi belajar seseorang mempengaruhi keberhasilan belajar. Karena itu menurut Djamarah motivasi belajar perlu diusahakan, terutama yang berasal dari diri (motivasi intrinsik) dengan

cara memikirkan masa depan yang penuh tantangan. Dari pendapat Djamarah tersebut penulis melihat motivasi intrinsik yang dimiliki Adi sangatlah rendah sehingga berdampak pada hasil belajar Adi menjadi rendah. Kurangnya motivasi dari orang terdekat seperti nenek, kakek dan paman membuat Adi tidak termotivasi untuk meraih prestasi. Menurut guru mata pelajaran, ibu Ani (bukan nama sebenarnya) mengatakan bahwa faktor yang membuat Adi tidak termotivasi untuk sekolah yaitu tidak adanya orang tua (ayah dan ibu) yang mendampingi kegiatan belajarnya.

Nenek Adi hanya memenuhi segala kebutuhan Adi tanpa menanyakan apa yang dirasakan Adi. Kakeknya sibuk dengan pekerjaannya dan jarang pulang. Hal tersebut membuat Adi tidak ada yang menuntun, memberi gambaran mengenai masa depan yang akan dituju. Ditambah lagi Adi adalah anak terindikasi antisosial yang lebih suka menyendiri daripada berkumpul dengan orang lain, sehingga Adi tidak memiliki teman untuk menumbuhkan motivasi belajarnya. Awal peneliti bertemu dengan Adi (bulan Oktober, 2013), Adi mengatakan bahwa dia memilliki cita-cita menjadi polisi. Namun ketika ditanya lagi (bulan April, 2014) dia mengatakan bahwa dia tidak tau mau jadi apa. Hal mengenai cita-cita tersebut membuat Adi tidak memiliki motivasi untuk belajar karena tidak memiliki cita-cita yang jelas. Selain itu, cita-cita Adi yang tidak jelas mempertegas pernyataan dari DSM 5 yaitu anak antisosial tidak memiliki perencanaan masa depan yang jelas.

Rendahnya motivasi Adi juga nampak pada malam hari ketika hendak menjadwal pelajaran hariannya. Menurut neneknya Adi tidak pernah menjadwal pelajaran sehingga neneknyalah yang mengecek jadwal dan menaruh buku sesuai jadwal ditas Adi. Begitu pula ketika pagi hari, menurut neneknya Adi sulit sekali untuk bangun pagi. Sering neneknya menyeret Adi dari kamarnya agar mau bangun untuk sekolah. Berikut petikan wawancara keluhan nenek terhadap kebiasaan Adi:

“Yo memang bocahe ke ora biso mandiri, Isuk yo,, angele dikon tangi, nganti tak seret-seret”

(Ya memang anaknya tidak bisa mandiri. Pagi juga ….susahhnya untuk bangun, sampai saya seret-seret).N25-11

Walaupun sekolah diantar neneknya, Adi masih saja datang terlambat ke sekolah. Hal tersebut tentu memperjelas bahwa motivasi Adi untuk bersekolah sangatlah rendah.

5) Kemampuan Kognitif

Kemampuan kognitif Adi dari hasil observasi peneliti masih rendah. Ketika peneliti berbicara dengan Adi mengenai kesulitan-kesulitan yang menghambat belajarnya Adi menjawab bahwa dia sulit untuk mengingat, hal tersebut juga dikuatkan oleh pengakuan dari wali kelas yang mengatakan bahwa Adi sulit untuk mengingat. Adi juga selalu beralasan

pengen”(ingin) tidak menulis, pengen tidak mengerjakan PR. Alasan-alasan tersebut menurut peneliti adalah hal yang wajar karena memang Adi adalah anak terindikasi antisosial yang salah satu cirinya menurut

DSM 5 adalah sering melakukan tindakan dengan alasan yang tidak logis. Adi juga memiliki persepsi yang negatif terhadap mata pelajaran agama hal tersebut terjadi karena waktu di SD lamanya dia kesulitan menulis dan membaca aquran. Hal tersebut mengakibatkan nilai harian mata pelajaran agama Adi nyaris nol semua.

Dokumen terkait