ABSTRAK
Pendidikan kejuruan akan dikatakan berhasil apabila mampu menjadikan peserta didik taqwa, berkepribadian mantap, memiliki keterampilan, tetap memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu ini adalah sifat bawaan yang dimiliki setiap anak sejak lahir, akan tetapi sering kali rasa ingin tahu ini menjadi hilang setelah seorang anak mengikuti pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan. Salah satu penyebabnya, proses pembelajaran pada pendidikan kejuruan sering tidak memupuk rasa ingin tahu peserta didik, tetapi justru mematikannya.
Rasa ingin tahu yang dimiliki peserta didik harus terus dikembangkan, oleh karena itu pembelajaran pada pendidikan kejuruan dirancang untuk memfasilitasi peserta didik sehingga, selain menguasai keterampilan, rasa ingin-tahunya terus berkembang, bebas berekspresi, dan merasa nyaman dalam belajar. Dalam rangka memelihara dan memupuk rasa ingin tahu, desain pembelajaran pada pendidikan kejuruan dapat dilakukan dengan menerapkan strategi yang menggabungkan secara proporsional tiga prinsip; (1) prinsip belajar yang menyenangkan (enjoyment learning), (2) prinsip keseimbangan aktivitas belajar, yaitu keseimbangan antara pembelajaran akademik (penggunaan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru), dan pembelajaran konstruktivistik (pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa), dan (3) prinsip pembimbingan dan pendampingan, terutama untuk peserta didik yang mengalami masalah dengan votivasi belajar, seperti tidak mau bersusah payah, takut berbuat salah, tidak mau mencoba, tidak antusias, merasa tidak berguna, dan sebagainya.
Kata kunci: pendidikan kejuruan, belajar menyenangkan
Pendahuluan
Kita sadari bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini telah mempercepat berubahnya nilai-nilai sosial, dalam bentuk kecepatan dan peningkatan tingkat berpikir, pola hidup yang lebih efisien, dan pola hubungan yang bersifat kompetitif (Poespowardojo, dalam Semiawan, 2008:102). Semua itu adalah tantangan bagi generasi muda, yang untuk dapat menghadapinya diperlukan kemampuan bersaing (kompetisi) dan beradaptasi.
Kemampuan kompetisi dan beradaptasi ini pada dasarnya merupakan naluri alamiah (mekanisme) yang dimiliki makhluk hidup (organisme), termasuk manusia untuk dapat bertahan hidup (survivel) dan berkembang. Sebagai sifat dasar untuk dapat bertahan dan berkembang, kemampuan bersaing dan beradaptasi ini harus terus dimiliki manusia sebagai makhluk hidup, dan ini hanya dapat dicapai melalui belajar terhadap perubahan lingkungan yang juga terus berubah.
Sifat atau keinginan kuat untuk terus belajar dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sudah dimiliki anak sejak lahir, terwujud dalam bentuk rasa ingin tahu yang tinggi yang dimiliki oleh setiap anak. Rasa ingin tahu ini merupakan potensi dasar yang yang dimiliki oleh setiap anak dalam kadar yang
berbeda-beda. Rasa ingin tahu ini merupakan energi psikis yang menjadi pendorong anak secara alamiah untuk terus belajar sesuai minat dan perhatiannya. Namun banyak dijumpai, rasa ingin tahu anak yang merupakan potensi yang dimiliki sejak lahir itu tidak terus tumbuh semakin besar mengikuti pertambahan usianya. Kurangnya rangsangan dan kesempatan yang diberikan orang dewasa kepada anak untuk melakukan aktivitas yang dapat menyalurkan rasa ingin tahu, membuat rasa ingin tahu itu terus menurun, dan akhirnya tertutup sama sekali. Sebagai gantinya yang muncul adalah sikap pasif, apatis, tidak tertarik untuk melakukan sesuatu (merespon) meskipun diberikan berbagai rangsangan.
