BAB V. PENUTUP
B. Saran
Para suster yunior merupakan generasi penerus, tumpuan, dan harapan Kongregasi SSpS, sehingga mereka perlu memiliki kematangan rohani dan emosi yang integral serta memiliki ke siap sediaan diutus kemana saja sebagai seorang misionaris sejati. Untuk itu penulis akan memberikan beberapa saran berikut ini yang dapat dijadikan bahan pertimbangan:
1. Melihat realitas yang ada dan berdasarkan hasil Skala Likert yang telah diisi oleh para suster yunior, banyak suster yunior kadang-kadang malas melakukan bimbingan karena pembimbing tidak menarik, enggan untuk bimbingan karena pembimbing membesar-besarkan kesalahan, dalam bimbingan merasa takut karena pembimbing terlalu kritis, para suster yunior juga sering mengungkapkan bahwa lebih berminat bimbingan karena pembimbingnya kompeten, dan kadang-kadang kecewa karena proses bimbingannya tidak terarah. Untuk itu penulis mengusulkan agar Tim Pimpinan Kongregasi SSpS Provinsi Jawa mengusahakan Piko yang mempunyai otoritas kekuasaan tidak sekaligus menjadi pembimbing rohani, dari pengalaman selama ini, seandainya para suster yunior mempunyai konflik dengan Piko, secara otomatis dalam melaksanakan wawanhati atau bimbingan rohani suasana akan tidak mengenakkan bagi para suster yunior karena mereka di bawah wewenang Piko. Tim Pimpinan Kongregasi hendaknya juga memberikan kebebasan bagi para suster yunior untuk menentukan dan memilih sendiri pembimbing rohani bagi dirinya, bukan ditentukan oleh Tim Pimpinan Kongregasi SSpS Provinsi Jawa, karena pembimbing rohani adalah orang yang mendampingi orang yang dibimbing dalam pertumbuhan dan perkembangan rohaninya, ia menghantar dan membantu orang tersebut agar semakin mampu berelasi dengan Tuhan. Pembimbing tidak mewakili Roh Kudus, tetapi pembimbing berusaha mendidik orang yang didampingi untuk melihat ke mana Roh Kudus Kudus mau membimbing kita. Maka pembimbing tidak pernah boleh memaksakan gagasan atau cita-citanya sendiri pada orang yang dibimbingnya, melainkan pembimbing harus menciptakan kebebasan sejati agar Roh semakin jelas didengar baik olehnya sendiri maupun oleh orang yang dibimbingnya.
2. Wawanhati atau bimbingan rohani merupakan salah satu faktor yang penting dan utama yang perlu dikembangkan dan diusahakan dalam pembinaan hidup religius para suster yunior dalam proses mencapai kematangan rohani dan emosi. Untuk itu Tim Pimpinan Kongregasi SSpS Provinsi Jawa mengusahakan untuk mengundang tenaga ahli atau Pembimbing Rohani yang berkompeten guna
memberi pelatihan atau work-shop bagi para pemimpin komunitas dan
pendamping yunior baik distrik dan provinsi, sehingga mampu memberikan bimbingan rohani kepada para suster yunior secara optimal.
3. Untuk meningkatkan mutu pendampingan bagi para suster yunior SSpS Provinsi Jawa, hendaknya diusahakan sungguh-sungguh untuk membentuk TeamWork Formator yang melibatkan semua pemimpin komunitas, para pendamping yunior distrik, dan pendamping yunior provinsi. Hal ini sangat penting mengingat peran para pemimpin komunitas, para pendamping yunior distrik dan pendamping yunior provinsi dalam proses pendampingan para suster yunior SSpS Provinsi Jawa. Visi dan misi formasi, tujuan serta program pendampingan bagi para suster yunior hendaknya dibicarakan bersama dan dalam jangka waktu tertentu dievaluasi bersama guna membantu perkembangan hidup rohani para suster yunior.
4. Para suster yunior SSpS Provinsi Jawa perlu menyadari dan melaksanakan bimbingan rohani yang diberikan oleh pemimpin komunitas dengan kesadaran yang penuh bukan sebagai paksaan dan kewajiban karena hal tersebut berperanan bagi pembentukan kematangan rohani dan emosi.
5. Para suster yunior SSpS Provinsi Jawa hendaknya melatih dan mengembangkan kematangan emosi sehingga semakin bersikap dewasa dalam tingkah laku, tutur
kata, dan semakin mampu memberikan kesaksian hidup dalam hidup sehari-hari di dalam komunitas, di tempat karya, dan di lingkungan di mana mereka berada.
