BAB II. LANDASAN TEORI
B. Citra Tubuh
3. Faktor yang mempengaruhi citra tubuh
Salbiah (2003) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi citra tubuh seseorang antara lain :
a. Operasi, seperti bekas luka pada operasi yang akan mengubah
gambaran diri seseorang
b. Kegagalan fungsi tubuh, misalnya tuli, buta, dan sebagainya yang
dapat mengakibatkan seseorang merasa asing dengan tubuhnya sendiri
c. Waham yang berkaitan dengan bentuk tubuh, misalnya pandangan
tertentu terhadap tubuh
d. Perubahan pada tubuh, seiringnya bertambahnya usia maka, kondisi
tubuh seseorang juga akan berubah. Ada berbagai respon baik negatif maupun positif ketika seseorang mengalami perubahan bentuk tubuh.
15
Ketidakpuasan dapat terjadi apabila individu merasa jauh dari bentuk idealnya.
e. Umpan balik interpersonal yang negatif, yaitu adanya makian atau
celaan yang membuat seeorang menarik diri terhadap lingkungan f. Standar sosial budaya. Latar belakang budaya yang berbeda-beda pada
setiap orang mampu mempengaruhi gambaran diri individu, seperti perasaan minder ketika bertemu orang lain. Misalnya seperti pada budaya Barat yang sangat menekankan tubuh yang langsing sebagai tubuh yang ideal (Anggardini & Anam, 2008). Menurut Sukamto (dalam Cahyaningtyas, 2009) bahwa citra tubuh ideal di Indonesia cenderung mengadopsi citra tubuh di Negara Barat.
Sedangkan menurut Schonfeld (dalam Purwaningrum, 2008) faktor yang mempengaruhi citra tubuh antara lain:
a. Reaksi orang lain. Manusia selalu memiliki keinginnan untuk dapat
diterima oleh orang lain. Dirinya akan memperhatikan pendapat atau reaksi yang dikemukakan oleh lingkungan terutama mengenai bentuk fisik.
b. Perbandingan dengan orang lain atau perbandingan dengan cultural idea.
Seorang perempuan akan lebih peka terhadap penampilan diri dan selalu memiliki keinginnan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. c. Identifikasi terhadap orang lain. Beberapa orang merasa perlu untuk
mengubah dirinya agar serupa dengan atau mendekati idola yang dianut agar merasa lebih baik dan bisa menerima keadaan fisiknya sendiri.
Berdasarkan faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh antara lain:
1. Faktor sosial; di setiap lingkungan memiliki standard tertentu dalam menentukan tubuh yang dirasa ideal
2. Reaksi atau umpan balik orang lain; terjadi karena seseorang akan selalu memperhatikan pendapat orang lain
3. Identifikasi terhadap orang lain; terjadi bila seseorang berupaya untuk mengubah dirinya agar serupa dengan atau mendekati idolanya 4. Pemahaman yang dipegang tentang tubuh; keinginan terhadap bentuk
tubuhnya sehingga menjadi suatu pemahaman mengenai bentuk tubuhnya 5. Kegagalan fisik atau fungsi tubuh; akan mempengaruhi apabila ada
bagian tubuh yang kurang atau tidak berfungsi misalnya terjadi amputasi pada kaki
4. Jenis Citra Tubuh
Berdasarkan National Eating Disorders Association (2005), citra tubuh terbagi menjadi dua jenis yaitu positif dan negatif. Citra tubuh positif memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Persepsi yang benar mengenai bentuk tubuh, segala macam bagian
tubuh yang dilihat adalah benar adanya;
b. Menghargai dan bangga pada bentuk alami tubuh dan mengerti bahwa
penampilan fisik seseorang menunjukkan karakter serta berharganya seseorang tersebut;
17
d. Merasa bangga dan menerima tubuhnya yang unik serta menolak
beberapa alasan yang tidak masuk akal mengenai ketakutan terhadap makanan, berat badan, dan kalori.
