• Tidak ada hasil yang ditemukan

FIBRILASI VENTRIKEL .1Definisi

Dalam dokumen ASKEP GAWATDARURAT KARDIOVASKULER (Halaman 55-64)

Defek Septum Ventrikel adalah kelainan jantung bawaan berupa lubang pada septum interventrikuler, lubang tersebut hanya satu atau lebih yang terjadi akibat kegagalan fungsi septum interventrikuler semasa  janin dalam kandungan. Sehingga darah bisa mengalir dari ventrikel kiri

ke kanan ataupun sebaliknya. 2.6.2 Etiologi

Lebih dari 90% kasus penyakit jantung bawaan penyebabnya adalah multifaktor. Faktor yang berpengaruh adalah :

1. Faktor eksogen: ibu mengkonsumsi beberapa jenis obat penenang dan jamu. Penyakit ibu (penderita rubella, ibu menderita IDDM) dan Ibu hamil dengan alkoholik.

2. Faktor endogen: penyakit genetik (Sindrom Down), anak yang lahir sebelumnya menderita PJB, ayah dan ibu menderita PJB dan lahir dengan kelainan bawaan yang lain.

2.6.3 Klasifikasi

1. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan kelainan Hemodinamik 

Defek kecil dengan tahanan paru normal

Defek sedang dengan tahahan vaskuler paru normal

Defek besar dengan hipertensi pulmonal hiperkinetik 

Defek besar dengan penyakit obstruksivaskuler paru

2. Klasifikasi Defek Septum Ventrikel berdasarkan letak anatomis

Defek didaerah pars membranasea septum, yang disebut defek membran atau lebih baik perimembran (karena hampir  selalu mengenai jaringan di sekitarnya). Berdasarkan  perluasan (ekstensi) defeknya, defek peri membran ini dibagi lagi menjadi yang dengan perluasan ke outlet, dengan

 perluasan ke inlet, dan defek peri membran dengan perluasan ke daerah trabekuler.

Defek muskuler, yang dapat dibagi lagi menjadi : defek  muskuler inlet, defek muskuler outlet dan defek muskuler  trabekuler.

Defek subarterial, terletak tepat dibawah kedua katup aorta dan arteri pulmonalis, karena itu disebut pula doubly committed subarterial VSD. Defek ini dahulu disebut defek  suprakristal, karena letaknya diatas supraventrikularis. Yang terpenting pada defek ini adalah bahwa katup aorta dan katup arteri pulmonalis terletak pada ketinggian yang sama, dengan defek septum ventrikel tepat berada di bawah katup tersebut. (dalam keadaan normal katup pulmonal lebih tinggi daripada katup aorta, sehingga pada defek perimembran lubang terletak tepat di bawah katup aorta namun jauh dari katup  pulmonal)

2.6.4 Gambaran Klinis VDS Kecil

a. Biasanya asimtomatik   b. Defek kecil 5 – 10 mm

c. Tidak ada gangguan tumbang

d. Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising pansistolik yang menjalar keseluruh tubuh prekardium dan berakhir pada waktu diastolik karena terjadi penurunan VSD

VSD Sedang

a. Sesak nafas pada saat aktivitas  b. Defek 5 – 10 mm

c. BB sukar naik sehingga tumbang terganggu d. Takipnoe

e. Retraksi

f. Bentuk dada normal g. Bising pansistolik  2.6.5 Komplikasi

Gagal jantung

Endokarditis

Insufisiensi aorta

Stenosis pulmonal

Hipertensi pulmonal (penyakit pembuluh darah paru yang progresif) 2.6.6 Pemeriksaan Diagnostik  

1. Auskultasi jantung mur-mur pansistolik keras dan kasar, umumnya paling jelas terdengar pada tepi kiri bawah sternum

2. Pantau tekanan darah

3. Foto rontgen toraks hipertrofi ventrikel kiri 4. Elektrocardiografi

5. Echocardiogram hipertrofi ventrikel kiri

6. MRI

2.6.7 Penatalaksanaan Medis

Pembedahan :

menutup defek dengan dijahit melalui cardiopulmonary bypass

 pembedahan Pulmonal Arteri Bunding (PAB) atau penutupan defek untuk mengurangi aliran ke paru.

