• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR

2012

14 DAFTAR PUSTAKA

Afrianto E., Liviawaty E. 2005. Pakan ikan. Yogyakarta: Kanisius.

Badan Statistik Indonesia. 2010. Produksi bulanan perkebunan besar Indonesia. http://www.bps.go.id (8 September 2012).

Bintang I.A.K., A.P. Sinurat, Ketaren P.P. 2006. Pengaruh penambahan ß-silanase dan ß-glukanase terhadap performans ayam broiler. JITV 11(2), 92-96. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Buchanan J., Poppi D., Sarac H.Z., Cowan R.T. 1997. Effects of enzyme addition to canola meal in prawn diets. Aquaculture 151, 29-35.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Luas areal dan produksi perkebunan seluruh Indonesia menurut pengusahaan. http:// www.ditjenbun.deptan.go.id (26 Agustus 2012).

Duke J.A. 1983. Theobroma cacao L. Handbook of Energy Crops. unpublished. http://www.hort.purdue.edu (8 September 2012).

Edriani G. 2011. Evaluasi kualitas dan kecernaan biji karet, biji kapuk, kulit singkong, palm kernel meal, dan kopra yang difermentasi oleh

Saccharomyces cerevisiae pada pakan juvenil ikan mas Cyprinus carpio. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.Institut Pertanian Bogor.

Guntoro S. 2008. Membuat pakan ternak dari limbah perkebunan. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Halver J.E. 1989. Fish nutrition2nd Edition. Academic Press. London. p. 1-23.

Handajani H., Widodo W. 2010. Nutrisi ikan. Malang: UMM Press.

Kushartono B, Iriani N. 2003. Prospek pengembangan tanaman jagungsebagai sumber hijauan pakan ternak, di dalam: Prosiding Temu Teknis Fungsional Non Peneliti. Balai Penelitian Ternak, Bogor, hlm.26-31.

KOMPAS. 2012. Harga pakan terus naik. http:// www.pilkada.kompas.com (17 Oktober 2012).

Laconi E.B. 1998. Peningkatan mutu pod kakao melalui amoniasi dengan urea dan biofermentasi dengan Phanerochaete chrysosporium serta penjabarannya ke dalam formulasi ransum ruminansia. [Thesis]. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

15 Lamid M., Chuzaemi S., Puspaningsih N.N.T., Kusmartono. 2006. Inokulasi bakteri silanolitik asal rumen sebagai upaya peningkatan nilai nutrisi jerami padi. Jurnal Protein 14, 122-128.

Murni R., Suparjo, Akmal, Ginting B.L. 2008. Buku ajar teknologi pemanfaatan limbah untuk pakan. Jambi: Laboratorium Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

[NRC] Nutritional Research Council. 1993. Nutrient requirement of fish. National Academic Press, Washington DC, pp. 43-44.

Ogunkoya A.E., Ayoleke E., Page G.I., Adewolu M.A., Bureau D.P. 2006. Dietary incorporation of soybean meal and exogenous enzyme cocktail can affect physical characteristics of faecal material egested by rainbow

trout (Oncorhynchus mykiss). Aquaculture 254, 466–475.

Oyewushi P.A., Akintayo E.T., Olaofe O. 2007. The proximate and amino acid composition of defatted rubber seed meal. Journal of Food, Agriculture & Environment 5, 115-118.

Purwadaria T., Sinurat A.P., Supriyati, Hamid H., Bintang I.A.K. 1999. Evaluasi nilai gizi lumpur sawit fermentasi dengan Aspergillus niger setelah proses pengeringan dengan pemanasan. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner4, 257- 263.

Sidarta E., Syaputra D.A., Djafar F. 2010. Nilai kadar protein dan aktivitas amilase selama proses fermentasi umbi kayu dengan Aspergillus niger. Fakultas Teknobiologi. Universitas Katolik Atma Jaya. Jakarta.

Suprayudi, M.A. 2010. Bahan baku lokal: Tantangan dan harapan akuakultur masa depan. Abstrak. Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur III. IPB Convention Center, Bogor. p. 31.

Takeuchi T. 1988. Laboratory work chemical evaluation of dietary nutriens. In: Fish nutrition and mariculture. Watanabe, T. Department of Aquatic Biosience. Tokyo University of Fisheries. JICA, pp.179-226.

Tangendjaja B.,Wina E. 2010. Limbah tanaman dan produksi samping industri jagung untuk pakan. Bogor. Balai Penelitian Ternak, p. 427-455.

Watanabe T. 1988. Fish nutrition and mariculture. Department of Aquatic Biosience. Tokyo University of Fisheries. JICA, pp.79-82.

