• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERILAKU BERAGAMA MAHASISWA IAIN SALATIGA (Studi atas Motif Shalat Berjamaah pada Mahasiswa IAIN Salatiga Tahun 2015) SKRIPSI Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERILAKU BERAGAMA MAHASISWA IAIN SALATIGA (Studi atas Motif Shalat Berjamaah pada Mahasiswa IAIN Salatiga Tahun 2015) SKRIPSI Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)"

Copied!
244
0
0

Teks penuh

(1)

PERILAKU BERAGAMA MAHASISWA IAIN

SALATIGA

(Studi atas Motif Shalat Berjamaah pada Mahasiswa

IAIN Salatiga Tahun 2015)

SKRIPSI

Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)

Oleh:

SITI ASIYAH

11111014

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

(2)

PERILAKU BERAGAMA MAHASISWA IAIN

SALATIGA

(Studi atas Motif Shalat Berjamaah pada Mahasiswa

IAIN Salatiga Tahun 2015)

SKRIPSI

Dibuat untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)

Oleh:

SITI ASIYAH

11111014

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA

2016

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

MOTTO

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al

Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya

shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan

mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat)

adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang

lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan

.”

(8)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini aku persembahkan untuk:

Pengukir akhlaq dan jiwa ragaku

Ayahanda dan Ibundaku

Tamam Mubirin dan Sholikhah

yang telah mencurahkan segala

pengorbanan untuk pendidikan anaknya.

Seluruh keluarga besarku

yang memberikan nasehat dan motivasi

hingga terselesaikannya skripsi ini

Terima kasih atas

cinta dan kasih sayang kalian

.

(9)

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah, penulis haturkan kehadirat Allah Swt yang telah

memberikan rahmat, hidayah beserta ridho-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Perilaku Beragama Mahasiswa IAIN

Salatiga (Studi atas Motif Shalat Berjamaah pada Mahasiswa IAIN Salatiga Tahun

2015). Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan besar Nabi

Muhammad Saw yang selalu kita nanti-nantikan syafa’atnya besok di hari kiamat.

Amin Ya Rabbal Alamin.

Dalam penyusunan skripsi ini, ditujukan sebagai syarat untuk memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan Islam di IAIN Salatiga. Dengan kerendahan hati dan

kesadaran penuh, penulis sampaikan bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan

tanpa adanya dukungan dan bantuan dari semua pihak, baik secara langsung

maupun tidak langsung. Penulis mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya

kepada semua pihak yang telah membantu. Adapun ucapan terima kasih secara

khusus penulis sampaikan kepada:

1. Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri

(IAIN) Salatiga.

2. Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK)

3. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

4. Dr. H. Miftahuddin, M.Ag. selaku Dosen Pembimbing, yang telah meluangkan

(10)

dalam memberikan bimbingan dan arahan sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu dosen yang dengan tulus mendidik dan memberikan jasanya

dalam menuntut ilmu di IAIN Salatiga.

6. Karyawan dan Karyawati IAIN Salatiga yang telah memberikan layanan serta

bantuannya.

7. Segenap keluarga, terutama Bapak, Ibu, Kakak dan Adik yang selalu

mencurahkan kasih sayang, perhatian, kesabaran, ketabahan serta untaian do’a

yang tulus sepanjang waktu demi keberhasilan penulis.

8. Sahabat-sahabat dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan ini,

sehingga dapat terselesaikan dengan baik semoga amal kebaikannya diterima di

sisi Allah Swt.

Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, maka penulis mengharapkan

kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga hasil penelitian ini dapat

berguna bagi penulis khususnya serta para pembaca pada umumnya, terutama untuk

kemajuan dunia pendidikan.

Salatiga, 12 Januari 2016

Penulis,

SITI ASIYAH NIM. 11111014

(11)

ABSTRAK

Asiyah, Siti. 2016. Perilaku Beragama Mahasiswa IAIN Salatiga (Studi atas Motif Shalat Berjamaah pada Mahasiswa IAIN Salatiga Tahun 2015). Skripsi. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. H. Miftahuddin, M.Ag.

Kata kunci: Perilaku Beragama, Motif-motif Shalat Berjamaah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana perilaku beragama dalam pelaksanaan shalat berjamaah pada mahasiswa IAIN Salatiga dan untuk mengetahui berbagai bentuk motif perilaku mahasiswa tersebut dalam melakukan shalat berjamaah. Pertanyaan utama yang ingin dijawab pada penelitian ini adalah, (1) Bagaimana perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga? (2) Apa motif-motif perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga? (3) Apa faktor-faktor pendukung dan penghambat perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga?

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan pendekatan yang digunakan penulis adalah kualitatif diskriptif. Dalam penelitian ini penulis melalukan perencanaan, pelaksanan, pengumpulan data, analisis, penafsiran data dan pada akhirnya penulis melaporkan hasil penelitiannya.

(12)

kondisi kesehatan baik itu dari segi badan maupun pikiran dari individu mahasiswa masing-masing dalam melakukan shalat berjamaah, dan faktor cuaca dan kondisi yang terjadi pada masing-masing mahasiswa itu sendiri. Adapun faktor penghambat tersebut adalah Lingkungan yang kurang mendukung seperti keluarga, masyarakat atau teman yang membuat mahasiswa tidak melakukan shalat berjamaah, keamanan yang kurang terjaga pada lingkungan masjid, letak tempat shalat yang berada dilantai 3 (putri), saranan prasarana yang kurang memadai di kampus 2 dan belum ada perbaikan sarana prasarana baik di kampus 1 maupun 2, proses pelaksanaan shalat yang berlangsung lama dan membuat jamaah merasa jenuh, jam perkuliahan yang belum disesuaikan dengan jadwal jamnya shalat, banyaknya dosen dan karyawan yang juga tidak melakukan shalat berjamaah di masjid dan faktor keterbatasan wanita pendapat tentang wanita terdahulu dengan wanita sekarang.

(13)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN BERLOGO ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING iii

PENGESAHAN PENGUJI iv

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN v

MOTTO vi

PERSEMBAHAN vii

KATA PENGANTAR viii

ABSTRAK x

DAFTAR ISI xii

DAFTAR TABEL xvii

DAFTAR GAMBAR xviii

DAFTAR LAMPIRAN xix

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Fokus Penelitian 6

C. Tujuan Penelitian 6

D. Manfaat Penelitian 6

1. Manfaat Teoritis 6

(14)

E. Telaah Pustaka 7

F. Penegasan Istilah 12

G. Metode Penelitian 14

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian 14

2. Kehadiran Peneliti 15

3. Lokasi Penelitian 15

4. Sumber Data 15

5. Teknik Pengumpulan Data 18

6. Analisis Data 19

7. Pengecekan Keabsahan Data 21

8. Tahap-tahap Penelitian 22

H. Sistematika Penulisan 24

BAB II LANDASAN TEORI

A. Perilaku Beragama 26

1. Pengertian Perilaku Beragama 26

2. Konsep dan Teori Perilaku Beragama 28

a. Psikoanalisa (Sigmund Freud) 28

b. Behaviorisme (John Broadus dan B.F. Skinner) 30

c. Psikologi Humanistik (Abraham Maslow) 30

3. Bentuk-bentuk Perilaku Beragama 31

a. Ibadah Shalat 32

b. Kepedulian Sosial 34

c. Akhlak Sebagai Perilaku Keagamaan Mahasiswa 35

(15)

4. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Beragama 36

a. Faktor Internal 36

b. Faktor Eksternal 38

c. Konvergensi 41

d. Fanatisme dan Ketaatan 42

B. Motivasi Beragama 42

1. Definisi Motivasi 42

2. Motif Perilaku Beragama 44

C. Shalat Berjamaah 56

1. Definisi Shalat Berjamaah 56

2. Manfaat dan Keistimewaan Shalat Berjamaah 58

a. Ditinjau dari Segi Spiritual 58

b. Ditinjau dari Segi Sosial 61

c. Ditinjau dari Segi Politis 62

d. Ditinjau dari Segi Etis dan Edukatif 62

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

A. Gambaran Umum IAIN Salatiga 65

1. Letak Geografis IAIN Salatiga 65

2. Sejarah Singkat IAIN Salatiga 66

3. Visi dan Misi IAIN Salatiga 67

4. Asas, Fungsi dan Tujuan 67

5. Program Pendidikan IAIN Salatiga 70

(16)