 Non pembedahan : menutup defek dengan alat melalui kateterisasi  jantung

Pemberian vasopresor atau vasodilator : a. Dopamin ( intropin )

Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan sistolik serta tekanan nadi , sedikit sekali atau tidak  ada efeknya pada tekanan diastolik ;digunakan untuk  gangguan hemodinamika yang disebabkan bedah jantung terbuka (dosis diatur untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi ginjal)

 b. Isopreterenol ( isuprel )

Memiliki efek inotropik positif pada miocard, menyebabkan peningkatan curah jantung : menurunan

tekanan diastolik dan tekanan rata-rata sambil meningkatkan tekanan sisitolik.

2.6.8 Asuhan Keperawatan A. Pengkajian.

Dalam diagnosa keperawatan, perlu dilakukan pengkajian data dari hasil :

Anamnesa

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Dari hasil pengkajian tersebut, data yang diperoleh adalah masalah yang dialami klien

Penyebab timbulnya keluhan

Informasi tentang kelainan struktur dan fungsi jantung atau  pembuluh darah

Informasi tentang kekuatan jantung dan aktivitas klien yang tidak  memperberat kerja jantung

Hal-hal yang perlu diungkapkan dalam melakukan anamnesa adalah : 1. Riwayat perkawinan

Pengkajian apakah anak ini diinginkan atau tidak, karena apabila anak tersebut tidak diinginkan kemungkinan selama hamil ibu telah menggunakan obat-obat yang bertujuan untuk menggugurkan kandungannya

2. Riwayat kehamilan

Apakah selama hamil ibu pernah menderita penyakit yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan janin, seperti hipertensi, diabetus melitus atau penyakit virus seperti rubella khususnya bila terserang pada kehamilan trisemester pertama.

3. Riwayat keperawatan

Respon fisiologis terhadap defek ( sianosisi, aktivitas terbatas ) 4. Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung: nafas cepat, sesak nafas,

retraksi, bunyi jantung tambahan ( mur-mur ), edema tungkai dan hepatomegali )

5. Kaji adanya tanda-tanda hipoxia kronis : clubbing finger  6. Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan

7. Apakah diantara keluarga ada yang menderita penyakit yang sama 8. Apakah ibu atau ayah perokok (terutama selama hamil)

9. Apakah ibu atau ayah pernah menderita penyakit kelamin (seperti sipilis)

10. Sebelum hamil apakah ibu mengikuti KB dan bentuk KB yang  pernah digunakan

11. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan ibu selama hamil

12. Untuk anak sendiri apakah pernah menderita penyakit demam reumatik 

13. Apakah ada kesulitan dalam pemberian makan atau minum khususnya pada bayi

14. Obat-obat apa saja yang pernah dimakan anak 

B. Diagnosa Keperawatan

1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi  jantung.

2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kongesti pulmonal. 3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan

antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplay oksigen ke sel. 4. Perubahan pertumbuhan dan perkembanganberhubungan dengan

tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan

5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori

6. Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya status kesehatan. 7. Perubahan peran orangtua berhubungan dengan hospitalisasi anak,

A. Intervensi keperawatan

 No Diagnosa Tujuan & Kriteria hasil Intervensi 1 Penurunan curah jantung

yang berhubungan dengan malformasi jantung.

Tujuan : meningkatkan curah jantung Kriteria Hasil :

anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung

1. Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi  perifer, warna dan kehangatan kulit.

2. Tegakkan derajad sinosis ( sirkumoral, membran mukosa, clubbing)

3. Monitor tanda-tanda CHF ( gelisah, takikardi, tacipnea, sesak, lelah saat minum susu, periorbotal edema, oliguri dan hepatomegali )

4. Berkolaborasi dalam pemberian digoxin sesuai order  dengan menggunakan teknik pencegahan bahaya toxisitas.

5. Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload 6. Berikan diuretik sesuai indikasi

2 Gangguan pertukaran gas  berhubungan dengan

kongesti pulmonal.

