LANDASAN TEOR
4. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Beragama
Tumbuh kembang manusia untuk menjadi seseorang yang semakin baik atau hebat pasti ada faktor atau dorongan didalamnya. Faktor inilah yang mempengaruhi manusia dapat berinteraksi dari sejak lahir sampai akhir hayat. Dengan demikian faktor yang mempengaruhi perilaku beragama adalah sebagai berikut:
a. Faktor Internal
Faktor internal ini adalah faktor yang ada pada dari seseorang baik itu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir. Faktor ini biasanya juga disebut dengan aliran nativisme yaitu faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya dapat berupa kecenderungan bakat, akal dan lain-lain (Nata, 2002: 165).
1) Hereditas (Genetika)
Adalah faktor yang mempengaruhi kepribadian atau perilaku seseorang dari bawaan sejak lahir atau gen yang diturunkan oleh orang tua. Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup
kognitif, afektif dan konatif. Namun dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa perasaan ibu berpengaruh pada kondisi janin yang dikandungnya. Demikian pula, Margareth Mead menemukan dalam penelitiannya terhadap suku Mundugumor dan Arapesh bahwa terdapat hubungan antara cara menyusui dengan sikap bayi. Bayi yang disusukan secara tergesa-gesa (Arapesh) menampilkan sosok yang agresif dan yang disusukan secara wajar dan tenang (Mundugumor) akan menampilkan sikap yang toleran di masa remajanya.
Selain itu Rasulullah Saw juga menganjurkan memilih pasangan hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab menurut beliau keturunan berpengaruh pada siapa bapak dan ibunya. Jika benihnya baik maka keturunannya juga akan baik, begitu sebaliknya jika benihnya buruk, maka keturunannya akan buruk pula (Jalaluddin, 2009: 293).
2) Tingkat Usia
Faktor usia sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaan maupun pola pikir manusia. Anak yang menginjak remaja bahkan dewasa mengalami perubahan dalam berfikir. Mereka lebih kritis pula dalam memahami agama.
Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para
remaja menimbulkan konflik kejiwaan yang cenderung
melakukan konversi agama bagi para remaja dewasa terlebih para mahasiswa biasanya terpengaruh karena sugesti dan pemikiran kritis yang menurut pemahaman mereka lebih nyaman dan lebih baik (Jalaluddin, 2009: 296).
3) Faktor Kejiwaan
Kondisi jiwa ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor intern. Menurut Sigmund Freud ada beberapa model pendekatan
yang menunjukkan gangguan kejiwaan. Pertama; model
psikodinamik gangguan kejiwaan disebabkan oleh konflik yang tertekan di alam ketidak sadaran manusia, kedua; pendekatan
biomedis gangguan jiwa terjadi dikarenakan fungsi tubuh yang dominan (penyakit, genetik, kondisi sistem syaraf) yang dapat mempengaruhi kejiwaan seseorang dan ketiga eksistensial yaitu
dominasi pengalaman kekinian manusia. Dengan demikian sikap manusia juga disebabkan oleh dorongan keadaan lingkungan saat itu (Jalaluddin, 1996: 218).
b. Faktor Eksternal
Manusia yang sering disebut dengan homoreligius (mahluk beragama) yaitu memiliki potensi dasar yang dapat dikembangkan sebagai mahluk beragama. Potensi itu berupa kesiapan seseorang menerima rangsangan dari luar yang dapat membentuk rasa dan perilaku keagamaan. Faktor eksternal yang dinilai berpengaruh dalam
perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan dimana seseorang itu hidup.
Faktor ini juga disebut dengan aliran empirisme yaitu pembentukan diri seseorang berpengaruh pada lingkungan sosial, termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan (Nata, 2002: 165). Pendidikan tersebut dapat didapat dari lingkungan keluarga, institusional dan masyarakat.
1) Lingkungan Keluarga
Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Karena keluarga dipandang lingkungan yang dapat mengontrol kepribadian atau perilaku anak secara penuh. Keluarga merupakan suatu lingkungan yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak seperti kebutuhan fisik-biologis maupun sosio-psikologis. Perlakuan keluarga yang penuh kasih sayang, pendidikan nilai-nilai kehidupan baik agama maupun sosial budaya sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Suasana yang harmonis, agamis dan menyenangkan juga dapat berpengaruh baik bagi diri anak (Yusuf dan Nurihsan, 2008: 27).
