PROSIDING
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK)
Universitas Negeri Jakarta, 5 Juni 2013
EDITOR :
Prof. Dr. Zulfiati, M.Pd.
Prof. Dr. Basuki Wibawa
Dr. Priyono, M.Pd.
Riza Wirawan, M.T., Ph.D.
i
Prosiding
Seminar Nasional Mesin
Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK)
Editor :
Prof. Dr. Zulfiati, M.Pd.
Prof. Dr. Basuki Wibawa
Dr. Priyono, M.Pd.
Riza Wirawan, M.T., Ph.D.
Dr. Catur Setyawan K., S.T, M.T.
Lay Out:
Ragil Sukarno, S.T., M.T.
I Wayan Sugita, S.T., M.T.
ii
Seminar Nasional Teknik Dan Kejuruan (SNMTK
)
Editor : Prof. Dr. Zulfiati, M.Pd., Prof. Dr. Basuki Wibawa, Dr. Priyono, M.Pd., Riza Wirawan, M.T., Ph.D, Dr. Catur Setyawan K., S.T., M.T.
ISBN : 978-602-14000-0-5
Disclaimer
This e-book proceeding represents information obtained from authentic and highly regarded sources. Reprinted material is quoted with permission, and sources are indicated. A wide variety of references are listed. Every reasonable effort has been made to give reliable data and information, but the author(s) and the publisher can not assume responsibility for the validity of all materials or for the consequences of their use.
All rights reserved. No part of this publication may be translated, produced, stored in a retrieval system or transmitted in any form by other any means, electronic, mechanical, photocopying, recording or otherwise, without written consent from the publisher.
Direct all inquiries to Major of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering State University of Jakarta, B Building, Kampus A, Jl. Rawamangun Muka, Jakarta 13220, Indonesia
iii
SEMINAR NASIONAL
MESIN DAN TEKNOLOGI KEJURUAN (SNMTK) 2013
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
Penanggung Jawab :
Dekan Fakultas Teknik : Prof. Dr. Basuki Wibawa
Ketua Jurusan : Drs. Agus Dudung, M.Pd.
Ketua Program Studi : Ahmad Kholil, S.T., M.T.
Drs. Sugeng Priyanto, Msi
Panitia Pelaksana
Ketua : Dr. Darwin Rio Budi Syaka, S.T., M.T.
Sekretaris : Ir. Yunita, M.T., M.Si.
Ferry Budhi Susetyo, S.T., M.T.
Reviewer :
Prof. Dr. Zulfiati, M.Pd. Prof. Dr. Basuki Wibawa Prof. Dr. Hartati, M.Pd. Prof. Dr. G. Margono, M.Ed. Dr. C. Rudy Prihantoro, M.Pd. Dr. Priyono, M.Pd.
Agung Premono, M.T., Ph.D. Riza Wirawan, M.T., Ph.D. Dr. Catur Setyawan K., S.T, M.T.
Anggota :
Drs. H. Supria Wiganda, M.Pd. Drs. Adi Tri Tyassmadi, M.Pd. Dra. Ratu Amilia Avianti, M.Pd. Drs. Tri Bambang AK., M.Pd. Drs. H. Sirojuddin, M.T.
Drs. Enday Hidayat, S.T., M.Pd. Drs. Ir. Riyadi Joyokusumo, M.T. Drs. H. Syamsuir, M.T.
Drs. Akhmad Saufan, M.T. Drs. Sopiyan
Drs. Syaripudin, M.Pd. Ja'Far Amiruddin, S.T., M.T.
Lukman Arhami, S.Pd., M.T. Siska Titik Dwiyati, S.Si., M.T. Nugroho Gama Yoga, S.T., M.T. Pratomo Setyadi, S.T., M.T. Dyah Arum Wulandari, S.T., M.T. H. Wardoyo, S.T., M.T.
Aam Aminingsih Jumhur, S.T., M.T. Eko Arif Syaefudin, S.T., M.T. Himawan Hadi Sutrisno, S.T., M.T. Imam Basori, S.T., M.T.
iv
Sekretariat
Jurusan Teknik Mesin
Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta Kampus A UNJ, Gedung B Teknik Mesin, Jl. Rawamangun Muka 1, Jakarta Timur Telp : (021) 4700918
v ! "
! # " $ % & "
'
(&
) *
+
,-. /
0 "12 3 )
!"# $
+ # 4
*4 4 4! 5
PT BISLYNN Sapta Adil
“
Jalan Kaji 20 B – Jakarta Pusat 10130
vi
Kata Pengantar
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK) bertempat di Jakarta, Indonesia pada tanggal 5 juni 2013 dengan Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Jakarta sebagai tuan rumah. Seminar ini diadakan sebagai ajang bertemunya para peneliti dan praktisi kejuruan dan teknik mesin diseluruh Indonesia untuk menyajikan, berdiskusi dan mempromosikan perkembangan teknik mesin di Indonesia.
Seminar melingkupi para ilmuwan dan insinyur mesin dalam tema “Peningkatan Daya Saing Bangsa
Terhadap Teknologi Rekayasa”
Buku elektronik prosiding ini adalah kompilasi dari semua paper yang dipresentasikan dalam SNMTK dengan topik :
1. Pendidikan 2. Manufaktur 3. Otomotif
4. Energi Terbarukan 5. Fire & Safety
6. Teknologi Tepat Guna 7. Manajemen Industri 8. Mekatronika 9. FEM 10. Tribologi
11. Engineering Design 12. Bidang lain yang relevan
Panitia SNMTK mengucapkan terima kasih kepada pembicara kunci, para pemakalah yang berkontribusi dalam buku ini dan semua partisan yang menghadiri seminar ini.
vii
DAFTAR ISI
ABSTRAK PROSIDING i
DISCLAIMER ii
SUSUNAN PANITIA iii
SEKRETARIAT iv
KATA PENGANTAR vi
DAFTAR ISI vii
KELOMPOK PENDIDIKAN (PEND)
PEND-01 RELIABILITAS MULTIDIMENSI INSTRUMEN KEPUASAN
MAHASISWA FT UNJ SEBAGAI PELANGGAN INTERNAL Gaguk Margono
1
PEND-02 EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA DALAM
RANGKA PENINGKATAN MUTU DAN RELEVANSI LULUSAN SMK
Firrean Suprapto, Wardani Rahayu
9
PEND-03 SERTIFIKASI KOMPETENSI BIDANG KEAHLIAN
MENINGKATKAN DAYA SAING TENAGA KERJA INDONESIA Syamsuir
16
PEND-04 DESAIN PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN ANALISIS TUGAS
(TASK ANALYSIS) UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS
PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Imam Mahir
22
PEND-05 MENCIPTAKAN PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN
(JOYFUL LEARNING) PADA PENDIDIKAN KEJURUAN
Ratu Amilia Avianti
29
PEND-06 HUBUNGAN IKLIM KERJA DENGAN PRESTASI KERJA KEPALA
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SWASTA RUMPUN TEKNOLOGI DAN REKAYASA DI KECAMATAN CAKUNG JAKARTA TIMUR
Syaripuddin
34
KELOMPOK MANUFAKTUR (MAN)
MAN-01 PENGARUH VARIASI KADAR MN WIRE ELEKTRODE PADA
PENGELASAN GMAW TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN STRUKTUR LOGAM PADA PLAT BAJA CARBON RENDAH Suwarti, Hariadi
42
MAN-02 PERANCANGAN DAN MANUFAKTUR MESIN MIXER
DENGAN PENGADUK FLEKSIBEL
Yani Kurniawan, Eko Prasetyo, Hilman Sanjaya
49
MAN-03 ANALISIS PENGARUH KEDALAMAN ELEKTRODA TERHADAP
NILAI TAHANAN PEMBUMIAN DI DAERAH TEMBALANG DAN PANTAI MARON
Wahyono, Agung Putra
viii
MAN-04 PEMANFAATAN ALAT PEMANAS INDUKSI UNTUK INDUSTRI
KECIL DAN MENENGAH
R. Ismail, M. Tauviqirrahman, A.P. Bayuseno, Sugiyanto, Jamari
61
MAN-05 PROSES PERMESINAN RAMAH LINGKUNGAN DENGAN
MENGGUNAKAN UDARA SEBAGAI MEDIA PENDINGIN Rusnaldy, Paryanto, Norman Iskandar, Yusuf Umardani, Susilo Adi Widyanto
68
MAN-06 KARAKTERISTIK KEKUATAN CELLULAR BEAM DENGAN
VARIASI DIAMETER SEL Sunardi, Ipick Setiawan, Sofanudin
73
MAN-07 KARAKTERISTIK HASIL PENGELASAN MIG
PADA PIPA BAJA ST-37
Ferry Budhi Susetyo, Siska Titik Dwiyati, Kamal Hermawan
79
MAN-08 PERANCANGAN MESIN EMPING GARUT
BERKAPASITAS 20 KG/HARI
Fadwah Maghfurah, Sulis yulianto, Munzir Qadri
87
MAN-09 PENGARUH PEMBERIAN VARIASI TEMPERATUR ANNEALING
TERHADAP KARAKTERISTIK I-V FOTODIODA BERBASIS LITAO3 R. Aam Hamdani, Mumu Komaro, Ayano,Rahmat A S, Irzaman
92
MAN-10 PERENCANAAN PISAU PENCACAH MESIN DAUR ULANG
BOTOL PLASTIK MENJADI PELLET Ahmad Kholil, Catur Setyawan, Ahmad Topan
97
MAN-11 MESIN DAUR ULANG BOTOL PLASTIK MENJADI PELLET
Ahmad Kholil, Catur Setyawan, Wanda
101
MAN-12 RANCANG BANGUN DAN PENGUJIAN ALAT PEMBUAT BRIKET
SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Zulfiati, Angga Ardhianto, Triyono
105
MAN-13 PENGARUH TEMPERATUR DALAM PELAPISAN LISTRIK
CHROMIUM TERHADAP KEKERASAN PADA PELAT BAJA Nasrul Zein, Maya Meilina
110
MAN-14 ANALISA PENGARUH DESAIN DAN MATERIAL TERHADAP
KEKUATAN PELEK MOBIL JENIS BAJA PRESS DAN CORAN PADUAN
Ragil Sukarno,Djoeli Satrijo, Toni Prahasto
