KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Landasan Teori .1 Teori Keagenan
2.1.8 Fee Audit
4) Taxation Motivation (motivasi perpajakan)
Manajer akan memilih untuk menggunakan metode akuntansi yang dapat menghasilkan laba yang rendah, karena semakin rendah laba yang dilaporkan perusahaan, maka beban pajak yang harus dibayarkan pada pemerintah juga dapat diminimalkan.
5) Pergantian Chief Executive Officer (CEO)
Bonus plan hypothesis memprediksikan bahwa seseorang CEO yang mendekati pensiun atau habis masa jabatannya akan cenderung melakukan
strategi income maximization untuk mencegah atau membatalkan
pemecatannya. Wedari (2004) mengemukakan bahwa CEO akan melakukan take a bath untuk meningkatkan profitabilitas peningkatan laba dimasa mendatang.
6) Initial Public Offering (IPO)/Penawaran saham perdana
Manajemen laba yang dilakukan pada saat IPO bertujuan untuk mempengaruhi persepsi pihak eksternal atas nilai perusahaan. Pada saat perusahaan go public, informasi keuangan yang terdapat dalam prospectus merupakan sumber informasi penting bagi calon investor, oleh karena itu perusahaan akan menampilkan kinerja yang baik dengan menaikkan tingkat laba untuk menarik investor.
2.1.8 Fee Audit
Iskak (dalam Suharli, dkk., 2008) mendefinisikan fee audit adalah honorarium yang dibebankan oleh akuntan publik kepada perusahaan auditee atas jasa audit yang dilakukan akuntan publik terhadap laporan keuangan. Penetapan
29
biaya audit yang dilakukan oleh KAP berdasarkan perhitungan dari biaya pokok pemeriksaan yang terdiri dari biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung terdiri dari biaya tenaga yaitu manager, supervisor, auditor junior dan auditor senior. Sedangkan biaya tidak langsung seperti biaya percetakan, biaya penyusunan komputer, gedung dan asuransi.
Setelah dilakukan perhitungan biaya pokok pemeriksaan maka akan dilakukan tawar menawar antar klien yang bersangkutan dengan kantor akuntan publik. Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) menerbitkan Surat Keputusan No. KEP.024/IAPI/VII/2008 pada tanggal 2 Juli 2008 tentang Kebijakan Penentuan Fee Audit. Dalam bagian Lampiran 1 dijelaskan bahwa pandauan ini dikeluarkan sebagai panduan bagi seluruh Anggota Institut Akuntan Publik Indonesia yang menjalankan praktik sebagai akuntan publik dalam menetapkan besaran imbalan yang wajar atas jasa profesional yang diberikannya.
Dijelaskan dalam Surat Keputusan mengenai penetapan fee audit, yang harus dipertimbangkan oleh akuntan publik adalah:
a) Kebutuhan klien;
b) Tugas dan tanggungjawab menurut hukum;
c) Independensi;
d) Tingkat keahlian dan tanggungjawab yang melekat pada pekerjaan yang dilakukan, serta tingkat kompleksitas pekerjaan.
e) Banyaknya waktu yang diperlukan dan secara efektif digunakan oleh akuntan publik dan sifatnya menyelesaikan pekerjaan.
30
Beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya fee audit yaitu: (a) Besar kecilnya auditee
Masalah besar kecilnya fee audit menjadi krusial jika ketika kita banyak melihat yayasan ataupun organisasi nirlaba yang memerlukan jasa audit namun kondisi keuangannya minim.
(b) Lokasi Kantor Akuntan Publik (KAP)
Biaya overhead Kantor Akuntan Publik di daerah secara umum lebih kecil dibandingkan dengan biaya overhead di ibukota.
(c) Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP)
Ketika dikaitkan dengan besar kecilnya kantor, kantor yang berdomisili di kota besar akan memiliki standar gaji yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan KAP yang terletak di kota pinggiran.
