• Tidak ada hasil yang ditemukan

farrow Nick ofcer Ben jagersm a

Dalam dokumen Hakekat Makna dan Prinsip Estetika (Halaman 45-74)

farrow Nick ofcer Ben jagersm

a

Guy

Pada eksterior, kanopi kayu yang terbuat dari Western Red Cedar yang alami, tahan lama, ringan dan stabil dalam berbagai iklim. Kanopi adalah fitur kunci dari desain. Peletakan kanopi di atas dengan kemiringan tertentu memberikan gaya rumah yang estetika dan juga fungsional. Kanopi memberikan dukungan independen untuk 6 kW array surya yang terdiri dari 28 polikristalin panel photovoltaic dan 40 tabung kolektor surya. Dalam musim hangat ketika matahari tinggi kanopi juga menyediakan naungan ke jendela besar di bawahnya.

Gambar 22 Struktur The First Light House

Gambar 24 Potongan The First Light House

a. Hakekat Estetika - Sosok Bangunan

Sosok yaitu kesan pertama yang pengamat bisa tangkap saat pertama kali melihat bangunan tersebu. Saat melihat pada first lught house pada bagian atapnya terdapat bagian yang menyerupai sayap burung yang yang terbang. Sosok tersebut dapat lebih terlihat jelas apabila dilihat hari jarak yang tak terlalu jauh maupun terlalu dekat dengan first light house. Terlihat dari gambar dibawah ini sosok pada atap fisrt light house seperti sayap burung yang sedang terbang. Walaupun pada bagian atap kanan dan kiri tidak sama ukuranya. Sosok pada atap fisrt light house tersebut memimbulkan kesan bahwa bangunan tersebut lebar.

Gambar 25 Sayap Burung Gambar 26 The First Light House

- Bahan, Tekstur, dan Warna 1. Bahan

Bahan atau material adalah setiap bahan untuk tujuam konstruksi dan juga juga untuk memnujang esetetika dari bangunan tersebut. First light house memilki bahan yang dominan yaitu bahan dari kayu baik kayu alami ataupun buatan manusia. Pada bagian dinding belakang mengunakan kayu rimu. Kayu rimu yaitu kayu asli dari New Zealand. Pada fisrt light house kayu rimu yang digunakan adalah kayu rimu yang telah tak terpakai lagi dan diolah kembali untuk digunakan. Bagian deck dari first light house menguanakan kayu pinus. Sedangakan pada dinding dan lantai menggunakan polywood dan juga mengunakan LVL. Polywood dan LVL merupakan bahan yang tidak mudah retak.

Gambar 27 Kayu sebagai Bahan Utama First Light House

Polywood sendiri bahan olahan dari kayu yang memiliki sifat tidak mudah retak, tidak mudah patah. walaupun semua itu juga tergantung pada keteblan polywood tersebut . Sementara LVL atau Laminated Veneer Lumber merupakan bahan yang mudah kembali kebentuk semula (elastis) sehngga sangat cocok sebhan bahan bangunan untuk wilay h yang rawan terhadap gempa.

2. Tekstur

Tekstur dari first light house bisa didapat dari bahan yang digunakan. Dari bahan kayu yang dipakai didapati tekstur halus dan juga memliki corak tertentu yang mana corak tersebut terdapat pada kayu yang digunakan sebagai bahan bangunan dari first light house. walupun LVL dan polywood buatan manusia tetap memiliki tekstur halus dan corak tertentu juga. Kayu rimu memiliki tekstur yang halus dan corak yang memiliki bentuk melengkung – lengkung dan orintasi serat yang berbeda. Poywood dan LVL walau memliki tekstur halus juga tetapi corak yang dihasilkan berbeda dengan rimu maupun pinus. Corak yang dihasilkan pada lvl dan polywood adalah corak yang lebih rapat dan juga sama yaitu berupa garis – garis. Corak yang terdapat pada polywood hampir sam dengan corak yang ada pada LVL. Kaca yang digunakan pada first light house miliki tekstut halus.