Tugas pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan adalah memfasilitasi peserta didiknya, agar selain belajar keterampilan di bidangnya, potensi rasa ingin tahu yang dimiliki peserta didik tersalurkan menjadi aktivitas interaksi antara peserta didik dan lingkungan yang telah dimanipulasi sebagai sumber belajar. Aktivitas interaksi peserta didik dengan sumber belajar sebaiknya dapat berlangsung dalam suasana sehari-hari (alamiah), mengasyikkan dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga rasa ingin tahu itu terus tumbuh sejalan dengan perkembangan pengetahuan, potensi, minat dan bakatnya.
PEND-05
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 30 Akan tetapi banyak guru pendidikan kejuruan belum
sepenuhnya mengembangkan rancangan strategi pembelajaran yang memfasilitasi rasa ingin tahu peserta didik sehingga sering kali rasa ingin tahu ini menjadi hilang ketika peserta didik mengikuti pembelajaran pada pendidikan kejuruan. Proses pembelajaran di pendidikan kejuruan sering tidak memupuk rasa ingin tahu peserta didik, tetapi justru mematikannya. Salah satu penyebabnya, guru kurang mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang peserta didik senang dan asyik berinteraksi dengan sumber belajar.
Pembelajaran yang Menyenangkan
Menurut Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses, pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dinyatakan juga dalam Permendiknas bahwa pembelajaran pada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah, dilaksanakan dengan kondisi tertentu, salah satunya adalah harus menyenangkan (Permendiknas Nomor 41/2007).
Sampai saat ini pengertian pembelajaran yang menyenangkan masih dimaknai secara beragam. Sementara kalangan, mengartikan belajar yang menyenangkan sebagai suasana dan lingkungan pembelajaran yang mendatangkan rasa nyaman (enjoy), gembira (fun), dan mengasyikkan. Menyenangkan dalam pengertian ini merupakan keadaan lingkungan (faktor di luar diri) yang dapat menyebabkan rasa senang.
Pengertian menyenangkan dalam tulisan ini dimaknai sebagai suatu keadaan yang memuaskan, sebagaimana terminologi kata memuaskan yang disampaikan Thorndike dalam Hukum Kesiapan (law of readiness). Menurut Thorndike dalam Hergenhann dan Olson (2008:64), keadaan memuaskan diartikan sebagai keadaan yang telah membuat seseorang tidak melakukan apa pun untuk menghindari keadaan tersebut, sering melakukan sesuatu untuk mendapatkan lagi keadaan itu, dan terus berusaha mempertahankannya.
Istilah menyenangkan yang pengertiannya dipadankan dengan memuaskan difahami sebagai suatu keadaan yang menyebabkan seseorang ingin tetap berada pada keadaan tersebut, selalu berusaha ingin mendapatkan keadaan tersebut, dan selalu berusaha mempertahankannya dalam waktu lebih lama lagi. Dengan demikian pengertian pembelajaran yang menyenangkan adalah suatu pembelajaran yang mendatangkan rasa senang belajar, selalu berusaha mendapatkan keadaan rasa senang belajar, dan mempertahankan rasa senang belajar tersebut dalam waktu yang lebih lama lagi.
Dalam pembelajaran yang menyenangkan, tumbuh rasa senang belajar dari dalam diri peserta didik.
Berbagai upaya dilakukan oleh peserta didik untuk dapat tetap senang belajar dalam pembelajaran- pembelajaran berikutnya, dan terus berusaha mempertahankan rasa senang belajar tersebut pada pembelajaran berikutnya lagi. Begitu seterusnya sehingga dengan pembelajaran yang menyenangkan akan terus memicu tumbuhnya keinginan belajar dalam diri peserta didik secara berkelanjutan, dalam setiap pembelajaran.
Peserta didik yang senang belajar, dari dalam dirinya akan terus muncul dorongan untuk berinteraksi dengan sumber belajar. Apabila dorongan dari dalam diri ini dimiliki oleh setiap peserta didik dalam suatu kelas pembelajaran, maka kelas tersebut telah menciptakan individu yang terus belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan mendorong terciptanya individu pembelajar, yang merupakan dasar untuk dapat terbentuknya organisasi pembelajar (Senge, 2000, 24)
Terdapat tiga faktor atau prinsip yang harus diimplementasikan ketika kita ingin mengembangkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Ketiga prinsip yang harus dimplementasikan tersebut adalah; theoretical model of enjoyment learning, individualized and differentiated learning, dan guiding and mentoring.