115
MAN-15 PERANCANGAN ALAT PENGUPAS UDANG SEBAGAI ALAT
BANTU MASYARAKAT MELAYAN DI CILINCING JAKARTA UTARA
Catur Setyawan K., Hamidah, Ari Istiany, Anan Sutisna, Samadi
122
MAN-16 ANALISA KETAHANAN THERMAL KABEL NYM BERSTANDART
SNI MENGGUNAKAN DIFFERENCIAL SCANNING CALLORIMETRY
MACHINE
Himawan Hadi Sutrisno, Riza Wirawan, Triyono
ix
MAN-17 KARAKTERISTIK HASIL PENGELASAN TUNGSTEN INERT GAS
PADA PELAT ALUMINIUM 5083 AKIBAT PENGATURAN ARUS LISTRIK DAN TEKANAN GAS ARGON
Syaripuddin, Ferry Budhi Susetyo, Yunita Sari
133
MAN-18 PENGARUH FRAKSI VOLUME SERAT DAN PERLAKUAN SERAT
DALAM ALKOHOL ABSOLUT TERHADAP KEKUATAN IMPAK
KOMPOSIT SERAT BAMBU AMPEL (BAMBUSA VULGARIS)
Siska Titik Dwiyati, Agus Dudung, Heni Prasutio
137
MAN-19 PERATURAN BATAS KEBISINGAN SEBAGAI TANTANGAN
DALAM REKAYASA TEKNOLOGI MESIN Aprilia Sakti Kusumalestari
143
MAN-20 PERANCANGAN MESIN PELUBUR KERTAS BEKAS
Harry Sunardi
148
MAN-22 UJI KEKUATAN TARIK HASIL PENGELASAN (Aplikasi Mata Kuliah
Praktek Pengelasan di Jurusan Teknik Mesin FT-UNJ) Agus Dudung,Tri Bambang AK
152
MAN-23 PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT BANTU POTONG PIPA
BAJA DENGAN MENGGUNAKAN OXY-ASETILIN CUTTING Himawan Hadi Sutrisno, Ferry Budhi Susetyo, Wahyudi
159
MAN-24 PENGARUH PROSES PENDINGINAN BERTINGKAT TERHADAP
STRUKTUR MIKRO PADUAN Al-6% Si Imam Basori
164
KELOMPOK OTOMOTIF (OTO)
OTO-01 ANALISA PENGARUH PENGGUNAAN TEKNOLOGI VVT-i
TERHADAP PERFORMANSI MESIN – NON STATIONER PADA KENDARAAN RODA EMPAT
Eddy Elfiano, N.Perangin-Angin, Tukirno
169
OTO-02 PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK POLIETILEN SEBAGAI
BAHAN BAKAR ALTERNATIF MESIN BENSIN DAN DIESEL Zulfiati Syahrial, Fani Anggriawan, Inter Satria
175
OTO-03 SIMULASI DAN ANALISIS POLA MODUS GETAR PADA
BEBERAPA TIPE SWING ARM SEPEDA MOTOR JENIS SUSPENSI MONOSHOCK
Ahmad Kholil, Himawan H.S., Choirul Anwar
180
OTO-04 PENGARUH BENTUK BOWL-IN-PISTON PADA UNJUK KERJA
MESIN DIESEL BERDAYA 6,34 kW Yunus Yakub, Kanon Prabandaru Sumarah
188
OTO-05 ANALISA REM GETAR PADA JARAK PEMAKAIAN RENDAH
DENGAN MENCEGAH FLOW OUT PADA RUNOUT KNUCKLE DISC ASSY UNTUK MOBIL MODEL IXV DI PT. M
Edwar Rosyidi, Nurhasan Nurul Pradanasari
x
KELOMPOK KONVERSI ENERGI (KE)
KE-01 KINERJA TURBIN MIKROHIDRO TIPE CROSS-FLOW KAPASITAS
2.700 WATT
Muhammad Firdausi, M. Dwi Trisno, Dahmir Dahlan
202
KE-02 KARAKTERISTIK SUHU SEBUAH DINAMOMETER SASIS ARUS
EDDY
Budhi Prasetiyo
207
KE-03 PENGUJIAN DINAMOMETER ARUS EDDY PENDINGIN UDARA
DENGAN PENGGERAK MOBIL PICANTO Supriyo
211
KE-04 PENGUKURAN ALIRAN FLUIDA PADA BILANGAN REYNOLD
(Re) RENDAH Dhimas Satria
215
KE-05 KARAKTERISASI DAYA TURBIN TURGO DENGAN VARIASI
JUMLAH SUDU GASAL UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PICOHIDRO
Bono
219
KE-06 PENGGANTIAN BAHAN BAKAR SOLAR DENGAN BAHAN BAKAR
CAMPURAN LIMBAH KILANG MFO 1000 cSt DAN SOLAR PADA PEMBAKARAN BOILER DI KILANG MINYAK
Ilyas Rochani
225
KE-07 UNJUK KERJA KARAKTERISTIK KINCIR ANGIN (WINDMILL)
SEBAGAI PENGGERAK MULA DOUBLE ACTING PISTON PUMP Yusuf Dewantoro Herlambang
232
KE-08 METODE PENINGKATAN KAPASITAS DAYA KELUARAN
GENERATOR SINKRON TIGA PHASA DENGAN MERUBAH JUMLAH SLOT
Wiwik Purwati Widyaningsih
237
KE-09 PERBANDINGAN PERFORMA TURBIN ANGIN TIPE VAWT DAN
HAWT PADA KECEPATAN ANGIN RENDAH Prasetyo Wibowo Yunanto
242
KE-10 KAJIAN POTENSI MAGNETIK BAHAN UNTUK PENOPANG SUDU
TURBIN MAGLEV Dwiana Hendrawati
250
KE-12 ANALISIS NILAI PLANT HATE RATE PEMBANGKIT LISTRIK
TENAGA UAP TANJUNG JATI UNIT 1 DAN 2 DENGAN METODE HEAT LOSS
M Denny Surindra
255
KE-13 PROTEKSI GENERATOR AC TIGA FASA TEHADAP BEBAN PUTUS
SATU FASA Suwarti
xi
KE-14 UJI KARAKTERISTIK SAMPAH KOTA CILEGON SEBAGAI BAHAN
BAKAR UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH Imron Rosyadi , Agung Sudrajat, Diki M Nurdin
268
KE-15 RANCANG BANGUN KONDENSOR DAN BOILER SIKLUS
RANKINE ORGANIK
Darwin Rio Budi Syaka, Andri Koto, Dyah Arum Wulandari
272
KE-16 ANALISA UNJUK KERJA POMPA HIDRAM MENGGUNAKAN
VARIASI UKURAN TABUNG UDARA DAN DIAMETER PIPA INLET Munzir Qadri, Fadwah Maghfurah, Sulis Yulianto
277
KE-17 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINI HIDRO (PLTM) : PELUANG
BAGI PARA PENGEMBANG BISNIS DAN TANTANGAN BAGI PARA PERANCANG TEKNOLOGI REKAYASA DI INDONESIA Sirojuddin
282
KE-18 PERBANDINGAN BERBAGAI MERK BAHAN BAKAR
KENDARAAN BEROKTAN 92 TERHADAP DAYA MESIN,
TINGKAT EMISI GAS BUANG DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR PADA SEPEDA MOTOR VEGA ZR
Adi Tri Tyassmadi, Riyadi, Dicky Setioadi
289
KE-19 STUDI EKSPERIMENTAL FLUIDA KERJA R134A PADA SIKLUS
RANKINE ORGANIK UNTUK APLIKASI SKALA KECIL
PEMBANGKIT LISTRIK TERMAL
Darwin Rio Budi Syaka, Andri Wilis Prasetia, Pratomo Setyadi
298
KE-20 STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH BEBAN PANAS TERHADAP
KINERJA PIPA KALOR PADA POSISI HORISONTAL DAN VERTIKAL
Nugroho Gama Yoga, Abdurrachim
302
KE-21 ANALISA PERBANDINGAN PERPINDAHAN PANAS PIPA KALOR
DENGAN PIPA PEJAL PADA SUDUT KEMIRINGAN 90o
I Wayan Sugita, Abdurrachim
306
KE-22 ANALISIS PERBANDINGAN UNJUK KERJA KERJA PEMANAS AIR
TENAGA SURYA DENGAN PENGATURAN ΔT 20C OFF 60C ON
DAN 40C OFF 80C ON
Dyah Arum W, Rizky Ardi Nugroho, Supria Wiganda
312
KE-23 PEMBUATAN DAN UJI MUTU BRIKET MEMANFAATKAN BAHAN
CAMPURAN SAMPAH PLASTIK HDPE (High Density Polyethilene)
TERKABORASI DAN ARANG TEMPURUNG KELAPA (Coconut
Charcoal Shell)
Ikhwan Nurrifai, Hartati, Eko Arif Syaefudin
317
KELOMPOK MANAJEMEN INDUSTRI (MI)
MI-01 MANAJEMEN PEMELIHARAAN PABRIK
Hery Setijasa
xii
MI-02 PENERAPAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYEMENT
(QFD) PADA PERANCANGAN ATAP ALUMUNIUM BUKA TUTUP
Aam Amaningsih Jumhur
328
MI-03 KOMPETENSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DI SMK DALAM
MENINGKATKAN DAYA SAING
Ja’far Amiruddin, Nurcholis, Basuki Wibawa
334
MI-04 STRATEGI INOVASI INDUSTRI KECIL BATIK DALAM
MEMBANGUN KEUNGGULAN BERSAING Aam Amaningsih Jumhur
338
MI-05 PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN
MENGANALISA KESEIMBANGAN LINTASAN PT. XYZ Lukman Arhami dan Sulis Prasetyo
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 1
RELIABILITAS MULTIDIMENSI INSTRUMEN KEPUASAN
MAHASISWA FT UNJ SEBAGAI PELANGGAN INTERNAL
Gaguk Margono
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta
ABSTRACT
Reliability is the consistency of each instrument in the research study. Multidimensional measurement of internal consistency reliability is rarely used in the realm of research. Measurement and computation is described in this article uses an instrument measuring student satisfaction as an internal customers. Student satisfaction is the feeling of student performance resulting from comparing a product's perceived (outcome) in relation to the expectations of students. Student satisfaction has five dimensions namely decree anything tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Survey methods used in research and sampling used simple random sampling. This instrument has been tested in the Faculty of Engineering, State University of Jakarta. It can be concluded that the instrument gauges student satisfaction as internal customers using multidimensional reliability coefficient has a high accuracy when compared with a unidimensional reliability coefficient. Expected in advanced research used another formula multidimensional reliability.