Gambar 28 Tekstur Kayu pada Dinding Gambar 29 Tekstur Kayu pada Lantai

3. Warna

Pada first light house memliki warana yang berbeda pada bagian interior dan ekterior . pada bagian eksterior warana pada setipa sisi bangunan sama yaitu warna coklat . warna tersebut tidak dipadukan dengan warna yang lain. Sedangkan pada bagian interior warna yang digunakan ialah warna coklat tua dan warna crem . warna coklat pada interior first light house dapat dijumpi pada dinding bagian depan dari interior first light house . sedangkan pada dinding bagian belakang dari interior first light house dan juga alas serta atap mmeliki waran yang

sama yaitu crem. Pada bagian kamar mandi dari first ligh house memliki waran yang berbeda dengan warna yang lain yaitu wrana pada alas berupa waran coklat yang sama seperti wrana pada bagian dinding sbagian depan interior dan sam dengn warna dari dinding ektseterior.

Gambar 30 Eksterior The First Light House Gambar 31 Interior The First Light House

Dinding pada kamar mandi menggunkan dua bahan yang berbeda mak warna yang diberikan juga berbeda pada setengah bagian mengunakn bahan kayu yang warn adari kayu tersebut dalah warna

coklat, sedangkan setengah bagian lagi mengunakan keramik berwarna hijau

Gambar 32 Kamar Mandi The First Light House

Dinding depan bagian interior

Dinding belakang bagian eksterior

b. Prinsip/Asas Estetika - Bentuk Estetika

1. Kesatuan (Unity)

Gambar 34 Kesatuan dalam The First Light House

Kesatuan pada The First Light House tampak pada bahan yang bangunan yang digunakan yaitu kayu. Kayu memberi unsur warna coklat serta corak yang sama pada setiap bagian. Selain itu, bahan kayu memberi kesan alami dan unite dengan alam sekitar. Selain kayu, pemilihan bahan kaca yang transparan juga turut mempersatukan corak The First Light House sesuai dengan konsepnya yaitu rumah yang alami dan ramah lingkungan.

Dari segi pencahayaan, lampu-lampu dan bukaan ditata sedemikian rupa sehingga cahaya yang dihasilkan makin mempertegas warna dan tekstur kayu itu sendiri.

2. Irama (Rythm)

Gambar 35 Irama pada The First Light House

Irama pada The First Light House adalah irama garis statis, yaitu pada kolom-kolom kayu dan atap. Termasuk ke dalam irama statis

dikarenakan garis-gatis kolom yang cenderung berulang secara tetap/statis pada jarak tertentu.

3. Keseimbangan (Balance)

Gambar 36 Keseimbangan Asimetri pada Tampak

Keseimbangan pada tampak depan The First Light House adalah keseimbangan asimetri. Hal ini dikarenakan apabila ditarik sebuah garis lurus di antaranya, maka kedua bagian kiri dan kanan tidak sama besarmya.

Gambar 37 Keseimbangan Asimetri pada Denah

Begitu pula yang terjadi pada keseimbangan denah. Jika dilihat pada denah, The First Light House tampak seperti terbagi menjadi dua

bagian dengan ruang makan ditengahnya sebagai penghubung. Bagian ruangan kanan dan kiri hampir sama yaitu terdiri dari kamar tidur, dan kamar mandi. Yang membedakan yaitu adanya dapur pada bagian kanan.

Meskipun tata ruangnya hampir sama, ukuran sayap kanan dan kiri berbeda, denagn sayap kanan lebih besar dari kiri. Jika ditarik garis tepat ditengah rumah, maka kedua bagian tidak akan sama besarnya. Maka tampak denah pada The First Light House juga termasuk dalam keseimbangan asimetris.