7. Keadaan Dosen, Karyawan dan Mahasiswa

IAIN Salatiga 76

8. Struktur Organisasi IAIN Salatiga 77

B. Temuan Data Penelitian 79

1. Perilaku Shalat Berjamaah Mahasiswa IAIN Salatiga

Tahun 2015 79

a. Kesiapan (Kesungguhan) 79

b. Mengajak 81

c. Kedisiplinan (Ajeg/Istiqomah) 83

2. Motif-Motif Perilaku Shalat Berjamaah Mahasiswa

IAIN Salatiga Tahun 2015 86

a. Motif Intrinsik 87

b. Motif Ekstrinsik 95

3. Faktor-Faktor Pendukung Dan Penghambat Perilaku

Shalat Berjamaah Mahasiswa IAIN Salatiga Tahun 2015 98

a. Faktor Pendukung 98

b. Faktor Penghambat 101

BAB IV PEMBAHASAN

A. Perilaku Shalat Berjamaah Mahasiswa IAIN Salatiga 107

1. Kesiapan (Kesungguhan) 107

2. Mengajak 109

3. Kedisiplinan (Ajeg/Istiqomah) 111

(17)

B. Motif-motif Perilaku Shalat Berjamaah Mahasiswa

IAIN Salatiga 114

1. Motif Intrinsik 114

2. Motif Ekstrinsik 125

C. Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Perilaku

Shalat Berjamaah Mahasiswa IAIN Salatiga 127

1. Faktor Pendukung 128

2. Faktor Penghambat 129

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan 132

B. Saran-saran 134

C. Penutup 135

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(18)

DAFTAR TABEL

1. Tabel. 1 Sumber Data Primer 16

2. Tabel. 2 Sumber Data Sekunder 17

3. Tabel. 3 Data Mahasiswa IAIN Salatiga pada Ajaran 2015/2016 76

4. Tabel. 4 Daftar Anggota Senat IAIN Salatiga 78

(19)

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar. 1 Komponen dalam Analisis Data 20

(20)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lembar Pengajuan Judul Skripsi

2. Lembar Konsultasi Skripsi

3. Lembar Pedoman Wawancara

4. Lembar Catatan Transkip Wawancara

5. Surat Keterangan Kegiatan (SKK)

6. Surat Permohonan Ijin Penelitian

7. Surat Pernyataan Bukti Penelitian

8. Foto-foto

9. Riwayat Hidup Penulis

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia dilahirkan ke dunia dibekali oleh Tuhannya dengan akal yang

manakala akan membekali dirinya untuk menghadapi segala problematika

kehidupan. Di dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung banyak

aktifitas yang telah kita lakukan baik itu yang ada hubungannya antara makhluk

dengan pencipta, maupun hubungan antara makhluk dengan sesama makhluk.

Setiap manusia hidup di dunia pasti menginginkan kebahagiaan, baik itu

kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Namun, kebahagiaan yang dicari

setiap manusia bukan berarti bebas lepas seperti burung yang terbang kesana

kemari akan tetapi, manusia dalam mewujudkan kebahagiaannya pasti ada tata

aturan yang mendominasi kebahagiaan itu salah satunya yaitu agama.

Agamalah yang mengatur perjalanan hidup manusia hidup di dunia ini. Di sana

terkandung berbagai aturan yang mengatur pola hidup manusia. Manusia yang

segaris dengan aturannya merekalah manusia yang akan mengunduh

kebahagiaan baik didunia maupun di akhirat sedangkan manusia yang

melenceng dari aturannya merekalah manusia yang akan menyesal dan orang

yang akan merugi.

Langkah awal manusia untuk mencapai kebahagiaannya yaitu harus

(22)

menunjukkan dalam kitab al Qur’an yang sebagai pedoman hidup setiap insan

yang ada di bumi tentang eksistensinya manusia berada di dunia ini

sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt:



Artinya: (Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

(Q.S. An-Nisa’ 4: 13-14).

Salah satu wujud dari ketaatan itu adalah shalat. Shalat merupakan suatu ibadah

yang sangat fundamental bagi umat muslim. shalat bukanlah sekedar kewajiban

namun, sebagai kebutuhan secara spiritualitas bagi manusia.

Secara Bahasa, shalat berarti doa atau berdoa memohon kebajikan (Usman,

2005: 81). Permohonan seorang hamba kepada tuhannya dalam suatu

pengharapan kebaikan bagi dirinya maupun orang yang terdekatnya. Wujud

permohonan tersebut merupakan suatu hubungan veritkal antara seorang hamba

kepada sang Kholik. Dimana manusia dapat mendekatkan diri kepada Allah,

bertaqorrub kepada- Nya dengan jiwa yang tenang dan pikiran yang lapang.

Hati yang tenang dan selalu ingat kepada Allah akan melahirkan kekuatan

rohaniah pada manusia, yang amat besar artinya dalam menghadapi masalah

hidup yang penuh dengan berbagai macam problema yang seringkali dirasakan

(23)

amat berat oleh manusia. Dengan kekuatan rohaniah itu, berbagai macam ujian

hidup akan dapat dihadapi dengan kesabaran. Pergolakan hidup akan dapat

ditanggapi dengan sikap tenang, rela dan hati yang tentram (Basyir, 2003: 51).

Shalat juga mengajarkan kita untuk hidup dengan kebersihan, kerapian dan

kerajinan. Shalat yang mensyaratkan harus suci badan, pakaian, dan tempat dari

najis, demikian pula dengan mensyaratkan bersuci dengan mandi atau

berwudlu, berfungsi mengajarkan kebersihan (Basyir, 2003: 55).

Islam menganjurkan agar shalat wajib lima waktu dilakukan secara

berjamaah. Semakin banyak anggota jamaahnya, semakin banyak faedah yang

kita terima saat ini dan faedah yang menunggu kita di akhirat kelak. Meskipun

sudah cukup hanya terdiri dari dua orang yaitu seorang makmum dan seorang

imam.

Shalat berjamaah mempunyai arti yang besar bagi kehidupan sosial,

memupuk rasa persaudaraan, persatuan, persamaan dan saling bertukar ide atau

pikiran dengan jamaah satu dengan jamaah yang lainnya. Ayat-ayat Allah telah

menjelaskan tentang berbagai keutamaan atau faedahnya orang yang

melakukan shalat berjamaah. Namun kebanyakan dari masyarakat tidak

mengetahui akan faedah-faedah yang terkandung dalam shalat berjamaah itu

sendiri. Fenomena yang ada saat ini jarang kita lihat anak-anak, remaja, bahkan

orang tua yang mengerjakan shalat berjamaah dimasjid. Mereka lebih memilih

shalat sendiri dengan berbagai alasan kesibukan yang sedang mereka kerjakan

dibanding memenuhi panggilan adzan guna melakukan shalat berjamaah di

(24)

Shalat berjamaah hanya dilakukan oleh sebagian kecil dari masyarakat yang

mengerti tentang agama, Itupun tidak dilakukan secara terus menerus. Sering

kali penulis melihat shalat berjamaah hanya dilakukan pada waktu shalat

Maghrib dan Isya karena waktu itu adalah waktu yang paling longgar untuk

mengerjakan shalat berjamaah. Kalaupun ada seorang remaja yang berangkat

menuju masjid mungkin adanya dorongan atau motif-motif yang menyebabkan

mereka berjamaah.