Keywords: multidimensional reliability coefficient, instrument student satisfaction as an internal customers
ABSTRAK
Reliabilitas merupakan konsistensi setiap instrumen dalam penelitian pada suatu studi. Pengukuran reliabilitas konsistensi internal multidimensi jarang digunakan dalam khasanah penelitian. Pengukuran dan komputasi dideskripsikan dalam artikel ini menggunakan instrumen pengukur kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal. Kepuasan mahasiswa adalah perasaan mahasiswa yang dihasilkan dari membandingkan kinerja suatu produk yang dirasakan (hasil) dalam hubungan dengan harapan mahasiswa. Kepuasan mahasiswa memiliki lima dimensi yaitu sesutu yang terwujud, kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati. Metode survei dalam penelitian digunakan dan penarikan sampel digunakan simple random sampling. Instrumen ini telah diuji cobakan di Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ). Dapat disimpulkan bahwa instrumen pengukur kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal menggunakan koefisien reliabilitas multidimensi memiliki ketepatan yang tinggi bila dibandingkan dengan koefisien reliabilitas unidimensi. Diharapkan dalam penelitian lanjutan digunakan formula reliabilitas multidimensi yang lainnya.
Kata kunci: koefisien reliabilitas multidimensi, instrumen kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal
1. PENDAHULUAN
Menurut Lewis dan Smith (1994), pelanggan pendidikan tinggi terdiri dari: (1) pelanggan internal akademik (mahasiswa, fakultas, program studi/jurusan), (2) pelanggan internal administratif (mahasiswa, pegawai, unit/divisi pelayanan), (3) pelanggan eksternal langsung (sekolah, industri, universitas lain), dan (4) pelanggan eksternal tidak langsung (parlemen, masyarakat luas, badan akreditasi, alumni, donor).[1] Dalam sistem pendidikan tinggi (PTN maupun PTS), pelanggan adalah entitas atau pribadi paling penting dalam organisasi. Di sini dibahas tentang kepuasan pelanggan internal yakni mahasiswa. Kepuasan mahasiswa adalah pemenuhan kebutuhan dan harapan mahasiswa.
Kepuasan bersifat relatif, tergantung kebutuhan dan harapan mahasiswa. Semakin tinggi kebutuhan dan harapan mahasiswa maka semakin sulit untuk mencapai kepuasan mahasiswa. Misalnya, Jurusan Teknik Mesin segmen pasarnya adalah orang yang berminat menjadi mahasiswa teknik mesin, sedangkan pelanggan yang harus dilayani oleh Jurusan Teknik Mesin adalah mahasiswa teknik mesin sebagai pelanggan internal dan mahasiswa non
teknik mesin sebagai pelanggan eksternal. Setelah minat menjadi mahasiswa terpenuhi, maka pelanggan internal punya harapan dan kebutuhan untuk belajar mengenai Teknik Mesin dengan baik, selanjutnya pelanggan eksternalpun akan mempunyai harapan yang sama.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 2 dengan memandang mahasiswa sebagai pelanggan
utama yang harus dilayani.
Untuk mengukur kepuasan mahasiswa digunakan suatu ukuran subyektif atau soft measures
sebagai indikator mutu atau kualitas. Ukuran ini disebut lunak (soft), sebab ukuran-ukuran ini berfokus pada persepsi dan sikap daripada hal-hal yang konkret yang disebut kriteria obyektif. Oleh karena berfokus pada persepsi dan sikap maka alat pengukur yang digunakan dapat berupa kuesioner kepuasan mahasiswa yang dapat diukur melalui mutu atau kualitas pelayanan dari institusi pendidikan tinggi tersebut.
Mutu atau kualitas (quality) merupakan suatu istilah yang dinamis yang terus bergerak; jika bergerak maju dikatakan mutunya bertambah baik, sebaliknya jika bergerak mundur dikatakan mutunya merosot. Mutu berarti dapat berarti superiority atau
excellence yaitu melebihi standar umum yang berlaku. Sesuatu dikatakan bermutu jika terdapat kecocokan antara syarat-syarat yang dimiliki oleh benda atau jasa yang dikehendaki dengan maksud dari orang yeng menghendakinya. Menurut Idrus et al. (2000) “…the fitness purpose as perceived by the custome.” [2] Misalnya, mutu proses belajar cocok dengan apa yang diharapkan oleh mahasiswa; makin jauh melampaui apa yang diharapkan makin bermutu, jika terjadi sebaliknya, makin tidak bermutu.
Langkah pertama mengukur kualitas pelayanan adalah mengidentifikasi karakteristik kualitas pelayanan. Daftar karakteristik ini dapat digeneralisasi dalam berbagai cara dengan menggunakan berbagai sumber informasi. Salah satu cara adalah mencari literatur seperti jurnal yang mungkin memuat dimensi mutu jasa. Peneliti-peneliti seperti Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985) telah menyimpulkan bahwa mutu jasa dapat diuraikan dengan dasar 10 dimensi.[3] Mereka mencoba untuk mengukur sepuluh dimensi, ternyata pelanggan hanya dapat membedakan 5 dimensi yang disebut ServQual (Parasuraman, Zeithaml, dan Berry, 1988) memberi kesan bahwa dimensi 10 yang asli saling tumpang-tindih satu sama lain.[4] Lima dimensi mutu pelayanan adalah sesuatu yang terwujud (tangible), kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), dan empati (empathy). Lebih lanjut tentang dimensi ini dapat dibaca dari publikasi pada kualitas pelayanan jasa oleh Zeithaml, Parasuraman dan Berry (1990). [5]
Dimensi pertama dari kualitas pelayanan menurut konsep ServQual ini adalah tangible karena suatu jasa tidak dapat dicium dan tidak dapat diraba, maka tangible menjadi penting sebagai ukuran terhadap pelayanan. Tangible merupakan kemampuan untuk memberi fasilitas fisik kampus dan perlengkapan perkuliahan yeng memadai menyangkut penampilan karyawan/dosen dan pejabat serta sarana umum. Misalnya: ketersediaan ruang menyangkut kelengkapan dan ketersediaan peralatan,
kenyamanan dan kecanggihan kampus, fasilitas komputer dan internet, perpustakaan, ruang kuliah, ruang seminar, ruang dosen, media perkuliahan, laboratorium, unit produksi, kantin, pusat bimbingan karir, layanan kesehatan, tempat ibadah, tempat istirahat dan tempat parkir, serta sarana transportasi. Mahasiswa akan menggunakan indra penglihatan untuk menilai suatu kualitas pelayanan dari segala sarana dan fasilitas yang ada.
Kedua, dimensi reliability yaitu dimensi yang mengukur kehandalan dari pendidikan tinggi dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa. Ada dua aspek dari dimensi ini yakni: (1) kemampuan perguruan tinggi untuk memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan, dan (2) seberapa jauh perguruan tinggi memberikan pelayanan yang akurat atau tidak error. Dengan kata lain reliability
merupakan kemampuan pejabat, karyawan/dosen dalam memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan (tepat waktu), dengan segera, relevan, dan akurat sehingga memuaskan mahasiswa. Contoh: pengembangan administrasi, kurikulum dan penawaran mata kuliah sesuai tuntutan keterampilan, profesi dan dunia kerja, perkuliahan berlangsung lancar sesuai jadwal, penilaian hasil studi obyektif, fair, dan tepat waktu.