Tujuan : meningkatkan resisitensi  pembuluh paru

Kriteria Hasil :

anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan resistensi pembuluh paru

1. Monitor kualitas dan irama pernafasan 2. Atur posisi anak dengan posisi fowler  3. Hindari anak dari orang yang terinfeksi 4. Berikan istirahat yang cukup

5. Berikan nutrisi yang optimal 6. Berikan oksigen jika ada indikasi

3 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh  berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori

Tujuan : mempertahankan intake makanan dan minuman untuk  mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan Kriteria Hasil :

anak akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk mempertahankan berat  badan dan menopang  pertumbuhan

1. Timbang b erat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama

2. Catat intake dan output secara benar   3. Berikan makanan dengan porsi kesil tapi

sering untuk menghindari kelelahan pada saat makan 4. Hindari kegiatan perawatan yang tidak perlu 5. Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium, natrium dan memberikan zat gizi

6. Sediakan d iet y ang s eimbang, t inggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat 7. Anak-anak yang mendapatkan diuretik  

 biasanya sangat haus, oleh karena itu cairan tidak 

dibatasi.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN

3.2 SARAN

3.2.1 Diharapkan mahasiswa hendaknya benar-benar memahami konsep dasar  Asuhan Keperawatan Klien Dengan Kegawatdaruratan Sistem Kardiovaskuler, sehingga dapat menerapkan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien.

3.2.2 Untuk pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan dengan makalah ini, sehingga mempermudah mahasiswa dalam pembuatan makalah yang lebih baik, sehingga dapat dijadikan acuan bagi peserta didik lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hudak, C.M, Gallo B.M. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC.1997, Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan

 pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999

Price, Sylvia Anderson . Patofisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit . Alih bahasa Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994

Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996

Smeltzer Suzanne C.  Buku  Ajar  Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth,.  Alih bahasa Agung Waluyo Edisi. 8. Jakarta : EGC; 2001.

Hanafi B. Trisnohadi.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2001

Heni Rokhaeni, Elly Purnamasari, (2001). Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler , jakarta : Pusat Kesehatan jantung dan Pembuluh Darah Nasional “ Harapan Kita “. Corwin, Elizabeth J, (200).  Buku Saku Patofisiologi, alih bahasa Brahm U Pendit jakarta :

EGC

Markum A.H, (1991), Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak , jakarta : Bagian Ilmu

Janet M. Torpy, MD. The journal of the american medical assosiation. JAMA [serial online] 2006, Januari [cited 2010 Desember 28 ]; 295(1):[2 screen]. Availabel from: URL:http://jama.ama-assn.org/cgi/citmgr?gca=jama;295/1/124

Cardiac arrest. [Online]. 2008 July 14 [cited 2010 Desember 27 ];[ 13screens]. Availabel from: URL:http://en.wikipedia.org/wiki/Sudden_cardiac_death

Cardiac arrest, first aid. [Online]. 2007 August [cited 2010 Desember 27 ];[3 screens]. Available from: URL: http://www.merck.com/mmhe/sec24/ch299/ch299a.html Sudden cardiac death. [Online]. 2006 July 16 [cited 2010 Desember 28];[21 screens].

Available from: URL:

http://www.emedicine.com/med/topic276.htm#section~Differentials

Definition of cardiac arrest. [Online]. 2001 November [cited 2010 Desember 27 ];[2 screens]. Available from: URL: [http://www.medicinenet.com/script/main/hp.asp/ Sudden cardiac arrest(SCA). [Online]. 2008 March [cited 2010 Desember 27 ;[4 screens].

Dalam dokumen ASKEP GAWATDARURAT KARDIOVASKULER (Halaman 55-64)

Dokumen terkait