Rasa syukur yang besar penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah berkenan memberi petunjuk dan kekuatan kepada penyusun sehingga modul panduan Family
Psychoeducation untuk keluarga klien dengan schizophrenia ini dapat diselesaikan. Modul ini
adalah panduan untuk melaksanakan terapi spesialis Family Psychoeducation di lingkungan masyarakat atau di rumah sakit. Terapi ini dimaksudkan agar keluarga memiliki pengetahuan yang adekuat mengenai masalah yang dialami klien, mampu merawat klien dan mampu mengatasi masalah yang muncul di dalam diri dan keluarga karena merawat klien. Karena itu modul ini berisi langkah-langkah dalam melaksanakan Family Psychoeducation (FPE) pada keluarga klien dengan schizophrenia di masyarakat.
Penyusun ingin mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc., yang telah mengarahkan pembuatan modul ini dan kepada pihak-pihak lain yang telah turut membantu tersusunnya modul ini. Penyusun sangat mengharapkan masukan yang membangun untuk mengembangkan modul ini lebih lanjut. Dan penyusun berharap modul ini dapat digunakan secara luas untuk keluarga klien dengan schizophrenia.
Depok, April 2012
Halaman sampul i
Kata pengantar ii
Daftar isi iii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang 1
1.2 Tujuan 3
1.3 Manfaat 3
Bab II Pedoman pelaksanaan psikoedukasi keluarga pada keluarga dengan anggota keluarga
schizophrenia
2.1 Sesi 1: Pengkajian masalah keluarga 4 2.2 Sesi 2: Cara perawatan klien gangguan jiwa 8 2.3 Sesi 3: Manajemen stress keluarga 11 2.4 Sesi 4: Manajemen beban keluarga 14 2.5 Sesi 5: Pemberdayaan komunitas untuk membantu keluarga 18
Bab III Penutup 22
1.1 Latar Belakang
NAMI (National Alliance on Mental Illness) menyatakan bahwa gejala negatif dari
schizophrenia termasuk terjadinya afek datar dan menurunnya ekspresi emosi klien, dan
ketidakmampuan memulai atau mengakhiri aktivitas, dan kurangnya rasa nyaman atau minat dalam hidup (NAMI, 2012). Pernyataan ini menjadi dasar untuk memahami bahwa klien
schizophrenia akan mengalami gangguan dalam aktivitasnya. Kebanyakan orang dengan schizophrenia memiliki kesulitan dalam menjalankan pekerjaannya atau bahkan untuk
merawat dirinya sendiri, maka mereka bergantung pada bantuan orang lain (NIMH, 2012). Dari sini dapat dilihat bahwa schizophrenia berdampak buruk pada individu, keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Bagi klien sebagai individu, schizophrenia menyebabkan gangguan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari atau berdampak kepada kemandirian klien. Hal ini menyebabkan klien banyak tergantung kepada orang lain, terutama keluarga. Kemandirian sendiri dapat diartikan sebagai kemampuan klien menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini selaras ciri sehat jiwa pertama, yaitu memiliki otonomi atau kemandirian. Di mana seorang individu dapat menentukan apa yang akan dilakukannya dan mampu melakukan banyak hal secara mandiri.
Orang dengan schizophrenia membutuhkan dukungan dan pengetahuan mengenai kebersihan diri, berpakaian, berbelanja, memasak, dan membereskan rumah, mengatur keuangan, membangun hubungan sosial dan memanaje waktu. Bekerja dapat akan mengalami banyak kesulitan dan banyak orang dengan schizophrenia yang tidak bekerja walaupun mereka menginginkannya. Saat mereka bekerja, mereka akan sangat membutuhkan dukungan terkait manajemen pengobatan dan pekerjaan dan kejelasan tentang status kesehatan mereka (Chang & Johnson, 2008).
