AKHIR HAYAT RAKUTTA SEMBIRING BRAHMANA
4.1 Rakutta Sembiring Brahmana Tutup Usia Pada Tahun 1964.
Setelah menjabat sebagai walikota di Siantar pandangan Rakutta Sembiring Brahmana terhadap kepercayaan berubah total. Awalnya Rakutta Sembiring Brahmana menganut kepercayaan pemena yang merupakan kepercayaan yang sudah berlangsung di Tanah Karo sebelum ajaran Islam dan Kristen masuk. Selama menjabat sebagai bupati di Tanah Karo dan Asahan, beliau tetap mempertahankan kepercaaan yang diturunkan oleh nenek moyangnya tersebut.
Berubahnya pandangan Rakutta Sembiring Brahmana terhadap kepercayaan yang dianutnya tidak terlepas dari peranan pegawai-pegawainya di kantor Walikota Pematang Siantar. Para pegawai yang bekerja di kantor Walikota yang dipimpinnya ini sebahagian sudah menganut ajaran monotheisme, dan mayoritas menganut agama Kristen Protestan. Melihat aktivitas keagamaan yang dijalankan oleh para pegawainya yang beragama Kristen tersebut menyebabkan Rakutta Sembiring Brahmana menjadi tertarik untuk mengubah kepercayaanya dari pemena kepada Kristen Protestan.
Rakutta Sembiring Brahmana menjadi penganut agama Kristen Protestan yang resmi pada masa kepemimpinannya di Pematang Siantar. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian mengajak isterinya dan anak-anaknya untuk mengikuti kepercayaan baru itu. Namun Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya untuk menentukan kepercayaan apa
yang terbaik menurut masing-masing buah hatinya itu. Beliau adalah sosok ayah yang sangat memberikan kebebasan kepada anaknya dalam hal menentukan keyakinan karena baginya itu adalah hak yang azasi bagi manusia.
Pada masa memimpin Pematang Siantar sebagai Walikota, Rakutta Sembiring Brahmana mulai sakit-sakitan. Beliau kerap kali diserang penyakit sehingga tubuhnya menjadi lemah dan tidak dapat menjalankan kegiatannya sehari-hari dengan baik. Rakutta Sembiring Brahmana diserang berbagai penyakit seperti diabetes, mag dan lever.52
Akibat Rakutta Sembiring Brahmana terserang berbagai penyakit menyebabkan beliau tidak dapat menjalankan aktivitasnya dengan baik. Beliau terpaksa bolak balik masuk ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Sebelum akhirnya tutup usia pada tahun 1964, Rakutta Sembiring Brahmana sempat
Banyaknya penyakit yang menyerang Rakutta Sembiring Brahmana ini tidak terlepas dari kebiasaan beliau pada saat masih muda.
Rakutta Sembiring Brahmana merupakan orang yang sangat aktif di dalam kegiatan-kegiatan politik dan organisasi. Beliau mulai aktif dalam organisasi politik yaitu sejak duduk di bangku Taman Siswa. Aktifnya beliau di dalam berbagai kegiatan menyebabkan Rakutta Sembiring Brahmana menjadi orang yang sangat sibuk sehingga beliau kerap kali melupakan kesehatan dirinya. Rakutta Sembiring Brahmana seringkali tidak makan karena kesibukannya yang mengakibatkan beliau diserang penyakit mag. Beliau juga tidak pernah memeperhatikan makan apa yang beliau makan sehingga dia terserang penyakit diabetes. Karena kesibukannya yang sangat menguras tenaga itu akhirnya beliau juga terserang penyakit lever.
52
di bawa ke salah satu rumah sakit swasta di Medan tepatnya di Rumah Sakit Elisabeth. Beliau dirawat selama dua minggu di rumah sakit ini. Keluarganya akhirnya memutuskan untuk membawa Rakutta Sembiring Brahmana ke salah satu rumah mereka di Kabanjahe karena dokter yang menanganinya telah memvonis tidak ada harapan lagi. Melihat kondisi Rakutta Sembiring Brahmana yang sudah semakin parah keluarganya pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memberikan waktu yang lebih banyak kepadanya untuk berkumpul dengan anak, isteri serta saudara- saudaranya. Rakutta Sembiring Brahmana tutup usia pada tanggal 28 Januari 1964. Pada waktu tutup usia Rakutta Sembiring Brahmana berusia lima puluh tahun. Beliau meninggalkan satu orang isteri, enam orang anak, dan dua orang cucu. Cucu ini beliau peroleh dari putera sulungnya Brahmaputra Sembiring Kembaren yang pada saat itu telah berumah tangga.
