• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skrip uk Memenu leh Gelar S gram Studi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Skrip uk Memenu leh Gelar S gram Studi"

Copied!
185
0
0

Teks penuh

(1)

DESKR

P

RIPSI CI

Diaj

PROGRAM

ITRA TU

jukan untu Memperol Prog

Paul N

M STUDI P FAK UNIVERS Y

BUH PAD

Skrip

uk Memenu leh Gelar S gram Studi

Oleh lina Patria NIM : 0591

PSIKOLOG ULTAS PS SITAS SAN YOGYAKA

2011

DA PENA

si

uhi Salah Sa Sarjana Psi

i Psikologi

:

Satyawati 114034

GI JURUSA SIKOLOGI NATA DHA

ARTA 1

ARI TAR

atu Syarat kologi

AN PSIKO I

ARMA

RIAN SEK

(2)

i Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh :

Paulina Patria Satyawati NIM : 059114034

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)

iv

I am beautiful no matter what they say, Words can’t bring me down, I am beautiful in every single way, Yes….. words can’t bring me down……

- Christina Aguilera-

Perempuan tidaklah harus bertubuh indah

tetapi,

Dia harus punya hati untuk menjadi berarti

(6)

v

Karya ini kupersembahkan untuk :

Bapak, ibu, dan adik ku tercinta...

&

(7)
(8)

vii ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra tubuh penari tarian seksi, melihat dampak citra tubuh yang dimiliki, dan melihat apakah para penari tarian seksi memiliki perilaku tertentu dalam menjaga tubuhnya. Subjek penelitian berjumlah 5 orang, semua perempuan, berusia 19-25 tahun, dan tergabung dalam kelompok penari tarian seksi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 5 subjek, ada 2 subjek yang merasa bahwa tubuhnya tidak ideal dan 3 subjek lainnya merasa ideal, tetapi secara umum semua subjek masih merasa memiliki kekurangan pada tubuh yang dimilikinya. Subjek merasa harus tampil cantik karena kecantikan bagi mereka merupakan daya jual sebagai penari. Dengan dimilikinya pandangan demikian, subjek melakukan berbagai macam hal untuk mempertahankan atau menjaga penampilan mereka. Mengenai perilaku yang dilakukan subjek terkait merawat ataupun menjaga penampilan tampak tidak ada perbedaan antara subjek yang merasa dirinya ideal maupun yang tidak ideal. Oleh karena itu, tampak bahwa semua subjek melakukan perawatan pada tubuh mereka.

(9)

viii

THE DESCRIPTION OF BODY IMAGE OF SEXY DANCERS

Paulina Patria Satyawati

ABSTRACT

This aims of this study are to describe the body image of sexy dancer, to know the effect of body image itself, and to know whether the sexy dancers have certain behaviors in caring their body. This study is conducted on 5 female subjects, aged 19-25 years old, who are joined in the sexy dancer groups. The data is collected by interview. Based on this study, the writer concludes that from 5 subjects, there are only 2 subjects who feel that their body is not ideal and 3 other subjects feel their body is ideal, but in general all the subjects still less in physically. Moreover, they feel that they must look beautiful because in their opinion the beauty is selling power as a dancer. In this point of view, the subjects do a lot of things to maintain or protect their appearance. There are no differences between the ideal subject and the not ideal subject at their behavior in caring and protecting their appearance. Therefore, all of the subjects give special treatment to their body.

(10)
(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan yang ada di surga, akhirnya karya tulis ini bisa terselesaikan. Proses di dalam penyelesaian penelitian ini tidaklah mudah, tetapi karena ada bantuan dari berbagai pihak, saya menjadi merasa mampu untuk melaluinya. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati saya ingin mengucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. selaku dosen pembimbing dalam skripsi, atas nasehat, saran, dan kesabaran dalam proses penulisan skripsi ini, saya mengucapkan banyak terima kasih.

2. Bapak dan ibu tercinta yang telah membesarkan, mendidik dan tak pernah berhenti memberikan doa, kasih sayang, dorongan, motivasi, dukungan materi dan moral serta ketulusan disepanjang hidupku.

3. Adikku yang memberikan semangat serta dukungan walau pelit ☺

4. Mas Iwan buat waktunya.. yang mau diganggu saat di ISI. Terima kasih

buat buku dan segala ceritanya..

5. Desi, Ria, Wurinadya, Maya, Elisa, Maestri, dan Ajeng...terima kasih telah meluangkan waktu demi penelitianku ini.. thank’s juga udah bisa nari sama kalian..

6. sumarJIYanto, saking banyaknya dan sampai lupa apa aja...jadi, makasih buat semuanya yah ☺

7. Nana, Andika, mas Wawan, Niken, Putri, mbak Dika, mbak Nila, Uthe,

mbokdee, Citra, Bagong, mbak Nikma.. terima kasih buat dukungan, waktu, tenaga, cerita, pinjaman buku, semuanya lah.... Makasiih yaaa...

8. semua teman dan saudaraku...terima kasih atas doa-nya.

(12)

xi

penulis berterima kasih atas kritik dan saran yang membangun, harapan penulis

semoga penelitian ini dapat berguna bagi semua pihak yang berkepentingan untuk

dapat menambah ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, Januari 2011

(13)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PESETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PEGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II. LANDASAN TEORI ... 8

A. Persepsi ... 8

1. Pengertian persepsi ... 8

2. Faktor yang mempengaruhi persepsi ... 9

B. Citra Tubuh ... 11

1. Pengertian citra tubuh ... 11

2. Komponen citra tubuh ... 13

(14)

xiii

a. Dampak negatif ... 18

b. Dampak positif ... 21

6. Usia dan citra tubuh ... 22

C. Seni Tari ... 22

1. Pengertian tari ... 22

2. Perkembangan seni tari ... 23

3. Pengertian tarian seksi (sexy dance) ... 24

4. Penari tarian seksi ... 25

BAB III. METODE PENELITIAN ... 28

A. Strategi Penelitian ... 28

B. Latar belakang peneliti ... 29

C. Pengumpulan data ... 30

a. Subjek penelitian ... 30

b. Cara pengambilan data ... 31

D. Prosedur analisis data ... 32

E. Kredibilitas penelitian ... 34

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35

A. Deskripsi tema umum ... 35

1. Deskripsi citra tubuh ... 35

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri ... 41

3. Pengaruh citra tubuh terhadap individu ... 45

B. Pembahasan ... 51

1. Deskripsi citra tubuh ... 54

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri ... 56

(15)

xiv

BAB V. KESIMPULAN ... 63

A. Kesimpulan ... 63

B. Saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 65

(16)

xv Tabel

1. Definisi tubuh ideal menurut subjek ... 36

2. Penilaian keidealan tubuh yang dimiliki ... 38

3. Penilaian diri mengenai bagian tubuh (paling menarik) ... 39

4. Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang nyaman atau tidak) ... 40

5. Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang membuat percaya diri atau tidak percaya diri) ... 40

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara internal ... 44

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara eksternal ... 45

8. Pengaruh citra tubuh terhadap kepercayaan diri ... 46

9. Hal-hal yang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan rasa nyaman ... 47

10. Perilaku dalam menjaga penampilan ... 49

11. Motivasi untuk membandingkan dengan orang lain ... 52

12. Alasan menjaga penampilan ... 53

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Suatu hiburan memang tidak pernah lepas dari kehidupan kita

sehari-hari. Salah satu bentuk hiburan yang dapat dinikmati adalah tarian.

Tarian adalah salah satu bentuk seni yang dapat dengan mudah ditemukan

dalam tiap tempat (Maharani, 2006). Namun, ada beberapa jenis tarian dapat

dijadikan suatu hiburan yaitu jenis tarian yang menitikberatkan hiburan atau

kesenangan sehingga disebut sebagai tari hiburan. Dalam tarian hiburan yang

terpenting adalah penari bergerak sepuasnya sesuai dengan alunan irama yang

diikutinya (Karwati, 2009). Dengan begitu penari juga merupakan faktor

pendukung yang tak terpisahkan di dalam dunia hiburan (Augusta, 2006).

Sebagai seorang penari, mereka mempunyai tuntutan harus berada

dalam kondisi fisik yang baik sebelum tampil di atas panggung. Selain itu,

penari juga harus mempersiapkan penampilan dirinya yang meliputi merias

wajah hingga tubuh. Postur tubuh yang baik bagi seorang penari masa kini

adalah postur tubuh yang ramping (Augusta, 2006). Kondisi tubuh penari yang

ideal tentulah sangat diharapkan, demi kesempurnaan penampilan. Kondisi

tubuh merupakan hal penting dalam suatu tari karena penari langsung

menampilkan dirinya sebagai media ungkap (Wardhana, 1990). Keadaan

tersebut tidak jarang membuat kondisi para penari menjadi kurang percaya

(18)

Ketidakpercayaan diri tersebut bermula dari keinginan untuk

tampil sempurna ketika berada di atas panggung. Adanya ketakutan bila diri

mereka kurang menarik ketika tampil. Salah satunya adalah bentuk tubuh yang

dirasa kurang ideal dan tidak menarik. Walaupun sebenarnya kondisi tubuh

yang ideal juga berasal dari pandangan masyarakat. Ketika informasi

mengenai tubuh ideal begitu gencar, masyarakat pun menganggap apa yang

disajikan itulah yang dianggap ideal karena penampilan sangat penting bagi

seorang manusia (“My Body is a Wonderland”, 2009).

