• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. BIMBINGAN ROHANI DAN KEMATANGAN EMOSI

B. Bimbingan Rohani

2. Faktor yang Mempengaruhi Bimbingan Rohani

Perlu disadari bahwa keberhasilan dalam bimbingan rohani sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu Tuhan, terbimbing dan pembimbing, metode pendekatan serta beberapa hal lain yang mendukung keberhasilan dalam bimbingan rohani, seperti halnya: relasi antara terbimbing dan pembimbing berperanan penting bagi

relasi terbimbing dengan Tuhan demikian juga sebaliknya, serta lingkungan yang kondusif (Barry dan Connoly, 1982: 31). Beberapa faktor yang mempengaruhi bimbingan rohani akan diuraikan di bawah ini:

a. Pembimbing Rohani

1) Pengertian Pembimbing Rohani

Pembimbing Rohani adalah orang yang mendampingi orang yang dibimbing dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup rohaninya. Ia menghantar dan membantu orang tersebut agar semakin mampu berelasi dengan Allah. Tugasnya adalah menciptakan kemungkinan dan situasi agar relasi tersebut berjalan lancar (Darminta, 2006: 17-18).

Seorang pembimbing rohani harus memenuhi syarat tertentu agar dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Secara khusus, pembimbing rohani para suster yunior harus sesuai dengan kebutuhan para suster yunior.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi menyangkut aspek spiritualitas, kepribadian, pengetahuan dan ketrampilan sebagai pembimbing rohani.

Menurut Darminta (2006: 68-71), ada beberapa aspek spiritualitas pembimbing rohani, yaitu:

a) Relasi pribadi dengan Yesus Kristus

Pembimbing rohani harus mempunyai relasi dengan Yesus Kristus dalam melaksanakan tugasnya. Dengan mempunyai relasi dengan Yesus Kristus, hidupnya juga akan berpusat kepada Allah. Dengan demikian seorang pembimbing diharapkan dapat menjadi penopang orang yang dibimbing dan tetap mampu memusatkan hidupnya kepada Allah.

b) Hidup dalam bimbingan Roh

Pembimbing harus menyadari bahwa pembimbing utama adalah Roh Kudus. Pembimbing adalah “alat” Roh Kudus dalam mendampingi orang yang dibimbing. Jelas seorang pembimbing rohani haruslah seorang yang cukup mempunyai pengalaman dalam penghayatan konkrit iman, dekat bergaul dengan Allah, kenal dengan gerakan Roh dan seorang pendoa sejati. Untuk itu pembimbing rohani perlu

mengadakan pembedaan roh atau discernment untuk melihat dorongan dalam

proses bimbingan rohani.

c) Pribadi yang beriman dewasa

Seorang pembimbing rohani haruslah orang yang mempunyai iman yang kuat dan dalam. Artinya, ia mampu mengambil tindakan berdasarkan pertimbangan imannya, ia mampu menyerahkan diri dan memercayakan diri kepada Allah, sekaligus mampu menyerahkan dan memercayakan orang yang dibimbingnya kepada bimbingan Roh. Dia menjadi orang yang diharapkan mempermudah pertemuan orang yang dibimbing dengan Allah dalam hidupnya yang konkrit sehari-hari.

d) Bersemangat mendalami dan menghidupi firman Allah dalam Kitab Suci

Seorang pembimbing rohani dapat mengetahui kehendak Allah, jika ia setia merenungkan firman dalam Kitab Suci. Sabda itu juga merupakan sumber inspirasi dan kekuatan baginya untuk mendampingi orang yang dibimbingnya.

e) Bersemangat doa

Seorang pembimbing rohani adalah seorang pendoa. Artinya, ia adalah orang yang bergaul akrab dengan Allah, kenal akan gerakan-gerakan roh, mempunyai pengalaman dan penegasan rohani. Lebih lanjut dapat dikatakan dia akrab dengan

hidup manusia, penuh pengertian dan pemahamam atas lika-liku dan kesukaran dalam hidup rohani.

