• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. KAJIAN PEMBANGUNAN MANUSIA DI KAB BOGOR

5.1. Pengaruh Belanja Publik dan Belanja Aparatur Terhadap IPM Kab Bogor

5.2.3. Faktor Yang Mempengaruhi Sektor Perekonomian

Kualitas pembangunan di sektor perekonomian menurut pendekatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) ditentukan oleh indikator tunggal berupa daya beli. Daya beli yang dimaksud dalam hal ini adalah besarnya kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan hidup sehar-hari sehingga dapat hidup secara layak. Beberapa faktor yang mempengaruhi daya beli antara lain adalah : tingkat pendapatan masyarakat, serapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, ketersediaan sumber daya

manusia, tingkat investasi, pelayanan perijinan investasi, kondisi infrastruktur, dan kelembagaan masyarakat.

Berdasarkan data dari Bappeda Kabupaten Bogor pada tahun 2001-2005 diketahui bahwa tingkat pendapatan masyarakat Kabupaten Bogor relatif stabil jika dihitung berdasarkan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) harga konstan. Rata-rata tingkat pendapatan masyarakat selama 2001-2005 adalah sebesar Rp. 5.597.250 per kapita per tahun atau Rp. 466.438 per kapita per bulan. Jika dibandingkan dengan daya beli, maka tingkat pendapatan masyarakat Kabupaten Bogor ternyata sedikit di bawah rata-rata daya beli (Rp. 551.434 per kapita per bulan). Tingkat pendapatan masyarakat Kabupaten Bogor jika dihitung berdasarkan PDRB harga berlaku menunjukkan adanya peningkatan. Rata-rata tingkat pendapatan masyarakat berdasarkan PDRB harga berlaku adalah sebesar Rp. 576.432 per kapita per bulan. Nilai ini berada sedikit di atas rata-rata daya beli (Rp. 551.434 per kapita per bulan). Perkembangan tingkat pendapatan masyarakat Kabupaten Bogor tahun 2001-2005 dapat dilihat pada Tabel 25.

Tabel 25. Perkembangan Tingkat Pendapatan Masyarakat Di Kabupaten Bogor Pada Tahun 2001-2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006)

Uraian 2001 2002 2003 2004 2005 PDRB Konstan* (juta) 19.061.073 19.904.551 20.873.933 22.024.881 23.306.783 PDRB Berlaku (juta) 20.081.744 22.401.085 25.243.625 28.689.924 34.625.212 Jumlah Penduduk 3.352.490 3.599.462 3.791.784 3.945.411 4.100.934 Tkt Pendapatan (Konstan) 5.685.647 5.529.868 5.505.043 5.582.405 5.683.286 Tkt Pendapatan (Berlaku) 5.990.098 6.223.454 6.657.453 7.271.720 8.443.250

Keterangan : Tahun dasar perhitungan PDRB adalah tahun 2000.

Faktor lain yang berpengaruh terhadap daya beli adalah tingkat penyerapan tenaga kerja. Pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penyerapan

tenaga kerja adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor formal yaitu di semua perusahaan yang ada di Kabupaten Bogor. Perkembangan jumlah tenaga kerja di Kabupaten Bogor dari tahun 2001-2005 menunjukkan adanya peningkatan. Rata-rata serapan tenaga kerja untuk industri menengah dan besar adalah 34.667 orang per tahun dan jumlah serapan tenaga kerja untuk industri kecil 15.865 orang per tahun. Rata-rata kenaikan jumlah tenaga kerja per tahun adalah 20,67 persen untuk industri menengah dan besar serta 5,61 persen untuk industri kecil (Gambar 27).

0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 45000 50000

Industri Mngh & Besar 22552 25528 34679 43521 47056

Industri Kecil 13778 15275 16242 16931 17101

1 2 3 4 5

Gambar 27. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja di Kabupaten Bogor Tahun 2001- 2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006)

Daya serap tenaga kerja di sektor industri yang merupakan sektor sekunder

dalam PDRB terhadap total angkatan kerja5 di Kabupaten Bogor sebenarnya relatif

kecil yaitu berkisar antara 1,69 – 2,44 persen. Menurut BPS (2000), jumlah tenaga kerja di sektor industri di Indonesia tahun 2000 mencapai 7,58 juta orang atau sekitar

_______________________

5) Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Bogor tahun 2001-2005 berkisar antara 2.148.611 – 2.618.289 orang. Angka ini diperoleh dari total jumlah penduduk berusia 15 – 59 tahun

8,19 persen dari seluruh total angkatan kerja (92,5 juta orang). Daya serap tenaga kerja yang lebih besar dapat dipastikan berasal dari sektor lainnya terutama sektor primer (pertanian dan pertambangan). Daya serap tenaga kerja di sektor pertanian di Indonesia tahun 2000 mencapai 43,6 juta orang atau sekitar 47,13 persen dari total angkatan kerja di Indonesia (BPS, 2000). Dengan menggunakan persentase yang sama, diperkirakan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian di Kabupaten Bogor dapat mencapai jumlah antara 1,01 – 1,24 juta orang.

Faktor berikutnya yang berpengaruh terhadap daya beli adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di daerah ditandai dengan meningkatnya PDRB dari tahun ke tahun. Angka PDRB menggambarkan nilai pasar seluruh barang dan jasa yang dihasilkan di satu daerah selama kurun waktu tertentu. Berdasarkan Tabel 26, angka PDRB di Kabupaten Bogor sejak tahun 2001-2005 menunjukkan adanya peningkatan. Rata-rata kenaikan PDRB selama 2001-2005 adalah sebesar 5,16 persen (harga konstan) dan 14,64 persen (harga berlaku).

Tingkat hubungan antara PDRB dengan daya beli dapat dilihat pada diagram pencar (Gambar 28). Analisis korelasi yang dilakukan menunjukkan bahwa korelasi antara PDRB dengan daya beli cukup tinggi yaitu sebesar 0,994 (PDRB harga konstan) dan 0,978 (PDRB harga berlaku). Hal ini memperlihatkan bahwa PDRB memiliki pengaruh yang kuat terhadap daya beli. Angka PDRB sebagaimana diketahui adalah ukuran yang menggambarkan nilai pasar seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk di satu daerah pada kurun waktu tertentu. Angka PDRB secara matematis terdiri dari komponen belanja pemerintah, konsumsi masyarakat, belanja swasta (investasi) dan selisih ekspor – impor. Angka PDRB selain menggambarkan produksi sekaligus juga menggambarkan konsumsi seluruh penduduk.

548000 549000 550000 551000 552000 553000 554000 0 10000000 20000000 30000000 40000000 PDRB (Rp. Jut a) D a y a B e li ( R p/ bl n ) PDRB Riil PDRB Nominal

Gambar 28. Diagram Pencar Hubungan Antara PDRB Dengan Daya Beli di Kab. Bogor Tahun 2001-2005.

Faktor ketersediaan sumber daya manusia (SDM) berperan cukup penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi. Semakin banyak tersedia SDM yang memadai terutama dari segi pendidikan dan keterampilan akan semakin mendorong pertumbuhan ekonomi. Sumber daya manusia yang memiliki pendidikan dan keterampilan yang tinggi akan mudah mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha menciptakan lapangan kerja sendiri. Pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat perkembangan ketersediaan SDM adalah dengan melihat jumlah lulusan sekolah formal terutama tingkat SLTP dan SLTA. Jumlah lulusan SLTP dan SLTA di Kabupaten Bogor pada 2001-2005 cenderung meningkat. Rata-rata kenaikan jumlah lulusan SLTA sekitar 31,21 persen setiap tahun dan rata-rata kenaikan jumlah lulusan SLTP sekitar 5,26 persen setiap tahun. Perkembangan jumlah lulusan SLTP dan SLTA dapat dilihat pada Gambar 29.

0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 m ur id SLTA 22587 38156 54110 58053 62002 Lulusan SLTA 3745 6326 8971 9625 10279 m ur id SLTP 121562 127372 133460 133463 148803 Lulusan SLTP 19825 20773 21765 21766 24268 2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 29. Perkembangan Jumlah Lulusan SLTP dan SLTA di Kabupaten Bogor Tahun 2001-2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006)

Faktor berikutnya yang mempengaruhi daya beli adalah tingkat investasi. Investasi merupakan salah satu komponen PDRB yang cukup penting. Peningkatan investasi di satu daerah akan meningkatkan PDRB yang berarti terjadi pertumbuhan ekonomi. Investasi dalam kaitannya dengan PDRB sering disebut sebagai Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB). Peningkatan investasi dapat dipastikan akan berdampak pada terciptanya sejumlah lapangan pekerjaan baru yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan pengangguran.

Perkembangan investasi di Kabupaten Bogor sejak tahun 2001-2005 menunjukkan adanya peningkatan. Jumlah investasi di Kabupaten Bogor pada 2001- 2005 berkisar antara Rp. 1,6 – 2,15 triliun. Nilai investasi tersebut masih jauh dibawah nilai investasi tingkat nasional tahun 2005 yang mencapai Rp. 599,8 triliun.

Rata-rata pertambahan investasi di Kabupaten Bogor adalah sebesar 7,68 persen per tahun. Jika dibandingkan dengan angka PDRB, maka pada tahun 2005 rasio investasi dengan PDRB sebesar 9,23 persen (harga konstan) dan 6,21 persen (harga berlaku). Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata investasi di tingkat nasional tahun 2005 yang mencapai rasio sebesar 9,93 persen dari PDB harga konstan. Perkembangan investasi di Kabupaten Bogor pada 2001-2005 dapat dilihat pada Gambar 30. - 500.00 1,000.00 1,500.00 2,000.00 2,500.00 R p . M ili a r

Ind . Mngh & Besar 1,566.68 1,703.48 1,888.43 1,993.06 2,102.21 Ind . Kecil 34.79 38.40 43.82 47.00 48.98 Tot al Invest asi 1,601.48 1,741.88 1,932.25 2,040.07 2,151.19

2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 30. Perkembangan Jumlah Investasi Di Kabupaten Bogor Tahun 2001-2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006).

Berkembangnya investasi di satu daerah sangat ditentukan oleh beberapa hal

yang mendukung iklim investasi antara lain prosedur perijinan investasi, kondisi

infrastruktur wilayah, kondisi keamanan wilayah dan sebagainya. Prosedur perijinan

yang semakin mudah dan cepat dapat mendorong meningkatnya investasi di satu

banyak pemerintah daerah mengeluarkan perijinan yang diperlukan bagi berdirinya satu usaha secara formal. Pada tahun 2001-2005 jumlah perusahaan yang berdiri secara formal di Kabupaten Bogor menunjukkan adanya peningkatan. Rata-rata jumlah perusahaan yang berdiri di Kabupaten Bogor pada tahun 2001-2005 adalah sebanyak 1541 perusahaan. Adapun peningkatan jumlah perusahaan yang berdiri selama 2001-2005 adalah 140 perusahaan setiap tahun atau sebanyak 7,82 persen. Perkembangan jumlah perusahaan di Kabupaten Bogor pada tahun 2001-2005 dapat dilihat pada Gambar 31.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800

Ind. Mngh & Besar 349 380 455 497 538

Ind. Kecil 876 1083 1096 1186 1245

Total Unit Usaha 1225 1463 1551 1683 1783

2001 2002 2003 2004 2005

Gambar 31. Perkembangan Jumlah Perusahaan Di Kabupaten Bogor Tahun 2001- 2005 (Bappeda Kab. Bogor, 2006).

Prosedur perijinan investasi di Kabupaten Bogor selama ini relatif rumit. Hal

tersebut terjadi karena masih banyaknya jumlah perijinan dan masih tersebarnya

Paling tidak terdapat 10 jenis perijinan yang berkaitan dengan investasi yang harus ditempuh oleh investor seperti dapat dilihat pada Tabel 26.

Tabel 26. Beberapa Jenis Perijinan Investasi Di Kabupaten Bogor

No Instansi Berwenang Jenis Perijinan

1 Dinas Tata Ruang dan

Lingkungan Hidup

Ijin Pemanfaatan Penggunaan Tanah (IPPT), Ijin Pengelolaan Lingkungan, Analisis

Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

2 Dinas Cipta Karya Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), Ijin

Pemasangan Reklame (jika berkaitan dengan pemasangan papan nama perusahaan)

3 Sekretariat Daerah Ijin Gangguan, Ijin Lokasi, Ijin Pemanfaatan

Kekayaan Daerah (jika memanfaatkan aset pemda)

4 Dinas Perindustrian dan

Perdagangan

Ijin Tanda Daftar Perusahaan, Ijin Usaha Perdagangan (jika berkaitan dengan usaha perdagangan)

5 Dinas Pertanian, Kehutanan

dan Perkebunan

Ijin Usaha Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan (jika berkaitan dengan usaha di bidang pertanian)

7 Dinas Pertambangan dan

Energi

Ijin Usaha Pertambangan Daerah, Rencana Eksploitasi Tambang (jka berkaitan dengan usaha di bidang pertambangan)

8 Dinas Pariwisata Ijin Usaha Pariwisata, Ijin Usaha Jasa

Pariwisata (jika berkaitan dengan usaha di bidang pariwisata)

9 Dinas Perhubungan Ijin Pemeriksaan Kendaraan Bermotor (jika

berkaitan dengan penggunaan kendaraan bermotor niaga)

10 Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi

Ijin Tenaga Kerja Asing (jika berkaitan dengan penggunaan tenaga kerja asing) Sumber : Pemda Kab. Bogor (2007), diolah

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempermudah prosedur perijinan di Kabupaten Bogor adalah dengan membentuk Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perijinan yang mengelola pelayanan perijinan dalam satu atap. Ada dua model pelayanan perijinan yang dapat diterapkan yaitu : menyatukan ijin-ijin yang berkaitan dengan investasi yang selama ini diberikan oleh berbagai instansi di daerah ke dalam

satu instansi atau hanya mengkoordinasikan perijinan investasi oleh satu instansi

namun wewenang perijinan tetap tersebar di berbagai instansi.6

Faktor yang mendukung investasi selanjutnya yang cukup penting adalah keadaan infrastruktur wilayah terutama jalan raya. Keadaan infrastruktur jalan di Kabupaten Bogor selama 2001-2005 relatif tidak banyak bertambah dari segi panjang jalan. Jumlah panjang jalan di Kabupaten Bogor sejak tahun 2002 hingga 2005 masih tetap sepanjang 1,507,5 km. Kondisi jalan rata-rata 39,47 persen dalam keadaan baik, 16,24 persen dalam keadaan sedang, 13,63 persen dalam keadaan rusak ringan dan 30,87 persen dalam keadaan rusak berat. Perkembangan keadaan infrastruktur jalan di Kabupaten Bogor pada tahun 2001 – 2005 dapat dilihat pada Tabel 27.

Tabel 27. Perkembangan Infrastruktur Di Kabupaten Bogor Tahun 2001-2005.

Kondisi Jalan 2002 2003 2004 2005 Jumlah (Ruas) 385 388 392 414 Panjang (Km) 1.506,57 1.506,57 1.506,57 1.507,52 Baik (Km) 487,58 623,45 525,33 742,71 Baik (%) 32,36% 41,38% 34,87% 49,27% Sedang (Km) 250,97 246,23 207,55 274,35 Sedang (%) 16,66% 16,34% 13,78% 18,20% Rusak Ringan (Km) 273,75 165,89 216,21 165,72 Rusak Ringan (%) 18,17% 11,01% 14,35% 10,99% Rusak Berat (Km) 494,27 471,00 547,48 347,81 Rusak Berat (%) 32,81% 31,26% 36,34% 23,07%

Sumber : Bappeda Kab. Bogor (2006)

_______________________

6) Ketentuan mengenai UPT Perijinan satu atap telah diatur dalam PP 41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah pasal 47 yang menyatakan : Untuk meningkatkan dan keterpaduan pelayanan masyarakat di bidang perizinan yang bersifat lintas sektor, gubernur/bupati/walikota dapat membentuk unit pelayanan terpadu. Unit pelayanan

Faktor berikutnya yang mempengaruhi daya beli masyarakat adalah faktor kelembagaan masyarakat yang berkaitan dengan perekonomian. Kelembagaan masyarakat di sektor ekonomi salah satunya dapat dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat dalam bidang ekonomi. Salah satu indikator keterlibatan masyarakat dalam kelembagaan perekonomian adalah berdirinya koperasi di satu daerah. Koperasi adalah badan usaha yang paling mudah dibentuk oleh masyarakat yang dapat digunakan untuk mengakses berbagai macam fasilitas yang diberikan oleh pemerintah terutama permodalan dan pelatihan keterampilan.

Berdasarkan data pada tahun 2005, jumlah koperasi di Kabupaten Bogor mencapai 1.425 unit koperasi. Rasio jumlah koperasi yang ada jika dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja sebagai patokan adalah 1 : 1.844. Rasio ini relatif kecil jika dibandingkan dengan rasio yang sama di tingkat nasional pada tahun 2003 yang mencapai 1 : 897. Rasio tersebut diperoleh dari perbandingan jumlah koperasi di Indonesia tahun 2003 sebanyak 123.181 unit (Depkop, 2005) dan jumlah angkatan kerja tahun 2003 yang diperkirakan oleh Bappenas sebesar 102,8 juta orang. Dengan keadaan tersebut berarti di Kabupaten Bogor pada tahun 2005 diperkirakan terdapat kekurangan koperasi sekitar 1.726 koperasi hingga menjadi 3.151 koperasi atau kekurangan sekitar 121,1 persen.