Perasaan yang diliputi ketidakpercayaan diri tersebut umumnya

dirasakan oleh para penari. Begitu juga dengan penari tarian seksi (sexy dancer). Tarian seksi (sexy dance) merupakan salah satu bentuk dari tari hiburan. Penari di dalam tarian seksi memiliki karakteristik yang berbeda

dengan para penari tarian yang lain. Kehadiran tarian seksi menjadi suatu

pertunjukkan yang populer di kalangan pengunjung hiburan malam. Para

penari ini terkadang menampilkan aksi-aksi sensual ketika berada di atas

panggung (”Dilema Hiburan”, 2007). Salah satu daya tarik panggung

kehidupan malam adalah hadirnya penari tarian seksi. Belakangan ini,

kehadiran para penari seksi dalam suatu acara peluncuran produk juga sering

dijumpai.

Tarian seksi sangat berbeda dengan jenis tarian pada umumnya.

Tarian ini hampir selalu identik dengan pakaian yang minimalis dan gerakan

yang seakan-akan mempunyai tujuan untuk menaikkan birahi para

(19)

3

pakaian yang menjadi standar bagi mereka. Hal ini sejalan dengan yang

diungkapkan oleh Rina bahwa kostum untuk para penari terkesan sangat

minim bila dikenakan (”Live to Dance”, 2005).

Tidak mengherankan bila seorang penari tarian seksi juga

menginginkan tubuhnya ideal karena mereka juga menggunakan tubuhnya

untuk tampil di depan umum. Hal tersebut sama seperti yang diungkapkan

oleh Silvie (”Sexy Dancer”, 2008) dalam majalah popular bahwa dirinya

mengaku tidak percaya diri dengan dadanya apalagi saat menari karena

menurut dirinya itu kurang bagus. Silvie sudah sekitar 3 tahun menggeluti

dunia tarian seksi tetapi dirinya masih kurang percaya diri saat membawakan

tarian tersebut.

Pada umumnya seorang perempuan tanpa memiliki profesi sebagai

penari sebenarnya juga sangat memperhatikan kondisi fisiknya. Perempuan

dikonstruksi harus berpenampilan selalu cantik dengan mengkonsumsi

berbagai produk yang dapat mewujudkan kecantikannya. Oleh karena itu,

wanita juga tidak jauh dari hal yang berbau kecantikan. Kulit yang putih,

rambut hitam panjang dan lurus serta badan yang seksi semuanya dijejalkan

pada kaum perempuan untuk diikuti. Seolah-olah perempuan dengan

penampilan tersebut yang dapat diterima masyarakat (Susanto, 2005). Salah

satu ukuran kecantikan yang banyak mendapatkan perhatian kaum perempuan

adalah bentuk tubuh (Cahyaningtyas, 2009).

Dalam penelitian yang dilakukan Liestyasari (Susanto, 2005)

mengenai kosmetika dan perawatan tubuh perempuan ditemukan bahwa

(20)

perempuan karena keinginan untuk tampil wangi, cantik, dan enak dilihat oleh

orang lain selain juga menambah rasa percaya diri mereka. Bagi kaum wanita

ada beberapa hal yang menimbulkan kepercayaan bahwa jika mereka tidak

memiliki tubuh yang ideal, maka mereka tidak akan diterima oleh masyarakat

dan memperoleh penilaian yang positif dari lingkungannya (Sumali, Sukamto,

& Mulya, 2008).

Kita semua memiliki bayangan tentang bagaimana bentuk tubuh

yang kita inginkan. Seringkali bayangan tentang tubuh kita sangat berbeda

dari tubuh kita yang sebenarnya. Sikap dan kepercayaan terhadap jenis tubuh

ideal ini kita pelajari dari semua gambar yang ada di sekitar kita misalnya

berbagai media yang ada dan keyakian atau pandangan yang dimiliki

orang-orang yang kita kagumi dan kita sukai (Dervill & Powell, 2001).

Segala pikiran, perasaan, atau pandangan seseorang terhadap

tubuhnya tersebut merupakan bentuk dari citra tubuh (Grogan, 1999). Dari

penelitian yang dilakukan Augusta (2006), populasi penari wanita diduga

rentan terhadap masalah citra tubuh. Menurut Thompson (dalam Thompson,

Heinberg, Altabe, 1999) representasi internal terhadap penampilan luar atau

persepsi unik individu terhadap tubuhnya ini dapat bersifat positif maupun

negatif. Seseorang akan mempersepsi bentuk tubuh menurut dirinya sendiri.

Persepsi merupakan penginterpretasian yang dterima oleh individu sehingga

merupakan sesuatu yang berarti (Walgito, 2003). Berdasarkan pengalaman,

keinginan, ataupun kebutuhan maka seseorang akan melakukan persepsi

mengenai bentuk tubuh hingga akhirnya citra tubuh dalam dirinya dapat

(21)

5

Orang yang memiliki citra tubuh yang positif mencerminkan

tingginya penerimaan jati diri, rasa percaya diri dan kepeduliannya terhadap

kondisi badan dan kesehatannya sendiri. Sedangkan salah satu ciri orang

dengan citra tubuh negatif adalah orang yang tidak merasa nyaman dan kurang

percaya diri dengan kondisi tubuhnya sendiri. Rendahnya rasa percaya diri

pada individu disebabkan karena perasaan tidak puas akan bentuk tubuhnya

(Asri & Setiasih, 2004).

Masih banyak wanita yang kurang puas terhadap penampilan diri

mereka sendiri. Menurut Hadisurya (dalam Cahyaningtyas 2009)

ketidakpuasan sosok tubuh termasuk dalam citra tubuh yang negatif yaitu

ketidakpuasan pada bentuk-bentuk khusus dari tubuhnya ataupun pada

penampilan keseluruhan. Pada survei untuk majalah People 4 September 2000

dalam artikel ”How do I Look?” hasilnya hanya 20% wanita yang

menunjukkan puas dengan tubuh mereka (Powell & Payne, 2007).

Orang yang memiliki citra tubuh yang positif akan mencerminkan

tingginya penerimaan jati diri, rasa percaya diri, dan kepeduliannya terhadap

kondisi badan dan kesehatannya sendiri. Sedangkan salah satu ciri orang

dengan citra tubuh yang negatif adalah orang yang tidak merasa nyaman dan

kurang percaya diri dengan kondisi tubuhnya sendiri. Rendahnya rasa percaya

diri tersebut disebabkan karena perasaan tidak puas akan bentuk tubuhnya

(Asri & Setiasih, 2004). Dampak negatif pada orang yang mengalami

ketidakpuasan pada tubuhnya akan mengalami preokupasi terhadap kecantikan

sehingga timbul permasalahan kesehatan fisik antara lain gangguan makan,

(22)

Gangguan makan merupakan karakteristik pola makan yang terganggu dalam

mengontrol badan karena seseorang memiliki citra tubuh yang negatif. Bentuk

dari gangguan makan yaitu anorexia nervosa dan bulimia nervosa yang

umumnya diderita oleh wanita muda (Hufman, J Vernoy, & M Vernoy, 1997).

Pada dunia tari, penari wanita umumnya lebih rentan terhadap diet dan

penyebaran teknologi lain yang tidak sehat sebagai usaha untuk memperbaiki

tubuh (Planey dalam Augusta, 2006).

Oleh karena itu, berdasarkan uraian sebelumnya peneliti ingin

melihat bagaimanakah citra tubuh pada penari tarian seksi karena kecantikan

dan bentuk tubuh lekat dengan diri mereka. Bila bagi penari tubuh dan

penampilannya kurang menarik tetapi mereka mampu menerima kondisi

fisiknya dan tidak terjadi perilaku menyimpang maka hal ini tidak menjadi

masalah karena penari tersebut memiliki citra tubuh yang positif. Apabila

terjadi sebaliknya, dengan penampilan yang dirasa kurang oleh dirinya sendiri

dan penari justru melakukan berbagai cara agar dirinya semakin merasa

nyaman dan percaya diri tinggi maka citra tubuh yang dimiliki penari tersebut

termasuk negatif.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana citra tubuh penari tarian seksi dan apa dampak dari citra tubuh

(23)

7

C. Tujuan Penelitian

a) Mendeskripsikan citra tubuh penari tarian seksi.

b) Melihat dampak citra tubuh yang dimiliki terhadap diri penari tarian seksi.

c) Melihat apakah para penari tarian seksi memiliki perilaku tertentu dalam

menjaga tubuhnya.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

a. Menambah wawasan dalam bidang psikologi mengenai citra tubuh,

khususnya pada penari seksi dan dapat dipergunakan sebagai literatur

dalam penelitian yang relevan di masa datang.

b. Memperoleh gambaran citra tubuh penari tarian seksi

c. Memperoleh gambaran perilaku penari seksi berkaitan dengan citra

tubuh yang dimilikinya.

d. Memperoleh gambaran mengenai dampak citra tubuh terhadap diri.