Widodo W. 2002. Nutrisi dan pakan unggas kontekstual. Malang: Fakultas Peternakan dan Ilmu Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang.

16 Zubachtirodin M.S., Pabbage, Subandi. 2009. Wilayah produksi dan potensi pengembangan jagung, di dalam: Prosiding Seminar Nasional Serealia. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros, hlm.462-473.

18 Lampiran 1. Metode Inkubasi

Tahapan inkubasi bahan uji yang dilakukan pada penelitian ini yaitu bahan uji ditimbang sebanyak 2 kg dan cocktail enzyme sebanyak 2 g, lalu dicampur dan diaduk hingga cocktail enzyme tersebar merata. Kemudian air ditambahkan sebanyak 40% dan diaduk merata. Bahan diletakkan pada wadah plastik dibiarkan dalam kondisi aerob (penutup wadah dibuat sirkulasi udara), dan diinkubasi pada suhu kamar selama satu hari (24 jam).

Lampiran 2. Pembuatan pakan perlakuan untuk 1 kg pakan 1. Pakan komersil dihaluskan.

2. Bahan uji sebanyak 30% dari total pakan (300 g) dicampurkan ke dalam 675 g pakan komersil, kemudian di aduk rata.

3. Sebanyak 2 g Cr2O3 dicampurkan ke dalam pakan, aduk merata.

4. Air ditambahkan sebanyak 600 ml ke dalam wadah berisi 20 g binder berupa sagu, diaduk merata.

5. Binder kemudian ditambahkan pada adonan pakan, dan diaduk secara merata. 6. Pakan dicetak sesuai ukuran, dan dioven selama 4-5 jam pada suhu 60 ⁰C.

Lampiran 3. Skema tata letak akuarium perlakuan

Keterangan: A: Kontrol, B: Kulit buah kakao tanpa inkubasi, C: Kulit buah kakao inkubasi, D: Tongkol jagung tanpa inkubasi, E: Tongkol jagung inkubasi, F: Bungkil biji karet tanpa inkubasi, G: Bungkil biji karet inkubasi

Lampiran 4. Data kualitas air pada awal dan akhir pemeliharaan ikan perlakuan

Kualitas Air Awal Akhir

Suhu 27 ºC 28 ºC Oksigen Terlarut 8,0 ppm 5,4 ppm pH 7,72 6,81 F2 C2 G1 G2 C1 E2 A1 F1 B1 Tandon Stok A2 D1 E1 B2 D2

19 Lampiran 5. Prosedur analisis proksimat

A. Kadar Protein (metode Kjehdal).

1. Sampel ditimbang seberat 0,5-1,0 g dan dimasukkan ke dalam labu

kjehdal.

2. Katalis berupa K2SO4.5H2O dengan rasio 9 : 1 ditimbang sebanyak 3 g

dan dimasukkan ke dalam labu kjehdal.

3. Selanjutnya ditambahkan 10 ml H2SO4 pekat ke dalam labu tersebut dan

kemudian labu dipanaskan selama 3-4 jam sampai cairan dalam labu berwarna hijau.

4. Lalu larutan didinginkan, lalu ditambahkan akuades sebanyak 30 ml. Kemudian masukkan larutan tersebut ke dalam labu takar dan diencerkan dengan akuades sampai larutan tersebut mencapai volume 100 ml (larutan A).

5. Labu erlenmeyer diisi 10 ml H2SO4 0,05 N dan ditambahkan 2-3 tetes

indikator methylen blue atau methyl red (larutan B).

6. Larutan A diambil sebanyak 5 ml dan ditambahkan 10 ml NaOH 30% yang dimasukkan ke dalam labu kjehdal. Lalu dilakukan pemanasan dan kondensasi selama 10 menit mulai saat tetesan pertama pada larutan B. 7. Larutan dalam labu erlenmeyer dititrasi dengan 0,05 N larutan NaOH

sampai terjadi perubahan warna dari merah muda menjadi hijau tua.

8. Kadar protein (%) = Keterangan :

Vs = ml 0,05 N nitran NaOH untuk sampel Vb = ml 0,05 N nitran NaOH untuk blanko F = faktor koreksi dari 0,05 N larutan NaOH S = bobot sampel (gram)

* = setiap ml 0,05 N NaOH ekuivalen dengan 0,0007 g nitrogen ** = faktor nitrogen

0,0007 * x (Vb-Vs) x F x 6,25** x 20 x 100 % S

20 B. Kadar Lemak (metode ether ekstraksi Soxchlet)

1. Labu ekstraksi dipanaskan pada suhu 1100C selama satu jam, kemudian didinginkan selama 30 menit dalam desikator dan ditimbang bobot labu tersebut (A).

