DESKR
P
RIPSI CI
Diaj
PROGRAM
ITRA TU
jukan untu Memperol Prog
Paul N
M STUDI P FAK UNIVERS Y
BUH PAD
Skrip
uk Memenu leh Gelar S gram Studi
Oleh lina Patria NIM : 0591
PSIKOLOG ULTAS PS SITAS SAN YOGYAKA
2011
DA PENA
si
uhi Salah Sa Sarjana Psi
i Psikologi
:
Satyawati 114034
GI JURUSA SIKOLOGI NATA DHA
ARTA 1
ARI TAR
atu Syarat kologi
AN PSIKO I
ARMA
RIAN SEK
i Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh :
Paulina Patria Satyawati NIM : 059114034
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
iv
I am beautiful no matter what they say, Words can’t bring me down, I am beautiful in every single way, Yes….. words can’t bring me down……
- Christina Aguilera-
Perempuan tidaklah harus bertubuh indah
tetapi,
Dia harus punya hati untuk menjadi berarti
v
Karya ini kupersembahkan untuk :
Bapak, ibu, dan adik ku tercinta...
&
vii ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra tubuh penari tarian seksi, melihat dampak citra tubuh yang dimiliki, dan melihat apakah para penari tarian seksi memiliki perilaku tertentu dalam menjaga tubuhnya. Subjek penelitian berjumlah 5 orang, semua perempuan, berusia 19-25 tahun, dan tergabung dalam kelompok penari tarian seksi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5 subjek, ada 2 subjek yang merasa bahwa tubuhnya tidak ideal dan 3 subjek lainnya merasa ideal, tetapi secara umum semua subjek masih merasa memiliki kekurangan pada tubuh yang dimilikinya. Subjek merasa harus tampil cantik karena kecantikan bagi mereka merupakan daya jual sebagai penari. Dengan dimilikinya pandangan demikian, subjek melakukan berbagai macam hal untuk mempertahankan atau menjaga penampilan mereka. Mengenai perilaku yang dilakukan subjek terkait merawat ataupun menjaga penampilan tampak tidak ada perbedaan antara subjek yang merasa dirinya ideal maupun yang tidak ideal. Oleh karena itu, tampak bahwa semua subjek melakukan perawatan pada tubuh mereka.
viii
THE DESCRIPTION OF BODY IMAGE OF SEXY DANCERS
Paulina Patria Satyawati
ABSTRACT
This aims of this study are to describe the body image of sexy dancer, to know the effect of body image itself, and to know whether the sexy dancers have certain behaviors in caring their body. This study is conducted on 5 female subjects, aged 19-25 years old, who are joined in the sexy dancer groups. The data is collected by interview. Based on this study, the writer concludes that from 5 subjects, there are only 2 subjects who feel that their body is not ideal and 3 other subjects feel their body is ideal, but in general all the subjects still less in physically. Moreover, they feel that they must look beautiful because in their opinion the beauty is selling power as a dancer. In this point of view, the subjects do a lot of things to maintain or protect their appearance. There are no differences between the ideal subject and the not ideal subject at their behavior in caring and protecting their appearance. Therefore, all of the subjects give special treatment to their body.
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan yang ada di surga, akhirnya karya tulis ini bisa terselesaikan. Proses di dalam penyelesaian penelitian ini tidaklah mudah, tetapi karena ada bantuan dari berbagai pihak, saya menjadi merasa mampu untuk melaluinya. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati saya ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:
1. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing dalam skripsi, atas nasehat, saran, dan kesabaran dalam proses penulisan skripsi ini, saya mengucapkan banyak terima kasih.
2. Bapak dan ibu tercinta yang telah membesarkan, mendidik dan tak pernah berhenti memberikan doa, kasih sayang, dorongan, motivasi, dukungan materi dan moral serta ketulusan disepanjang hidupku.
3. Adikku yang memberikan semangat serta dukungan walau pelit ☺
4. Mas Iwan buat waktunya.. yang mau diganggu saat di ISI. Terima kasih
buat buku dan segala ceritanya..
5. Desi, Ria, Wurinadya, Maya, Elisa, Maestri, dan Ajeng...terima kasih telah meluangkan waktu demi penelitianku ini.. thank’s juga udah bisa nari sama kalian..
6. sumarJIYanto, saking banyaknya dan sampai lupa apa aja...jadi, makasih buat semuanya yah ☺
7. Nana, Andika, mas Wawan, Niken, Putri, mbak Dika, mbak Nila, Uthe,
mbokdee, Citra, Bagong, mbak Nikma.. terima kasih buat dukungan, waktu, tenaga, cerita, pinjaman buku, semuanya lah.... Makasiih yaaa...
8. semua teman dan saudaraku...terima kasih atas doa-nya.
xi
penulis berterima kasih atas kritik dan saran yang membangun, harapan penulis
semoga penelitian ini dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan untuk
dapat menambah ilmu pengetahuan.
Yogyakarta, Januari 2011
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PESETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix
KATA PEGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II. LANDASAN TEORI ... 8
A. Persepsi ... 8
1. Pengertian persepsi ... 8
2. Faktor yang mempengaruhi persepsi ... 9
B. Citra Tubuh ... 11
1. Pengertian citra tubuh ... 11
2. Komponen citra tubuh ... 13
xiii
a. Dampak negatif ... 18
b. Dampak positif ... 21
6. Usia dan citra tubuh ... 22
C. Seni Tari ... 22
1. Pengertian tari ... 22
2. Perkembangan seni tari ... 23
3. Pengertian tarian seksi (sexy dance) ... 24
4. Penari tarian seksi ... 25
BAB III. METODE PENELITIAN ... 28
A. Strategi Penelitian ... 28
B. Latar belakang peneliti ... 29
C. Pengumpulan data ... 30
a. Subjek penelitian ... 30
b. Cara pengambilan data ... 31
D. Prosedur analisis data ... 32
E. Kredibilitas penelitian ... 34
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35
A. Deskripsi tema umum ... 35
1. Deskripsi citra tubuh ... 35
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri ... 41
3. Pengaruh citra tubuh terhadap individu ... 45
B. Pembahasan ... 51
1. Deskripsi citra tubuh ... 54
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri ... 56
xiv
BAB V. KESIMPULAN ... 63
A. Kesimpulan ... 63
B. Saran ... 64
DAFTAR PUSTAKA ... 65
xv Tabel
1. Definisi tubuh ideal menurut subjek ... 36
2. Penilaian keidealan tubuh yang dimiliki ... 38
3. Penilaian diri mengenai bagian tubuh (paling menarik) ... 39
4. Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang nyaman atau tidak) ... 40
5. Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang membuat percaya diri atau tidak percaya diri) ... 40
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara internal ... 44
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara eksternal ... 45
8. Pengaruh citra tubuh terhadap kepercayaan diri ... 46
9. Hal-hal yang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan rasa nyaman ... 47
10. Perilaku dalam menjaga penampilan ... 49
11. Motivasi untuk membandingkan dengan orang lain ... 52
12. Alasan menjaga penampilan ... 53
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Suatu hiburan memang tidak pernah lepas dari kehidupan kita
sehari-hari. Salah satu bentuk hiburan yang dapat dinikmati adalah tarian.
Tarian adalah salah satu bentuk seni yang dapat dengan mudah ditemukan
dalam tiap tempat (Maharani, 2006). Namun, ada beberapa jenis tarian dapat
dijadikan suatu hiburan yaitu jenis tarian yang menitikberatkan hiburan atau
kesenangan sehingga disebut sebagai tari hiburan. Dalam tarian hiburan yang
terpenting adalah penari bergerak sepuasnya sesuai dengan alunan irama yang
diikutinya (Karwati, 2009). Dengan begitu penari juga merupakan faktor
pendukung yang tak terpisahkan di dalam dunia hiburan (Augusta, 2006).
Sebagai seorang penari, mereka mempunyai tuntutan harus berada
dalam kondisi fisik yang baik sebelum tampil di atas panggung. Selain itu,
penari juga harus mempersiapkan penampilan dirinya yang meliputi merias
wajah hingga tubuh. Postur tubuh yang baik bagi seorang penari masa kini
adalah postur tubuh yang ramping (Augusta, 2006). Kondisi tubuh penari yang
ideal tentulah sangat diharapkan, demi kesempurnaan penampilan. Kondisi
tubuh merupakan hal penting dalam suatu tari karena penari langsung
menampilkan dirinya sebagai media ungkap (Wardhana, 1990). Keadaan
tersebut tidak jarang membuat kondisi para penari menjadi kurang percaya
Ketidakpercayaan diri tersebut bermula dari keinginan untuk
tampil sempurna ketika berada di atas panggung. Adanya ketakutan bila diri
mereka kurang menarik ketika tampil. Salah satunya adalah bentuk tubuh yang
dirasa kurang ideal dan tidak menarik. Walaupun sebenarnya kondisi tubuh
yang ideal juga berasal dari pandangan masyarakat. Ketika informasi
mengenai tubuh ideal begitu gencar, masyarakat pun menganggap apa yang
disajikan itulah yang dianggap ideal karena penampilan sangat penting bagi
seorang manusia (“My Body is a Wonderland”, 2009).
