• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.4. Struktur Pasar

6.5.4. Kerjasama Antar Lembaga Tataniaga

Kerjasama yang terjadi antar lembaga tataniaga didasarkan pada lamanya hubungan dagang sehingga muncul rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Kerjasama yang berkelanjutan tersebut dapat mengurangi pengeluaran lembaga tataniaga dalam pengeluaran biaya berganti pemasok. Kerjasama yang dilakukan yaitu dalam bentuk penyampaian dan pertukaran informasi antar lembaga tataniaga. Petani juga melakukan kerjasama dengan pedagang pengumpul tingkat desa dalam bentuk penyediaan modal dan input produksi seperti pupuk dan pestisida.

6.6. Analisis Margin Tataniaga

Margin tataniaga merupakan salah satu indikator untuk menentukan efisiensi tataniaga. Margin tataniaga yang merupakan perbedaan harga pada tingkat yang berbeda dalam sistem tataniaga dihitung melalui pengurangan harga jual terhadap harga beli oleh lembaga tataniaga. Komponen-komponen dari tataniaga antara lain biaya tataniaga dan keuntungan tataniaga. Biaya tataniaga

70 merupakan biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga dalam mengalirkan kubis hingga ke konsumen akhir. Biaya tataniaga tersebut terdiri dari biaya pengangkutan, pembelian karung, tali, kantong plastik, biaya retribusi, dan lain sebagainya. Keuntungan tataniaga diperoleh dengan mengurangkan harga jual terhadap harga beli yang ditambah dengan biaya tataniaga. Margin yang diperoleh pada setiap lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga dapat dilihat pada Lampiran 6.

Berdasarkan lampiran 6 dapat diketahui margin tataniaga yang diperoleh oleh masing-masing lembaga tataniaga. Total margin tataniaga terbesar terdapat pada saluran II dan saluran III yaitu Rp 2.000,00 per kilogram (66,67 persen). Meskipun saluran II dan saluran III bukan merupakan saluran terpanjang namun jarak pasar yang jauh (kubis dikirim ke luar kota) menuntut pedagang untuk mengambil margin yang cukup besar karena biaya dan risiko yang ditanggungpun besar. Selanjutnya, pada saluran I dan saluran IV total margin tataniaga yang diperoleh masing-masing saluran yaitu Rp 1.000,00 per kilogram (50,00 persen) dan Rp 900,00 per kilogram (45,00 persen). Pada saluran I dan saluran IV kubis dialirkan menuju pasar lokal (Kota Pagar Alam) dan jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh dibandingkan saluran II dan III sehingga pedagang mengambil margin yang tidak terlalu besar pula. Pada saluran I total margin yang diperoleh lebih besar dibandingkan saluran IV. Hal ini disebabkan saluran I melibatkan banyak lembaga tataniaga seperti pedagang pengumpul tingkat desa, pedagang pengumpul pasar lokal, dan pedagang pengecer (lokal). Sedangkan pada saluran IV hanya melibatkan pedagang pengecer (lokal). Pada saluran V tidak terdapat margin tataniaga karena tidak melibatkan perantara seperti pedagang pengumpul dan pedagang pengecer.

Pada saluran I petani menjual kubis ke pedagang pengumpul tingkat desa dengan harga Rp 1.000,00 per kilogram yang kemudian oleh pedagang pengumpul tingkat desa dijual dengan harga Rp 1.200,00 per kilogram ke pedagang pengumpul pasar lokal. Pedagang pengumpul pasar lokal menjual kubis tersebut dengan harga Rp 1.600,00 per kilogram ke pedagang pengecer (lokal). Pedagang pengecer menjualnya kembali dengan harga Rp 2.000,00 per kilogram. Pedagang pengumpul pasar lokal dan pedagang pengecer (lokal) pada saluran I

71 merupakan lembaga tataniaga yang memperoleh margin terbesar dalam penyaluran kubis ke pasar lokal (Kota Pagar Alam) yaitu Rp 400,00 (20,00 persen). Sedangkan pedagang pengumpul tingkat desa memperoleh margin terkecil yaitu Rp 200,00 per kilogram (10,00 persen).