2. Kemudian dimasukkan n-heksan sebanyak 150-250 ml ke dalam labu reaksi.

3. Bahan ditimbang sebanyak 5 g (a), dimasukkan ke dalam selongsong, kemudian selongsong dimasukkan ke dalam soxchlet serta diletakkan pemberat di atasnya.

4. Labu ekstraksi yang telah dihubungkan dengan soxchlet di atas hotplate

dengan air mendidih pada suhu 1000C didiamkan sampai cairan yang merendam bahan dalam soxchlet menjadi bening.

5. Setelah larutan n-heksan bening, labu ekstraksi dilepaskan dari rangkaian dan tetap dipanaskan hingga n-heksan menguap semua.

6. Labu dan lemak tersisa dipanaskan dalam oven selama 16-60 menit, didesikator dan ditimbang (B).

7. Kadar Lemak (%) =

C. Kadar Air

1. Sampel ditimmbang sebanyak X gram, lalu sampel dimasukkan ke dalam cawan (Y).

2. Cawan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1100C selama 2-3 jam. 3. Cawan didinginkan ke dalam desikator selama 30 menit, lalu cawan

ditimbang (Z).

4. Cawan dipanaskan lagi dalam oven dengan suhu yang sama selama 1-1,5 jam.

5. Cawan didinginkan lagi ke dalam desikator selama 30 menit, lalu ditimbang. 6. Kadar air (%) = B – A x 100 % a Z – Y x 100 % X

21 D. Kadar Serat Kasar

1. Cawan porselin dipanaskan pada suhu 105-1100C selama 1 jam menggunakan oven, lalu didinginkan dalam desikator selam 30 menit dan selanjutnya ditimbang (A).

2. Kertas saring dipanaskan seperti prosedur nomor 1, lalu ditimbang. Setelah itu, kertas saring dipasang pada labu Buchner yang telah terhubung vacumm pump.

3. Sampel sebanyak 0,5 g ditimbang, lalu dimasukkan ke erlenmeyer, kemudian ditambahkan H2SO4 0,3 N 50 ml, lalu dipanaskan lagi selama

30 menit. Kemudian ditambahkan 25 ml NaOH 1,5 N, lalu dipanaskan kembali selama 30 menit.

4. Larutan pada nomor 3 di atas dicuci berturut-turut dengan menggunakan 50 ml air panas dan 50 ml H2SO4 0,3 N 50 ml, lalu 50 ml air panas, dan

kemudian 25 ml aseton.

5. Kertas saring dan isinya dimasukkan ke cawan porselin, lalu dikeringkan selama satu jam dan didinginkan dalam desikator, selanjutnya ditimbang (Y). Setelah itu dipanaskan dalam tanur pada suhu 6000C, lalu didinginkan dan kemudian ditimbang (Z).

6. Serat kasar (%) =

E. Kadar Abu

1. Cawan dipanaskan pada suhu 105-1100C selama 1 jam menggunakan oven, kemudian didinginkan dalam desikator selam 30 menit dan selanjutnya ditimbang (X1).

2. Sampel ditimbang 2-3 g (A) lalu dimasukkan ke dalam cawan.

3. Cawan dan bahan dipanaskan di dalam tanur dengan suhu 6000C, lalu didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang (X2)

4. Kadar Abu (%) =

Y – Z – A x 100 % X

X2 – X1 x 100% A

22 Lampiran 6. Prosedur uji kecernaan

1. Sampel ditimbang sebanyak 0,1-0,2 g sampel/bahan, kemudian dimasukkan ke dalam labu Kjehdal.

2. Larutan asam nitrat pekat ditambahkan sebanyak 5 ml ke dalam labu.

3. Setelah itu, sampel dipanaskan dengan hati-hati selama 30 menit sampai volume larutan menjadi sekitar 1 ml.

4. Setelah sampel dingin, ditambahkan 3 ml asam perklorat pekat ke dalam labu kemudian dipanaskan kembali.

5. Setelah asap putih terlihat dan larutan berubah dari hijau menjadi kuning atau orange, campuran dipanaskan selama sekitar 10 menit.

6. Larutan didinginkan, lalu diencerkan sampai volume 100 ml

7. Nilai absorban larutan ditentukan oleh spektrofotometer dengan panjang gelombang 350 nm.

Lampiran 7. Kecernaan total pakan ikan gurame Osphronemus goramy selama pemeliharaan pada uji kecernaan bahan kulit buah kakao, tongkol jagung, dan biji karet tanpa dan dengan inkubasi cocktail enzyme.