Perasaan yang diliputi ketidakpercayaan diri tersebut umumnya
dirasakan oleh para penari. Begitu juga dengan penari tarian seksi (sexy dancer). Tarian seksi (sexy dance) merupakan salah satu bentuk dari tari hiburan. Penari di dalam tarian seksi memiliki karakteristik yang berbeda
dengan para penari tarian yang lain. Kehadiran tarian seksi menjadi suatu
pertunjukkan yang populer di kalangan pengunjung hiburan malam. Para
penari ini terkadang menampilkan aksi-aksi sensual ketika berada di atas
panggung (”Dilema Hiburan”, 2007). Salah satu daya tarik panggung
kehidupan malam adalah hadirnya penari tarian seksi. Belakangan ini,
kehadiran para penari seksi dalam suatu acara peluncuran produk juga sering
dijumpai.
Tarian seksi sangat berbeda dengan jenis tarian pada umumnya.
Tarian ini hampir selalu identik dengan pakaian yang minimalis dan gerakan
yang seakan-akan mempunyai tujuan untuk menaikkan birahi para
3
pakaian yang menjadi standar bagi mereka. Hal ini sejalan dengan yang
diungkapkan oleh Rina bahwa kostum untuk para penari terkesan sangat
minim bila dikenakan (”Live to Dance”, 2005).
Tidak mengherankan bila seorang penari tarian seksi juga
menginginkan tubuhnya ideal karena mereka juga menggunakan tubuhnya
untuk tampil di depan umum. Hal tersebut sama seperti yang diungkapkan
oleh Silvie (”Sexy Dancer”, 2008) dalam majalah popular bahwa dirinya
mengaku tidak percaya diri dengan dadanya apalagi saat menari karena
menurut dirinya itu kurang bagus. Silvie sudah sekitar 3 tahun menggeluti
dunia tarian seksi tetapi dirinya masih kurang percaya diri saat membawakan
tarian tersebut.
Pada umumnya seorang perempuan tanpa memiliki profesi sebagai
penari sebenarnya juga sangat memperhatikan kondisi fisiknya. Perempuan
dikonstruksi harus berpenampilan selalu cantik dengan mengkonsumsi
berbagai produk yang dapat mewujudkan kecantikannya. Oleh karena itu,
wanita juga tidak jauh dari hal yang berbau kecantikan. Kulit yang putih,
rambut hitam panjang dan lurus serta badan yang seksi semuanya dijejalkan
pada kaum perempuan untuk diikuti. Seolah-olah perempuan dengan
penampilan tersebut yang dapat diterima masyarakat (Susanto, 2005). Salah
satu ukuran kecantikan yang banyak mendapatkan perhatian kaum perempuan
adalah bentuk tubuh (Cahyaningtyas, 2009).
Dalam penelitian yang dilakukan Liestyasari (Susanto, 2005)
mengenai kosmetika dan perawatan tubuh perempuan ditemukan bahwa
perempuan karena keinginan untuk tampil wangi, cantik, dan enak dilihat oleh
orang lain selain juga menambah rasa percaya diri mereka. Bagi kaum wanita
ada beberapa hal yang menimbulkan kepercayaan bahwa jika mereka tidak
memiliki tubuh yang ideal, maka mereka tidak akan diterima oleh masyarakat
dan memperoleh penilaian yang positif dari lingkungannya (Sumali, Sukamto,
& Mulya, 2008).
Kita semua memiliki bayangan tentang bagaimana bentuk tubuh
yang kita inginkan. Seringkali bayangan tentang tubuh kita sangat berbeda
dari tubuh kita yang sebenarnya. Sikap dan kepercayaan terhadap jenis tubuh
ideal ini kita pelajari dari semua gambar yang ada di sekitar kita misalnya
berbagai media yang ada dan keyakian atau pandangan yang dimiliki
orang-orang yang kita kagumi dan kita sukai (Dervill & Powell, 2001).
Segala pikiran, perasaan, atau pandangan seseorang terhadap
tubuhnya tersebut merupakan bentuk dari citra tubuh (Grogan, 1999). Dari
penelitian yang dilakukan Augusta (2006), populasi penari wanita diduga
rentan terhadap masalah citra tubuh. Menurut Thompson (dalam Thompson,
Heinberg, Altabe, 1999) representasi internal terhadap penampilan luar atau
persepsi unik individu terhadap tubuhnya ini dapat bersifat positif maupun
negatif. Seseorang akan mempersepsi bentuk tubuh menurut dirinya sendiri.
Persepsi merupakan penginterpretasian yang dterima oleh individu sehingga
merupakan sesuatu yang berarti (Walgito, 2003). Berdasarkan pengalaman,
keinginan, ataupun kebutuhan maka seseorang akan melakukan persepsi
mengenai bentuk tubuh hingga akhirnya citra tubuh dalam dirinya dapat
5
Orang yang memiliki citra tubuh yang positif mencerminkan
tingginya penerimaan jati diri, rasa percaya diri dan kepeduliannya terhadap
kondisi badan dan kesehatannya sendiri. Sedangkan salah satu ciri orang
dengan citra tubuh negatif adalah orang yang tidak merasa nyaman dan kurang
percaya diri dengan kondisi tubuhnya sendiri. Rendahnya rasa percaya diri
pada individu disebabkan karena perasaan tidak puas akan bentuk tubuhnya
(Asri & Setiasih, 2004).
Masih banyak wanita yang kurang puas terhadap penampilan diri
mereka sendiri. Menurut Hadisurya (dalam Cahyaningtyas 2009)
ketidakpuasan sosok tubuh termasuk dalam citra tubuh yang negatif yaitu
ketidakpuasan pada bentuk-bentuk khusus dari tubuhnya ataupun pada
penampilan keseluruhan. Pada survei untuk majalah People 4 September 2000
dalam artikel ”How do I Look?” hasilnya hanya 20% wanita yang
menunjukkan puas dengan tubuh mereka (Powell & Payne, 2007).
Orang yang memiliki citra tubuh yang positif akan mencerminkan
tingginya penerimaan jati diri, rasa percaya diri, dan kepeduliannya terhadap
kondisi badan dan kesehatannya sendiri. Sedangkan salah satu ciri orang
dengan citra tubuh yang negatif adalah orang yang tidak merasa nyaman dan
kurang percaya diri dengan kondisi tubuhnya sendiri. Rendahnya rasa percaya
diri tersebut disebabkan karena perasaan tidak puas akan bentuk tubuhnya
(Asri & Setiasih, 2004). Dampak negatif pada orang yang mengalami
ketidakpuasan pada tubuhnya akan mengalami preokupasi terhadap kecantikan
sehingga timbul permasalahan kesehatan fisik antara lain gangguan makan,
Gangguan makan merupakan karakteristik pola makan yang terganggu dalam
mengontrol badan karena seseorang memiliki citra tubuh yang negatif. Bentuk
dari gangguan makan yaitu anorexia nervosa dan bulimia nervosa yang
umumnya diderita oleh wanita muda (Hufman, J Vernoy, & M Vernoy, 1997).
Pada dunia tari, penari wanita umumnya lebih rentan terhadap diet dan
penyebaran teknologi lain yang tidak sehat sebagai usaha untuk memperbaiki
tubuh (Planey dalam Augusta, 2006).
Oleh karena itu, berdasarkan uraian sebelumnya peneliti ingin
melihat bagaimanakah citra tubuh pada penari tarian seksi karena kecantikan
dan bentuk tubuh lekat dengan diri mereka. Bila bagi penari tubuh dan
penampilannya kurang menarik tetapi mereka mampu menerima kondisi
fisiknya dan tidak terjadi perilaku menyimpang maka hal ini tidak menjadi
masalah karena penari tersebut memiliki citra tubuh yang positif. Apabila
terjadi sebaliknya, dengan penampilan yang dirasa kurang oleh dirinya sendiri
dan penari justru melakukan berbagai cara agar dirinya semakin merasa
nyaman dan percaya diri tinggi maka citra tubuh yang dimiliki penari tersebut
termasuk negatif.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana citra tubuh penari tarian seksi dan apa dampak dari citra tubuh
7
C. Tujuan Penelitian
a) Mendeskripsikan citra tubuh penari tarian seksi.
b) Melihat dampak citra tubuh yang dimiliki terhadap diri penari tarian seksi.
c) Melihat apakah para penari tarian seksi memiliki perilaku tertentu dalam
menjaga tubuhnya.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
a. Menambah wawasan dalam bidang psikologi mengenai citra tubuh,
khususnya pada penari seksi dan dapat dipergunakan sebagai literatur
dalam penelitian yang relevan di masa datang.
b. Memperoleh gambaran citra tubuh penari tarian seksi
c. Memperoleh gambaran perilaku penari seksi berkaitan dengan citra
tubuh yang dimilikinya.
d. Memperoleh gambaran mengenai dampak citra tubuh terhadap diri.