Ketiga, responsiveness adalah dimensi kualitas pelayanan yang dinamis. Harapan mahasiswa terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu.
Responsiveness merupakan kesediaan para pejabat, dosen/karyawan untuk membantu dan memberikan pelayanan sesuai kebutuhan mahasiswa. Contoh: pejabat mudah ditemui untuk diminta bantuan, dosen mudah ditemui untuk keperluan konsultasi, proses belajar mengajar berlangsung interaktif dan variatif serta memungkinkan para mahasiswa mengembangkan kapasitas dan kreativitas, pengelola memberi fasilitas yang memadai sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan dunia kerja.
Dimensi keempat dari 5 dimensi kualitas pelayanan yang menentukan kepuasan pelanggan adalah assurance, yaitu dimensi jaminan kualitas yang berhubungan dengan kemampuan institusi dan perilaku front-line staf dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para mahasiswa.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 3 banyak riset, ada 4 aspek dari dimensi ini, yaitu
keramahan, kompetensi, kredibilitas, dan keamanan. Kelima, empati adalah kemampuan pejabat, karyawan/dosen sehingga memberi pelayanan sepenuh hati, antara lain kemudahan dalam berkomunikasi, perhatian secara pribadi dan pemahaman akan kebutuhan spesifik individual mahasiswa. Contoh: dosen berusaha mengenal nama mahasiswanya, dosen penasehat akademis sungguh-sungguh berperan sebagai konselor, dan sebagai supervisor bukan sekedar editor bahasa, dan pejabat mudah dihubungi baik di ruang kerja, via telepon, email dan sebagainya. Empati ini berkaitan dengan teori perkembangan kebutuhan manusia dari Maslow. Pada tingkat kebutuhan semakin tinggi, kebutuhan manusia tidak lagi dengan hal-hal yang primer seperti kebutuhan fisik, keamanan dan sosial terpenuhi, maka dua kebutuhan lagi akan dikejar oleh manusia yaitu kebutuhan akan ego dan aktualisasi diri. Dua kebutuhan terakhir inilah yang banyak berhubungan dengan dimensi empati.
Di bidang pendidikan, ekonomi, bisnis maupun manajemen, penilaian yang baik memerlukan pengukuran yang dapat diandalkan atau dipercaya. Demikian juga pada bidang pendidikan dan psikologi. Menurut Naga (1992) untuk pengukuran pendidikan dan psikologi mencakup beberapa hal. Pertama, mengukur ciri terpendam yang tak terlihat yang ada pada responden. Kedua, untuk mengukur ciri terpendam tersebut responden diberi stimulus berupa kuesioner atau alat ukur yang tepat. Ketiga, stimulus direspons oleh responden dengan harapan respons mencerminkan dengan benar ciri terpendam yang ingin diukur. Keempat, respons diskor dan dapat ditafsirkan secara memadai.[6] Kemudian, perlu dipertanyakan sejauh manakah skor yang diperoleh dapat mencerminkan secara tepat ciri terpendam yang hendak diukur? Apakah instrumen yang dipakai sebagai stimulus itu mampu mengungkap secara benar ciri terpendam yang tak tampak itu? Kedua pertanyaan tersebut berkenaan dengan validitas. Sedang yang berkaitan dengan reliabilitas, apakah tanggapan yang diberikan oleh para peserta sudah dapat dipercaya untuk digunakan sebagai bahan penskoran bagi atribut psikologis itu?
Menurut Wiersma (1986), reliabilitas ialah konsistensi suatu instrumen mengukur sesuatu yang hendak diukur.[7] Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Oleh karena itu reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila suatu instrumen dipakai berulang-ulang untuk mengukur gejala yang sama dan hasil yang diperoleh relatif stabil atau konsisten, maka instrumen tersebut terpercaya. Dengan kata lain hasil pengukuran itu diharapkan sama apabila pengukuran diulang.
Dengan pendekatan varians, Kerlinger (2000) menyusun dua definisi tentang reliabilitas: (1)
adalah proporsi varians “yang sebenarnya” terhadap varians total yang diperoleh untuk data yang didapatkan dengan suatu instrumen pengukur dan dapat dituliskan dalam persamaan
r
tt=
v
∞v
tdengan catatan
v
∞ adalah varians murni danv
tadalah varians total, dan (2) adalah proporsi varians keliru yang dihasilkan dengan suatu instrumen pengukur yang dikurangkan pada 1.00, dengan indeks 1.00 menunjukkan koefisien reliabilitas sempurna, dan dapat ditulis denganpersamaan
1
tt e t
r
= −
v v
, di manav
e adalah varians keliru danv
t adalah varians total. Oleh karena itu reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan.[8]Secara garis besar ada tiga kategori besar dalam pengukuran reliabilitas: (1) tipe stabilitas (misalnya: tes ulang, bentuk paralel, dan bentuk alternatif), (2) tipe homogenitas atau internal konsistensi (misalnya: belah dua, Kuder-Richardson,
alpha Cronbach, theta dan omega), dan (3) tipe ekuivalen (misalnya: butir-butir paralel pada bentuk alternatif dan reliabilitas antar penilai (inter-rater reliabiliy)). Instrumen diberikan kepada sekelompok subjek satu kali lalu dengan cara tertentu dihitung estimasi reliabilitasnya. Pendekatan pengukuran satu kali ini menghasilkan informasi mengenai konsitensi internal instrumen. Konsistensi internal merupakan pernyataan-pernyataan tersebut mengukur aspek yang sama atau merefleksikan homogenitas butir-butir pernyataan.
Makin tinggi koefisien reliabilitas, makin dekat nilai skor amatan dengan skor yang sesungguhnya, sehingga nilai skor amatan dapat digunakan sebagai pengganti komponen skor yang sesungguhnya. Ukuran tinggi atau rendahnya koefisien reliabilitas tidak hanya ditentukan oleh nilai koefisien. Tafsiran tinggi rendahnya nilai koefisien diperoleh melalui perhitungan, ditentukan juga oleh standar pada cabang ilmu yang terlibat di dalam pengukuran itu. Makin tinggi koefisien reliabilitas suatu instrumen, maka kemungkinan kesalahan yang terjadi akan makin kecil kalau orang membuat keputusan berdasarkan skor yang diperoleh dalam instrumen tersebut.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 4 reliabilitas yang memadai sebaiknya terletak di atas
0,75.[6]
Pada setiap penelitian yang menggunakan pengukuran psikologis selalu menerapkan pengujian validitas dan reliabilitas. Namun dalam perjalanannya di bidang psikometri, para ahli belum ada kesepakatan tentang koefisien reliabilitas atau rumus yang mana untuk reliabilitas antar peneliti. Pertama, masih banyak peneliti yang dinilai cukup kompeten masih banyak yang kurang tepat dalam melaporkan reliabilitas hasil pengukuran mereka (Thompson, 1994).[11]
Kedua, masalah yang muncul adalah penggunaan koefisien reliabilitas oleh para peneliti secara monoton tanpa mempertimbangan asumsi yang mendasari koefisien tersebut. Para peneliti tanpa sadar menggunakan koefisien alpha yang juga dengan tanpa sadar bahwa untuk koefisien ini memerlukan asumsi yang sulit dipenuhi. Jika asumsi tidak dipenuhi maka koefisien alpha yang dihasilkan adalah nilai di batas estimasi terendah. Banyak peneliti hanya terpaku pada penggunaan koefisien alpha dalam mengestimasi reliabilitas. Popularitas koefisien alpha Cronbach ini lahir karena faktor: 1) teknik komputasi relatif mudah, karena hanya memerlukan informasi berupa varians skor total, dan 2) distribusi sampling sudah diketahui sehingga penentuan interval kepercayaan pada populasi sangat dimungkinkan (Feld dan kawan-kawan, 1987).[12]
Ketiga, permasalahan yang berhubungan dengan asumsi yang menjadi syarat dalam mengestimasi reliabilitas. Pada ranah empiris selain persyaratan adanya sifat paralel, persyaratan tau-equivalent merupakan tantangan yang cukup berat bagi peneliti dalam menyusun instrumen pengukuran. Hal ini didukung oleh Kamata dan kawan-kawan (2003) yang menemukan bahwa asumsi kesetaraan, daya diskriminasi antar komponen tes dan unidimensionalitas pengukuran merupakan hal relatif sulit dicapai. Jika asumsi essentially tau-equvalent
tidak dapat dipenuhi maka koefisien alpha menghasilkan nilai reliabilitas yang sangat kecil, sehingga koefisien tersebut di bawah estimasi.[13]
Keempat, wacana pengukuran adalah masalah unidimensionalitas pengukuran. Unidimensionalitas adalah aspek penting dalam mengestimasi reliabilitas. Hasil pengukuran psikologis yang bersifat unidimensi sangat sulit dicapai, terutama dalam konteks domain kepribadian yang kebanyakan memuat area varians-varians traits
yang luas. Socan (2000) menulis bahwa analisis faktor yang dilakukan dari beberapa penelitian banyak kasus multidimensi dibanding dengan unidimensi.[14]
Masalah asumsi bukan menjadi masalah utama dalam menyusun model konsistensi internal, namun masalah ini menjadi bahan kajian banyak peneliti dalam pengkajian reliabilitas. Seperti penelitian Vehkahlati (2000) yang menyimpulkan
bahwa asumsi yang tidak cukup realistis pada teori skor murni klasik adalah asumsi unidimensionalitas skor murni yang secara praktis sulit dibuktikan. Jadi kajian multidimensionalitas pengukuran muncul ke permukaan karena banyak kasus ditemui bahwa juga adanya korelasi antar butir di dalam dimensi tersebut kadang-kadang lebih tinggi dibanding dengan korelasi antar butir dalam tes.[15]
Pada pengembangan instrumen pengukuran dalam bidang pendidikan banyak mengasumsikan penggunaan pengukuran yang bersifat unidimensi yang secara konseptual dirumuskan bahwa hanya ada satu jenis faktor kemampuan, kepribadian, sifat, maupun sikap yang diukur oleh satu instrumen pengukuran. Tetapi, banyak penelitian menunjukkan bahwa asumsi unidimensi tersebut sulit dipenuhi dengan ditemukannya beberapa faktor baru yang ikut diukur dalam satu instrumen. Dengan kata lain, instrumen yang bersifat psikologis yang sering dipakai peneliti cenderung bersifat multidimensi.