Beberapa aspek spiritualitas di atas sangat penting dan merupakan dasar dalam bimbingan rohani. Keberhasilan bimbingan rohani sangat ditentukan oleh keadaan spiritualitas pembimbing. Bimbingan rohani hanya dapat berlangsung dengan baik kalau pembimbing mempunyai kepercayaan yang kuat kepada penyelenggaraan Allah. Spiritualitas pembimbing akan tampak dalam proses bimbingan rohani, apakah pembimbing mengandalkan Allah atau mengandalkan dirinya.

2) Kepribadian Pembimbing Rohani

Kepribadian adalah sifat-sifat, sikap-sikap yang tercermin dalam tindak-tanduk seseorang. Seorang pembimbing rohani diharapkan mempunyai kepribadian yang sesuai dengan tugas dan fungsinya sebagai pembimbing rohani. Aspek ini juga menentukan keberhasilan bimbingan rohani. Beberapa aspek kepribadian pembimbing rohani yang diharapkan adalah:

a) Pribadi yang dewasa

Seorang disebut dewasa bila mencapai kematangan rohani dan emosinya. Menurut Mardi Prasetya (1992: 100-104), pribadi yang dewasa adalah: ia mampu menerima kenyataan, menerima dan menghayati apa yang bernilai, mengarahkan daya-daya hidupnya untuk menghayati nilai-nilai yang dipeluk dan diwartakan dalam hidup, tidak cenderung mengurbankan nilai dan prinsip demi suatu pragmatisme, memiliki cinta yang tidak egois dan bersikap realistis, mampu mempercayai orang lain dan memiliki kepercayaan serta keyakinan pada diri

sendiri. Ia telah mengenal dirinya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, ia tidak lagi bersikap kekanak-kanakan.

b) Kesesuaian antara perkataan dan tindakan

Seorang pembimbing rohani harus mampu menyesuaikan perkataan dan tindakannya. Artinya apa yang dikatakan juga terwujud dalam tingkah lakunya sehari-hari. Misalnya seorang pembimbing memberi nasihat kepada orang yang dibimbingnya agar bersikap sabar dalam meningkatkan hidup doa, diandaikan bahwa dia sendiri telah menghidupi dan mempraktekkan kesabaran dan hidup doa dalam kehidupannya sehari-hari.

c) Sikap Sabar

Seorang pembimbing rohani harus mempunyai sikap sabar. Dalam proses bimbingan rohani tidak selalu menyenangkan tetapi bisa sangat membosankan dan menyakitkan. Ada kalanya orang yang dibimbing memberontak terhadap Allah, terhadap dirinya, orang lain atau lingkungannya. Orang itu mungkin merasa kesepian dan kekosongan dalam hidupnya. Untuk itu pembimbing perlu memiliki sikap sabar dalam mengatasi berbagai permasalahan dalam melaksanakan bimbingan rohani.

d) Sikap rendah hati dan optimis

Bimbingan rohani tidak selalu berhasil sesuai dengan rencana, adakalanya gagal dan orang yang dibimbing tidak pernah kembali lagi. Pembimbing merasa bahwa orang yang dibimbing tidak menemukan apa yang menjadi harapannya dan tidak mengalami perubahan dalam hidupnya. Keadaan seperti itu menuntut sikap rendah hati dari para pembimbing. Sikap rendah hati itu juga diperlukan apabila dirasa bimbingan berhasil. Demikian juga dalam menghadapi orang yang menghadapi kegagalan. Seorang pembimbing harus menunjukkan sikap optimis

segingga orang yang dibimbing merasa optimis. Seorang pembimbing yang pesimis akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan orang yang dibimbingnya. Kita perlu rendah hati dan optimis bahwa keberhasilan dalam membimbing itu adalah semat-mata adalah bantuan dan rahmat Allah. Pembimbing adalah “alat” Allah. Maka keberhasilan pembimbing adalah keberhasilan Allah.

e) Sikap percaya diri dan kejujuran

Seorang pembimbing rohani harus memiliki sikap kepercayaan diri dan kejujuran. Percaya diri dan kejujuran yang dimiliki orang pembimbing akan menimbulkan sikap percaya diri pada orang yang dibimbing serta mampu mengungkapkan diri yang sesungguhnya tanpa menutup-nutupinya.