2. Manfaat Praktis
Bila ternyata hasil yang muncul berupa citra tubuh negatif menurut penari
tarian seksi, dan berdampak negatif pula terhadap diri mereka, maka
diharapkan para penari mulai menyadari bahwa dengan citra tubuh yang
negatif tidak akan mengutungkan diri sendiri bahkan bila tidak disadari
akan menjadi masalah yang serius. Sedangkan bagi masyarakat, dapat
dijadikan pandangan mengenai isu citra tubuh yang terjadi sehingga
8 A. PERSEPSI
1. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh
penginderaan. Penginderaan itu sendiri merupakan suatu proses
diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera
di mana stimulus dapat berasal dari dalam maupun luar diri individu
(Walgito, 2003).
DeCenzo dan Silhanek (2002, h.58), mendefinisikan persepsi
sebagai :
”a process by which an individual organizes and interprets sensory impressions to give meaning to his or her environment”
Menurut Sarwono (2009) persepsi adalah kemampuan untuk
membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan stimulus yang
ditangkap oleh otak dan di dalamnya terjadi proses berpikir yang pada
akhirnya terwujud sebuah pemahaman. Menurut Walgito (2003) persepsi
merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus
yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu
yang berarti, dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri
individu.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian
mengenai persepsi yaitu suatu kemampuan individu untuk memproses
9
persepsi, individu dapat menyadari, mengerti tentang keadaan lingkungan
di sekitar, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan
(Davidoff dalam Walgito, 2003). Bila yang dipersepsi dirinya sendiri
sebagai objek persepsi, inilah yang disebut persepsi diri (self-perception). Dalam mempersepsi diri sendiri, orang akan dapat melihat bagaimana
keadaan dirinya sendiri, mengerti bagaimana keadaan dirinya sendiri, dan
mengevaluasi dirinya sendiri (Walgito, 2003).
2. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Faktor yang mempengaruhi terjadinya persepsi ada dua yaitu faktor
internal dan eksternal (Walgito, 2003).
a) Faktor eksternal
Yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu, antara lain : stimulus,
sistem nilai, dan lingkungan.
i. Stimulus. Agar stimulus dapat dipersespsi, maka stimulus harus
cukup kuat, stimulus harus melampaui ambang stimulus, yaitu
kekuatan stimulus yang minimal tetapi sudah dapat menimbulkan
kesadaran dan dapat dipersespsi oleh individu.
ii. Sistem nilai. Persepsi menimbulkan keyakinan dan keyakinan
menimbulkan nilai. Sistem nilai merupakan keyakinan yang
terbentuk dari waktu ke waktu dengan mengambil dan memproses
ribuan lembar informasi dari berbagai sumber (DeCenzo &
Silhanek, 2002). Sumber-sumber informasi ini berasal dari semua
teman-teman, media, seseorang yang penting/signifikan, guru, dunia
hiburan, dan keyakinan pribadi.
iii. Lingkungan. Lingkungan atau situasi yang melatarbelakangi
stimulus juga akan berpengaruh dalam persepsi.
b) Faktor internal
Yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, antara lain apa
yang ada dalam diri individu seperti pengalaman, perasaan,
kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan motivasi akan
mempengaruhi seseorang dalam melakukan persepsi. Banyaknya
faktor yang mempengaruhi persepsi, maka sering kali juga terjadi
perbedaan persepsi antara satu orang dengan orang lain atau antara
kelompok satu dengan kelompok yang lain. Hal-hal yang dapat
menyebabkan perbedaan persepsi antar individu maupun kelompok
adalah sebagai berikut (Sarwono, 2009) :
a) Perhatian
Kita tentunya tidak mampu menyerap seluruh rangsangan yang ada di
sekitar karena keterbatasan daya serap dari persepsi kita. Oleh karena
itu, individu hanya mampu memusatkan perhatian pada satu atau dua
objek saja.
b) Set
11
c) Kebutuhan
Kebutuhan yang menetap pada diri seseorang akan mempengaruhi
persepsinya. Dengan demikian, kebutuhan yang berbeda akan
menyebabkan perbedaan persepsi.
d) Sistem Nilai
Sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat yang sudah
diinternalisasikan dalam individu berpengaruh pula terhadap persepsi.
e) Tipe Kepribadian
Tipe kepribadian seseorang juga akan menpengaruhi persepsi sehingga
memungkinkan adanya perbedaan persepsi.
f) Gangguan Kejiwaan
Sebagai gejala normal, ilusi berbeda dari halusinasi dan delusi, yaitu
kesalahan persepsi pada penderita gangguan jiwa. Penyandang gejala
halusinasi seakan-akan melihat atau mendengar sesuatu dan ia percaya
betul bahwa yang dilihatnya itu realita
B. CITRA TUBUH
1. Pengertian Citra Tubuh
Berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan daya tarik fisik,
seseorang akan mengembangkan pikirannya terhadap bentuk tubuhnya.
Hal tersebut dapat dikarenakan ukuran kecantikan yang banyak
mendapatkan perhatian adalah bentuk tubuh (Cahyaningtyas, 2009).
Hardy dan Hayes (dalam Purwaningrum, 2008) menjelaskan
dengan sifat fisik. Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri
sendiri oleh individu yang bersangkutan. Aspek utama dalam konsep diri
yaitu citra tubuh. Citra tubuh dikembangkan melalui pola interaksi dengan
orang lain.
Ada berbagai macam penjelasan mengenai konsep citra tubuh
sebagai persepsi yang dilakukan individu terhadap tubuhnya. Thompson,
Heinberg, Altabe, & Tantleff (2002, h.4) mengatakan citra tubuh sebagai:
“…the internal representation of your own outer appearance-your unique perception of appearance-your body”
Selain itu oleh Grogan (1999, h.1), citra tubuh didefinisikan sebagai:
“a person’s perceptions, thought and feelings about his or her body”
Schilder (dalam Grogan, 1999, h.1) juga mendefinisikan citra tubuh
sebagai:
“the picture of our own body which we form in our mind, that is to say, the way in which the body appears to ourselves”
Sedangkan menurut Hargreaves & Tiggemann (2009, h.568), citra tubuh
merupakan:
“an individual’s thoughts and feelings about their body and physical appereance”
Menurut National Eating Disorders Association (2005) citra
tubuh adalah bagaimana seseorang melihat dirinya di cermin atau
bagaimana gambaran diri seseorang di dalam pikirannya; apa yang
13
dan pandangan umum; bagaimana seseorang merasakan bentuk tubuhnya
termasuk di dalamnya bentuk, tinggi, dan berat; dan bagiamana seseorang
mengontrol tubuhnya sebagaimana dirinya bergerak.
Jersild (dalam Widyaningsih, 1997) mendefinisikan citra tubuh
adalah tingkat kepuasan individu terhadap bagian-bagian tubuh
penampilan fisik keseluruhan. Tubuh secara langsung mempengaruhi
kuantitas dan kualitas perilaku seseorang dan secara tidak langsung
mempengaruhi individu dalam mengevaluasi diri. Evaluasi tersebut
menimbulkan perasaan senang atau tidak senang terhadap keadaan
tubuhnya. Citra tubuh juga dapat diartikan sebagai sikap seseorang
terhadap tubuhnya baik sadar maupun tidak sadar (Salbiah, 2003).
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa citra
tubuh adalah gambaran seseorang mengenai penampilan fisik dan perasaan
yang menyertainya, baik terhadap bagian-bagian tubuhnya maupun
terhadap keseluruhan tubuh berdasarkan penilaian diri sendiri.