Seringkali penulis dapati dari berbagai faktor-faktor anak-anak, remaja

bahkan mahasiswa dalam shalat, mereka sering kali kurang disiplin, mengulur

waktu, rasa malas dan keegoisan dalam diri ketika diajak keluarga atau

temannya dan sebagainya. Mereka beranggapan bahwa yang penting itu

mengerjakan shalat karena merupakan sebuah kewajiban. Seperti halnya

dikalangan mahasiswa, ada mahasiswa yang malas shalat berjamaah, ada

mahasiswa yang lebih mementingkan urusan dunia ketika sudah waktunya

shalat, bahkan ada pula mahasiswa yang enggan melaksanakan shalat. Alasan

yang sering terdengar oleh mahasiswa IAIN Salatiga kaitannya dengan shalat

berjamaah adalah karena letak shalat untuk jamaah putri yang berada dilantai

tiga membuat mereka lelah, atau sering penulis lihat mahasiswa lebih memilih

shalat sendiri di kos ataupun kontrakkannya yang lebih nyaman dan tidak antri

baik wudlu maupun mukenanya adapula bacaan Imam yang katanya terlalu

panjang dan lama membuat mereka malas untuk melaksanakan shalat

berjamaah.

(25)

IAIN merupakan perguruan tinggi yang menanamkan nilai-nilai keagamaan

yang lebih mendalam untuk mengantarkan mahasiswanya menjadi mahasiswa

yang berilmu dan berkepribadian yang baik. Tidak hanya dalam kurikulum yang

menjadi faktor pembentukan karakter atau perilaku yang baik, namun juga

didalamnya terdapat orang-orang yang mempunyai karakter yang baik dan

solidaritas yang tinggi.

Shalat berjamaah merupakan sarana pembentukan karakter mahasiswa yang

baik, untuk itu mahasiswa diharapkan dapat melaksanakan shalat berjamaah

baik di masjid maupun tempat ibadah yang lain. Maka dengan adanya

pembiasaan mengikuti shalat berjamaah diharapkan mahasiswa mempunyai

perilaku keagamaan, mulai dari kedisiplinan, istiqomah, ketaatan, kebersamaan,

saling menghargai, melatih mengatur waktu, menambah persaudaraan yang

nantinya dapat mencegah diri dari permusuhan, dan lain sebagainya.

Penelitian ini penting sekali mengingat banyak terjadi problematika

rendahnya mahasiswa dalam melaksanakan shalat berjamaah yang berdampak

pada perilaku beragama pada mahasiswa, sehingga penelitian ini bisa menjadi

bekal para pendidik dalam setiap proses pembelajaran serta mengembangkan

ilmu pendidikan Islam terutama dalam hal penanganan perilaku.

Berdasarkan dari uraian di atas, maka penulis merasa tertarik dengan Institut

Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga untuk dijadikan sebagai obyek penelitian.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis menyusun penelitian ini

dengan judul: “Perilaku Beragama Mahasiswa IAIN Salatiga (Studi atas Motif

(26)

B. Fokus Penelitian

Pada dasarnya penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong,

tetapi dilakukan berdasarkan seseorang terhadap adanya suatu masalah, dan

masalah dalam penelitian kualitatif dinamakan Fokus. (Moleong, 2002: 92).

Berkaitan dengan konteks penelitian tersebut, maka yang menjadi fokus

penelitian ini adalah :

1. Bagaimana perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga?

2. Apa motif-motif perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga?

3. Apa faktor-faktor pendukung dan penghambat perilaku shalat berjamaah

mahasiswa IAIN Salatiga?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga.

2. Untuk mengetahui motif-motif shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung dan penghambat mahasiswa

IAIN Salatiga.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat baik secara teoritis maupun

praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan agama Islam khususnya

pada tataran fiqh ubudiyah mengenai pentingnya perilaku beribadah

dalam melaksanakan shalat berjamaah.

(27)

b. Sebagai acuan dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai pendidikan

dan akidah khususnya perilaku beragama mahasiswa IAIN Salatiga

(studi atas motif shalat berjamaah).

c. Untuk lebih mendukung teori yang berhubungan dengan masalah yang

dibahas dalam penelitian, terutama psikologi agama.

2. Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh

IAIN Salatiga dalam pembimbingan perilaku beragama mahasiswa

(studi atas motif shalat berjamaah).

b. Bagi penulis lain yang sedang melakukan penelitian, dapat digunakan

sebagai bahan acuan dalam menyelesaikan penulisannya.

E. Telaah Pustaka

Penelitian-penelitian terdahulu tentang Perilaku Beragama (Studi atas Motif

Shalat Berjamaah), sepengetahuan penulis belum banyak dilakukan terutama

yang membahas tentang Motif-motif Perilaku Beragama. Beberapa hasil

penelitian yang terkait dengan Perilaku Beragama (Studi atas Motif Shalat

Berjamaah) antara lain:

1. Penelitian Nurhuda Sandi Utomo dengan judul “Hubungan Antara

Kedisiplinan dalam Keluarga Militer dengan Perilaku Keberagamaan pada

Remaja di Asrama Garnisun Kota Salatiga Tahun 2011,” adapun hasil

penelitiannya sebagai berikut:

a. Variasi kedisiplinan dalam keluarga militer pada remaja di Asrama

(28)

kategori sangat rendah presentase 0% responden 0 orang, kategori

rendah presentase 0% responden 0 orang, kategori tinggi presentase

38,6% responden 17 orang, dan kategori sangat tinggi presentase 61,4%

responden 27 orang.

b. Variasi perilaku keberagamaan pada remaja di Asrama Garnisun Kota

Salatiga tahun 2011 dengan sampel 44 responden dalam kategori sangat

rendah presentase 0% responden 0 orang, kategori rendah presentase 0%

responden 0 orang, kategori tinggi presentase 86,4% responden 38

orang, dan kategori sangat tinggi presentase 13,6% responden 6 orang.

c. Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara kedisiplinan

dalam keluarga militer dengan perilaku keberagamaan pada remaja di

Asrama Garnisun Kota Salatiga tahun 2011, dibuktikan dengan

perolehan konsultasi rhitung dan rtabel pada taraf kesalahan 5% untuk

responden sejumlah 44 orang yaitu: rhitung < rtabel (0,012 < 0,297). Serta

perhitungan thitung lebih kecil dari ttabel pada taraf kesalahan 5% untuk

responden sejumlah 44 orang yaitu: 0.077 < 2,021. Kesimpulan

penelitian, dimungkinkan masih terdapat faktor atau penyebab hal lain

yang lebih dapat mendekati serta mempengaruhi perilaku keberagamaan

remaja di keluarga militer, selain dari faktor tingkat kedisiplinan.

2. Penelitian Masruri Saifurrohman dengan judul “Pengaruh Intensitas

Perilaku Keagamaan terhadap Sikap Sosial (Studi di MAN Salatiga Tahun

2010/2011),” adapun hasil penelitiannya sebagai berikut:

(29)

a. Dari hasil penelitian yang menunjukan bahwa perilaku keagamaan

siswa yang yang merupakan kategori tinggi (A) Sebanyak 47 Siswa atau

(33,0 ℅) Kategori sedang (B) Sebanyak 92 Siswa atau (65℅). Adapun

kategori rendah (C) Sebanyak 3 Siswa atau (2.1℅).

b. Hasil dari sikap sosial siswa bahwa kategori tinggi (A) Sebanyak 88

siswa atau (62℅). Kategori sedang (B) Sebanyak 49 Siswa atau (34,5℅)

Adapun kategori rendah (C) Sebanyak 5 Siswa atau (3.5℅).

c. Untuk membuktikan signifikan atau tidaknya antar intensitas perilaku

keagamaan terhadap sikap sosial siswa kelas XI MAN Salatiga, maka

hasil atau nilai rxy atau r hitung (0,293) dicocokan dengan r tabel

product moment dengan taraf signifikansi 5℅ yaitu (0.159) dan taraf

signifikansi 1℅ yaitu (0.210). Maka hasil yang diperoleh yaitu rxy

sebesar (0.293) lebih besar dari r tabel 1℅ yaitu (0.210) atau {rxy

(0.293) > (0.210)}. sehingga Ho ditolak dan Ha diterima, artinya bahwa

dari hasil uji dinyatakan ada pengaruh signifikan antara intensitas

perilaku keagamaan terhadap sikap sosial siswa kelas XI di MAN

Salatiga tahun 2010/2011.