Faktor-faktor diatas sangat berpengaruh terhadap penentuan fee audit yang dibebankan KAP kepada kliennya. Professional fee terbagi atas dua yaitu: (1) besaran fee dan (2) fee kontinjen (Halim, 2008:36).
a) Besaran fee
Fee audit adalah biaya yang harus ditanggung klien karena telah mendapatkan jasa audit dari sebuah KAP. Besarnya fee dapat bervariasi tergantung antara lain risiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan, struktur biaya KAP yang bersangkutan dan pertimbangan profesional lainnya.
31 b) Fee kontijen
Fee kontijen adalah fee yang ditetapkan untuk pelaksanaan suatu jasa profesional tanpa adanya fee yang akan dibebankan, kecuali ada temuan atau hasil tertentu dimana jumlah fee tergantung pada temuan atau hasil tertentu tersebut. Fee dianggap tidak kontinjen jika ditetapkan oleh pengadilan atau badan pengatur atau dalam hal perpajakan, jika dasar penetapan adalah hasil penyelesaian hukum atau temuan badan pengatur. 2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang berkaitan dengan dewan komisaris, komite audit, fungsi internal audit, manajemen laba dan fee audit yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, hasil peneliti-penelitiannya dapat digunakan sebagai dasar dalam penelitian ini. Berikut ini beberapa penelitian terdahulu mengenai dewan komisaris, komite audit, fungsi internalaudit, manajemen laba dan fee audit.
Yatim et al. (2006) dalam “Governance Structures, Ethnicity, and Audit Fees of Malaysian Listed Firms” menguji pengaruh antara fee audit eksternal, dewan komisaris serta karakteristik komite audit. Jumlah sampel penelitian sebesar 736 perusahaan yang terdaftar di Bursa Malaysia pada tahun 2003 dengan menggunakan uji regresi berganda, peneliti menemukan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara fee audit dan independensi dewan komisaris, komite audit dan frekuensi pertemuan komite audit. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara fee audit dan perusahaan yang dimiliki oleh pribumi (bumiputera).
32
Goodwin-Stewart et al. (2006) dalam “Relation Beetwen External Audit Fees, Audit Committee Characteristics and Internal Audit” menguji hubungan keberadaan komite audit, karakteristik komite audit, dan fungsi internal audit terhadap kenaikan fee audit eksternal. Penelitian ini menggunakan sampel dari perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Australian Stock Exchange (ASX) pada tahun 2000 dan menggunakan analisis Ordinary Least Squares (OLS) untuk menguji hipotesisnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan komite audit, pertemuan komite audit serta peningkatan fungsi internal audit berhubungan positif dengan kenaikan fee audit.
Carcello et al. (2000) dalam “Board Characteristics and Audit Fees” menguji pengaruh antara karakteristik dewan dalam perusahaan dengan fee yang dibayarkan untuk auditor eksternal. Penelitian ini menggunakan sampel dari Fortune 1000 Companies dan menggunakan analisis OLS untuk menguji hipotesisnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan positif antara board independence, diligence and expertise dan fee audit.
Abbot et al. (2003) dalam “The Association between audit committee Characteristics and Audit Fees” menguji pengaruh independensi komite audit, keahlian komite audit, dan frekuensi pertemuan komite audit terkait dengan kenaikan fee audit. Hasil analisis data menunjukkan bahwa independensi komite audit dan keahlian komite audit berpengaruh positif signifikan terhadap kenaikan fee audit. Sementara variabel frekuensi pertemuan komite audit tidak terkait dengan fee audit yang lebih tinggi.
33
Tirta, dkk. (2013) dalam “Pengaruh Kepemilikan Perusahaan dan Manajemen Laba Terhadap Tipe Auditor dan Audit Fees pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia” menguji hubungan tipe kepemilikan perusahaan dan manajemen laba terhadap besarnya fee audit. Sampel penelitian dari 85 laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2011. Terjadinya praktik manajemen laba diukur menggunakan akrual diskresioner berdasarkan Modified Jones Model. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara tipe kepemilikan perusahaan BUMN terhadap fee audit, sedangkan manajemen laba memiliki pengaruh yang signifikan terhadap besarnya fee audit dengan arah positif. Perusahaan dengan manajemen laba yang tinggi cenderung mebayar fee audit yang tinggi.