Beberapa alasan pentingnya pengukuran reliabilitas yang bersifat multidimensi seperti dikemukan oleh Widhiarso dan Mardapi (2010) dengan uraian sebagai berikut: pertama, karakteristik konstruk psikologis yang umumnya bersifat multidimensi. Kedua, adanya pelibatan aspek-aspek dalam penyusunan instrumen psikologis biasanya diawali dengan penurunan butir-butir dari beberapa aspek teoretis dan kecenderungannya bersifat multidimensi.[16] Ketiga, jumlah butir di dalam instrumen. Jumlah butir yang terlalu banyak dapat menambah potensi penambahan varians error dalam butir sehingga memunculkan dimensi baru dari dimensi yang ditetapkan semula. Jumlah butir dan juga bentuk skala mempengaruhi sikap responden terhadap butir yang kemudian mempengaruhi tanggapan mereka terhadap instrumen. Keempat, teknik penulisan butir. Spector dan kawan-kawan (1997) menemukan bahwa teknik penulisan butir yang memiliki arah yang terbalik antara positif (favorable) dan negatif (unfavorable) dapat membentuk dimensi ukur baru padahal dalam pengambilan data banyak skala psikologi menggunakan teknik penulisan butir yang berbeda arah.[17] Kelima, satuan pengukuran yang berbeda. Pengukuran bidang psikologis cenderung memiliki satuan ukur yang berbeda antara butir satu dengan butir lainnya memiliki kapabiltas yang berbeda sebagai indikator konstruk ukur. Kondisi ini akan menyebabkan hasil pengukuran cenderung bersifat multidimensi.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 5 pengukuran psikometris juga melibatkan teknik
analisis yang menggu nakan model multidimensi. Oleh karena itu dalam penelitian ini penggunaan koefisien alpha terstratifikasi (stratified alpha coefficient) yang diperkenalkan oleh Cronbach, Sconeman, dan McKie (1965) diperlukan untuk mengestimasi reliabilitas instrumen yang terdiri dari beberapa dimensi (subtes).[18] Sama seperti koefisien alpha Cronbach (untuk unidimensi), koefisien alfa terstratifikasi (untuk multidimesi) adalah pengukuran internal konsistensi dengan melibatkan komponen-komponen instrumen. Formula untuk mendapatkan besarnya reliabilitas alfa terstratifikasi
(
α
s)
adalah sebagai berikut:Adapun rumus reliabilitas konsistensi internal alpha Cronbach adalah sebagai berikut:
Untuk rumus koefisien reliabilitas multidimensi, McDonald (1981) merumuskan sebuah koefisien reliabilitas yang kemudian diberi nama koefisien reliabilitas konstruk yang juga dinamakan koefisien omega
( ).
ω
[19]Koefisien reliabilitas ini berbasis pada analisis faktor konfirmatori yang merupakan bagian dari menu pemodelan model persamaan struktural (Structural Equation Modeling/SEM). Reliabilias konstruk ini menjelaskan besarnya proporsi indikator dalam menjelaskan konstruk ukur. Adapun formula untuk mendapatkan koefisien reliabilitas konstruk adalah sebagai berikut:
λ
= factor loading terstandarisasi indikator ke–iUntuk rumus koefisien reliabilitas unidimensi, Armor seperti disarikan oleh Yaffe (2000)[20] telah menurunkan rumus reliabilitas theta
sebagai analog dari rumus alpha sebagai berikut:
Pada penelitian Widhiarso dan Mardapi (2010), model multidimensi untuk koefisien reliabilitas memiliki ketepatan pengukuran yang tinggi bila dibandingkan dengan reliabilitas unidimensi.[16] Oleh karena itu dalam penelitian ini, peneliti hanya difokuskan pada koefisien reliabilitas unidimensi
α
danΘ
serta koefisien reliabilitas multidimensiα
s danω
.Permasalahan yang telah diuraikan di atas menunjukkan adanya kebutuhan bagi penyusun tes untuk mengetahui ketepatan estimasi antar formula reliabilitas sehingga peneliti dalam penelitiannya dapat memilih formula mana yang paling tepat dan akurat. Seperti juga dalam penelitian ini akan menggunakan koefisien alpha Cronbach dan theta untuk koefisien reliabilitas unidimensi, serta untuk dan koefisien reliabilitas koefisien reliabilitas multidimensi digunakan alpha terstratifikasi dan omega; seperti yang telah diuraikan di atas.
Berdasarkan uraian di atas maka untuk organisasi pendidikan seperti Fakultas Teknik, Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) dimunculkan berbagai pertanyaan seperti: Bagaimanakah reliabilitas internal konsistensi multidimensi dari instrumen pengukur kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal? Bagaimanakah komparasi antara reliabilitas multidimesi dan unidimesni? Manakah yang lebih akurat sebagai pengukur reliabilitas?
2. METODE
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 6 penelitian ini merupakan survei sampel terhadap
hal-hal yang tidak nyata (intangible) yakni bila survei menyangkut pengukuran konstruk psikologis atau sosiologis dan membandingkan anggota-anggota populasi yang besar dimana variabelnya tidak dapat langsung diamati. Oleh karena penelitian ini mengukur konstruk psikologis secara tidak langsung dari sampel populasi, maka jelas penelitian ini disebut survei sampel terhadap hal-hal yang tidak nyata (sample survey of intangibles).
Instrumen dalam penelitian skala dibuat dua kolom dengan rincian, untuk kolom pertama ini merupakan kenyataan (realitas) atau fakta yang ada dan dipersepsi oleh mahasiswa terhadap kualitas pelayanan yang memuaskannya dengan lima alternatif jawaban mulai dari sangat tidak puas (STPs) nilai 1, tidak puas (TPs) nilai 2, netral (N) nilai 3, puas (Ps) nilai 4, dan sangat puas (SPs) nilai 5. Penskalaan ini untuk instrumen kinerja.
Untuk kolom kedua, harapan mahasiswa terhadap institusi dengan skala lima alternatif berdasarkan tingkat kepentingan mahasiswa dengan jawaban mulai dari sangat tidak penting (STPt) nilai 1, tidak penting (TPt) nilai 2, Biasa-biasa (Bb) nilai 3, penting (Pt) nilai 4, dan sangat penting (SPt) nilai 5. Sedangkan ini untuk penskalaan instrumen harapan.
Penelitian ini akan dilaksanakan di FT UNJ pada tahun 2005 yang meliputi empat Jurusan yang ada yaitu Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Sipil dan IKK (Ilmu Kesejakteraan Keluarga). Selanjutnya kuesioner diuji cobakan kepada 300 mahasiswa dari bulan Mei sampai dengan Juli 2005. Dengan proporsi masing– masing jurusan 75 mahasiswa yaitu dari Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Sipil, dan Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Jadi bisa dikatakan data penelitian ini data
ex post facto.
3. KESIMPULAN DAN PEMBAHASAN
Reliabilitas Multidimensi Untuk Instrumen Kinerja
Instrumen kinerja ini terdiri atas 30 butir pernyataan kuesioner kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal. Ketiga puluh butir instrumen ini merupakan hasil penelitian yang telah divalidasi oleh peneliti sendiri yang semula 33 butir dan gugur 3 butir. Instrumen yang terdiri dari 30 butir ini dapat dirinci sebagai berikut: 6 butir untuk dimensi
tangible, 7 butir reliability, 5 butir responsiveness, 7 butir assurance, dan 5 butir empathy. Untuk reliabilitas konsistensi internal alpha Cronbach diperoleh langsung menggunakan program SPSS sebesar 0,938.
Dari analisis faktor didapat nilai akar karakteristik (eigenvalue) terbesar pada yaitu λ1 =
Bila diestimasi menggunakan rumus alpha terstratifikasi dapat disajikan sebagai berikut:
2
sehingga diperoleh:
1
19, 344
0, 944
342, 510
s
α = −
=
Dengan model persaman struktur atau SEM menggunakan Lisrel 8.80 dan Excell didapat
1
Reliabilitas Multidimensi Untuk Instrumen Harapan
Instrumen harapan ini terdiri atas 30 butir pernyataan kuesioner tingkat kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal. Untuk reliabilitas konsistensi internal alpha Cronbah diperoleh langsung menggunakan program SPSS sebesar 0,941.
