D. Keaslian Penelitian
3. Faktor Yang Mempengaruhi Kedisiplinan Kerja
Faktor yang juga dapat mempengaruhi disiplin kerja menurut Pudyastuti (Palila, 2003) yaitu
a. Semangat Kerja
Semangat kerja yang tinggi akan menyebabkan kerja sama yang tinggi juga, bersedia dalam menjalankan peraturan dalam organisasi untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan perlengkapan kerja, harus memiliki respek dan loyalitas terhadap organisasi, dan memiliki hubungan kerja yang harmonis.
b. Kepuasan kerja
Pada dasarnya, individu bekerja untuk memenuhi kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan setelah hal itu terpenuhi dapat menimbulkan aktivitas positif dengan perasaan senang atau tidak senang dengan pekerjaan yang sedang dijalaninya dalam oraganisasi tersebut.
c. Kesadaran akan kepribadiannya
Kesadaran merupakan salah satu karakteristik kepribadian individu yang tampak untuk memprediksi perilaku yang potensial dalam diri individu. d. Lingkungan Organisasi
Suatu lingkungan kerja yang menyenangkan serta kondusif dan memiliki fasilitas-fasilitas yang diperlukan dalam pekerjaan dapat membuat seorang individu merasa senang dan betah bekerja di lungkungan tersebut.
e. Kepemimpinan
Seorang pemimpin yang dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik dapat menciptakan keadaan yang nyamanuntuk menanamkan sikap disiplin kepada bawahannya.
Sedangkan Singodimedjo (dalam Sutrisno, 2009) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin pegawai adalah sebagai berikut:
a. Besar/kecilnya pemberian kompensasi.
Besar atau kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi tegaknya disiplin. Pegawai akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, bila merasa bahwa kerja keras yang dilakukannya akan mendapatkan balas jasa yang setimpal dengan jerih payah yang telah diberikan pada organisasi/perusahaan. Bila pegawai menerima kompensasi yang memadai, setidaknya pegawai akan dapat bekerja dengan tenang dan tekun, serta selalu berusaha bekerja dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, bila karyawan/pegawai merasa kompensasi yang diterimanya jauh dari memadai, maka usaha kerja yang dilakukan akan terganggu, dan berusaha untuk mencari tambahan penghasilan lain di luar atau di dalam, sehingga menyebabkan para pegawai sering mangkir, sering minta izin ke luar, atau memanfaatkan pekerjaannya sebagai sarana untuk menambah penghasilan. b. Ada/tidaknya keteladanan pemimpin dalam perusahaan.
Keteladanan pemimpin sangat penting sekali, karena dalam suatu organisasi atau perusahaan, semua pegawai akan memperhatikan bagaimana pemimpin mampu menegakkan disiplin dalam dirinya dan
bagaimana dapat mengendalikan dirinya dari ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat merugikan aturan disiplin yang telah ditetapkan. Bagaimanapun juga, pemimpin merupakan contoh yang akan ditiru oleh bawahannya dalam bersikap. Oleh sebab itu, bila seorang pemimpin menginginkan tegaknya peraturan disiplin dalam perusahaan, maka pemimpin adalah orang pertama yang mempraktekkan agar dapat diikuti oleh pegawai lainnya.
c. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan.
Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam organisasi atau perusahaan, bila tidak ada peraturan yang tertulis yang pasti untuk dijadikan pegangan bersama. Disiplin tidak mungkin dapat ditegakkan bila peraturan yang dibuat hanya berdasarkan instruksi lisan yang dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi. Dengan adanya aturan tertulis yang jelas, para karyawan akan mendapatkan kepastian mengenai pedoman apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Sehingga akan menghindarkan diri dari perilaku yang tidak sesuai dengan peraturan tersebut.
d. Keberanian pemimpin dalam mengambil tindakan.