DAFTAR PUSTAKA
Abdon Bisei. (2004). Spiritualitas Awam, (Refleksi atas keterlibatan awam dalam tata dunia dan partisipasinya dalam hidup menggereja) dalam Umat Baru no. 217. XXXVII, Juli-Agustus.
Albin, Rochelle. S. (2010). Emosi. Yogyakarta: Kanisius.
Ari Ginanjar Agustian. (2001). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta: Penerbit Arga.
Astuti, Christina. (2010). Kematangan Emosi Tiga Suster Yunior Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) Yang Sedang Menjalani Studi Tahun 2009/2010. (Skripsi), Yogyakarta, USD.
Barry, William dan Connoly, William. (1982). The Practice of Spiritual Direction. USA: The Seabury Press.
Bogor, Lumbanraja. (1994). Bimbingan Rohani Bagi Remaja Katolik Sebagai Proses Menuju Kedewasaan Hidup Rohani Di SMA Katolik Di Yogyakarta. (Skripsi), Yogyakarta, USD.
Burnham, Sue. (1990). Emosi dalam Kehidupan. Jakarta: Penerbit Gunung Mulia. Cencini, Amadeo. (2008). Kematangan Rohani dan Emosi (terjemahan) Medan:
Penerbit Bina Medan Perintis.
Darminta, J. (1993). Latihan Rohani. St. Ignasius Loyola: Seri
Ignasian5.Yogyakarta: Kanisius.
____________. (1995). Mistik, Devosi, & Hidup Rohani: Seri Spiritualitas Kristen.Yogyakarta: Kanisius.
____________. (1997a). Sabda di Bukit: Seri Spiritualitas Kristen.Yogyakarta: Kanisius.
____________. (1997b). Doa dan Pengolahan Hidup: Seri Spiritualitas Kristen. Yogyakarta: Kanisius.
____________. (1997c). Yesus Mendidik Para Murid: Seri Spiritualitas Kristen. Yogyakarta: Kanisius.
____________. (2003). Mencitrakan Hidup Religius. Komisi Pemimpin Umum
Tarekat Relegius Awam: Peziarahan Hidup 5. Yogyakarta: Kanisius. ____________. (2006a). Penegasan Rohani. Yogyakarta: Kanisius.
____________. (2006b). Praksis Bimbingan Rohani. Yogyakarta: Kanisius.
____________.(2006c). Pendidikan Iman & Nilai bagi Generasi Muda.
Yogyakarta: Kanisius.
Gardner, Howard. (2003). Multiple Intelligences, Kecerdasan Majemuk teori dalam Praktek. (terjemahan) Batam, Interaksara.
Goleman, Daniel. (1997). Emotional Intelligence, Kecerdasan Emosional. (terjemahan) Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
______________. (2007). Social Intelligence. (terjemahan) Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hasan Iqbal. (2002). Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Bandung: Ghalia.
Heuken, Adolf. (2005). Ensiklopedi Gereja Jilid VI-N-Ph. Jakarta: Cipta Loka Caraka.
Harjawiyata, Fr., OCSO. “Doa dan Iman Dalam Bimbingan Rohani”, Rohani XXXIV, 9: 138-141.
Ismiati. (2008). Kharisma Misioner Kongregasi SSpS Untuk Pendampingan
Relegiositas Anak-anak Jalanan di Rumah Singgah Sekar Surabaya, (Skripsi), Yogyakarta, USD.
Jarot Wijanarko. (2005). Mendidik Anak untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional dan Spiritual. Jakarta: PT. Gramedia PustakaUtama.
Kartosiswoyo. (2006). Kitab Hukum Kanonik (Edisi Resmi Bahasa Indonesia). Jakarta: PenerbitObor Kerjasama dengan Sekretariat KWI.
Konsili Vatikan II. (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. (R. Hardawiyana, Penerjemah). Bogor: Percetakan Grafika Mardi Yuana. (Cetakan ke 9, revisi sampul dan tata letak isi).
Konstitusi dan Direktorium Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus, Kapitel Jendral IX 1984, Roma-Itali.
Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus.(1984). Konstitusi dan Direktorium, Kapitel Jendral Kesembilan 21 Mei-19 Juli 1984, Roma.
Kongregasi Misi Abdi Roh Kudus. Manuale untuk Pembinaan, Admistration
Jendral, Casa Generalia, Via Casia, 645, 00189 Rome Italy.