2. Komponen Citra Tubuh
Menurut Thompson, dkk (2002), citra tubuh memiliki 3 komponen
penting, yaitu:
a. Komponen persepsi: merupakan ketepatan individu dalam
mempersepsi atau memperkirakan tubuhnya
b. Komponen kognitif: terdiri dari harapan yang tidak realistik
untuk membentuk suatu penampilan misalnya berkeinginnan
c. Komponen behavioral (tingkah laku): menitikberatkan pada penghindaran terhadap situasi yang menyebabkan individu
mengalami ketidaknyamanan yang berhubungan dengan
penampilan fisik
Sedangkan menurut Schilder (Grogan, 1999) citra tubuh memiliki
3 komponen, yaitu: perkiraan ukuran tubuh (persepsi), evaluasi
penampilan tubuh (pikiran), dan emosi yang berhubungan dengan ukuran
dan bentuk (perasaan/afektif). Dari penjelasan tersebut dapat diperoleh
bahwa citra tubuh memiliki komponen persepsi, kognitif, perasaan/afektif,
dan tingkah laku.
3. Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh
Salbiah (2003) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi
citra tubuh seseorang antara lain :
a. Operasi, seperti bekas luka pada operasi yang akan mengubah
gambaran diri seseorang
b. Kegagalan fungsi tubuh, misalnya tuli, buta, dan sebagainya yang
dapat mengakibatkan seseorang merasa asing dengan tubuhnya sendiri
c. Waham yang berkaitan dengan bentuk tubuh, misalnya pandangan
tertentu terhadap tubuh
d. Perubahan pada tubuh, seiringnya bertambahnya usia maka, kondisi
tubuh seseorang juga akan berubah. Ada berbagai respon baik negatif
15
Ketidakpuasan dapat terjadi apabila individu merasa jauh dari bentuk
idealnya.
e. Umpan balik interpersonal yang negatif, yaitu adanya makian atau
celaan yang membuat seeorang menarik diri terhadap lingkungan
f. Standar sosial budaya. Latar belakang budaya yang berbeda-beda pada
setiap orang mampu mempengaruhi gambaran diri individu, seperti
perasaan minder ketika bertemu orang lain. Misalnya seperti pada
budaya Barat yang sangat menekankan tubuh yang langsing sebagai
tubuh yang ideal (Anggardini & Anam, 2008). Menurut Sukamto
(dalam Cahyaningtyas, 2009) bahwa citra tubuh ideal di Indonesia
cenderung mengadopsi citra tubuh di Negara Barat.
Sedangkan menurut Schonfeld (dalam Purwaningrum, 2008) faktor
yang mempengaruhi citra tubuh antara lain:
a. Reaksi orang lain. Manusia selalu memiliki keinginnan untuk dapat
diterima oleh orang lain. Dirinya akan memperhatikan pendapat atau
reaksi yang dikemukakan oleh lingkungan terutama mengenai bentuk
fisik.
b. Perbandingan dengan orang lain atau perbandingan dengan cultural idea.
Seorang perempuan akan lebih peka terhadap penampilan diri dan selalu
memiliki keinginnan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
c. Identifikasi terhadap orang lain. Beberapa orang merasa perlu untuk
mengubah dirinya agar serupa dengan atau mendekati idola yang
dianut agar merasa lebih baik dan bisa menerima keadaan fisiknya
Berdasarkan faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh antara lain:
1. Faktor sosial; di setiap lingkungan memiliki standard tertentu dalam
menentukan tubuh yang dirasa ideal
2. Reaksi atau umpan balik orang lain; terjadi karena seseorang akan selalu
memperhatikan pendapat orang lain
3. Identifikasi terhadap orang lain; terjadi bila seseorang berupaya untuk
mengubah dirinya agar serupa dengan atau mendekati idolanya
4. Pemahaman yang dipegang tentang tubuh; keinginan terhadap bentuk
tubuhnya sehingga menjadi suatu pemahaman mengenai bentuk tubuhnya
5. Kegagalan fisik atau fungsi tubuh; akan mempengaruhi apabila ada
bagian tubuh yang kurang atau tidak berfungsi misalnya terjadi amputasi
pada kaki
4. Jenis Citra Tubuh
Berdasarkan National Eating Disorders Association (2005), citra tubuh terbagi menjadi dua jenis yaitu positif dan negatif. Citra tubuh
positif memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Persepsi yang benar mengenai bentuk tubuh, segala macam bagian
tubuh yang dilihat adalah benar adanya;
b. Menghargai dan bangga pada bentuk alami tubuh dan mengerti bahwa
penampilan fisik seseorang menunjukkan karakter serta berharganya
seseorang tersebut;
17
d. Merasa bangga dan menerima tubuhnya yang unik serta menolak
beberapa alasan yang tidak masuk akal mengenai ketakutan terhadap
makanan, berat badan, dan kalori.
Sedangkan jenis citra tubuh yang negatif memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a. Distorsi persepsi mengenai bentuk, merasa tidak menyukai bagian dari
keseluruhan tubuh yang sebenarnya;
b. Merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya sendiri;
c. Merasa cemas dan malu dengan tubuhnya;
d. Merasa bahwa tubuh atau badan orang lain itu menarik dan tubuhnya
sendiri, merupakan suatu bentuk kesalahan bentuk diri.
Dengan adanya citra tubuh yang negatif, seseorang bisa menjadi
tidak puas akan bentuk tubuhnya sendiri. Menurut Hadisurya (dalam
Cahyaningtyas, 2009) ketidakpuasan bentuk tubuh termasuk dalam citra
tubuh yang negatif, yaitu ketidakpuasan pada bentuk-bentuk khusus dari
tubuhnya atau pada penampilan keseluruhan. Ketidakpuasan tubuh oleh
Grogan (1999, h.2) didefinisikan sebagai berikut:
“a person’s negative thoughts and felings about his or her body”
Sedangkan oleh Sumali, Sukamto, dan Mulya (2008)
ketidakpuasan pada citra tubuh didefinisikan sebagai suatu bentuk
ketidakpuasan terhadap tubuh yang merupakan hasil dari interaksi dengan
Sehingga dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan
bahwa ketidakpuasan terhadap citra tubuh adalah segala pikiran maupun
persepsi negatif, dan tingkah laku/sikap yang buruk mengenai keadaan
tubuhnya. Ketidakpuasan tersebut disebabkan oleh adanya kesenjangan
yang besar antara bentuk tubuh sesungguhnya dengan bentuk tubuh ideal.
Pada umumnya perempuan diharapkan tampil dengan
ukuran-ukuran (tubuh) yang diidealkan secara sosial (Abdulah, 2001). Indonesia
cenderung mengadopsi citra tubuh negara Barat di mana budaya Barat
sangat menekankan tubuh yang langsing sebagai tubuh yang ideal dan
makan yang tidak banyak mengandung lemak (Anam & Anggardini,
2008).
Kepercayaan masyarakat ini dapat mempengaruhi kepuasan
seseorang terhadap citra tubuhnya. Pengaruh sosial tersebut mampu
menguatkan seseorang menjadi merasa terlalu gemuk, padahal
sesungguhnya sudah cukup ideal, bahkan dalam beberapa kasus justru
terlalu kurus jika dibandingkan dengan badan orang lain (Darvill &
Powell, 2001).
Ketidakpuasan mendorong kaum perempuan untuk
berlomba-lomba menurunkan berat badan. Banyak cara yang dilakukan perempuan
untuk mewujudkan keinginan agar memiliki berat badan yang ideal (Asri
19
5. Dampak dari Citra Tubuh
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penilaian
seseorang terhadap tubuhnya bisa bersifat positif maupun negatif. Oleh
karena itu, dampak dari citra tubuh juga dapat bersifat postif maupun
negatif.
a. Dampak Negatif
Perasaan kita mengenai keadaan fisik umumnya sering negatif.
Satu sama lain selalu membuat perbandingan dan seseorang tidak
pernah merasa baik dengan dirinya sendiri (Simon & Schuster, 1976).
Pada umumnya mereka membesar-besarkan kekurangan penampilan
fisik, padahal sebenarnya kekurangan tersebut hanya merupakan
imajinasi atau memang masalah nyata, tetapi merupakan masalah yang
kecil.
Adanya citra tubuh negatif berupa ketidakpuasan tubuh dapat
memunculkan dampak-dampak yang negatif pada orang yang
mengalaminya (Sumali, Sukamto, & Mulya, 2008). Ada beberapa
dampak yang muncul dari citra tubuh yang negatif yaitu gangguan
citra tubuh, gangguan makan (eating disorder), dan melakukan diet yang tidak sehat.
i. Gangguan Citra Tubuh
Citra tubuh yang negatif akan mengakibatkan individu
mengalami gangguan citra tubuh. Gangguan citra tubuh merupakan
suatu fenomena yang bersifat multidimensional, yaitu melibatkan
2002). Powers (dalam Augusta, 2006, h.26) mendefinisikan
gangguan citra tubuh sebagai berikut :
”an overestimation of actual size and shape couple with derogatory attitudes toward the misperception”
Berdasarkan definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian
bahwa gangguan citra tubuh merupkan pikiran dan perasaan
seseorang yang negatif terhadap tubuhnya disertai kesalahan persepsi
dan sikap yang buruk.
ii. Gangguan makan (eating disorder)
Gangguan makan memiliki karakteristik pola makan yang
terganggu dan cara yang maladaptif dalam mengontrol berat badan
(Nevid, Rathus, & Greene, 2005). Jenis dari gangguan makan antara
lain anorexia nervosa, bulimia nervosa,dan binge eating disorder.