Bila ada seorang pegawai yang melanggar disiplin, maka perlu ada keberanian dari pemimpin untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dibuatnya. Melalui tindakan terhadap perilaku indisipliner, sesuai dengan sanksi yang ada, maka semua karyawan akan merasa terlindungi, dan dalam hatinya berjanji tidak akan berbuat hal yang
serupa. Ketika berada dalam situasi demikian, maka semua pegawai akan menghindari sikap yang melanggar aturan yang akhirnya akan menimbulkan kerugian pada organisasi atau perusahaan. Demikian pula sebaliknya, apabila pemimpin tidak berani mengambil tindakan, walaupun sudah jelas pelanggaran yang dibuat oleh karyawan, akan berdampak kepada suasana kerja dalam organisasi atau perusahaan.
e. Ada/tidaknya pengawasan pimpinan.
Pada setiap kegiatan yang dilakukan organisasiatau perusahaan, perlu adanya pengawasan, yang akan mengarahkan pegawai untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan tepat dan sesuai dengan standar organisasi/perusahaan. Manusia memiliki sifat dasar selalu ingin bebas, tanpa terikat oleh peraturan, maka pengawasan diperlukan demi tegaknya disiplin dalam suatu organisasi atau perusahaan.
f. Ada/tidaknya perhatian kepada para karyawan.
Pegawai adalah manusia yang memiliki perbedaan karakter antara satu dengan yang lain. Sebagai manusia, karyawan tidak hanya membutuhkan penghargaan dengan pemberian kompensasi yang tinggi, tetapi juga membutuhkan perhatian yang besar dari pemimpin. Keluhan dan kesulitan pegawai harus didengar dan dicarikan jalan keluarnya. Pemimpin yang berhasil memberi perhatian yang besar kepada para pegawai akan dapat menciptakan disiplin kerja yang baik, karena bukan hanya dekat secara fisik, tetapi juga dekat secara batin. Pemimpin yang
demikian akan selalu dihormati dan dihargai oleh para pegawai, sehingga akan berpengaruh besar terhadap prestasi dan semangat kerja pegawai. g. Diciptakannya kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin
kerja.
Kebiasaan-kebiasaan positif itu antara lain adalah saling menghormati bila bertemu di lingkungan kerja, melontarkan pujian sesuai dengan tempat dan waktunya sehingga pegawai akan turut bangga dengan pujian tersebut, sering mengikutsertakan para pegawai dalam pertemuan yang berhubungan dengan nasib dan pekerjaan mereka, memberi tahu bila ingin meninggalkan tempat kerja kepada rekan sekerja, dan dengan alasan yang jelas.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kedisiplinan kerja adalah semangat kerja, kepuasan kerja, kesadaran kepribadian, lingkungan organisasi, dan kepemimpinan (Pudyastuti, 2003). Motivasi termasuk dalam faktor semangat kerja yang dimiliki oleh karyawan, sehingga seseorang yang memiliki semangat dan motivasi yang tinggi akan berusaha bekerja secara maksimal dan patuh terhadap ketentuan yang ada dalam lingkungan kerjanya.
B. Motivasi 1. Pengertian Motivasi
Menurut Hasibuan (2001) motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mau bekerja sama, bekerja
efektif dan terintegrasi dalam segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Sedangkan Rivai (2009) berpendapat bahwa motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu. Selanjutnya, Samsudin (2006) menyatakan bahwa motivasi adalah proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar bersedia melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. Motivasi (driving force) dimaksudkan sebagai desakan yang alami untuk memuaskan dan mempertahankan kehidupan.
Motivasi adalah suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu. Tujuan yang jika berhasil dicapai akan memuaskan atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu tersebut (Munandar, 2008). Sementara itu, McClelland mengemukakan bahwa motivasi pada dasarnya terdiri dari 3 aspek, yaitu need for achievement, need for affiliation, dan need for power.
McClelland (Mangkunegara, 2005) mengemukakan 6 karakteristik orang yang memiliki motif berprestasi tinggi, yaitu:
1) Memiliki tingkat tanggung jawab diri yang tinggi. 2) Berani mengambil resiko.
3) Memiliki tujuan yang realistik.
4) Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisasikan tujuan.
5) Memanfaatkan umpan balik yang konkrit dalam semua kegiatan yang dilakukan.
6) Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah dibuat. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang memberikan daya penggerak yang menciptkakan kegairahan kerja agar seseorang bersedia bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.