2. Manfaat Praktis

Bila ternyata hasil yang muncul berupa citra tubuh negatif menurut penari

tarian seksi, dan berdampak negatif pula terhadap diri mereka, maka

diharapkan para penari mulai menyadari bahwa dengan citra tubuh yang

negatif tidak akan mengutungkan diri sendiri bahkan bila tidak disadari

akan menjadi masalah yang serius. Sedangkan bagi masyarakat, dapat

dijadikan pandangan mengenai isu citra tubuh yang terjadi sehingga

(24)

8 A. PERSEPSI

1. Pengertian Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh

penginderaan. Penginderaan itu sendiri merupakan suatu proses

diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera

di mana stimulus dapat berasal dari dalam maupun luar diri individu

(Walgito, 2003).

DeCenzo dan Silhanek (2002, h.58), mendefinisikan persepsi

sebagai :

a process by which an individual organizes and interprets sensory impressions to give meaning to his or her environment

Menurut Sarwono (2009) persepsi adalah kemampuan untuk

membeda-bedakan, mengelompokkan, memfokuskan stimulus yang

ditangkap oleh otak dan di dalamnya terjadi proses berpikir yang pada

akhirnya terwujud sebuah pemahaman. Menurut Walgito (2003) persepsi

merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus

yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu

yang berarti, dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri

individu.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian

mengenai persepsi yaitu suatu kemampuan individu untuk memproses

(25)

9

persepsi, individu dapat menyadari, mengerti tentang keadaan lingkungan

di sekitar, dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan

(Davidoff dalam Walgito, 2003). Bila yang dipersepsi dirinya sendiri

sebagai objek persepsi, inilah yang disebut persepsi diri (self-perception). Dalam mempersepsi diri sendiri, orang akan dapat melihat bagaimana

keadaan dirinya sendiri, mengerti bagaimana keadaan dirinya sendiri, dan

mengevaluasi dirinya sendiri (Walgito, 2003).

2. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Faktor yang mempengaruhi terjadinya persepsi ada dua yaitu faktor

internal dan eksternal (Walgito, 2003).

a) Faktor eksternal

Yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu, antara lain : stimulus,

sistem nilai, dan lingkungan.

i. Stimulus. Agar stimulus dapat dipersespsi, maka stimulus harus

cukup kuat, stimulus harus melampaui ambang stimulus, yaitu

kekuatan stimulus yang minimal tetapi sudah dapat menimbulkan

kesadaran dan dapat dipersespsi oleh individu.

ii. Sistem nilai. Persepsi menimbulkan keyakinan dan keyakinan

menimbulkan nilai. Sistem nilai merupakan keyakinan yang

terbentuk dari waktu ke waktu dengan mengambil dan memproses

ribuan lembar informasi dari berbagai sumber (DeCenzo &

Silhanek, 2002). Sumber-sumber informasi ini berasal dari semua

(26)

teman-teman, media, seseorang yang penting/signifikan, guru, dunia

hiburan, dan keyakinan pribadi.

iii. Lingkungan. Lingkungan atau situasi yang melatarbelakangi

stimulus juga akan berpengaruh dalam persepsi.

b) Faktor internal

Yaitu faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, antara lain apa

yang ada dalam diri individu seperti pengalaman, perasaan,

kemampuan berpikir, kerangka acuan, dan motivasi akan

mempengaruhi seseorang dalam melakukan persepsi. Banyaknya

faktor yang mempengaruhi persepsi, maka sering kali juga terjadi

perbedaan persepsi antara satu orang dengan orang lain atau antara

kelompok satu dengan kelompok yang lain. Hal-hal yang dapat

menyebabkan perbedaan persepsi antar individu maupun kelompok

adalah sebagai berikut (Sarwono, 2009) :

a) Perhatian

Kita tentunya tidak mampu menyerap seluruh rangsangan yang ada di

sekitar karena keterbatasan daya serap dari persepsi kita. Oleh karena

itu, individu hanya mampu memusatkan perhatian pada satu atau dua

objek saja.

b) Set

(27)

11

c) Kebutuhan

Kebutuhan yang menetap pada diri seseorang akan mempengaruhi

persepsinya. Dengan demikian, kebutuhan yang berbeda akan

menyebabkan perbedaan persepsi.

d) Sistem Nilai

Sistem nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat yang sudah

diinternalisasikan dalam individu berpengaruh pula terhadap persepsi.

e) Tipe Kepribadian

Tipe kepribadian seseorang juga akan menpengaruhi persepsi sehingga

memungkinkan adanya perbedaan persepsi.

f) Gangguan Kejiwaan

Sebagai gejala normal, ilusi berbeda dari halusinasi dan delusi, yaitu

kesalahan persepsi pada penderita gangguan jiwa. Penyandang gejala

halusinasi seakan-akan melihat atau mendengar sesuatu dan ia percaya

betul bahwa yang dilihatnya itu realita

B. CITRA TUBUH

1. Pengertian Citra Tubuh

Berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan daya tarik fisik,

seseorang akan mengembangkan pikirannya terhadap bentuk tubuhnya.

Hal tersebut dapat dikarenakan ukuran kecantikan yang banyak

mendapatkan perhatian adalah bentuk tubuh (Cahyaningtyas, 2009).

Hardy dan Hayes (dalam Purwaningrum, 2008) menjelaskan

(28)

dengan sifat fisik. Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri

sendiri oleh individu yang bersangkutan. Aspek utama dalam konsep diri

yaitu citra tubuh. Citra tubuh dikembangkan melalui pola interaksi dengan

orang lain.

Ada berbagai macam penjelasan mengenai konsep citra tubuh

sebagai persepsi yang dilakukan individu terhadap tubuhnya. Thompson,

Heinberg, Altabe, & Tantleff (2002, h.4) mengatakan citra tubuh sebagai:

“…the internal representation of your own outer appearance-your unique perception of appearance-your body”

Selain itu oleh Grogan (1999, h.1), citra tubuh didefinisikan sebagai:

“a person’s perceptions, thought and feelings about his or her body”

Schilder (dalam Grogan, 1999, h.1) juga mendefinisikan citra tubuh

sebagai:

“the picture of our own body which we form in our mind, that is to say, the way in which the body appears to ourselves”

Sedangkan menurut Hargreaves & Tiggemann (2009, h.568), citra tubuh

merupakan:

“an individual’s thoughts and feelings about their body and physical appereance”

Menurut National Eating Disorders Association (2005) citra

tubuh adalah bagaimana seseorang melihat dirinya di cermin atau

bagaimana gambaran diri seseorang di dalam pikirannya; apa yang

(29)

13

dan pandangan umum; bagaimana seseorang merasakan bentuk tubuhnya

termasuk di dalamnya bentuk, tinggi, dan berat; dan bagiamana seseorang

mengontrol tubuhnya sebagaimana dirinya bergerak.

Jersild (dalam Widyaningsih, 1997) mendefinisikan citra tubuh

adalah tingkat kepuasan individu terhadap bagian-bagian tubuh

penampilan fisik keseluruhan. Tubuh secara langsung mempengaruhi

kuantitas dan kualitas perilaku seseorang dan secara tidak langsung

mempengaruhi individu dalam mengevaluasi diri. Evaluasi tersebut

menimbulkan perasaan senang atau tidak senang terhadap keadaan

tubuhnya. Citra tubuh juga dapat diartikan sebagai sikap seseorang

terhadap tubuhnya baik sadar maupun tidak sadar (Salbiah, 2003).

Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa citra

tubuh adalah gambaran seseorang mengenai penampilan fisik dan perasaan

yang menyertainya, baik terhadap bagian-bagian tubuhnya maupun

terhadap keseluruhan tubuh berdasarkan penilaian diri sendiri.

2. Komponen Citra Tubuh

Menurut Thompson, dkk (2002), citra tubuh memiliki 3 komponen

penting, yaitu:

a. Komponen persepsi: merupakan ketepatan individu dalam

mempersepsi atau memperkirakan tubuhnya

b. Komponen kognitif: terdiri dari harapan yang tidak realistik

untuk membentuk suatu penampilan misalnya berkeinginnan

(30)

c. Komponen behavioral (tingkah laku): menitikberatkan pada penghindaran terhadap situasi yang menyebabkan individu

mengalami ketidaknyamanan yang berhubungan dengan

penampilan fisik

Sedangkan menurut Schilder (Grogan, 1999) citra tubuh memiliki

3 komponen, yaitu: perkiraan ukuran tubuh (persepsi), evaluasi

penampilan tubuh (pikiran), dan emosi yang berhubungan dengan ukuran

dan bentuk (perasaan/afektif). Dari penjelasan tersebut dapat diperoleh

bahwa citra tubuh memiliki komponen persepsi, kognitif, perasaan/afektif,

dan tingkah laku.