Beberapa pemberi layanan menangani schizophrenia sebagai penyakit yang tidak hanya mengenai individu saja, tetapi juga seluruh keluarga. Walaupun keluarga tampak memiliki koping yang baik, dapat dipastikan ada pengaruh pada status mental keluarga saat salah satu anggota keluarga mengalami schizophrenia. Safier (1997, dalam Townsend, 2009) menyatakan bahwa keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan schizophrenia akan
Intervensi kepada keluarga dimaksudkan untuk memperkuat sistem keluarga, mencegah atau menghambat kekambuhan, dan mempertahankan klien di masyarakatnya. Program psikoedukasi ini memperlakukan keluarga sebagai sumber, bukan sebagai stressor, dengan berfokus pada penyelesaian masalah yang konkrit, dan perilaku menolong yang spesifik untuk beradaptasi dengan stress. Dengan memberikan informasi pada keluarga tentang penyakit dan menyarankan tentang mekanisme koping yang efektif, program psikoedukasi mengurangi kecenderungan klien untuk kambuh dan mengurangi pengaruh penyakit ini pada keluarga yang lain (Townsend, 2009).
Psikoedukasi untuk keluarga termasuk dengan individu yang mengalami gangguan, seperti schizophrenia, depresi mayor, dan gangguan bipolar, biasanya dikombinasikan dengan terapi farmaka (Nathan and Gorman, 2007 dalam Stuart, 2009). Psikoedukasi ini terbukti memperbaiki gejala umum dan mengurangi penolakan serta beban keluarga (Stuart, 2009). Terapi keluarga biasanya terdiri dari program utama untuk memberikan edukasi kepada keluarga tentang schizophrenia, dan program yang lebih luas dengan keluarga dibentuk untuk mengurangi manifestasi konflik yang jelas dan untuk merubah pola komunikasi keluarga dan penyelesaian masalah. Respon terhadap terapi ini sangat dramatis. Ho, Black, dan Andreasen (2003 dalam Townsend, 2009) melaporkan pada beberapa penelitian bahwa hasil positif pada penanganan klien dengan schizophrenia ini dapat tercapai dengan mengikutsertakan keluarga dalam pelayanan.
Family Psychoeducation therapy adalah salah satu elemen program perawatan kesehatan jiwa
keluarga dengan cara pemberian informasi dan edukasi melalui komunikasi yang terapeutik. Program psikoedukasi merupakan pendekatan yang bersifat edukasi dan pragmatik (Stuart, 2009).
1.2 Tujuan
Setelah diberikan terapi family psychoeducation, keluarga diharapkan mampu:
1.2.1 Memahami masalah yang dialami oleh anggota keluarga dengan schizophrenia 1.2.2 Mengatasi masalah pada diri sendiri yang muncul karena merawat anggota keluarga
dengan schizophrenia
1.2.3 Mengatasi beban pada keluarga yang muncul karena adanya anggota keluarga dengan schizophrenia
1.3.1 Bagi keluarga, dapat memiliki kemampuan untuk merawat klien dan mengatasi masalah yang timbul karena merawat klien
1.3.2 Bagi klien, secara tidak langsung mendapatkan perawatan yang optimal dari keluarga
BAB II
PEDOMAN PELAKSANAAN PSIKOEDUKASI KELUARGA (FAMILY PSYCHOEDUCATION) PADA KELUARGA DENGAN ANGGOTA KELUARGA SCHIZOPHRENIA
Pelaksanaan terapi psikoedukasi keluarga terdiri dari 5 sesi. Setiap sesi dilakukan selama 45-60 menit. Adapun urutan dari terapi ini adalah sebagai berikut:
2.1 Sesi 1: Pengkajian Masalah Keluarga
Pada sesi pertama ini terapis dan keluarga bersama-sama mengidentifikasi masalah yang timbul di keluarga karena memiliki klien gangguan jiwa. Terapi ini mengikutsertakan seluruh anggota keluarga yang terpengaruh dan terlibat dalam perawatan klien, terutama caregiver. Hal yang perlu diidentifikasi adalah makna gangguan jiwa bagi keluarga dan dampaknya pada orangtua, anak, saudara kandung, dan pasangan.
