Defek Septum Ventrikel adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang pada septum interventrikuler, lubang tersebut hanya satu atau lebih yang terjadi akibat kegagalan fungsi septum interventrikuler semasa janin dalam kandungan. Sehingga darah bisa mengalir dari ventrikel kiri
ke kanan ataupun sebaliknya. 2.6.2 Etiologi
Lebih dari 90% kasus penyakit jantung bawaan penyebabnya adalah multifaktor. Faktor yang berpengaruh adalah :
1. Faktor eksogen: ibu mengkonsumsi beberapa jenis obat penenang dan jamu. Penyakit ibu (penderita rubella, ibu menderita IDDM) dan Ibu hamil dengan alkoholik.
2. Faktor endogen: penyakit genetik (Sindrom Down), anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, ayah dan ibu menderita PJB dan lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
2.6.3 Klasifikasi
1. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan kelainan Hemodinamik
Defek kecil dengan tahanan paru normal
Defek sedang dengan tahahan vaskuler paru normal
Defek besar dengan hipertensi pulmonal hiperkinetik
Defek besar dengan penyakit obstruksivaskuler paru
2. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan letak anatomis
Defek didaerah pars membranasea septum, yang disebut defek membran atau lebih baik perimembran (karena hampir selalu mengenai jaringan di sekitarnya). Berdasarkan perluasan (ekstensi) defeknya, defek peri membran ini dibagi lagi menjadi yang dengan perluasan ke outlet, dengan
perluasan ke inlet, dan defek peri membran dengan perluasan ke daerah trabekuler.
Defek muskuler, yang dapat dibagi lagi menjadi : defek muskuler inlet, defek muskuler outlet dan defek muskuler trabekuler.
Defek subarterial, terletak tepat dibawah kedua katup aorta dan arteri pulmonalis, karena itu disebut pula doubly committed subarterial VSD. Defek ini dahulu disebut defek suprakristal, karena letaknya diatas supraventrikularis. Yang terpenting pada defek ini adalah bahwa katup aorta dan katup arteri pulmonalis terletak pada ketinggian yang sama, dengan defek septum ventrikel tepat berada di bawah katup tersebut. (dalam keadaan normal katup pulmonal lebih tinggi daripada katup aorta, sehingga pada defek perimembran lubang terletak tepat di bawah katup aorta namun jauh dari katup pulmonal)
2.6.4 Gambaran Klinis VDS Kecil
a. Biasanya asimtomatik b. Defek kecil 5 – 10 mm
c. Tidak ada gangguan tumbang
d. Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising pansistolik yang menjalar keseluruh tubuh prekardium dan berakhir pada waktu diastolik karena terjadi penurunan VSD
VSD Sedang
a. Sesak nafas pada saat aktivitas b. Defek 5 – 10 mm
c. BB sukar naik sehingga tumbang terganggu d. Takipnoe
e. Retraksi
f. Bentuk dada normal g. Bising pansistolik 2.6.5 Komplikasi
• Gagal jantung
• Endokarditis
• Insufisiensi aorta
• Stenosis pulmonal
Hipertensi pulmonal (penyakit pembuluh darah paru yang progresif) 2.6.6 Pemeriksaan Diagnostik
1. Auskultasi jantung mur-mur pansistolik keras dan kasar, umumnya paling jelas terdengar pada tepi kiri bawah sternum
2. Pantau tekanan darah
3. Foto rontgen toraks hipertrofi ventrikel kiri 4. Elektrocardiografi
5. Echocardiogram hipertrofi ventrikel kiri
6. MRI
2.6.7 Penatalaksanaan Medis
Pembedahan :
menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass
pembedahan Pulmonal Arteri Bunding (PAB) atau penutupan defek untuk mengurangi aliran ke paru.
Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi jantung
Pemberian vasopresor atau vasodilator : a. Dopamin ( intropin )
Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan sistolik serta tekanan nadi , sedikit sekali atau tidak ada efeknya pada tekanan diastolik ;digunakan untuk gangguan hemodinamika yang disebabkan bedah jantung terbuka (dosis diatur untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi ginjal)
b. Isopreterenol ( isuprel )
Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung : menurunan
tekanan diastolik dan tekanan rata-rata sambil meningkatkan tekanan sisitolik.
2.6.8 Asuhan Keperawatan A. Pengkajian.
Dalam diagnosa keperawatan, perlu dilakukan pengkajian data dari hasil :
• Anamnesa
• Inspeksi
• Palpasi
• Perkusi
Dari hasil pengkajian tersebut, data yang diperoleh adalah masalah yang dialami klien
• Penyebab timbulnya keluhan
• Informasi tentang kelainan struktur dan fungsi jantung atau pembuluh darah
• Informasi tentang kekuatan jantung dan aktivitas klien yang tidak memperberat kerja jantung
Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam melakukan anamnesa adalah : 1. Riwayat perkawinan
Pengkajian apakah anak ini diinginkan atau tidak, karena apabila anak tersebut tidak diinginkan kemungkinan selama hamil ibu telah menggunakan obat-obat yang bertujuan untuk menggugurkan kandungannya
2. Riwayat kehamilan
Apakah selama hamil ibu pernah menderita penyakit yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin, seperti hipertensi, diabetus melitus atau penyakit virus seperti rubella khususnya bila terserang pada kehamilan trisemester pertama.