4. Proporsi

Gambar 38 Proporsi pada The First Light House

Proporsi pada The First Light House dapat dibagi menjadi tiga bagian yakni kepala, badan, dan kaki. Bagian kepala meliputi atap yang dilengkapi dengan panel surya. Bagian badan meliputi bagian rumah itu sendiri. Sedangkan bagian kaki meliputi kolom-kolom penyangga di bagian bawah rumah.

5. Skala

Gambar 39 Skala pada Interior

KE

PA

LA

BA

DA

N

KA

KI

Skala pada interior The First Light house dapat ditentukan dengan perbandingan perabot yang ada dengan tinggi atap. Baik pada ruang makan maupun ruang keluarga, perbandingan besar perabot dengan tinggi atap tidak teralu mecolok. Sehingga skala pada interior yaitu skala normal.

Gambar 40 Skala pada Eskterior

Sedangkan pada eksterior, skala dapat ditentukan menggunakan perbandingan tinggi manusia dengan tinggi bangunan.

6. Urut-urut (Sequence)

Gambar 41 Sequence pada The First Light House

Sequence pada The First Light House tampak pada setiap bagiannya. Pada kolom, urut-urutan dimulai dari sisi luar yang hanya terdiri dari satu batang kayu sebagai kolom Kemudian semakin ke tengah, kolom semakin berulang dengan pengulangan beberapa batang kayu.

7. Aksentuasi/Dominasi

Gambar 42 Aksentuasi pada Interior

Aksentuasi pada interior The Light House, yaitu ruang keluarga terlihat pada bagian atas pintu masuk yang dibuat sedikit cembung serta bermotif/pattern. Hal ini terlihat mencolok dikarenakan bagian-bagian lain di dalam ruangan di dominasi oleh garis-garis tegas dengan motif tekstur asli dari kayu.

Gambar 43 Aksentuasi pada Eksterior

Sedangkan aksentuasi pada eksterior terlihat pada kolom vertikal yang terkesan seperti sebuah garis, dikarenakan bagian dinding dibelakangnya disusun dari kayu-kayu yang ditata horizontal dengan luas permukaan yang lebih besar.

Selain pada kolom, kaca transparan juga merupakan aksentuasi pada eksterior. Hal ini dikarenakan The First Light House di dominasi oleh bahan bangunan berupa kayu, sehingga kaca merupakan aksen yang mencolok dalam bangunan ini.

1. Karakter

Gambar 44 Ekspresi Estetika pada The First Light House

Karakter yang diwakili dari The First Light House yaitu natural, alami, menyatu dengan alam, dan hangat. Pencahayaan yang sedemikian rupa membuat bangunan ini terkesan hangat dan ramah bagi pengunjungnya. Penggunaan bahan-bahan serta teknologi yang digunakan membuat bangunan ini terkesan natural dan ramah lingkungan.

2. Warna

Warna pada interior didominasi oleh warna kayu yaitu coklat. Terdapat dua macam coklat yaitu coklat tua dari kayu yang berpelitur, dan coklat muda. Begitu pula warna pada eksterior juga didominasi warna coklat. Hanya saja, selain warna coklat terdapat pula warna hitam pada atap (panel surya) dan hijau pada taman.warna member kesan bangunan tersebut hangat dan nyaman serta tenang.

Gambar 45 Warna pada The First Light House

Gaya arsitektur pada The First Light House adalah Post Modern. Hal ini didarkan pada kesederhanaan bentuk, minimalnya ornamen, serta ide desain mempengaruhi karakter bangunan dengan kuat.

Gambar 46 Gaya dalam The First Light House

4. Bahan

Terlihat jelas bahwa bahan utama dalam The First Light House yaitu kayu. Kayu digunakan hampir pada semua sisi bangunan baik pada interior maupun eksterior. Mulai dari dinding, lantai, kolom, hingga atap semuanya menggunakan bahan kayu. Hal ini dikarenakan sifat dasar kayu yang kuat dan kokoh serta mudah dipoles untuk mempercantik.bahan yang digunkan mengesankan bangunan tersebut rmenyatu dengan alam dan juga menimbulka kesan saat kita berda didlamnya kita merasa hangat.