Pengkajian dibuat terpisah antara masalah yang dirasakan oleh caregiver dan anggota keluarga yang lain. Pengkajian berfokus pada masalah dalam merawat klien sakit dan masalah yang muncul pada diri karena merawat klien. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan pada saat mengkaji masalah ini adalah sebagai berikut (Saunders, 1997 dalam Stuart, 2009): - Situasi bagaimana yang membuat stress pada keluarga anda?
- Bagaimana perasaan anda mengenai ketergantungan, interaksi sosial atau respon terhadap tindakan pada anggota keluarga yang sakit?
- Seberapa besar dukungan yang anda dapatkan dari profesional kesehatan mental, komunitas atau keluarga besar anda?
2.1.1 Tujuan sesi I:
1. Peserta dapat menyepakati kontrak program psikoedukasi keluarga 2. Peserta mengetahui tujuan program psikoedukasi keluarga
4. Peserta dapat menyampaikan keinginan dan harapannya selama mengikuti program psikoedukasi keluarga
2.1.2 Setting
Peserta (keluarga) duduk berhadapan dengan terapis dalam posisi yang nyaman 2.1.3 Alat dan bahan
Leaflet/lembar balik, modul, dan buku kerja keluarga (format evaluasi dan dokumentasi)
2.1.4 Metode
Curah pendapat, ceramah, diskusi, dan tanya jawab 2.1.5 Langkah-langkah:
1. Persiapan
a. Mengingatkan keluarga 2 hari sebelum pelaksanaan terapi b. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Pelaksanaan Fase Orientasi:
a. Salam terapeutik: salam dari terapis
b. Memperkenalkan nama dan panggilan terapis c. Menanyakan nama dan panggilan peserta d. Validasi:
Menanyakan bagaimana perasaan peserta dalam mengikuti program psikoedukasi keluarga saat ini
e. Kontrak:
Menjelaskan tujuan pertemuan pertama yaitu untuk bekerjasama dan membantu keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan gangguan jiwa f. Terapis mengingatkan langkah – langkah setiap sesi sebagai berikut:
1) Menyepakati pelaksanaan terapi selama 5 sesi 2) Lama kegiatan 45 – 60 menit
3) Keluarga mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai dengan anggota keluarga yang tidak berganti
Fase Kerja :
2) Masalah dalam merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
3) Keluarga menuliskan masalahnya pada buku kerja keluarga 4) Terapis menuliskan pada buku kerja sendiri
b. Menanyakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam keluarga dengan adanya salah satu anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa
1) Setiap anggota keluarga diberi kesempatan untuk menyampaikan perubahan-perubahan yang dialami dalam keluarga
c. Menanyakan keinginan dan harapan keluarga selama mengikuti psikoedukasi keluarga
d. Memberikan kesempatan keluarga untuk mengajukan pertanyaan terkait dengan hasil diskusi yang sudah dilakukan
Fase Terminasi: a. Evaluasi:
1) Menyimpulkan hasil diskusi sesi I
2) Menanyakan perasaan keluarga setelah selesai sesi I
3) Memberikan umpan balik positif atas kerjasama dan kemampuan keluarga dalam menyampaikan apa yang dirasakan
b. Tindak lanjut:
1) Menganjurkan keluarga untuk menyampaikan dan mendiskusikan pada anggota keluarga yang lain tentang masalah yang dihadapi keluarga dan perubahan-perubahan yang terjadi pada keluarga dengan gangguan jiwa c. Kontrak:
1) Menyepakati topik sesi 2 yaitu menyampaikan tentang gangguan jiwa dan cara merawat klien gangguan jiwa
2) Menyepakati waktu dan tempat untuk pertemuan selanjutnya 2.1.6 Evaluasi dan dokumentasi
1. Evaluasi Proses
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan keluarga, keterlibatan keluarga dan proses pelaksanaan kegiatan secara keseluruhan.
Tanggal :
No Kegiatan 1 2 3 Anggota keluarga4 5 6 7 8 9 10 1 Hadir dalam terapi
2 Menyepakati kontrak kegiatan
3 Menyampaikan masalah yang dialami (masalah pribadi yang dirasakan anggota keluarga dan perubahan yang dialami dalam keluarga)
4 Aktif dalam diskusi
2. Dokumentasi Kemampuan
Pada dokumentasi dituliskan ungkapan secara singkat apa yang telah disampaikan oleh keluarga yaitu masalah pribadi yang dirasakan anggota keluarga dan masalah yang dialami selama merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa dan perubahan– perubahan yang terjadi dalam keluarga.