Rakutta Sembiring Brahmana tutup usia di Kabanjahe. Sanak saudaranya berencana untuk memakamkan beliau di tanah kelahirannya Desa Limang bersama orang tuanya. Namun karena adanya permintaan dari pemerintah Kabupaten Karo dan teman-teman seperjuangannya selama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia untuk memakamkan beliau di Taman Makam Pahlawan yang berada di Kabanjahe. Pemerintah menganggap bahwa Rakutta Sembiring Brahmana banyak sekali berjasa terhadap negara Indonesia sehingga beliau layak dimakamkan di tempat pahlawan- pahlawan Karo dimakamkan.
Kabar kematian Rakutta Sembiring Brahmana cepat sekali tersiar sehingga dalam tempo singkat rumah duka tempat jenajah disemayamkan sebelum dimakamkan ramai didatangi kaum pelayat.
Acara pemakaman Rakutta Sembiring Brahmana diadakan di rumah yang berada tidak jauh dari makam pahlawan dengan acara adat Karo. Acara ini juga diikuti dengan acara militer. Pada upacara pemakaman ini banyak sekali teman-teman seperjuangannya dan rekan-rekan kerjanya selama memimpin di tiga wilayah yakni Kabupaten Karo, Asahan, dan Pematang Siantar yang datang melayat. Dalam acara ini juga turut menyampaikan ucapan belasungkawa teman seperjuangan dan separtai (Partai Nasional Indonesia), angkatan 45, dan beberapa generasi penerus TNI seKtor III/Laskar Rakyat Resimen Napindo Halilintar.
Semua orang yang mengenalnya merasa sangat kehilangan. Isteri tercinta Ngamini br Sebayang sangat kehilangan sosok suami yang keras tapi penyayang, anak-anaknya kehilangan sosok ayah yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan sekaligus kebebasan, dan para teman-temannya kehilangan sosok pemimpin yang sangat propesional dalam bekerja.
Setelah acara liturgi menurut agama Kristen Protestan, jenazah Rakutta Sembiring Brahmana diserahkan oleh keluarga dan gereja kepada militer. Dengan upacara kebesaran militer jenajah dimakamkan di tempat peristerahatan terakhirnya Taman Makam Pahlawan.
Setelah Rakutta Sembiring Brahmana meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, isteri dan anak-anaknya kemudian meninggalkan rumah dinas Rakutta Sembiring Brahmana di Pematang Siantar. Mereka kemudian menempati rumah peninggalan Rakutta Sembiring Brahmana di Medan. Rumah ini dibeli oleh Rakutta Sembiring Brahmana ketika beliau masih menjabat sebagai bupati Kabupaten Asahan. Rumah inilah satu-satunya peninggalan
beliau kepada anak dan isterinya. Hal ini dikarenakan beliau adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kejujuran sehingga beliau tidak mau melakukan korupsi untuk menambah harta bendanya.
Sepeninggal Rakutta Sembiring Brahmana, isterinya dan anak-anaknya melakoni kehidupan seperti rakyat biasa. Isteri Rakutta Sembiring Brahmana Ngamini br Sebayang kemudian bekerja sebagai petani untuk menghidupi kelima anaknya yang belum berumah tangga.
Nama Rakutta Sembiring Brahmana kemudian diabadikan oleh pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Simalungun menjadi sebuah nama jalan di Pematang Siantar. Nama jalan tersebut adalah Jl Rakutta Sembiring Brahmana. Hal ini merupakan bukti penghormatan sekaligus penghargaan pemerintah terhadap jasa-jasa yang diberikan oleh Rakutta Sembiring Brahmana selama hidupnya.