Theoretical Model of Enjoyment Learning
Theoretical Model of Enjoyment Learning dikembangkan dari hukum kesiapan (low of rediness) sebagaimana disampaikan Thorndike, yang diadaptasi untuk konteks belajar. Hukum kesiapan itu menyatakan; (1) jika seseorang yang siap melakukan tindakan, kemudian melakukannya, maka akan memuaskan, (2) jika seseorang yang siap melakukan tindakan, akan tetapi tidak melakukannya, maka akan terasa menjengkelkan, (3) seseorang yang tidak siap melakukan tindakan, akan tetapi melakukannya, maka akan menjengkelkan (Thorndike, dalam Hergenhann dan Olson, 2008:64).
Dalam konteks pembelajaran, seseorang yang siap untuk belajar, maka jika seseorang itu belajar akan memuaskan dirinya. Seseorang yang siap belajar, maka jika tidak belajar, akan menjengkelkan dirinya, dan seseorang yang tidak siap untuk belajar, maka jika orang itu belajar akan menjengkelkan dirinya. Menurut Piaget, pembelajaran harus dibangun di sekitar struktur kognitif peserta didik. Peserta didik dalam suatu kelas pembelajaran biasanya terdiri dari usia dan kultur yang relative sama, akan tetapi memiliki struktur kognitif yang berbeda-beda, dan oleh karena itu membutuhkan jenis dan tingkatan materi yang berbeda pula. Materi pembelajaran yang tidak dapat diasimilasikan dalam struktur kognitif peserta didik tidak akan bermakna baginya, akan tetapi materi pembelajaran yang dapat diasimilasi
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 31 sepenuhnya, tidak terjadi belajar pada diri peserta
didik (Piaget, dalam Hergenhann dan Olson, 2008:324).
Dikatakan lebih lanjut oleh Piaget, agar belajar dapat terjadi, maka materi atau bahan pembelajaran perlu sebagian sudah diketahui, dan sebagian lainnya belum. Bagian yang sudah diketahui akan diasimilasi, dan bagian yang belum diketahui akan menimbulkan modifikasi dalam struktur kognitif anak. Modifikasi ini disebut akomodasi, yang menurut Piaget, pengertiannya sama dengan belajar.
Belajar yang menyenangkan dimaknai sebagai belajar yang dapat mendatangkan perasaan yang menyenangkan, menggembirakan, dan nyaman. Perasaan demikian esensinya dapat disamakan dengan perasaan memuaskan yang dimaksudkan oleh Thorndike dalam hukum kesiapan. Perasaan menyenangkan atau memuaskan itu, akan datang ketika seorang peserta didik yang siap belajar, kemudian dia belajar.
Dapat dijelaskan, setiap peserta didik memiliki struktur kognitif sebagai pengalaman belajar yang telah lalu. Peserta didik yang demikian dikatakan sebagai siap belajar. Apabila diberikan materi belajar baru di seputar perkembangan struktur kognitifnya, maka peserta didik dapat mengoneksikan materi belajar baru dengan pengalaman belajar yang lalu, sehingga terjadi asimilasi dan akomodasi yang akan menyebabkan pertumbuhan intelektual. Ini berarti, peserta didik siap belajar dengan pengalaman belajar yang lalu, maka ketika diberikan matei belajar baru di seputar pengalaman yang lalu, akan terjadi asimilasi dan akomodasi (belajar), maka akan mendatangkan perasaan memuaskan atau menyenangkan.
Perasaan menyenangkan ini akan muncul begitu peserta didik merasakan telah belajar yang menghasilkan pertumbuhan intelektual. Munculnya perasaan senang yang disebabkan oleh belajar ini, diikuti dengan peningkatan rasa percaya diri bahwa dirinya memiliki kemampuan. Perasaan senang dan percaya diri tersebut akan menjadi berlipat ganda dengan diberi pujian sebagai penguatan (reinforcement), dan akan diulangi apabila diberi hadiah (reward). Hal ini merupakan salah satu prinsip belajar, yaitu “respon akan diulang, bila akibat yang ditimbulkan menyenangkan”.