Format Dokumentasi
Sesi I Psikoedukasi Keluarga: Pengkajian Masalah Keluarga (caregiver)
Tanggal:
No Masalah pribadi dalam merawat Masalah yang muncul karena anggota keluarga sakit Keinginan Harapan 1.
2. 3.
Format Dokumentasi
Sesi I Psikoedukasi Keluarga: Pengkajian Masalah Keluarga (anggota keluarga lain)
Tanggal:
No
Nama anggota
keluarga Masalah pribadi
dalam merawat Masalah yang muncul karena anggota keluarga sakit Keinginan Harapan 1.
2. 3.
diberikan kepada keluarga terkait dengan diagnosa medis dan diagnosa keperawatan yang dialami klien. Edukasi pada sesi II ini disesuaikan dengan SAK keluarga yang telah dikembangkan pada untuk intervensi generalis. Intervensi yang diberikan pada sesi II ini didasarkan dengan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien.
Bellack dan Mueser (1993 dalam Fortinash & Worret, 2004) menyatakan bahwa intervensi dengan memberikan edukasi pada keluarga dapat membantu keluarga menghadapi stressor karena klien sakit, yang berefek positif pada kondisi klien. Townsend (2009) menyatakan dampak positif program psikoedukasional secara tidak langsung pada klien yaitu bahwa dengan memberikan informasi mengenai penyakit klien pada keluarga dan memberikan saran mengenai koping yang baik, akan menurunkan kecenderungan klien untuk kambuh dan menurunkan kemungkinan pengaruh berbahaya gangguan jiwa terhadap anggota keluarga yang lain.
2.2.1 Tujuan sesi II:
1. Keluarga mengetahui tentang gangguan jiwa yang dialami oleh klien
2. Keluarga mengetahui tentang pengertian, gejala, etiologi, prognosis, intervensi dan terapi yang dapat diberikan kepada klien gangguan jiwa
3. Keluarga mengetahui cara merawat klien dengan gangguan jiwa di rumah
4. Keluarga mampu memperagakan cara merawat klien dengan gangguan jiwa di rumah
2.2.2 Setting
Peserta (keluarga) duduk berhadapan dengan terapis dalam posisi yang nyaman 2.2.3 Alat
Leaflet/lembar balik, modul, dan buku kerja keluarga (format evaluasi dan dokumentasi)
2.2.4 Metoda
Ceramah, diskusi, curah pendapat dan tanya jawab 2.2.5 Langkah-langkah
1. Persiapan
a. Salam terapeutik: salam dari terapis.
b. Evaluasi: menanyakan perasaan keluarga hari ini dan menanyakan apakah keluarga mempunyai pertanyaan dari pertemuan sebelumnya, misalnya tentang masalah yang dialami oleh anggota keluarga yang lain.
c. Kontrak: menyepakati waktu dan lama sesi. Fase Kerja
a. Mendiskusikan tentang gangguan jiwa yang dialami oleh salah satu anggota keluarga (misalnya: perilaku kekerasan, halusinasi).
1) Anggota keluarga menyampaikan pengalamannya selama ini 2) Memberi kesempatan anggota keluarga lain untuk memberi pendapat b. Menyampaikan tentang konsep gangguan jiwa meliputi pengertian, penyebab,
tanda, prognosis, intervensi dan terapi.
1) Anggota keluarga menyampaikan pengalaman mereka 2) Memberi kesempatan kepada keluarga untuk bertanya
c. Mendiskusikan cara merawat klien dengan gangguan jiwa yang selama ini dilakukan oleh keluarga.
d. Mendemonstrasikan cara merawat klien dengan gangguan jiwa, misalnya klien dengan halusinasi atau perilaku kekerasan.
1) Meminta keluarga untuk mendemonstrasikan kembali salah satu cara merawat klien dengan gangguan jiwa, misalnya halusinasi.
