KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.3 Rumusan Hipotesis
2.3.1 Hubungan antara Independensi Dewan Komisaris dengan Fee Audit Penerapan good corporate governance berguna untuk menciptakan nilai tambah bagi perusahaan karena itu perusahaan harus berjalan sesaui dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Sebagai pihak yang independen, komisaris independen harus bisa mencegah eksploitasi dari pemegang saham mayoritas pada pemegang saham minoritas dalam pengelolaan perusahaan (Hay et al. 2008). Prastuti (2013) menemukan bahwa independensi dewan komisaris berpengaruh positif signifikan terhadap fee audit. Penelitian tersebut memnjelaskan bahwa dewan komisaris yang independen akan menuntut kualitas yang lebih tinggi dari auditor eksternal, sehingga menyebabkan fee audit yang lebih tinggi. Hal ini
34
menunjukkan bahwa perusahaan dengan struktur governance yang kuat cenderung mencari jasa audit dengan kualitas yang lebih tinggi untuk melindungi nama baik perusahaan dan melindungi kekayaan pemegang saham. Kualitas audit yang tinggi menuntut fee audit yang lebih tinggi pula. Hasil serupa dapat ditemukan dalam penelitian Hamid et al. (2012) dan Yatim et al. (2006). Berdasarkan teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Independensi dewan komisaris berpengaruh positif terhadap fee audit
2.3.2 Hubungan antara Ukuran Dewan Komisaris dengan Fee Audit
Hasil penelitian dari Carcello et al. (2000) menemukan bahwa jumlah dari dewan komisaris secara signifikan mempengaruhi kemungkinan adanya kecurangan dalam laporan keuangan. Searah dengan Carcello et al. (2000), hasil penelitian yang dilakukan Beasley (1996) dalam Yatim et. al., (2006) menunjukan bahwa ukuran dewan secara signifikan mempengaruhi kemungkinan adanya kecurangan dalam laporan keuangan. Ukuran dewan yang lebih besar dianggap kurang efektif dalam memantau pelaporan keuangan yang menyebabkan penilaian audit lebih diperlukan sehingga waktu audit yang dibutuhkan lebih lama yang berakibat pada tingginya fee audit eksternal.
Hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa jumlah anggota komisaris yang tepat bergantung pada sektor industri perusahaan tersebut, karena akan turut menentukan jenis kompetensi yang sebaiknya dimiliki oleh dewan komisaris secara keseluruhan. Ukuran dewan komisaris yang besar akan dapat membuat proses mencari kesepakatan dan proses membuat keputusan menjadi
35
sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Keterbatasan ini perlu diperhatikan dalam menentukan jumlah dewan komisaris (Prastuti, 2013). Berdasarkan teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap fee audit
2.3.3 Hubungan antara Independensi Komite Audit dengan Fee Audit
Independensi Komite audit, sebagai sebuah struktur yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris akan memanfaatkan posisi mereka sebagai sarana meningkatkan reputasi mereka sebagai seorang ahli dalam pengendalian keputusan (Fama et al., 1983). Selama meninjau program audit dan hasilnya, independensi komite audit dapat melakukan rekomendasi kepada dewan komisaris mengenai ruang lingkup audit dalam rangka menghindari salah saji keuangan dan mempertahankan reputasi modal. Hal ini menunjukkan bahwa independensi komite audit menuntut tingkat yang lebih besar dari kepastian audit.