Dari analisis faktor didapat nilai akar karakteristik (eigenvalue) terbesar yaitu λ1 = 11.468
dan k = 30,
30
1
1
0, 944
Bila diestimasi menggunakan rumus alpha terstratifikasi dapat disajikan sebagai berikut:
2
sehingga diperoleh:
1
11, 605
0, 950
211, 740
s
α = −
=
Dengan model persaman struktur atau SEM menggunakan Lisrel 8.80 dan Excell didapat
1
Dari uraian hasil penelitian di atas dapat disusun rangkuman sebagai berikut:
Tabel 1. Rangkuman Koefisien Reliabilitas Unidimensi
Instrumen Koefisien Reliabilitas Unidimensi
Kinerja
α
=
0, 938
Θ =
0, 941
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 7
Tabel 2. Rangkuman Koefisien Reliabilitas Multidimensi
Instrumen Koefisien Reliabilitas Multidimensi
Kinerja
0, 944
Perhitungan untuk dua buah instrumen di atas diperoleh koefisien reliabilitas multidimensi lebih tinggi atau lebih tepat dibandingkan dengan koefisien reliabilitas multidimensi. Hal ini belum ada kesepakatan antar ahli psikometri. Namun di kalangan peneliti di Indonesia sebaiknya setelah mengetahui alat yang paling tepat sebaiknya mulai memakai/menggunakan alat tersebut secara benar dan memadai.
Memang sebagian besar peneliti di kalangan dosen maupun mahasiswa S2 maupun S3 belum mengetahui formula untuk menghitung koefisien alpha terstratifikasi ataupun omega tersebut, jadi kali ini saatnya untuk mengenalkan dan juga menggunakan formula tersebut. Dengan alasan sudah tahu rumusnya dan kebanyakan konstruk psikologis, kepribadian, pendidikan, dan sosial adalah multidimensi, sehingga seluruh peneliti baik mahasiswa maupun dosen berkembang dan makin berkembang untuk menggali lebih dalam lagi tentang koefisien reliabilitas yang lainnya.
Berdasarkan hasil ujicoba di dalam penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: pertama, kepuasan mahasiswa sebagai pelanggan internal memiliki 5 dimensi yaitu: (a) sesuatu yang terwujud (tangible), (b) kehandalan (reliability), (c) daya tanggap (responsiveness), (d) jaminan (assurance), dan (e) empati (empathy). Oleh karena memiliki 5 dimensi tersebut penelitin mencoba menghitung koefisien reliabilitas alpha terstratifikasi dan omega yang memang sudah seharusnya bila koefisien reliabilitas multidimensi digunakan. Dengan kata lain pengukuran yang lebih tepat menggunakan koefisien alpha terstratifikasi atau omega.
Saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: pertama, estimasi instrumen ini perlu diuji lebih lanjut dengan menggunakan rumus lainnya yang peneliti kira masih banyak dan belum diterapkan di institusi UNJ. Kedua, oleh karena penelitian ini menggunakan skala lima maka bila perlu dilanjutkan menggunakan berbagai skala lain, misalnya skala diferensial semantik, skala dikotomi, skala Thurstone, dan sebagainya.
Ketiga, instrumen ini perlu diuji dengan menggunakan sampel yang lebih besar dengan populasi dan setting yang lebih luas serta melibatkan beberapa propinsi sekaligus, juga dengan jenjang sekolah dan jenis universitas atau perguruan tinngi yang berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
[1] R. G. Lewis and D. H. Smith, Total Quality in Higher Education, St. Lucie Press, (1994).
[2] N. Idrus, et al., Quality Assurance, Directorate General of Higher Education, (2000).
[3] A. Parasuraman, V. A. Zeinthaml, and L. L. Berry, A Conceptual Model of Service Quality and Its Iimplications for Future Research, Journal of Marketing, Vol. 49, pp. 41 – 50, (1985).
[4] A. Parasuraman, Servqual: A Multi-Item Scale for Measuring Consumer Perceptions of Service Quality, Journal of Retailing, Vol. 64(1), pp. 12 – 37, (1988).
[5] V. A. Zeinthaml, A. Parasuraman, and L. L. Berry, Delivering Quality Service: Balancing Customer Perceptions and Expectations, The Free Press, (1990).
[6] D. S. Naga, Teori Sekor, Gunadarma Press, (1992).
[7] W. Wiersma, Research Methods in Education: An Introduction, Allyn and Bacon, Inc., (1986).
[8] F. N. Kerlinger, Asas-asas Penelitian Behavioral, terjemahan Landung Simatupang, Gadjah Mada University Press, (2000). [9] R. K. Gable, Instrument Development in the
Affective Domain, Kluwer Nijhoff
Publishing, (1986).
[10] M. S. Litwin, How to Measure Survey Reliabity and Validity, Sage Publications, (1995).
[11] B. Thompson, Guidelines for Author,
Educational and Psychological Measurement, Vol. 54, pp. 837 – 847, (1994).
[12] I. S. Feld, D. J. Woodruff, and F. A. Salih, Statistical Inference for Coefficient Alpha,
Applied Psychological Measurement, Vol. II, pp. 93 – 103, (1987).
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 8 [14] G. Socan, Assessment of Reliability When
Test Items Are Not Essentially t-Equivalent, in Development in Survey Methodology, Anuska Feligoj and Andrej Mrvar (Eds.), FDV, (2000).
[15] K. Vehkalahti, Reliability of Measurement Scales Tarkkonnen’s General Method Supersedes Cronbach’s Alpha, Academic Dissertation, University of Helsinki, (2000). [16] W. Widhiarso and D. Mardapi, Komparasi
Ketepatan Estimasi Koefisien Reliabilitas Teori Skor Murni Klasik, Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Vol. 14 (1), pp. 1 – 19, (2010).
[17] P. Spector, P. Brannick, and P. Chen, When Two Factors Don’t Reflect Two Constructs: How Item Characteristics Can Produce Artifictual Factors, Journal of Management, Vol. 23 (5), pp. 659 – 668, (1997).
[18] L. J. Cronbach, P. Schoneman, and D. McKie, Alpha Coefficient For Stratified Parallel Test, Educational and Psychological Measurement, Vol. 25, pp. 291 – 312, (1965).
[19] R. P. McDonald, The Dimensionality of
Test and Items, British Journal of
Mathematical and Statistical Psychology, Vol. 34, pp. 100 – 117, (1981).
[20] R. A. Yaffe, Common Correlation and
Reliability Analysis with SPSS for
Windows,
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 9
EVALUASI PROGRAM PENDIDIKAN SISTEM GANDA
DALAM RANGKA
PENINGKATAN MUTU DAN RELEVANSI LULUSAN SMK
Firrean Suprapto
1)dan Wardani
Rahayu
2)1)
Sekretariat KP3EI Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian
2)
Jurusan Matematika FMIPA UNJ
ABSTRACT
Dual System Educational Program (PSG) is a form of education that combines professional expertise in a systematic and synchronous study at the high school level with a mastery of the skills acquired through direct learning activities in the field of work as directed to achieve a certain level of expertise. This evaluation research purposes are to evaluate the end of program and furthurmore to determine its policy recommendations by using CIPO model approach that includes four pillars: (1) Context, (2) Input, (3) Process, and (4) Output. The research method used was case study (case studies) by applying qualitative research that aims to make accurate interpretation of the characteristics of the object studied. The findings in the context of evaluation showed that the program is generally running well, but some aspects of the development and optimization of the financing support from the local government needs to be improved. In the evaluation input and evaluation process several aspects need to be improved because of weak results show some aspects are less optimal result of financial support from the local government. The interesting part of the output evaluation is the presence some weakness of the components process and input but surprisingly output evaluation findings apparently indicate the actual performance can still be achieved. Recommendations from this research program is to improve the quality of PSG to do with improving some aspects of the medium category in each phase of the evaluation.
Keywords: program evaluation, Dual System Educational Program (PSG), CIPO model
ABSTRAK
Program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematis dan sinkron program pendidikan di sekolah dengan penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan belajar langsung di dunia kerja secara terarah untuk mencapai tingkat keahlian tertentu. Penelitian ini adalah penelitian evaluatif dimaksudkan untuk mengetahui akhir dari sebuah program kebijakan dalam rangka menentukan rekomendasi atas kebijakan lalu dengan menggunakan model CIPO yang meliputi empat tahapan: (1) context, (2) input, (3) process, dan (4) output. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan menerapkan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk membuat penafsiran akurat mengenai karakteristik obyek yang diteliti. Temuan pada evaluasi context menunjukkan bahwa program ini secara umum berjalan dengan baik, namun beberapa aspek optimalisasi pembinaan dan dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah perlu ditingkatkan. Dalam evaluasi input, dan evaluasi process beberapa aspek perlu ditingkatkan karena hasil temuan menunjukan lemahnya beberapa aspek tersebut adalah akibat dari kurang optimalnya dukungan pembiayaan dari pemerintah daerah. Menarik dari evaluasi ouput adalah dengan adanya beberapa kelemahan pada komponen input dan process, ternyata temuan evaluasi ouput menunjukkan prestasi aktual masih dapat diraih. Rekomendasi dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas program PSG dapat dilakukan dengan memperbaiki beberapa aspek yang berkategori sedang di tiap-tiap tahapan evaluasi.