Gambar 47 Bahan dalam The First Light House

Langgam pada The First Light House yaitu arsitektur Post modern. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri arsitektur modern yaitu;

- Ideological - Stylitic (ragam)

- Design Ideas (Ide-Ide Desain)

- Contextual Urbanism and Rehabilitation

Gambar 48 Langgam pada The First Light House

2) The Centre Le Corbusier

Gambar 49 The Centre Le Corbusier

The Centre Le Corbusier atau Heidi Weber Museum adalah sebuah museum seni di Zürich (Swiss) yang didedikasikan untuk karya arsitek Swiss Le Corbusier. Pada tahun 1960, Heidi Weber memiliki visi untuk membangun sebuah museum

yang dirancang oleh Le Corbusier. Gedung ini harus menunjukkan karya seninya dalam lingkungan yang ideal diciptakan oleh arsitek sendiri.

- Lokasi : Tepi danau Zürich - Tahun Pembangunan : 1963 to 1967

- Jenis Bangunan : Museum, exhibition pavilion - Sistem Konstruksi : site-cast concrete

- Gaya : Modern

"...the building is complete but, within the confines of the spaces provided under the independent umbrella roof, change is possible in the exhibition and meeting room areas. This building was completed after the death of Le Corbusier and was originally planned as a private house—the house area being the detached section under the steel roof."

— Dennis Sharp. Twentieth Century Architecture: a Visual History. p286.

"...the minute Centre Le Corbusier in Zurich is two cubes, designed by Le Corbusier himself, with a ramp and an umbrella roof, also all steel. It is an exercise in modular construction elegantly carried out using enameled steel panels and glass infill. The plans were originally drawn for a house which was always thought of as an exhibition gallery as well. It has proved sufficiently flexible to be used for teaching and exhibitions."

— Sir Banister Fletcher. A History of Architecture. p1352.

Gambar 50 Potongan The Centre Le Corbusier

Gambar 51 Denah The Centre Le Corbusier

a. Hakekat Estetika - Sosok Bangunan

Bangunan modern dengan mengusung tinggi nilai-nilai seni estetik yang dipadupadakan dengan perkembangan desain jaman modern. Menghasilkan karya tidak biasa tetapi bisa mudah diterima oleh semua.

Gambar 52 Sosok Bangunan The Centre Le Corbusier

- Bahan

Bahan-bahan pabrikasi sederhana seperti potongan baja besi dan kaca menjadi pelindung bangunan ini. Serta beton sederhana yang biasanya merupakan unsur modern minimalis.

Gambar 53 Bahan pada The Centre Le Corbusier

- Tekstur

Alas atau dasar dan beberapa bagian dari bangunan yang berupa plesteran beton sederhana tanpa perlu diwarnai dan sedikit dihaluskan memang menjadi tanda bahwa ini desain minimalis modern. Dengan beberapa olahan lapisan atau potongan-potongan baja, besi dan kaca yang simple dan apa adanya member kesan halus dan tegas.

Gambar 54 Tekstur pada The Centre Le Corbusier

- Warna

Perpaduan warna putih, merah, hijau, kuning, dan abu-abu yang berasal dari tiap material bangunan dapat konsisten memberikan efek pengulangan

yang harmonis. Apalagi beberapa material yang dibiarkan apa adanya dan juga kaca memberi kesan bahwa keharmonisan bisa diciptakan dari bahan material olahan atau alami.

Warna putih memberi kesan damai dan tenang. Warna merah memberi kesan panas dan bersemangat. Warna hijau memberi kesan ramah. Warna kuning memberi kesan bebas dan ceria. Serta warna abu-abu memberi kesan minimalis, modern dan menenangkan.