Lake,Tony. (1985). Mengatasi Gangguan Emosi. (Diterjemahkan oleh: Ediati Kamil). Jakarta: Penerbit ARCAN.
Mardi Prasetyo. F. (1992). Psikologi Hidup Rohani 2. Yogyakarta: Kanisius.
______________. (2002). Unsur-unsur Hakiki dalam Pembinaan 2. Yogyakarta:
Kanisius.
Rollo, May. (1997). Seni Konseling.Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar.
McHugh, Peter. (1978). Spiritualitas Bapa Pendiri dan Kongregasi Kita. Arnoldus: Ende.
Moleong, L. J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nouwen, Henri. J. M. (1985). Menggapai Kematangan Hidup Rohani. Yogyakarta: Kanisius, Ende: Nusa Indah.
Powell, John. (1992). 10 Laku Hidup Bahagia. Yogyakarta: Kanisius.
Rehbien, Carolina. (2000). Arah Misioner SSpS dalam Dunia Dewasa ini. Komentar Kapitel Jendral X, Roma.
Riduwan. (2010). Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta
Saphiro, E, Lawrence. (1999). Mengajarkan Emotinal Entellegence pada Anak. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Shelton, Charles. M. (1988). Menuju Kedewasaan Kristen. Yogyakarta: Kanisius. Soenarya, A. (1984). Bimbingan Hidup dari hari ke hari. Ende: Nusa Indah. Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV. Alvabeta.
Suharsimi Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (edisi Revisi V), Jakarta: PT. Asdi Mahasatya.
Sumadi Suryabrata. (2008). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suparno, Paul. (2004). Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius
Sutrisno Hadi. (2004). Metodologi Research. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.(2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Verbeek, C. (1981). Dasar- Dasar Hidup Religius Hidup Dalam Roh: Seri Hidup
Dalam Roh 3. Yogyakarta: Kanisius.
Verhoeven, Th. (1969). Kamus Latin Indonesia. Flores: Arnoldus Ende. Wedge, Florence. (1989). Mencegah Gangguan Emosi. Bogor: Mardi Yuana. Wijokongko, Martin. (1997). Keajaiban Kekuatan Emosi. Yogyakarta: Kanisius.
[1] Pengantar
Para suster yunior yang terkasih, pada kesempatan ini saya memohon kesediaan para suster untuk mengisi kuesioner ini dengan sejujur-jujurnya dan penuh keterbukaan sesuai dengan pengalaman para suster sendiri. Semua informasi dari para suster akan tetap dirahasiakan. Oleh karena itu demi kerahasiaan jawaban, nama tidak perlu dituliskan pada lembar kuesioner. Untuk semua bantuan dan kerjasamanya dari para suster, saya mengucapkan terimakasih.
Petunjuk Pengisian
a. Bacalah pernyataan-pernyataan beserta jawabannya dengan benar dan teliti.
b. Jawablah pernyataan-pernyataan tersebut dengan memberi tanda cek (√ )
pada kolom yang tersedia sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, perasaan atau pilihan anda.
Pilihan jawaban adalah sebagai berikut:
SL : Selalu SR : Sering KD : Kadang-kadang
Contohnya:
NO PERNYATAAN SL SR KD
1 Saya senang melaksanakan bimbingan √
[2]
NO PERNYATAAN SL SR KD
1 Saya melihat suara pembimbing merupakan suara Tuhan.
2 Saya dituntun untuk menemukan Tuhan dalam panggilan
keseharian.
3 Saya menemukan kehendak Tuhan dalam pengalaman
yang menyakitkan sekalipun.
4 Kehendak Tuhan bagi saya yang masih samar-samar
menjadi jelas dalam bimbingan.
5 Sebelum menemukan kehendak Tuhan dalam pengalaman
tertentu hati saya belum tenteram.
6 Saya bahagia misteri Tuhan yang tak terpahami dapat saya cerna dalam bimbingan.
7 Saya semakin mengagungkan Tuhan setelah bimbingan
rohani.
8 Saya merasa kosong kalau tidak merasakan kehadiran
Tuhan dalam karya saya yang sukses.
9 Saya merasa sulit menemukan Tuhan dalam pembimbing
yang sulit mengampuni kesalahan saya.