3. Penelitian Fuji Sugeharti dengan judul “Pengaruh Keaktifan Mengikuti

Kegiatan Jam’iyyatul Qurra’ Wal Huffadz (JQH) terhadap Perilaku

Keberagamaan Mahasiswa PAI Angkatan Tahun 2010 dan 2011,” adapun

hasil penelitiannya sebagai berikut:

a. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, keaktifan mengikuti

(30)

63,33%, yang menunjukkan kategori sedang ada 11 responden atau

36,67% dan yang berada kategori rendah ada 0%

b. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, perilaku

keberagamaan mahasiswa yang menunjukkan kategori tinggi ada 17

responden atau 56,67%, yang menunjukkan kategori sedang ada 13

responden atau 43,33% dan yang berada kategori rendah ada 0%.

c. Dari penelitian yang dianalisis secara statistik diperoleh hasil bahwa ada

pengaruh yang signifikan antara keaktifan mengikuti kegiatan JQH

terhadap perilaku keberagamaan mahasiswa PAI STAIN Salatiga

angkatan tahun 2010 dan 2011. Hal ini terbukti dengan koefisien

korelasi product moment dari hasil rxy hitung sebesar 0,398 sedangkan

rxy tabel 0,361 product moment pada taraf signifikansi 5% dengan N =

30. Dengan demikian hipotesis yang penulis ajukan diterima, bahwa

keaktifan mengikuti kegiatan JQH berpengaruh terhadap perilaku

keberagamaan mahasiswa PAI STAIN Salatiga angkatan tahun 2010

dan 2011 disebabkan dari hasil perhitungan data yang diperoleh di

lapangan menunjukan rxy hitung > rxy tabel.

4. Penelitian Anwar Sodikin dengan judul “Studi Komparasi Perilaku

Keagamaan Remaja Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua di Dusun

Karang Talun Desa Mlilir Kec. Bandungan Kab. Semarang Tahun 2014,”

adapun hasil penelitiannya sebagai berikut:

a. Tingkat pendidikan orang tua remaja di dusun Karang Talun desa Mlilir

Kecamatan Bandungan tingkat kelulusan MI/SD dengan prosentase

(31)

47%, MTS/SLTP dengan prosentase 22,5%, MA/SLTA dengan

prosentase 25%, dan PT/S1 dengan prosentase 5%.

b. Tingkat perilaku keagamaan remaja di dusun Karang Talun desa Mlilir

Kecamatan Bandungan tergolong sangat rendah dengan prosentase

32,5%, rendah dengan prosentase 30%, sedang dengan prosentase 25%,

dan tinggi dengan prosentase 12,5%.

c. Tidak ada perbedaan perilaku keagamaan remaja berdasarkan tingkat

pendidikan orang tua di dusun karang Talun ditunjukkan dengan x2hitung

= 10,651 dan harga x2tabel = 13,919pada taraf signifikan 0,5%. Jadi x2hitung

>x2tabel maka ho diterima.

5. Penelitian Ahmad Zaidun dengan judul “Pengaruh Mengikuti Shalat

Berjama’ah terhadap Perilaku Keagamaan Santri di Pondok Pesantren

Roudlotus Sa’idiyyah Sukorejo Gunungpati Semarang Tahun 2010,”

adapun hasil penelitiannya sebagai berikut:

Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada pengaruh positif antara

mengikuti shalat berjama’ah terhadap perilaku keagamaan dengan

koefisien product moment r = 0,771, pada taraf signifikansi 5% maupun

1% dengan nilai thitung = 10,15, sedangkan nilai ttabel 0,05 = 1,671 dan

ttabel 0,01 = 2,390, berarti hasilnya adalah signifikan karena thitung lebih

besar dari ttabel.

Dari penelitian-penelitian terdahulu tersebut belum penulis jumpai yang

(32)

Berjamaah), sebagaimana yang penulis teliti yakni pada mahasiswa Institut

Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Tahun 2015.

F. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalah pahaman dalam memahami makna istilah

dalam skripsi ini, maka di bawah ini penulis akan membatasi pengertian

beberapa istilah yang dipakai dalam judul skripsi ini, yaitu:

1. Perilaku Beragama

Perilaku sering disebut juga dengan tingkah laku. Perilaku sering

disebut juga dengan tingkah laku. Perilaku adalah tanggapan atau reaksi

individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Alwi, 2007: 859). Perilaku

atau tingkah laku adalah kegiatan yang tidak hanya mencakup hal-hal

motorik saja, seperti berbicara, berjalan, berlari-lari, berolahraga, bergerak

dan lain-lain. Akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi seperti

melihat, mendengar, mengingat, berfikir, fantasi, pengenalan kembali

emosi-emosi dalam bentuk tangis atau senyum dan seterusnya.

Agama adalah sistem atas prinsip kepercayaan kepada Tuhan atau juga

disebut dengan nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan

kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. (Sudarsono, 2004:

118). Beragama yaitu menganut (memeluk) agama (Sugono, 2008: 15).

Penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa beragama adalah suatu

kepercayaan yang dimiliki oleh seseorang yang diwujudkan dalam

peribadatan kepada Tuhan sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan.

(33)

Berdasarkan pengertian tersebut, perilaku beragama merupakan segala

aspek tingkah laku mahasiswa yang salah satunya ditinjau dari perilaku

shalat berjamaah dengan berbagai motif-motif mahasiswa melakukan shalat

berjamaah serta faktor penunjang dan penghambat mahasiswa melakukan

shalat berjamaah.

2. Studi

Studi adalah penelitian ilmiah, kajian maupun telaah (Sugono, 2008:

1342). Studi dalam hal ini, usaha menelaah secara mendalam atas fenomena

yang sering terjadi atau yang teraktual pada individu, keluarga, kelompok,

lembaga atau unit sosial lain.

3. Motif

Motif adalah dorongan yang menggerakan seseorang bertingkah laku

dikarenakan adanya kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh

manusia. Motif juga dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan

di dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai

suatu tujuan (Dister, 1982: 71). Motif merupakan penggerak, alasan, atau

dorongan dalam diri manusia dalam aktivitas-aktivitas tertentu untuk

mencapai tujuan yang diinginkan.

4. Shalat Berjamaah

Secara Bahasa, shalat berarti doa atau berdoa memohon kebajikan.

Sedangkan menurut istilah fiqh, shalat adalah “ucapan-ucapan dan gerakan

gerakan tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam”

(34)

Berdasarkan pengertian tersebut, bahwa shalat berjama’ah adalah shalat

yang dilakukan sekelompok orang secara bersama-sama, yang diawali

dengan takbir dan diakhiri dengan salam, di mana satu orang menjadi imam

dan yang lainnya menjadi makmum yang dilakukan di tempat tertentu.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

a. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan

teknis pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif berusaha berinteraksi

dengan subyek penelitiannya secara alamiah, dengan cara yang tidak

memaksa. Penelitian kualitatif tertarik untuk menyidik orang-orang

dalam latar alamiah tentang bagaimana mereka berfikir dan bertindak

menurut cara mereka (Moleong, 2009: 42). Dalam hal ini peneliti

mendapatkan sumber informasi secara langsung di IAIN Salatiga

melalui aktivitas mahasiswa yang berada di lokasi penelitian.

b. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan field research atau riset

lapangan. Riset lapangan merupakan penelitian di lapangan untuk

memperoleh data atau informasi secara langsung dengan mendatangi

responden yang berada di lokasi penelitian (Ruslan, 2004: 32).

Penelitian ini adalah penelitian lapangan, jadi untuk dapat memperoleh

data, peneliti dapat langsung terjun ke lapangan tersebut baik data itu

berupa dokumen, atau berbagai informasi yang dapat dipercaya.

(35)

2. Kehadiran Peneliti

Penelitian ini menerapkan teknik participant observe artinya bahwa

peneliti merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya (Nasution, 2006:

107). Jadi, dalam hal ini kehadiran peneliti merupakan salah satu mahasiswa

yang berada di kampus IAIN Salatiga ini dan dalam kehidupan sehari-hari

peneliti bergaul dengan obyek penelitian sehingga tahu betul bagaimana

perilaku sehari-hari mahasiswa tersebut.