2) Memberi masukan terhadap hal–hal yang perlu ditingkatkan oleh keluarga.
3) Memberi kesempatan anggota keluarga lain untuk memperagakan cara merawat klien dengan gangguan jiwa di rumah.
Fase Terminasi a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan keluarga setelah sesi II selesai
2) Memberikan umpan balik positif atas kerjasama peserta yang baik b. Tindak lanjut: menganjurkan keluarga untuk menyampaikan tentang materi
gangguan jiwa yang telah dijelaskan kepada anggota keluarga yang lain c. Kontrak: menyepakati topik sesi berikutnya, waktu dan tempat untuk
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan keluarga, keterlibatan keluarga dan proses pelaksanaan secara keseluruhan.
Format Evaluasi
Sesi II Psikoedukasi Keluarga: Perawatan Klien Gangguan Jiwa No Kegiatan Anggota keluarga
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 Hadir dalam terapi
2 Menyebutkan pengertian gangguan jiwa 3 Menjelaskan gangguan jiwa yang dialami
anggota keluarga
4 Menyebutkan dan mendemonstrasikan cara merawat klien
5 Aktif dalam diskusi 2. Dokumentasi
Pada dokumentasi dituliskan ungkapan secara singkat apa yang telah disampaikan oleh keluarga yaitu tentang gangguan jiwa yang dialami oleh anggota keluarga.
Format Dokumentasi
Sesi II Psikoedukasi Keluarga: Perawatan Klien Gangguan Jiwa
No Masalah yg dialami klien Cara mengatasi masalah 1
2 3
2.3 Sesi III: Manajemen Stress Keluarga
Stress adalah kondisi ketidakseimbangan yang terjadi saat ada kesenjangan keinginan individu dalam lingkungan internal atau eksternalnya dengan kemampuannya untuk menghadapi keinginan-keinginan tersebut (Townsend, 2009). Stressor adalah keinginan dari lingkungan internal atau eksternal individu yang meningkatkan respon fisiologis dan/atau psikologis seseorang. Kondisi klien dengan schizophrenia dapat menjadi stressor tersendiri bagi keluarga. Setiap stressor dapat dihadapi dengan memiliki kemampuan koping yang baik. Untuk meningkatkan kemampuan koping yang baik, diperlukan manajemen stress yang tepat. Manajemen stress adalah berbagai metode yang digunakan oleh seseorang untuk mengurangi tekanan dan respon maladaptif lain terhadap stress dalam hidup; termasuk latihan relaksasi, latihan fisik, musik, mental imagery, atau teknik teknik lain yang berhasil pada individu tersebut.
Sesi III dari FPE adalah sesi untuk membantu mengatasi masalah masing-masing individu keluarga yang muncul karena merawat klien. Stress akan terjadi terutama pada caregiver yang
2.3.1 Tujuan sesi III:
1. Keluarga mampu berbagi pengalaman dengan anggota keluarga lain tentang stres yang dirasakan akibat salah satu anggota mengalami gangguan jiwa dalam keluarga
2. Keluarga mendapatkan informasi tentang cara mengatasi stres yang dialami akibat salah satu anggota mengalami gangguan jiwa dalam keluarga
3. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara mengatasi stres 4. Keluarga dapat mengatasi hambatan dalam mengurangi stres 2.3.2 Setting
Peserta (keluarga) duduk berhadapan dengan terapis dalam posisi yang nyaman. 2.3.3 Alat
Lembar balik/leaflet, modul, dan buku kerja keluarga (format evaluasi dan dokumentasi), alat bantu disesuaikan dengan teknik manajemen stress yang dipilih. 2.3.4 Metode
Ceramah, diskusi, curah pendapat, role play (bermain peran) dan tanya jawab. 2.3.5 Langkah-langkah
1. Persiapan
a. Mengingatkan keluarga minimal 2 hari sebelumnya b. Mempersiapkan diri, tempat dan peserta
2. Pelaksanaan Fase Orientasi
a. Salam terapeutik: salam dari terapis
b. Validasi: menanyakan perasaan keluarga hari ini dan menanyakan apakah keluarga mempunyai pertanyaan dari pertemuan sebelumnya, yaitu tentang materi gangguan jiwa dan cara merawat klien di rumah
c. Kontrak: menyepakati lama waktu terapi (sesi) serta materi yang akan disampaikan
Fase Kerja
Menanyakan pada keluarga terkait stres yang mereka alami dengan adanya klien gangguan jiwa.