10 Ketika hidup rohani saya kering saya sulit menemukan kehadiran Tuhan dalam hidup saya.
11 Saya malas melakukan bimbingan karena pembimbing tidak menarik.
12 Saya tetap bimbingan walau sering ditantang oleh pembimbing.
13 Saya senang karena pembimbing membicarakan masalah pribadi dengan pembimbing .
14 Saya takut cerita semua masalah pada pembimbing. 15 Saya enggan untuk bimbingan karena pembimbing
[3]
16 Bimbingan saya teratur saya mempunyai relasi yang baik dengan pembimbing.
17 Saya senang melaksanakan bimbingan karena pembimbing memiliki hati keibuan.
18 Dalam bimbingan pendapat saya mendapat apresiasi dari pembimbing.
19 Setiap melaksanakan bimbingan saya takut karena pembimbing terlalu kritis.
20 Saya bahagia karena pembimbing memahami pergulatan saya.
21 Saya terbuka dalam bimbingan ada suasana saling percaya. 22 Penerimaan yang hangat dari pembimbing menenangkan
hati saya.
23 Saya mempunyai waktu untuk mencatat hal yang perlu selama bimbingan.
24 Saya antusias melaksanakan bimbingan karena didengarkan.
25 Saya merasa lega setelah bimbingan.
26 Waktu yang terbatas dalam bimbingan membuat saya tergesa-gesa.
27 Pembimbing yang optimis membuat suasana bimbingan bersemangat.
28 Saya menaruh hormat terhadap pembimbing meskipun seusia.
29 Pembimbing mengesampingkan masalah pribadinya dalam bimbingan.
30 Ada suasana doa dalam proses bimbingan.
31 Pembimbing mengarahkan jalannya bimbingan dengan baik.
[4] sebelum memulai.
33 Bahasa non verbal dari pembimbing membantu saya terbuka.
34 Saya senang kalau proses pendampingan sesuai dengan waktu yang ditentukan.
35 Saya senang kalau proses pendampingan berstruktur. 36 Saya kecewa karena proses bimbingan tidak terarah. 37 Saya lebih berminat bimbingan karena pembimbing yang
kompeten.
38 Saya senang karena tempat bimbingan berfariasi.
39 Saya tidak fokus kalau bahan bimbingan tidak terstruktur. 40 Bimbingan yang efektif bagi saya adalah dari pengalaman
pembimbing.
41 Saya lebih suka mengungkapkan diri saya apa adanya. 42 Saya mudah mengekpresikan perasaan saya kepada siapa
saja.
43 Apabila saya marah saya cenderung bereaksi diam, mengurung diri.
44 Saya mudah menerima kekurangan yang ada pada diri saya.
45 Saya berani mengakui kesalahan yang saya buat. 46 Saya mudah terpancing apabila ada sesama yang
menggoda saya.
47 Saya gelisah kalau mempunyai masalah yang belum terselesaikan.
48 Ketika ada masalah saya mencari solusi.
49 Saya mudah tersinggung kalau pendapat saya tidak dihargai.
50 Saya merasa senang karena saya mampu mengerjakan tugas yang diberikan kepada saya.
[5]
51 Saya berusaha tidak berkecil hati apabila ada sesama yang mengejek saya.
52 Saya menerima emosi saya apa adanya. 53 Saya tertarik dengan hal-hal baru.
54 Kalau diberi tanggungjawab saya takut gagal.
55 Saya berusaha untuk mensyukuri setiap peristiwa yang saya alami.
56 Saya melihat kegagalan sebagai kesuksesan yang tertunda. 57 Saya berusaha menjalankan tugas pada waktunya.
58 Saya adalah orang yang suka mengambil inisiatif. 59 Saya lebih suka berfikir positif tentang orang lain.
60 Saya sensitif terhadap perasaan teman waktu memberikan evaluasi.
61 Saya menyediakan diri untuk mendengarkan sesama yang punya masalah .
62 Saya merasa bosan mendengar sharing sesama yang tidak ada ujungnya.
63 Saya mudah terharu oleh perasaan orang lain.
64 Teman saya marah kalau saya memotong pembicaraannya. 65 Saya sulit untuk menyakinkan pendapat saya kalau
dikritik.
66 Saya adalah pribadi yang menyenangkan.
67 Supaya disukai saya melakukan apa saja yang diinginkan oleh teman.
68 Saya senang dengan sesama yang saling mendengarkan satu dengan yang lain.
69 Saya terbuka dengan sesama yang dekat dengan saya. 70 Saya sulit menyimpan rahasia sesama saya.