Perlakuan Jenis Cr2O3 Pakan

(%)

Cr2O3 Feses

(%)

Kecernaan total (%)

Kulit buah kakao TI 0,53 1,27 57,95

TI 0,53 1,41 62,18 I 0,54 1,56 65,38 I 0,54 1,44 62,50 Tongkol jagung TI 0,53 1,07 50,99 TI 0,53 1,04 49,37 I 0,58 1,13 48,23 I 0,58 1,08 45,99

Bungkil biji karet TI 0,64 1,52 58,15

TI 0,64 1,47 56,61

I 0,62 1,51 58,80

I 0,62 1,52 59,16

Pakan acuan - 0,52 1,06 50,94

- 0,52 1,07 51,32

23 Lampiran 8. Kecernaan protein pakan ikan gurame Osphronemus goramy selama pemeliharaan pada uji kecernaan bahan kulit buah kakao, tongkol jagung, dan bungkil biji karet tanpa dan dengan inkubasi cocktail enzyme.

Perlakuan Jenis Cr2O3 Pakan (%) Cr2O3 Feses (%) Protein pakan (%) Protein feses (%) Kecernaan protein (%) Kulit buah kakao TI 0,53 1,27 23,37 12,89 76,82 TI 0,53 1,41 23,37 16,47 73,35 I 0,54 1,56 24,65 13,08 81,63 I 0,54 1,44 24,65 12,08 81,63 Tongkol jagung TI 0,53 1,07 23,83 12,03 75,26 TI 0,53 1,04 23,83 13,95 70,35 I 0,58 1,13 26,98 10,41 81,50 I 0,58 1,08 26,98 12,05 77,68 Bungkil biji karet TI 0,64 1,52 31,06 16,44 77,84 TI 0,64 1,47 31,06 18,23 74,54 I 0,62 1,51 31,15 13,81 81,74 I 0,62 1,52 31,15 16,83 77,94 Pakan Acuan - 0,52 1,06 34,77 14,28 79,85 - 0,52 1,07 34,77 12,96 81,86

Keterangan= TI= Tanpa Inkubasi, I= Inkubasi

Lampiran 9. Kecernaan energi pakan ikan gurame Osphronemus goramy selama pemeliharaan pada uji kecernaan bahan kulit buah kakao, tongkol jagung, dan bungkil biji karet tanpa dan dengan inkubasi cocktail enzyme

Perlakuan Jenis mg Cr2O3/g pakan mg Cr2O3/g feses Energi pakan Energi feses Energi tercerna Kecernaan energi (%) Kulit buah kakao TI 5,34 12.70 313.93 247,25 209,95 66,88 TI 5,34 14,12 313,93 248,28 220,03 70,09 I 5,40 15,60 309,99 240,87 226,62 73,10 I 5,40 14,40 309.99 238,30 220,63 71,17 Tongkol jagung TI 5,27 10,74 315,58 290.05 173,44 54,96 TI 5,27 10,40 315,58 295,64 165,90 52,57 I 5,83 11,27 343,56 262,03 217,99 63,45 I 5,83 10,80 343,56 259,91 213,61 62,17 Bungkil biji karet TI 6,37 15,23 380,67 284,57 261,59 68,72 TI 6,37 14,69 380,67 279,22 259,53 68,18 I 6,21 15,07 380,75 276,99 266,64 70,03 I 6,21 15,20 380,75 274,73 268,56 70,53 Pakan acuan - 5,20 10,60 339,62 267,96 208,17 61,29 - 5,20 10,68 339,62 277,55 204,52 60,22 Keterangan= TI= Tanpa Inkubasi, I= Inkubasi

24 Lampiran 10. Bobot rerata ikan gurame Osphronemus goramy pada awal dan akhir pemeliharan serta kelangsungan hidup selama 15 hari Perlakuan Jenis Bobot rata-

rata ikan awal (g) Bobot rata-rata panen (g) Kelangsungan hidup (%) Pakan acuan - 21,10±0,19 25,90±0,02 100±0,00 Kulit buah kakao TI 19,57±0,64 19,70±1,41 100±0,00 I 20,07±1,36 20,49±2,06 100±0,00 Tongkol jagung TI 21,15±0,90 21,34±1,40 100±0,00 I 20,27±0,81 21,29±0,34 100±0,00 Bungkil biji karet TI 21,78±0,02 23,45±0,33 100±0,00 I 20,61±1,26 23,45±0,33 100±0,00 Keterangan= TI= Tanpa Inkubasi, I= Inkubasi

Dokumen terkait