3. Lokasi Penelitian

Peneliti menetapkan lokasi penelitian di IAIN Salatiga, karena di

kampus tersebut merupakan kampus Islam yang mana seluruh

mahasiswanya muslim, sehingga mayoritas menunjukkan perilaku

beragama yang unik dan beraneka ragam. Sehingga dapat mendukung

proses penelitian yang dilakukan peneliti.

4. Sumber Data

Dalam penelitian ini, penulis memasuki situasi sosial tertentu yang

berupa lembaga pendidikan, melakukan observasi dan wawancara kepada

orang-orang yang tahu tentang situasi sosial tersebut. Dalam penelitian ini,

teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling.

Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data

dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan ini misalnya orang tersebut

yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan atau mungkin

sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek

(36)

sampling ini, penentuan sampel sumber data atau instrumen yang dianggap

paling tahu untuk mendapatkan informasi dalam penelitian ini adalah:

a. Data Primer

Kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau

diwawancarai merupakan sumber data utama (Sugiyono, 2006: 112). Di

sini data primer berasal dari nara sumber yaitu mahasiswa IAIN

Salatiga.

Tabel. 1 Sumber Data Primer

No Nama Jurusan/Angkatan

1 TM (S1) PBA/2011

2 UNM (D3) PS/2011

3 AN (S1) PGMI/2013

4 IT (S1) PBA/2010

5 MMD (S2) PAI/2014

6 CR (S2) PAI/2015

7 LNH (S1) PBA/2011

8 SW (S1) PAI/2011

9 AR (S1) PAI/2011

10 RR (S1) PAI/2011

11 KN (S1) HES/2012

12 SU (S1) PAI/2011

13 ARG (S1) PAI/2011

14 MCU (S1) PAI/2013

15 TM (S1) PAI/2011

16 IA (D3) PS/2012

17 BP (S1) PGMI/2014

(37)

18 AAI (S1) HES/2011

19 IST (S1) PS/2013

20 HND (S1) PAI/2011

21 NR (S1) PAI/2011

22 JSA (S1) PAI/2013

23 ZL (S1) PAI/2011

24 SS (S1) PAI/2011

25 DN (D3) PS/2015

26 YL (S1) HES/2011

27 NP (S1) TBI/2015

28 MH (S1) TBI/2015

29 KM (S1) PAI/2013

30 SH (S1) PAI/2015

b. Data Sekunder

Data sekunder atau data tangan kedua merupakan data yang

diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari subyek

penelitian (Subagyo, 1997: 92). Data sekunder diperoleh dari takmir

masjid, dosen, dan karyawan (Staff Kepegawaian). Untuk mengetahui

perilaku beragama dan motif shalat berjamaah mahasiswa IAIN

Salatiga.

Tabel. 2 Sumber Data Sekunder

No Nama Jabatan

1 BSR Petugas Perpustakaan

2 BYH Dosen FTIK PBA

3 MM Takmir Masjid MDA Salatiga

(38)

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:

a. Observasi

Observasi adalah teknik yang dilakukan secara langsung dan

pencatatan secara otomatis terhadap fenomena yang diselidiki

(Singarimbun, 1989: 5). Observasi yang penulis lakukan disini adalah

observasi terus terang, artinya peneliti menyatakan terus terang kepada

sumber data bahwa ia sedang melakukan penelitian. Penulis juga

menggunakan observasi partisipasi pasif passive participation, yaitu

peneliti datang ditempat penelitian tetapi tidak ikut terlibat dalam

kegiatan di tempat penelitian.

b. Wawancara atau Interview

Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar

informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan

makna dalam suatu topik tertentu (Sugiyono, 2005: 72). Wawancara ini

dilakukan secara mendalam indepth interview untuk memperoleh

informasi atau data yang tepat dan obyektif, maka setiap interviewer

atau pewawancara harus mampu menciptakan hubungan yang baik

dengan interviewe atau mengadakan raport yaitu suatu situasi psikologis

yang menunjukkan bahwa interviewee bersedia bekerjasama dan

memberikan informasi sesuatu dengan keadaan yang sebenarnya

(Margono, 1007: 165).

(39)

Interview alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan

sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri

utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka antara

pencari informasi dan sumber informasi (Margono, 1996: 165).

Wawancara atau interview dilakukan untuk memperoleh data secara

detail dan mendalam dari mahasiswa IAIN Salatiga.

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi adalah metode pengumpulan data mengenai

hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,

prestasi, notulen rapat dan sebagainya (Arikunto, 1993: 2). Metode

dokumentasi ini untuk memperkuat dan mendukung

informasi-informasi yang didapatkan dari hasil observasi dan interview.

6. Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis

data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan

bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat

diinformasikan kepada orang lain (Muhadjir 2002: 104). Adapun analisis

datanya yaitu:

a. Reduksi Data (Data Reduction)

Dengan reduksi maka peneliti merangkum, mengambil data yang

pokok dan penting, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari

tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian

(40)

dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data

selanjutnya (Sugiyono, 2006: 338).

b. Penyajian Data (Data Display)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah

mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif ini, penyajian data

dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar

kategori dan sejenisnya. Yang paling sering digunakan untuk

menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang

bersifat naratif (Sugiyono, 2006: 341).

c. Verifikasi (Conclusion Drawing)

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif adalah penarikan

kesimpulan, dan kesimpulan ini mungkin dapat menjawab rumusan

masalah yang dirumuskan sejak awal tetapi mungkin juga tidak. Karena

seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam

penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang

setelah penelitian di lapangan (Sugiyono, 2006: 345).

Gambar. 1

Komponen dalam Analisis Data

Collection Data / pengumpulan data

Data reduction

Data display

Verifikasi data

(41)

7. Pengecekan Keabsahan Data

Dalam uji keabsahan data ini penulis menggunakan uji kredibilitas (uji

derajat kepercayaan) dengan beberapa teknik pemeriksaan sebagai berikut:

a. Perpanjangan Keikutsertaan

Perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan

penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai (Moelong,

2009: 330). Dalam hal ini peneliti memang telah tinggal di lapangan

penelitian karena penulis sendiri terlibat langsung dalam segala kegiatan

yang ada di sana. Jadi penulis tahu benar bagaimana situasi di dalamnya

dan siapa saja sumber-sumber informasi yang benar-benar terpercaya.

b. Ketekunan Pengamatan

Dalam hal ini peneliti tentunya mengadakan pengamatan dengan

teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang

menonjol. Kemudian ia menelaahnya secara rinci sampai pada suatu

titik sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau

seluruh faktor yang ditelaah sudah dipahami dengan cara yang biasa

(Moelong, 2009: 330). Jadi dalam hal ini penulis harus benar-benar

tekun dalam mengamati situasi yang ada di kampus IAIN Salatiga.

c. Triangulasi

Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat

menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber

data yang telah ada. Triangulasi teknik berarti penelitian menggunakan

(42)

dari sumber data yang sama. Penelitian menggunakan observasi

partisipatif wawancara mendalam dan dokumentasi untuk sumber data

yang sama secara serempak (Sugiyono, 2006: 330).

Gambar. 2

Teknik Pengumpulan Data (Triangulasi)

8. Tahap-tahap Penelitian

a. Penelitian Pendahuluan

Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu penulis mengkaji

referensi-referensi yang berkaitan tentang perilaku beragama, sekaligus

mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan motif sholat

berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga.

b. Pengembangan Desain

Setelah tahap pendahuluan, penulis menyediakan waktu guna

mengembangkan desain penelitian, menyusun petunjuk guna

memperoleh data yang dibutuhkan, seperti petunjuk wawancara dan

pengamatan.

Yaitu, tahap memasuki situasi sosial ada tempat (place), pelaku

(actor), kegiatan (activities). Peneliti dalam hal ini melakukan

penjelajahan umum dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap

semua yang didengar, dilihat dan dirasakan. Pada tahap ini sering Observasi Partisipatif

Dokumentasi Wawancara Mendalam

Sumber Data

(43)

disebut grand tour observation dan peneliti menghasilkan kesimpulan

pertama.

c. Pelaksanaan Penelitian

Penulis melaksanakan peneltian secara langsung dilokasi peneltian

sekaligus melhat secara seksama, agar lebih mengetahu secara detail

berbagai hal yang berhubungan dengan peneltian dan untuk

memperoleh data-data yang dibutuhkan.