3. Faktor yang Mempengaruhi Citra Tubuh

Salbiah (2003) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi

citra tubuh seseorang antara lain :

a. Operasi, seperti bekas luka pada operasi yang akan mengubah

gambaran diri seseorang

b. Kegagalan fungsi tubuh, misalnya tuli, buta, dan sebagainya yang

dapat mengakibatkan seseorang merasa asing dengan tubuhnya sendiri

c. Waham yang berkaitan dengan bentuk tubuh, misalnya pandangan

tertentu terhadap tubuh

d. Perubahan pada tubuh, seiringnya bertambahnya usia maka, kondisi

tubuh seseorang juga akan berubah. Ada berbagai respon baik negatif

(31)

15

Ketidakpuasan dapat terjadi apabila individu merasa jauh dari bentuk

idealnya.

e. Umpan balik interpersonal yang negatif, yaitu adanya makian atau

celaan yang membuat seeorang menarik diri terhadap lingkungan

f. Standar sosial budaya. Latar belakang budaya yang berbeda-beda pada

setiap orang mampu mempengaruhi gambaran diri individu, seperti

perasaan minder ketika bertemu orang lain. Misalnya seperti pada

budaya Barat yang sangat menekankan tubuh yang langsing sebagai

tubuh yang ideal (Anggardini & Anam, 2008). Menurut Sukamto

(dalam Cahyaningtyas, 2009) bahwa citra tubuh ideal di Indonesia

cenderung mengadopsi citra tubuh di Negara Barat.

Sedangkan menurut Schonfeld (dalam Purwaningrum, 2008) faktor

yang mempengaruhi citra tubuh antara lain:

a. Reaksi orang lain. Manusia selalu memiliki keinginnan untuk dapat

diterima oleh orang lain. Dirinya akan memperhatikan pendapat atau

reaksi yang dikemukakan oleh lingkungan terutama mengenai bentuk

fisik.

b. Perbandingan dengan orang lain atau perbandingan dengan cultural idea.

Seorang perempuan akan lebih peka terhadap penampilan diri dan selalu

memiliki keinginnan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain.

c. Identifikasi terhadap orang lain. Beberapa orang merasa perlu untuk

mengubah dirinya agar serupa dengan atau mendekati idola yang

dianut agar merasa lebih baik dan bisa menerima keadaan fisiknya

(32)

Berdasarkan faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi citra tubuh antara lain:

1. Faktor sosial; di setiap lingkungan memiliki standard tertentu dalam

menentukan tubuh yang dirasa ideal

2. Reaksi atau umpan balik orang lain; terjadi karena seseorang akan selalu

memperhatikan pendapat orang lain

3. Identifikasi terhadap orang lain; terjadi bila seseorang berupaya untuk

mengubah dirinya agar serupa dengan atau mendekati idolanya

4. Pemahaman yang dipegang tentang tubuh; keinginan terhadap bentuk

tubuhnya sehingga menjadi suatu pemahaman mengenai bentuk tubuhnya

5. Kegagalan fisik atau fungsi tubuh; akan mempengaruhi apabila ada

bagian tubuh yang kurang atau tidak berfungsi misalnya terjadi amputasi

pada kaki

4. Jenis Citra Tubuh

Berdasarkan National Eating Disorders Association (2005), citra tubuh terbagi menjadi dua jenis yaitu positif dan negatif. Citra tubuh

positif memiliki karakteristik sebagai berikut :

a. Persepsi yang benar mengenai bentuk tubuh, segala macam bagian

tubuh yang dilihat adalah benar adanya;

b. Menghargai dan bangga pada bentuk alami tubuh dan mengerti bahwa

penampilan fisik seseorang menunjukkan karakter serta berharganya

seseorang tersebut;

(33)

17

d. Merasa bangga dan menerima tubuhnya yang unik serta menolak

beberapa alasan yang tidak masuk akal mengenai ketakutan terhadap

makanan, berat badan, dan kalori.

Sedangkan jenis citra tubuh yang negatif memiliki karakteristik sebagai

berikut:

a. Distorsi persepsi mengenai bentuk, merasa tidak menyukai bagian dari

keseluruhan tubuh yang sebenarnya;

b. Merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya sendiri;

c. Merasa cemas dan malu dengan tubuhnya;

d. Merasa bahwa tubuh atau badan orang lain itu menarik dan tubuhnya

sendiri, merupakan suatu bentuk kesalahan bentuk diri.

Dengan adanya citra tubuh yang negatif, seseorang bisa menjadi

tidak puas akan bentuk tubuhnya sendiri. Menurut Hadisurya (dalam

Cahyaningtyas, 2009) ketidakpuasan bentuk tubuh termasuk dalam citra

tubuh yang negatif, yaitu ketidakpuasan pada bentuk-bentuk khusus dari

tubuhnya atau pada penampilan keseluruhan. Ketidakpuasan tubuh oleh

Grogan (1999, h.2) didefinisikan sebagai berikut:

“a person’s negative thoughts and felings about his or her body”

Sedangkan oleh Sumali, Sukamto, dan Mulya (2008)

ketidakpuasan pada citra tubuh didefinisikan sebagai suatu bentuk

ketidakpuasan terhadap tubuh yang merupakan hasil dari interaksi dengan

(34)

Sehingga dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan

bahwa ketidakpuasan terhadap citra tubuh adalah segala pikiran maupun

persepsi negatif, dan tingkah laku/sikap yang buruk mengenai keadaan

tubuhnya. Ketidakpuasan tersebut disebabkan oleh adanya kesenjangan

yang besar antara bentuk tubuh sesungguhnya dengan bentuk tubuh ideal.

Pada umumnya perempuan diharapkan tampil dengan

ukuran-ukuran (tubuh) yang diidealkan secara sosial (Abdulah, 2001). Indonesia

cenderung mengadopsi citra tubuh negara Barat di mana budaya Barat

sangat menekankan tubuh yang langsing sebagai tubuh yang ideal dan

makan yang tidak banyak mengandung lemak (Anam & Anggardini,

2008).

Kepercayaan masyarakat ini dapat mempengaruhi kepuasan

seseorang terhadap citra tubuhnya. Pengaruh sosial tersebut mampu

menguatkan seseorang menjadi merasa terlalu gemuk, padahal

sesungguhnya sudah cukup ideal, bahkan dalam beberapa kasus justru

terlalu kurus jika dibandingkan dengan badan orang lain (Darvill &

Powell, 2001).

Ketidakpuasan mendorong kaum perempuan untuk

berlomba-lomba menurunkan berat badan. Banyak cara yang dilakukan perempuan

untuk mewujudkan keinginan agar memiliki berat badan yang ideal (Asri

(35)

19

5. Dampak dari Citra Tubuh

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa penilaian

seseorang terhadap tubuhnya bisa bersifat positif maupun negatif. Oleh

karena itu, dampak dari citra tubuh juga dapat bersifat postif maupun

negatif.

a. Dampak Negatif

Perasaan kita mengenai keadaan fisik umumnya sering negatif.

Satu sama lain selalu membuat perbandingan dan seseorang tidak

pernah merasa baik dengan dirinya sendiri (Simon & Schuster, 1976).

Pada umumnya mereka membesar-besarkan kekurangan penampilan

fisik, padahal sebenarnya kekurangan tersebut hanya merupakan

imajinasi atau memang masalah nyata, tetapi merupakan masalah yang

kecil.

Adanya citra tubuh negatif berupa ketidakpuasan tubuh dapat

memunculkan dampak-dampak yang negatif pada orang yang

mengalaminya (Sumali, Sukamto, & Mulya, 2008). Ada beberapa

dampak yang muncul dari citra tubuh yang negatif yaitu gangguan

citra tubuh, gangguan makan (eating disorder), dan melakukan diet yang tidak sehat.

i. Gangguan Citra Tubuh

Citra tubuh yang negatif akan mengakibatkan individu

mengalami gangguan citra tubuh. Gangguan citra tubuh merupakan

suatu fenomena yang bersifat multidimensional, yaitu melibatkan

(36)

2002). Powers (dalam Augusta, 2006, h.26) mendefinisikan

gangguan citra tubuh sebagai berikut :

”an overestimation of actual size and shape couple with derogatory attitudes toward the misperception”

Berdasarkan definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian

bahwa gangguan citra tubuh merupkan pikiran dan perasaan

seseorang yang negatif terhadap tubuhnya disertai kesalahan persepsi

dan sikap yang buruk.

ii. Gangguan makan (eating disorder)

Gangguan makan memiliki karakteristik pola makan yang

terganggu dan cara yang maladaptif dalam mengontrol berat badan

(Nevid, Rathus, & Greene, 2005). Jenis dari gangguan makan antara

lain anorexia nervosa, bulimia nervosa,dan binge eating disorder.