Pada saluran II petani menjual kubis ke pedagang pengumpul tingkat desa dengan harga Rp 1.000,00 per kilogram. Pedagang pengumpul tingkat desa kemudian menjual beberapa bagian kubis yang tersebut ke pedagang pengumpul luar kota (non-lokal) (3,3 persen) dengan harga Rp 1.200,00. Pedagang pengumpul luar kota (non-lokal) pada saluran II menjual kubis ke pedagang pengecer luar kota (non-lokal) dengan harga yang sama pada saluran III (Rp 2.000,00 per kilogram) meskipun pada saluran II pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal) memperoleh kubis dari pedagang pengumpul tingkat desa dengan harga yang lebih mahal dari petani pada saluran III (Rp 1.000,00 per kilogram). Pada saluran II dan saluran III lembaga tataniaga yang memperoleh margin terbesar yaitu pedagang pengecer luar kota (non-lokal) yaitu Rp 1.000,00 per kilogram (33,33 persen). Pedagang pengumpul tingkat desa pada saluran II juga memperoleh margin yang terkecil yaitu Rp 200,00 (6,67 persen). Hal ini dikarenakan risiko yang ditanggung pedagang pengumpul tingkat desa lebih kecil dibandingkan risiko yang ditanggung oleh lembaga tataniaga lainnya seperti pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal) dan pedagang pengecer luar kota (non-lokal). Pedagang pengumpul tingkat desa umumnya telah memiliki langganan untuk tujuan penjualan kubis yang dibelinya sehingga kemungkinan tidak terjual menjadi sangat sulit terjadi.

6.7. Farmer’s Share

Farmer’s share merupakan salah satu indikator dalam menentukan efisiensi tataniaga. Farmer’s share merupakan perbandingan antara harga yang diterima petani dengan harga yang diterima konsumen akhir yang dinyatakan dalam persen. Farmer’s share memiliki hubungan negatif dengan margin tataniaga. Semakin tinggi farmer’s share maka semakin rendah margin tataniaga dan sebaliknya semakin rendah farmer’s share maka margin tataniaga akan semakin tinggi. Farmer’s share yang tinggi tidak selalu mengindikasikan bahwa tataniaga berjalan secara efisien karena berkaitan dengan besar kecilnya manfaat

72 yang ditambahkan pada produk (added value) yang dilakukan lembaga tataniaga.

Farmer’s share yang diterima petani dalam setiap saluran tataniaga dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Farmer’s Share Pada Saluran Tataniaga Kubis di Kelurahan Agung Lawangan

Saluran Tataniaga Harga di Tingkat Petani (Rp/Kg) Harga di Tingkat Konsumen (Rp/Kg) Farmer’s Share (%) Saluran I 1.000 2.000 50,00 Saluran II 1.000 3.000 33,33 Saluran III 1.000 3.000 33,33 Saluran IV 1.100 2.000 55,00 Saluran V 1.500 1.500 100,00

Berdasarkan Tabel 13 ditunjukkan bahwa bagian terbesar yang diterima petani yaitu pada saluran V sebesar 100 persen. Artinya bagian yang diterima petani sebesar 100 persen dari harga yang dibayarkan konsumen. Kondisi ini terjadi karena petani menjual langsung kubis yang dipanennya ke konsumen akhir sehingga tidak terbentuk suatu margin tataniaga. Selain itu, petani dapat menetapkan harga yang lebih murah karena saluran yang dilalui sangat pendek. Namun saluran V tidak rutin dilalui petani dan volume penjualan pada saluran tersebut relatif kecil. Selanjutnya pada saluran IV petani menerima bagian sebesar 55 persen. Artinya petani menerima 55 persen dari harga yang dibayarkan konsumen. Pada Saluran IV petani menjual kubis ke pedagang pengecer (lokal) yang kemudian dijual ke konsumen akhir. Saluran ini juga cukup pendek sehingga margin yang terbentukpun sangat kecil.

Bagian yang diterima petani pada saluran I sebesar 50 persen. Petani menerima 50 persen dari harga yang dibayarkan konsumen. Saluran I merupakan saluran yang paling panjang karena melibatkan banyak lembaga tataniaga. Pada saluran II dan saluran III bagian yang diterima petani sama yaitu 33,33 persen. Maskipun lembaga yang terlibat dalam kedua saluran tersebut berbeda, harga yang dibayar oleh konsumen dan harga yang diterima petani sama. Bagian yang diterima petani sebesar 33,33 persen dari harga yang dibayarkan konsumen. Bagian ini merupakan bagian terkecil jika dibandingkan dengan bagian yang diterima pada saluran I, IV, dan V.

73

6.8. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya

Rasio keuntungan terhadap biaya juga dapat dijadikan indikator dalam menentukan efisiensi tataniaga. Rasio keuntungan terhadap biaya dihitung dengan menjumlahkan keuntungan yang diterima masing-masing lembaga tataniaga dalam saluran tataniaga dan dibagi dengan penjumlahan dari biaya tataniaga yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga tataniaga dalam menyalurkan kubis hingga ke konsumen akhir.