Belajar secara menyenangkan terjadi apabila peserta didik yang siap belajar, dia kemudian mengalami belajar. Agar belajar dapat dialami oleh semua peserta didik, maka peserta didik yang struktur kognitifnya berbeda-beda harus dapat terfasilitasi sehingga memudahkan untuk terjadinya belajar pada diri peserta didik. Hal itu dapat dilakukan dengan cara;
1. Menata bahan ajar sedemikian rupa, derajat kesulitan diatur meningkat dengan inkremen yang kecil, diurutkan dari yang sederhana menuju yang kompleks, dan disusun menjadi bahan ajar dengan tingkat kesulitan tinggi, sedang, dan rendah.
2. Menganalisis karakteristik peserta didik dalam belajar, terutama terkait dengan perkembangan struktur kognitif, yaitu kecepatan belajarnya. Hasil identifikasi, selanjutnya dikelompokkan, sehingga diketahui siapa peserta didik yang termasuk dalam kelompok belajar cepat, sedang, dan lambat. Tujuan pengelompokan ini adalah agar guru dapat menentukan bahan ajar yang sesuai untuk masing-masing kelompok.
3. Menyampaikan pembelajaran sesuai kemajuan belajar setiap peserta didik. Setiap tingkatan bahan ajar disiapkan untuk peserta didik dengan karakteristik belajar yang sesuai kecepatan belajarnya. Tujuannya, agar peserta didik dalam belajar mempelajari bahan ajar akan mengalami beban belajar yang moderat, tidak menemui kesulitan dan hambatan yang menjadikan peserta didik merasa cemas untuk memahami bahan ajar, atau sebaliknya menjadi bosan karena merasa terlalu mudah. Bahan ajar yang terlalu mudah sering membuat peserta didik bosan, sedangkan bahan ajar yang terlalu sulit berpotensi membuat peserta didik cemas. Bahan ajar dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan perkembangan struktur kognitif atau pengalaman belajar yang lalu, bagi peserta didik akan mendatangkan perasaan menyenangkan.
Ketiga hal tersebut merupakan dasar minimal untuk terselenggaranya pembelajaran yang dapat membantu peserta didik berhasil dalam belajar. Sering peserta didik, merasa tidak terfasilitasi sehingga mengalami penurunan semangat belajar. Peserta didik ketika belajar dengan bahan ajar yang terlalu mudah akan cepat merasa bosan dan tidak tertarik lagi mengikuti pembelajaran. Sedangkan bahan ajar yang terlalu sulit akan menyebabkan peserta didik merasa cemas, tidak enjoy, dan dalam waktu singkat akan menurun perhatian dan semangatnya dalam mengikuti pembelajaran.
Apabila syarat terselenggaranya suatu pembelajaran yang menyenangkan tidak diperhatikan, maka banyak peserta didik akan merasa dan beranggapan bahwa pembelajaran itu membosankan karena tidak memberikan tantangan. Sedangkan peserta didik lainnya mengatakan bahwa pembelajaran itu “menakutkan”, membuat cemas karena mata pelajarannya menyulitkan. Kedua kondisi pembelajaran tersebut sama-sama akan menghasilkan pembelajaran yang tidak efektif.
PEND-05
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 32
Pembelajaran Diindividualkan dan
Didiferensiasikan
Menurut paradigma kognitif terutama yang diwakili Piaget, dan kaum behavioris, meskipun dengan alasan yang berbeda, mereka menyadari bahwa pembelajaran harus dilakukan secara individual, atau diindividualkan. Artinya, meskipun pembelajaran dilaksanakan dalam kelas, dan dalam waktu yang sama sejumlah peserta didik yang terdiri dari berbagai latar belakang dan karakteristik bersama- sama belajar, layanan dan fasilitasi belajarnya harus dilakukan individual terhadap setiap pesrta didik. Dalam pandangan Piaget, belajar yang optimal membutuhkan pengalaman yang menantang bagi peserta didik sehingga proses asimilasi dan akomodasi dapat menghasilkan pertumbuhan intelektual. Untuk menciptakan jenis pengalaman itu guru harus tahu level fungsi struktur kognitif peserta didik, karena kemampuan untuk mengasimilasi, bervariasi antara peserta didik yang satu dan lainnya, yang karenanya materi belajar harus disesuaikan dengan struktur kognitif setiap peserta didik.