3) Pengetahuan dan Ketrampilan Pembimbing Rohani

Seorang pembimbing rohani rohani harus mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. Pengetahuan dan ketrampilan yang memadai akan memudahkan pembimbing untuk mendayagunakan bimbingan rohani. Pengetahuan ini harus meliputi beberapa bidang yang menyangkut hidup rohani (Verbeek, 1981: 116-117). Orang yang kurang pengetahuannya dan tidak trampil akan mengalami kesulitan bila menjadi seorang pembimbing rohani. Beberapa pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh seorang pembimbing rohani adalah:

a) Pengetahuan tentang bimbingan rohani

Pembimbing rohani harus mempunyai pengetahuan yang memadai tentang bimbingan rohani, tidak harus sangat “ahli” tetapi mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi bimbingan rohani. Keberhasilan bimbingan rohani juga dipengaruhi dan ditentukan oleh pengetahuan pembimbing tentang bimbingan rohani.

b) Pengetahuan tentang kematangan rohani dan emosi

Kematangan rohani dan emosi merupakan faktor pokok yang digeluti dalam bimbingan rohani. Maka pembimbing rohani harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang kematangan rohani dan emosi. Orang yang kurang memahami proses kematangan rohani dan emosi tidak cocok untuk menjadi pembimbing rohani. Pengetahuan yang minim tentang proses kematangan rohani dan emosi akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan hidup rohani orang yang dibimbing. c) Pengetahuan tentang biarawan-biarawati muda

Banyak pembimbing yang tidak mengetahui secara pasti persoalan yang dihadapi oleh para biarawan-biarawati muda, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman pembimbing tentang realitas yang dihadapi oleh para biarawan-biarawati muda, maka kita perlu mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang realitas hidup yang dihadapi oleh para biarawan-biarawati muda. Pengetahuan yang memadai itu akan membantu pembimbing untuk mengetahui kebutuhan, permasalahan, harapan-harapan para biarawan-biarawati muda. Setelah pembimbing mengetahui kebutuhan dan permasalahan yang sesungguhnya, pembimbing bisa memberikan bantuan yang tepat.

d) Ketrampilan dalam praktek bimbingan rohani

Pengetahuan tentang bimbingan rohani belum pasti menjamin keberhasilan dalam memberikan bimbingan rohani. Pengetahuan tentang bimbingan rohani perlu diimbangi dengan ketrampilan dalam praktek bimbingan rohani seperti ketrampilan berwawancara rohani, ketrampilan memilih tempat dan menentukan waktu untuk bimbingan rohani.

b. Bimbingan Rohani

Keberhasilan dalam bimbingan rohani sangat ditentukan oleh beberapa faktor yang telah disebutkan di atas, serta beberapa hal lain yang mendukung keberhasilan dalam bimbingan rohani, seperti halnya.

1) Metode Bimbingan Rohani

Bimbingan rohani terjadi melalui kehadiran personal antara dua pribadi. Kehadiran personal ini terjadi melalui dialog atau wawancara. Wawancara ini mempunyai ciri khasnya, yaitu wawancara dalam Roh, atau yang biasa disebut wawancara rohani.

Wawancara rohani berarti tanya jawab antara pembimbing dengan orang yang dibimbing dalam rangka bimbingan rohani. Fungsi wawancara rohani adalah untuk menggali dan mengangkat pengalaman orang yang dibimbing kemudian merefleksikan dari sudut pandang kristiani.Tujuannya adalah untuk menghantar orang yang dibimbing masuk ke dalam pengalaman rohaninya dan kemudian mengambil langkah-langkah dan tindakan baru untuk memperbaiki dan meningkatkan kehidupannya (Darminta, 2006: 39-43).

2) Tempat Bimbingan Rohani

Tempat merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam kegiatan bimbingan rohani. Situasi tempat akan mempengaruhi suasana bimbingan rohani. Dengan tersedianya tempat yang baik, niscaya akan mendukung kelancaran komunikasi antara pembimbing dengan orang yang dibimbing.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penetapan tempat:

a) Tempat harus diatur sedemikian rupa sehingga orang yang dibimbing merasa nyaman dan aman. Suasana tempat yang teratur dan rapi membuat orang kerasan, sedangkan tempat yang kotor akan membuat orang terganggu.