Anorexia nervosa adalah penyakit yang umumnya diderita oleh kaum perempuan. Orang yang menderita penyakit ini memiliki

pandangan yang menyimpang tentang tubuh mereka. Mereka

menganggap diri mereka gemuk atau akan menjadi gemuk.

Pandangan yang menyimpang ini membuat mereka mengurangi porsi

makan mereka. Dari hari ke hari mereka akan makan dengan porsi

yang semakin sedikit dan sering ditunjukkan dengan hilangnya berat

badan sebanyak 20 hingga 25 persen dari berat badan normal

(37)

21

Anorexia nervosa juga lebih umum terjadi pada wanita muda yang berada dalam dunia tari balet atau dunia model. Anorexia dapat mengakibatkan komplikasi medis yang serius yang dalam kasus

ekstrim dapat berakibat fatal. Berkurangnya berat tubuh dapat

menimbulkan anemia (Nevid, Rathus, & Greene, 2005).

Bulimia nervosa adalah suatu gangguan makan yang memiliki karakteristik makan berlebihan yang berulang diikuti oleh

pembangkitan keinginan untuk memuntahkannya. Individu yang

menderita bulimia biasanya memiliki berat badan normal, namun,

mereka memiliki perhatian yang berlebihan mengenai bentuk tubuh

dan berat badan. Penderita bulimia biasanya mencolok tenggorokan

mereka untuk menimbulkan perasaan ingin muntah. Kebanyakan

berusaha untuk menutupi perlaku mereka (Nevid, Rathus, & Greene,

2005).

Binge eating disorder atau sering disebut gangguan makan berlebihan menunjukkan pola makan secara berlebihan berulang kali

tetapi tidak mengeluarkan makanan tersebut sesudahnya. Saat ini,

orang yang dikenakan diagnosis ini menunjukkan kondisi makan

berlebihan setidaknya 2 hari dalam seminggu dalam 3 bulan.

Penderita merasa malu bila terlihat saat makan berlebihan dan mersa

bersalah sesudahnya. Binge eating sering diasosiasikan dengan

depresi dan usaha yang gagal dalam menurunkan berat badan

sehingga mereka mempertahankannya (Nevid, Rathus, & Greene,

(38)

iii. Diet yang Tidak sehat

Banyak orang yang secara sadar menjalankan diet dengan cara

membatasi makan atau berhati-hati dalam memilih jenis makanan

(Abdulah, 2001). Ada banyak macam diet, mulai dari diet dengan

tujuan kesehatan ataupun untuk penampilan diri. Diet yang dimaksud

yaitu diet yang bertujuan untuk menurunkan berat badan sehingga

dapat mencapai berat badan yang diinginkan. Jadi diet yaitu perilaku

yang ditempuh seseorang untuk memodifikasi jumlah asupan makanan

dengan tujuan menurunkan berat badan. Modifikasi ini bisa dalam

bentuk pengurangan konsumsi makanan ataupun dengan menggunakan

cara lain seperti penggunaan obat pencahar, tablet pengganjal perut,

dan sebagainya (Hartantri, 1998).

b. Dampak Positif

Seseorang yang memiliki citra tubuh yang positif akan merasa

bahwa tubuh dan penampilannya cantik serta menarik. Walaupun

kenyataannya tubuh dan penampilannya kurang menarik, tetapi individu

tersebut dapat menerima keadaan fisik yang sesuangguhnya, karena

untuk diterima dan memperoleh pengakuan dari lingkungan tidak harus

mempunyai tubuh dan penampilan yang menarik. Dengan demikian

individu tersebut memiliki kemampuan untuk memilih perilaku yang

(39)

23

6. Usia dan Citra Tubuh

Bermula pada tahap remaja, remaja disibukan dengan tubuh

mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh

mereka (Santrock, 1995). Pada masa awal dewasa, seorang perempuan

juga tampak masih memperhatikan kondisi fisiknya. Hal tersebut juga

tampak dari kelainan makan berupa anorexia nervosa yang diderita oleh perempuan selama masa remaja dan masa awal dewasa. Namun, perhatian

khusus terhadap badan seringkali terjadi pada usia 19 dan 26. Beberapa hal

yang menjadi perhatian adalah diet, pengaturan perilaku makan, dan

pengurangan berat badan(Santrock, 1995).

C. SENI TARI

1. Pengertian Tari

Tari merupakan bagian dari kesenian. Menurut Ellfelat (1981) tari

merupakan sebuah ungkapan, sebuah pernyataan, sebuah ekspresi

dalam gerak yang memuat komentar-komentar terhadap realitas yang

tetap bertahan di benak penonton setelah pertunjukan selesai.

Wardhana (1990) mendefinisikan seni tari sebagai salah satu bidang

seni yang secara langsung menggunakan tubuh manusia sebagai media,

yang merupakan ungkapan nilai keindahan dan nilai keluhuran, lewat

gerak dan sikap tubuh, dengan penghayatan seni.

Dari definisi-defini tersebut, maka dapat diperoleh kesimpulan

bahwa seni tari adalah ekspresi jiwa manusia yang tampak dalam

(40)

2. Perkembangan Seni Tari

Menurut Wardhana (1990) di dalam suatu seni, fisik manusia

digunakan sebagai media ungkap. Bagian fisik manusia yang sangat

kuat bagi ekspresi penyaluran nilai-nilai terletak pada berbagai gerakan

tubuh.

Menurut cirinya, tari dibedakan menjadi 3 jenis yaitu:

a. Tari Kontemporer

Tari kontemporer adalah tarian yang menunjukkan daya cipta yang

hidup atau yang menunjukkan kondisi kreatif dari masa terakhir.

Tarian ini merupakan bagian dari bentuk teater yang berpura-pura

(Ellfelat, 1981).

b. Tari Modern

Lebih dikenal dengan nama modern dance. Tarian ini berpangkal pada Martha Graham dan Mary Wigman di mana bentuk tarian ini

hendak melepaskan diri dari bentuk ketat tarian ballet sehingga mengembangkan kemungkinan untuk meluaskan gerak tubuh

(Augusta, 2006)

c. Tari Tradisional

Tarian ini memperlihatkan perbedaan kebudayaan dari suatu

daerah tertentu. Di dalam tarian tradisional sesungguhnya,

pertunjukkan dilakukan pada tempat dan dalam hubungan yang

(41)

25

dengan kata lain tarian ini tidak dipertunjukkan sebagai tontonan

(Ellfelat, 1981).

Pada hakikatnya tarian bisa dilakukan oleh kondisi tubuh yang

bagaimanapun. Yang cacat tubuh pun hendaknya diberi

kesempatan, apabila ia menghendaki. Kondisi tubuh penari yang

ideal tentulah sangat diharapkan, demi kesempurnaan penampilan

(Wardhana, 1990).

Sedangkan tari dalam fungsi sosial memiliki 3 fungsi utama, yaitu

(Karwati, 2009):

a) Tari untuk kebutuhan upacara kepercayaan atau religi, disebut

tari upacara.

b) Tari untuk kebutuhan hiburan/kesenangan, disebut tari hiburan.

Tarian seksi masuk ke dalam tari hiburan ini.

c) Tarian pertunjukan, tarian ini melalui perencanaan konsep serta

penampilan hasil karya dan tertata dengan baik secara artistik

untuk mewujudkan suatu pertunjukan.

3. Pengertian Tarian Seksi (Sexy Dance)

Seiring perkembangannya, tari memiliki banyak bentuk mulai dari

tari tradisional, modern hingga sexy dance. Jenis tarian modern ini pada awalnya dikembangan oleh Martha Graham yang merupakan

seorang penata gerak. Ia menggabungkan tari tradisional dan kreasi

yang dimilikinya sendiri. Ia tidak terpaku lagi pada aturan tari

(42)

yang salah satunya tarian seksi yang merupakan salah satu bentuk dari

tarian modern. Gerakan-gerakan yang ada pada tarian tersebut

dikategorikan sebagai gerakan yang berawal dari tari modern.

Tarian sexy sering disebut juga sebagai tarian erotis (erotic dance). Berikut mengenai jenis dari tarian seksi yang biasanya dibawakan oleh

para penari yaitu (Maharani, 2006) :

a. Pole Dance

Tarian ini menjadikan tiang sebagai cirinya. Penari bebas

melakukan gerakan pada tiang yang ada di sekitarnya. Pada

tarian ini, ditemukan kombinasi antara jenis srtiptease (penari

yang pada akhirnya membuka baju saat masih menari) dan lap

dance (penari yang sambil minum atau menawarkan minuman kepada pengunjung). Para penari bebas melakukan keahlian

atletik yang dimiliki ataupun gerakan-gerakan lainnya.

b. Table Dance

Tarian ini sengaja dibawakan di atas meja bar. Penari jenis

ini, biasanya membawakan tariannya dengan bergerak mengikuti

irama musik sambil membukakan minuman pada tamu.

c. Go-go Dance

Tarian ini dikenal karena menggunakan go-go boots.