Biaya tataniaga merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga- lembaga tataniaga dalam menyalurkan kubis hingga ke konsumen akhir, sedangkan keuntungan lembaga tataniaga merupakan selisih antara margin tataniaga yang diperoleh dengan biaya tataniaga yang dikeluarkan dalam menyalurkan kubis. Rasio keuntungan terhadap biaya pada suatu saluran tataniaga dapat dikatakan efisien apabila penyebaran nilai rasio keuntungan terhadap biaya merata pada masing-masing lembaga tataniaga. Artinya setiap satu satuan rupiah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga akan memberikan keuntungan yang tidak jauh berbeda dengan lembaga tataniaga lainnya yang terdapat pada saluran tersebut. Rasio keuntungan terhadap biaya yang diperoleh untuk setiap saluran tataniaga kubis dapat dilihat pada tabel 14.

Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa total rasio keuntungan terhadap biaya yang paling besar diperoleh pada saluran I yaitu 3,44. Artinya setiap satu satuan rupiah yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga akan menghasilkan keuntungan sebesar 3,44 rupiah. Dilihat dari kondisi keseluruhan, saluran I memberikan keuntungan yang lebih besar jika dibandingkan dengan keempat saluran lainnya.

Pada saluran I total biaya tataniaga yang dikeluarkan yaitu Rp 225,00 per kilogram dan total keuntungan yaitu Rp 775,00 per kilogram. Biaya terbesar dikeluarkan oleh pedagang pengecer (lokal) sebesar Rp 120,00 per kilogram. Hal ini dikarenakan risiko atas kerusakan barang dan risiko tidak terjual karena banyaknya pedagang yang bermain di pasar pedagang pengecer (lokal). Keuntungan terbesar pada saluran I diperoleh oleh pedagang pengumpul pasar lokal. Biaya terkecil dikeluarkan oleh pedagang pengumpul tingkat desa (Rp 40,00 per kilogram).

74 Tabel 14. Rasio Keuntungan Terhadap Biaya Pada Saluran Tataniaga Kubis di

Kelurahan Agung Lawangan Lembaga

Tataniaga

Saluran Tataniaga

Saluran I Saluran II Saluran III Saluran IV Pedagang Pengumpul Tingkat Desa Ci 40,00 50,00 Πi 160,00 150,00 πi/ci 4,00 3,00 Pedagang Pengumpul Pasar Lokal Ci 65,00 Πi 335,00 πi/ci 5,15 Pedagang Pengumpul Pasar Luar Kota (Non-lokal) Ci 313,75 353,75 Πi 486,25 646,25 πi/ci 1,55 1,83 Pedagang Pengecer Luar Kota (Non- lokal) Ci 180,00 180,00 Πi 820,00 820,00 πi/ci 4,56 4,56 Pedagang Pengecer (lokal) Ci 120 247,62 Πi 280 652,38 πi/ci 2,33 2,63 Total Ci 225,00 543,75 533,75 247,62 Πi 775,00 1.456,25 1.466,25 652,38 πi/ci 3,44 2,68 2,74 2,63

Saluran yang selanjutnya juga memberikan keuntungan yang besar dalam tataniaga kubis yaitu saluran III sebesar 2,74, Artinya setiap satu satuan rupiah yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga akan menghasilkan keuntungan sebesar 2,74 rupiah. Biaya terbesar pada saluran III dikeluarkan oleh pedagang pengumpul pasar luar kota (non-lokal) sedangkan keuntungan terbesar diperoleh

75 pedagang pengecer luar kota (non-lokal). Hal ini juga terjadi pada saluran II. Pada saluran IV nilai rasio keuntungan terhadap biaya merupakan nilai yang terkecil yaitu 2,63. Artinya setiap satu satuan rupiah yang dikeluarkan oleh lembaga tataniaga akan menghasilkan keuntungan sebesar 2,63 rupiah. Lembaga tataniaga yang terlibat di saluran ini hanya pedagang pengecer (lokal).