Anorexia nervosa adalah penyakit yang umumnya diderita oleh kaum perempuan. Orang yang menderita penyakit ini memiliki
pandangan yang menyimpang tentang tubuh mereka. Mereka
menganggap diri mereka gemuk atau akan menjadi gemuk.
Pandangan yang menyimpang ini membuat mereka mengurangi porsi
makan mereka. Dari hari ke hari mereka akan makan dengan porsi
yang semakin sedikit dan sering ditunjukkan dengan hilangnya berat
badan sebanyak 20 hingga 25 persen dari berat badan normal
21
Anorexia nervosa juga lebih umum terjadi pada wanita muda yang berada dalam dunia tari balet atau dunia model. Anorexia dapat mengakibatkan komplikasi medis yang serius yang dalam kasus
ekstrim dapat berakibat fatal. Berkurangnya berat tubuh dapat
menimbulkan anemia (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).
Bulimia nervosa adalah suatu gangguan makan yang memiliki karakteristik makan berlebihan yang berulang diikuti oleh
pembangkitan keinginan untuk memuntahkannya. Individu yang
menderita bulimia biasanya memiliki berat badan normal, namun,
mereka memiliki perhatian yang berlebihan mengenai bentuk tubuh
dan berat badan. Penderita bulimia biasanya mencolok tenggorokan
mereka untuk menimbulkan perasaan ingin muntah. Kebanyakan
berusaha untuk menutupi perlaku mereka (Nevid, Rathus, & Greene,
2005).
Binge eating disorder atau sering disebut gangguan makan berlebihan menunjukkan pola makan secara berlebihan berulang kali
tetapi tidak mengeluarkan makanan tersebut sesudahnya. Saat ini,
orang yang dikenakan diagnosis ini menunjukkan kondisi makan
berlebihan setidaknya 2 hari dalam seminggu dalam 3 bulan.
Penderita merasa malu bila terlihat saat makan berlebihan dan mersa
bersalah sesudahnya. Binge eating sering diasosiasikan dengan
depresi dan usaha yang gagal dalam menurunkan berat badan
sehingga mereka mempertahankannya (Nevid, Rathus, & Greene,
iii. Diet yang Tidak sehat
Banyak orang yang secara sadar menjalankan diet dengan cara
membatasi makan atau berhati-hati dalam memilih jenis makanan
(Abdulah, 2001). Ada banyak macam diet, mulai dari diet dengan
tujuan kesehatan ataupun untuk penampilan diri. Diet yang dimaksud
yaitu diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan sehingga
dapat mencapai berat badan yang diinginkan. Jadi diet yaitu perilaku
yang ditempuh seseorang untuk memodifikasi jumlah asupan makanan
dengan tujuan menurunkan berat badan. Modifikasi ini bisa dalam
bentuk pengurangan konsumsi makanan ataupun dengan menggunakan
cara lain seperti penggunaan obat pencahar, tablet pengganjal perut,
dan sebagainya (Hartantri, 1998).
b. Dampak Positif
Seseorang yang memiliki citra tubuh yang positif akan merasa
bahwa tubuh dan penampilannya cantik serta menarik. Walaupun
kenyataannya tubuh dan penampilannya kurang menarik, tetapi individu
tersebut dapat menerima keadaan fisik yang sesuangguhnya, karena
untuk diterima dan memperoleh pengakuan dari lingkungan tidak harus
mempunyai tubuh dan penampilan yang menarik. Dengan demikian
individu tersebut memiliki kemampuan untuk memilih perilaku yang
23
6. Usia dan Citra Tubuh
Bermula pada tahap remaja, remaja disibukan dengan tubuh
mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh
mereka (Santrock, 1995). Pada masa awal dewasa, seorang perempuan
juga tampak masih memperhatikan kondisi fisiknya. Hal tersebut juga
tampak dari kelainan makan berupa anorexia nervosa yang diderita oleh perempuan selama masa remaja dan masa awal dewasa. Namun, perhatian
khusus terhadap badan seringkali terjadi pada usia 19 dan 26. Beberapa hal
yang menjadi perhatian adalah diet, pengaturan perilaku makan, dan
pengurangan berat badan(Santrock, 1995).
C. SENI TARI
1. Pengertian Tari
Tari merupakan bagian dari kesenian. Menurut Ellfelat (1981) tari
merupakan sebuah ungkapan, sebuah pernyataan, sebuah ekspresi
dalam gerak yang memuat komentar-komentar terhadap realitas yang
tetap bertahan di benak penonton setelah pertunjukan selesai.
Wardhana (1990) mendefinisikan seni tari sebagai salah satu bidang
seni yang secara langsung menggunakan tubuh manusia sebagai media,
yang merupakan ungkapan nilai keindahan dan nilai keluhuran, lewat
gerak dan sikap tubuh, dengan penghayatan seni.
Dari definisi-defini tersebut, maka dapat diperoleh kesimpulan
bahwa seni tari adalah ekspresi jiwa manusia yang tampak dalam
2. Perkembangan Seni Tari
Menurut Wardhana (1990) di dalam suatu seni, fisik manusia
digunakan sebagai media ungkap. Bagian fisik manusia yang sangat
kuat bagi ekspresi penyaluran nilai-nilai terletak pada berbagai gerakan
tubuh.
Menurut cirinya, tari dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:
a. Tari Kontemporer
Tari kontemporer adalah tarian yang menunjukkan daya cipta yang
hidup atau yang menunjukkan kondisi kreatif dari masa terakhir.
Tarian ini merupakan bagian dari bentuk teater yang berpura-pura
(Ellfelat, 1981).
b. Tari Modern
Lebih dikenal dengan nama modern dance. Tarian ini berpangkal pada Martha Graham dan Mary Wigman di mana bentuk tarian ini
hendak melepaskan diri dari bentuk ketat tarian ballet sehingga mengembangkan kemungkinan untuk meluaskan gerak tubuh
(Augusta, 2006)
c. Tari Tradisional
Tarian ini memperlihatkan perbedaan kebudayaan dari suatu
daerah tertentu. Di dalam tarian tradisional sesungguhnya,
pertunjukkan dilakukan pada tempat dan dalam hubungan yang
25
dengan kata lain tarian ini tidak dipertunjukkan sebagai tontonan
(Ellfelat, 1981).
Pada hakikatnya tarian bisa dilakukan oleh kondisi tubuh yang
bagaimanapun. Yang cacat tubuh pun hendaknya diberi
kesempatan, apabila ia menghendaki. Kondisi tubuh penari yang
ideal tentulah sangat diharapkan, demi kesempurnaan penampilan
(Wardhana, 1990).
Sedangkan tari dalam fungsi sosial memiliki 3 fungsi utama, yaitu
(Karwati, 2009):
a) Tari untuk kebutuhan upacara kepercayaan atau religi, disebut
tari upacara.
b) Tari untuk kebutuhan hiburan/kesenangan, disebut tari hiburan.
Tarian seksi masuk ke dalam tari hiburan ini.
c) Tarian pertunjukan, tarian ini melalui perencanaan konsep serta
penampilan hasil karya dan tertata dengan baik secara artistik
untuk mewujudkan suatu pertunjukan.
3. Pengertian Tarian Seksi (Sexy Dance)
Seiring perkembangannya, tari memiliki banyak bentuk mulai dari
tari tradisional, modern hingga sexy dance. Jenis tarian modern ini pada awalnya dikembangan oleh Martha Graham yang merupakan
seorang penata gerak. Ia menggabungkan tari tradisional dan kreasi
yang dimilikinya sendiri. Ia tidak terpaku lagi pada aturan tari
yang salah satunya tarian seksi yang merupakan salah satu bentuk dari
tarian modern. Gerakan-gerakan yang ada pada tarian tersebut
dikategorikan sebagai gerakan yang berawal dari tari modern.