menyampaikan pendapat/perasaannya
c. Menjelaskan tentang stres yang dialami keluarga akibat salah satu anggota mengalami gangguan jiwa dengan menggunakan leaflet
d. Meminta anggota keluarga mengidentifikasi tanda dan gejala serta cara mengurangi stres sesuai dengan penjelasan terapis
e. Mendemontrasikan cara mengurangi stres yang dialami oleh anggota keluarga f. Meminta anggota keluarga untuk mendemontrasikan kembali cara mengurangi
stres yang telah diajarkan Fase Terminasi
a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan keluarga setelah sesi III selesai
2) Memberikan umpan balik positif atas kerjasama peserta yang baik b. Tindak lanjut: menganjurkan keluarga untuk berlatih cara mengurangi stres. c. Kontrak: menyepakati topik sesi berikutnya, waktu dan tempat untuk
pertemuan berikutnya. 2.3.6 Evaluasi dan dokumentasi
1. Evaluasi
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan keluarga, keterlibatan keluarga dan proses pelaksanaan secara keseluruhan.
Format Evaluasi
Sesi III Psikoedukasi Keluarga : Manajemen Stres Keluarga
No Kegiatan Anggota keluarga
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 Hadir dalam terapi
2 Menyebutkan tanda-tanda stres yang dialami keluarga
3 Menyebutkan cara mengatasi stress dalam merawat klien gangguan jiwa
4 Memperagakan cara mengatasi stres yang telah diajarkan
5 Aktif dalam diskusi
2. Dokumentasi
Pada dokumentasi dituliskan ungkapan secara singkat apa yang telah disampaikan oleh keluarga, yaitu cara mengatasi stres dalam merawat anggota keluarga dengan gangguan jiwa.
No Tanda-tanda stres yang dialami caregiver stres yang dapat digunakanCara mengatasi 1
2 3
Format Dokumentasi
Sesi III Psikoedukasi Keluarga: Manajemen Stres Keluarga (anggota keluarga lain)
No Nama anggota keluarga Tanda-tanda stres yang dialami anggota keluarga stres yang dapat digunakanCara mengatasi 1
2 3
2.4 Sesi IV: Manajemen Beban Keluarga
Pada sesi IV ini terapis bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, membicarakan mengenai masalah yang muncul karena klien sakit dan mencari pemecahan masalah bersama-sama. Pada sesi ini sangat diperlukan kontribusi dari seluruh anggota keluarga untuk memecahkan masalah yang dirasakan keluarga.
Family psychoeducation telah terbukti dapat memperbaiki gejala umum penyakit dan
mengatasi penolakan dan beban yang dirasakan keluarga. Pengaruh dari adanya anggota keluarga dengan gangguan mental sering disebut dengan beban keluarga (Stuart, 2009). Sebuah survey mengenai caregiver di keluarga menunjukkan bahwa beban yang paling besar dirasakan adalah mengkhawatirkan masa depan, berkurangnya konsentrasi, terganggunya rutinitas sehari-hari, merasa bersalah karena merasa apa yang dilakukan tidak cukup baik, merasa terperangkap di rumah, dan merasa sedih karena perubahan pada anggota keluarga (Rose et al., 2006 dalam Stuart, 2009).
Beban dapat bersifat subjektif atau objektif. Beban objektif terkait dengan perilaku klien, penampilan peran, efek luas pada keluarga, kebutuhan akan dukungan, dan biaya yang dikeluarkan karena penyakit. Beban subjektif adalah perasaan terbebani yang dirasakan oleh seseorang; bersifat individual dan tidak selalu berhubungan dengan bagian dari beban objektif. Dengan mengkaji beban keluarga perawat dapat bekerja sama dengan keluarga untuk mengidentifikasi dalam hal mana keluarga memerlukan bantuan (Stuart, 2009).