Disebut go-go boots karena alas kaki yang mereka pakai saat

menari berupa sepatu boots. Gerakan mereka cenderung

memberikan semangat atau yang menggunakan tenaga. Tarian ini

(43)

27

tarian ini tidak mengutamakan kecerdasan gerak tetapi

keindahan.

Prinsip tari modern jenis ini adalah kebebasan dari

patokan-patokan serta aturan tari yang memiliki pola. Hal ini yang menguatkan

bahwa tari modern sangat dinamis untuk dilakukan ataupun dijadikan

tontonan. Gerakan-gerakan semacam ini dapat kita jumpai di diskotek,

cafe yang menyajikan live music.

4. Penari Tarian Seksi

Penari yang membawakan jenis tarian seksi, dituntut untuk tampil

seksi. Seksi merupakan kewajiban pembawaan yang harus dimiliki

oleh seorang penari seksi untuk mendapatkan tampilan yang kuat dan

menarik setiap pasang mata. Saat pertama kali menginjakkan kaki di

panggung pentas, penari tarian seksi sudah harus berani dan tidak malu

terhadap penonton. Para penari tarian seksi tidak diperbolehkan lagi

untuk merasa malu. Salah satu ciri dari tarian seksi adalah pakaian

yang serba minimalis.

Penari dalam tarian seksi memiliki gerakan yang leluasa tanpa

pola. Setidaknya persamaan tiap penari tarian seksi ini adalah gerakan

(44)

28 A. Strategi Penelitian

Metode penelitian yang akan digunakan oleh peneliti adalah

fenomenologi interpretatif. Fenomenologi interpretatif adalah suatu metode

yang bertujuan untuk mengeksplorasi secara terperinci bagaimana para

partisipan memaknai dunia personal dan dunia sosial mereka (Smith, 2009).

Sarana pokok dalam metode ini adalah makna yang terkandung dalam

pengalaman, kejadian, dan keadaan partisipan.

Peneliti memilih metode fenomenologi interpretatif dalam penelitian

ini karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi citra tubuh

pada penari seksi. Dalam prosesnya untuk memperoleh deskripsi, peneliti

melihat dari pengalaman para penari seksi yaitu pengalaman diri mereka

mengenai penampilan fisik mereka yang mereka gunakan untuk menari. Dari

pengalaman tersebut, peneliti juga dapat menarik makna para penari seksi

mengenai tubuh mereka sendiri.

Strategi penelitian ini menggunakan cara wawancara dalam

pengumpulan data. Pertanyaan dalam wawancara disusun dengan sifat yang

petanyaan terbuka dan netral. Proses pengumpulan datanya menggunakan alat

perekam sehingga intisari dan hal-hal penting yang lain dapat terekam.

Mengenai analisisnya, terdapat proses interpretasi yang terdiri dari dua

(45)

29

kemudian peneliti mencoba untuk mengartikan kegiatan para parisipan yag

tengah mengartikan dunia mereka itu (Smith, 2009).

B. Latar Belakang Peneliti

Peneliti mengambil topik mengenai citra tubuh pada penari seksi

karena peneliti seorang penari. Menari merupakan hal yang menyenangkan

karena kegiatan tersebut sudah diikuti oleh peneliti sejak duduk di bangku TK.

Pada mulanya setiap kegiatan hingga saat pentas, peneliti tidak merasakan

adanya suatu masalah. Namun semenjak peneliti memasuki masa sekolah di

SMA, peneliti mulai melihat bahwa kostum pada peneliti terkadang kurang

pas. Karena terjadi hampir setiap kali, peneliti memilih untuk tidak

memperhatikan hal tersebut. Akan tetapi di setiap pentas, peneliti mulai

menyadari bahwa keadaan yang kurang nyaman juga dirasakan oleh

teman-teman penari yang lain. Apalagi saat peneliti sudah memasuki bangku kuliah,

peneliti menyadari bahwa teman-teman penari lebih memperhatikan masalah

penampilan diri masing-masing. Masalah lain yang terkadang juga muncul

yaitu kondisi perut yang tidak rata, wajah yang berjerawat saat pentas, dan

sebagainya.

Lama-kelamaan peneliti ingin melihat ada apa dibalik penampilan fisik

pada diri penari. Oleh karena itu peneliti mengambil konsep citra tubuh untuk

diteliti. Peneliti ingin melihat citra tubuh pada penari seksi. Menurut peneliti,

penampilan dan bentuk tubuh para penari rentan dengan masalah citra tubuh.

Para penari tarian seksi menggunakan kostum yang sangat minim dan

(46)

embel-embel kata seksi yang disandang oleh para penari. Hal-hal tersebut membuat

diri mereka semakin rentan dengan masalah tubuh serta penampilan.

Keterkaitan peneliti dengan individu yang diteliti yaitu hubungan

teman. Beberapa teman merupakan teman di satu komunitas tari. Hal ini

memudahkan peneliti untuk memasuki dunia para penari tarian seksi.

Langkah-langkah yang digunakan oleh peneliti untuk memasuki dunia penari

tarian seksi yaitu dengan melakukan pendekatan dengan beberapa orang yang

memiliki profesi tersebut. Orang yang menghubungkan peneliti dengan para

penari tarian seksi yaitu salah satu dari penari inti di kelompok tersebut.

Dalam penelitian ini, isu etis yang mungkin muncul adalah saat

peneliti mengambil data penari. Subjek atau orang lain yang mengetahui

penelitian ini mungkin berpendapat bahwa peneliti akan terlalu mengambil

data yang bersifat pribadi dan adanya ketakutan dari subjek apabila data yang

telah diperoleh peneliti akan tersebarluaskan. Namun, pemberian informed consent di awal penelitian dapat mengurangi isu etis yang mungkin dapat muncul.

C. Pengumpulan Data 1. Subjek Penelitian

a. Karakteristik Subjek

Kriteria individu yang dijadikan subjek yaitu :

- individu berjenis kelamin perempuan

- berusia 19-25 tahun

(47)

31

b. Jumlah Subjek

Peneliti mengambil 5 subjek karena jumlah tersebut merupakan jumlah

yang biasa bagi penelitian mahasiswa yang menggunakan metode

fenomenologi intepretatif. Jumlah tersebut memuat kasus yang

memadai bagi peneliti untuk bisa meneliti keserupaan dan perbedaan

di antara partisipan. Jumlah tersebut juga tidak terlalu banyak sehingga

peneliti tidak akan terkena risiko dibanjiri oleh jumlah data yang

muncul (Smith, 2009). Selain itu, alasan lain peneliti mengambil

jumlah subjek 5 orang yaitu peneliti menganggap 5 orang yang ada di

dalam suatu kelompok penari seksi yang cukup eksis dan dominan di

kota Yogyakarta.

2. Cara Pengambilan Data

Cara pengambilan data yang dilakukan peneliti yaitu wawancara.

Menurut Alsa (2004) salah satu metode pengumpulan data dalam

penelitian kualitatif yaitu wawancara. Cara peneliti mewawancarai subjek

yaitu terlebih dahulu peneliti menyusun daftar pertanyaan yang akan

digunakan untuk mewawancarai subjek penelitian. Sedangkan untuk cara

penentuan subjeknya yaitu secara purposive. Pemilihan subjek ini dilakukan secara sengaja untuk mendapatkan data sesuai maksud dan

tujuan penelitian (Bungin, 2003). Selanjutnya peneliti akan mencari subjek

yang sesuai karakteristik di atas agar pengumpulan data dapat sesuai

(48)

Jenis data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata. Untuk

mengumpulkannya peneliti menggunakan alat perekam audio untuk

merekam isi wawancara antara subjek dan peneliti. Tujuan menggunakan

alat perekam supaya peneliti tidak kehilangan nuansa serta intisari yang

diungkapkan oleh subjek.

D. Prosedur Analisis Data

Dalam fenomenologi interpretatif, yang menjadi pokok adalah makna

dan peneliti bertujuan untuk memahami isi dan kompleksitas makna-makna

tersebut (Smith, 2009). Berikut prosedur analisis dalam fenomenologi

interpretatif:

1. Transkrip dibaca beberapa kali. Di bagian tepi kiri transkrip disisakan

untuk membuat catatan mengenai apa yang menarik atau signifikan dari

perkataan responden. Tidak ada aturan mengenai apa yang harus

dikomentari dan tidak ada tuntutan untuk membagi-bagi teks dan

mencantumkan satu komentar untuk setiap satuan makna. Proses ini mirip

dengan analisis-teks secara bebas (free textual analysis). Hal tersebut bisa menjadi interpretasi pendahuluan.