Tarian sexy sering disebut juga sebagai tarian erotis (erotic dance). Berikut mengenai jenis dari tarian seksi yang biasanya dibawakan oleh
para penari yaitu (Maharani, 2006) :
a. Pole Dance
Tarian ini menjadikan tiang sebagai cirinya. Penari bebas
melakukan gerakan pada tiang yang ada di sekitarnya. Pada
tarian ini, ditemukan kombinasi antara jenis srtiptease (penari
yang pada akhirnya membuka baju saat masih menari) dan lap
dance (penari yang sambil minum atau menawarkan minuman kepada pengunjung). Para penari bebas melakukan keahlian
atletik yang dimiliki ataupun gerakan-gerakan lainnya.
b. Table Dance
Tarian ini sengaja dibawakan di atas meja bar. Penari jenis
ini, biasanya membawakan tariannya dengan bergerak mengikuti
irama musik sambil membukakan minuman pada tamu.
c. Go-go Dance
Tarian ini dikenal karena menggunakan go-go boots.
Disebut go-go boots karena alas kaki yang mereka pakai saat
menari berupa sepatu boots. Gerakan mereka cenderung
memberikan semangat atau yang menggunakan tenaga. Tarian ini
27
tarian ini tidak mengutamakan kecerdasan gerak tetapi
keindahan.
Prinsip tari modern jenis ini adalah kebebasan dari
patokan-patokan serta aturan tari yang memiliki pola. Hal ini yang menguatkan
bahwa tari modern sangat dinamis untuk dilakukan ataupun dijadikan
tontonan. Gerakan-gerakan semacam ini dapat kita jumpai di diskotek,
cafe yang menyajikan live music.
4. Penari Tarian Seksi
Penari yang membawakan jenis tarian seksi, dituntut untuk tampil
seksi. Seksi merupakan kewajiban pembawaan yang harus dimiliki
oleh seorang penari seksi untuk mendapatkan tampilan yang kuat dan
menarik setiap pasang mata. Saat pertama kali menginjakkan kaki di
panggung pentas, penari tarian seksi sudah harus berani dan tidak malu
terhadap penonton. Para penari tarian seksi tidak diperbolehkan lagi
untuk merasa malu. Salah satu ciri dari tarian seksi adalah pakaian
yang serba minimalis.
Penari dalam tarian seksi memiliki gerakan yang leluasa tanpa
pola. Setidaknya persamaan tiap penari tarian seksi ini adalah gerakan
28 A. Strategi Penelitian
Metode penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah
fenomenologi interpretatif. Fenomenologi interpretatif adalah suatu metode
yang bertujuan untuk mengeksplorasi secara terperinci bagaimana para
partisipan memaknai dunia personal dan dunia sosial mereka (Smith, 2009).
Sarana pokok dalam metode ini adalah makna yang terkandung dalam
pengalaman, kejadian, dan keadaan partisipan.
Peneliti memilih metode fenomenologi interpretatif dalam penelitian
ini karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi citra tubuh
pada penari seksi. Dalam prosesnya untuk memperoleh deskripsi, peneliti
melihat dari pengalaman para penari seksi yaitu pengalaman diri mereka
mengenai penampilan fisik mereka yang mereka gunakan untuk menari. Dari
pengalaman tersebut, peneliti juga dapat menarik makna para penari seksi
mengenai tubuh mereka sendiri.
Strategi penelitian ini menggunakan cara wawancara dalam
pengumpulan data. Pertanyaan dalam wawancara disusun dengan sifat yang
petanyaan terbuka dan netral. Proses pengumpulan datanya menggunakan alat
perekam sehingga intisari dan hal-hal penting yang lain dapat terekam.
Mengenai analisisnya, terdapat proses interpretasi yang terdiri dari dua
29
kemudian peneliti mencoba untuk mengartikan kegiatan para parisipan yag
tengah mengartikan dunia mereka itu (Smith, 2009).
B. Latar Belakang Peneliti
Peneliti mengambil topik mengenai citra tubuh pada penari seksi
karena peneliti seorang penari. Menari merupakan hal yang menyenangkan
karena kegiatan tersebut sudah diikuti oleh peneliti sejak duduk di bangku TK.
Pada mulanya setiap kegiatan hingga saat pentas, peneliti tidak merasakan
adanya suatu masalah. Namun semenjak peneliti memasuki masa sekolah di
SMA, peneliti mulai melihat bahwa kostum pada peneliti terkadang kurang
pas. Karena terjadi hampir setiap kali, peneliti memilih untuk tidak
memperhatikan hal tersebut. Akan tetapi di setiap pentas, peneliti mulai
menyadari bahwa keadaan yang kurang nyaman juga dirasakan oleh
teman-teman penari yang lain. Apalagi saat peneliti sudah memasuki bangku kuliah,
peneliti menyadari bahwa teman-teman penari lebih memperhatikan masalah
penampilan diri masing-masing. Masalah lain yang terkadang juga muncul
yaitu kondisi perut yang tidak rata, wajah yang berjerawat saat pentas, dan
sebagainya.
Lama-kelamaan peneliti ingin melihat ada apa dibalik penampilan fisik
pada diri penari. Oleh karena itu peneliti mengambil konsep citra tubuh untuk
diteliti. Peneliti ingin melihat citra tubuh pada penari seksi. Menurut peneliti,
penampilan dan bentuk tubuh para penari rentan dengan masalah citra tubuh.
Para penari tarian seksi menggunakan kostum yang sangat minim dan
embel-embel kata seksi yang disandang oleh para penari. Hal-hal tersebut membuat
diri mereka semakin rentan dengan masalah tubuh serta penampilan.
Keterkaitan peneliti dengan individu yang diteliti yaitu hubungan
teman. Beberapa teman merupakan teman di satu komunitas tari. Hal ini
memudahkan peneliti untuk memasuki dunia para penari tarian seksi.
Langkah-langkah yang digunakan oleh peneliti untuk memasuki dunia penari
tarian seksi yaitu dengan melakukan pendekatan dengan beberapa orang yang
memiliki profesi tersebut. Orang yang menghubungkan peneliti dengan para
penari tarian seksi yaitu salah satu dari penari inti di kelompok tersebut.
Dalam penelitian ini, isu etis yang mungkin muncul adalah saat
peneliti mengambil data penari. Subjek atau orang lain yang mengetahui
penelitian ini mungkin berpendapat bahwa peneliti akan terlalu mengambil
data yang bersifat pribadi dan adanya ketakutan dari subjek apabila data yang
telah diperoleh peneliti akan tersebarluaskan. Namun, pemberian informed consent di awal penelitian dapat mengurangi isu etis yang mungkin dapat muncul.
C. Pengumpulan Data 1. Subjek Penelitian
a. Karakteristik Subjek
Kriteria individu yang dijadikan subjek yaitu :
- individu berjenis kelamin perempuan
- berusia 19-25 tahun
31
b. Jumlah Subjek
Peneliti mengambil 5 subjek karena jumlah tersebut merupakan jumlah
yang biasa bagi penelitian mahasiswa yang menggunakan metode
fenomenologi intepretatif. Jumlah tersebut memuat kasus yang
memadai bagi peneliti untuk bisa meneliti keserupaan dan perbedaan
di antara partisipan. Jumlah tersebut juga tidak terlalu banyak sehingga
peneliti tidak akan terkena risiko dibanjiri oleh jumlah data yang
muncul (Smith, 2009). Selain itu, alasan lain peneliti mengambil
jumlah subjek 5 orang yaitu peneliti menganggap 5 orang yang ada di
dalam suatu kelompok penari seksi yang cukup eksis dan dominan di
kota Yogyakarta.
2. Cara Pengambilan Data
Cara pengambilan data yang dilakukan peneliti yaitu wawancara.
Menurut Alsa (2004) salah satu metode pengumpulan data dalam
penelitian kualitatif yaitu wawancara. Cara peneliti mewawancarai subjek
yaitu terlebih dahulu peneliti menyusun daftar pertanyaan yang akan
digunakan untuk mewawancarai subjek penelitian. Sedangkan untuk cara
penentuan subjeknya yaitu secara purposive. Pemilihan subjek ini dilakukan secara sengaja untuk mendapatkan data sesuai maksud dan
tujuan penelitian (Bungin, 2003). Selanjutnya peneliti akan mencari subjek
yang sesuai karakteristik di atas agar pengumpulan data dapat sesuai
Jenis data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata. Untuk
mengumpulkannya peneliti menggunakan alat perekam audio untuk
merekam isi wawancara antara subjek dan peneliti. Tujuan menggunakan
alat perekam supaya peneliti tidak kehilangan nuansa serta intisari yang
diungkapkan oleh subjek.