Kata kunci: evaluasi program, Pendidikan Sistem Ganda (PSG), model CIPO
1. PENDAHULUAN
Kurikulum SMK sebagai bagian dari mekanisme implementasi pendidikan sistem ganda kurang luwes dan sangat terstruktur dalam transfer knowledge, skill, dan penga-laman sehingga peserta didik dianggap kurang mampu dan kurang terampil dalam melaku-kan pekerjaan tertentu [1]. (Muniarti dan Nasir, 2009:2). Dampak nyata dengan kurang
rele-vannya program pendidikan sistem ganda pada sekolah kejuruan, menyebabkan ren-dahnya mutu dan keterampilan lulusan. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya daya saing lulusan ini dan rendahnya keter-serapan lulusan pada dunia kerja.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013
10
orang. Menarik disimak dari data rasioperbandingan lulusan SMK di Kabupaten Bekasi adalah kontribusi lulusan SMK pada lapangan pekerjaan utama khusus-nya untuk sektor industri pengolahan terhi-tung sangat rendah apabila dibanding dengan lulusan SLTA/MA/Sederajat. Dari jumlah perbandingan tersebut, dapat diasumsikan bahwa SMK belum menjadi pilihan strategis masyarakat sebagai media pendidikan dalam mengantarkan lulusan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan utama yang diinginkan.
satu penyebab terjadinya pengangguran terbuka karena para pekerja sektor subsistensi belum siap memasuki sektor industri yang membutuhkan ketrampilan dan keahlian [1]. Kemudian rele-vansi antara tenaga kerja keluaran pendidikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan utama pada dasarnya dapat dikatakan belum “sepadan” dengan kebutuhan dunia kerja. Sehingga untuk mengatasi isu-isu yang berkembang serta memenuhi reformasi pen-didikan, kebijakan reposisi pendidikan keju-ruan harus mengarah pada terciptanya sistem pendidikan yang fleksibel dan fermeabel.
Grafik 1 – Rasio Penduduk Berumur 5 Tahun Keatas Menurut Pendidikan Tertingggi yang Ditamatkan di Kabupaten Bekasi [1]
Penelitian ini berfokus pada dua persoalan utama yaitu: Pertama, terdapat hubungan yang tidak sinergis antara pendi-dikan dengan ketenagakerjaan. Hubungan kurang sinergis ditandai dengan: (1) ketidak- sesuaian antara kurikulum dalam pendidikan sistem ganda dengan bidang pekerjaan yang akan dilakukan, (2) rendahnya minat siswa untuk menguasai suatu bidang ketrampilan tertentu, dan (3) minimnya pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada anak didik, dan kurang relevannya pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Kedua, secara konseptual melihat tolok ukur pendidikan kejuruan yang efisien, maka dapat dipahami bahwa prasyarat pendidikan kejuruan dikatakan efisien apa-bila: (1) pendidikan mampu menyiapkan siswa didik untuk jenis ketrampilan pekerjaan yang didasarkan atas kebutuhan tenaga kerja, dan (2) siswa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keterampilan yang telah diajarkan [1].
Pendidikan Sistem Ganda merupa-kan penyelenggaraan pendidikan kejuruan yang mengkombinasikan pendidikan formal dan informal atau suatu bentuk pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan di industri. Standar kurikulum pendidikan sistem ganda mendasarkan prinsip kemitraan sebagai media untuk mengaitkan kompetensi lulusan dengan dunia industri sebagai
sasaran dunia kerja. Dalam konsep pendidikan sistem ganda, efek-tivitas dan keberhasilan pelaksanaan program dapat diukur dengan pendekatan penilaian kebutuhan. Owen mendefinisikan suatu penilaian kebutuhan sebagai serangkaian prosedur sistematis untuk menetapkan tujuan prioritas dan pengambilan keputusan tentang program atau perbaikan organisasi dan alokasi sumberdaya prioritas didasarkan pada kebutuhan yang telah diidentifikasi [2].
Untuk mewujudkan program pendi-dikan sistem ganda yang ideal berbagai tingkatan komponen sumberdaya menjadi ruang lingkup dalam penilaian kebutuhan. Diharapkan berbagai tingkatan komponen sumberdaya tersebut sesuai dengan profil program pembangunan pendidikan yang diinginkan. Untuk memenuhi kondisi ideal dalam pencapaian tujuan dan manfaat pelak-sanaan program pendidikan sistem ganda maka perlu dilakukan evaluasi program pen-didikan.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 11 pengambilan keputusan atas obyek yang dievaluasi
[3]
. Hal senada diungkapkan oleh Owen menurut kriteria dan tujuan. Ada beberapa definisi evaluasi yang dikemu-kakan diantaranya Owen [2] mendefinisikan evaluasi sebagai keputusan akan nilai sebuah program (evaluation as the judgment of worth of a program) yang secara luas dapat dimaknai sebagai sebuah produksi atas pengetahuan dasar akan penemuan yang siste-matis untuk membantu membuat keputusan sebuah program (evaluation as the production of knowledge based on systematic enquiry to assist decision-making about a program).
Dalam proses pembelajaran, evaluasi program merupakan kegiatan mengumpulkan, menganalisis, dan mengiterpretasikan infor-masi mengenai setiap aspek dari program pendidikan yang sedang dijalankan sebagai bagian dari sebuah proses pengenalan untuk memutuskan apakah kegiatan belajar me-ngajar berjalan dengan efektif, efisien, atau outcomes sesuai dengan yang diinginkan [4]. Kemudian menurut Scheerens, Glas dan Thomas [5] definisi evaluasi bidang pendi-dikan adalah educational evaluationis judging the value of educational objects on the basis of systematic information gathering in order to support decision making and learning. Lebih lanjut Scheerens mengung-kapkan bahwa apapun bentuk evaluasi terdiri dari pengumpulan informasi yang sistematis dan pembuatan keputusan atas dasar informasi ini (all forms of evaluation consist of systematic information gathering and making some kind of judgment on the basis of this information).
Pelaksanaan evaluasi perlu ada standar guna membandingkan dari beberapa kriteria, seperti diutarakan oleh Stake, evaluation is the comparison of the condition or performance of something to one or more standards[6]. Selanjutnya, menurut Stufflebeam dan Shinkfield menyatakan Program evaluation is the systematic collection of information about the activities, characteristics, and outcomes of programs to make judgments about the program, improve program effectiveness and/or inform decision about future programming
[7].
Dari definisi tersebut, posisi evaluasi program merupakan kumpulan informasi sistematis tentang kegiatan, karakteristik, dan outcomes dari program untuk membuat penilaian tentang program, meningkatkan efektivitas program dan/atau menginforma-sikan keputusan untuk pemrograman ke depan. Tujuan dilakukannya evaluasi terha-dap program adalah untuk mengetahui sejauh mana program atau kebijakan sesuai dengan kebutuhan dari masyarakat pedampak dan sejauh mana pelaksanaannya, apakah sudah mendekati apa yang
telah dijadikan tujuannya atau sebaliknya mengalami kegagalan.
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektifitas penyelenggaraan program Pendi-dikan Sistem Ganda di SMK Negeri 1 Cikarang Selatan. Adapun model evaluasi menggunakan pendekatan sistem bahwa pro-gram pendidikan sistem ganda merupakan salah satu bagian dari sistem pendidikan yang mengacu pada context, input, process, dan
output. Penelitian ini menggunakan model evaluasi CIPO yang dikembangkan oleh Scheerens, Glas dan Thomas, dimana model evaluasi memiliki kerangka perencanaan yang dibangun di atas empat pilar yakni konteks (context), masukan (input), proses (process) dan keluaran (output) [5].
2. METODE PENELITIAN
Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan menerapkan penelitian kualitatif. Model evalauasi program yang digunakan adalah CIPO (Context, Input, Process, Output). Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 1 Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi pada bulan Maret sampai Juni 2012. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen studi dokumentasi, wawancara, kuesioner, dan observasi. Setelah hasil ana-lisis kemudian menetapkan keputusan pada tiap tahapan evaluasi. Untuk mengukur keberhasilan program, ditetapkan kriteria standar obyektif. Data hasil analisis kemudian dikategorikan menjadi kurang baik, cukup baik, dan baik.
3. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN Konteks (Context)
Dalam upaya untuk mendukung Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendi-dikan Dasar dan Menengah, yang didukung Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai penguat dari peraturan menteri sebelumnya telah dilaksanakan de-ngan baik di sekolah ini termasuk program pendidikan sistem ganda.
dukung-Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013
12
pendayagunaan serta pemeliharaan pengembanganpendidikan secara terarah, berencana, dan berkesinambungan. Fungsi dukungan sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Bekasi demi peningkatan kualitas pendidikan, sehingga untuk dukungan ter-hadap pembinaan tenaga pendidikan dapat dikatakan telah berjalan.
Minimnya dukungan pembiayaan khususnya untuk pengadaan sarana dan prasarana pendukung sekolah memang menjadi persoalan penting yang dirasakan SMK Negeri 1 Cikarang Selatan. Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan pada evaluasi konteks dijelaskan bahwa dalam hal dukungan pemerintah daerah baik untuk pembiayaan dan pembinaan menjadi faktor penting dalam menunjang keberlanjutan dan kemajuan untuk pengembangan program pendidikan sistem ganda di SMK Negeri 1 Cikarang Selatan masih dirasa kurang.