Yaitu tahapan penentuan fokus penelitian: memilih yang telah

dideskripsikan peneliti dalam hal ini melakukan analisis taksonomi

sehingga dapat menemukan fokus dalam penelitan, maka kesimpulan

yang kedua didapatkan.

d. Penulisan laporan

Tahapan penulisan laporan adalah tahap penyususnan data-data hasl

temuan penelitan secara sistematis. Dalam penulisan peneltan in

tentunya mencakup semua kegiatan penelitan mulai dari tahap awal

penelitian sampai tahap awkhir yaitu penarikan kesimpulan.

Yaitu tahap mengurai fokus penelitan menjadi komponen yang lebih

rinci pada tahap ini peneliti telah menemukan karakteristik,

kontras-kontras atau perbedaan dan kesamaan antar kategori lain. Dalam tahap

ini diharapkan peneliti telah dapat menemukan pemahaman yang

(44)

H. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi atau penelitian ini dimaksudkan untuk

mendapatkan gambaran serta garis besar dari masing-masing bagian atau yang

saling berhubungan, sehingga nantinya akan diperoleh penelitian yang

sistematis dan ilmiah. Untuk itu perlu adanya sistematika penulisan yang baik

dan terarah yang terdiri dari lima pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama, merupakan pendahuluan yang di dalamnya terdiri atas latar

belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

penegasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab

pendahuluan ini dimaksudkan sebagai kerangka acuan dalam penulisan skripsi,

sehingga dapat dijelaskan secara sistematika sesuai dengan prosedur yang telah

ditentukan.

Bab kedua, membahas tentang sub bab yaitu: pertama membahas tentang

perilaku beragama yang meliputi pengertian perilaku beragama, konsep dan

teori perilaku beragama, bentuk-bentuk perilaku beragama, dan faktor yang

mempengaruhi perilaku beragama. Kedua motivasi beragama yang meliputi

definisi motivasi beragama dan motif perilaku beragama sedangkan yang ketiga

adalah shalat berjamaah yang meliputi definisi shalat berjamaah, serta manfaat

dan keistimewaan shalat berjamaah.

Bab ketiga, merupakan pembahasan tentang gambaran umum IAIN

Salatiga, sejarah IAIN Salatiga dan letak geografis IAIN Salatiga, visi misi

IAIN Salatiga, asas, fungsi dan tujuan IAIN Salatiga, program pendidikan IAIN

Salatiga, sarana dan prasarana IAIN Salatiga, keadaan dosen, mahasiswa dan

(45)

karyawan IAIN Salatiga, struktur organisasi kepengurusan IAIN Salatiga dan

temuan data penelitian.

Bab keempat, membahas tentang hasil penelitian dan memuat hasil

penelitian di lapangan sesuai dengan yang ada dalam fokus masalah. Perilaku

shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga, motif-motif perilaku shalat

berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga dan faktor-faktor pendukung dan

penghambat perilaku shalat berjamaah mahasiswa IAIN Salatiga.

Bab kelima, merupakan bab penutup yang didalamnya berisi kesimpulan,

saran-saran dan kata penutup. Pada bab ini, diharapkan dapat menarik intisari

dari seluruh pembahasan pada bab-bab sebelumnya, agar diperoleh suatu

(46)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Perilaku Beragama

1. Pengertian Perilaku Beragama

Perilaku sering disebut juga dengan tingkah laku. Perilaku adalah

tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan (Alwi,

2007: 859). Menurut behaviorisme dalam Sriyanti (2002: 31), “Perilaku

merupakan kumpulan reflex dan merupakan hubungan antara stimulus dan

respon”.

Perilaku atau tingkah laku adalah kegiatan yang tidak hanya

mencakup hal-hal motorik saja, seperti berbicara, berjalan, berlari-lari,

berolahraga, bergerak dan lain-lain. Akan tetapi juga membahas

macam-macam fungsi seperti melihat, mendengar, mengingat, berfikir, fantasi,

pengenalan kembali emosi-emosi dalam bentuk tangis atau senyum dan

seterusnya.

Keagamaan berasal dari kata agama yang berasal dari Bahasa

sansekerta yang tersusun dari a = tidak dan gam = tidak teratur. Agama

berarti tidak ocar-kacir atau jadi teratur. DR Franz Dahler dalam Sudarsono

(2004: 118) mengatakan “agama adalah hubungan manusia dengan suatu

kekuatan suci yang lebih tingg daripada dia, dari mana ia merasa tergantung

dan berusaha mendekatinya.” Sedangkan menurut Mulder sebagaimana

(47)

dikutip Sudarsono (2004: 118) memberikan definisi “agama adalah

keyakinan tentang adanya kenyataan lain daripada adanya kenyataan ini”.

Nasution dalam Jalaludin (1996: 12), berpendapat bahwa agama

mengandung arti ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi oleh manusia.

Ikatan mengandung arti kekuatan gaib yang tak dapat dengan pancaindera,

namun mempunyai pengaruh besar sekali terhadap manusia sehari-hari.

Secara esensial agama merupakan peraturan-peraturan dari Tuhan

Yang Maha Esa berdimensi vertikal dan horizontal yang mampu memberi

dorongan terhadap jiwa manusia yang berakal agar berpedoman menurut

peraturan tuhan dengan kehendaknya sendiri, tanpa dipengaruhi untuk

mencapai kebahagiaan kelak di akhirat (Sudarsono, 2004: 119).

Agama berasal dari ketidak berdayaan manusia melawan ketentuan-

ketentuan alami luar dan kekuatan naluri yang terdapat dalam dirinya

sendiri. Agama pada tahap perkembangan awal manusia, timbul tatkala

manusia belum mampu mempergunakan rasionya untuk menjelaskan

keuatan-kekuatan alam, sehingga mereka harus mempersepsikan dan

mengelolanya dengan bantuan kekuatan emosinya (Baharuddin, 2005:

116).

Menurut Hartati (2005: 88), perilaku beragama berarti perilaku yang

mengaitkan dirinya untuk menghambakan diri atau meyakini kepada tuhan

yang mempunyai sifat-sifat serba sempurna. Kepercayaan tersebut akan

(48)

Menurut Elizabeth K. Nottingham dalam bukunya Jalaludin

(2009:179) yang berjudul: “Psikologi Agama”, Perilaku beragama adalah

usaha-usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaan

diri dan keberadaan alam semesta. Selain itu agama dapat membangkitkan

kebahagiaan batin yang sempurna. Meskipun perhatian melibatkan dirinya

dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari di dunia.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku

beragama dapat diartikan sebagai praktek seseorang terhadap keyakinan

dan perintah-perintah Allah, sebagai manifestasi (perwujudan) keyakinan

tersebut. Seseorang yang mempunyai keyakinan yang kuat senantiasa akan

selalu melaksanakan perintah Allah (Agama) tanpa merasa bahwa

perbuatan tersebut merupakan suatu beban yang memberatkan, akan tetapi

melaksanakan perintah Allah tersebut berdasarkan kesadaran yang timbul

dari diri sendiri tanpa paksaan.

2. Konsep dan Teori Perilaku Beragama

Seiring berkembangnya zaman psikologi modern memberikan

kajian-kajian khusus tentang perilaku-perilaku keagamaan. Dengan

beberapa faktor yang sangat menarik sehingga perilaku keagamaan dibahas

oleh para psikologi modern dan kajian-kajian ini dapat kita temui dalam

buku-buku psikologi agama.

a. Psikoanalisa (Sigmund Freud)

Freud mengkaji tentang perilaku beragama bahwa agama

merupakan reaksi manusia atas ketakutannya sendiri. Dalam bukunya

(49)

Totem and Taboo (1913), Freud berpendapat bahwa Tuhan adalah

refleksi dari oedipus complex kebencian kepada ayah yang

dimanifestasikan sebagai ketakutan kepada Tuhan.