3. Riwayat keperawatan
Respon fisiologis terhadap defek ( sianosisi, aktivitas terbatas ) 4. Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung: nafas cepat, sesak nafas,
retraksi, bunyi jantung tambahan ( mur-mur ), edema tungkai dan hepatomegali )
5. Kaji adanya tanda-tanda hipoxia kronis : clubbing finger 6. Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan
7. Apakah diantara keluarga ada yang menderita penyakit yang sama 8. Apakah ibu atau ayah perokok (terutama selama hamil)
9. Apakah ibu atau ayah pernah menderita penyakit kelamin (seperti sipilis)
10. Sebelum hamil apakah ibu mengikuti KB dan bentuk KB yang pernah digunakan
11. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan ibu selama hamil
12. Untuk anak sendiri apakah pernah menderita penyakit demam reumatik
13. Apakah ada kesulitan dalam pemberian makan atau minum khususnya pada bayi
14. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan anak
B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal. 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplay oksigen ke sel. 4. Perubahan pertumbuhan dan perkembanganberhubungan dengan
tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori
6. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan. 7. Perubahan peran orangtua berhubungan dengan hospitalisasi anak,
A. Intervensi keperawatan
No Diagnosa Tujuan & Kriteria hasil Intervensi 1 Penurunan curah jantung
yang berhubungan dengan malformasi jantung.
Tujuan : meningkatkan curah jantung Kriteria Hasil :
• anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung
1. Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi perifer, warna dan kehangatan kulit.
2. Tegakkan derajad sinosis ( sirkumoral, membran mukosa, clubbing)
3. Monitor tanda-tanda CHF ( gelisah, takikardi, tacipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbotal edema, oliguri dan hepatomegali )
4. Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.
5. Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload 6. Berikan diuretik sesuai indikasi
2 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan
kongesti pulmonal.
Tujuan : meningkatkan resisitensi pembuluh paru
Kriteria Hasil :
• anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru
1. Monitor kualitas dan irama pernafasan 2. Atur posisi anak dengan posisi fowler 3. Hindari anak dari orang yang terinfeksi 4. Berikan istirahat yang cukup
5. Berikan nutrisi yang optimal 6. Berikan oksigen jika ada indikasi
3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori
Tujuan : mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan Kriteria Hasil :
• anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
1. Timbang b erat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama
2. Catat intake dan output secara benar 3. Berikan makanan dengan porsi kesil tapi
sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan 4. Hindari kegiatan perawatan yang tidak perlu 5. Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium, natrium dan memberikan zat gizi
6. Sediakan d iet y ang s eimbang, t inggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat 7. Anak-anak yang mendapatkan diuretik
biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak
dibatasi.
BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
3.2.1 Diharapkan mahasiswa hendaknya benar-benar memahami konsep dasar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Kegawatdaruratan Sistem Kardiovaskuler, sehingga dapat menerapkan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien.
3.2.2 Untuk pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan dengan makalah ini, sehingga mempermudah mahasiswa dalam pembuatan makalah yang lebih baik, sehingga dapat dijadikan acuan bagi peserta didik lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Hudak, C.M, Gallo B.M. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC.1997, Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
Price, Sylvia Anderson . Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit . Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994
Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth,. Alih bahasa Agung Waluyo Edisi. 8. Jakarta : EGC; 2001.
Hanafi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2001
Heni Rokhaeni, Elly Purnamasari, (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler , jakarta : Pusat Kesehatan jantung dan Pembuluh Darah Nasional “ Harapan Kita “. Corwin, Elizabeth J, (200). Buku Saku Patofisiologi, alih bahasa Brahm U Pendit jakarta :
EGC
Markum A.H, (1991), Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak , jakarta : Bagian Ilmu
Janet M. Torpy, MD. The journal of the american medical assosiation. JAMA [serial online] 2006, Januari [cited 2010 Desember 28 ]; 295(1):[2 screen]. Availabel from: URL:http://jama.ama-assn.org/cgi/citmgr?gca=jama;295/1/124
Cardiac arrest. [Online]. 2008 July 14 [cited 2010 Desember 27 ];[ 13screens]. Availabel from: URL:http://en.wikipedia.org/wiki/Sudden_cardiac_death
Cardiac arrest, first aid. [Online]. 2007 August [cited 2010 Desember 27 ];[3 screens]. Available from: URL: http://www.merck.com/mmhe/sec24/ch299/ch299a.html Sudden cardiac death. [Online]. 2006 July 16 [cited 2010 Desember 28];[21 screens].
Available from: URL:
http://www.emedicine.com/med/topic276.htm#section~Differentials
Definition of cardiac arrest. [Online]. 2001 November [cited 2010 Desember 27 ];[2 screens]. Available from: URL: [http://www.medicinenet.com/script/main/hp.asp/ Sudden cardiac arrest(SCA). [Online]. 2008 March [cited 2010 Desember 27 ;[4 screens].