The Blue Ribbon Committee (1999) merekomendasikan bahwa komite audit yang independen memiliki anggota yang lebih banyak, dan sering mengadakan dan melaksanakan rapat diharapkan akan meningkatkan pengawasan komite audit terhadap proses pelaporan keuangan. Komite audit yang independen akan lebih baik dalam hal perlindungan reliabilitas proses akuntansi dan memajukan objektivitas dari komite audit. Hal itu akan memperkuat pengendalian internal dan mengarah kepada berkurangnya risiko pengendalian. Oleh karena itu, pengujian substantif dapat dikurangi sehingga diharapkan dapat memperkecil fee audit. Pernyataan tersebut mendukung penelitian dari Lifschutz et. al., (2010) yang
36
menemukan adanya pengaruh negatif antara independensi komite audit terhadap fee audit. Berdasarkan teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Independensi komite audit berpengaruh negatif terhadap fee audit
2.3.4 Hubungan antara Ukuran Komite Audit dengan Fee Audit
Braoitta (2000) dalam Yatim et al. (2006) menyatakan bahwa rekomendasi jumlah komite audit konsisten dengan keinginan untuk meningkatkan status organisasi komite audit. Sesuai dengan rekomendasi dari Blue Ribbon Company (1999), bahwa komite audit yang lebih independen, memiliki anggota lebih banyak, dan sering mengadakan rapat diharapkan akan meningkatkan pengawasan komite audit terhadap proses pelaporan keuangan. Berdasarkan rekomendasi dar i The Blue Ribbon Company tersebut penelitian ini berpendapat bahwa ukuran komite audit yang lebih besar akan meningkatkan kualitas laporan keuangan yang berakibat pada rendahnya fee audit eksternal. Searah dengan penelitian Nadia dkk. (2013) yang menemukan bahwa ukuran komite audit berpengaruh negatif terhadap fee audit eksternal. Berdasarkan teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Ukuran komite audit berpengaruh negatif terhadap fee audit
2.3.5 Hubungan antara Intensitas Pertemuan Komite Audit dengan Fee Audit
Razman et al. (2004) mengamati di Malaysia bahwa perusahaan memiliki pelaporan bagus ketika mereka bertemu lebih sering karena mereka dapat
37
memantau kegiatan manajemen. Searah dengan penelitian Goodwin-Stewart at al. (2006) pertemuan komite audit berhubungan dengan kenaikan fee audit. Hal ini konsisten dengan permintaan peningkatan kualitas audit oleh komite audit, dimana perusahaan dengan struktur governance yang baik memiliki permintaan kualitas audit yang lebih tinggi, sehingga meningkatkan fee audit eksternal. Kenaikan biaya karena waktu tambahan yang dikeluarkan oleh auditor yang mempersiapkan untuk menghadiri pertemuan dengan anggota komite audit yang dapat mengakibatkan fee audit meningkat. Berdasarkan teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut: H5: Intensitas pertemuan komite audit berpengaruh positif terhadap fee audit
2.3.6 Hubungan antara Manajemen Laba dengan Fee Audit
Praktik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan yang berada diluar jalur yang sesuai atau dengan kata lain melanggar Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) menyebabkan auditor eksternal akan memperluas scope
pemeriksaan auditnya. Surat perikatan audit (audit engagement letter) merupakan surat persetujuan antara auditor dengan kliennya tentang syarat-syarat pekerjaan audit yang akan dilaksanakan oleh auditor. Menurut SA Seksi 320 (PSA No. 55) isi surat perikatan audit wajib adanya surat pernyataan manajemen yang kemudian menjadi tanggung jawab perusahaan dalam hal membebaskan dan mengganti rugi kepada KAP yang bersangkutan dan stafnya atas segala tuntutan kewajiban, dan biaya-biaya yang akan dikeluarkan sebagai akibat dari kesalahan pernyataan manajemen berkaitan dengan jasa audit yang diberikan sesuai dengan perikatan
38
tersebut. Hal ini menjelaskan bahwa jika terjadi praktik manajemen laba di dalam perusahaan klien maka auditor cenderung akan memperluas scope pemeriksaan audit karena memerlukan penilaian audit yang lebih, sehingga waktu audit yang diperlukan oleh staf Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk melaksanakan audit menjadi lebih lama. Perubahan waktu yang diperlukan diluar perencanaan audit menyebabkan perubahan tarif per jam dari staf KAP tersebut sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang dipikul dan pengalaman serta keahlian yang diperlukan. Keadaan tersebut mengakibatkan munculnya biaya-biaya lain diluar perencanaan audit sebagai akibat dari kesalahan pernyataan manajemen. Biaya tambahan tersebut akan berakibat perubahan pada fee audit yang diberikan kepada auditor.
Chaney et al. (dalam Van Cameghem, 2009) menemukan bahwa perusahaan membayar fee audit lebih tinggi karena menggunakan jasa auditor dalam mengaudit laporan keuangannya yang merupakan alat monitor bagi stakeholders. Pambudi dkk. (2013) dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat manajemen laba yang tinggi terhadap fee audit. Hasil penelitian tersebut menguatkan temuan dari Van Cameghem (2009) yang menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat manajemen laba yang tinggi lebih cenderung untuk membayar fee audit yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki tingkat manajemen laba yang rendah. Berdasarkan teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya tersebut, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
39
Gambar 2.1 Kerangka Rumusan Hipotesis
H1 H2 H3 H4 H5 H6
Sumber: Data Diolah, 2015 Intensitas Pertemuan Komite Audit (X5) Fee Audit (Y) Independensi Dewan Komisaris (X1) Ukuran Dewan Komisaris (X2) Independensi Komite Audit (X3) Ukuran Komite Audit (X4) Manajemen Laba (X6) Ukuran Perusahaan (X7)