Kaum behavioris, juga menyadari bahwa penguatan harus bergantung pada perilaku yang tepat, dan penyaluran penguat yang tepat membutuhkan hubungan tatap muka antara satu orang guru dan satu orang peserta didik, atau antara peserta didik dan materi belajar. Dengan demikian setiap peserta didik harus memperoleh penguat sesuai perilaku tepat yang dilakukan dengan bertatap muka dengan guru, yang artinya pemberian penguat itu harus secara individual. Selain diindividualkan, pembelajaran juga didiferensiasikan. Dasar pemikirannya, karena siapa pun, terutama orang tua dan guru, berharap bahwa setiap anak didik berhasil di sekolah dan berkembang secara maksimal potensinya. Harapan ini menjadi tantangan sulit, khususnya bagi guru pendidikan dasar karena model sekolah dasar kita selama ini selalu mengharuskan guru untuk merencanakam pembelajaran untuk peserta didik yang dikelompokkan menurut umur, tetapi dengan karakteristik yang sangat beragam. Situasi seperti ini menuntut guru untuk mahir dalam mendiferensiasikan pengajaran.
Dalam pengajaran yang didiferensiasikan, para guru tetap harus memfokuskan pada kompetensi standar yang esensial. Akan tetapi guru perlu memodifikasi apa yang diajarkan dan mengepaskan metode, strategi, dan bahan ajar dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik tertentu. Kebutuhan peserta didik ini ditentukan oleh perkembangan kognitifnya, gaya, dan preferensi belajarnya.
Secara umum, dalam kelas pembelajaran yang berlangsung di sekolah biasa, banyak guru mengajarkan bahan ajar yang sama, dengan cara yang sama untuk semua siswa. Dalam kelas
didiferensiasikan, guru akan memulai pembelajaran dengan berdasarkan minat, kebutuhan, kesiapan belajar peserta didik, dan kemudian menggunakan model dan penataan pembelajaran untuk memastikan bahwa peserta didik berkembang potensi belajarnya. Guru yang mendiferensiasikan pembelajaran, menggunakan proses perencanaan untuk merespon kebutuhan setiap peserta didik dan untuk menjamin kesuksesan peserta didik semuanya. Hal ini tantangan tersendiri bagi guru pendidikan dasar. Untuk mengatasi tantangan ini, guru harus menemukan cara untuk mendiferensiasi pengajaran agar setiap siswa dapat belajar secara maksimal. Carol Ann Tomlinson mengidentifikasi elemen-elemen penting diferensiasi, yaitu; (1) guru memfokuskan diri pada hal-hal yang esnsial; (2) guru memperhatikan perbedaan- perbedaan siswa; (3) guru melihatasesmen dan pengajaran sebagai hal yang tak dapat dipisahkan; (4) seluruh siswa berpartisipasi dalam pekerjaan yang terhormat; (5) guru dan siswa berkolaborasi dalam pembelajaran; (6) guru menyeimbangkan antara norma-norma kelompok dan individual; (7) guru dan siswa bekerja bersama secara fleksibel; (8) guru memodifikasi isi, proses, dan produk (Carol Ann Tomlinson dalam Arends, 2008:124).
Pembimbingan dan Pendampingan
Setiap peserta didik memiliki antusiasme untuk menyongsong kehidupan. Mereka menyukai apa saja yang ada di sekitarnya, memiliki hasrat untuk bereksplorasi, mengembangkan keterampilan, dan kekuatannya. Dorongan yang dimiliki anak untuk mengetahui apa yang ada di sekitarnya, merupakan hal yang fundamental yang dimiliki sejak saat kelahirannya. Oleh karena itu, kita perlu bertanya bagaimana seorang anak yang memulai kehidupannya aktif, memiliki keinginan kuat untuk mengetahui apa yang ada di sekitarnya, dapat berubah menjadi anak yang lesu dan mengalah, tidak mau berusaha ketika berada di dalam kelas.