The future of an Illusion (1927) dalam Ancok dan Anshori (1994:

71) salah satu bukunya Freud mengatakan bahwa agama dalam ciri-ciri

psikologisnya adalah sebuah ilusi, yaitu kepercayaan yang dasar

utamanya adalah angan-angan (wishfull fillment). Manusia lari pada

agama karena ketidak berdayaannya mengahadapi bencana.

Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang dapat memberikan

perlindungan, demikian juga sebaliknya dapat memberikan siksaan.

Agar Tuhan senantiasa memberikan perlindungan maka harus dicari

keinginan dan kehendak Tuhan dengan jalan melakukan ibadah atau

ritual. Juga dengan menjauhi larangan, sehingga Tuhan akan menjadi

senang dan akan memberi kenyamanan dan perlindungan bagi manusia

(Baharuddin, 2005: 118).

Perilaku beragama menurut Sigmund Freud dapat penulis simpulkan

bahwa perilaku beragama didorong oleh keinginan-keinginan

seseorang untuk menghindari bahaya yang akan menimpa dirinya,

maka manusia menciptakan Tuhan dari dalam pikirannya yang dapat

dinalar sehingga mereka meyakini akan hal itu. Sementara dalam

melaksanakan peribadatannya mereka melihat apa yang dilakukan oleh

(50)

b. Behaviorisme (John Broadus dan B.F. Skinner)

Skinner berpendapat tentang perilaku keagamaan bahwa manusia

belajar hidup di dunia ini dikuasai akan adanya hukuman (punishment)

dan hadiah (reward). Selain itu J.B. Watson mengatakan bahwa aksi

manusia terhadap suatu stimulus hanyalah dalam kaitannya dengan

prinsip reinforcement (reward and punishment). Manusia tidak

memiliki skill power, manusia hanyalah sebuah robot yang bereaksi

secara mekanistik atas pemberian hukuman dan hadiah, konsep tuhan

tidak masuk sama sekali dalam konteks Behaviorisme (Ancok dan

Anshori, 1994: 73).

Kesimpulan dari kedua tokoh behavorisme tersebut yaitu perilaku

keagamaan manusia dipengaruhi oleh adanya rangsangan dari

hukuman dan hadiah (punishment and reward) dari apa yang telah

diperbuat. Jika perbuatannya stimulusnya berupa hukuman

(punishment) maka perbuatannya tidak akan diulang atau bahkan tidak

dilakukan sama sekali, akan tetapi jika perbuatannya itu mendapatkan

hadiah (reward) maka perbuatan itu akan dilakukan berulang-ulang.

c. Psikologi Humanistik (Abraham Maslow)

Pandangan Maslow mengenai perilaku manusia dilihat dari

kecenderungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasikan diri.

Manusia didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal yang dibawa

sejak lahir yang tersesusun dalam suatu tingkat, dari yang paling kuat

sampai yang paling lemah. Manusia mempunyai potensi untuk maju

(51)

dan berkembang. Manusia akan mengalami pematangan melalui

lingkungannya yang menunjang dan usaha aktif dari diri sendiri untuk

merealisasikan potensinya.

Manusia dimotivasi oleh sejumlah kebutuhan yang senantiasa

menggerakkan seseorang untuk berusaha mencapai tujuan. Kebutuhan

tersebut dibedakan menjadi dua yaitu basic needs atau kebutuhan dasar

meliputi lapar, kasih sayang, rasa aman, dan harga diri dan meta needs

meliputi keadlian, kesatuan, kebaikan, keteraturan dan keindahan

(Sriyanti, 2002: 82-84).

Berdasarkan pengertian di atas, perilaku beragama menurut

humanistik ialah sejumlah kebutuhan yang mendorong manusia untuk

berkeinginan menyempurnakan kehidupannya sehingga menyebabkan

timbulnya perilaku-perilaku tertentu sehingga keinginannya dapat

tercapai dengan baik.

3. Bentuk-bentuk Perilaku Beragama

Perilaku keagamaan dapat diwujudkan dalam berbagai kehidupan

manusia, bukan hanya sekedar melakukan ritual, namun juga segala

aktifitas yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bentuk daripada

perilaku keagamaan seseorang dapat diketahui dari pada praktek

agamanya, dimana ketaan dan hal-hal yang dilakukan sesuai dengan apa

yang diperoleh dari agamanya. Perilaku keagamaan adalah aktifitas

(52)

atau pelaksanaan dari seluruh ajaran agama Islam. Bentuk-bentuk perilaku

keagamaan seseorang diantaranya:

a. Ibadah Shalat

Manusia dari segi psikisnya tentu memerlukan adanya

kebutuhan-kebutuhan ruhaniyah atau spiritual yang dapat menentramkan jiwa dan

pikirannya menuju sang pencipta. Dengan kebutuhan spiritual yang

terpenuhi, maka akan membawa manusia pada perilaku yang baik

karena kenyamanan pada jiwa dengan segala aspek ketaatan dan sifat

penghambaan diri kepada Tuhannya membuat manusia merasa tidak

terbebani karena kebenaran yang sesuai dengan ketentuan dan tata

aturan yang ada pada agamanya.

Kebutuhan ruhaniyah yang bersifat spiritual dapat diwujudkan

dalam kebutuhan manusia beribadah. Kebutuhan beribadah ini

merupakan implementasi dari sifat quds (suci) yang bersumber dari

dimensi fitrah. Bentuk kebutuhan pada agama dalam hal ini diartikan

sebagai kebutuhan beribadah sebagai salah satu tugas manusia. Seperti

halnya dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia dan jin

diciptakan bertugas untuk beribadah (Baharudin, 2007: 247).

Mustafa dalam Ahmad dkk (2002: 49) berpendapat bahwa dasar

ibadah adalah pengakuan akan kenyataan manusia sebagai mahluk

(Allah) yang memiliki kewajiban untuk menghadap wajahnya kepada

Dzat-Nya.

(53)

Manusia perlu untuk menghadapkan wajahnya dengan Tuhannya

dengan pertemuan yang akrab dalam hasrat dan semangat berserah diri.

Pertemuan yang akrab dengan sang Pencipta yaitu dengan

melaksanakan Ibadah Shalat, Ibadah shalat adalah bentuk perwujudan

manusia untuk berkomunikasi dengan Allah pencipta alam semesta.

Ibadah shalat juga merupakan wujud penghambaan diri atau wujud

ketaatan manusia untuk bersyukur terhadap segala nikmat yang Allah

berikan kepada hambanya. Ibadah shalat tersebut berupa ibadah shalat

fardhu ataupun ibadah shalat sunah yang dapat memperkuat ibadah

fardhu.

Shalat adalah wujud penghambaan diri kepada Allah yang harus

dikerjakan oleh setiap Muslim kapanpun dan dimanapun berada.

Seperti halnya dalam firman Allah Swt dalam surat An-Nisa’ ayat 103

yang berbunyi:

Artinya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang

ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.”

(Departemen Agama RI, 2007: 95).

Hadis Nabi riwayat At-Tabrani dari Abdullah bin Qarth menyatakan

bahwa amal seseorang yang mula-mula akan diperhitungkan (dihisab)

Allah pada hari kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik,

perbuatan-perbuatan lainnya akan menjadi baik, jika shalatnya tidak

baik, maka perbuatan-perbuatan lainnya pun menjadi tidak baik (Tono

(54)

Seorang Muslim mukmin dengan begitu akan mengerjakan shalat

dengan rasa ikhlas penuh kerelaan hanya mengharap ridho Allah Swt.

Mengerjakan shalat lima waktu secara teratur dan dengan berjamaah

sesuai waktu yang ditentukan oleh Allah Swt, akan membawa manfaat

bagi seseorang dalam berperilaku sosial, menanamkan rasa

persaudaraan dan persamaan antara umat islam.

b. Kepedulian Sosial

Setiap orang haruslah berinteraksi dengan masyarakat yang

melingkupinya. Setiap manusia haruslah membina hubungan dengan

manusia yang lain. Hal ini didasarkan atas dua alasan yaitu: Pertama,

manusia adalah mahluk sosial, mahluk yang diciptakan oleh Allah

untuk senantiasa bermasyarakat dalam kehidupan komunal. Manusia

adalah madaniyah bi al-thab, manusia adalah selalu terkait dengan

lingkungan masyarakat, manusia dalah zoon politicion. Secara naluriah

manusia memangmempunyai kecenderungan untuk bergaul dan

berbaur dengan sesamanya. Kedua, manusia tidak mungkin bisa hidup

tanpa bantuan dan pertolongan orang lain. Keterbatasan fisik dan psikis

manusia merupakan bukti nyata bahwa manusia harus mendapatkan

bantuan dari manusia lain. Maka secara realistis manusia tidak akan

bertahan dalam kesendirian (Tono dkk, 1998: 121-122).