2. Proses ini dilakukan untuk keseluruhan transkrip pertama. Lalu, kembali

ke awal transkrip untuk mendokumentasikan judul-judul tema yang

muncul pada bagian pinggir teks yang lain. Tujuannya adalah untuk

menangkap kualitas inti dari apa yang ditemuka di dalam teks. Tema

tersebut menuju ke level abstraksi yang sedikit lebih tinggi dan bisa

(49)

33

3. Hal tersebut dilakukan pada keseluruhan transkrip data. Tidak ada upaya

untuk menghilangkan atau memilih bagian tertentu untuk diperhatikan

secara khusus dan tidak ada tuntutan untuk memunculkan tema di setiap

bagian. Jumlah tema yang muncul mencerminkan kesuburan bagian

tertentu.

4. Tema-tema yang muncul didaftar. Susunan tema dibuat secata kronologis

yaitu didasarkan pada urutan kemunculannya dalam transkrip.

5. Tema-tema kemudian diurutkan secara analitis/teoritis untuk memahami

hubungan di antara tema-tema yang muncul. Tema-tema tersebut akan

mengelompok ke dalam kelompok tertentu.

6. Membuat tabel tema-tema dengan susunan yang koheren.

Kelompok-kelompok tersebut diberi judul yang menggambarkan tema pokok yang

membawahi tema-tema lainnya. Dengan cara ini, peneliti bisa

mengidentifikasi kelompok tema yang paling kuat. Pada proses ini,

tema-tema yang tidak sejalan dengan struktur yang muncul dan juga tidak terlalu

subur rinciannya dalam transkrip dapat dibuang.

7. Tabel yang disusun memuat daftar tema dengan masing-masing tema

pokok dan penanda untuk membantu penyusunan analisis dan

memudahkan penelusuran sumber aslinya. Penanda menunjukkan tempat

di mana transkrip bisa ditemukan.

8. Ketika masing-masing transkrip telah dianalisis, maka tabel akhir

mengenai tema-tema pokok mulai disusun. Dalam memutuskan tema-tema

yang akan dijadikan fokus, peneliti dituntut memprioritaskan data dan

(50)

9. Mengalihkan tema-tema akhir tersebut dengan cara menuliskan serta

menguraikan secara garis besar makna-makna dari pengalaman partisipan.

Tahapan ini menterjemahkan tema ini menjadi penuturan naratif.

E. Kredibilitas Penelitian

Strategi yang digunakan untuk memeriksa kredibilitas penelitian yaitu

validitas komunikatif dan validitas argumentatif ini. Menurut Poerwandari

(2005), validitas komunikatif adalah pengkonfirmasian kembali berupa data

dan analisisnya pada responden penelitian. Sedangkan validitas argumentatif

tercapai bila presentasi temuan dan kesimpulan dapat diikuti dengan baik

(51)

35 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. DESKRIPSI TEMA UMUM

Wawancara dilakukan terhadap 5 subjek yang berjenis kelamin

perempuan dengan rentang usia 19-25 tahun. Pertanyaan yang diberikan

kepada subjek meliputi deskripsi citra tubuh, faktor yang mempengaruhi

penilaian diri subjek, dan pengaruh citra tubuh tersebut terhadap individu.

Sebelum masuk ke dalam pertanyaan inti, subjek diberi pertanyaan

pendahuluan mengenai dunia tarian seksi yang menjadi aktivitas subjek.

1. Deskripsi Citra Tubuh

i. Definisi menurut subjek

Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal maupun tidak ideal

menjawab proporsional sebagai tubuh ideal yang seharusnya dimiliki oleh

perempuan. Proporsional yang dimaksud oleh subjek yaitu ukuran tubuh

seimbang (tinggi, tidak gemuk dan tidak kurus), memiliki bagian tubuh

tertentu yang “berisi” antara lain pantat dan dada, memiliki perut yang

rata. Selain proporsional, subjek juga menjawab menarik/enak dilihat dan

sehat (tidak cacat) sebagai definisi tubuh ideal. Salah satu pernyataan

subjek mengenai tubuh yang ideal adalah sebagai berikut:

(52)

lah..ya mau ukuran celana, ya daleman...yang penting enak diliat itu udah proporsional.” (subjek 1, lamp. D, h.1, 17)

Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal juga menyebutkan hal

lain dari ciri tubuh ideal selain yang sudah disebutkan sebelumnya yaitu

warna kulit dan model rambut apapun tampak ideal dan tidak perlu

berkeinginan memiliki tubuh seperti model.

Tabel 1

Definisi tubuh ideal menurut subjek

tema Hal.baris merasa ideal Hal.baris merasa tidak ideal

definisi 12.12 pantat berisi 1.17; proposional

menurut 12.13 dada tidak besar 2.1

subjek 12.11 perut kecil

12.16 bentuk tubuh 1.21; tidak gemuk dan

seperti gitar spanyol 33.6 tidak kurus

21.22; proposional

42.21 1.24 tidak cacat

2.2 enak dilihat

22.1; warna kulit tidak masalah 33.10 dada berisi

43.1 33.8 perut rata

33.11 kaki semampai

22.6 menarik dan enak dilihat

22.5 sehat(tidak cacat)

22.4 bangga pada tubuh

42.18 tinggi

43.2 semua model rambut ideal

ii. Penilaian diri mengenai keidealan tubuh yang dimiliki

Ada 2 subjek yang merasa dirinya tidak memiliki tubuh yang

ideal. Sedangkan 3 subjek yang lain merasa ideal. Akan tetapi, 3

subjek tersebut sebenarnya masih memiliki kekurangan dengan

tubuhnya. Subjek yang merasa tubuhnya ideal juga mengatakan bahwa

sebenarnya tubuh yang dimilikinya belum masuk kedalam tingkat ideal

(53)

37

Berikut mengenai contoh kutipan dari subjek yang merasa dirinya

ideal:

”Dari angka 1 sampe 10, tubuh saya ya 7,5 Kenapa mba?

Karena tinggi badan dan berat badan cukup ideal tapi, ada beberapa bagian yang perlu dikencengin..gitu..misal kayak perut, lengen, paha itu masih perlu olah raga untuk membentuk badan yang lebih ideal lagi..” (subjek 5, lamp. D, h.43, 20)

dan subjek yang merasa tidak ideal, sebagai berikut:

”Menurut saya, saya sebagai sexy dancer tetep merasa tubuh saya kurang ideal karena ya itu tadi dada saya kurang berisi, tapi saya rasa perut saya sudah cukup rata dan mungkin kekurangan saya kurang tinggi dikit tapi bisa diatasi lah dengan adanya high heels.” (subjek 4, lamp. D, h. 32, 1)

Semua subjek yang merasa memiliki tubuh yang ideal memiliki

rasa percaya diri pada tubuh yang dimiliki. Alasan subjek merasa

percaya diri karena merasa ideal/proporsional, enak dilihat oleh orang

lain, memiliki warna kulit yang cerah, dan tampak terawat menurut

pandangan orang lain. Hal ini berbeda dengan subjek yang merasa

mempunyai tubuh tidak ideal. Dari 2 subjek yang merasa tidak ideal,

yang merasa cukup percaya diri terhadap tubuh yang dimiliki hanya 1

subjek. Sedangkan satu subjek lainnya merasa tidak percaya diri

karena merasa memiliki kekurangan fisik sehingga subjek ingin

(54)

Tabel 2

Penilaian keidealan tubuh yang dimiliki

Tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal

penilaian diri 12.19; merasa ideal 2.23; merasa tidak ideal

mengenai 43.24; tetapi ada yang 34.3

tubuh 22.23

(kognitif) dirasa kurang 2.14 ingin punya tubuh lebih baik

43.26 merasa kurang dengan tubuh

penilaian diri PERCAYA DIRI

mengenai 14.18 merasa ideal 5.16 cukup percaya diri

tubuh 25.1 merasa proposional

(afektif) 25.11 enak dilihat

25.11 warna kulit cerah 25.12 persepsi orang lain

47.7 merasa percaya diri

TIDAK PERCAYA DIRI

35.21 ingin memiliki tubuh bagus

35.23 memiliki kekurangan fisik

iii. Penilaian diri mengenai bagian tubuh yang dimiliki

Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal maupun tidak ideal

sama-sama memiliki bagian tubuh yang dirasa menarik. Bagian tubuh

tersebut antara lain mata, perut, dan bentuk badan. Subjek yang merasa

ideal masih memiliki bagian tubuh lain yang menarik yaitu rambut,

warna kulit, bibir, tangan, pantat, dan wajah.

Namun untuk bagian tubuh yang menimbulkan perasaan nyaman,

pada subjek yang merasa mempunyai tubuh tidak ideal hanya memiliki

satu jawaban untuk bagian tubuh yang membuatnya merasa nyaman

yaitu bahu. Sedangkan sisanya lebih banyak menyebutkan bagian

tubuh yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Subjek yang

merasa memiliki tubuh ideal juga memiliki jawaban yang sama dengan

(55)

39

mereka tidak nyaman yaitu perut yang tidak rata, lengan yang besar,

dada, paha, dan pantat. Bagi subjek yang merasa mempunyai tubuh

ideal mengatakan bahwa bagian tubuh yang membuat mereka nyaman

antara lain rambut panjang, tangan, kuku panjang, dan ukuran perut.