Banyak peserta didik pada sekolah/pendidikan kejuruan mengalami permasalahan pembelajaran, sehingga yang dirasakan, belajar atau sekolah itu merupakan beban, yang aktivitasnya membuat bosan dan menjemukan. Anak yang pada saat awal usianya aktif, rasa ingi tahunya tinggi, kini menjadi apatis, tidak peduli, dan kehilangan kepercayaan diri. Tugas guru adalah memberi bimbingan dan melakukan pendampingan secara individual kepada peserta didik agar kembali memiliki antusiasme, saya percaya diri, dan merasa dihormati.
Jean Robb dan Hillary Letts (2004:vii), menidentifikasi sejumlah permasalahan yang banyak dihadapi anak usia pendidikan menengah, yang memerlukan bimbingan dan pendampingan guru agar anak dapat mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Permasalahan tersebut, di antaranya; (1) tidak mau bersusah payah, (2) takut berbuat salah, (3)
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 33 tidak mau mencoba, (4) kehilangan kepercayaan diri
dan antusiasme, (5) merasa tidak berguna, (6) menganggap sesuatu tidak penting, (7) tidak mau menjadi dewasa, (8) kehilangan gairah, (9) mudah menterah, dan (10) tidak mau bekerjasama.
Guru di pendidikan kejuruan, dalam melaksanakan pembelajaran, selain membibing peserta didik agar menguasai bahan ajar yang disampaikan mengunakan metode dan strategi pembelajaran yang menyesuaikan dengan perkembangan belajar peserta didik, juga harus membimbing dan memberi pendampingan kepada peserta didik yang mengalami permasalahan seperti yang disampaikan Jean Robb dan Hillary Letts tersebut. Dengan bimbingan dan pendampingan diharapkan peserta didik akan kembali memiliki antusiasme belajar.
Kesimpulan
1. Rasa ingin tahu merupakan potensi dasar yang yang dimiliki oleh setiap peserta didik sejak lahir, meskipun dalam kadar yang berbeda-beda. Tugas pendidikan, khususnya pendidikan kejuruan adalah memfasilitasi agar potensi rasa ingin tahu peserta didik tersalurkan menjadi aktivitas interaksi antara peserta didik dan sumber belajar. Interaksi peserta didik dengan sumber belajar sebaiknya dapat berlangsung dalam suasana mengasyikkan dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga disebut pembelajaran yang menyenangkan.
2. Dalam pembelajaran yang menyenangkan, tumbuh rasa senang belajar dari dalam diri peserta didik. Apabila dorongan dari dalam diri ini dimiliki oleh setiap peserta didik dalam suatu
kelas pembelajaran, maka kelas tersebut telah menciptakan individu yang terus belajar, sehingga pembelajaran yang menyenangkan akan mendorong terciptanya individu pembelajar, yang merupakan dasar terbentuknya organisasi pembelajar
3. Terdapat tiga faktor atau prinsip yang harus diimplementasikan ketika kita ingin mengembangkan proses pembelajaran yang menyenangkan. Ketiga prinsip yang harus dimplementasikan tersebut adalah; theoretical model of enjoyment learning, individualized and differentiated learning, dan guiding and mentoring.
Daftar Pustaka
[1] Arendts, Richard I. Terjemahan Helly Prajitno Soetjipto . Learning to teach. Edisi Ketujuh, Buku Dua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (2008).
[2] Hergenhahn, B.R., Olson, Matthew H., Terjemahan Tri Wibowo BS. Theories of learning. Edisi VII. Jakarta:Kencana Prenada Media Grup. .(2008)
[3] Joyce B., Weil, Marsha., Calhoun E., Terjemahan: Achmad Fawaid. Models of teaching. Edisi VIII.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (2009).
[4] Robb, Jean,, Letts Hillary. Terjemahan: Asnawi. Creating motivated kids. Yogyakarta:Torrent Books. (2004)
PEND-06
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 34