Sedangkan jenis citra tubuh yang negatif memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Distorsi persepsi mengenai bentuk, merasa tidak menyukai bagian dari keseluruhan tubuh yang sebenarnya;
b. Merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya sendiri;
c. Merasa cemas dan malu dengan tubuhnya;
d. Merasa bahwa tubuh atau badan orang lain itu menarik dan tubuhnya
sendiri, merupakan suatu bentuk kesalahan bentuk diri.
Dengan adanya citra tubuh yang negatif, seseorang bisa menjadi tidak puas akan bentuk tubuhnya sendiri. Menurut Hadisurya (dalam Cahyaningtyas, 2009) ketidakpuasan bentuk tubuh termasuk dalam citra tubuh yang negatif, yaitu ketidakpuasan pada bentuk-bentuk khusus dari tubuhnya atau pada penampilan keseluruhan. Ketidakpuasan tubuh oleh Grogan (1999, h.2) didefinisikan sebagai berikut:
“a person’s negative thoughts and felings about his or her body”
Sedangkan oleh Sumali, Sukamto, dan Mulya (2008) ketidakpuasan pada citra tubuh didefinisikan sebagai suatu bentuk ketidakpuasan terhadap tubuh yang merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungan.
Sehingga dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa ketidakpuasan terhadap citra tubuh adalah segala pikiran maupun persepsi negatif, dan tingkah laku/sikap yang buruk mengenai keadaan tubuhnya. Ketidakpuasan tersebut disebabkan oleh adanya kesenjangan yang besar antara bentuk tubuh sesungguhnya dengan bentuk tubuh ideal.
Pada umumnya perempuan diharapkan tampil dengan ukuran-ukuran (tubuh) yang diidealkan secara sosial (Abdulah, 2001). Indonesia cenderung mengadopsi citra tubuh negara Barat di mana budaya Barat sangat menekankan tubuh yang langsing sebagai tubuh yang ideal dan makan yang tidak banyak mengandung lemak (Anam & Anggardini, 2008).
Kepercayaan masyarakat ini dapat mempengaruhi kepuasan seseorang terhadap citra tubuhnya. Pengaruh sosial tersebut mampu menguatkan seseorang menjadi merasa terlalu gemuk, padahal sesungguhnya sudah cukup ideal, bahkan dalam beberapa kasus justru terlalu kurus jika dibandingkan dengan badan orang lain (Darvill & Powell, 2001).
Ketidakpuasan mendorong kaum perempuan untuk berlomba-lomba menurunkan berat badan. Banyak cara yang dilakukan perempuan untuk mewujudkan keinginan agar memiliki berat badan yang ideal (Asri & Setiasih, 2004).
19
5. Dampak dari Citra Tubuh
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penilaian seseorang terhadap tubuhnya bisa bersifat positif maupun negatif. Oleh karena itu, dampak dari citra tubuh juga dapat bersifat postif maupun negatif.
a. Dampak Negatif
Perasaan kita mengenai keadaan fisik umumnya sering negatif. Satu sama lain selalu membuat perbandingan dan seseorang tidak pernah merasa baik dengan dirinya sendiri (Simon & Schuster, 1976). Pada umumnya mereka membesar-besarkan kekurangan penampilan fisik, padahal sebenarnya kekurangan tersebut hanya merupakan imajinasi atau memang masalah nyata, tetapi merupakan masalah yang kecil.
Adanya citra tubuh negatif berupa ketidakpuasan tubuh dapat memunculkan dampak-dampak yang negatif pada orang yang mengalaminya (Sumali, Sukamto, & Mulya, 2008). Ada beberapa dampak yang muncul dari citra tubuh yang negatif yaitu gangguan citra tubuh, gangguan makan (eating disorder), dan melakukan diet yang tidak sehat.
i. Gangguan Citra Tubuh
Citra tubuh yang negatif akan mengakibatkan individu mengalami gangguan citra tubuh. Gangguan citra tubuh merupakan suatu fenomena yang bersifat multidimensional, yaitu melibatkan komponen kognitif, tingkah laku, dan persepsi (Thompson dkk,
2002). Powers (dalam Augusta, 2006, h.26) mendefinisikan gangguan citra tubuh sebagai berikut :
”an overestimation of actual size and shape couple with derogatory attitudes toward the misperception”
Berdasarkan definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian bahwa gangguan citra tubuh merupkan pikiran dan perasaan seseorang yang negatif terhadap tubuhnya disertai kesalahan persepsi dan sikap yang buruk.
ii. Gangguan makan (eating disorder)
Gangguan makan memiliki karakteristik pola makan yang terganggu dan cara yang maladaptif dalam mengontrol berat badan (Nevid, Rathus, & Greene, 2005). Jenis dari gangguan makan antara lain anorexia nervosa, bulimia nervosa,dan binge eating disorder.