Subjek yang merasa mempunyai tubuh ideal menjawab bahwa

secara keseluruhan tubuh yang mereka miliki membuat mereka

percaya diri. Bagian-bagian tubuh tersebut antara lain perut, bibir,

mata, tangan, dada, pantat, wajah, dan rambut. Pada subjek yang

merasa mempunyai tubuh tidak ideal, ada yang mengatakan (1 subjek)

bahwa dirinya memiliki bagian tubuh yang membuat percaya diri yaitu

tubuh bagian atas dan perut. Sedangkan 1 subjek lainnya menjawab

ada bagian tubuh yang membuat dirinya tidak percaya diri yaitu dada

dan lengan.

Tabel 3

Penilaian diri mengenai bagian tubuh (paling menarik)

Tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal

bagian tubuh paling 13.13; mata 34.12 mata

Menarik 44.11 3.6 perut rata

3.6 tangan

13.13 perut 3.7 pantat

23.8 rambut 3.8 bentuk badan

23.14 warna kulit 3.9 wajah

23.16 bentuk tubuh

(56)

Tabel 4

Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang nyaman atau tidak nyaman)

tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal

bagian tubuh NYAMAN

yang… 24.21 rambut panjang 4.16 bahu

25.1 tangan

25.4 kuku panjang

25.5; ukuran perut

14.11

TIDAK NYAMAN

45.12 perut tidak rata 35.2; dada

45.19 lengan besar 4.21

35.7 lengan

4.25 perut

4.29 paha

4.29 pantat

Tabel 5

Penilaian diri mengenai bagian tubuh (yang membuat percaya diri/tidak percaya diri)

tema Hal,bar merasa ideal Hal,bar merasa tidak ideal

bagian tubuh yang PERCAYA DIRI

membuat… 26.3; perut 6.9 tubuh bagian atas

15.11 6.10 perut

47.25; bibir

15.12

15.12 mata

26.3 tangan

48.2 dada berisi

48.3 pantat

48.6 wajah

26.3 rambut

TIDAK PERCAYA DIRI

36.19 dada

(57)

41

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri

i. Eksternal

Segala informasi yang diperoleh subjek mengenai tubuh ideal

didapatkan dari berbagai cara. Hal-hal yang berasal dari luar diri

subjek yaitu: Hampir semua menjawab bahwa informasi didapat dari

media elektronik (televisi, internet, dan radio), media cetak (majalah

dan buku), dan diskusi bersama teman misalnya pengalaman yang

berasal dari teman yang memiliki tubuh ideal. Namun, dari subjek

yang merasa tubuhnya ideal juga mengatakan bahwa sumber informasi

yang didapatkan berasal dari penyuluhan kesehatan. Selain itu, hal

yang mempengaruhi subjek dalam menilai dirinya ideal antara lain

adanya pujian dari orang lain, enak dilihat oleh orang lain, dan tidak

ada keluhan saat menari.

Pada jawaban subjek mengenai alasan merasa nyaman maupun

alasan menjadi percaya diri terhadap tubuh tampak memiliki

kesamaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hal yang membuat

subjek merasa nyaman atau percaya diri adalah persepsi orang lain

yaitu berupa penilaian teman terhadap tubuh subjek yang dirasa cukup

ideal, pandangan bahwa subjek tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus,

dan orang lain berpendapat bahwa subjek memiliki penampilan yang

menarik. Persepsi orang lain yang telah disebutkan tersebut, dapat juga

membuat subjek menjadi merasa percaya diri ketika berada di tempat

umum. Salah satu contoh persepsi orang lain yang dimaksud oleh

(58)

”Soalnya tuh...kalo misal latian, misal lagi nge-dance ngeliatnya enak...misal ketika istilahnya, ketika tampil di depan orang banyak, ketika ngajar mereka selalu berpendapat your body is good lah...” (subjek 2, lamp. D, h. 13, 8)

ii. Internal

Sedangkan faktor yang mempengaruhi subjek yang berasal dari

dalam dirinya antara lain: subjek merasa dirinya proposional sehingga

mereka merasa memiliki tubuh yang ideal, merasa telah menjaga dan

merawat dirinya, dan merasa berpenampilan menarik. Hal tersebut

membuat subjek merasa memiliki tubuh yang ideal.

Hal yang membuat subjek merasa percaya diri dan nyaman dengan

tubuhnya yaitu ada bagian tubuh subjek yang menarik misalnya warna

kulit dan model rambut, subjek mudah menggunakan baju, dan subjek

merasa dengan menari membuat nyaman tubuh sebab saat menari akan

membuat tubuh bergerak dan lebih terasa sehat. Subjek juga merasa

percaya diri ketika berada di tempat umum dengan merasa bangga

memiliki tubuh yang kecil/mungil sehingga tidak malu untuk

memperlihatkan tubuh yang menarik dan subjek memiliki aura tubuh

yang baik. Selain itu, hal yang membuat subjek menjadi percaya diri di

tempat umum yaitu subjek mempersiapkan diri sebelum pergi

misalnya dengan menyesuaikan dengan baju yang digunakan.

Pada subjek yang merasa mempunyai tubuh tidak ideal merasa

kecewa dengan dirinya karena memiliki tubuh yang tidak tinggi dan

memiliki dada yang tidak ”berisi”. Hal tersebut membuat subjek

(59)

43

ideal ini, menjawab bahwa subjek merasa tidak nyaman dengan tubuh

yang dimiliki. Subjek memiliki perasaan minder/malu pada tubuhnya

sendiri karena mereka merasa memiliki badan yang berukuran kecil

sehingga pada saat menari pun merasa tidak nyaman. Selain itu, subjek

juga membandingkan dirinya dengan orang lain. Namun, subjek yang

merasa tidak ideal juga berpikir positif sehingga subjek dapat merasa

nyaman terhadap tubuhnya dan berusaha akan percaya diri. Salah satu

pernyataan subjek yang tampak berpikir positif adalah:

”Ya karena menurut aku ya..audience itu gak cuma ngliat apa yang

dari dipake dancer-nya, mereka juga liat koreo, kan itu cuma

(60)

Tabel 6

Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara internal faktor yang Hal,bar

mempengaruhi

14.18; merasa ideal/proporsional

25.1 22.28; 13.12; 15.1

25.11; kulit cerah

26.1

36.7; bangga tampak kecil/mungil 14.19

2.24 kecewa tubuh tidak tinggi

34.7 dada tidak berisi

36.9 membandingkan dengan orang lain

36.13 minder/malu

22.29 menjaga dan merawat diri

23.4 berpenampilan menarik

24.17 mudah menggunakan baju 14.1 menari membuat nyaman tubuh 47.12 mempersiapkan sebelum pergi

35.1 merasa terlalu kurus

4.17 berpikir positif

(61)

45

Tabel 7

Faktor-faktor yang mempengaruhi penilaian diri secara eksternal

faktor yang Hal,bar

mempengaruhi

25.12; persepsi orang lain 24.17; 5.18; 47.22

22.21; media cetak (majalah,buku) 43.19;

33.14

43.17; media elektronik

22.21; (TV, internet,radio)

33.14 2.1

33.16; diskusi bersama teman 2.4; 22.15

44.13; ada pujian dari orang lain 13.12

25.11; enak dilihat orang lain 44.13

47.10; pakaian yang sesuai 25.15;

43.18 penyuluhan kesehatan

44.4 tidak ada keluhan saat menari

3. Pengaruh citra tubuh terhadap individu

i. Kepercayaan diri

Bagi subjek yang merasa mempunyai tubuh tidak ideal, hal-hal

yang dirasakan ketika subjek menilai dirinya tidak ideal adalah merasa

minder/malu apalagi saat menari karena menggunakan baju yang

minim sehingga muncul keinginan untuk memiliki tubuh yang ideal.

Gambar

Tabel 1. Definisi tubuh ideal menurut subjek .....................................................
Tabel 1
Tabel 3
Tabel 4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Bervariasinya dari hasil penelitian mengenai week four effect dan rogalski effect di Bursa Efek Indonesia, yang mana dalam hal ini di mungkinkan karena peneliti

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Simange (2011) menyatakan bahwa ikan kakap merah, ikan belanak, dan udang putih pada bagian daging dan hati yang

Dalam uji coba yang dilakukan selama 3 bulan, ikan Bandeng yang dipelihara pada tambak silvofishery mengalami pertumbuhan rata-rata 100 gr lebih tinggi dibandingkan

Pada halaman ini user yang belum memiliki account dan disarankan user harus mengisi nama, email, alamat, tanggal lahir, jenis kelamin, username, password dan

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Purbalingga Nomor 5 Tahun 1998 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan

Hasil dari variabel on the job training adalah bahwa penyampaian program pelatihan di PT Kereta Api Indonesia (Persero) Kantor Pusat Bandung mampu meningkatkan

“Struktur navigasi adalah struktur atau alur suatu program yang merupakan rancangan hubungan dan rantai kerja dari beberapa area yang berbeda dan dapat membantu