AKHIR HAYAT RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA
4.2 Falsafah Hidup Rakutta Sembiring Brahmana.
Setiap orang tentunya memiliki watak, karakter, pembawaan tabiat, sifat dan perilaku yang biasa disebut sebagai falsafah hidup. Biasanya falsafah hidup ini berjalan begitu saja dalam kehidupan seseorang tanpa diperhatikan. Falsafah hidup ini tidak hanya dimiliki oleh perorangan tetapi juga dimiliki oleh suatu etnis dan juga bangsa. Bangsa Indonesia misalnya merupakan bangsa yang menganut falsafah pancasila.
Dalam kehidupan sehari-harinya Rakutta Sembiring Brahmana dikenal sebagai seorang yang sederhana dan berani dalam mempertahankan kemerdekaan. Beliau juga dikenal dengan orang yang jujur dan propesional dalam bekerja. Oleh
Karena itu sangatlah tepat apabila falsafah satria pandita sangat erat dengan dirinya. Satria pandita sendiri melambangkan seorang satria pembela kebenaran yang masuk dan menjelma menjadi pandita, sedangkan pandita Pembina keadilan masuk ke dalam jiwa satria.
Rakutta Sembiring Brahmana menerapkan falsafah hidup tersebut dalam kehidupan sehari-harinya meskipun berjalan tanpa disadari. Hal ini dapat dilihat dari berbagai tindakan Rakutta Sembiring Brahmana baik dalam kehidupan rumah tangganya maupun dalam kegiatan politiknya.
Dalam kehidupan rumahtangganya Rakutta Sembiring Brahmana mengajarkan kepada saudara-saudara maupun anak-anaknya untuk tetap mempertahankan kebenaran. Rakutta Sembiring Brahmana akan sangat marah apabila adik-adiknya maupun anak-anaknya hanya diam saja melihat ketidakadilan berlangsung. Beliau akan bersikeras mempertahankan sesuatu yang benar walaupun beliau harus dibenci orang sekali pun.
Dalam kegiatan politiknya Rakutta Sembiring Brahmana dikenal sebagai orang yang pemberani dan peduli terhadap sesama. Beliau juga tidak pernah membeda-bedakan seseorang berdasarkan status dalam pergaulannya. Beliau sangat terkenal dengan orang yang bersahaja dan bersahabat dengan siapapun. Keberanian Rakutta Sembiring Brahmana terbukti dari sejak di usia dini beliau sudah berkecimpung dalam organisasi politik untuk membela tanah air Indonesia. Beliau tidak pernah takut apabila sewaktu-waktu dirinya ditangkap oleh musuh dan disiksa. Beliau rela mengorbankan nyawanya untuk memperoleh kemerdekaan Indonesia yang sejati.
Rakutta Sembiring Brahmana juga merupakan orang yang sangat sederhana. Kesederhanaan ini merupakan sikap yang paling menonjol dalam kehidupan sehari- harinya. Meskipun Rakutta Sembiring Brahmana terlahir dari keluarga yang berkecukupan beliau tidak pernah mau meninggikan diri dihadapan teman-temannya. Beliau hidup sederhana seperti masyarakat kebanyakan. Hal ini terbukti sejak kecil beliau telah menjalani hidup yang sederhana, seperti tinggal di rumah Haji Harun pada saat sekolah di Taman Siswa dan tidak segan-segan melakukan pekerjaan sehari-hari seperti menyapu, mencuci pakaian dan memasak. Pada saat beliau sudah menikah Rakutta Sembiring Brahmana juga tidak malu berjualan kain padahal orangtuanya memiliki harta kekayaan yang cukup banyak dan dapat beliau pergunakan. Ketika Rakutta Sembiring Brahmana telah menjabat sebagai Bupati maupun Walikota beliau tidak pernah canggung untuk berbaur bersama masyarakat awam di kedai kopi untuk sekedar berbincang-bincang ataupun bermain catur. Hal ini menyebabkan orang sangat kagum melihat sosok Rakutta Sembiring Brahmana. Kesederhanaan Rakutta Sembiring Brahmana tetap beliau pertahankan hingga akhirnya beliau tutup usia.
Rakutta Sembiring Brahmana dikenal sebagai orang yang sangat mengutamakan kejujuran dan kefropesionalitasan dalam bekerja. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila hingga akhir hayatnya beliau tidak memperoleh harta benda yang berharga kecuali rumah yang dibelinya dari hasil simpanannya selama ia bekerja. Beliau tidak pernah mau mengambil sesuatu yang bukan haknya sehingga ia tidak pernah melakukan korpsi untuk memperkaya dirinnya. Bagi rekan-rekannya selama menjabat sebagai pemimpin beliau dikenal sebagai orang yang tegas dan
sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan menegur bawahannya yang tidak bekerja dengan baik. Beliau juga tidak mau melakukan nepotisme meskipun sudah menjabat sebagai bupati ataupun walikota. Menurut penuturan salah seorang masyarakat Desa Limang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rakutta Sembiring Brahmana, beliau pernah meminta Rakutta Sembiring Brahmana untuk memasukkan anaknya menjadi pegawai di kantor Bupati Karo akan tetapi Rakutta Sembiring Brahmana menolak permintaan itu karena beliau mengganggap anak tersebut tidak berkompeten. Beliau mengatakan apabila kamu mau bekerja belajarlah dengan baik, karena negara ini membutuhkan orang-orang berkompeten bukan orang-orang yang dekat dengan pemimpin.
BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan serta yang telah dikemukakan pada bab-bab sebelumnya dapat diambil beberapa kesimpulan. Pertama, Rakutta Sembiring Brahmana lahir dari pernikahan Malem Sembiring Brahmana dan Bayang Tua br Sebayang. Beliau lahir di sebuah desa yang berada di Tanah Karo yakni Desa Limang.
Kedua, Rakutta Sembiring Brahmana merupakan orang yang sangat sederhana, tegas, pemberani, dan sangat menjunjung tinggi kejujuran. Dalam dunia kerja yakni sebagai bupati dan walikota beliau dikenal sebagai sosok pimpinan yang disiplin dan propesional sehingga dia sangat disegani oleh bawahannya maupun sesama rekannya.
Ketiga, bagi anak-anak serta isterinya, Rakutta Sembiring Brahmana adalah sosok ayah yang demokratis. Setiap anggota kelurga diberi kebebasan terutama dalam hal menentukan kepercayaan yang dianut dan masalah jodoh. Namun untuk hal pendidikan, Rakutta Sembiring Brahmana membuat aturan yang tegas. Bagi anak laki-laki diwajibkan untuk sekolah di Taman Siswa tempat beliau menuntut ilmu, sedangkan untuk anak perempuan diberi kebebasan untuk memilih.
Keempat, Rakutta Sembiring Brahmana termasuk ke dalam golongan orang- orang yang aktif di dalam organisasi. Sejak beliau mengenal bangku sekolah terutama di Taman Siswa hingga akhir hayatnya, beliau tidak pernah lepas dari berbagai organisasi yang diikutinya. Banyak organisasi yang diikuti oleh Rakutta Sembiring
Brahmana sepanjang hayatnya seperti PNI, Partindo, Bompa, Pusera, BPI, dan Komite Nasional Indonesia.