D. Prosedur Analisis Data
Dalam fenomenologi interpretatif, yang menjadi pokok adalah makna
dan peneliti bertujuan untuk memahami isi dan kompleksitas makna-makna
tersebut (Smith, 2009). Berikut prosedur analisis dalam fenomenologi
interpretatif:
1. Transkrip dibaca beberapa kali. Di bagian tepi kiri transkrip disisakan
untuk membuat catatan mengenai apa yang menarik atau signifikan dari
perkataan responden. Tidak ada aturan mengenai apa yang harus
dikomentari dan tidak ada tuntutan untuk membagi-bagi teks dan
mencantumkan satu komentar untuk setiap satuan makna. Proses ini mirip
dengan analisis-teks secara bebas (free textual analysis). Hal tersebut bisa menjadi interpretasi pendahuluan.
2. Proses ini dilakukan untuk keseluruhan transkrip pertama. Lalu, kembali
ke awal transkrip untuk mendokumentasikan judul-judul tema yang
muncul pada bagian pinggir teks yang lain. Tujuannya adalah untuk
menangkap kualitas inti dari apa yang ditemuka di dalam teks. Tema
tersebut menuju ke level abstraksi yang sedikit lebih tinggi dan bisa
33
3. Hal tersebut dilakukan pada keseluruhan transkrip data. Tidak ada upaya
untuk menghilangkan atau memilih bagian tertentu untuk diperhatikan
secara khusus dan tidak ada tuntutan untuk memunculkan tema di setiap
bagian. Jumlah tema yang muncul mencerminkan kesuburan bagian
tertentu.
4. Tema-tema yang muncul didaftar. Susunan tema dibuat secata kronologis
yaitu didasarkan pada urutan kemunculannya dalam transkrip.
5. Tema-tema kemudian diurutkan secara analitis/teoritis untuk memahami
hubungan di antara tema-tema yang muncul. Tema-tema tersebut akan
mengelompok ke dalam kelompok tertentu.
6. Membuat tabel tema-tema dengan susunan yang koheren.
Kelompok-kelompok tersebut diberi judul yang menggambarkan tema pokok yang
membawahi tema-tema lainnya. Dengan cara ini, peneliti bisa
mengidentifikasi kelompok tema yang paling kuat. Pada proses ini,
tema-tema yang tidak sejalan dengan struktur yang muncul dan juga tidak terlalu
subur rinciannya dalam transkrip dapat dibuang.
7. Tabel yang disusun memuat daftar tema dengan masing-masing tema
pokok dan penanda untuk membantu penyusunan analisis dan
memudahkan penelusuran sumber aslinya. Penanda menunjukkan tempat
di mana transkrip bisa ditemukan.
8. Ketika masing-masing transkrip telah dianalisis, maka tabel akhir
mengenai tema-tema pokok mulai disusun. Dalam memutuskan tema-tema
yang akan dijadikan fokus, peneliti dituntut memprioritaskan data dan
9. Mengalihkan tema-tema akhir tersebut dengan cara menuliskan serta
menguraikan secara garis besar makna-makna dari pengalaman partisipan.
Tahapan ini menterjemahkan tema ini menjadi penuturan naratif.
E. Kredibilitas Penelitian
Strategi yang digunakan untuk memeriksa kredibilitas penelitian yaitu
validitas komunikatif dan validitas argumentatif ini. Menurut Poerwandari
(2005), validitas komunikatif adalah pengkonfirmasian kembali berupa data
dan analisisnya pada responden penelitian. Sedangkan validitas argumentatif
tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik
35 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI TEMA UMUM
Wawancara dilakukan terhadap 5 subjek yang berjenis kelamin
perempuan dengan rentang usia 19-25 tahun. Pertanyaan yang diberikan
kepada subjek meliputi deskripsi citra tubuh, faktor yang mempengaruhi
penilaian diri subjek, dan pengaruh citra tubuh tersebut terhadap individu.
Sebelum masuk ke dalam pertanyaan inti, subjek diberi pertanyaan
pendahuluan mengenai dunia tarian seksi yang menjadi aktivitas subjek.
1. Deskripsi Citra Tubuh
i. Definisi menurut subjek
Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal maupun tidak ideal
menjawab proporsional sebagai tubuh ideal yang seharusnya dimiliki oleh
perempuan. Proporsional yang dimaksud oleh subjek yaitu ukuran tubuh
seimbang (tinggi, tidak gemuk dan tidak kurus), memiliki bagian tubuh
tertentu yang “berisi” antara lain pantat dan dada, memiliki perut yang
rata. Selain proporsional, subjek juga menjawab menarik/enak dilihat dan
sehat (tidak cacat) sebagai definisi tubuh ideal. Salah satu pernyataan
subjek mengenai tubuh yang ideal adalah sebagai berikut:
lah..ya mau ukuran celana, ya daleman...yang penting enak diliat itu udah proporsional.” (subjek 1, lamp. D, h.1, 17)
Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal juga menyebutkan hal
lain dari ciri tubuh ideal selain yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu
warna kulit dan model rambut apapun tampak ideal dan tidak perlu
berkeinginan memiliki tubuh seperti model.
Tabel 1
Definisi tubuh ideal menurut subjek
tema Hal.baris merasa ideal Hal.baris merasa tidak ideal
definisi 12.12 pantat berisi 1.17; proposional
menurut 12.13 dada tidak besar 2.1
subjek 12.11 perut kecil
12.16 bentuk tubuh 1.21; tidak gemuk dan
seperti gitar spanyol 33.6 tidak kurus
21.22; proposional
42.21 1.24 tidak cacat
2.2 enak dilihat
22.1; warna kulit tidak masalah 33.10 dada berisi
43.1 33.8 perut rata
33.11 kaki semampai
22.6 menarik dan enak dilihat
22.5 sehat(tidak cacat)
22.4 bangga pada tubuh
42.18 tinggi
43.2 semua model rambut ideal
ii. Penilaian diri mengenai keidealan tubuh yang dimiliki
Ada 2 subjek yang merasa dirinya tidak memiliki tubuh yang
ideal. Sedangkan 3 subjek yang lain merasa ideal. Akan tetapi, 3
subjek tersebut sebenarnya masih memiliki kekurangan dengan
tubuhnya. Subjek yang merasa tubuhnya ideal juga mengatakan bahwa
sebenarnya tubuh yang dimilikinya belum masuk kedalam tingkat ideal
37
Berikut mengenai contoh kutipan dari subjek yang merasa dirinya
ideal:
”Dari angka 1 sampe 10, tubuh saya ya 7,5 Kenapa mba?
Karena tinggi badan dan berat badan cukup ideal tapi, ada beberapa bagian yang perlu dikencengin..gitu..misal kayak perut, lengen, paha itu masih perlu olah raga untuk membentuk badan yang lebih ideal lagi..” (subjek 5, lamp. D, h.43, 20)
dan subjek yang merasa tidak ideal, sebagai berikut:
”Menurut saya, saya sebagai sexy dancer tetep merasa tubuh saya kurang ideal karena ya itu tadi dada saya kurang berisi, tapi saya rasa perut saya sudah cukup rata dan mungkin kekurangan saya kurang tinggi dikit tapi bisa diatasi lah dengan adanya high heels.” (subjek 4, lamp. D, h. 32, 1)
Semua subjek yang merasa memiliki tubuh yang ideal memiliki
rasa percaya diri pada tubuh yang dimiliki. Alasan subjek merasa
percaya diri karena merasa ideal/proporsional, enak dilihat oleh orang
lain, memiliki warna kulit yang cerah, dan tampak terawat menurut
pandangan orang lain. Hal ini berbeda dengan subjek yang merasa
mempunyai tubuh tidak ideal. Dari 2 subjek yang merasa tidak ideal,
yang merasa cukup percaya diri terhadap tubuh yang dimiliki hanya 1
subjek. Sedangkan satu subjek lainnya merasa tidak percaya diri
karena merasa memiliki kekurangan fisik sehingga subjek ingin
Tabel 2
Penilaian keidealan tubuh yang dimiliki
Tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal
penilaian diri 12.19; merasa ideal 2.23; merasa tidak ideal
mengenai 43.24; tetapi ada yang 34.3
tubuh 22.23
(kognitif) dirasa kurang 2.14 ingin punya tubuh lebih baik
43.26 merasa kurang dengan tubuh
penilaian diri PERCAYA DIRI
mengenai 14.18 merasa ideal 5.16 cukup percaya diri
tubuh 25.1 merasa proposional
(afektif) 25.11 enak dilihat
25.11 warna kulit cerah 25.12 persepsi orang lain
47.7 merasa percaya diri
TIDAK PERCAYA DIRI
35.21 ingin memiliki tubuh bagus
35.23 memiliki kekurangan fisik
iii. Penilaian diri mengenai bagian tubuh yang dimiliki
Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal maupun tidak ideal
sama-sama memiliki bagian tubuh yang dirasa menarik. Bagian tubuh
tersebut antara lain mata, perut, dan bentuk badan. Subjek yang merasa
ideal masih memiliki bagian tubuh lain yang menarik yaitu rambut,
warna kulit, bibir, tangan, pantat, dan wajah.
