BAB I: PENDAHULUAN
B. Perkembangan Karier Siswa SMK
1. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perkembangan Karier
Perkembangan karier selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dalam buku Bimbingan Karier di Sekolah-Sekolah, Sukardi (1987:44) mengungkapkan bahwa terdapat dua faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan karier, yaitu faktor yang bersumber pada diri individu dan faktor sosial.
Faktor-faktor yang bersumber pada diri individu antara lain sebagai berikut:
a. Kemampuan intelegensi
Binet (dalam Winkel, 2004) intelegensi adalah kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan dan untuk menilai keadaan diri secara
kritis dan obyektif. Kemampuan intelegensi yang dimiliki oleh tiap individu biasanya berbeda. Secara luas diakui bahwa terdapat perbedaan dalam kecepatan dan kesempurnaan individu dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Orang yang memiliki taraf intelegensi yang lebih tinggi lebih cepat memecahkan persoalan bila dibandingkan dengan orang yang memiliki taraf intelegensi lebih rendah. Kemampuan intelegensi memegang peranan penting, dan harus dipertimbangan dalam memasuki suatu pekerjaan.
b. Bakat
Bakat merupakan suatu kondisi yang dimiliki individu yang memungkinkan individu untuk berkembang pada masa mendatang. Bakat merupakan suatu kemampuan yang menonjol di suatu bidang usaha kognitif, bidang keterampilan atau kesenian (Winkel, 2004). Bakat-bakat dapat diketahui melalui tes bakat yang biasanya diadakan oleh pihak sekolah. Bakat-bakat yang perlu diukur antara lain: penalaran verbal, kemampuan angka, penalaran abstrak, tilikan ruang, penalaran mekanis, kecepatan dan ketelitian klerikal, pemakaian bahasa, bakat skolastik. Bakat seseorang perlu diketahui agar pihak sekolah dapat memberikan bimbingan yang sesuai dengan bakat anak.
Dengan memberikan bimbingan yang sesuai akan dipermudahlah pihak sekolah dalam memprediksi dan mengarahkan pilihan karier para murid. Program bimbingan yang dilakukan di sekolah dapat membantu siswa untuk mengetahui bakat-bakatnya.
c. Minat
Minat adalah kecenderungan yang agak menetap pada seseorang untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu. Minat sangat besar pengaruhnya dalam mencapai prestasi dalam suatu pekerjaan. Memiliki minat saja tidak menjamin orang akan berhasil baik dalam bidang jabatan yang dimasuki, karena harus dilihat pula bekal kualifikasinya yang menyangkut
taraf intelegensi dan profil kemampuan khusus. Orang yang berminat, tetapi tidak memenuhi
tuntutan kualifikasi dalam hal taraf intelegensi dan profil kemampuan kemampuan khusus, kiranya tidak dapat diharapkan akan berhasil baik. Sebaliknya, orang yang memenuhi kualifikasi dalam hal tertentu, masih dapat diharapkan cukup berhasil meskipun tidak begitu berminat. Keadaan yang paling baik ialah bila orang berminat dan memiliki bekal kualifikasi yang sesuai (Winkel, 2004: 651).
Menurut pendapat Strong (Winkel, 2004: 650), minat masih akan mengalami perubahan antara umur 15-20 tahun, dan akan menjadi lebih stabil antara umur 20-25 tahun. Minat tersebut tidak akan berubah banyak setelah seseorang mencapai kedewasaan.
d. Sifat-sifat
Sifat merupakan ciri-ciri kepribadian yang memberikan corak khas pada seseorang seperti riang gembira, ramah, halus, teliti, terbuka, dan lain-lain. Biasanya, orang akan kurang cocok untuk memegang suatu jabatan tertentu karena dalam dirinya terdapat sifat-sifat yang kurang mendukung dirinya untuk bekerja di bidang yang bersangkutan. Setiap orang memiliki kombinasi dari sifat baik yang mendukung dalam bekerja dan sifat yang kurang baik yang menghambat dalam bekerja. Selama masa remaja semua sifat belumlah terbentuk secara paten. Sifat dalam diri remaja yang kurang baik masih dapat mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya umur dan kedewasaan remaja itu sendiri (Winkel, 2004 :652). e. Nilai-Nilai
Sukardi (1987:47) menjelaskan bahwa nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan. Nilai-nilai bagi manusia dipergunakan
sebagai patokan dalam melakukan tindakan. Nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang memegang peranan yang penting dalam keseluruhan perilaku seseorang dan mempengaruhi seluruh harapan atau aspirasinya, termasuk bidang pekerjaan yang akan ditekuni. Nilai-nilai yang dianut oleh individu berpengaruh terhadap prestasi dalam pekerjaan. Individu yang memiliki nilai moral yang tinggi akan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi pula dalam pekerjaannya.
f. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan informasi yang dimiliki oleh sesorang antara lain tentang bidang-bidang pekerjaan dan tentang diri sendiri. Pengetahuan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan misalnya: persyaratan dalam melamar pekerjaan, gaji yang diterima, hak dan kewajiban selama bekerja, dan gambaran lingkungan pekerjaan yang akan dihadapi. Pengetahuan tentang diri sendiri meliputi antara lain: taraf intelegensi, kemampuan khusus, nilai-nilai kehidupan, minat dan sifat kepribadian. Dengan bertambahnya umur dan pengalaman hidup, orang akan mengenal diri sendiri secara lebih akurat dan lebih menyadari keterbatasannya.
g. Keadaan Jasmani
Keadaan jasmani yaitu ciri-ciri fisik yang dimiliki oleh seseorang seperti tinggi badan, ketajaman penglihatan, pendengaran, dan jenis kelamin. Hampir semua pekerjaan yang ada membutuhkan kondisi fisik yang lengkap dan dapat digunakan secara optimal.
Selain faktor yang terdapat dalam diri individu, terdapat juga faktor sosial yang terdiri dari kelompok primer dan kelompok sekunder. Kelompok primer diwarnai oleh bentuk-bentuk hubungan yang bersifat pribadi, akrab, dan terjadi secara terus menerus. Keluarga terutama orang tua merupakan lingkungan yang memberikan pengalaman sosial yang pertama pada anak. Orang tua ikut berperan dalam menentukan arah pemilihan karir anak remajanya, walaupun pada akhirnya keberhasilan dalam menjalankan karir sangat tergantung pada kecakapan dan keprofesionalan siswa yang menjalaninya.
Kelompok sekunder didasarkan atas kepentingan-kepentingan tertentu yang mewarnai aktivitas, gerak-gerik kelompok. Keberadaan dan aktivitas kelompok sekunder ini tidak tergantung pada hubungan pribadi secara akrab meskipun hubungan antar anggota tetap akrab. Kelompok ini memiliki keinginan untuk mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat secara bersama-sama.
Teori Ginzberg (dalam Santoadi, 2008), titik pijak pilihan karier adalah teori perkembangan. Kesimpulan teori Ginzberg adalah pilihan karier merupakan suatu proses perkembangan yang pada umumnya meliputi sekian tahun dalam kehidupan manusia (6-10 tahun), dimulai ketika berusia 11 tahun dan berakhir pada usia 17 tahun atau ketika memasuki masa dewasa muda. Ginzberg membedakan tiga periode atau tahap proses pemilihan:
a. Periode Fantasi (usia kanak-kanak, sebelum 11 tahun): Anak melakukan aktivitas yang berorientasi murni pada permainan-permainan. Menjelang akhir fase ini, permainan cenderung berorientasi pada kerja.
b. Periode Tentatif (usia dewasa awal, 11-17 tahun): Proses
transisi ditandai dengan pengenalan pada tuntutan kerja secara bertahap, pengenalan pada minat, kemampuan, imbalan yang diperoleh dari pekerjaan, nilai-nilai, dan kesadaran akan perspektif waktu (kesadaran akan masa depan).
c. Periode Realistik (usia dewasa tengah, 17 tahun-dewasa muda): Integrasi berbagai kemampuan dan minat mengalami perkembangan nilai-nilai lebih mendalam, kristalisasi pilihan karier, spesifikasi pilihan karier.
Secara ringkas pandangan Ginzberg dirumuskan sebagai berikut:
a. Pilihan karier adalah proses perkembangan dimana pilihan karier bukan merupakan pilihan sederhana tetapi serangkaian keputusan yang dibuat melewati tahun-tahun sepanjang hidup. Setiap tahap dalam proses memiliki kaitan yang sangat berarti dengan tahap sebelumnya.
b. Proses perkembangan tidak dapat diputar ulang-mundur
kembali. Keputusan karier terikat dengan perkembangan individu dan usia secara kronologis.
c. Proses pemilihan karier akan berakhir dengan penyesuaian
pada berbagai faktor baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi karier.