Gambar 55 Warna pada The Centre Le Corbusier

b. Prinsip Estetika - Bentuk Estetika

1. Kesatuan (Unity)

Meskipun The Centre Le Corbusier menggunakan bahan dan permainan warna yang beragam, tapi unsur unity tetap terlihat dari bentuknya yang seragam. Pada panel-panel kaca yang berwarna, meskipun warnanya berbeda tapi bentuk dasarnya sama yaitu persegi. Selain itu warnanya pun berulang dan hanya berselang beberapa bagian. Desain atap yang dibuat sling berkebalikan membuat bangunan terkesan menyatu ditambah dengan kolom baja yang besar ditengahnya sebagai pemersatu. 2. Irama (Rythm)

Irama pada The Centre Le Corbusier terbentuk dari pola-pola warna pada kotak kaca. Irama warna yang terbentuk yaitu irama dinamis, yaitu pengulangan warna pada bentuk dan garis yang berbeda.

Gambar 57 Irama pada The Centre Le Corbusier

Gambar 58 Keseimbangan Asimetri pada Tampak

Keseimbangan pada tampak The Centre Le Corbusier adalah keseimbangan asimetris. Hal ini dikarenakan jika ditarik garis lurus di tengah bangunan, tidak dapat membagi kedua bangunan sama rata.

Keseimbangan pada denah yaitu keseimbangan simetris. Hal ini dikarenakan jika ditarik garis tepat ditengahnya, maka akan membagi kedua bagian sama rata.

4. Proporsi

Gambar 60 Proporsi The Centre Le Corbusier

Proporsi pada Teh Centre Le Corbusier terdiri dari kepala, badan, dan kaki. Bagian kepala terdiri dari atap. Bagian Badan yaitu lantai dua pada bangunan. Sedangkan kaki merupakan lantai dasar bangunan.

5. Skala

Gambar 61 Skala pada Interior

KE

PA

LA

BA

DA

N

KA

KI

Skala pada interior The Centre Le Corbusier dapat dilihat dari barang-barang atau perabot yang ada di dalamnya. Perbandingan ukuran perabot dengan atap cenderung tidak terlalu besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa skala pada bangunan The Centre Le Corbusier adalah skala normal.

Gambar 62 Skala pada Eksterior

Pada eksterior, dapat menggunakan perbandingan skala manusia dengan atap bangunan. Perbandingan yang didapatkan pun tidak terlalu jauh. Sehingga sakla yang digunakan adalah skala normal.

6. Urut-urutan (Sequence)

Gambar 63 Sequence pada The Centre Le Corbusier

Urutan atau sequence pada The Centre Le Corbusier pada interior yaitu pada besi pegangan di tangga lantai satu dan dua. Keduanya memiliki bentuk yang sama dan diulang pada ketinggian yang berbeda. Dimulai dari

bentuk persegi panjang dengan lengkung pada titik pojoknya. Kemudian persegi panjang tersebut dibagi dua sama besar dan disisipi persegi panjang siku-siku di tengahnya.

Sedangkan pada eksterior yaitu pada warna-warna di kotak kaca. Contohnya kotak berwarna hijau yang berbentuk horiontal dan bersebelahan dengan kotak kuning vertikal diulang lagi pada sisi kanan dan dibalik posisinya. Urut-urutan pada eksterior berbentuk persegi.

7. Aksentuasi/Dominasi

Gambar 64 Aksentuasi pada Eksterior

Aksentuasi pada sisi eksterior yaitu pada atap bangunan yang terbagi dua oleh tembok dari baja. Kedua sisi atap dibuat berbentuk segitiga namun saling berkebalikan sehingga eye-catching.

Ada pula bagian yang diatasnya diberi patung, sehingga tampak sangat mencolok berbeda dari sekitarnya yang hanya berupa kota-kotak kaca berwarna.

Sedangkan pada interior, aksentuasi terlihat pada atap yang dibuat berlunang, serta warna dinding yang monochrome.

- Ekspresi Estetika 1. Karakter

Corbusier merancang bangunan ini dikala jaman-jamannya arsitektur klasik sehingga memberikan kesan inovatif dan berani. Dapat dilihat dari permainan warna, bentuk, bahan material yang sudah ada. Dan tak lupa unsur keselarasan dengan alam dan pemanfaatannya, seperti pencahayaan dan penghawaa dari alam.

