B. Laporan Pelaksanaan Penelitian
4. Uji Hipotesis
Pada penelitian ini, pengolahan data dilanjutkan dengan uji korelasi dari Spearman Correlation, dikarenakan sebaran data tidak normal. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan need for achievement dan disiplin kerja, ada hubungan antara need for affiliation dan disiplin kerja, dan ada hubungan antara need for power dan disiplin kerja.
Hasil uji hipotesis 1 menunjukkan nilai r sebesar 0.399 dan p=0.000 (p<0.01), artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara need for achievement dan disiplin kerja sehingga hipotesis yang diajukan diterima. Sedangkan pada hasil uji hipotesis 2 menunjukkan nilai r sebesar 0.280 dan p= 0.015 (p<0.05), artinya ada hubungan yang signifikan antara need for affiliation dan disiplin kerja sehingga hipotesis diterima. Sedangkan pada hasil uji hipotesis 3 menunjukkan nilai r sebesar 0.003 dan p= 0.977 (p>0.05), artinya tidak ada hubungan antara need for power dan disiplin kerja, sehingga hipotesis yang diajukan ditolak.
Tabel 20 Uji Korelasi
Variabel R Sig Keterangan
N-Ach dan Disiplin Kerja 0.399 0.000 Diterima
Tabel 21 Uji Korelasi
Variabel R Sig Keterangan
N-Aff dan Disiplin Kerja 0.280 0.015 Diterima
Tabel 22 Uji Korelasi
Variabel R Sig Keterangan
D. Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara need for achievement dan disiplin kerja pada pegawai Dinas Perhubungan Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hubungan antara kedua variabel ditunjukkan oleh koefisien relasi r sebesar 0.399 dan p=0.000 (p<0.01), artinya ada hubungan yang sangat signifikan antara need for achievement dan disiplin kerja sehingga hipotesis yang diajukan dapat diterima. Sementara itu, berdasarkan dari hasil uji hipotesis yang telah dilakukan terhadap variabel disiplin kerja dan need for affiliation didapatkan hasil nilai r sebesar 0.280 dan p= 0.015 (p<0.05), artinya ada hubungan yang signifikan antara need for affiliation dan disiplin kerja sehingga hipotesis diterima. Sedangkan pada variabel need for power dan disiplin kerja, didapatkan hasil nilai r sebesar 0.003 dan p= 0.977 (p>0.05), artinya tidak ada hubungan antara need for power dan disiplin kerja, sehingga hipotesis yang diajukan ditolak.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara need for achievement dan need for affiliation dengan disiplin kerja. Maksudnya adalah semakin tinggi need for achievement dan need for affiliation, semakin baik pula sikap kedisiplinan dirinya, begitu juga sebaliknya semakin rendah need for achievement dan need for affiliation maka sikap kedisiplinan dirinya juga menjadi rendah. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan McClelland (1987) bahwa need for achievement merupakan refleksi dari dorongan tentang tanggung jawab setiap individu. Artinya, setiap individu yang memiliki need for achievement yang tinggi, akan memiliki kesadaran tentang tanggung jawabnya, sehingga individu
dengan need for achievement yang tinggi akan selalu berusaha mematuhi peraturan yang berlaku di lingkungan kerjanya dan memiliki sikap disiplin kerja yang tinggi juga . Hal ini menunjukkan bahwa need for achievement sangat penting untuk menegakkan sikap disiplin diri pada setiap individu. Hal ini selaras dengan pernyataan Pudyastuti (Palila, 2003) bahwa semangat dan motivasi memiliki pengaruh terhadap sikap disiplin kerja. Artinya pegawai dengan need for achievement yang tinggi akan berusaha untuk sedapat mungkin selalu mematuhi peraturan yang berlaku di lingkungan kerjanya dan selalu berusaha menunjukkan sikap disiplin diri.