Namun untuk bagian tubuh yang menimbulkan perasaan nyaman,
pada subjek yang merasa mempunyai tubuh tidak ideal hanya memiliki
satu jawaban untuk bagian tubuh yang membuatnya merasa nyaman
yaitu bahu. Sedangkan sisanya lebih banyak menyebutkan bagian
tubuh yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Subjek yang
merasa memiliki tubuh ideal juga memiliki jawaban yang sama dengan
39
mereka tidak nyaman yaitu perut yang tidak rata, lengan yang besar,
dada, paha, dan pantat. Bagi subjek yang merasa mempunyai tubuh
ideal mengatakan bahwa bagian tubuh yang membuat mereka nyaman
antara lain rambut panjang, tangan, kuku panjang, dan ukuran perut.
Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal menjawab bahwa
secara keseluruhan tubuh yang mereka miliki membuat mereka
percaya diri. Bagian-bagian tubuh tersebut antara lain perut, bibir,
mata, tangan, dada, pantat, wajah, dan rambut. Pada subjek yang
merasa mempunyai tubuh tidak ideal, ada yang mengatakan (1 subjek)
bahwa dirinya memiliki bagian tubuh yang membuat percaya diri yaitu
tubuh bagian atas dan perut. Sedangkan 1 subjek lainnya menjawab
ada bagian tubuh yang membuat dirinya tidak percaya diri yaitu dada
dan lengan.
Tabel 3
Penilaian diri mengenai bagian tubuh (paling menarik)
Tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal
bagian tubuh paling 13.13; mata 34.12 mata
Menarik 44.11 3.6 perut rata
3.6 tangan
13.13 perut 3.7 pantat
23.8 rambut 3.8 bentuk badan
23.14 warna kulit 3.9 wajah
23.16 bentuk tubuh
Tabel 4
Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang nyaman atau tidak nyaman)
tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal
bagian tubuh NYAMAN
yang… 24.21 rambut panjang 4.16 bahu
25.1 tangan
25.4 kuku panjang
25.5; ukuran perut
14.11
TIDAK NYAMAN
45.12 perut tidak rata 35.2; dada
45.19 lengan besar 4.21
35.7 lengan
4.25 perut
4.29 paha
4.29 pantat
Tabel 5
Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang membuat percaya diri/tidak percaya diri)
tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal
bagian tubuh yang PERCAYA DIRI
membuat… 26.3; perut 6.9 tubuh bagian atas
15.11 6.10 perut
47.25; bibir
15.12
15.12 mata
26.3 tangan
48.2 dada berisi
48.3 pantat
48.6 wajah
26.3 rambut
TIDAK PERCAYA DIRI
36.19 dada
41
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri
i. Eksternal
Segala informasi yang diperoleh subjek mengenai tubuh ideal
didapatkan dari berbagai cara. Hal-hal yang berasal dari luar diri
subjek yaitu: Hampir semua menjawab bahwa informasi didapat dari
media elektronik (televisi, internet, dan radio), media cetak (majalah
dan buku), dan diskusi bersama teman misalnya pengalaman yang
berasal dari teman yang memiliki tubuh ideal. Namun, dari subjek
yang merasa tubuhnya ideal juga mengatakan bahwa sumber informasi
yang didapatkan berasal dari penyuluhan kesehatan. Selain itu, hal
yang mempengaruhi subjek dalam menilai dirinya ideal antara lain
adanya pujian dari orang lain, enak dilihat oleh orang lain, dan tidak
ada keluhan saat menari.
Pada jawaban subjek mengenai alasan merasa nyaman maupun
alasan menjadi percaya diri terhadap tubuh tampak memiliki
kesamaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hal yang membuat
subjek merasa nyaman atau percaya diri adalah persepsi orang lain
yaitu berupa penilaian teman terhadap tubuh subjek yang dirasa cukup
ideal, pandangan bahwa subjek tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus,
dan orang lain berpendapat bahwa subjek memiliki penampilan yang
menarik. Persepsi orang lain yang telah disebutkan tersebut, dapat juga
membuat subjek menjadi merasa percaya diri ketika berada di tempat
umum. Salah satu contoh persepsi orang lain yang dimaksud oleh
”Soalnya tuh...kalo misal latian, misal lagi nge-dance ngeliatnya enak...misal ketika istilahnya, ketika tampil di depan orang banyak, ketika ngajar mereka selalu berpendapat your body is good lah...” (subjek 2, lamp. D, h. 13, 8)
ii. Internal
Sedangkan faktor yang mempengaruhi subjek yang berasal dari
dalam dirinya antara lain: subjek merasa dirinya proposional sehingga
mereka merasa memiliki tubuh yang ideal, merasa telah menjaga dan
merawat dirinya, dan merasa berpenampilan menarik. Hal tersebut
membuat subjek merasa memiliki tubuh yang ideal.
Hal yang membuat subjek merasa percaya diri dan nyaman dengan
tubuhnya yaitu ada bagian tubuh subjek yang menarik misalnya warna
kulit dan model rambut, subjek mudah menggunakan baju, dan subjek
merasa dengan menari membuat nyaman tubuh sebab saat menari akan
membuat tubuh bergerak dan lebih terasa sehat. Subjek juga merasa
percaya diri ketika berada di tempat umum dengan merasa bangga
memiliki tubuh yang kecil/mungil sehingga tidak malu untuk
memperlihatkan tubuh yang menarik dan subjek memiliki aura tubuh
yang baik. Selain itu, hal yang membuat subjek menjadi percaya diri di
tempat umum yaitu subjek mempersiapkan diri sebelum pergi
misalnya dengan menyesuaikan dengan baju yang digunakan.
Pada subjek yang merasa mempunyai tubuh tidak ideal merasa
kecewa dengan dirinya karena memiliki tubuh yang tidak tinggi dan
memiliki dada yang tidak ”berisi”. Hal tersebut membuat subjek
43
ideal ini, menjawab bahwa subjek merasa tidak nyaman dengan tubuh
yang dimiliki. Subjek memiliki perasaan minder/malu pada tubuhnya
sendiri karena mereka merasa memiliki badan yang berukuran kecil
sehingga pada saat menari pun merasa tidak nyaman. Selain itu, subjek
juga membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun, subjek yang
merasa tidak ideal juga berpikir positif sehingga subjek dapat merasa
nyaman terhadap tubuhnya dan berusaha akan percaya diri. Salah satu
pernyataan subjek yang tampak berpikir positif adalah:
”Ya karena menurut aku ya..audience itu gak cuma ngliat apa yang
dari dipake dancer-nya, mereka juga liat koreo, kan itu cuma
Tabel 6
Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara internal faktor yang Hal,bar
mempengaruhi
14.18; merasa ideal/proporsional
25.1 22.28; 13.12; 15.1
25.11; kulit cerah
26.1
36.7; bangga tampak kecil/mungil 14.19
2.24 kecewa tubuh tidak tinggi
34.7 dada tidak berisi
36.9 membandingkan dengan orang lain
36.13 minder/malu
22.29 menjaga dan merawat diri
23.4 berpenampilan menarik
24.17 mudah menggunakan baju 14.1 menari membuat nyaman tubuh 47.12 mempersiapkan sebelum pergi
35.1 merasa terlalu kurus
4.17 berpikir positif
45
Tabel 7
Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara eksternal
faktor yang Hal,bar
mempengaruhi
25.12; persepsi orang lain 24.17; 5.18; 47.22
22.21; media cetak (majalah,buku) 43.19;
33.14
43.17; media elektronik
22.21; (TV, internet,radio)
33.14 2.1
33.16; diskusi bersama teman 2.4; 22.15
44.13; ada pujian dari orang lain 13.12
25.11; enak dilihat orang lain 44.13
47.10; pakaian yang sesuai 25.15;
43.18 penyuluhan kesehatan
44.4 tidak ada keluhan saat menari
3. Pengaruh citra tubuh terhadap individu
i. Kepercayaan diri
Bagi subjek yang merasa mempunyai tubuh tidak ideal, hal-hal
yang dirasakan ketika subjek menilai dirinya tidak ideal adalah merasa
minder/malu apalagi saat menari karena menggunakan baju yang
minim sehingga muncul keinginan untuk memiliki tubuh yang ideal.