6.9. Efisiensi Tataniaga

Efisiensi tataniga dapat diukur menggunakan beberapa indikator meliputi saluran tataniaga yang terbentuk, fungsi-fungsi tataniaga yang dijalankan, struktur dan perilaku pasar. Efisiensi tataniaga juga diukur dengan melihat margin tataniaga yang terbentuk, farmer’s share, nilai keuntungan terhadap biaya, dan volume penjualan pada setiap saluran. Efisiensi tataniaga pada setiap saluran dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Nilai Efisiensi Tataniaga pada Saluran Tataniaga Kubis di Kelurahan Agung Lawangan Saluran Tataniaga Harga di Tingkat Konsumen Akhir (Rp/kg) Total Biaya Tataniaga (Rp/kg) Margin Tataniaga (%) Farmer’s Share (%) Rasio Keuntungan Terhadap Biaya (πi/ci) Volume Penjualan (Ton) Saluran I 2.000 370,10 50,00 50,00 3,44 117,40 Saluran II 3.000 688,85 66,67 33,33 2,68 4,00 Saluran III 3.000 650,52 66,67 33,33 2,74 134,40 Saluran IV 2.000 311,74 45,00 55,00 2,63 16,15 Saluran V 1.500 371,95 - 100,00 - 40,45

Berdasarkan Tabel 15 diatas ukuran efisiensi tataniaga kubis di Kelurahan Agung Lawangan dapat diketahui dengan melihat nilai masing-masing indikator. Nilai margin tataniaga terbesar terbentuk pada saluran II dan saluran III yaitu 66,67 persen, sedangkan nilai margin terkecil terbentuk pada saluran IV yaitu 45,00 persen. Pada saluran I nilai margin tataniaga yang terbentuk sebesar 50,00 persen. Pada saluran V tidak terbentuk margin tataniaga karena petani menjual kubis langsung ke konsumen akhir. Nilai margin terkecil pada saluran IV belum dapat menggambarkan bahwa saluran tataniaga tersebut merupakan saluran tataniaga yang efisien karena harus mempertimbangkan indikator lainnya.

76

Farmer’s share terbesar diperoleh pada saluran V yaitu 100,00 persen. Hal ini disebabkan karena saluran V merupakan saluran tataniaga kubis terpendek dan tidak melibatkan lembaga perantara. Kondisi farmer’s share seperti ini juga terjadi pada tataniaga jamur tiram putih di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur Jawa Barat, yaitu petani menjual langsung jamur tiram putih yang diproduksinya ke konsumen akhir tanpa melalui perantara sehingga petani menerima bagian sebesar 100,00 persen. Saluran II dan saluran III merupakan saluran tataniaga dengan nilai farmer’s share terendah yaitu 33,33 persen. Pada saluran I dan saluran IV nilai farmer’s sharenya masing-masing yaitu 50,00 persen dan 55,00 persen. Nilai farmer’s share pada saluran IV menempati urutan terbesar kedua setelah saluran V.

Nilai rasio keuntungan terhadap biaya yang terbesar terdapat pada saluran I yaitu 3,44 dan yang terendah terdapat pada saluran IV yaitu 2,63. Pada saluran II dan saluran III nilai rasio keuntungan terhadap biaya yaitu 2,68 dan 2,74. Volume penjualan terbesar terdapat pada saluran III yaitu 134,4 ton, sedangkan volume penjualan terkecil terdapat pada saluran II yaitu 4,00 ton. Pada saluran I volume penjualan menempati urutan terbesar kedua yaitu 117,4 ton. Volume penjualan pada saluran IV dan saluran V yaitu 16,15 ton dan 40,45 ton.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa saluran tataniaga yang efisien yaitu saluran tataniaga I dan saluran III. Beberapa alasan yang mendasari kesimpulan tersebut yaitu: 1). Margin tataniaga pada saluran I menempati urutan terkecil kedua setelah saluran IV. Efisiensi tataniaga tidak hanya mempertimbangkan margin tataniaga yang diperoleh namun juga pertimbangan lain seperti volume penjualan. Meskipun margin tataniaga pada saluran IV lebih kecil dibandingkan saluran I, namun volume penjualan pada saluran I jauh lebih besar dibandingkan saluran IV. 2). Farmer’s share pada saluran I menempati urutan terbesar ketiga. Meskipun farmer’s share pada saluran V merupakan nilai yang terbesar namun saluran V tidak rutin dilalui petani dalam menyalurkan produknya. Petani hanya dapat menyalurkan kubis melalui saluran V jika harga kubis sedang tinggi. 3). Nilai rasio keuntungan terhadap biaya pada saluran Ipun menempati urutan terbesar pertama yang memberikan keuntungan lebih besar jika dibandingkan keempat saluran lainnya yang selanjutnya diikuti

77 saluran III. 4) Volume penjualan pada saluran III dan saluran I merupakan volume yang terbanyak. 5) Petani relatif lebih kontinu menggunakan saluran I dan saluran III.

Dokumen terkait