b) Tempat harus memungkinkan pembimbing dan orang yang dibimbing untuk berkomunikasi dengan bebas. Hal ini berarti bahwa hasil pembicaraan mereka tidak boleh didengar oleh orang lain. Maka sebagai contoh, bimbingan rohani tidak bijaksana dilakukan di dekat orang lain karena hasil pembicaraan akan didengarkan.

c) Tempat harus memungkinkan orang yang dibimbing dapat mengungkapkan emosinya dengan bebas. Contohnya orang yang dibimbing dapat menangis dengan bebas tanpa kuatir disaksikan oleh orang banyak.

d) Tempat harus diusahakan agar tidak menimbulkan kecurigaan orang lain.

Misalnya bimbingan rohani tidak bijaksana dilakukan di kamar yang tertutup rapat atau di kamar tidur. Khususnya jika pembimbing lawan jenis, perlu dihindari tempat-tempat yang bisa mengundang kecurigaan orang lain.

Di atas telah diungkapkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan tempat bimbingan rohani. Tentu saja masih banyak hal yang perlu diperhatikan di samping hal yang telah disebutkan di atas. Untuk itu pembimbing perlu bijaksana dalam menentukan tempat bimbingan rohani.

c. Waktu Bimbingan Rohani

Sebelum melaksanakan bimbingan rohani, hendaknya pembimbing dan orang yang dibimbing menentukan kapan waktu bimbingan rohani diadakan. Pada prinsipnya, bimbingan rohani dapat dilaksanakan setiap saat. Namun pemilihan waktu yang tepat tentu saja berpengaruh terhadap proses bimbingan rohani. Penetapan waktu bimbingan rohani secara tepat dapat membantu proses bimbingan rohani. Untuk itu pembimbing dan orang yang dibimbing perlu mencari dan menentukan waktu yang tepat untuk mengadakan bimbingan rohani.

Selain pengetahuan dan ketrampilan yang telah disebutkan di atas, seorang pembimbing harus mempunyai:

1) Pengetahuan yang cukup mengenai kelemahan-kelemahan manusia yang

menjadi penghambat bagi karya Roh, pembimbing harus tahu tentang cacat cela dan keutamaan dan apa yang menjadi akibatnya dsb.

2) Kemampuan membedakan roh-roh secara praktis, supaya lebih mudah dapat

menolong orang yang dibimbingnya di jalan yang penting itu.

3) Pengetahuan arti ketiga tahap hidup rohani (permulaan, kemajuan,

kesempurnaan), apa yang menjadi tanda dan gejala khusus untuk tahap masing-masing.

4) Pengetahuaan cukup tentang doa dan tingkat-tingkatnya. Karena lebih-lebih di situ pembimbing tidak boleh mengganti Allah yang membimbing orang dengan Roh-Nya.

Tidak jarang bimbingan rohani mengalami kemacetan karena faktor-faktor yang disebut di atas tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dari pihak yunior, bimbingan rohani dirasa tidak penting/perlu, banyak kegiatan yang menyita banyak waktu, merasa terpaksa karena diwajibkan, kurang adanya keterbukaan dan konsisten, kurang sabar dalam berproses, individualisme, egoisme (sebagai akibat dari arus globalisasi), permasalahan luka-luka batin yang menghambat hidup rohani dan emosi, sulit untuk masuk ke dalam diri, sehingga mereka kurang mampu melihat kehadiran Allah dalam hidup mereka.

Permasalahan yang lain adalah para suster yunior yang masuk Kongregasi SSpS adalah remaja yang sangat dekat dengan dunia teknologi. Mereka mudah dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Budaya instan, budaya individualisme, egoisme sangat kuat mempengaruhi mereka. Hal ini perlu juga menjadi

pertimbangan dalam memberi bimbingan rohani. Bimbingan rohani perlu melihat situasi awal, latar belakang para yunior dan perkembangan zaman.

Dari pihak pembimbing, adanya tugas yang rangkap sehingga mengakibatkan bimbingan rohani merupakan tugas sampingan, pembimbing kurang mengenal secara mendalam dengan yang dibimbing, pembimbing tidak profesional terutama untuk mendampingi pribadi-pribadi yang mempunyai kesulitan dan hambatan psikologis, traumatis dll.

Dokumen terkait