2.4.1 Tujuan Sesi IV:
1. Keluarga mengenal beban subjektif maupun objektif yang dialami keluarga akibat adanya anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa.
2. Keluarga mengetahui cara mengatasi beban yang dialami akibat adanya anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa.
4. Semua anggota keluarga menyepakati cara mengatasi beban keluarga dan perannya masing-masing dalam mengatasi beban keluarga.
2.4.2 Setting
Peserta (keluarga) duduk berhadapan dengan terapis dalam posisi yang nyaman 2.4.3 Alat
Lembar balik/leaflet, modul, dan buku kerja keluarga (format evaluasi dan dokumentasi)
2.4.4 Metode
Ceramah, diskusi, curah pendapat, roleplay dan tanya jawab 2.4.5 Langkah-langkah
1. Persiapan
a. Mengingatkan kembali 2 hari sebelumnya b. Mempersiapkan diri, tempat dan peserta 2. Pelaksanaan
Fase Orientasi
a. Salam terapeutik: salam dari terapis.
b. Evaluasi: menanyakan penerapan cara mengatasi stres yang sudah dilakukan keluarga di rumah sesuai dengan yang diajarkan pada sesi sebelumnya dan hasil yang dirasakan.
c. Kontrak: menyepakati kontrak waktu dan topik yang akan disampaikan yaitu tentang beban keluarga.
Fase Kerja
a. Menanyakan apa yang dirasakan anggota keluarga tentang beban objektif maupun subjektif yang dialami keluarga akibat adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.
1) Anggota keluarga menyampaikan pengalaman mereka
2) Memberikan kesempatan anggota keluarga lain untuk memberi tanggapan 3) Memberikan pujian dan penghargaan atas kemampuan anggota keluarga
menyampaikan pendapat/perasaannya
b. Menanyakan pendapat anggota keluarga tentang cara mengatasi beban yang sudah dilakukan dengan adanya anggota keluarga yang menderita gangguan
jiwa dengan menggunakan leaflet.
d. Meminta anggota keluarga untuk mengulangi menyebutkan macam-macam beban keluarga dan cara mengatasi beban yang dirasakan keluarga akibat adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa sesuai dengan penjelasan terapis.
e. Terapis mendemonstrasikan satu cara untuk mengatasi beban yang dipilih oleh keluarga.
f. Memberi kesempatan anggota keluarga untuk mendemonstrasikan ulang. g. Memberikan pujian atas partisipasi anggota keluarga selama pelaksanaan
terapi. Fase Terminasi a. Evaluasi
1) Menanyakan perasaan keluarga setelah sesi IV selesai 2) Memberikan umpan balik positif atas kerjasama keluarga b. Tindak lanjut
1) Menganjurkan keluarga untuk menerapkan cara mengatasi beban yang telah diajarkan.
c. Kontrak: menyepakati waktu, tempat dan topik pertemuan berikutnya 2.4.6 Evaluasi dan dokumentasi
1. Evaluasi Proses
Evaluasi ketepatan waktu pelaksanaan terapi khususnya tahap kerja, keaktifan keluarga, keterlibatan keluarga dan proses pelaksanaan secara keseluruhan.
Format Evaluasi
Sesi IV Psikoedukasi Keluarga: Manajemen Beban Keluarga
No Kegiatan Anggota keluarga
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 Hadir dalam terapi
2 Menyebutkan tanda-tanda dan cara mengatasi beban dalam merawat klien gangguan jiwa 3 Memperagakan cara untuk mengatasi beban
keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa 4 Aktif dalam diskusi
2. Dokumentasi
Pada dokumentasi dituliskan ungkapan secara singkat apa yang telah disampaikan oleh keluarga, yaitu cara mengatasi beban keluarga serta demonstrasi cara mengatasi beban keluarga.
1 2 3
2.5 Pemberdayaan Komunitas Untuk Membantu Keluarga
Pada sesi V ini, akan dibahas mengenai pemberdayaan sumber-sumber di luar keluarga, yaitu