Sementara itu, berdasarkan penelitian dari Muchsin (2002) seseorang yang memiliki motivasi kerja yang tinggi, akan memiliki sikap disiplin kerja yang baik. Karyawan yang memiliki motivasi dan semangat kerja yang tinggi akan merasa nyaman dalam bekerja dan sebisa mungkin selalu mematuhi peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam perusahaan (Muchsin, 2002). Sedangkan Samsudin (2005) menyatakan bahwa motivasi adalah proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar bersedia melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa ada hubungan antara need for achievement dan disiplin kerja.
Berdasarkan kategorisasi yang didapatkan dari hasil analisis deskriptif, diketahui bahwa disiplin kerja termasuk dalam kategori tinggi yaitu sebesar 75.6% yaitu sebanyak 34 orang dan sedang sebesar 22.2% yaitu sebanyak 10 orang. Sedangkan pada kategori need for achievement, berada pada kategori tinggi (73.3%) yaitu sebanyak 55 orang, need for affiliation berada pada kategori tinggi
sebanyak 66 orang (88%), dan need for power mayoritas berada di kategori sedang (53.3%) yaitu 40 orang.
Berdasarkan data disiplin kerja maka dapat dilihat bahwa rerata empirik disiplin kerja lebih tinggi dibandingkan dengan rerata hipotetik (70.78 > 60). Hal tersebut menunjukkan bahwa subjek penelitian pada kenyataannya memiliki sikap disiplin kerja yang lebih tinggi dari rata-rata. Sedangkan berdasarkan data need for achievement, need for affiliation, dan need for power bahwa rerata empirik lebih tinggi dibandingkan rerata hipotetik. Hal tersebut juga menandakan bahwa subjek penelitian memiliki need for achievement, need for affiliation, dan need for power yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata.
Need for achievement yang tinggi akan menimbulkan sikap disiplin kerja yang baik pada pegawai. Motivasi memiliki beberapa aspek yang berhubungan dengan sikap disiplin kerja, misalnya adalah aspek need for achievement. Aspek need for achievement dapat diartikan sebagai suatu dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan atau mengerjakan suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mendapatkan prestasi. Aspek need for achievement merupakan aspek yang mendorong seseorang untuk selalu berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Apabila karyawan memiliki kecintaan pada pekerjaan dan perusahaannya, serta memiliki need for achievement yang tinggi biasanya karyawan juga memiliki sikap disiplin kerja yang baik. Sebaliknya, jika karyawan tidak memiliki kecintaan terhadap pekerjaan dan perusahaannya, karyawan tersebut cenderung untuk bersikap malas-malasan dan tidak disiplin dalam bekerja. Hal itu dapat dilihat dari penelitian yang menunjukkan bahwa
karyawan akan memiliki sikap disiplin yang baik bila karyawan tersebut menyukai bidang pekerjaannya dan lingkungan kerjanya (Muhaimin, 2004).
Sementara itu, aspek , need for affiliation merupakan dorongan alami yang terdapat dalam diri setiap individu untuk menjalin relasi dan hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga tidak mungkin manusia untuk hidup sendiri. Secara otomatis, setiap individu akan selalu berusaha menjalin hubungan dengan orang lain. Lingkungan kerja yang kondusif akan membuat individu semakin termotivasi dalam bekerja. Hubungan yang baik antara karyawan dengan rekan kerjanya akan membangun perasaan positif tentang kenyamanan bekerja dalam perusahaan. Perasaan nyaman bekerja yang didasari hubungan yang baik dengan rekan kerja akan membuat karyawan semakin betah bekerja dalam lingkungan perusahaannya sehingga sebisa mungkin karyawan akan selalu mematuhi norma-norma dan peraturan yang berlaku dalam perusahaan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasibuan (2003) yang menyatakan bahwa hubungan yang harmonis di antara sesama karyawan akan menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu organisasi atau perusahaan. Hal ini juga sesuai dengan temuan peneliti di lapangan bahwa para pegawai di Dinas Perhubungan memiliki hubungan yang harmonis satu sama lain. Hubungan antar pegawai yang harmonis tersebut membantu menciptakan rasa senang bekerja di kantor dan pada akhirnya akan meningkatkan sikap disiplin kerja, dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa need for affiliation berhubungan dengan sikap disiplin kerja pegawai.