Masukan (Input)
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa dalam penyusunan perencanaan dan penjadwalan merupakan tahapan awal kegiatan PSG/Prakerin, karena itu peren-canaan dibuat secara sistemik sejak awal agar diketahui tiap tahapan kegiatan dipastikan tidak ada yang keluar dari koridor/tahapan yang ditetapkan dan tetap berada pada rentang kemampuan pengelola. Pada aspek ini ditemukan bahwa perencanaan yang disusun oleh SMK Negeri 1 Cikarang Selatan sejauh ini masih dalam bentuk program kerja jangka pendek, dan belum pernah dibuat rencana strategis lima tahunan (jangka menengah). Apalagi perencanaan dalam ku-run waktu jangka panjang/perencanaan 10 tahunan (jangka panjang). Program kerja yang disusun merupakan dokumen rencana kegiatan yang hanya memuat agenda pelak-sanaan kegiatan dalam kurun waktu satu tahun untuk melaksanakan program pendi-dikan sistem ganda.
Temuan tersebut menggambarkan model perencanaan yang dilakukan tergolong sederhana atau kategori cukup baik, sehingga dapat diasumsikan bahwa program kerja yang berorientasi jauh ke depan belum ada. Dengan model perencanaan yang masih se-derhana dapat diduga kesinambungan (sustainablity) program antar periode kepe-mimpinan kurang terimplementasi dengan baik.
Untuk temuan aspek rekrutmen siswa termasuk dalam kategori baik, meskipun demikian masih perlu mendapat perhatian tentang peningkatan metode penjaringan sis-wa calon peserta didik, khususnya penentuan kriteria persyaratan masuk. Kriteria persya-ratan rekrutmen siswa menjadi prioritas per-hatian karena tiap tahun ajaran, pemerintah senantiasa mengeluarkan
kebijakan tersebut, sehingga penyesuaian diperlukan agar penja-ringan calon siswa tidak terjadi salah sasaran.
Kemudian pada aspek sarana dan prasarana sekolah dilihat berdasarkan studi dokumentasi dan hasil wawancara tercatat memiliki tiga gedung utama yaitu: (1) gedung perkantoran atau ruang tata usaha, (2) gedung kelas (ruang kelas) termasuk aula, dan (3) gedung ruang praktikum. Dari hasil wawan-cara dan setelah dikonsultasikan dengan kriteria, disimpulkan bahwa kondisi sarana dan prasarana sekolah masuk dalam kategori cukup baik. Dengan kondisi yang ada, temuan menarik adalah beberapa informan cenderung tidak terlalu mempermasalahkan akan kesederhanaan kondisi sarana dan prasa-rana. Diduga dari pernyataan tersebut karena sebagian besar mengetahui penyebabnya yai-tu dukungan pembiayaan yang belum maksimal.
Temuan selanjutnya adalah aspek pembiayaan khususnya terkait kegiatan PSG/ Prakerin. Segala macam kegiatan operasional di sekolah dibiayai oleh anggaran rutin dari pemerintah daerah termasuk kegiatan PSG/ Prakerin. Namun demikian, khusus untuk kegiatan PSG/Prakerin sekolah diberikan kewenangan mandapatkan bantuan dana dari masyarakat/orang tua siswa dan dunia industri dalam bentuk bantuan atau hibah. Pada pelaksanaan kegiatan PSG/Prakerin model pembiayaan pendidikan yang dite-rapkan adalah dua macam yaitu: (1) pembiayaan pelatihan yang dilaksanakan di perusahaan ditanggung oleh perusahaan, dan (2) segala pembiayaan yang dibutuhkan untuk pendidikan di sekolah ditanggung sekolah.
Selain beberapa sumber pembiayaan yang tersebut di atas, selama ini sekolah men-dapatkan sumber pembiayaan dari unsur lain, misalkan: unit produksi, sharing institusi perusahaan/industri, kegiatan promosi dan sponsorship serta bantuan lain.
Seminar Nasional Mesin Dan Teknologi Kejuruan (SNMTK), 5 Juni 2013 13 bahwa aspek pembiayaan merupakan faktor penting
dalam peningkatan kinerja program pendidikan sistem ganda di suatu sekolah.
Proses (Process)
Temuan pada aspek pengorganisasian menunjukkan bahwa mekanisme pengorga-nisasian program pendidikan sistem ganda dikelola secara
team work oleh unit kerja Bidang Hubungan Industri. Dari hasil studi dokumentasi dan informasi hasil wawancara, secara organisasi kinerja dari Bidang Hu-bungan Industri berjalan dengan baik. Bukti kinerja dapat terlihat melalui frekuensi program kerja yang terlaksana dengan baik, dan pengelolaan PSG/Prakerin serta distribusi lulusan siswa berjalan dengan baik. Bukti lain dari pencapaian kinerja organisasi nampak dari jumlah kontrak kerjasama antara SMK Negeri 1 Cikarang Selatan dengan beberapa perusahaan industri elektronika terkemuka di Kawasan Industri Bekasi. Masih pada kinerja organisasi, secara internal unit kerja ini mampu menginter-pretasikan kebutuhan antar variabel, sehingga dalam pengelolaan program pendidikan sis-tem ganda telah mencerminkan skema orga-nisasi dan menempatkan aspek ini dalam kategori tinggi. Terkait dengan pengelolaan program, faktor penting dalam pengelolaan organisasi adalah peralatan, kepemimpinan, dan struktur administrasi. Kemudian dalam prinsip pengelolaan organisasi di sini telah menerapkan proses pembelajaran dan pelatih-an yang berorientasi kepada kualitas lulusan. Menyadari beberapa kelemahan dari pengelo-laan organisasi bahwa ketiadaan salah satu komponen di atas, atau masing-masing ber-diri sendiri tanpa kerjasama dengan baik, maka proses pembelajaran dan pelatihan tidak dapat tercipta dengan baik.
Aspek berikutnya yang menjadi kajian evaluasi adalah aspek pelaksanaan pembel-ajaran dan pelatihan. Untuk melihat gambaran dari aspek ini, digunakan angket untuk menilai pelaksanaan pembelajaran dan pela-tihan. Dari hasil analisis angket yang disebarkan pada 45 responden untuk menja-ring pendapat siswa diperoleh gambaran hasil evaluasi atas pelaksanaan pembelajaran dan pelatihan pada kategori cukup baik. Hasil analisis angket dari responden siswa dipero-leh nilai mean 37,98 atau 63,30 persen. Setelah nilai mean dikonsultasikan dengan kriteria yang dipersyaratkan, nilai mean masuk kategori cukup baik. Dengan demi-kian siswa menilai pembelajaran dan pelatih-an yang diselenggarakan oleh SMK Negeri 1 Cikarang Selatan berjalan dengan kategori cukup baik
Kemudian aspek yang sama dilihat dari persepsi guru yang didapatkan melalui metode
wawancara. Hasil evaluasi dari sisi persepsi guru dapat disimpulkan bahwa secara pelaksanaan pembelajaran dan pelatih-an yang terselenggara selama ini telah berjalan dengan cukup baik. Hasil persepsi guru dan siswa di atas di konsultasikan telah menempatkan aspek pelaksanaan pembel-ajaran dan pelatihan di sekolah ini pada kategori cukup baik. Namun apabila aspek pembelajaran dan pelatihan dengan aspek sarana dan prasarana pendukung dikonsul-tasikan tidak terdapat hubungan keterkaitan. Hal ini terlihat dari fakta bahwa dengan terba-tasnya sarana dan prasarana tidak berpenga-ruh dampaknya terhadap pembelajaran dan pelatihan jika kesimpulan diambil dari hasil persepsi siswa dan guru. Bahkan dari hasil wawancara secara mendalam dan analisis butir angket menunjukan bahwa efektivitas pelaksanaan pembelajaran dan pelatihan lebih didominasi dengan variasi dalam metode pembelajaran dan pelatihan.
Temuan berikutnya pada aspek pe-ngendalian dan pengawasan. Aspek ini, me-nempatkan pengendalian dan pengawasan pada kategori tinggi karena hasil evaluasi menunjukan pengendalian dan pengawasan roda organisasi secara struktural dilakukan langsung oleh Kepala Sekolah. Pelaksanaan pengawasan program dan kegiatan untuk unit kerja Bidang Hubungan Industri terstruktur melalui laporan pertanggungjawaban penge-lola, dan laporan akhir tahun. Dengan adanya pengawasan secara langsung dapat dipastikan untuk meminimalkan kegagalan. Posisi pengendalian dan pengawasan ini akan berkontribusi besar dalam proses perenca-naan, koordinasi, komunikasi dan evaluasi.
Dilain sisi, pengendalian dan penga-wasan dilakukan dengan cara incidental, kajian atas laporan pertanggungjawaban, dan dialog akan mampu dengan mudah melihat perkembangan pelaksanaan kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui tahapan pelaksanaan program dan kegiatan. Dengan demikian, apabila ada permasalahan dalam pelaksanaan kegiatan segera dapat diperbaiki atau dipecahkan.
Keluaran (Output)
Hasil temuan untuk aspek keluaran (output), secara keseluruhan berada pada ka-tegori tinggi. Aspek keluaran yang dievaluasi di sini mencakup prestasi aktual sekolah dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta produktivitas kerjasama.