Kepedulian sosial dapat kita awali dengan sikap tolong menolong

dengan orang-orang yang berada disekitar kita misalnya dengan teman,

keluarga, guru, karyawan, dosen, masyarakat sekitar dan orang-orang

(55)

yang membutuhkan pertolongan juga bisa dengan kita mengajak orang

lain dalam hal kebajikan-kebajikan. Seperti dalam firman Allah Swt

dalam surat al-Maidah ayat 2 yang berbunyi:

Artinya: “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan

dan taqwa dan jangan tolong menolong kamu dalam dosa dan

permusuhan.” (Departemen Agama RI, 2007: 106).

c. Akhlak Sebagai Perilaku Keagamaan Mahasiswa

Secara etimologis kata akhlak berasal Bahasa Arab (قلاخا) dalam

bentuk jama’, sedangkan mufradnya adalah khuluq (قلخ) yang berarti

budi pekerti atau perangai atau tingkah laku. Akhlak bersinonim

dengan etika dan moral. Etika dan moral berasal dari Bahasa Latin,

yakni etos dan mores yang memiliki arti sama dengan kebiasaan.

Sedang budi pekerti dalam Bahasa Indonesia merupakan kata majemuk

dari kata budi dan pekerti. Kata budi berasal dari bahasa Sansekerta

yang berarti sadar, pekerti yang berasal dari Bahasa Indonesia sendiri

yang berarti kelakuan (Djatnika, 1996: 26).

Secara terminologis, budi pekerti merupakan perilaku manusia yang

didasari oleh kesadaran berbuat baik yang didorong keinginan hati dan

selaras dengan pertimbangan akal (Tono dkk, 1998: 86). Al-Ghazali

mengatakan khuluk atau akhlak yakni sifat yang tertanam dalam jiwa

yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa

(56)

Uraian-uraian di atas dapat dipahami bahwa perilaku beragama bisa

dilihat dari manusia yang dapat mengaplikasikan dari ajaran-ajaran

agama dalam hidupnya. Wujud dari aplikasi itu yaitu dengan beribadah

kepada Allah diimbangi dengan perilaku-perilaku manusia dalam

bersosial dengan sesama mahluk dengan penuh kerukunan.

4. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Beragama

Tumbuh kembang manusia untuk menjadi seseorang yang semakin

baik atau hebat pasti ada faktor atau dorongan didalamnya. Faktor inilah

yang mempengaruhi manusia dapat berinteraksi dari sejak lahir sampai

akhir hayat. Dengan demikian faktor yang mempengaruhi perilaku

beragama adalah sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Faktor internal ini adalah faktor yang ada pada dari seseorang baik

itu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir. Faktor ini biasanya juga

disebut dengan aliran nativisme yaitu faktor pembawaan dari dalam

yang bentuknya dapat berupa kecenderungan bakat, akal dan lain-lain

(Nata, 2002: 165).

1) Hereditas (Genetika)

Adalah faktor yang mempengaruhi kepribadian atau perilaku

seseorang dari bawaan sejak lahir atau gen yang diturunkan oleh

orang tua. Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai

faktor bawaan yang diwariskan secara turun-temurun, melainkan

terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup

(57)

kognitif, afektif dan konatif. Namun dalam sebuah penelitian

menyebutkan bahwa perasaan ibu berpengaruh pada kondisi janin

yang dikandungnya. Demikian pula, Margareth Mead menemukan

dalam penelitiannya terhadap suku Mundugumor dan Arapesh

bahwa terdapat hubungan antara cara menyusui dengan sikap bayi.

Bayi yang disusukan secara tergesa-gesa (Arapesh) menampilkan

sosok yang agresif dan yang disusukan secara wajar dan tenang

(Mundugumor) akan menampilkan sikap yang toleran di masa

remajanya.

Selain itu Rasulullah Saw juga menganjurkan memilih

pasangan hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab

menurut beliau keturunan berpengaruh pada siapa bapak dan

ibunya. Jika benihnya baik maka keturunannya juga akan baik,

begitu sebaliknya jika benihnya buruk, maka keturunannya akan

buruk pula (Jalaluddin, 2009: 293).

2) Tingkat Usia

Faktor usia sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaan

maupun pola pikir manusia. Anak yang menginjak remaja bahkan

dewasa mengalami perubahan dalam berfikir. Mereka lebih kritis

pula dalam memahami agama.

Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para

remaja menimbulkan konflik kejiwaan yang cenderung

(58)

melakukan konversi agama bagi para remaja dewasa terlebih para

mahasiswa biasanya terpengaruh karena sugesti dan pemikiran

kritis yang menurut pemahaman mereka lebih nyaman dan lebih

baik (Jalaluddin, 2009: 296).

3) Faktor Kejiwaan

Kondisi jiwa ini terkait dengan kepribadian sebagai faktor

intern. Menurut Sigmund Freud ada beberapa model pendekatan

yang menunjukkan gangguan kejiwaan. Pertama; model

psikodinamik gangguan kejiwaan disebabkan oleh konflik yang

tertekan di alam ketidak sadaran manusia, kedua; pendekatan

biomedis gangguan jiwa terjadi dikarenakan fungsi tubuh yang

dominan (penyakit, genetik, kondisi sistem syaraf) yang dapat

mempengaruhi kejiwaan seseorang dan ketiga eksistensial yaitu

dominasi pengalaman kekinian manusia. Dengan demikian sikap

manusia juga disebabkan oleh dorongan keadaan lingkungan saat

itu (Jalaluddin, 1996: 218).

b. Faktor Eksternal

Manusia yang sering disebut dengan homoreligius (mahluk

beragama) yaitu memiliki potensi dasar yang dapat dikembangkan

sebagai mahluk beragama. Potensi itu berupa kesiapan seseorang

menerima rangsangan dari luar yang dapat membentuk rasa dan

perilaku keagamaan. Faktor eksternal yang dinilai berpengaruh dalam

(59)

perkembangan jiwa keagamaan dapat dilihat dari lingkungan dimana

seseorang itu hidup.

Faktor ini juga disebut dengan aliran empirisme yaitu pembentukan

diri seseorang berpengaruh pada lingkungan sosial, termasuk

pembinaan dan pendidikan yang diberikan (Nata, 2002: 165).

Pendidikan tersebut dapat didapat dari lingkungan keluarga,

institusional dan masyarakat.

1) Lingkungan Keluarga

Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan

kepribadian anak. Karena keluarga dipandang lingkungan yang

dapat mengontrol kepribadian atau perilaku anak secara penuh.

Keluarga merupakan suatu lingkungan yang dapat memenuhi

kebutuhan-kebutuhan anak seperti kebutuhan fisik-biologis

maupun sosio-psikologis. Perlakuan keluarga yang penuh kasih

sayang, pendidikan nilai-nilai kehidupan baik agama maupun sosial

budaya sangat berpengaruh pada kepribadian anak. Suasana yang

harmonis, agamis dan menyenangkan juga dapat berpengaruh baik

bagi diri anak (Yusuf dan Nurihsan, 2008: 27).

2) Lingkungan Institusional

Lingkungan Institusional yang ikut mempengaruhi

perkembangan keagamaan dapat berupa instutitusi formal seperti

sekolah ataupun non formal seperti berbagai perkumpulan atau

Gambar

Tabel. 1 Sumber Data Primer
Tabel. 2 Sumber Data Sekunder
Gambar. 2 Teknik Pengumpulan Data (Triangulasi)
Tabel. 3

Referensi

Dokumen terkait