Setelah dilakukan penelitian, ternyata aspek Need for Power tidak berhubungan dengan variabel disiplin kerja. Hal ini disebabkan karena sistem manajemen kepegawaian yang belum diarahkan pada kompetensi dan kinerja (competence and performance) setiap pegawai, sehingga penghargaan terhadap prestasi kerja serta pengembangan jenjang karir pegawai belum dapat secara efektif dan positif berpengaruh terhadap peningkatan disiplin kerja. Contohnya adalah dalam sistem jabatan pegawai negeri, diberlakukan sistem golongan. Kenaikan golongan hanya diberlakukan dalam 4 tahun sekali, sehingga pegawai yang memiliki kinerja dan sikap disiplin kerja yang baik tetap tidak akan mendapatkan kenaikan golongan sebelum melalui masa 4 tahun tersebut. Hal itu tentu saja akan mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai.
Need for achievement dan need for affiliation merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi disiplin kerja pegawai. Namun, setiap orang memiliki sikap kedisiplinan kerja yang berbeda. Hal itu disebabkan karena setiap orang juga memiliki tingkat kesadaran diri yang berbeda tentang pentingnya sikap disiplin kerja. Kesadaran akan pentingnya sikap disiplin kerja ini dipengaruhi oleh need for achievement dan need for affiliation setiap individu. Jika need for achievement dan need for affiliation tinggi, maka tingkat kesadaran akan pentingnya kedisiplinan kerja juga akan meningkat sehingga individu yang memiliki need for achievement dan need for affiliation yang tinggi akan selalu berperilaku disiplin dan mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan kerjanya.
Setelah dilakukan penelitian, peneliti menemukan bahwa terdapat beberapa kelemahan di dalam melakukan penelitian. Metode pengumpulan data yang menggunakan skala memiliki beberapa kelemahan seperti adanya kemungkinan bahwa subjek memiliki kesulitan untuk merumuskan keadaan dirinya sendiri ke dalam bahasa. Walaupun alat ukur yang dalam penelitian ini telah melalui proses review dari ahli di bidangnya, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa skala tersebut masih mengandung social desirability, sehingga dapat memunculkan faking good atau faking bad dari subjek dalam menjawab aitem-aitem yang diberikan. Hal tersebut sedikit mempengaruhi hasil penelitian dan mempengaruhi banyak sedikitnya aitem yang gugur.
Hal tersebut tidak menutup kemungkinan mempengaruhi hasil alat ukur yang didapat. Beberapa kelemahan tersebut merupakan kendala bagi peneliti untuk melakukan penyusunan yang mendekati sempurna, namun demikian bukan berarti hasil penelitian tidak valid dan tidak reliabel. Kelemahan-kelemahan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi peneliti berikutnya yang akan mengadakan penelitian dengan topik serupa agar dapat lebih menyempurnakan penelitiannya.
53
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil, menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara need for achievement dan need for affiliation terhadap disiplin kerja pegawai Dinas Perhubungan Bantul, Yogyakarta. Artinya semakin tinggi need for achievement dan need for affiliation maka akan semakin tinggi sikap disiplin kerja pegawai Dinas Perhubungan Bantul dan sebaliknya semakin rendah need for achievement dan need for affiliation maka akan semakin rendah sikap disiplin kerja dari pegawai di Dinas Perhubungan Bantul, Yogyakarta.
Sedangkan berdasarkan dari hasil analisis data tambahan, dapat disimpulkan bahwa aspek need for achievement memiliki pengaruh yang paling besar terhadap variabel disiplin kerja daripada aspek-aspek lainnya. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji korelasi terdapat kesimpulan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara need for achievement dan disiplin kerja pegawai Dinas Perhubungan Bantul, Yogyakarta.
B. Saran
Berkaitan dengan hasil penelitian, maka penulis merekomendasikan beberapa saran, sebagai berikut: