BOGOR
80
DAFTAR PUSTAKA
Adnany Z. 2008. Sistem Tataniaga Komoditi Salak Pondoh di Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa tengah [skripsi]. Fakultas pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Agustina L. 2008. Analisis Tataniaga dan Keterpaduan Pasar Kubis (Studi Kasus Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat) [skripsi]. Fakultas pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. Ariyanto. 2008. Analisis Tataniaga Sayuran Bayam (Kasus Desa Ciaruten Ilir,
Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor) [skripsi]. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Asmarantaka RW. 2009. Pemasaran Produk-Produk Pertanian dalam Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Editor Nunung Kusnadi,dkk. IPB press. Bogor.
Asmarantaka RW. 2009. Tataniaga Produk Agribisnis. Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Pagar Alam. 2011a. Harga Kubis yang diterima Konsumen Akhir di Kota Pagar Alam Tahun 2010. BPS Kota Pagar Alam. Pagar Alam.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Pagar Alam. 2011b. Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kota Pagar Alam Tahun 2010. Pagar Alam: BPS Kota Pagar Alam.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Pagar Alam. 2011c. Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan Kota Pagar Alam Tahun 2010. BPS Kota Pagar Alam. Pagar Alam.
[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan. 2011. Total Produksi Sayuran Menurut Kabupaten/Kota. BPS Provinsi Sumatera Selatan. Palembang.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011a. Produksi Sayuran di Indonesia tahun 2006- 2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011b. Luas panen, Produksi, dan Produktivitas Kubis Tahun 2009-2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta.
Budiarto T. 1993. Dasar Pemasaran. Gunadarma. Jakarta.
Dahl DC, Jerome WH. 1977. Market and Price Analysis The Agricultural Industries. Kingsport Press. United States.
[DEPTAN] Departemen Pertanian. 2011. Kawasan Horti. Departemen Pertanian. Sumatera Selatan.
81 Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Selatan. 2011. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Kubis Menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Selatan Tahun 2009-2010. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Selatan. Sumatera Selatan.
Firdaus M. 2008. Manajemen Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta.
Herviyani N. 2009. Risiko Harga Kubis dan Bawang Merah di Indonesia [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hudson D. 2007. Agricultural Markets and Prices. Blackwell Publishing. United Kingdom.
Kantor Kecamatan Dempo Utara. 2011. Jumlah Penduduk dirinci Berdasarkan Kelurahan di Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Tahun 2010. Pagar Alam.
Kantor Kelurahan Agung Lawangan. 2011. Penduduk Kelurahan Agung Lawangan Berdasarkan Mata Pencarian Pokok Tahun 2010. Pagar Alam. [KEMENTAN] Kementerian Pertanian. 2011a. Perkembangan PDB Hortikultura
Tahun 2006-2010. Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. Jakarta.
[KEMENTAN] Kementerian Pertanian. 2011b. PDB Beberapa Komoditas Sayuran Terhadap Total PDB Sayuran Nasional Tahun 2009-2010. Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. Jakarta.
Kohl RL, Uhl JN. 2002. Marketing of Agricultural Products. Ninth Edition.
Prentice-Hall,Inc. New Jersey.
Limbong WH, Panggabean S. 1985. Pengantar Tataniaga Pertanian. Jurusan Ilmu- Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Mulyani Y. 2000. Analisis Pendapatan Usahatani dan Efisiensi Pemasaran Kubis (Studi Kasus: Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat) [skripsi]. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Noviana Z. 2011. Analisis Sistem Tataniaga Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) (Studi Kasus Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Peranginangin B. 2011. Analisis Tataniaga Markisa ungu di Kabupaten Karo (Studi Kasus Desa Seberaya, Kecamatan Tigapanah, kabupaten Karo, provinsi Sumatera Utara) [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
82 Pracaya. 2001. Kol Alias Kubis. Penebar Swadaya. Jakarta.
Saefuddin, Hanafiah. 2006. Tataniaga Hasil Pertanian. UI-Press. Jakarta.
[STA] Sub Terminal Agribisnis. 2011. Harga kubis yang diterima Petani di Kota Pagar Alam Tahun 2010. Sub Terminal Agribisnis. Pagar Alam.
Sudiyono A. 2002. Pemasaran Pertanian, cetakan ke-II. UMM-Press. Malang. Susila AD. 2006. Panduan Budidaya Tanaman Sayuran. Departemen Agronomi
dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Bogor
Tomex WG, Kenneth LR.1990.Agricultural Product Prices. Third Edition. Cornell University Press. New York.
Trihendradi C. 2005. Step by Step SPSS 13 Analisis Data Statistik. Andi. Yogyakarta.
Utama DS. 2011. Analisis Sistem Tataniaga Daun Bawang (Studi Kasus: Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat) [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Wacana AD. 2011. Analisis Tataniaga Bawang Merah (Kasus di Kelurahan Brebes, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes) [skripsi]. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
ANALISIS TATANIAGA KUBIS
(Studi Kasus: Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan)
SKRIPSI
ARINI PRIHATIN H34080032
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
RINGKASAN
ARINI PRIHATIN. Analisis Tataniaga Kubis (Studi Kasus: Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan).Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Dibawah bimbingan NARNI FARMAYANTI).
Kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya mengalami peningkatan. Sayuran sebagai salah satu komoditas hortikultura yang turut memberikan sumbangan pada Produk Domestik Bruto (PDB). Kubis merupakan salah satu dari delapan belas jenis sayuran komersial yang mendapat prioritas dalam pengembangannya. Sumatera Selatan turut memproduksi kubis dan produksi kubis tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2010. Kota Pagar Alam adalah penghasil kubis nomor satu di Sumatera Selatan. Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, merupakan sentra pengembangan kubis di Kota Pagar Alam. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis saluran tataniaga dan fungsi-fungsi yang dijalankan oleh lembaga-lembaga tataniaga, serta struktur pasar dan perilaku pasar yang terjadi dalam tataniaga kubis di Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, (2) menganalisis efisiensi setiap saluran tataniaga kubis di Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam.
Penelitian dilakukan di Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam pada bulan Februari-Maret 2012. Responden petani yang digunakan sebanyak tiga puluh responden dengan metode penarikan responden dilakukan secara sengaja (purposive sampling), sedangkan penarikan responden untuk lembaga-lembaga tataniaga selanjutnya dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling yaitu dengan menelusuri saluran tataniaga kubis yang dominan di daerah penelitian. Penelitian dilakukan dengan menganalisis lembaga dan saluran tataniaga, struktur dan perilaku pasar, margin tataniaga, farmer’s
share, dan rasio keuntungan terhadap biaya.
Lembaga-lembaga tataniaga yang terlibat yaitu petani, pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul pasar lokal, pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal), pedagang pengecer (lokal), dan pedagang pengecer luar kota (non-lokal). Terdapat lima saluran yang terbentuk dalam tataniaga kubis yaitu (1) petani- pedagang pengumpul tingkat desa- pedagang pengumpul pasar lokal- pedagang pengecer (lokal)- konsumen akhir (lokal), (2) petani- pedagang pengumpul tingkat desa - pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal) - pedagang pengecer luar kota (non-lokal)- konsumen akhir (non-lokal), (3) petani- pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal) - pedagang pengecer luar kota (non-lokal)- konsumen akhir (non-lokal), (4) petani- pedagang pengecer (lokal)- konsumen akhir (lokal), (5) petani- konsumen akhir (lokal). Saluran tataniaga I dan III merupakan saluran yang banyak digunakan petani. Volume penjualan pada saluran I yaitu 117,4 ton dan pada saluran III yaitu 131,4 ton. Fungsi –fungsi yang dijalankan oleh lembaga – lembaga tataniaga yang terlibat meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Semua lembaga tataniaga tidak menjalankan fungsi penyimpanan dan fungsi sortasi dan grading. Struktur pasar yang dihadapi oleh pedagang pengecer (lokal) dan pedagang pengecer luar kota (non-lokal) sebagai pembeli yaitu pasar persaingan sempurna, sedangkan struktur
pasar yang dihadapi pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul pasar lokal, dan pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal) yaitu pasar oligopsoni murni. Struktur pasar yang dihadapi petani sebagai penjual yaitu pasar persaingan sempurna. Pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul pasar lokal, pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal), pedagang pengecer (lokal) dan pedagang pengecer luar kota (non-lokal) sebagai penjual menghadapi pasar oligopoli murni. Perilaku pasar diketahui dari praktek penjualan dan pembelian, sistem penentuan harga, sistem pembayaran, dan kerjasama antar lembaga tataniaga.
Hasil analisis tataniaga menunjukkan bahwa masing- masing lembaga memiliki sebaran margin dan keuntungan yang berbeda-beda sesuai fungsi tataniaga yang dilakukan. Nilai margin tataniaga terbesar terbentuk pada saluran II dan saluran III yaitu 66,67 persen. Pada saluran I dan IV nilai margin tataniaga yaitu 50,00 persen 45,00 persen. Pada saluran V tidak terbentuk margin tataniaga karena petani menjual kubis langsung ke konsumen akhir (lokal). Farmer’s share terbesar diperoleh pada saluran V yaitu 100,00 persen. Saluran II dan saluran III merupakan saluran tataniaga dengan nilai farmer’s share terendah yaitu 33,33 persen. Pada saluran I dan saluran IV nilai farmer’s sharenya masing-masing yaitu 50,00 persen dan 55,00 persen. Nilai rasio keuntungan terhadap biaya yang terbesar terdapat pada saluran I yaitu 3,44 dan yang terendah terdapat pada saluran IV yaitu 2,63. Pada saluran II dan saluran III nilai rasio keuntungan terhadap biaya yaitu 2,68 dan 2,74. Volume penjualan terbesar terdapat pada saluran III yaitu 134,4 ton, sedangkan volume penjualan terkecil terdapat pada saluran II yaitu 4,00 ton. Pada saluran I volume penjualan menempati urutan terbesar kedua yaitu 117,4 ton. Volume penjualan pada saluran IV dan saluran V yaitu 16,15 ton dan 40,45 ton. Berdasarkan uraian tersebut maka saluran yang relatif lebih efisien yaitu saluran I dan Saluran III.
Saran yang dapat direkomendasikan yaitu lembaga-lembaga tataniaga dapat melalui saluran tataniaga yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Namun saluran I dan saluran III merupakan saluran yang relatif lebih efisien bagi petani. Petani yang bukan anggota kelompok tani ada baiknya jika bergabung ke kelompok tani karena kelompok tani merupakan wadah bertukar pikiran terkait masalah on farm (budidaya) sehingga dapat meningkatkan produktivitas kubis yang dibudidayakan. Selain itu, peran serta kelompok tani (Poktan) dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) dalam tataniaga kubis di Kelurahan Agung Lawangan dapat juga dijadikan pertimbangan karena hal tersebut dapat meningkatkan posisi tawar petani kubis. Pemerintah khususnya dinas pertanian Kota Pagar Alam sebagai penanggung jawab harus mendukung dan memfasilitasi keberadaan Sub Terminal Agribisnis (STA) agar dapat berperan lebih aktif. Adanya fluktuasi harga dan volume penjualan yang melimpah pada saat panen raya, menuntut adanya industri pengolahan kubis. Sortasi dan grading sebaiknya dilakukan baik oleh petani maupun pedagang untuk meningkatkan pendapatan. Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai analisis keterpaduan pasar antara pasar acuan dengan pasar produsen di tingkat petani Kelurahan Agung Lawangan untuk melihat efisiensi dari sisi harga.
ANALISIS TATANIAGA KUBIS
(Studi Kasus: Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan)
ARINI PRIHATIN H34080032
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Tataniaga Kubis (Studi Kasus: Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan)
Nama : Arini Prihatin NIM : H34080032
Menyetujui, Pembimbing
Ir. Narni Farmayanti, M.Sc
NIP. 19630228 199003 2 001
Mengetahui,
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 19580908 198403 1 002
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Tataniaga Kubis (Studi Kasus: Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo
Utara, Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan)” adalah karya sendiri dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Juni 2012
Arini Prihatin H34080032