2) Lingkungan Institusional
Lingkungan Institusional yang ikut mempengaruhi
perkembangan keagamaan dapat berupa instutitusi formal seperti sekolah ataupun non formal seperti berbagai perkumpulan atau keorganisasian.
Sekolah atau institut memiliki pengaruh besar pada pembentukan perilaku beragama seseorang. Menurut Sinngih D. Gunarsa dalam Jalaluddin (2009: 300) pengaruh itu dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama kurikulum dengan anak, kedua hubungan guru dengan anak dan yang ketiga hubungan antar anak. Dari ketiga kelompok tersebut dapat menopang pembentukan seperti ketekunan, disiplin, kejujuran, simpati, sosiabilitas, toleransi, keteladanan, kesabaran, dan keadilan.
Kurilukum yang berupa materi pengajaran, sikap pribadi pendidik atau dosen serta pergaulan antar teman disekolah sangat berperan penting dalam pembentukan karakter yang baik.
3) Masyarakat dan Kebudayaan
Kluckhohn berpendapat bahwa kebudayaan meregulasi (mengatur) kehidupan kita dari mulai lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak disadari. Setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi, adat atau kebudayaan yang berbeda. Dan setiap kebudayaan memiliki pola pikir, cara bersikap dan berperilaku yang berbeda yang dapat berpengaruh pada perilaku seseorang (Yusuf dan Nurihsan, 2008: 30).
Seperti halnya seorang mahasiswa yang hidup dilingkungan masyarakat yang taat beragama dan sosial yang tinggi, maka seorang mahasiswa akan mengikuti alur dalam lingkungannya. Begitu pula seorang mahasiswa yang berkehidupan ditengah
masyarakat yang berbudaya tidak baik seperti lingkungan yang banyak penjudi, perampok, pencuri dsb maka mahasiswa perilaku beragamanya akan sangat minim sekali mereka cenderung mengikuti apa yang dilihat dari masyarakat sekitarnya.
c. Konvergensi
Gabungan antara faktor internal dan faktor eksternal melahirkan konvergensi yaitu aliran yang berpendapat pembentukan akhlak atau perilaku oleh faktor internal yaitu pembawaan si anak dan faktor dari luar yaitu pendidikan dan pembinaan yang dibuat secara khusus atau melalui interaksi dalam lingkungan sosial (Nata, 2002: 165).
Pendidikan yang sempurna dapat kita lihat seperti dalam (Q.S. Luqman ayat 31: 13-14). Ayat tersebut selain menggambarkan tentang pelaksanaan pendidikan yang dilakukan luqman hakim juga berisi materi tauhid (Tono dkk, 1998: 86).
Faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak pada anak ada dua yaitu faktor internal dan eksternal. Dimana pembawaan dari diri seseorang sejak lahir dan faktor dari luar seperti lingkungan sekitar baik itu dari keluarga, sekolah (pendidik, dosen, dan teman) maupun
masyarakat (tokoh-tokoh masyarakat). Jika keduanya dapat
berkolaborasi secara baik maka aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada anak akan terbentuk dengan baik.
d. Fanatisme dan Ketaatan
Suatu tradisi keagamaan dapat menimbulkan dua sisi dalam perkembangan jiwa keagamaan seseorang, yaitu fanatisme dan ketaatan. Mengacu kepada pendapat Erich Fromm bahwa karakter terbina melalui asimilasi dan sosialisasi, maka tradisi keagamaan memenuhi kedua aspek tersebut.
Suatu tradisi keagamaan membuka peluang nagi warganya untuk berhubungan dengan warga lainnya (sosialisasi). Selain itu juga, terjadi hubungan dengan benda-benda yang mendukung berjalannya tradisi keagamaan tersebut (asimilasi).
David Riesman melihat bahwa tradisi kultural sering dijadikan penentu dimana seseorang harus melakukan apa yang telah dilakukan nenek moyang. Kecenderungan mengikuti ajaran yang berebihan akan menjurus kepada fanatisme. Sikap fanatisme merugikan bagi kehidupan beragama. Sifat ini berbeda dengan ketaatan yang merpakan upaya untuk menampilkan arahan dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama (Jalaluddin, 2009: 302).
B. Motivasi Beragama