Unsur estetika berupa pengulangan yang apik dibeberapa aksen seperti atap dan pemasangan lempeng-lempeng kaca dan baja justru membuat bangunan ini tetap satu atau unite. Permainan kotak-kotak kaca berwarna pada bangunan ini memberi kesan pertama bahwa bangunan ini menyerupai mainan anak-anak yaitu rubik.

Gambar 66 Karakter pada The Centre Le Corbusier

2. Warna

Tiap material bangunan diberi warna yang apa adanya serta digunakan secara berulang sehingga terkesan konsisten dan berirama. Warna-warna yang digunakan yaitu beton dengan warna aslinya, abu-abu, yang memberi kesan modern, minimalis, dan menenangkan. Kemudian dipadukan dengan kaca warna-warni. Kaca yang berwarna putih memberi kesan damai. Kaca yang berwarna merah memberi kesan panas dan bersemangat. Kaca yang berwarna kuning memberi kesan bebas dan ceria. Sedangkan kaca yang berwarna hijau memberi kesan ramah.

Dapat dilihat bahwa bangunan ini didominasi oleh warna-warna cerah dan ceria, yaitu putih, merah, kuning, dan hijau. Serta warna abu-abu pada beton serta atap sebagai aksen yang menyatukan semuanya.

Gambar 67 Warna pada Eksterior The Centre Le Corbusier

Gambar 68 Warna pada Interior The Centre Le Corbusier

3. Gaya/Style

Gaya atau style yang digunakan pada The Centre Le Corbusier adalah arsitektur modern. Hal ini dapat dilihat dari bentuknya yang monoton dan minimalis. Artinya benuk tersebut mengikuti fungsi. Selain itu juga pada keberadaan ornamen yang hampir tidak ada, serta nihilism pada bidang-bidang kaca yang lebar.

Gambar 69 Gaya The Centre Le Corbusier

4. Bahan/Material

Bahan atau material yang digunakan pada The Centre Le Corbusier yaitu kaca, beton,serta baja besi. Sifat kaca yaitu transparan, licin, halus, dan meneruskan cahaya. Sifat beton halus dan kuat. Sedangkan sifat baja besi yaitu lentur dan kuat terhadap tarikan. Keseluruhan bahan yang digunakan menimbulkan kesan modern dan minimalis pada bangunan.

Gambar 71 Bahan pada Interior The Centre Le Corbusier

c. Langgam dalam Arsitektur

Langgam pada The Centre Le Corbusier yaitu modern. Hal ini didasari pada ciri-ciri langgam modern yaitu

- Adanya keseragaman. Yaitu pada bentuk yang didominasi oleh persegi (bidang-bidang kaca lebar), serta pada warna yang diulang.

- Bentuk tertentu dan fungsional. Artinya bentuk mengikuti fungsi, sehingga bentuk menjadi monoton, yaitu persegi, karena tidak diolah. - Less is more. Semakin sederhana merupakan suatu nilai tambah terhadap

arsitektur tersebut. Bangunan ini terkesan sederhana karena jika diamati hanya berbentuk ruang kubus.

- Ornamen adalah suatu kejahatan sehingga perlu ditolak. Penambahan ornamen dianggap suatu hal yang tidak efisien karena dianggap tidak memiliki fungsi. Hampir tidak ada ornamen pada bangunan ini. Hanya bermain pada perulangan warna yang dominan.

- Nihilism. Penekanan perancangan pada space, maka desain menjadi polos, simple, bidang-bidang kaca lebar. Tidak ada apa–apanya kecuali geometri dan bahan.

BAB II

RUMAH ADAT NIAS SELATAN SEBAGAI

Dalam dokumen Hakekat Makna dan Prinsip Estetika (Halaman 45-74)

Dokumen terkait