Anorexia nervosa adalah penyakit yang umumnya diderita oleh kaum perempuan. Orang yang menderita penyakit ini memiliki pandangan yang menyimpang tentang tubuh mereka. Mereka menganggap diri mereka gemuk atau akan menjadi gemuk. Pandangan yang menyimpang ini membuat mereka mengurangi porsi makan mereka. Dari hari ke hari mereka akan makan dengan porsi yang semakin sedikit dan sering ditunjukkan dengan hilangnya berat badan sebanyak 20 hingga 25 persen dari berat badan normal (Darvill & Powell, 2001; Handel, 2003; Hufman & Vernoy, 1997).
21
Anorexia nervosa juga lebih umum terjadi pada wanita muda yang berada dalam dunia tari balet atau dunia model. Anorexia dapat mengakibatkan komplikasi medis yang serius yang dalam kasus ekstrim dapat berakibat fatal. Berkurangnya berat tubuh dapat menimbulkan anemia (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Bulimia nervosa adalah suatu gangguan makan yang memiliki karakteristik makan berlebihan yang berulang diikuti oleh pembangkitan keinginan untuk memuntahkannya. Individu yang menderita bulimia biasanya memiliki berat badan normal, namun, mereka memiliki perhatian yang berlebihan mengenai bentuk tubuh dan berat badan. Penderita bulimia biasanya mencolok tenggorokan mereka untuk menimbulkan perasaan ingin muntah. Kebanyakan berusaha untuk menutupi perlaku mereka (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Binge eating disorder atau sering disebut gangguan makan berlebihan menunjukkan pola makan secara berlebihan berulang kali tetapi tidak mengeluarkan makanan tersebut sesudahnya. Saat ini, orang yang dikenakan diagnosis ini menunjukkan kondisi makan berlebihan setidaknya 2 hari dalam seminggu dalam 3 bulan. Penderita merasa malu bila terlihat saat makan berlebihan dan mersa
bersalah sesudahnya. Binge eating sering diasosiasikan dengan
depresi dan usaha yang gagal dalam menurunkan berat badan sehingga mereka mempertahankannya (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
iii. Diet yang Tidak sehat
Banyak orang yang secara sadar menjalankan diet dengan cara membatasi makan atau berhati-hati dalam memilih jenis makanan (Abdulah, 2001). Ada banyak macam diet, mulai dari diet dengan tujuan kesehatan ataupun untuk penampilan diri. Diet yang dimaksud yaitu diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan sehingga dapat mencapai berat badan yang diinginkan. Jadi diet yaitu perilaku yang ditempuh seseorang untuk memodifikasi jumlah asupan makanan dengan tujuan menurunkan berat badan. Modifikasi ini bisa dalam bentuk pengurangan konsumsi makanan ataupun dengan menggunakan cara lain seperti penggunaan obat pencahar, tablet pengganjal perut, dan sebagainya (Hartantri, 1998).
b. Dampak Positif
Seseorang yang memiliki citra tubuh yang positif akan merasa bahwa tubuh dan penampilannya cantik serta menarik. Walaupun kenyataannya tubuh dan penampilannya kurang menarik, tetapi individu tersebut dapat menerima keadaan fisik yang sesuangguhnya, karena untuk diterima dan memperoleh pengakuan dari lingkungan tidak harus mempunyai tubuh dan penampilan yang menarik. Dengan demikian individu tersebut memiliki kemampuan untuk memilih perilaku yang tepat untuk dirinya (Purwaningrum, 2008).
23